Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Latest

Sihir Balon Udara The 17th Philippines Hot-Air Baloon Fiesta 2012

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Menonton balon udara menyenangkan, menerbangkannya lebih menantang. Ketika Filipina menggelar Festival Internasional ke-17 Balon Udara Filipina pada 9-12 Februari 2012, ribuan orang tiap hari menyemut mengunjungi lokasi festival di Pangkalan Udara Clark.

Pada hari pertama, festival tak terlampau ramai. Tapi pada hari kedua, sekitar 2 ribu pengunjung sudah di lokasi sejak subuh. Balon-balon sudah siap sejak jam 5.30 pagi dan mengudara mulai sekitar pukul 6 waktu setempat. Tahun ini tercatat 28 balon dari berbagai belahan dunia hadir di Clark.

Weekend with Everything That Flies“, akhir pekan dengan segala sesuatu yang terbang, demikian tema festival tahun ini. Jadi, selain balon udara ada pula atraksi sky diving, paramotor, paralayang, ultra-glide dan akrobat udara. Bahkan layang-layang pun ikut dipertunjukkan, dalam berbagai warna dan bentuk atraktif.

Hari ketiga sudah memasuki akhir pekan. Diperkirakan lebih dari 20 ribu pengunjung memadati lokasi. Bahkan ada yang menginap di rerumputan Pangkalan Udara Clark, dengan membawa tenda-tenda kecil. Luar biasa ramai dan meriah.

Skydivers in Clark Air Base with Philippine national flag and Philippine national anthem Lupang Hinirang at The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Skydivers in Clark Air Base with Philippine national flag and Philippine national anthem Lupang Hinirang at The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Pada pukul 5.30 pagi di hari Sabtu itu, jalan menuju Clark sudah padat merayap dalam radius 2 km. Padahal jalan lurus dan lebar menuju Clark masing-masing 2 jalur di tiap arah. Parkir sudah disiapkan untuk 5 ribu kendaraan roda empat, dengan arus sirkulasi yang rapi.

Pangkalan Udara Clark sudah menjadi lautan manusia, meski hari masih gelap dan matahari baru saja tersembul di ufuk. Pria wanita, tua muda, dan anak-anak maupun remaja berdesak-desakan. Tiket masuk dipatok pada harga PHP 200 sehari, atau sekitar Rp 40 ribu pada kurs PHP 1 = Rp 200.

Suara helikopter memecah pagi, ketika ribuan kepala menengadah ke langit muncullah sekelompok sky diver mengibarkan bendera Filipina di udara. Lantas di pengeras suara terdengar pembawa acara mengumumkan, “Bapak-bapak dan Ibu-ibu, lagu kebangsaan Filipina…”. Lalu berkumandanglah Lupang Hinirang, lagu kebangsaan negara 7 ribu pulau ini, mengiringi kibaran bendera Filipina di udara.

Fire it up. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Fire it up. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Pemantik-pemantik api dinyalakan, balon-balon mulai menggelembung. Tak berapa lama kemudian satu per satu balon mengudara membawa keranjang-keranjang yang berisi pilot dan penumpangnya.

Tak hanya berbentuk bundar dalam balutan warna-warni penarik perhatian, ada juga balon berbentuk kue ulang tahun, karakter game Sonic, ice cream cup dan karakter mirip kungfu panda.

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Hari keempat, hari terakhir festival dimulai dengan pengunjung yang sudah memarkir kendaraan roda empat hingga pinggir kota Angeles. Padahal jarak dari Pangkalan Udara Clark ke Angeles lebih dari 5km.

Subuh hari keempat, jalan tol sudah padat merayap. Ketika jarum jam menyentuh angka 8, jalan tol dan jalan biasa sudah macet total tak bergerak. Antisipasi penyelenggara untuk 50 ribu penonton sepertinya masih kurang.

Semua tersihir balon udara.

Airborne with Mount Arayat in the background. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Airborne with Mount Arayat in the background. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800


Foto-foto di posting ini seluruhnya dibuat dengan Nokia Lumia 800 tanpa editing. Resize oleh WordPress.

Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang

Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih

Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih

Memotret upacara Cap Go Meh banyak dinanti fotografer. Di Indonesia, Singkawang, Kalimantan Barat jadi tempat tujuan paling ramai karena acara-acara yang atraktif. Tapi, upacara Cap Go Meh di Palembang, Sumatra Selatan ternyata menarik juga.

Dari tahun ke tahun, upacara Cap Go Meh di ibukota Provinsi Sumatra Selatan dipusatkan di kelenteng Hok Tjhing Rio, Pulau Kemaro. Dari pusat kota Palembang, Pulau Kemaro bisa dicapai tak sampai setengah jam. Pada hari biasa, pengunjung harus menyeberang dengan perahu untuk mencapai Pulau Kemaro.

Pada Cap Go Meh 2012, panitia sudah mengantisipasi 70 ribu pengunjung yang diperkirakan hadir di Pulau Kemaro. Dipusatkan pada tanggal 4-5 Februari 2012, ada 7 barge alias kapal tongkang yang dijajarkan membentuk jembatan menuju Pulau Kemaro. Pengunjung datang dari banyak tempat di Indonesia, seperti pantai timur Sumatra dan Jakarta. Bahkan ada beberapa bis yang mengangkut pengunjung dari Malaysia.

Umat bersembahyang dalam upacara Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Umat bersembahyang dalam upacara Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pulau Kemaro lekat dengan legenda Siti Fatimah dan Tan Bun An. Secara historis, banyak cerita yang melekatkan penduduk setempat dan penduduk Tionghoa. Di hari biasa, kelenteng Hok Tjhing Rio dan pagoda 7 lantai di sebelahnya sudah jadi salah satu tempat tujuan wisata penting setelah Jembatan Ampera.

Pada Cap Go Meh 2012, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin hadir pada puncak acara, tengah malam 4 Februari dan dinihari 5 Februari. Asap hio pekat membumbung tanpa henti. Mata perih dan napas sesak jika berlama-lama berada di sekitar tempat sembahyang umat.

Penjual kacang rebus dan kembang api Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjual kacang rebus dan kembang api Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Antrian kendaraan membuat macet jalan sejak kompleks Pusri. Tak hanya umat yang hendak sembahyang yang datang ke Pulau Kemaro, tapi banyak wisatawan juga datang hendak merasakan kemeriahan Cap Go Meh. Untunglah panitia menyiapkan lahan parkir yang terorganisir rapi dan aman, penerangan cukup dan petugas parkir dalam jumlah memadai.

Kembang api silih berganti mewarnai langit, seiring bunyi yang meledak-ledak. Di Pulau Kemaro, kembang-kembang api menghiasi langit di sekitar pagoda. Bahkan penumpang kapal-kapal yang hendak merapat dan baru angkat sauh pun ikut memeriahkan malam dengan kembang api yang mengudara dari atas dek.

Saya menggunakan kamera Canon EOS-1D Mark IV dan lensa lebar Canon ED 17-40mm f/4L untuk memotret di Pulau Kemaro malam itu. Karena gelap, saya harus mengandalkan ISO 800 dan ISO 1600. Shooting mode dipaku pada modus aperture priority Av dan bukaan diset pada f/4.

Memotret dengan lensa tele jadi sulit karena puluhan ribu pengunjung yang berdesakan. Selain itu, seringkali lensa tele menarik perhatian dan mengganggu konsentrasi umat yang sembahyang. Lagipula, memotret pagoda dan kembang api di sekitarnya lebih mudah dengan lensa lebar.

#TheTerminal Series 02 UPG

People may say airports in Indonesia are old-school and old-fashioned. But there is Sultan Hasanuddin International Airport in Makassar, the capital of South Sulawesi, Indonesia which shows a modern look.

Internationally coded as UPG, Sultan Hasanuddin International Airport serves flights as main-hub for eastern Indonesia. It is built by Indonesian engineers and designed by Indonesian architects. It shows good compromise among the function as airport, tropical climate and traditional South Sulawesi visualization.

I always enjoy my transit here. It is very easy to find shooting spots. I wish more Indonesian airports were built with similar compromises as this airport has.

All pictures in this post were taken by BlackBerry 9700 and post-processed in Molome.

Kodak Pailit, Bukti Dinamika Fotografi

Kodak High-Speed Infrared HIE dan Kodak Ektachrome Plus EPP. Foto oleh Kristupa Saragih

Kodak High-Speed Infrared HIE dan Kodak Ektachrome Plus EPP. Foto oleh Kristupa Saragih

Kamis, 19 Januari 2012 jadi hari yang selalu dikenang dalam sejarah fotografi. Raksasa fotografi Kodak membukukan kebangkrutan secara resmi di negara tempatnya berdiri, AS. Perusahaan ternama dunia ini tutup usia meninggalkan nama besar, sekaligus hutang sebesar lebih dari 6 milyar dolar AS.

Berdiri secara resmi sebagai Eastman Kodak Company pada 1892, sang pendiri George Eastman sudah memulai usahanya sejak 1880. Mulanya sebagai produsen plat cetak, Kodak adalah perusahaan pertama pembuat film rol pada 1885. Tahun 1888 juga tercatat sebagai sejarah fotografi, Kodak memproduksi kamera single focus yang secara populer dipakai oleh fotografer amatir.

Banyak hal yang pertama, dan lantas menjadi terbesar, yang dilakukan Kodak. Selain sebagai penemu film rol, Kodak pulalah yang memproduksi pertama kali film berwarna pada tahun 1935. Dinamai Kodachrome, film warna pertama itu berupa film positif alias slide. Kodak juga mempopulerkan pertama kali kamera instan bernama Instamatic pada tahun 1960-an, bersaing dengan Polaroid.

Kodak juga yang pertama kali memproduksi kamera digital pada 1986. Dimulai sejak penemuan teknologi fotografi digital pada 1975, juga oleh insinyur-insinyur Kodak, sensor digital pertama pada 1986 beresolusi 1,4 juta piksel dan cukup untuk membuat foto 5R berukuran 5×7 inci.

Teknologi kamera digital digunakan pertama kali di event dunia juga oleh Kodak. Modul digital bernama Kodak DCS (Digital Camera System) beresolusi 1,3 megapiksel ditanam di Nikon F3 pada 1991, total seharga 20 ribu dolar AS. Besar modul Kodak DCS hampir sama dengan bodi Nikon F3 dan membuat bobotnya berlipat ganda, dengan modul penyimpan file foto secara terpisah.

Teknologi yang pertama kali dikembangkan oleh Kodak inilah yang kemudian menggulung hidupnya sendiri. Kodak disusul Sony, Panasonic, Nikon dan Canon lantas tenggelam dalam pusaran industri peralatan fotografi digital. Padahal, Kodak dulu pernah jaya, selain sebagai produsen film, juga sebagai produsen terkemuka kertas foto dan bahan kimia pemroses film dan kertas foto. Kodak juga memproduksi kamera digital saku hingga akhir hayatnya.

Fotografer-fotografer yang lahir di era film pasti ingat kejayaan Kodak T-Max, film hitam-putih yang legendaris itu. Kodak T-Max ISO 100 berkode TMX, dan ISO 400 berkode TMY. Ilford juga dikenal sebagai produsen film dan kertas ternama, tapi ada rasa berbeda jika memotret dengan T-Max lantas diproses dengan developer Kodak D76. Fotografer profesional pun belum terasa mantap hati jika tak memotret dengan Kodachrome Professional 100 berkode EPP itu.

Meski memproduksi kamera digital, Kodak ternyata tak mampu bertahan di kedahsyatan arus perkembangan teknologi fotografi digital. Fuji Film, pesaingnya dari Jepang, masih berusaha bertahan. Kamera termutakhir dari Fuji Film didesain retro bertipe X10 dan X100.

Entah akan bertahan lama. Film merk Sakura sudah tutup usia jauh lebih dahulu. Pabrik film Konica sudah membeli Minolta tahun 2000-an, namun sekarang Konica-Minolta sudah diakuisisi Sony. Siapa sangka raksasa sebesar Kodak yang pernah terdaftar di bursa Wall Street harus “delisted” bahkan pailit?

Saya masih menyimpan Kodak High-Speed Infrared berkode HIE format 135 dan Kodak Ektachrome Plus 100 format 120 berkode EPP, masing-masing 1 rol. Biar menjadi kenangan, lantaran meski masih punya kamera film tapi sulit mencari tempat proses dan biayanya mahal.

Bagi fotografer amatir alias pehobi yang fanatik film, memotret dengan film bisa jadi menyimpan kesenangan tersendiri. Tapi fotografer profesional mungkin tak akan pernah lagi memotret dengan film, kecuali untuk proyek pribadi atau memang dipesan klien yang membayar mahal.

Kepailitan Kodak bukan semata hanya bisa disikapi secara bisnis. Kodak menjadi bukti bahwa duia fotografi dinamis. Dalam fotografi tak ada yang abadi kecuali karya foto dan nama fotografer pembuatnya, serta pesan yang terkandung di dalam foto.

#TheTerminal Series 01 KUL

Visiting Kuala Lumpur International Airport (KLIA) Malaysia gives me time to enjoy lines and shapes in its architecture. Come early to KLIA and make some shots with my BlackBerry camera is worth a spend of time.

20120110-002211.jpg

20120110-002042.jpg

20120110-002422.jpg

20120110-002802.jpg

20120110-002911.jpg

20120110-003010.jpg

20120110-003109.jpg

Kisah Koresponden Majalah Hai 1992-2000 #hai35

Kartu identitas koresponden Hai yang saya pakai dalam tugas

Kartu identitas koresponden Hai yang saya pakai dalam tugas

Berawal dari sebuah telepon ke kantor Harian Bernas Jogja pada suatu sore tahun 1992. Saya waktu itu masih siswa SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan menjadi redaksi lembaran khusus pelajar SMA bernama Gema di Bernas. Di ujung telepon B Dharmawan dari Majalah Hai berbicara dari kantornya di Jl Palmerah Selatan 22 Jakarta.

Demikianlah awal kisah saya bersama Majalah Hai, majalah remaja pria paling top saat itu. Kegiatan di Gema Bernas tetap dilakoni bareng dengan Majalah Hai karena kedua media itu masih berada dalam Kelompok Kompas Gramedia. Saya beruntung bisa bergabung dengan Hai yang adalah pencetus istilah “pers abu-abu” untuk ekstrakuriler jurnalistik pelajar SMA yang berseragam putih abu-abu.

Saya juga beruntung bersekolah di SMA Kolese De Britto yang menganut paham pendidikan bebas. Menunaikan tugas jurnalistik tak gampang bagi siswa SMA, lantaran kadang-kadang harus keluar di jam sekolah. Untunglah pamong-pamong di SMA Kolese De Britto amat mendukung dan mengerti. Waktu saya SMA, ijin saya mintakan ke Rm T Krispurwana Cahyadi SJ, yang dulu masih Frater. Dukungan ini ada juga karena Romo Pamong Rm E Baskoro Pudji Nugroho SJ.

Jadilah saya berguru pada Yusran Pare di Harian Bernas dan B Dharmawan di Majalah Hai. Jaman dulu belum ada internet, komputer masih langka dan mahal. Saya dididik Mas Yusran membuat tulisan dengan mesin tik, dan diperiksa dengan spidol merah plus komentar-komentar lisan namun keras. B Dharmawan, akrab dipanggil dengan inisial Dhw, mendidik membuat tulisan berdasar outline dan kebutuhan foto yang layak tampil di majalah terkemuka kelas nasional.

Saya masuk ke Hai menggantikan koresponden Dino Martin, kakak kelas di SMA Kolese De Britto. Sekarang Dino Martin jadi pebisnis di Jakarta. Mas Yusran sekarang jadi Pemimpin Redaksi Harian Banjarmasin Post di Banjarmasin, Kalsel dan Mas Dhw saat ini bertugas sebagai Editor in Chief Majalah Martha Stewart Living di Jakarta, kedua media tersebut bernaung di Kelompok Kompas Gramedia.

Di lembaran Gema Bernas, saya dan teman-teman sesama redaksi tidak memperoleh bayaran. Semangat Gema memang memajukan ekstrakurikuler jurnalistik pelajar SMA di Yogyakarta dan sekitarnya. Sementara di Hai saya dapat honor, sama seperti koresponden-koresponden lainnya. Bernas dan Gema menjadi pondasi kemampuan jurnalistik yang saya lakoni hingga saat ini.

Pergaulan sebagai siswa SMA yang bertugas sebagai koresponden Hai berlanjut hingga kuliah. Saya berjumpa banyak orang di berbagai kesempatan. Tugas pertama dari Hai untuk saya adalah menulis features Akademi Teknologi Kulit di Yogyakarta untuk rubrik Ke Mana Setelah SMA. Tulisan pertama itu dimuat bulan Juli 1992. Tugas selanjutnya adalah menulis profil Sekolah Menengah Musik Yogyakarta.

Tugas-tugas yang saya lakoni tak hanya dikirim berupa tulisan tapi juga beserta foto-foto yang saya buat sendiri. Kebutuhan ini membuat saya belajar fotografi serius, agar foto layak tampil di Hai. Namun karena keterbatasan ekonomi, saya hanya mampu belajar otodidak, baca majalah pinjaman dan bergaul dengan kawan-kawan yang berminat sama. Senjata saya pada saat itu adalah kamera Nikon F-401x dan lensa 35-70mm berikut tunggangan Honda GL100 butut yang dibeli bekas.

Sejak SMA saya terdidik secara alami untuk tak terkendala dengan keterbatasan. Tak punya lensa tele atau lebar, saya cari pinjaman teman. Butuh liputan dengan mobil, saya pun cari pinjaman, karena untuk sewa pun tak cukup uang. Keterbatasan waktu sejak SMA berlanjut hingga kuliah di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, yang bahkan lebih amat sangat terbatas. Keadaan membuat saya terbiasa tak punya waktu luang.

Saya merasa beruntung bisa belajar jurnalistik sejak dini. Pola berpikir menjadi runtut, dan mudah menulis dengan nalar yang mudah dipahami pembaca. Saya juga beruntung bisa belajar fotografi sejak dini, yang lantas menjadi jalan hidup.

Tahun 1992 saya dapat tugas menulis profil SMA Van Lith di Muntilan, sekitar 45 menit arah utara Yogyakarta, saya pergi sendiri menunggang GL 100. Pulang dari Muntilan, hujan mengguyur di jalan, dan sepatu saya satu-satunya jadi tabung air hujan. Untung SMA Kolese De Britto membebaskan siswa untuk memakai sepatu sandal ke sekolah.

Tugas-tugas jurnalistik yang saya terima mendidik diri untuk menyelesaikan segala sesuatu demi tulisan yang dikirim tepat waktu. Bimbingan dari Mas Dhw dan Mas Yusran bukan melenakan, tapi lebih berupa cambuk yang bertujuan mulia. Saya beruntung bisa dapat pendidikan jurnalistik gratis, langsung di lapangan, langsung praktek dan sudah pasti dimuat, meski jalannya tak gampang.

Sebagai koresponden di luar Jakarta, saya tak mendapat kemudahan seperti koresponden yang berbasis di Jakarta. Untuk beli film dan cuci-cetak, saya musti menalangi ongkos terlebih dahulu. Padahal sebagai pelajar, kantong saya sebenarnya pas hanya untuk makan sehari-hari. Honor dari Hai baru dikirim setelah tulisan dimuat. Waktu itu masih jaman wesel, dikirim ke sekolah dan saya cairkan di kantor pos.

Suatu sore di tahun 1993, saya sedang tidur di kamar kos di Jogja, tiba-tiba Mas Dhw sudah di depan kamar. Saya dibangunkan dan diminta segera meliput. Hal ini saya pahami sebagai bagian dari pendidikan agar jadi jurnalis yang siap bekerja 30 jam sehari dan 10 hari seminggu.

Dari Hai saya dapat banyak pengalaman berguna, unik dan tak terlupakan. Saya beberapa kali meliput seri kejuaraan nasional motocross dan 2 seri kejuaraan motocross seri FIM Asia, pertengahan tahun 1990-an. Dari liputan-liputan itu saya kenal banyak pembalap yang akrab hingga saat ini. Tahun 2003 saya pernah dapat telepon dari seorang mantan pengawal mantan anak RI-1 yang sering turun ke sirkuit, kenal saya waktu liputan-liputan untuk Hai.

Foto Sheila on 7 karya saya yang dimuat jadi sampul Majalah Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999

Foto Sheila on 7 karya saya yang dimuat jadi sampul Majalah Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999

Kedekatan dengan grup band Sheila on 7 di Jogja, membuat saya gampang mendekati mereka dan membuat foto-foto bagus. Dalam sebuah tugas tahun 1999, saya mewawancarai Sheila on 7 perihal kemiripan lagu mereka dengan lagu Boyzone. Tak disangka, foto yang saya kirim ke Jakarta jadi cover Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999. Foto saya buat di beranda lobi Hotel Satelit di Surabaya, sewaktu Sheila on 7 ada jadwal manggung di ibukota Jawa Timur itu.

Karena Hai, saya berkesempatan bisa ikut dalam produksi film Bulan Tertusuk Ilalang, tahun 1995 di Solo. Saya berkenalan dengan sutradara Garin Nugroho, yang akrab hingga saat ini. Saya juga berkenalan dengan Riri Riza dan pemeran utama Norman Wibowo, fotografer sampul album Iwa K.

Liputan film Bulan Tertusuk Ilalang mustinya dijadwalkan hanya 1 malam saja. Saya mengajukan tambahan waktu kepada redaksi Hai di Jakarta, karena benar-benar enjoy terlibat dalam produksi. Alhasil, liputan yang mustinya hanya 1 malam menjadi 1 minggu.

Kesempatan kedua meliput produksi film adalah tahun 1998, film Daun di Atas Bantal yang juga disutradarai Garin Nugroho. Ketemu Christine Hakim untuk saya wawancara. Baru mulai wawancara, saya dikira wartawan “koran kuning” oleh pemeran utama wanita itu. Saya protes dan hampir pulang, untung ditenangkan Mas Garin dan Mas Dhw.

Dua kali meliput produksi film, saya lantas tergerak bikin produksi film pendek dengan kawan-kawan di Jogja tahun 1999. Hasrat untuk produksi film masih ada hingga kini.

Karena Hai juga saya bisa menginjakkan kaki di Bali. Tahun 1999 saya ditugasi Hai meliput grup band Netral yang tur beberapa kota di Jawa dan Bali. Saya bergabung dengan rombongan band, bersama Bagus, Eno, Miten dan kawan-kawan. Bagian dalam bis yang disewa dari Jakarta, kursi-kursi di barisan kanan dicopot untuk peratalan band. Rombongan duduk di kursi-kursi barisan kiri.

Dalam tugas meliput tur Netral ini juga saya pertama kali merasakan menginap di hotel bintang 5, Hard Rock Hotel Bali. Di berbagai kota, agenda selalu sama. Tiba sehari sebelum pertunjukan untuk latihan, sound-check siang sebelum pentas, dan esok hari berangkat melanjutkan perjalanan. Saya sampai hapal lagu-lagu Netral dan urutan tampilnya.

Bersama Hai juga saya ikut dalam rombongan tur beberapa band dalam MTV Say No to Drugs tahun 1999. Tur Jawa-Bali di banyak kota, membuat saya kenal lebih banyak dengan artis dan dunia hiburan. Banyak hal yang saya pelajari dan terpakai hingga kini.

Karena nama Hai, saya dapat akses mudah waktu meliput pernikahan Andra Dewa di Yogyakarta tahun 1999. Oleh Andra, saya diberi posisi motret dengan sudut yang leluasa. Saya dapat foto yang lebih bagus daripada media-media lain.

Lantaran lebih sering menulis soal sekolah berikut kegiatan-kegiatan pelajar dan event-event otomotif, untuk liputan musik saya perlu banyak input. Begitu terima tugas, saya langsung menimba informasi dari Denny MR, yang kala itu adalah redaktur musik Hai. Jaman 90-an internet-literacy masih rendah dan belum banyak informasi di internet.

Tahun 1998 saya dapat tugas wawancara Dewa yang sedang manggung di Jogja. Tugas diterima lisan via telepon dan bersifat urgent, mengenai lagu-lagu di album Pandawa Lima yang kental nuansa Queen. Ahmad Dhani saya jumpai di Hotel Melia Purosani Jogja, dan dapat wawancara eksklusif. Tak disangka, tulisan saya lantas menjadi cover story Hai.

Kala itu, tulisan untuk Hai saya buat dengan komputer pinjaman atau pinjam komputer Bernas. Lantas tulisan dicetak dengan printer dot matrix, karena printer inkjet masih langka dan printer laser mahal. Setelah di-print, tulisan dikirim via faksimili  dari warnet di depan kantor Bernas ke kantor redaksi di Jakarta. Bon faksimili saya minta dibuatkan terlebih dahulu, ditempel di halaman akhir, supaya ikut terkirim dan biaya diganti redaksi.

Foto-foto liputan saya cetak semua, yang amat mahal, karena bukan otoritas saya untuk memilih foto untuk dimuat. Total biaya cuci-cetak tahun 90-an bisa mencapai Rp 40 ribu untuk 1 rol film isi 36. Film ISO 100 waktu itu berharga sekitar Rp 15 ribu. Kalau dapat tugas motret panggung, saya musti beli film ISO 400 yang berharga lebih mahal dan musti push processed, yang lebih lama dan lebih mahal daripada proses biasa.

Honor dari Hai satu tulisan Rp 100 ribu dan satu foto Rp 25 ribu. Dalam satu features, bisa 6-8 foto dimuat. Tapi, rubrik singkat bisa jadi hanya butuh 1 foto saja. Kalau beruntung, sebulan saya bisa dapat wesel dari Hai total Rp 600 ribu. Jumlah itu besar untuk tahun 90-an awal bagi pelajar berkantong pas-pasan seperti saya.

Dahulu belum jaman ponsel. Penyeranta alias pager baru saya miliki tahun 1996. Untuk telepon ke kantor redaksi di Jakarta, saya harus collect call dari kantor Telkom di Kridosono.

Berbagai liputan seru pernah saya tulis untuk Hai. Di event-event otomotif saya bisa bersanding dengan fotografer-fotografer sport terkemuka internasional. Tapi rasa deg-degan justru timbul kalau dapat tugas untuk rubrik Cewek Hai. Maklum, sekolah di SMA Kolese De Britto yang semua muridnya laki-laki tentu “gersang”. Lanjut kuliah di Teknik Geologi UGM juga langka perempuan.

Segala sesuatu yang terjadi selama saya bertugas untuk Hai telah menjadi dasar pola bekerja dan pola berpikir saya saat ini. Sewaktu saya direkrut oleh Schlumberger pada Desember 1999, mental saya telah tertempa karena bertahun-tahun kerja di lingkungan yang selalu baru. Ketika tahun 2000 saya berangkat bekerja keVietnam dan Mesir, sebagai field engineer Schlumberger, karena saya lulusan Teknik Geologi, saya terbiasa dengan hidup sebagai jurnalis yang banyak bepergian dan tidur lelap di tempat seperti apapun.

Waktu bersama Hai adalah salah satu periode penting dalam hidup saya. Jika ada dana dan personil, serta waktu memungkinkan, ingin rasanya menghidupkan kembali Pesta Pelajar yang pernah harum oleh Hai. Saya juga menyimpan kerinduan untuk ikut serta dalam kegiatan pers abu-abu, yang pernah mendidik saya dahulu dan membentuk saya hingga seperti saat ini.

Selamat berhari jadi ke-35 Majalah Hai.

Kebhinekaan SMA Kolese De Britto, Catatan Dari MPK 2011

Misa ekaristi reuni informal alumni SMA Kolese De Britto MPK (Manuk Pulang Kandang) 2011 dengan khotbah dari alumni De Britto Rm Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr. Foto oleh: Kristupa Saragih

Misa ekaristi reuni informal alumni SMA Kolese De Britto MPK (Manuk Pulang Kandang) 2011 dengan khotbah dari alumni De Britto Rm Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr, Selasa (27/12). Foto oleh: Kristupa Saragih

Ada catatan menarik dari reuni alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Selasa (27/12). Presiden Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto H Datuk Sweida Zulalhamsyah antara lain membahas situasi aktual kebebasan beribadah di Indonesia  dan kebhinekaan di SMA swasta Katolik ini. Acara reuni informal tahunan ini diberi tajuk Manuk Pulang Kandang (MPK), karena semua siswa laki-laki. Setiap gelaran MPK dimulai dengan ibadah misa ekaristi.

Presiden Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto H Datuk Sweida Zulalhamsyah memberi sambutan di MPK 2011, Selasa (27/12). Foto oleh Kristupa Saragih

Presiden Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto H Datuk Sweida Zulalhamsyah memberi sambutan di MPK 2011, Selasa (27/12). Foto oleh Kristupa Saragih

“Saya adalah seorang Muslim, tapi saya ikut misa yang membuka acara ini. Saya hadir karena kasih, yang diajarkan sekolah ini kepada saya dan kita semua,” papar Datuk Sweida, yang adalah seorang haji ini. Lulusan De Britto tahun 1973 ini kemudian mengaitkan ibadah di reuni alumni sekolah ini dengan hal aktual kebebasan beribadah di negeri ini. Datuk Sweida menyebut beberapa kasus di Jawa Barat yang berkaitan dengan penolakan masyarakat terhadap gereja dan kegiatan ibadah.

“Anda bisa bebas beribadah di sini dengan tenang. Tapi di sana saudara-saudara kita menghadapi situasi yang berbeda,” ungkap Datuk Sweida dengan nada keras.

SMA Kolese De Britto saat ini melahirkan lebih dari 700 alumni setiap tahun. Sekolah homogen dengan pendidikan bebas ini didirikan 19 Agustus 1948 oleh rohaniwan-rohaniwan Katolik ordo Serikat Jesus (SJ). Meskipun sekolah Katolik, SMA De Britto menerima murid-murid beragama selain Katolik.

Reuni informal MPK digelar tiap akhir Desember, selalu digelar di sekolah. MPK 2011 dihadiri sekitar 200 alumni dari seluruh angkatan, bertema “Ndandani Kandang Manuk” yang artinya memperbaiki sekolah. “Bukan memperbaiki dalam arti fisik, melainkan membenahi segala sesuatu di sekolah,” ungkap Ignatius Supriyatmo, purnawirawan TNI AU berpangkat Marsekal Pertama dan lulusan De Britto 1965, dalam sambutan usai misa sebagai wakil alumni.

Dalam suasana reuni, para alumni menikmati jualan es Si Bob, yang sudah berjualan di SMA Kolese De Britto sejak dahulu, sebagai nostalgia, Selasa (27/12). Foto oleh Kristupa Saragih

Dalam suasana reuni, para alumni menikmati jualan es Si Bob, yang sudah berjualan di SMA Kolese De Britto sejak dahulu, sebagai nostalgia, Selasa (27/12). Foto oleh Kristupa Saragih

Matahari Terbenam di Sumba Barat, NTT

Sunset in Marosi Beach, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Sunset in Marosi Beach, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Suasana senja dan matahari terbenam selalu jadi subyek foto wajib. Tempat seindah Sumba Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur menyimpan banyak lokasi sunset yang menarik. Sempat banyak foto dibuat dengan kamera di ponsel BlackBerry 9900, juga ada 1 video.

Memotret dengan kamera ponsel menyenangkan, tak perlu dipusingkan aspek-aspek teknik. Memang secara kualitas tak akan menyamai kamera DSLR profesional yang saya bawa, tapi kamera sesimpel ponsel seringkali ampuh dan handal. Foto-foto dibuat di Pantai Marosi dan tempat menginap di Sumba Nautil Resort, Lamboya.

One of favorite place for sunset in West Sumba, Marosi Beach. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

One of favorite place for sunset in West Sumba, Marosi Beach. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Pathway light in Sumba Nautil Resort, Lamboya, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. This photo shows dynamic range of camera in BlackBerry 9790. It capture good detail in shadow area with a little noise and good detail in highlight with a little washout. Photo by Kristupa Saragih by BlackBerry 9790

Pathway light in Sumba Nautil Resort, Lamboya, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. This photo shows dynamic range of camera in BlackBerry 9790. It capture good detail in shadow area with a little noise and good detail in highlight with a little washout. Photo by Kristupa Saragih by BlackBerry 9790

Camera in BlackBerry 9790 tolerates high dynamic range. It captures a highlight in left side of the model and good details on reflection on water surface. Colors is good. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Camera in BlackBerry 9790 tolerates high dynamic range. It captures a highlight in left side of the model and good details on reflection on water surface. Colors is good. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

 

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Mengunjungi Da Lat, kota wisata di Vietnam Selatan, berkaitan dengan Crossing Bridges 8 Vietnam 2011, saya dan kawan-kawan fotografer 5 negara ASEAN mampir ke Stasiun Kereta Api Da Lat, Senin (14/11). Semula biasa saja, sampai seluruh rombongan tiba di tempat barulah tersadar bahwa bangunan stasiun KA ini mempesona. Terpelihara baik, rapi dan bersih, Stasiun Da Lat masih berfungsi hingga kini.

Membawa kamera besar sudah pasti, apalagi Crossing Bridges adalah ajang pertemuan tahunan fotografer-fotografer Asia Tenggara. Tapi merekam keindahan karya arsitektur Stasiun Da Lat terasa menyenangkan juga dengan kamera sesederhana ponsel BlackBerry 9900.

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Didesain pada tahun 1932, arsitek-arsitek Perancis Moncet dan Reveron memilih gaya art deco dipadu dengan elemen lokal Cao Nguyen, yang ada di rumah-rumah besar dataran tinggi Vietnam Tengah. Secara umum, desain Stasiun Da Lat dibuat mirip dengan stasiun di Normandy. Stasiun ini mulai beroperasi tahun 1938 dan oleh pemerintah kolonial Perancis dibuat untuk melayani jalur Da Lat-Thap Cam.

Tiga puncak atap Stasiun Da Lat didesain untuk melambangkan ketiga puncak Pegunungan Liang Biang di Da Lat. Stasiun ini berhenti beroperasi pada saat Perang Vietnam tahun 1960-an. Pada tahun 1990-an, usaha restorasi Stasiun Da Lat dan jalur kereta api dimulai untuk kepentingan pariwisata. Tahun 2001 Stasiun Da Lat diresmikan sebagai gedung bersejarah yang dilindungi.

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat wajib dikunjungi pecinta arsitektur, penyuka perkeretaapian dan fotografer arsitektur.

Semua foto yang menyertai tulisan ini dibuat dengan kamera ponsel BlackBerry 9900 tanpa editing apapun.

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Menyongsong Crossing Bridges 8 Vietnam 2011

20111108-150025.jpg

Forum persahabatan komunitas-komunitas online fotografi Asia Tenggara kembali beracara untuk kali kedelapan. Pada 10-16 November 2011 di Ho Chi Minh City dan sekitarnya, 75 fotografer dari 5 negara Asean akan berkumpul dengan tuan rumah Vietnam. Para peserta datang dari komunitas-komunitas fotografi Fotografer.net (Indonesia), Clubsnap (Singapura), Photo Malaysia (Malaysia), FPFF (Filipina) dan Photo.vn (Vietnam).

Melalui forum Crossing Bridges, komunitas-komunitas fotografi terbesar di negara-negara Asean bertemu dan mengaktualkan diri. Demikian pula Fotografer.net yang menempatkan diri sebagai komunitas terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 398.000 anggota terdaftar.

Fotografer pada hakekatnya adalah makhluk komunal. Pada saat menekan tombol pelepas rana memang sendiri, tapi dalam kehidupan nyata fotografer mutlak berkomunitas. Untuk maju, dibutuhkan komunitas yang sehat.

Itu berarti komunitas fotografi berbeda dengan komunitas lain. Komunitas fotografi sewajarnya bertemu untuk memotret, bukan hanya mengobrol belaka. Dan sebagai warga Asean, fotografer-fotografer Indonesia harus menempatkan diri secara bijaksana di tengah pergaulan internasional.

Berkaitan dengan aktualisasi diri dan persahabatan itulah Crossing Bridges bergandengan tangan secara nyata, takhanya secara maya. Pertemuan tahunan digelar rutin sejak 2004, kali pertama Crossing Bridges diwujudkan. Fotografer.net Indonesia menjadi tuan rumah CB 1 yang bertempat di Yogyakarta dan sekitarnya.

CB 2 digelar tuan rumah Clubsnap Singapura di Hong Kong dan Macau tahun 2005. Tahun 2006 Photo.vn Vietnam bergabung dan langsung menjadi tuan rumah CB 3 di Hanoi dan Sapa. Photo Malaysia bergabung tahun 2007 dan menggelar CB 4 di Tawau dan Semporna.

Clubsnap Singapura kembali menjadi tuan rumah CB 5 di Siem Reap, Kamboja tahun 2008. Pelaksanaan CB 6 tahun 2009 yang tak terlupakan digelar di Sumatra Barat oleh Fotografer.net Indonesia. Dua hari sebelum CB 6 selesai, para fotografer dari 5 negara Asean ikut mengalami musibah gempa bumi. Pada tahun ini juga FPPF Filipina bergabung ke Crossing Bridges.

FPPF lantas menjadi tuan rumah CB 7 tahun lalu di Western Visayas. Saat ini sudah 5 negara Asean bergabung di Crossing Bridges, menanti Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Laos dan Timor Leste untuk bergabung.

Tahun ini kali kedua Photo.vn menjadi tuan rumah Crossing Bridges. Bertolak dari Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam setelah ibukota Hanoi, 75 fotografer dari 5 negara Asean berkeliling sebagian Vietnam Selatan.

Kontingen Indonesia beranggotakan 15 orang ikut serta menyukseskan CB 8. Kita percaya, keberadaan Fotografer.net, sebagai salah satu inisiator Crossing Bridges, bisa bermanfaat untuk kawan-kawan sesama fotografer Asia Tenggara.

Kita ingin berpartisipasi aktif di pergaulan regional untuk menunjukkan eksistensi fotografi Indonesia. Nilai-nilai luhur bangsa dan kekayaan alam budaya Tanah Air mendasari kerendahhatian kita untuk menjalin persahabatan. Hunting foto bisa di mana saja dan dengan siapa saja, tapi persahabatan lebih bernilai untuk kita pupuk bersama.

Prestasi dan hal-hal yang dibuat oleh forum Crossing Bridges mungkin bukan sesuatu yang spektakuler. Tapi semangat, komitmen dan kesinambungan yang telah dijaga tetap berkobar merupakan hal yang luar biasa bagi para anggota yang terlibat di dalamnya. Hal yang luar biasa untuk dipikirkan, diingat dan diceritakan serta dipelajari untuk kelak dikembangkan lagi.

Melalui fotografi, Indonesia membuka mata dunia bahwa negara kita menyimpan talenta-talenta berharga. Insan-insan yang berperasaan halus dan rendah hati sekaligus tahu diri untuk mengambil peran penting di masanya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50,482 other followers

%d bloggers like this: