Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Latest

Belajar pada #FN9 Manado dan Palembang

Awal tahun 2009, kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) Manado mengontak. Terbit niat untuk menggelar gathering FN di ibukota Sulawesi Utara. Sayang agenda FN Gathering 2009 sudah diajukan ke sponsor sejak akhir 2008 dan sudah disetujui.

Pantang menyerah, kawan-kawan FN Manado di bawah bendera klub Manado Photo Club (MPC) waktu itu merapatkan barisan. Kepanitiaan dibentuk dan anggaran disusun, sponsor dicari. Semua dilakukan atas inisiatif anggota-anggota FN Manado secara swakarsa dan swadaya.

Gathering pertama pun berhasil digelar pada Juli 2009. Peserta ramai dan acara berlangsung seru. Mumpung semangat masih berkobar, kawan-kawan FN Manado kembali menggelar gathering Tahun Baru 2010. Kali ini bendera yang diusung adalah klub Spot Photographers, menyikapi dinamika yang terjadi di MPC.

Kekompakan dan kerja keras kawan-kawan FN Manado berbuah. FN Gathering Series 2010 menempatkan Manado sebagai salah satu kota di agenda seri tahunan. Tapi kawan-kawan FN Manado tak lekas puas, masih dengan bendera Spot Photographers mereka kembali menggelar gathering Tahun Baru 2011. Semua sukses, semua ramai peserta dan semua berlangsung seru dalam kebersamaan dan suasana persahabatan.

Menanggapi semangat swakarsa dan inisiatif yang menggebu-gebu, kawan-kawan FN Manado di tahun 2011 menjadi tuan rumah 2 acara, FN Gathering Series 2011 dan FN Workshop Series 2011. Kedua acara sudah berlangsung, tetap dalam suasana persahabatan namun jumlah peserta yang bertambah dan acara yang lebih beragam.

Cerita yang serupa tertoreh di Palembang. Berkali-kali diusulkan masuk ke agenda seri tahunan FN tapi nampaknya ibukota Sumatera Selatan ini belum terperhatikan. Tapi justru hal itu menjadi penyulut semangat gotong royong kawan-kawan FN Palembang dan pengikat kekompakan mereka.

Dalam waktu kurang dari seminggu, kepanitiaan dibentuk dan anggaran disusun. Rapat-rapat panitia yang berjumlah beberapa gelintir orang saja digelar tiap malam. Berbagai warung kopi dan warung pempek jadi saksi gerilya penyusunan strategi kawan-kawan FN Palembang.

Sponsor tak jadi masalah, lantaran ada banyak teman di Palembang yang bisa “ditodong” meski hasil tak banyak. Namun, semboyan “bersatu kita teguh” dan “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” jadi nyata di Palembang. Gathering pertama di Palembang digelar dua pekan lalu.

Acara FN Palembang diawali petang hari di Dekranasda, Jakabaring dan ditutup makan malam bersama di tepi Sungai Musi, menghadap Jembatan Ampera yang legendaris itu. Peserta datang dari berbagai kota di Sumatra Selatan, seperti Muara Enim dan Baturaja. Banyak juga peserta yang datang dari provinsi-provinsi tetangga, 5 orang dari Jambi, 2 dari Batam di Kepulauan Riau, 4 dari Pangkalpinang di Bangka Belitung dan 1 orang dari Lampung.

Jumlah 159 peserta dan asal dari berbagai daerah jelas jadi bukti nyata kerinduan kawan-kawan anggota FN untuk bertemu, berkumpul dan berbagi. Palembang membuktikannya dalam bungkus acara yang meriah, dan lebih dari 90 persen peserta tetap setia mengikuti acara hingga usai mendekati pukul 10 malam.

Kita membuktikan, bahwa keinginan dan kerinduan yang sama mengumpulkan kita untuk mencapai tujuan yang sama, dibungkus persahabatan dalam kecintaan pada fotografi. Inisiatif terbit dari bawah, bottom up. Bukan sebaliknya, ada yang gelar acara meski esensi tak mengena dan bertujuan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.

Kendala dana diatasi secara gotong royong. Jangan sampai persahabatan kita dan kemauan untuk berbagi terganggu karena dana. Kalau kita mau, kita bisa.

Manado dan Palembang bisa.

Rusidah, Fotografer Tanpa Jari dari Purworejo

Rusidah, perempuan fotografer yang tuna daksa dari Purworejo. Foto oleh Nico Wijaya

Rusidah, perempuan fotografer yang tuna daksa dari Purworejo. Foto oleh Nico Wijaya

Memotret tanpa jari, tak terbayangkan sebelumnya. Tapi hari ini, Rabu (14/09) saya menyaksikan Rusidah, perempuan fotografer, memotret dengan keterbatasan diri sebagai tuna daksa. Kenyataan memiliki tangan hanya selengan, tanpa kehadiran jari dan telapak di kedua tangan, tak menghalangi Rusidah menjadi fotografer profesional.

Lahir tahun 1968, Rusidah sudah mulai memotret profesional sejak 1995. Berbekal kamera bantuan pemerintah Kabupaten Purworejo, waktu itu Rusidah memotret dengan kamera film. Jasa fotografi Rusidah terbagi menjadi 2 paket, per foto seharga Rp 5 ribu dan per paket 30 foto ukuran 4R seharga Rp 150 ribu termasuk album.

Hadir di jumpa pers berkaitan dengan Canon Photo Marathon 2011 di Jogja, Rusidah berbagi kisah sebagai perempuan fotografer yang mencari nafkah sepenuhnya dari memotret. Suaminya berprofesi sebagai penjual es putar.

Sekarang Rusidah sudah berbekal kamera digital Canon EOS 550D dan flash Canon Speedlite 430EX II. “Saya mulai motret sejak pakai kamera film. Sudah beberapa merk kamera pernah saya pakai,” papar Rusidah, sembari menunjukkan album-album hasil karyanya. Uang terbanyak diperolehnya dari jasa memotret pada saat karnaval tingkat kampung, selain dari jasa memotret resepsi pernikahan. “Saya ingin punya studio foto,” ungkapnya.

Gayung bersambut seiring bantuan PT Datascrip sebagai distributor kamera Canon di Indonesia. Rusidah memperoleh seperangkat fotografi studio sederhana dan cetak foto. “Bu Rusidah jadi motivasi kita. Semangat pantang menyerah,” ungkap Merry Harun, Direktur Divisi Canon PT Datascrip. Seusai jumpa pers, staf Datascrip menyertai kepulangan Rusidah ke Purworejo untuk memberi pelatihan penggunaan peralatan studio foto dan cetak foto.

Rusidah menjadi teladan, contoh nyata sosok manusia pantang menyerah.

A Tough Afternoon, Fashion Shoot in Papuma

Among The Rocks. Fashion, make up and hair do by Bubah Alfian. Model: Tiara.

Among The Rocks #4. Fashion, make up and hair do by Bubah Alfian. Model: Tiara. Photo by Kristupa Saragih

It was a sunny day in Papuma, Jember, East Java. Dry season of June 15, 2011 brought a clear blue sky. It was simply great for outdoor shoot.

Finishing a full day fashion photography workshop in Jember as speaker, there was a spare time left before sunset. It was too good to be wasted. Some fellow photographers then organized an easy additional fashion shooting session in Papuma Beach. It’s a half an hour drive away from Jember to Papuma in the south.

The beach is rocky and hard windy. The hard splash could reach as high as 2-3 meters. But the sun was too friendly and too kind for photo shooting.

The Visitor. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Diana. Photo by Kristupa Saragih

The Visitor #2. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Diana. Photo by Kristupa Saragih

A local Jember fashion designer is an award-winning of Jember Fashion Carnival, Bubah Alfian. He supported the workshop previously that day with his wardrobes, make-up and hair-do. We brought him with some models along.

In tropical country, outdoor shooting is a challenge. The light changes pretty quick. Photographer needs to adjust the exposure everytime.

The Lure. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Thalita. Photo by Kristupa Saragih

The Lure. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Thalita. Photo by Kristupa Saragih

Fortunately, Bubah is a keen person with strong motivation to collaborate in photo work. The models were cooperative and easy to direct. They did not complain about anything even tough they had to climb up and down the rocks with everything on.

The lighting situation was tough, with high contrast and changes of exposure. I decided to go strobist with one flash Canon 580 EXII mounted in PocketWizard FlexTT5. It was triggered by PocketWizard MiniTT1 which was mounted on the hot-shoe of my Canon EOS 1D Mk III armed with Canon 17-40mm f/4L lens.

E-TTL compatibility of PocketWizard MiniTT1 and FlexTT5 helped a lot. In open area the exposure was either compensated +1 stop or no compensation. The flash needed to be compensated +2 to +3 stop in open area, and -3 stop in shady area. I put circular polarizing filter on to make sure the color saturation is adjusted and blue sky is darkened.

The Visitor #3. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Diana. Photo by Kristupa Saragih

The Visitor #3. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Diana. Photo by Kristupa Saragih

The shooting that day did not last longer than one hour. At 5 PM the sun hit the horizon which cut the contrast right away down and even lower to dark. We called it a wrap, and directly hit the seafood restaurant a few steps away from the beach for dinner.

We checked the pictures and everyone’s happy.

Among The Rocks #1. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Tiara. Photo by Kristupa Saragih

Among The Rocks #1. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Tiara. Photo by Kristupa Saragih

Gocefa, Ritual yang Hilang dari Pesisir Sulawesi Utara

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Sedikit sekali informasi yang bisa dihimpun perihal gocefa. Ritual penting masyarakat pesisir Sulawesi Utara ini konon lahir 2.000 tahun yang lalu di kalangan masyarakat adat Bantik. Ketika Manado Ocean Festival (MOF) 2011 menghadirkan ritual ini pada 27 Mei 2011 lalu di Pantai Malalayang Manado, banyak orang yang baru pertama kali menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah.

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

…torang batrima kaseh atas firman yang Dia so kase pa torang. Juga atas torang pe orang tua, torang pe tete deng nene moyang yang so kase lahir pa torang samua. Deng atas pante dan lao yang Tuhan so bekeng vor torang yang so jadi torang pe pohong hidop.”

Gocefa diyakini sebagai ritual adat memanjatkan doa bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir yang bergantung pada laut. Tinggal di tepi laut, hidup dari laut, dan menyandarkan diri pada laut. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Bantik, yang hampir punah. Bahasa Bantik diyakini seumur dengan bahasa Kawi, alias Jawa Kuna di Pulau Jawa, yang telah punah.

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Hidop ini anugera Tuhan. Torang sambut itu deng bajanji hidop sebaik-baiknya. Torang bajanji mo paka ni pante deng lao vor torang pe hidop. Torang bajanji mo piara deng jaga ni pante deng lao pe bagus ini.”

Iring-iringan rombongan pelaksana ritual gocefa dibuka dengan penari-penari cakalele. Berpakaian merah-merah, para penari ini bersenjatakan parang. Lantas diikuti dengan orang-orang tua berpakaian putih-putih, berikat kepala merah. Baru para pemimpin upacara ritual yang adalah para pemuka agama.

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Su suwu-suwu dunia, mawu pukakelungangu. Maning alang diminuhe, mawu pukakelungangu. Ya Yesus bukide pubawukidang sudunia, sudunia. Ore tamalaombo suwu-suwu, tamalenggeng dimpuluse.

Ada 6 pemimpin upacara yang hadir, dua orang di antaranya adalah pendeta. Tak ada sumber resmi yang bisa menjelaskan, tapi konon ritual gocefa ini lahir sebelum agama Kristen masuk ke tanah Sulawesi Utara. Ketika agama Kristen masuk, lantas terjadi akulturasi budaya, meski kepastian kabar ini perlu dikonfirmasi kepada para pemuka adat yang berwenang.

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Sudara-sudara, marijo torang taru sebagian dari torang pe persembahan yang so takumpul tadi ka atas gocefa, pasang dia pe obor, lapas ni gocefa ka lao kong trus torang manyanyi…

Persembahan dikumpulkan, seiring khalayak memanjatkan doa dan menyanyikan lagu-lagu. Ketika matahari mencium cakrawala, obor-obor dinyalakan. Lampu-lampu di sekitar tempat upacara dipadamkan. Doa-doa tetap dipanjatkan bersama lagu-lagu persembahan.

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Sakaeng sutaghaloang, mesesenggo mapia. Nangkodane kai i tuang, apisu takahia. Maning selihe maiha, balade geguwa. I kau tawe mekapu, nangkodanu mawu.

Rakit bambu kecil, yang disebut gocefa, dimuati semua persembahan. Lantas dilepas, sembari ditarik perahu motor kecil ke tengah laut. Nyala obor menari-nari ditiup angin laut. Seiring dengan matahari yang bersembunyi di peraduan, gocefa ditelan kegelapan Laut Sulawesi.

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih

Bambu Gila, Atraksi Budaya Maluku

Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Tifa ditabuh bertalu-talu. Alunan irama monotonik mengiringi wangi kemenyan yg menyeruak. Sebatang bambu dibekap 7 laki-laki bertelanjang dada, berikat kepala merah dan bercelana selutut merah.

Bambu sepanjang sekitar 2,5 meter itu berdiameter sekitar 8 cm. Seorang pawang berbaju hitam dan celana pendek merah, meniupkan asap kemenyan yang dibakar di batok kelapa. Alunan tifa dengan ketukan teratur tetap mengiringi.

Sejurus kemudian ketujuh laki-laki mulai bergerak menyesuaikan diri dengan gerakan bambu. Konon roh-roh leluhur masuk ke dalam bambu. Sejurus kemudian, bambu dan ketujuh laki-laki itu bergerak liar ke sana kemari. Gila.

Tatkala gerakan mulai tak terkendali, pawang satu lagi yang berbaju merah datang mendekat. Di tangannya juga tergenggam batok kelapa tempat membakar kemenyan. Asapnya ditiupkan ke bambu. Alunan irama tifa tetap teratur teralun.

Atraksi bambu gila, asap kemenyan ditiupkan memanggil roh-roh leluhur di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila, asap kemenyan ditiupkan memanggil roh-roh leluhur di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Panitia Ambonesia Photo Competition (APC) 2011 menghadirkan atraksi khas warisan leluhur masyarakat Maluku ini untuk difoto para peserta. Angin laut berhembus lembut di Pantai Hunimua, yang juga terkenal dengan sebutan Pantai Liang. Di sela-sela irama monotonik tifa, para fotografer sesekali berhamburan lantaran bambu gila yang menyeruduk tak terkendali.

Konon atraksi bambu gila bukan sekedar pertunjukan mistis belaka. Masyarakat setempat yakin atraksi ini diwariskan untuk melambangkan kegotongroyongan rakyat. Budaya luhur warisan nenek moyang untuk kesejahteraan hidup generasi penerus.

Atraksi bambu gila, jika bambu mulai tak terkendali maka pawang bertindak, Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila, jika bambu mulai tak terkendali maka pawang bertindak, Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Kedamaian dalam Patriotisme Hari Pattimura 2011 Ambon

Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Siapa tak kenal Pattimura, pahlawan nasional dari Maluku? Terlahir bernama Thomas Matulessy di Pulau Saparua, 8 Juni 1783, lantas digelari Kapitan Pattimura karena keberaniannya memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan kolonialisme Belanda. Pertempuran bersejarah merebut Benteng Duurstede di Saparua pada 14 Mei 1817 membuat Hari Pattimura selalu diperingati tiap 15 Mei dini hari.

Dini hari 15 Mei 2011 ratusan orang memadati Pattimura Park di pusat kota Ambon. Sehari sebelumnya, pukul 3 sore obor Pattimura disulut di Gunung Saniri, Pulau Saparua. Obor lantas diarak secara estafet oleh kelompok pemuda desa di tiap desa menuju pelabuhan, lantas diseberangkan kapal TNI AL. Merapat di Tulehu, Pulau Ambon, obor kembali diarak secara estafet oleh kelompok-kelompok pemuda tiap desa yang dilalui rute menuju Pattimura Park.

Penari Cakalele lengkap dengan perang dan salawaku pada peringatan Hari Pattimura di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari Cakalele lengkap dengan perang dan salawaku pada peringatan Hari Pattimura di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Hampir tiap pemuda yang mengarak obor juga membawa obor masing-masing. Tari Cakalele, tarian perang, berada di depan, membuka jalan bagi arak-arakan obor Pattimura. Semua berpakaian merah, melambangkan keberanian. Para penari Cakalele, juga berpakaian merah, mengacung-acungkan parang dan salawaku.

Pada 194 tahun lalu, tempat para pemuda berkumpul, di lapangan upacara Hari Pattimura di Pattimura Park, Thomas Matulessy digantung oleh Belanda. Upacara dihadiri 17 walikota se-Indonesia Timur, para prajurit dan perwira TNI AD, TNI AL dan TNI AU serta Polri. Saya pun berada di upacara itu bersama 41 peserta dan juri Dell Ambonesia Photo Competition 2011 untuk mengabadikan prosesi obor Pattimura sebagai acara penting di Maluku.

Semangat para pemuda yang berapi-api seirama dengan kobaran api obor. Doa upacara dipanjatkan secara 2 agama: Islam dan Kristen. Patriotisme Pattimura dibalut dalam kedamaian, yang kontras dengan konflik horisontal di Ambon dan sebagian Maluku selama 1999-2006.

Sebanyak 240 pemuda dari 8 desa mengarak secara estafet obor Pattimura dari Saparua hingga Pattimura Park di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Sebanyak 240 pemuda dari 8 desa mengarak secara estafet obor Pattimura dari Saparua hingga Pattimura Park di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Hujan mengguyur Ambon sejak sehari sebelum upacara, dan berhenti seketika beberapa saat sebelum arak-arakan obor Pattimura masuk Pattimura Park. Seorang kawan asli Ambon berujar, “Setiap tahun selalu begini. Hujan terus menerus sebelum upacara, tapi berhenti waktu obor masuk tempat upacara.”

Pada November 1817, Thomas Matulessy dan pengikut-pengikutnya ditangkap tentara Belanda. Pemimpin perjuangan rakyat Maluku mengakhiri hidupnya digantung pemerintah kolonial Belanda di lapangan di belakang Benteng Victoria, yang sekarang menjadi Pattimura Park. Jenazahnya dipamerkan dalam kurungan besi di tempat publik.

Keberanian Kapitan Pattimura tak surut saat menuju tiang gantungan. Pesan terakhir Thomas Matulessy sebelum tali gantungan menutup usianya, “Beta akan mati. Tetapi nanti akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan beta punya perjuangan…”

Heroisme upacara Hari Pattimura 2011 berlangsung damai di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Heroisme upacara Hari Pattimura 2011 berlangsung damai di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Menikmati Pantai Hukurila, Ambon, Maluku

Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih

Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih

Hukurila, di Ambon, Maluku selama ini dikenal keindahan bawah airnya. Masukkan kata kunci Hukurila di mesin pencari dunia maya maka halaman pertama hasil pencarian akan penuh oleh keterangan bawah air Hukurila. Tapi daratan Hukurila ternyata menyimpan banyak hal yang bisa dinikmati.

Pantai Hukurila berada di sisi selatan Pulau Ambon yang menghadap ke timur. Secara administratif, Pantai Hukurila berada di Kecamatan Leitimur Selatan, yang masih termasuk Kota Ambon. Pantai ini menghadap langsung ke Laut Banda. Kesan pertama ketika tiba di pantai ini, penduduk ramah dan pemandangan indah.

Karena menghadap ke timur, secara fotografis pantai ini cocok untuk menanti matahari terbit. Ketika berkunjung ke Pantai Hukurila pada hari Minggu (8/4), saat petang setelah jam 14 pantai ini sudah mulai diselimuti bayangan. Terhampar pantai berdasar batugamping warna putih yang disaput pasir hitam.

Sepertinya ada gunung api tua yang sudah mati, tapi masih menyisakan endapan material vulkanik dalam bentuk pasir hitam. Air tawar mengalir segar di sungai kecil yang bening dan dangkal. Anak-anak setempat berlarian sembari berteriak-teriak girang menyambut ombak yang berdebur-debur.

Pantai Hukurila tak seperti Pantai Liang yang padat pengunjung di akhir pekan. Pantai ini pun tak seterkenal Pantai Natsepa dengan rujaknya itu. Pantai Hukurila hanya berhiaskan nyiur melambai dan beberapa rumah penduduk yang bersuasana hening. Tak ada pedagang, tak ada pula pondok-pondok tempat berteduh. Bahkan Pantai Lawena yang belakangan mulai ramai saja punya beberapa pondok sekedarnya untuk para pengunjung.

Di kedalaman lebih dari 20 meter di bawah permukaan laut, ada Hukurila Cave yang jadi tempat favorit para penyelam yang berkunjung ke Ambon. Di atas permukaan air, Pantai Hukurila punya pemandangan yang layak difavoritkan pula. Tapi biarlah keheningan di bawah maupun di atas permukaan air Pantai Hukurila tetap terjaga.

Kelak jika Pantai Hukurila semakin terkenal, kiranya penduduk dan otoritas setempat tetap menjaga keaslian suasana dan keheningan nan alami.

Rayuan Pantai Lawena, Ambon, Maluku

Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih

Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih

Pulau Ambon, Maluku menyimpan banyak pantai indah. Sekitar setengah jam perjalanan arah timur pusat kota Ambon, terhampar Pantai Lawena. Dahulu pernah populer, tapi konflik horisontal tahun 1999 membuat pantai ini tak dikunjungi.

Berada di sisi selatan Teluk Baguala, Pantai Lawena berseberangan dengan Pantai Natsepa yang kondang dengan rujaknya itu. Lantaran lama sepi akibat konflik 1999, Pantai Lawena hampir tak dikenal di kalangan remaja dan kalah kondang dibanding Pantai Liang di Hunimua. Konon Pantai Lawena baru dibuka satu dua tahun belakangan, dan tak banyak yang tahu.

Ketika mengunjungi Pantai Lawena hari Minggu (8/4) lalu, tak sampai lima puluh pengunjung bersantai di pantai indah nan luas ini. Hal yang kontras kalau dibandingkan dengan keramaian di Pantai Liang dan kepadatan pengunjung Pantai Natsepa. Konon pula, Pantai Lawena berada di tanah milik pribadi, bukan pemerintah setempat.

Maklum saja jika jalan akses ke Pantai Lawena masih seadanya. Infrastruktur pun masih belum layak terima pengunjung. Baru ada beberapa pondok tempat berteduh, tanpa sarana peturasan yang memadai dan fasilitas keamanan bagi pengunjung yang berenang.

Secara fotografis, Pantai Lawena menghadap ke timur sehingga cocok untuk menangkap matahari terbit. Tapi, ketika berkunjung ke sana saat sore pun pesona pantai ini masih memancar. Setelah jam 4 sore, matahari sudah sembunyi di balik bukit kecil sehingga sebagian besar pantai sudah berada di daerah “shadow”.

Jika kelak Pantai Lawena siap menerima pengunjung, itu berarti ada tambahan tempat tujuan wisata pantai di Pulau Ambon. Akan bijaksana jika eksploitasi tempat ini untuk pariwisata tetap mempertahankan kelestarian alam dan bermanfaat positif bagi kehidupan sosial penduduk setempat.

Ambon to Host Two Photography Events This May

Ambon, the capital of Maluku Province, Indonesia is to host 2 big photography events on May 2011. Maluku Underwater Photo Competition (MUPC) 2011 is going to be held on May 5-7, mainly sponsored by Garuda Indonesia. On the following week, there will be Dell Ambonesia Photography Competition, May 14-17.

MUPC 2011

MUPC 2011

Garuda Indonesia as Indonesia’s flagship airline has a great concern on Maluku, as they open 1 daily flight which serves Jakarta and Ambon, the capital of the province. Maluku’s underwater world is well-known to divers as underwater paradise in The Spice Islands. MUPC 2011 provides a total prizes of IDR 35 million for 3 winners. The prizes also include Jakarta-Singapore vv and Jakarta-Amsterdam vv flight ticket.

Admission fee for MUPC 2011 is IDR 4,750,000 which includes return flight ticket Jakarta-Ambon, 4D/3N accommodation in twin-sharing basis, shuttle service hotel to dive sites, boat, divemasters, tanks and lunch. Participants are obligated to show a valid diving license, with Advanced Open Water license as minimum grade. Participants presence in technical meeting on May 5, 2011 in Ambon is also mandatory.

On land, there will also be a must-attend Ambonesia Photography Competition (APC) 2011, sponsored by Dell. The itinerary includes various interesting photography sites and subjects. There are Natsepa Beach, Liang Beach, Pintu Kota and Cape Latuhalat which are must-visit beaches in the island. Participants will also attend the annual Pattimura Festival, Bambu Gila (crazy bamboo) attraction, and to visit clove-ship building yard.

Admission fee for APC 2011 is IDR 3,990,000 which includes return flight ticket Jakarta-Ambon, accommodation in twin-sharing basis, local transport and meals. Admission to local attractions is also included. There are 2 categories: DSLR and pocket camera. Total prize for both categories is IDR 65 million.

APC 2011

APC 2011

Please visit official websites of the respective organizers for more information. In Twitter, follow @mupc_diving for MUPC 2011 and follow @wondersofmaluku for APC 2011.

I will attend both events as jury.

Find additional info and discussion of both events in Fotografer.net:

Maluku Underwater Photo Competition 2011 in Fotografer.net

Dell Ambonesia Photography Competition 2011 in Fotografer.net

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,409 other followers

%d bloggers like this: