Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Latest

Kebhinekaan SMA Kolese De Britto, Catatan Dari MPK 2011

Misa ekaristi reuni informal alumni SMA Kolese De Britto MPK (Manuk Pulang Kandang) 2011 dengan khotbah dari alumni De Britto Rm Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr. Foto oleh: Kristupa Saragih

Misa ekaristi reuni informal alumni SMA Kolese De Britto MPK (Manuk Pulang Kandang) 2011 dengan khotbah dari alumni De Britto Rm Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr, Selasa (27/12). Foto oleh: Kristupa Saragih

Ada catatan menarik dari reuni alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Selasa (27/12). Presiden Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto H Datuk Sweida Zulalhamsyah antara lain membahas situasi aktual kebebasan beribadah di Indonesia  dan kebhinekaan di SMA swasta Katolik ini. Acara reuni informal tahunan ini diberi tajuk Manuk Pulang Kandang (MPK), karena semua siswa laki-laki. Setiap gelaran MPK dimulai dengan ibadah misa ekaristi.

Presiden Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto H Datuk Sweida Zulalhamsyah memberi sambutan di MPK 2011, Selasa (27/12). Foto oleh Kristupa Saragih

Presiden Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto H Datuk Sweida Zulalhamsyah memberi sambutan di MPK 2011, Selasa (27/12). Foto oleh Kristupa Saragih

“Saya adalah seorang Muslim, tapi saya ikut misa yang membuka acara ini. Saya hadir karena kasih, yang diajarkan sekolah ini kepada saya dan kita semua,” papar Datuk Sweida, yang adalah seorang haji ini. Lulusan De Britto tahun 1973 ini kemudian mengaitkan ibadah di reuni alumni sekolah ini dengan hal aktual kebebasan beribadah di negeri ini. Datuk Sweida menyebut beberapa kasus di Jawa Barat yang berkaitan dengan penolakan masyarakat terhadap gereja dan kegiatan ibadah.

“Anda bisa bebas beribadah di sini dengan tenang. Tapi di sana saudara-saudara kita menghadapi situasi yang berbeda,” ungkap Datuk Sweida dengan nada keras.

SMA Kolese De Britto saat ini melahirkan lebih dari 700 alumni setiap tahun. Sekolah homogen dengan pendidikan bebas ini didirikan 19 Agustus 1948 oleh rohaniwan-rohaniwan Katolik ordo Serikat Jesus (SJ). Meskipun sekolah Katolik, SMA De Britto menerima murid-murid beragama selain Katolik.

Reuni informal MPK digelar tiap akhir Desember, selalu digelar di sekolah. MPK 2011 dihadiri sekitar 200 alumni dari seluruh angkatan, bertema “Ndandani Kandang Manuk” yang artinya memperbaiki sekolah. “Bukan memperbaiki dalam arti fisik, melainkan membenahi segala sesuatu di sekolah,” ungkap Ignatius Supriyatmo, purnawirawan TNI AU berpangkat Marsekal Pertama dan lulusan De Britto 1965, dalam sambutan usai misa sebagai wakil alumni.

Dalam suasana reuni, para alumni menikmati jualan es Si Bob, yang sudah berjualan di SMA Kolese De Britto sejak dahulu, sebagai nostalgia, Selasa (27/12). Foto oleh Kristupa Saragih

Dalam suasana reuni, para alumni menikmati jualan es Si Bob, yang sudah berjualan di SMA Kolese De Britto sejak dahulu, sebagai nostalgia, Selasa (27/12). Foto oleh Kristupa Saragih

Matahari Terbenam di Sumba Barat, NTT

Sunset in Marosi Beach, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Sunset in Marosi Beach, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Suasana senja dan matahari terbenam selalu jadi subyek foto wajib. Tempat seindah Sumba Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur menyimpan banyak lokasi sunset yang menarik. Sempat banyak foto dibuat dengan kamera di ponsel BlackBerry 9900, juga ada 1 video.

Memotret dengan kamera ponsel menyenangkan, tak perlu dipusingkan aspek-aspek teknik. Memang secara kualitas tak akan menyamai kamera DSLR profesional yang saya bawa, tapi kamera sesimpel ponsel seringkali ampuh dan handal. Foto-foto dibuat di Pantai Marosi dan tempat menginap di Sumba Nautil Resort, Lamboya.

One of favorite place for sunset in West Sumba, Marosi Beach. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

One of favorite place for sunset in West Sumba, Marosi Beach. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Pathway light in Sumba Nautil Resort, Lamboya, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. This photo shows dynamic range of camera in BlackBerry 9790. It capture good detail in shadow area with a little noise and good detail in highlight with a little washout. Photo by Kristupa Saragih by BlackBerry 9790

Pathway light in Sumba Nautil Resort, Lamboya, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. This photo shows dynamic range of camera in BlackBerry 9790. It capture good detail in shadow area with a little noise and good detail in highlight with a little washout. Photo by Kristupa Saragih by BlackBerry 9790

Camera in BlackBerry 9790 tolerates high dynamic range. It captures a highlight in left side of the model and good details on reflection on water surface. Colors is good. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Camera in BlackBerry 9790 tolerates high dynamic range. It captures a highlight in left side of the model and good details on reflection on water surface. Colors is good. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

 

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Mengunjungi Da Lat, kota wisata di Vietnam Selatan, berkaitan dengan Crossing Bridges 8 Vietnam 2011, saya dan kawan-kawan fotografer 5 negara ASEAN mampir ke Stasiun Kereta Api Da Lat, Senin (14/11). Semula biasa saja, sampai seluruh rombongan tiba di tempat barulah tersadar bahwa bangunan stasiun KA ini mempesona. Terpelihara baik, rapi dan bersih, Stasiun Da Lat masih berfungsi hingga kini.

Membawa kamera besar sudah pasti, apalagi Crossing Bridges adalah ajang pertemuan tahunan fotografer-fotografer Asia Tenggara. Tapi merekam keindahan karya arsitektur Stasiun Da Lat terasa menyenangkan juga dengan kamera sesederhana ponsel BlackBerry 9900.

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Didesain pada tahun 1932, arsitek-arsitek Perancis Moncet dan Reveron memilih gaya art deco dipadu dengan elemen lokal Cao Nguyen, yang ada di rumah-rumah besar dataran tinggi Vietnam Tengah. Secara umum, desain Stasiun Da Lat dibuat mirip dengan stasiun di Normandy. Stasiun ini mulai beroperasi tahun 1938 dan oleh pemerintah kolonial Perancis dibuat untuk melayani jalur Da Lat-Thap Cam.

Tiga puncak atap Stasiun Da Lat didesain untuk melambangkan ketiga puncak Pegunungan Liang Biang di Da Lat. Stasiun ini berhenti beroperasi pada saat Perang Vietnam tahun 1960-an. Pada tahun 1990-an, usaha restorasi Stasiun Da Lat dan jalur kereta api dimulai untuk kepentingan pariwisata. Tahun 2001 Stasiun Da Lat diresmikan sebagai gedung bersejarah yang dilindungi.

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat wajib dikunjungi pecinta arsitektur, penyuka perkeretaapian dan fotografer arsitektur.

Semua foto yang menyertai tulisan ini dibuat dengan kamera ponsel BlackBerry 9900 tanpa editing apapun.

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Menyongsong Crossing Bridges 8 Vietnam 2011

20111108-150025.jpg

Forum persahabatan komunitas-komunitas online fotografi Asia Tenggara kembali beracara untuk kali kedelapan. Pada 10-16 November 2011 di Ho Chi Minh City dan sekitarnya, 75 fotografer dari 5 negara Asean akan berkumpul dengan tuan rumah Vietnam. Para peserta datang dari komunitas-komunitas fotografi Fotografer.net (Indonesia), Clubsnap (Singapura), Photo Malaysia (Malaysia), FPFF (Filipina) dan Photo.vn (Vietnam).

Melalui forum Crossing Bridges, komunitas-komunitas fotografi terbesar di negara-negara Asean bertemu dan mengaktualkan diri. Demikian pula Fotografer.net yang menempatkan diri sebagai komunitas terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 398.000 anggota terdaftar.

Fotografer pada hakekatnya adalah makhluk komunal. Pada saat menekan tombol pelepas rana memang sendiri, tapi dalam kehidupan nyata fotografer mutlak berkomunitas. Untuk maju, dibutuhkan komunitas yang sehat.

Itu berarti komunitas fotografi berbeda dengan komunitas lain. Komunitas fotografi sewajarnya bertemu untuk memotret, bukan hanya mengobrol belaka. Dan sebagai warga Asean, fotografer-fotografer Indonesia harus menempatkan diri secara bijaksana di tengah pergaulan internasional.

Berkaitan dengan aktualisasi diri dan persahabatan itulah Crossing Bridges bergandengan tangan secara nyata, takhanya secara maya. Pertemuan tahunan digelar rutin sejak 2004, kali pertama Crossing Bridges diwujudkan. Fotografer.net Indonesia menjadi tuan rumah CB 1 yang bertempat di Yogyakarta dan sekitarnya.

CB 2 digelar tuan rumah Clubsnap Singapura di Hong Kong dan Macau tahun 2005. Tahun 2006 Photo.vn Vietnam bergabung dan langsung menjadi tuan rumah CB 3 di Hanoi dan Sapa. Photo Malaysia bergabung tahun 2007 dan menggelar CB 4 di Tawau dan Semporna.

Clubsnap Singapura kembali menjadi tuan rumah CB 5 di Siem Reap, Kamboja tahun 2008. Pelaksanaan CB 6 tahun 2009 yang tak terlupakan digelar di Sumatra Barat oleh Fotografer.net Indonesia. Dua hari sebelum CB 6 selesai, para fotografer dari 5 negara Asean ikut mengalami musibah gempa bumi. Pada tahun ini juga FPPF Filipina bergabung ke Crossing Bridges.

FPPF lantas menjadi tuan rumah CB 7 tahun lalu di Western Visayas. Saat ini sudah 5 negara Asean bergabung di Crossing Bridges, menanti Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Laos dan Timor Leste untuk bergabung.

Tahun ini kali kedua Photo.vn menjadi tuan rumah Crossing Bridges. Bertolak dari Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam setelah ibukota Hanoi, 75 fotografer dari 5 negara Asean berkeliling sebagian Vietnam Selatan.

Kontingen Indonesia beranggotakan 15 orang ikut serta menyukseskan CB 8. Kita percaya, keberadaan Fotografer.net, sebagai salah satu inisiator Crossing Bridges, bisa bermanfaat untuk kawan-kawan sesama fotografer Asia Tenggara.

Kita ingin berpartisipasi aktif di pergaulan regional untuk menunjukkan eksistensi fotografi Indonesia. Nilai-nilai luhur bangsa dan kekayaan alam budaya Tanah Air mendasari kerendahhatian kita untuk menjalin persahabatan. Hunting foto bisa di mana saja dan dengan siapa saja, tapi persahabatan lebih bernilai untuk kita pupuk bersama.

Prestasi dan hal-hal yang dibuat oleh forum Crossing Bridges mungkin bukan sesuatu yang spektakuler. Tapi semangat, komitmen dan kesinambungan yang telah dijaga tetap berkobar merupakan hal yang luar biasa bagi para anggota yang terlibat di dalamnya. Hal yang luar biasa untuk dipikirkan, diingat dan diceritakan serta dipelajari untuk kelak dikembangkan lagi.

Melalui fotografi, Indonesia membuka mata dunia bahwa negara kita menyimpan talenta-talenta berharga. Insan-insan yang berperasaan halus dan rendah hati sekaligus tahu diri untuk mengambil peran penting di masanya.

#FNstreet 30 Oktober 2011 Momentum Tak Terlupakan #FN9

Pada hari Minggu, 30 Oktober 2011 kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) telah membuat sejarah. Sebanyak lebih dari 1.700 fotografer di 35 kota di hampir seluruh Indonesia dan beberapa negara dunia menggelar street photo hunting serentak.

Street photo hunting yang digelar serentak itu diberi sandi tandapagar #FNstreet dan #FN9.

Tak ada kota yang punya persiapan lebih dari seminggu kecuali Jakarta, Jogja dan Batam. Jakarta dengan Jakarta Street Hunting #JASH pada 2011 ini menggelar street photo hunting untuk kali ketujuh. Sementara Jogja Street Shoot #JoSS adalah kali ketiga pada 2011 ini, dan Batam Street Hunting #BASH baru pertama digelar di Batam.

Selebihnya, semua kota di luar Jakarta, Jogja dan Batam hanya punya waktu persiapan kurang dari seminggu. Bahkan ada kota yang baru menyatakan ikut bergabung untuk hunting serentak ini 2 hari menjelang pelaksanaan.

Kita paham, bahwa keberadaan kita di kota masing-masing adalah bagian dari komunitas fotografi di tempat tinggal kita. Kita pun paham perihal keberadaan kota tempat tinggal kita sebagai bagian dari peta fotografi nasional. Dan kita pun sewajarnya menerima diri sebagai bagian dari pergaulan fotografi internasional.

Kita gelar street photo hunting di kota masing-masing secara sukarela. Tak ada panitia yang dibayar, apalagi menjaring keuntungan pribadi. Peserta pun tak membayar, dan tak ada yang dipaksa-paksa untuk ikut.

Acara street photo hunting serentak FN jauh dari iming-iming dalam bentuk apapun, kecuali kebersamaan dalam persahabatan sejati. Manusia adalah makhluk sosial, dan fotografer hidup secara komunal. Kita pelihara persahabatan komunitas fotografi agar senantiasa bersih dari materialisme.

Kita mungkin bisa selalu menjadi pemula dalam fotografi. Banyak pula kawan-kawan fotografer yang pemalu dan penyendiri. Tapi justru melalui fotografi kita terpapar pada kemuliaan hidup bersaudara yang tulus.

Kita bukan siapa-siapa dibanding orang-orang yang bertitel seniman terkenal di bidang seni rupa atau orang-orang yang mencap diri sebagai praktisi seni fotografi. Namun kita percaya bahwa kita bicara jujur secara visual, melalui bahasa fotografi. Tanpa peduli titel dan tanpa pamrih puja-puji, kita berkarya dalam sepi namun penuh sesak oleh keharuan persahabatan fotografi.

Jarak dan waktu memisahkan kita secara fisik, tetapi jiwa kita disatukan oleh kecintaan pada fotografi. Kita yakin bahwa pertemanan dimulai dari saling percaya, dan persahabatan fotografi dilandasi oleh keterbukaan dan kejujuran. Oleh karena itu, meski tanpa iming-iming hadiah pun banyak fotografer yang mengikutsertakan diri.

Kita jauh dari gempita fotografi komersial, kita pun tak menjadi bagian kemegahan fotografi jurnalistik. Namun di jalanan justru kita temukan kebersamaan tanpa batas, yang egaliter dan murni. Hidup di jalanan keras, kata orang, namun kehalusan sanubari kita mengemasnya menjadi karya fotografi yang layak pirsa.

Ucapan terimakasih kita sampaikan kepada kawan-kawan yang telah mengorganisir street photo hunting di kota masing-masing. Kita percaya bahwa dalam persahabatan fotografi yang tulus dan murni, jerih payah kita tak sia-sia.

Biar foto yang bicara tentang suara hati nurani kita.

 


Tautan:

Liputan Fotografer.net Street Hunting 2011 #FNstreet #FN9

Fotografi adalah Sarana Belajar Mengerti

Sebuah foto dikritik habis, sementara foto lain sarat puja-puji. Seorang pemirsa foto manggut-manggut sambil acung jempol, sementara pemirsa lain mengernyitkan dahi kepada foto yang sama.

Sebuah foto tak berarti tanpa pemirsa. Dan sebuah ide hanya bisa jadi cemerlang jika diwujudkan dalam foto. Itulah hakikat foto sebagai bahasa komunikasi visual.

Komunikasi tentu butuh 2 pihak: komunikator dan komunikan. Jika pemirsa foto tak mengerti, maka fotografer tak berhasil menyampaikan pesan. Sesederhana apapun pesan itu, musti sampai ke benak pemirsa.

Fotografer haram meminta-minta dimengerti karya fotonya. Adalah hak tiap pemirsa untuk menginterpretasi secara bebas. Karena kebebasan adalah syarat kreativitas, dan kreativitas adalah motor fotografi.

Demikianlah fotografer musti memahami cara berpikir para pemirsa karya-karyanya. Tanpa belajar mengerti, fotografer tak akan berhasil menyampaikan pesan-pesan dari benaknya.

Tatkala belajar memotret pun, fotografer musti memahami prinsip dasar dan logika pencahayaan. Menghapalkan teori fotografi tak bakal menelurkan pemahaman logika. Dalam fotografi tak ada dogma. Dan setiap teori yang dipelajari musti dibuktikan sendiri di lapangan.

Ketika memotret pun hakikat mengerti masih berlaku. Seorang fotografer arsitektur tak menghasilkan karya cemerlang tanpa mempelajari karya arsitektur yang dipotretnya. Seorang fotografer makanan bisa jadi terkendala dalam pekerjaan memotret jika tak mengerti bahan-bahan penyusun makanan yang dipotretnya.

Alangkah aneh seorang fotografer perjalanan tak bisa menjelaskan subyek-subyek fotonya sepanjang perjalanan. Alangkah naif seorang pewarta foto jika hanya bertugas mengandalkan agenda acara resmi dan memotret ketika semua pewarta foto lain juga membuat foto yang kurang lebih sama.

Pekerjaan memotret bisa jadi kacau balau tatkala fotografer pernikahan tak paham acara adat yang ditugaskan kepadanya. Bahkan seorang fotografer pasfoto bisa dapat masalah besar jika tak tahu nama orang yang dipotret, atau silap menamai foto.

Mengerti dan memahami bersifat aktif. Mulai dari fotografer sebagai komunikator, melalui karya foto sebagai media komunikasi visual.

Kita percaya bahwa fotografi bertujuan membawa harkat hidup yang lebih baik untuk umat manusia. Berkarya tanpa pamrih niscaya membersihkan niat luhur dari keinginan untuk dikagumi dan hasrat bergelimang puja-puji. Kita juga percaya bahwa kerendahhatian dan pikiran terbuka melandasi kreativitas fotografi.

Biar foto yang bicara.

Mudah Memotret Makanan dengan BlackBerry 9900

Saturasi warna dan akurasi yang baik ada di ponsel berkamera BlackBerry 9900. Menu pindang udang dan pindang patin di sebuah rumah makan di Palembang, Sumatra Selatan. Foto oleh Kristupa Saragih

Saturasi warna dan akurasi yang baik ada di ponsel berkamera BlackBerry 9900. Menu pindang udang dan pindang patin lengkap dengan ikan seluang goreng, sambal buah dan sambal kerang di sebuah rumah makan di Palembang, Sumatra Selatan. Foto oleh Kristupa Saragih

Makanan mengundang selera. Makanan enak selalu dicari. Dan pengalaman indah selalu ingin segera dibagikan.

Dalam kesempatan santai, kumpul dengan keluarga dan teman, atau dalam perjalanan wisata, makanan kerap disebut pengalaman kuliner, bahkan wisata kuliner. Tentu akan ribet membawa kamera besar untuk memotret makanan, karena hanya untuk kepentingan kasual.

Dengan ponsel berkamera, memotret makanan jadi mudah dan bisa langsung dibagikan ke kolega dan social media. Lebih mudah lagi dengan kelebihan-kelebihan BlackBerry 9900. Ponsel cerdas dengan layar sentuh yang lebar 2,8 inci.

Tak perlu repot membawa-bawa makanan ke tempat dengan pencahayaan sempurna. Cukup di meja saja, dan potret makanan dengan cahaya yang ada. Untuk mempermudah, pilih meja dekat jendela agar memperoleh window lighting.

Manfaatkan side-lighting dari window lighting. Detail di daerah shadow masih terekam baik oleh kamera beresolusi 5 megapiksel di BlackBerry 9900. Foto oleh Kristupa Saragih

Manfaatkan side-lighting dari window lighting. Detail di daerah shadow masih terekam baik oleh kamera beresolusi 5 megapiksel di BlackBerry 9900. Kue ape, penganan khas Sumatera Selatan difoto di sebuah rumah makan di Palembang. Foto oleh Kristupa Saragih

Cahaya dari jendela lazimnya sudah bersifat lembut, sehingga tak perlu bawa-bawa softbox dan flash. Posisikan makanan dekat jendela dan posisikan sudut pemotretan agar sumber cahaya datang dari samping, alias side lighting.

Selebihnya adalah tinggal mengatur sudut agar susunan makanan terlihat sesuai keinginan Anda. Pastikan point-of-interest memperoleh porsi cukup. Menu-menu penyerta diposisikan sesuai fungsinya sebagai penyerta, bukan yang utama.

Fitur autofocus-lock yang absen di BlackBerry 9900 bisa jadi hambatan. Tapi bisa diatasi dengan mengatur jarak yang cukup, dan bisa dipantau melalui layar kamera 5 megapiksel. Untuk zoom, sentuhkan jari di layar ponsel dan geser-geser sesuai kebutuhan. Inilah kelebihan BlackBerry 9900 berlayar sentuh yang responsif dan presisi.

Fitur AF-lock absen di BlackBerry 9900. Atasi dengan pantau jarak agar memadai bagi sistem autofokus standar. Pho bo, mie daging sapi khas Negara Paman Ho di sebuah restoran Vietnam di Jakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Fitur AF-lock absen di BlackBerry 9900. Atasi dengan pantau jarak agar memadai bagi sistem autofokus standar. Pho bo, mie daging sapi khas Negara Paman Ho di sebuah restoran Vietnam di Jakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Taking Fireworks Pictures with BlackBerry 9900

Fireworks in Prambanan Temple. Taken by BlackBerry 9900. Photo by Kristupa Saragih

Fireworks in Prambanan Temple. Taken by BlackBerry 9900. Photo by Kristupa Saragih

Fireworks is always interesting. Serious photographers might grab a DSLR and slide it into a sturdy tripod. Exposure would be set to slow-shutter speed setting to capture the fireworks trails.

But what would we do with only a mobile phone camera in hand?

Capturing pictures doesn’t solely rely on gear. As long as we get the idea beforehand, then execution just needs a little practice.

In an event in Prambanan Temple, Yogyakarta a couple weeks ago, there was fireworks show to finalize the day. I got myself BlackBerry 9990 in-hand, which I have just received a couple of days back.

BlackBerry 9900 has a smart light meter to capture correct exposure in dark backgroound. Photo by Kristupa Saragih

BlackBerry 9900 has a smart light meter to capture correct exposure in dark backgroound. Photo by Kristupa Saragih

First impression, BlackBerry 9900 camera is more responsive than my previous BlackBerry 9780. It has less shutter lag, less time-lapse in-between photo-taking, and smarter light meter. Bigger screen in BlackBerry 9900 is a big addition with better image quality.

Although BlackBerry 9900 camera doesn’t have autofocus-lock, it doesn’t really matter on shooting fireworks. In certain distance of shooting, less autofocus-lock doesn’t become a handicap in producing acceptable mobile phone camera pictures.

I still could capture dark sky as total black, while some other mobile phone cameras produces grayish cast. I also could produce sharp images in a bit difficult situation with dim ambient light and dark background.

I thought I was lucky to be on the right time and the right place to capture the fireworks. But with BlackBerry 9900 in my hand, yes, I am the lucky man with the right gear.

Please be noticed, that none of the pictures attached here have undergone anykind of digital editing. They are all original without any single adjustment.

Capturing the joy of the moment by BlackBerry 9900. Photo by Kristupa Saragih

Capturing the joy of the moment by BlackBerry 9900. Photo by Kristupa Saragih

Belajar pada #FN9 Manado dan Palembang

Awal tahun 2009, kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) Manado mengontak. Terbit niat untuk menggelar gathering FN di ibukota Sulawesi Utara. Sayang agenda FN Gathering 2009 sudah diajukan ke sponsor sejak akhir 2008 dan sudah disetujui.

Pantang menyerah, kawan-kawan FN Manado di bawah bendera klub Manado Photo Club (MPC) waktu itu merapatkan barisan. Kepanitiaan dibentuk dan anggaran disusun, sponsor dicari. Semua dilakukan atas inisiatif anggota-anggota FN Manado secara swakarsa dan swadaya.

Gathering pertama pun berhasil digelar pada Juli 2009. Peserta ramai dan acara berlangsung seru. Mumpung semangat masih berkobar, kawan-kawan FN Manado kembali menggelar gathering Tahun Baru 2010. Kali ini bendera yang diusung adalah klub Spot Photographers, menyikapi dinamika yang terjadi di MPC.

Kekompakan dan kerja keras kawan-kawan FN Manado berbuah. FN Gathering Series 2010 menempatkan Manado sebagai salah satu kota di agenda seri tahunan. Tapi kawan-kawan FN Manado tak lekas puas, masih dengan bendera Spot Photographers mereka kembali menggelar gathering Tahun Baru 2011. Semua sukses, semua ramai peserta dan semua berlangsung seru dalam kebersamaan dan suasana persahabatan.

Menanggapi semangat swakarsa dan inisiatif yang menggebu-gebu, kawan-kawan FN Manado di tahun 2011 menjadi tuan rumah 2 acara, FN Gathering Series 2011 dan FN Workshop Series 2011. Kedua acara sudah berlangsung, tetap dalam suasana persahabatan namun jumlah peserta yang bertambah dan acara yang lebih beragam.

Cerita yang serupa tertoreh di Palembang. Berkali-kali diusulkan masuk ke agenda seri tahunan FN tapi nampaknya ibukota Sumatera Selatan ini belum terperhatikan. Tapi justru hal itu menjadi penyulut semangat gotong royong kawan-kawan FN Palembang dan pengikat kekompakan mereka.

Dalam waktu kurang dari seminggu, kepanitiaan dibentuk dan anggaran disusun. Rapat-rapat panitia yang berjumlah beberapa gelintir orang saja digelar tiap malam. Berbagai warung kopi dan warung pempek jadi saksi gerilya penyusunan strategi kawan-kawan FN Palembang.

Sponsor tak jadi masalah, lantaran ada banyak teman di Palembang yang bisa “ditodong” meski hasil tak banyak. Namun, semboyan “bersatu kita teguh” dan “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” jadi nyata di Palembang. Gathering pertama di Palembang digelar dua pekan lalu.

Acara FN Palembang diawali petang hari di Dekranasda, Jakabaring dan ditutup makan malam bersama di tepi Sungai Musi, menghadap Jembatan Ampera yang legendaris itu. Peserta datang dari berbagai kota di Sumatra Selatan, seperti Muara Enim dan Baturaja. Banyak juga peserta yang datang dari provinsi-provinsi tetangga, 5 orang dari Jambi, 2 dari Batam di Kepulauan Riau, 4 dari Pangkalpinang di Bangka Belitung dan 1 orang dari Lampung.

Jumlah 159 peserta dan asal dari berbagai daerah jelas jadi bukti nyata kerinduan kawan-kawan anggota FN untuk bertemu, berkumpul dan berbagi. Palembang membuktikannya dalam bungkus acara yang meriah, dan lebih dari 90 persen peserta tetap setia mengikuti acara hingga usai mendekati pukul 10 malam.

Kita membuktikan, bahwa keinginan dan kerinduan yang sama mengumpulkan kita untuk mencapai tujuan yang sama, dibungkus persahabatan dalam kecintaan pada fotografi. Inisiatif terbit dari bawah, bottom up. Bukan sebaliknya, ada yang gelar acara meski esensi tak mengena dan bertujuan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.

Kendala dana diatasi secara gotong royong. Jangan sampai persahabatan kita dan kemauan untuk berbagi terganggu karena dana. Kalau kita mau, kita bisa.

Manado dan Palembang bisa.

Rusidah, Fotografer Tanpa Jari dari Purworejo

Rusidah, perempuan fotografer yang tuna daksa dari Purworejo. Foto oleh Nico Wijaya

Rusidah, perempuan fotografer yang tuna daksa dari Purworejo. Foto oleh Nico Wijaya

Memotret tanpa jari, tak terbayangkan sebelumnya. Tapi hari ini, Rabu (14/09) saya menyaksikan Rusidah, perempuan fotografer, memotret dengan keterbatasan diri sebagai tuna daksa. Kenyataan memiliki tangan hanya selengan, tanpa kehadiran jari dan telapak di kedua tangan, tak menghalangi Rusidah menjadi fotografer profesional.

Lahir tahun 1968, Rusidah sudah mulai memotret profesional sejak 1995. Berbekal kamera bantuan pemerintah Kabupaten Purworejo, waktu itu Rusidah memotret dengan kamera film. Jasa fotografi Rusidah terbagi menjadi 2 paket, per foto seharga Rp 5 ribu dan per paket 30 foto ukuran 4R seharga Rp 150 ribu termasuk album.

Hadir di jumpa pers berkaitan dengan Canon Photo Marathon 2011 di Jogja, Rusidah berbagi kisah sebagai perempuan fotografer yang mencari nafkah sepenuhnya dari memotret. Suaminya berprofesi sebagai penjual es putar.

Sekarang Rusidah sudah berbekal kamera digital Canon EOS 550D dan flash Canon Speedlite 430EX II. “Saya mulai motret sejak pakai kamera film. Sudah beberapa merk kamera pernah saya pakai,” papar Rusidah, sembari menunjukkan album-album hasil karyanya. Uang terbanyak diperolehnya dari jasa memotret pada saat karnaval tingkat kampung, selain dari jasa memotret resepsi pernikahan. “Saya ingin punya studio foto,” ungkapnya.

Gayung bersambut seiring bantuan PT Datascrip sebagai distributor kamera Canon di Indonesia. Rusidah memperoleh seperangkat fotografi studio sederhana dan cetak foto. “Bu Rusidah jadi motivasi kita. Semangat pantang menyerah,” ungkap Merry Harun, Direktur Divisi Canon PT Datascrip. Seusai jumpa pers, staf Datascrip menyertai kepulangan Rusidah ke Purworejo untuk memberi pelatihan penggunaan peralatan studio foto dan cetak foto.

Rusidah menjadi teladan, contoh nyata sosok manusia pantang menyerah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48,822 other followers

%d bloggers like this: