Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

This is Kristupa-ism

Kristupa Saragih Photography, Journal and Thoughts
  • KSTT3498_Japan_Ibaraki_2015
  • IMG_5320_Japan_Ibaraki_2015
  • KSTT3299_Japan_Ibaraki_2015

Latest

Tipikal rumah penduduk Muara Enim, Sumatera Selatan jaman dahulu – at Muara Enim

View on Path

Kairaku-en, Salah Satu Taman Terbaik di Jepang #Ibaraki

KSTT3498_Japan_Ibaraki_2015

Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Ada banyak taman indah di Jepang, namun tak banyak yang sarat nilai sejarah. Dari taman-taman bersejarah itu ada satu yang terkenal karena bunga pohon plum nan indah, Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang.

Sebagai salah satu dari Three Great Gardens of Japan日本三名園 Nihon Sanmeien, memang Kairaku-en, bagi orang asing, tak sefamiliar taman Kenroku-en di Prefektur Kanazawa dan taman Koraku-en di Prefektur Okayama.

KSTT3512_Japan_Ibaraki_2015

Bunga sakura yang mekar 2 kali dalam setahun, pada musim semi dan musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

Berarti “taman untuk dinikmati rakyat”, Kairaku-en dibuat oleh pembangunnya untuk rakyat. Buka tiap hari sepanjang tahun dan gratis. Jika di Jepang taman lazimnya dibangun untuk dinikmati para tuan penguasa daerah, tidak demikian dengan Kairaku-en. Nariaki Tokugawa, seorang penguasa daerah, alias daimyo Mito pada awal tahun 1800-an, yang bertekad mulia ini.

Kairaku-en ramai dikunjungi pada musim berbunga pohon plum, mulai akhir Februari hingga Maret. Ada 3.000 pohon plum di Kairaku-en yang terdiri atas lebih dari 100 varian, yang utamanya berbunga warna putih, merah dan merah muda. Ada Festival Plum Mito yang digelar tiap tahun pada tanggal 20 Februari hingga 31 Maret.

KSTT3537_Japan_Ibaraki_2015

Pemandangan Kairaku-en dinikmati dari dalam Kobuntei. Foto: Kristupa Saragih

Selain pohon plum, Kairaku-en juga terkenal karena hutan kecil bambu dan cemara. Ada rumah tradisional Jepang bernama Kobuntei yang dipakai untuk keperluan pendidikan dan kunjungan wisatawan.Dari lantai atas Kobuntei, pengunjung bisa memandang ke seantero Kairaku-en dan Danau Senba.

KSTT3548_Japan_Ibaraki_2015

Dedaunan di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang menguning di musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3551_Japan_Ibaraki_2015

Suasana senja di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Berkunjung ke #Ibaraki Prefectural Government Building, Jepang

KSTT3459_Japan_Ibaraki_2015

Lantai 25, lantai teratas di Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang dengan jendela pandang yang berdesain modern dan berlantai karpet. Foto: Kristupa Saragih

Setahu saya, di Tanah Air tak banyak kantor pemerintahan provinsi di gedung tinggi. Kebanyakan malah memanfaatkan gedung-gedung bersejarah peninggalan era kolonial.

Namun di Jepang, hampir semua kantor pemerintahan prefektur, setingkat provinsi, jadi satu di gedung yang sama. Hal yang sama berlaku untuk pemerintah kota. Bahkan legislatif berkantor di gedung yang sama dengan eksekutif. Berbeda dengan Indonesia, yang punya kantor-kantor pemerintahan terserak di mana-mana, sehingga boros waktu dan biaya untuk transportasi.

KSTT3476_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung memotret pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki, Jepang dari jendela pandang di lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki. Foto: Kristupa Saragih

Mirip seperti pemerintah Tokyo Metropolitan yang berkantor di gedung setinggi 243 meter dan berlantai 48, Ibaraki Prefectural Government Building alias 茨城県庁舎 Ibaraki-ken Shōsha, berkantor di gedung pencakar langit. Berlantai 25 setinggi 120 meter, Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menjulang di antara bangunan-bangunan lain di ibukota Mito, yang kebanyakan tak tinggi.

Dengan populasi 2,9 juta jiwa, Prefektur Ibaraki yang setingkat provinsi di Indonesia, kira-kira sepadan dengan Kota Surabaya, Jawa Timur yang berpopulasi 2,7 juta jiwa. Namun dari koordinasi di pemerintahan mencerminkan efisiensi sekaligus keseriusan pemerintah Ibaraki membangun dan mengelola daerahnya.

Berarsitektur modern, kantor ini selesai dibangun tahun. Bersih. Dinding berhias dekorasi khas zen. Tak ada spanduk-spanduk, yang simbolis dan sebenarnya tak perlu, melambai-lambai tak artistik, seperti kantor-kantor di Tanah Air.

IMG_5320_Japan_Ibaraki_2015

Interior lobi gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Resepsionis ramah dan melayani dengan profesional. Tak ada pegawai ngobrol-ngobrol atau duduk-duduk di interior gedung. Setiap staf yang dijumpai membungkuk memberi hormat khas Jepang, yang keberadabannya perlu jadi benchmark Negeri Pancasila.

Sebelum rapat dengan pemerintah Prefektur Ibaraki dan sejumlah praktisi pariwisata Ibaraki, saya terkagum-kagum dengan akses yang mudah hingga lantai 25 tanpa mengabaikan peran petugas keamanan.

Di lantai teratas gedung pemerintah milik rakyat Ibaraki ini, ada galeri pandang berjendela kaca sepanjang gedung, setinggi langit-langit. Gratis, bersih, modern dan informatif.

KSTT3475_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menikmati pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung. Foto: Kristupa Saragih

Dari lantai ini terlihat sejauh mata memandang hamparan kota Mito dan prefektur Ibaraki.

Di lantai ini pun ada kantin kecil, yang penataan kursinya efisien dan mengindahkan estetika sehingga semua meja bisa menikmati pemandangan dari jendela kaca. Meski sedang ramai pengunjung yang mengobrol, kantin ini relatif senyap dan tak mengganggu pengunjung yang sedang menikmati pemandangan dari jendela.

KSTT3468_Japan_Ibaraki_2015-2

Kantin kecil di salah satu sudut lantai 25, lantai teratas gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

IMG_5365-1_Japan_Ibaraki_2015

Eksterior salah satu sudut gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3472_Japan_Ibaraki_2015

Panorama ibukota Mito dan Prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Ikan dan Lelang Bunga di Pasar Grosir Mito #Ibaraki

KSTT3328_Japan_Ibaraki_2015

Sepasang kakek-nenek berbelanja di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Bicara tentang pasar ikan, ada pasar ikan di Jepang yang terkenal dengan lelang di dini hari, Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo. Namun, siapapun yang pernah berkunjung ke Tsukiji, pasti pernah menikmati antrian panjang dan kunjungan singkat. Bahkan sempat ada cerita, tak bisa berkunjung pagi itu jika pengunjung sudah terlalu banyak.

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Mirip dengan Tsukiji, lelang ikan di Pasar Grosir Kota Mito di Prefektur Ibaraki, Jepang menjanjikan aktivitas serupa namun tanpa antre. Belum banyak orang tahu tentang pasar ikan di Mito, yang jam kegiatannya sama dengan Tsukiji. Padahal jarak kota Mito dari Tokyo hanya sekitar satu setengah jam perjalanan bermobil. Konon pula, Pasar Grosir Kota Mito ini merupakan salah satu pasar grosir terbesar dan kondang di Negeri Matahari Terbit.

Tak hanya menyimak lelang ikan, pengelola Pasar Grosir Kota Mito juga membawa pengunjung ke penyimpanan ikan. Siap-siaplah merasakan udara bersuhu minus 20 derajat Celcius ketika masuk ke gudang penyimpanan ikan. Super dingin dan kering, demi menjaga kesegaran produk-produk bahari agar tetap nikmat ketika dikonsumsi.

KSTT3302_Japan_Ibaraki_2015

Persiapan distribusi buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito juga mewadahi kegiatan perdagangan sayur mayur dan buah-buahan. Konon, orang menyebut Mito, ibukota Prefektur Ibaraki, sebagai daerah produksi utama sayur mayur dan buah-buahan penduduk metropolitan Tokyo.

KSTT3340_Japan_Ibaraki_2015

Sayur mayur dan buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Setiap hari ribuan ton sayur mayur, buah-buahan dan produk-produk turunannya berseliweran di pasar ini. Baik produk pertanian Prefektur Ibaraki maupun dari daerah-daerah lain di seantero Jepang.

Pasar yang dibuka tahun 1972 ini memiliki volume perdagangan 96,7 milyar Yen per tahun, atau sekitar Rp 10 triliun. Ada lebih dari 50 perusahaan dagang yang beraktivitas di sini, yang digerakkan lebih dari 1.000 pekerja.

Demikian pentingnya posisi Pasar Grosir Kota Mito sebagai gerbang masuk ke Tokyo. Bahkan buah-buahan impor pun banyak terdistribusi melalui pasar ini. Dari pasar ini, komoditas perdagangan bergerak ke supermarket-supermarket dan perusahaan pengolah makanan.

Terlihat tumpukan kardus-kardus berisi pisang dari Filipina di salah satu sisi. Sementara di sisi lain ada tumpukan karton-karton berisi buah naga besar-besar dan segar dari Vietnam. Impor dalam bentuk buah utuh, tiba di Mito lantas dikemas rapi dengan bungkusan plastik berlabel dan kotak karton.

KSTT3325_Japan_Ibaraki_2015

Buah-buahan dari seantero Jepang dan impor dari luar Jepang didistribusikan dari Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Hal menarik lainnya, Pasar Grosir Kota Mito ternyata juga menyediakan tempat lelang bunga dan pohon. Seumur-umur lihat ada lelang bunga dan pohon baru di Mito ini.

Bukannya ecek-ecek, lelang bunga berlangsung seperti lelang ikan di Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo, Jepang dan Pasar Ikan Sydney di Australia. Ada deretan bangku pembeli, dengan susunan ala teater. Tanaman yang dijual diatur di ban berjalan. Display harga dan pembeli memakai tampilan sejumlah layar monitor komputer. Rapi jali.

KSTT3435_Japan_Ibaraki_2015

Suguhan buah-buahan segar potong dan berbagai produk Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang suguhan dari pengelola pasar. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito alias Mito City Public Wholesale Market terbuka untuk umum. Namun pengunjung agar menghubungi terlebih dahulu pengelola pasar beberapa hari di muka. Selain menjamin Anda dapat pemandu, ada baiknya pengunjung terhindar dari hal-hal yang mengganggu aktvitas pasar.

Jika beruntung, di akhir kunjungan, Anda bisa disuguhi buah-buahan segar dan sayur-mayur yang sudah dimasak. Mulai dari jeruk segar tanpa biji, ubi rebus manis berukuran besar hingga sup labu yang hangat.

KSTT3299_Japan_Ibaraki_2015

Produk buah segar yang dijual di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3308_Japan_Ibaraki_2015

Sebelum dikemas, buah-buahan segar dibersihkan dan disusun dalam kotak-kota karton, lantas siap didistribusikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3322_Japan_Ibaraki_2015

Berbagai produk buah-buahan dan sayur mayur siap didistribusikan dari Pasar Grosir Kota MIto, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3334_Japan_Ibaraki_2015

Produk sayur mayur dan buah-buahan Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang sedang dipilih-pilih oleh pembeli. Foto: Kristupa Saragih

 

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3351_Japan_Ibaraki_2015

Pasar ikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Meski ramai dan banyak dagangan, namun pasar ini bersih dan tak berbau. Sulit menemukan sampah barang secuil. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Situasi lelang bunga di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3397_Japan_Ibaraki_2015

Lelang bunga didukung teknologi canggih, harga dan pembeli terpampang di layar monitor komputer, di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Deretan bunga-bunga di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3416_Japan_Ibaraki_2015

Situasi di belakang lelang bunga, ribuan tangkai bunga mengantre giliran di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3407_Japan_Ibaraki_2015

Puspa ragam bunga dari seantero Jepang di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3422_Japan_Ibaraki_2015

Para perempuan pekerja di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 7 – habis]

Makin hari makin banyak lomba foto tergelar. Mulai dari lomba berhadiah piagam hingga uang ratusan juta Rupiah. Mulai dari penyelenggara tingkat sekolah hingga perusahaan terkemuka.

Namun masih terdengar beberapa tanggapan sumbang mengenai sejumlah Iomba yang mengecewakan peserta.

1. Hadiah Dipublikasikan Detail

2. Nama Juri Lengkap dan Jelas

3. Publikasi Lomba di Media Terpercaya

4. Pelaksana Lomba Terpercaya

5. Menghormati Hak Cipta

6. Info Lengkap Penjurian dan Pengumuman Pemenang, serta Penyerahan Hadiah

Demikian nukilan pengalaman jadi peserta lomba foto sejak 1991 dan menjadi juri lomba foto sejak awal 2000-an. Hal-hal seperti ini belum pernah ada di buku-buku fotografi lantaran tak semua peserta lomba foto mau berbagi pengalaman, lantaran ogah tersaingi. Tak semua juri lomba foto juga bisa berbagi hal ini lantaran banyak juri tak berjati diri, alias dikarbit dan belum pernah jadi peserta, apalagi pemenang lomba foto.

Memang tak ada larangan untuk menghalangi Anda ikut lomba foto tak bonafide. Banyak juga “lomba foto” yang bersifat santai, rekreatif dan lucu-lucuan, yang tentu jadi terlalu serius jika bereferensi ke enam butir bonafiditas di atas.

Semoga setelah tulisan ini dipublikasikan, tiap protes atas ketidakberesan lomba foto sudah tercantum di sini. Kalaupun belum, maka makin kayalah tulisan ini akan referensi kasus, dan makin terlindungi pula kepentingan dan kebaikan fotografer Indonesia. Namun, jika sudah diingatkan namun nekat diikuti, berarti silakan Anda tanggung resiko sendiri.

Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220

Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 6 dari 7]

Terdengar tak penting, namun publikasi tanggal-tanggal ini membuktikan bonafiditas pelaksana lomba foto. Jangan sampai ikut lomba foto yang gagal penjurian lantaran peserta sedikit. Jangan juga ikut lomba foto yang tak jelas jadwalnya, karena berbagai alasan yang asal-muasalnya peremehtemehan fotografi oleh penggelar lomba foto. Jika pelaksana lomba tak respek pada fotografi, tentu hal yang sama berlaku pada Anda sebagai peserta lomba dan karya foto Anda.

Pengumuman pemenang hendaknya terbuka dan di media terpercaya. Pengumuman lomba secara sembunyi-sembunyi mengesankan keberadaan hal negatif atau kongkalikong hasil lomba. Cara penyerahan hadiah pun sejatinya tercantum detail di peraturan lomba. Hadiah uang tunai bisa ditransfer, piala dan piagam bisa dikirim, atau bisa pula diserahkan langsung. Namun tentu tak lucu jika hadiah uang dicicil dan hadiah barang dikirim bagian per bagian.


Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220

Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 5 dari 7]

Hak cipta pada hakikatnya melekat pada karya foto sama dengan hak asasi yang melekat pada tiap individu. Negara maju manapun memiliki undang-undang yang melindungi hak cipta, termasuk Indonesia. Namun, jangan naif kepada penyelenggara lomba foto yang mencari foto bagus melalui lomba foto. Pelaksana lomba wajib mencantumkan perlindungan atas hak cipta foto di klausul peraturan lomba. Hak pakai bisa berada di tangan penyelenggara lomba dengan imbalan hadiah yang sesuai. Pembelian terhadap hak cipta tentu lebih mahal daripada hak pakai.

Klausul lomba foto yang menyiratkan “semua foto yang diikutkan lomba menjadi milik panitia”, atau senada, pertanda penyelenggara lomba mau enaknya sendiri dan tak mengindahkan undang-undang. Klausul lomba harus tegas bahwa hanya foto pemenang saja yang bisa dipakai dengan durasi jelas dan jenis-jenis media placement yang detail.


 

Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220

Ciri Lomba Foto Bonadife [Bagian 4 dari 7]

Pelaksana lomba foto bertanggung jawab atas penanganan foto, sejak diterima hingga pemusnahan foto yang tak menang. Pelaksana juga bertanggung jawab menegakkan aturan lomba, serta menjamin kualitas penjurian agar adil. Pelaksana yang “entah siapa” beresiko menghilangkan foto, membuat foto tertukar, penjurian ceroboh atau salah umumkan pemenang. Pelaksana yang memang sehari-hari menggeluti fotografi paham operasional lomba karena menjaga integritas dan nama baik.

Bayangkan jika nama peserta lomba “bocor” ke mata juri saat penilaian, atau lemah menghadapi protes peserta lomba. Bayangkan pula kalau panitia lomba tak tegas menghadapi peserta yang telat kirim foto atau gagal menguasai juri yang terlibat debat sengit. Fatal apabila pelaksana lomba tak paham motivasi pembedaan penjurian terbuka dan tertutup.


 

Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220

Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 3 dari 7]

Tatkala belum ada Internet, saya geram melihat orang mencopoti poster lomba foto supaya sedikit orang tahu dan sedikit pula pesaingnya. Lantas, setelah ada Fotografer.net, saya buka keran informasi selebar-lebarnya agar sebanyak-banyaknya orang tahu dan ikut lomba. Penyelenggara lomba foto berdana besar bisa beriklan di media nasional namun tidak demikian halnya dengan lembaga sosial dan nirlaba. Internet membuat publikasi jadi mudah dan murah, jika Anda tepat memilih media.

Media sosial bisa jadi pilihan, namun terbatas pada “friend” dan follower Anda saja, atau paling jauh friend-of-friend. Karena itu, pilihlah media yang tepat sebagai wahana publikasi lomba foto. Publikasi penting untuk menjamin kualitas dan kuantitas foto yang dilombakan. Penting pula menggunakan media fotografi untuk memastikan bahwa peserta lomba memang khalayak fotografi. Saya pernah mendapati lomba foto yang dipublikasikan terbatas, hasil kongkalikong panitia dan peserta, atas dasar motivasi tak terpuji.

 


 

 

Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220

Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 2 dari 7]

Sejumlah publikasi lomba tak menampilkan nama juri, atau hanya menyebutkan instansi tanpa nama jelas. Lomba bonafide mempublikasikan nama juri secara lengkap dan jelas. Publik bisa menakar kaliber pelaksanaan lomba dan peserta bisa menyusun strategi meramu karya foto. Juri tak harus fotografer, tapi seyogyanya mencintai fotografi. Bayangkan jika juri lomba masak tak pernah bermandi asap dapur, atau juri lompat indah tapi takut ketinggian. Kealpaan menayangkan nama juri secara lengkap dan jelas berpotensi merendahkan kualitas penjurian dan mengurangi wibawa penyelenggara lomba dan pemenang.

 


 

 

Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52,508 other followers

%d bloggers like this: