Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for August, 2010

The Majestic Phreah Khan

Hall of Dancers. Enter Phreah Khan from east gate, pass through east gopura where a giant tree with giant roots over-riding the temple, to find Hall of Dancers. The wall and columns are decorated with apsara. Photo by: Kristupa Saragih
Hall of Dancers. Enter Phreah Khan from east gate, pass through east gopura where a giant tree with giant roots over-riding the temple, to find Hall of Dancers. The wall and columns are decorated with apsara. Photo by: Kristupa Saragih

Hall of Dancers. Enter Phreah Khan from east gate, pass through east gopura where a giant tree with giant roots over-riding the temple, to find Hall of Dancers. The wall and columns are decorated with apsara. Photo by: Kristupa Saragih

In Angkor Archaeological Park, Angkor Wat is the most famous temple and a must-visit place. Bayon, just a couple of kilometer away is also easy to reach and tempting. Ta Phrom is well-known as The Jungle Temple, where the movie Tomb Raider was used to use it as shooting location.

Two storey building with rounded columns in Greek-style architecture. It is found near east gopura of Phreah Khan. This shot was made by BlackBerry 9700. Photo by: Kristupa Saragih

Two storey building with rounded columns in Greek-style architecture. It is found near east gopura of Phreah Khan. This shot was made by BlackBerry 9700. Photo by: Kristupa Saragih

Another majestic temple to visit is Phreah Khan. It encloses area of 56 hectares (138 acres), one of the biggest site in Angkor complex. It was built by King Jayavarman VII, the same king who built Ta Phrom. Both Ta Phrom and Phreah Khan were built on the second half of 12th century. They share similar layout, but Phreah Khan today is still in reasonable state of preservation.

Ta Phrom was built as dedication to the King’s mother, while Phreah Khan is dedicated to King’s father. It is believed that Phreah Khan was used to be the King’s temporary residence.

Enter the temple from east gate and don’t miss a giant tree over-riding east gopura. Make some shots then pass it to find Hall of Dancers. After that, make some steps to north to find a two-storeys building with round columns. However, the purpose of this Greek-style building remains unknown.

Wide angle lens mostly works out in this temple. Exploring the ruins and play with its lines and shapes. I found the columns in Hall of Dancers was found to play with framings. I also tried to play around with modified infra-red camera.

Best time to visit is both morning and afternoon. As the temple is vast, make sure you don’t lost yourself. Be good in your time management, there are still some more temples to visit but Phreah Khan is also have many angles and corners to be explored.

Nature Supremacy. Giant tree with giant roots are found over-riding Phreah Khan. Photo by: Kristupa Saragih

Nature Supremacy. Giant tree with giant roots are found over-riding Phreah Khan. Photo by: Kristupa Saragih


76 Foto Perampokan Bank di Medan

Foto 1. Terlihat 12 foto pertama peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Sebanyak 10 foto pertama dibuat dengan format horisontal, baru setelah itu berturut-turut 2 foto format vertikal. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 1. Terlihat 12 foto pertama peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Sebanyak 10 foto pertama dibuat dengan format horisontal, baru setelah itu berturut-turut 2 foto format vertikal. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Atas dorongan niat baik dan demi kebenaran, maka sudilah kita sama-sama menyimak foto-foto lengkap perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Rabu (18/8). Ada banyak interpretasi yang muncul atas foto-foto tersebut dan fotografer pembuatnya. Maka atas bantuan Taufan Wijaya, pewarta foto Harian Tribun Medan berhasil diperoleh foto-foto lengkap peristiwa tersebut.

Demi menjaga keselamatan jiwa fotografer, maka kita sebut saja inisial X sebagai pengganti nama fotografernya. Selepas kejadian X berinisiatif memberikan foto-foto yang dibuatnya tersebut kepada media.

Foto 2. Terlihat fotografer sudah mencoba alternatif sudut tembak, ke kiri dan kanan bank. Ada 3 foto yang over-exposed. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 2. Terlihat fotografer sudah mencoba alternatif sudut tembak, ke kiri dan kanan bank. Ada 3 foto yang over-exposed. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Hal tersebut ditunjukkan X dengan menghampiri tempat kumpul wartawan Medan di sebuah warung kopi di tengah kota, tak lama setelah kejadian usai. Siang itu kebetulan hanya ada 1 wartawan sebuah media cetak yang ada di sana. Konon, foto-foto tersebut diserahkan dalam bentuk cakram padat. X berpesan agar foto tersebut disebarluaskan demi kepentingan kebaikan, dan ia tak minta imbalan.

“Sayangnya kawan kami itu hanya memakai foto tersebut untuk medianya. Kami, wartawan media-media lain harus mencari dan mengontak fotografernya sendiri untuk mendapatkan foto-foto itu,” papar Taufan, yang dihubungi via telepon, Senin (23/8). Jadi, pada hari kejadian, hanya media tersebutlah yang mempublikasikan foto-foto perampokan.

Foto 3. Semua foto dibuat dalam format horisontal. Terlihat kawanan perampok berangsur-angsur keluar dari bank. Di beberapa foto terakhir terlihat fotografer mengalihkan sudut tembak ke kawanan perampok yang bersiap-siap melarikan diri dengan sepeda motor. Dimensi motor terlihat lebih besar, diperkirakan fotografer menggunakan lensa zoom. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 3. Semua foto dibuat dalam format horisontal. Terlihat kawanan perampok berangsur-angsur keluar dari bank. Di beberapa foto terakhir terlihat fotografer mengalihkan sudut tembak ke kawanan perampok yang bersiap-siap melarikan diri dengan sepeda motor. Dimensi motor terlihat lebih besar, diperkirakan fotografer menggunakan lensa zoom. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Fotografer itu berhasil dikontak, dan wartawan mendapatkan foto-foto lengkap. Barulah pada Kamis (19/9) malam media-media lain mempublikasikan foto-foto perampokan. Terhitung ada 76 foto yang diperoleh. Sebanyak 5 file foto sudah dinamai ulang, sementara sisanya masih bernama file asli.

Dari 76 foto, mayoritas dibuat dengan format horisontal dan hanya 3 yang dibuat dalam format vertikal. Diperkirakan, dalam posisi bersembunyi, akan menarik perhatian jika fotografer menggerakkan kameranya. Selain itu, alih-alih memikirkan format foto, perhatian fotografer tentu dipusatkan pada momen-momen yang sedang berlangsung dan merekamnya secara correct exposure dan fokus akurat.

Foto 4. Masih memperlihatkan kawanan perampok yang berangsur-angsur keluar dari bank dan melarikan diri. Semua foto dalam format horisontal. Terlihat 2 sudut yang konsisten, sisi kanan tempat kawanan perampok bersiap-siap melarikan diri dan sisi muka bank. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 4. Masih memperlihatkan kawanan perampok yang berangsur-angsur keluar dari bank dan melarikan diri. Semua foto dalam format horisontal. Terlihat 2 sudut yang konsisten, sisi kanan tempat kawanan perampok bersiap-siap melarikan diri dan sisi muka bank. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Sayang fotografer tersebut belum bisa saya kontak langsung untuk mengkonfirmasi banyak hal. Apalagi file-file foto yang diserahkan ternyata sudah di-resize. Lebih parah lagi, EXIF data lenyap dalam proses resize. Alhasil, tanggal dan jam foto sudah tak ada. Mustahil pula mengetahui tipe kamera secara akurat dan lensa yang dipakai. Meski sebenarnya dari nama file sudah bisa diketahui merk kameranya.

Dalam situasi darurat dan keselamatan dipertaruhkan, perlu konfirmasi fotografer perihal motivasi me-resize foto dan waktu yang dihabiskan untuk itu. Data-data EXIF lain, seperti focal length, ISO, kecepatan rana dan diafragma, juga bisa berbicara banyak. Masih banyak hal yang perlu konfirmasi dari sumber pertama, fotografer yang membuat foto-foto tersebut.

Foto 5. Akhir dari rangkaian 76 foto peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, Rabu (18/8). Semua foto dalam format horisontal. Sisa-sisa kawanan perampok melarikan diri hingga tuntas. Terlihat pula pada saat melarikan diri dengan sepeda motor beberapa perampok masih memegang senjata. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 5. Akhir dari rangkaian 76 foto peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, Rabu (18/8). Semua foto dalam format horisontal. Sisa-sisa kawanan perampok melarikan diri hingga tuntas. Terlihat pula pada saat melarikan diri dengan sepeda motor beberapa perampok masih memegang senjata. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Meski demikian, foto-foto tersebut sudah berhasil menyampaikan pesan kepada publik perihal ketegangan yang terjadi. Meski tak bisa bersuara, foto-foto itu sudah berbicara banyak. Bahwa 16 perampok tersebut semua memakai helm berkaca gelap, informasi jenis kendaraan para perampok mencakup warna, tipe dan nomor polisinya berhasil terekam baik oleh foto-foto itu. Dalam foto terlihat jelas pula jenis dan tipe senjata para perampok.

Tanpa kehadiran foto-foto ini, publik tentu hanya memirsa foto gedung bank yang ramai kerumunan orang dan dibatasi garis kuning polisi. Polisi juga terbantu dalam proses identifikasi dengan kehadiran foto-foto ini. Kita pun belajar, bahwa kamera adalah alat ampuh untuk berbagai keperluan. Kita tak pernah tahu peristiwa yang akan terjadi, apalagi tempat dan waktu kejadian. Siapapun yang sedang membawa kamera, jika berada di tempat dan saat yang tepat, bisa menjadi mata dunia dan memberitakan peristiwa.

Saya tetap bersikukuh untuk bisa mengkonfirmasi banyak hal langsung kepada X, fotografer yang membuat semua foto peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga di Jl Aksara, Medan. Demi kebenaran.


Diskusi di Fotografer.net: Foto-foto Perampokan di Medan: LUAR BIASA


Yuyung Abdi dan Tesis Magister tentang Fotografi

Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah klub malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi
Berangat kerja. Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah tempat hiburan malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi

Berangat kerja. Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah tempat hiburan malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi

Banyak tesis magister (S2) tentang fotografi tapi tak semua ditulis oleh fotografer. Ada pula beberapa tesis S2 tentang fotografi tapi tak semuanya ditulis fotografer yang masih aktif memotret. Yuyung Abdi, fotografer senior dan redaktur foto Harian Jawa Pos, memenuhi kedua hal tersebut.

Berangkat dari pengalaman dan pekerjaan sehari-hari, Yuyung Abdi mengobservasi kehidupan seorang pekerja seks komersial (PSK) di Surabaya. Suatu aspek kehidupan yang sering ditulis kulitnya tanpa mengupas lantas didalami isinya. Bahasa fotografi menjadi amat jujur, berbicara apa adanya tentang kebenaran.

Observasi selama 2 bulan untuk total penelitian selama 11 bulan, termasuk 3 bulan pendekatan ke subyek penelitian.

Setelah observasi 2 bulan, kemudian Yuyung menemukan seorang PSK bernama, sebut saja Mawar. Dalam kesehariannya Mawar punya banyak nama, sesuai tempat bekerja, seperti Noni, Ana dan Denok. Tapi apalah artinya nama dalam kehidupan seperti drama yang dijalani Mawar, seorang PSK muda yang baru berusia 20-an tahun.

Atas persetujuan Mawar, lantas Yuyung mulai tugas penelitiannya selama 11 bulan. Kurun waktu yang cukup lama untuk menyita waktu dan tenaga serta biaya. Yuyung mengikuti kehidupan PSK ini sejak Mawar tobat dan masuk pesantren. Orang tua Mawar yang tinggal di sebuah kota di pantai utara Jawa Timur terhitung religius. Lantas diceritakan pula Mawar yang menikah dini, hamil dan bercerai. Kemudian F menikah lagi, hamil untuk kedua kali, dan bekerja sebagai baby-sitter.

Drama memasuki babak baru kala suami pertama datang mengajak rujuk, lantas Mawar menggugurkan kandungan. Bercerai lagi untuk kedua kali, Mawar lantas kembali ke tempat ia pernah hidup, lokalisasi PSK di Dolly, Surabaya.

Datang kembali ke Dolly, lantaran dalam keadaan berjilbab, Mawar dianggap mata-mata oleh para mucikari. Tapi kemudian bisa meyakinkan mereka, lantas bekerja dengan tarif Rp 125 ribu. Karena paras rupawan, Mawar melesat jadi primadona. Mawar pernah melayani 29 pelanggan dalam satu hari. Rekornya dalam sebulan bisa mengantongi uang Rp 25 juta.

Kisahnya belum berakhir, karena Mawar keluar dari Dolly. Ia bergerilya di sejumlah panti pijat, pub dan karaoke. Seorang lelaki 40 tahunan berniat menikahinya. Tapi kisahnya masih berlanjut dan bisa disimak di publikasi tesis S2 Yuyung Abdi.

Tesis setebal 374 halaman berisi 40 foto berhasil lulus dengan nilai A.

Tesis setebal 375 halaman dan berisi 40 foto berhasil dipertahankan Yuyung Abdi di depan para pengujinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Pada sidang ujian tanggal 19 Agustus 2010, Yuyung berhasil lulus dengan nilai A.

Para penguji mengapresiasi tesis Yuyung yang dianggap bermetode baru. Selama ini tesis tentang fotografi melulu menganalisis foto. Sementara Yuyung dianggap memproduksi makna. Konon metode Yuyung ini sepadan dengan teori exegesis, atau disebut pula axegesis. Teori tersebut merupakan cara interpretasi teks, yang oleh Yuyung ditampilkan secara visual sebagai simbolisasi dalam bentuk foto.

Butuh waktu 3 bulan untuk bisa meyakinkan Mawar agar mau difoto, barulah Yuyung menyiapkan perlengkapannya. Tercatat ada 1 bodi pro-DSLR dan 1 bodi advanced-amateur DSLR dipakai, masing-masing sebagai kamera utama dan kamera tersembunyi. Yuyung memodifikasi sendiri wadah untuk kamera tersembunyinya itu.

Ada 3 lensa yang disiapkan: lensa lebar 16-35mm f/2.8, lensa tele 70-210mm f/2.8 dan lensa normal 50mm f/1.2. Semua lensa berbukaan diafragma lebar, termasuk f/1.2, untuk bisa merekam situasi low-light. Dalam dunia intelijen bisa jadi tugas Yuyung ini disebut penyamaran. Wartawan foto senior ini musti menembus pasukan keamanan tempat-tempat hiburan dewasa dan menembakkan kameranya untuk membuat foto-foto bagus.

Dua bodi kamera DSLR dan 3 lensa berbukaan diafragma lebar diset pada aperture priority mode dan ISO 3200 serta tanpa flash untuk merekam available light.

Tak hanya di tempat-tempat “berbahaya”, Yuyung juga merekam kehidupan Mawar di waktu-waktu pribadi. Misalnya ketika Mawar sedang sakauw bahan psikotropika, istirahat di kamar pribadi, dan berbelanja di mal. Di sini Yuyung menemui kendala lain yang non-teknis, bahwa banyak identitas yang musti disamarkan. “Mustinya photo story seperti ini menuntut foto yang menampilkan interaksi Mawar dengan orang lain,” ungkap Yuyung yang dihubungi per telepon.

Untuk merekam available light pula Yuyung memakai lensa-lensa berbukaan diafragma lebar. Semua foto dibuat tanpa flash, untuk alasan keamanan dan agar foto-foto tampil dengan situasi pencahayaan apa adanya. Bahkan banyak sekali foto yang dibuat dengan ISO tinggi, mencapai ISO 3200. Semua foto dibuat dengan modus pemotretan (shooting mode) aperture priority.

Yuyung Abdi (2009). Foto oleh: Kristupa Saragih

Yuyung Abdi (2009). Foto oleh: Kristupa Saragih

Yuyung Abdi memahami benar tugasnya sebagai pewarta foto dan sebagai peneliti untuk menyusun tesis S2. Bekerja sebagai pewarta foto Harian Jawa Pos sejak 1995, Yuyung sudah memenangi banyak lomba foto dan berbicara di banyak seminar dan workshop fotografi. Sudah tiga buku diterbitkan Yuyung: Lensa Manusia (2004), Sex For Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 kota di Indonesia (2007) dan Surabaya Cantik (2010).

Pewarta foto senior berusia 41 tahun ini mengajar fotografi di sejumlah perguruan tinggi: Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra, Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unair dan beberapa perguruan tinggi lain di Surabaya. Padahal Yuyung secara formal bergelar Sarjana Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Unair.

Tesis S2 di Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi FISIP Unair berjudul “Kehidupan Pekerja Seks Surabaya dalam Photo Story” berhasil memberinya gelar Magister Media Komunikasi, disingkat MMedkom. “Saya ingin menginspirasi orang agar menggunakan foto untuk banyak hal,” ungkap Yuyung mengenai motivasi tesisnya. “Orang kira fotografi itu nggak ada ilmunya, padahal banyak sekali,” imbuhnya.

Riwayat Yuyung Abdi bisa disimak di website pribadi YuyungAbdi.com. Sementara karya-karya fotonya bisa disimak di galeri foto Yuyung Abdi di Fotografer.net.


AirAsia’s New Application for BlackBerry

AirAsia BlackBerry Application's front page

AirAsia BlackBerry Application's front page

The world’s best low-budget airline AirAsia has just released their new application for BlackBerry. In their e-mail, they said, “This application is for ‘Demo’ purposes only it has no direct connection to the live AirAsia systems. It currently points to a test server. Please take the time to browse through its functions.”

So far, in demo version, it seems that the application is easy to navigate. Step-by-step instruction is clear and whoever familiar with web-version of AirAsia website would also find the same menu in BlackBerry application. Main menu: Book a Flight, My Bookings, Mobile Checkin, Boarding Passes, Flight Status and About. Looks like there are some type-errors that they have to fix.

Menu for selecting flight lets user select their desirable flight and brings you to this confirmation screen.

Menu for selecting flight lets user select their desirable flight and brings you to this confirmation screen.

The application allows user to pre-order their preferred onboard meal, comfort kit and type of baggage.

The application allows user to pre-order their preferred onboard meal, comfort kit and type of baggage.

Another good thing is pick-a-seat menu. It shows the legend of seat categories. Hopefully the changes of occupancy is accurate and real time.

Another good thing is pick-a-seat menu. It shows the in-flight seating layout and legend of seat categories. Hopefully the changes of occupancy is accurate and real time.

Finally, it ends up in payment form. AirAsia needs to confirm that the form in secure and payment system through this BlackBerry application is completely safe.

Finally, it ends up in payment form. AirAsia needs to confirm that the form is secure and payment system through this BlackBerry application is completely safe.

BlackBerry users who want to get this AirAsia’s early version of application may send e-mail to mobile[at]airasia[dot]com. Write “I Have A BlackBerry!” as e-mail subject.


Definisi Foto Bagus

Foto yang bagus itu seperti apa sih?

Pertanyaan sederhana dan sering ditanyakan. Namun jawaban musti bijaksana, tak serta merta sama untuk semua penanya. Demikian juga penanya yang musti menyerap jawaban secara kritis dan pikiran terbuka.

Penanya yang baru mulai belajar fotografi, alias tingkat pemula, butuh jawaban yang lugas dan praktis. Bagi pemula, definisi foto bagus adalah foto yang correct exposure, komposisi sedap dipandang dan fokus akurat.

Secara pemahaman, fotografer pemula disarankan agar mengerti benar teori dasar fotografi. Suatu hari kelak, jika fotografer pemula hendak belajar kreatif dengan “break the rule” maka “they know which rule(s) to break and how to break it”. Akan menjadi hal yang naif tatkala membicarakan konsep dan isi foto tapi aspek teknik dasar dikesampingkan. Ibarat hendak memasak tapi tak bisa memutuskan seberapa besar nyala api kompor dan bumbu-bumbu dasar yang hendak diramu.

Penanya tingkat menengah tak puas dengan jawaban teknis dan dasar. Dengan asumsi sudah paham benar teori dasar, maka fotografer tingkat menengah sudah terampil memotret. Tak pusing dengan pilihan ISO, dan paham berbagai aspek kualitas pencahayaan, bukan hanya kuantitas.

Maka definisi foto bagus bagi fotografer tingkat menengah adalah foto yang sesuai keinginan dan imajinasi fotografernya. Tanyakan pada diri sendiri saat melihat layar LCD setelah memotret, “Do you get what you want?” Jika jawabnya ya, maka foto tersebut adalah foto bagus. Jika sebaliknya, maka memotretlah hingga memperoleh hasil sesuai keinginan.

Jawaban bagi fotografer tingkat menengah ini sudah komprehensif. Tak lagi melulu soal teknis, tapi sudah terpadu dengan konsep berdasarkan imajinasi. Tak hanya visualisasi sebagai akhir, tapi bertitik berat pula pada pra-visualisasi sebagai proses awal penciptaan karya.

Fotografer tingkat mahir lebih kritis menyikapi definisi foto bagus. Pembahasan teknis sudah lewat, dianggap sudah “ngelotok”. Pembahasan tentang isi foto berada di tingkat yang lebih penting. Definisi foto bagus bagi fotografer tingkat mahir adalah foto yang menginspirasi pemirsanya. Ketika foto dipampangkan, kritisi foto dengan mempertanyakan, “Does the picture inspire people?”

Kita percaya, fotografi merupakan bahasa komunikasi visual. Proses penciptaannya didasarkan pada hal-hal teknis dan teori dasar. Lantas proses tersebut diisi dengan pesan bagi pemirsa dan dibungkus dengan visualisasi bernilai estetika tinggi. Ketika diterima pemirsa, hasil akhir proses tersebut diserap dan diolah dan menerbitkan interpretasi.

Kita percaya pula, fotografi merupakan wahana yang ampuh untuk berbagai tujuan. Sungguh berarti jika sebuah foto bisa menginspirasi pemirsanya untuk berbuat hal serupa. Lebih berarti lagi jika sebuah foto bisa memotivasi pemirsanya untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Fotografi, sejatinya, berorientasi pada hasil akhir yang berawal secara benar dan melalui proses. Demikian pula proses berkarya yang seyogyanya mengalir alami, tak bisa dipercepat, diperlambat, apalagi dibeli. Semua fotografer melalui tingkat-tingkat berproses yang sama, tak bisa alpa dan tak mampu menghindar, apalagi menolak.


The Lure of Ta Phrom

Ta Phrom, in Angkor complex of temples, Siem Reap, Cambodia is a must-visit temple for photographer. Photo by: Kristupa Saragih
Ta Phrom, in Angkor complex of temples, Siem Reap, Cambodia is a must-visit temple for photographer. Photo by: Kristupa Saragih

Ta Phrom, in Angkor complex of temples, Siem Reap, Cambodia is a must-visit temple for photographer. Photo by: Kristupa Saragih

There are hundreds of temples in Angkor complex, Siem Reap, Cambodia. Angkor Wat is mandatory, but the lure of Ta Phrom is a must-visit temple in Angkor complex. It is one of a kind, photographically, at this moment.

Ta Phrom is temple of giant trees, where their roots are the proof of nature supremacy. It is the reason people calls Ta Phrom as The Jungle Temple. The artistic visualization of ruins and giant roots above it were one of the reason for Tomb Raider movie chose it as one of location set.

Both morning and afternoon are best time to shoot, as the contrast would be less and side light might be more friendly. But as a temple in the hit list of Angkor visitors, there would be people everywhere photographers point their camera.

What I did was find my point-of-interest, chose my angle and wait for other visitors to fade away. The moment last for only a minute or less. Within that moment I had to made some shots in several alternatives composition.

There are mostly dark and narrow passages inside Ta Phrom. Pay attention to signs and direction, obey the “no access” borders and you would be fine. It is not worth such an effort to find unusual angle by climbing over the ruins or cross “no access” area.

Wide angle lens helps a lot. The space of shooting is mostly narrow. Go as wide as you can. One body of camera and one lens would make it easier to browse around.

In my previous visit to Ta Phrom on November 2008, there were some areas under renovation. In my latest visit on July 2010, there were more areas under renovation. Off course, the scaffoldings are distracting for photography. Fortunately, there were still some corners and giant roots available without any distraction.

Don’t get lost in Ta Phrom.


Original post of the picture above in Fotografer.net: Over-riding


Gaby and The Smoke in Tondano

Surrounded. Wireless TTL flash in Tondano, North Sulawesi. Model: Gaby. Photo by: Kristupa Saragih
Surrounded. Wireless TTL flash in Tondano, North Sulawesi. Model: Gaby. Photo by: Kristupa Saragih

Surrounded. Wireless TTL flash in Tondano, North Sulawesi. Model: Gaby. Photo by: Kristupa Saragih

It was a beautiful day spent with Manado photography fellows, on the last weekend of June 2010. I was in the capital of North Sulawesi for attending Fotografer.net Gathering Series 2010. Manado fellows are so kind and they were very anthusiast to arrange a simple model photo shoot with me while I was visiting their hometown.

We went to Tondano, 30km away from Manado, the capital of Minahasa Region. Cool breeze and widespread rice fields welcomed us in this beautiful highland of North Sulawesi. Then it was just happenned for us to find harvesting time on a roadside.

Above dried rice straws and thick-wet mud we made some shots with Gaby, in a ricefield on the roadside of Tondano, Minahasa, North Sulawesi. Photo by: Raya

Above dried rice straws and thick-wet mud we made some shots with Gaby, in a ricefield on the roadside of Tondano, Minahasa, North Sulawesi. Photo by: Raya

Dried rice straws were everywhere. Some farmers started to burn some rice straw piles and rose some smoke. We pulled-over, geared-up and asked our model Gaby to walk into the smoke.

It wasn’t easy to step over dried rice straws. The piles are soft, above wet and thick mud. As we got closer to the smokes, oxygen decreased and the smoke hit our eyes just like tear gas.

I geared myself with Canon 1D Mk III body and 17-40mm lens. The area of shooting was narrow, and I wanted to keep close to the models to make sure she heard my direction. The wind was quite hard and the directions changed in minutes.

Sky was covered by cloud and created low-contast condition. I armed one unit flash Canon Speedlite 580 EX II with PocketWizard FlexTT5. To trigger it, PocketWizard FlexTT1 was slided into 1D Mk III hotshoe.

Photo shoot with Gaby among the smokes of dried rice straws in a rice field on roadside of Tondano, Minahasa, North Sulawesi. We couldn't stand the smoke that long, made some shots and pull everything out. Photo by: Regy Kurniawan

Photo shoot with Gaby among the smokes of dried rice straws in a rice field on roadside of Tondano, Minahasa, North Sulawesi. We couldn't stand the smoke that long, made some shots and pull everything out. Photo by: Regy Kurniawan

I wanted to step down the background 1-stop under the flash exposure on the model. As PocketWizard FlexTT1 and FlexTT5 supports Canon E-TTL system, it was easy for me to compensate the exposure -1 stop and keep the flash exposure normal.

We realized that we couldn’t stand the smoke that long. So we just made some shots, quickly evaluate them and made some other alternative shots from some different angles. Went back to our cars, we stepped again over the dried straws carefully, and called our short and simple photo shoot a wrap.

My Manado fellows and I simply browsed the pictures on the camera LCD. We were satisfied and so was Gaby. Shorthly after that, we hit the road again, back to Manado, to attend Fotografer.net members gathering later in the evening. Thanks to all Fotografer.net fellows in Manado, SPOT photographer.

Another fun was waiting for us.

Finally we called it a wrap. All Fotografer.net Manado fellows and I were satisfied, and so was Gaby. From left to right: Regy Kurniawan, Raya, Farid Wahdiono (Exposure Magazine), Michael Winerungan (stand), Achmad Bagenda (sit down), Dodi Sandradi (FN HQ), Fesix Suyudi, Surya Rachman, Santho Montu, Kristupa Saragih, Diandra Gabriela Nelwan (Gaby), dan Hernan Halim. Photo by: Palty Silalahi

Finally we called it a wrap. All Fotografer.net Manado fellows and I were satisfied, and so was Gaby. From left to right: Regy Kurniawan, Raya, Farid Wahdiono (Exposure Magazine), Michael Winerungan (stand), Achmad Bagenda (sit down), Dodi Sandradi (FN HQ), Fesix Suyudi, Surya Rachman, Santho Montu, Kristupa Saragih, Diandra Gabriela Nelwan (Gaby), dan Hernan Halim. Photo by: Palty Silalahi


Original post of the main picture above: Surrounded



Memotret di Ritz-Carlton Jakarta, Berakhir di Densus 88

Berita Detik.com menyebutkan, 3 orang diamankan polisi karena memotret Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, Minggu (15/8). “Pada hari ini sekitar pukul 15.00 WIB, tiga orang diamankan satpam karena dicurigai memfoto-foto di Ritz-Carlton,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar kepada Detik.com. Hari itu, ketiganya diamankan di Mapolres Jakarta Selatan dan dikonfirmasi Wakasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKP Damanik.

Senin (16/8) pagi, ketiga pemotret Ritz-Carlton tersebut diamankan Detasemen Khusus 88 (Densus) Polri, seperti dikonfirmasi oleh AKP Damanik. Dalam pengamanan aparat tersebut, ketiga orang tersebut belum terindikasi kasus terorisme, seperti dikonfirmasi oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar.

Secara spontan, berita ini mengingatkan publik bahwa memotret musti hati-hati. Secara spontan pula, orang teringat bahwa The Ritz-Carlton Jakarta pernah jadi sasaran bom oleh teroris pada 17 Juli 2009. Kedua hal itu lantas saling dikaitkan.

Ada baiknya kita sikapi berita ini secara bijaksana. Kepolisian RI (Polri) menjalankan tugas melindungi dan mengayomi masyarakat. Dengan asumsi Polri telah mengaplikasikan HAM ke prosedur tugas-tugas mereka, kita percaya Polri tak sembarang tangkap.

Ada baiknya pula masyarakat umum paham bahwa ada tempat-tempat yang bertanda dilarang memotret. Tak jelas benar keberadaan tanda dilarang memotret di sekitar hotel The Ritz-Carlton Jakarta. Tapi jika ada, mari kita hormati. Jika ternyata tak ada tanda larangan memotret, mari kita tunggu penjelasan dari aparat berwenang.

Kamera dan fotografi memang alat yang sangat ampuh, baik untuk tujuan-tujuan kebaikan maupun sebaliknya. Sama dengan pedang dan pistol, yang tergantung tujuan pada pemegang alat tersebut. Pada jaman Perang Dingin, sampai ada kamera mikro untuk tujuan spionase.

Tapi setelah Perang Dingin berlalu, keberadaan spionase berubah untuk tujuan berbeda. Pada era digital, kamera menjadi semakin canggih. Tak hanya kamera biasa yang membaca panjang gelombang sinar pankromatik, alias sinar tampak, tapi ada pula kamera pembaca panjang gelombang sinar-sinar tak tampak, seperti sinar inframerah. Ukuran kamera pun menjadi lebih mikro. Letak kamera pun tak harus di darat, alias terestrial, tapi bisa dipasang di satelit nun ribuan kilometer di luar atmosfer Bumi.

Jika ketiga orang tersebut benar teroris yang sedang mengincar sasaran, cara-cara mereka masih tradisional sekali, kalau tak malah disebut “amatiran”. Secara lebih cerdas, justru satuan intelijen aparat keamanan bisa mencatat pihak-pihak yang tahu denah bangunan, kawasan dan jaringan listrik, internet dan telepon. Secara lebih cerdas lagi, mustinya kita paham bahwa mengobati terorisme musti seperti mengatasi sakit kepala. Bukan memberi obat penghilang rasa sakit, melainkan menyembuhkan penyebab sakit kepala.

Sebagai masyarakat umum, kiranya kita semakin perluas wawasan agar lebih arif menyikapi situasi aktual dan bijaksana menanggapi peristiwa. Sebagai fotografer, kita mestinya paham bahwa kamera merupakan alat ampuh, untuk tujuan-tujuan baik.


The Beauty of Bayon

The Beauty of Bayon. Bayon, the main temple of Angkor Thom, in Angkor complex and its reflection. Photo by: Kristupa Saragih

In Khmer history, it is believed that Angkor Thom was built as the capital city of the kingdom by King Jayavarman VII in the late 12th century. It is also believed that the king built Bayon as the official state temple of Angkor Thom. Bayon was originally built as Buddhist Mahayana temple, but the successors of the king then modified the temple into Hindu and Theravada Buddhist, in accordance with their own religious preferences.

Anyway, the temple lasts till today. It passed hundred of years of history timeline: wars of Khmer kingdoms, wars of Khmer and surrounding kingdoms and later the French colonialism. It is being renovated now, as seen on my latest visit July 2010, and as seen on my previous visit November 2008.

From downtown Siem Reap, visitors will pass The South Gate and find Bayon as the first temple in Angkor complex. Best time to visit for photo shooting is both early morning and afternoon. Early morning visit will benefit the less disturbance of other visitors. But afternoon visit will give photographer the beauty of reflection in a small pond in west side of Bayon.

In order to catch the reflection, the use of polarizing filter would enhance the reflection. Or else, to get rid of it. The polarizing filter also helped to darken the sky, as seen in the picture above. As the scene has high contrast condition in the afternoon, a gradual ND (neutral density) filter would lessen the contrast.

Actually, there are a lot of subjects to be explored in about 22,500 sq meters area of Bayon. All you need is a pair of strong feet and a couple bottles of water. And, of course, a strong motivation to shoot and learn about the temple. Give respect to other visitors and photographers by stay away from “the line of fire” when they “fire” their camera.

I wish, on my next visit I will combine the beauty of Bayon and the beauty of model(s).


Original post of the picture above in Fotografer.net: Peace in Bayon


Sunrise in Angkor Wat [2010]

Sunrise in Angkor Wat 2010. Explore Angkor photo trip July 28 - August 1. Photo by Kristupa Saragih

If you are a photography enthusiast, Angkor Wat is a must-visit place in South-East Asia. Situated in Siem Reap, second biggest city after Cambodia’s capital Phnom Penh, Angkor Wat is the main place of interest among hundreds of temples in Angkor complex. Angkor Wat is the largest temple in Angkor complex, built by the Khmer civilization around the year 1100 AD. It was probably built as a furnerary temple for King Suryavarman II (1112-1152), to honour Vishnu, one of the Hindu God.

Shooting sunrise in Angkor Wat is supposed to be an enjoyful thing to do. Anyway, you should get here by 5 AM in the morning to be ready-to-shoot on-site before the sunrise, and most importantly before the place gets crowded by tourists. It is suggested to leave your hotel in Siem Reap at 4.30 AM, get your transport and go through temple-pass checking station at Angkor complex gate.

The most favorite spot for sunrise in Angkor Wat is in lotus pond in front of it. Bring your torch as it will be still dark in early morning and there is no lighting at all in the temple. You have to cross the moat and go through the Angkor Wat main gate and walk a couple hundreds of meter to get to lotus pond.

Suggested gears for sunrise photo shoot in Angkor Wat are: wide lens 16mm or at most 24mm, tripod and graduated ND (neutral density) filter. Tele lens would be an addition, but tripod is a must to avoid camera shake due to low light condition at dawn. Graduated ND filter is mandatory, as you are facing a high-contrast light condition in sunrise time. Catch the reflection in the lotus pond, set your white balance correctly, and make sure you have enough power in your camera battery and enough space in memory cards.

Shooting time would not be last after 5:30 AM, as the sun will be high after that. You will be surrounded by other visitors with their camera. Give respect to them, and you will be respected. But stay in your position, unless you want to let your place taken by other visitors.

There are local people with their business offering you a simple plastic chair and coffee. Just get one, pay US$ 1 then you will be fine in your position of shooting. This is the latest situation I recognized on my visit, late July 2010. There wasn’t that kind of business on my previous visit to Angkor Wat, November 2008.

Enjoy your Angkor Wat sunrise shooting.


Original post of the picture above in Fotografer.net: Romantic Angkor


An Afternoon in Rooftop

It was a clear afternoon, in a rooftop of a shopping mall in Jogja. I was doing a location scouting with a fellow photographer of mine. It is an open parking area there, and I just couldn’t help my eyes to find interesting subjects to shoot.

I simply grabbed my BlackBerry 9700, activated the camera and got myself busy shooting.

Harmonic Disharmony. I found sets of chiller-generators and found that the stripes build a good pattern. Composed in diagonal and make sure the perspective worked out for it. Photo by: Kristupa Saragih

Jungle of Poles. I found that some antennas, radio repeaters and cellular transmitters build an interesting vertical lines. What I did was simply line them up to combine a good composition. Photo by: Kristupa Saragih

Exit or Escape? The signs were also interesting. I used a focusing-lock feature in BlackBerry 9700 to make off-center composition possible. Photo by: Kristupa Saragih

May I Have One, Please? One of important keys to create eye-catching photograph is to shoot in unsual angle and avoid eye-level view. Shadow works out great for that purpose. All you have to do is to keep it simple. Photo by: Kristupa Saragih

Lonely. This is an actual view of a parking lot in rooftop. I saw a group of photographers doing a model photoshoot. Photo by: Kristupa Saragih

Camera in mobile phone is simple. There are no shutter speed and aperture settings, as simple as point-and-shoot. You may concentrate more on subjects around you and attract your attention. But you should always keep in mind that the important things on making pictures are: idea, light and composition.


Making Creative Shots with BlackBerry Bold 9700

People might have common thought that great pictures should be made by expensive and big DSLR type of camera. Well, it’s true but it doesn’t have to be always that way. Camera is only a tool. Behind great photographs there are a pair of good eye and great ideas.

I explored my previous mobile phone, BlackBerry Curve 8900 Javelin, and made great pictures with it, “Motret dengan Ponsel: BlackBerry Curve 8900 Javelin“. I loved it, good quality of camera in a mobile phone. But then I got myself BlackBerry Bold 9700 Onyx to replace it. I thought it might have better quality camera, and I’m right.

There were so much fun I had when shooting around with this mobile phone. I left my pocket camera which used to accompany me wherever I go. You may leave home without your pocket camera. But almost nobody would leave home without mobile phone. It’s easier to bring only one gadget instead of two, isn’t it?

Pictures attached here didn’t go through any single digital editing. I only resized them down. Hopefully they would make you witness the strengths and weaknesses of camera in BlackBerry Bold 9700 Onyx.

My tip: let your eyes and mind concentrate on the photo subjects. Leave technical things to the ease of use and compactness of camera in mobile phone.

I have just landed in Manado, North Sulawesi, Indonesia when my fellows brought me downtown. On our way to parking lot, we passed through this colorful wall and our car pulled over right away. It was clear blue sky and almost noon. Technically, no important issue on getting pretty and neat picture. The only thing matters here is diagonal composition, which makes the picture appears in dynamic visualization. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

It was early morning in Jakarta, Indonesia when I needed to catch my 7 AM flight. Got my bag out from my room, took out the room key and I realized that it was on the right position of light fall. The idea is simple, I want to symbolize my life as a traveler with bag and an alley in hotel. Technically, I just only needed to focus the camera correctly with pressing the camera button halfway down until green box appears then push it all the way down. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

The easy way to make your picture appears eye-catching is shooting in unusual angle. Instead of shooting in eye-level angle of view, shoot down or shoot up. I was taking a ciggy-break with a friend in Ayala Center, a complex of shopping centers in Makati, Manila, Philippines. When looking up, I noticed the lines of these buildings might be arranged into an eye-catching composition. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

It doesn't have to be always the real subject to be shot. Image in reflective surface would help a lot to show your idea in different and creative way. It was a bright afternoon in Ayala Center, Makati, Manila, Philippines and the glass was clean. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

If something attracted your attention then it most likely would be nice to be photographed. I noticed these colorful merchandise in cashier desk of a coffee shop in Glorietta 5 shopping arcade, Ayala Center, Makati, Manila, Philippines. A colorful list of menu and price just make itself a good match. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx


Pakai Kamera Saku Juga Bisa Membuat Foto Bagus

Saya risau sekali jika mendapati rekan-rekan penyuka fotografi yang beranggapan membuat foto bagus harus pakai kamera DSLR, yang besar, bagus dan mahal. Padahal kamera saku pun bisa menghasilkan foto-foto bagus.

Berikut beberapa foto hasil jepretan menggunakan kamera saku Canon PowerShot G10 yang saya buat. Foto-foto dan tulisan ini dibuat tanpa sponsorship sama sekali dari Canon, maupun dealer dan distributornya. Jadi, saya bisa menggaransi kejujuran membedah foto-foto dengan kamera saku ini.

Panorama Bromo | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/160 - ISO 100 - Kompensasi +1 - Focal length 6mm - Modus Pengukuran cahaya: Center Weighted - Filter Circular Polarizing | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Panorama Bromo” di atas dibuat dengan metode seolah-olah saya memakai kamera besar. Metode yang saya pakai adalah kompensasi pencahayaan lebih terang 1 stop, karena pengukuran cahaya normal menghasilkan foto under-exposed. Tak sulit mengetahui over atauunder, lantaran kamera digital sudah dilengkapi LCD. Pendekatan lain adalah penggunaan filtercircular polarizing (CPL), dengan tujuan untuk memekatkan warna biru di langit dan menambah saturasi warna.

Kebakaran di Makassar | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/800 - ISO 400 - Kompensasi 0 - Focal length 16mm - Modus pengukuran cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Kebakaran di Makassar” saya buat dengan pendekatan jurnalistik, alias tanpa rencana dan merupakan spontanitas atas peristiwa yang sedang terjadi dan sedang saya lihat. Foto dibuat dari kursi saya pada penerbangan MZ 708, 12 Juni 2009 jam 08:55 WITA, dari Jogja ke Makassar, pada saat pesawat sedang approach runway Bandara Hasanuddin.

Tidak ada filter yang saya pakai. ISO 400 dipakai untuk menjamin gambar tidak goyang (shake). Sementara bukaan f/8 dipakai untuk memperoleh ruang tajam (depth of field) yang luas. Tak ada kompensasi pencahayaan, karena hasil pemotretan sudah correct exposureFocal length 16 mm merupakan jangkauan lensa tele di Canon G10.

Interior Bandara Hasanuddin | Canon G10 - Bukaan f/5 - Kecepatan 1/60 - ISO 400 - Kompensasi 0 - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Kamera saku cukup handal untuk memotret di dalam ruangan dengan pencahayaan minim. Foto “Interior Bandara Hasanuddin” dibuat pada sore hari jam 17:52 WITA, sembari menunggu keberangkatan MZ 709 dari Makassar ke Jogja. Interior bandara ini memang bagus dan menarik nan fotogenik pula.

Focal length 6mm menandakan lensa diset selebar-lebarnya. Kondisi pencahayaan kontras tinggi, karena jendela yang berukuran amat besar, sementara kondisi dalam ruangan sudah temaram yang ditandai dengan lampu-lampu yang telah dinyalakan. Karena itulah ISO 400 dipakai agar kamera tidak goyang meskipun handheld tanpa tripod.

Ternyata rentang beda kontras (dynamic range) kamera saku ini cukup lebar dan toleran. Terbukti, bagian terang (highlight) masih terekam baik. Sementara bagian gelap (shadow) pun masih menyisakan detail.

Red & Blue Splashes | Canon G10 - Bukaan f/4.5 - Kecepatan 1/1000 - ISO 800 - Kompensasi +1 stop - Focal length 30mm - Modus pengukuran cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Red & Blue Splashes” merupakan hasil penjajalan kamera saku ini dengan lampu studio dan kecepatan rana tinggi (high shutter speed). Lampu studio yang dipakai merupakan jenis continuous dengan suhu warna (color temperature) daylight 5000-5500 Kelvin. Sementara kecepatan rana tinggi dipakai untuk membekukan gerak, alias teknik freezing.

Sebenarnya kamera saku kecil ini dilengkapi hot shoe untuk menghubungkannya dengan lampu kilat (flash). Tapi dengan pertimbangan agar mendekati fitur yang ada di kamera-kamera saku lain secara umum, saya set Canon G10 tanpa flash pada pencahayaan dari lampu continuous.

ISO 800 merupakai ISO tinggi yang dipakai dengan tujuan memperoleh kecepatan rana setinggi-tingginya. Lantaran untuk memperoleh efek freezing, kecepatan rana musti di atas 1/500 detik. Konsekuensi ISO tinggi adalah butiran (grain) yang kasar, tapi ternyata masih relatif halus terlihat di foto ini.

Kokoh | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/200 - Kompensasi 0.7 stop - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Kembali ke luar ruangan, kamera saku bersifat ringkas hingga mudah dibawa ke mana-mana. Jika kebetulan melintasi eksterior gedung yang menarik, tinggal ambil, bidik dan jepret. Misalnya saja ketika saya melewati sebuah bangunan apartemen di Surabaya ini, pada foto “Kokoh” ini.

Reflection on Star | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/15 - ISO 200 - Kompensasi Pencahayaan -0.7 stop - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Sifat unggulan kamera saku adalah kemudahan pengoperasian. Dari sifat ini bisa ditarik manfaat, yakni fotografer bisa berkonsentrasi pada ide foto dan subyek foto, tanpa perlu dipusingkan dengan hal-hal teknis. Toh, namanya juga kamera saku, alias pocket camera, alias compact camera, alias point and shoot camera.

Foto “Reflection on Star” diperoleh ketika sedang melintas di tempat parkir sebuah gedung. Kebetulan ada refleksi menarik di kap mesin sebuah mobil. Cukup dengan ide sederhana, tapi dikemas dalam komposisi yang apik, maka jadilah foto yang unik.

Masih banyak foto-foto kreatif dan unik yang bisa dibuat dengan kamera saku. Tak harus terpaku dengan kamera besar alias kamera DSLR. Foto bagus tak tergantung pada alat yang bagus, melainkan ide yang muncul di benak fotografer, mata yang jeli membidik dan kreativitas yang berbatas imajinasi.

Mengagung-agungkan alat sama dengan sifat materialistis yang hanya memandang dan menghormati segala sesuatu yang bersifat kebendaan dan kasat mata. Memang, kamera yang bagus membantu untuk mempermudah membuat foto bagus. Tapi, sekali lagi, foto bagus tak harus dibuat dengan kamera yang mahal dan bagus.

Memotret tak sulit. Cukup dengan memahami teori dasar fotografi, maka modal awal dan utama sudah di tangan. Kunci selanjutnya, untuk membuat foto bagus, adalah banyak berlatih. Sarana untuk mempermudah belajar foto adalah bergaul aktif di komunitas fotografi yang sehat dan bonafid.


Motret dengan Ponsel: BlackBerry Curve 8900 Javelin

Kecil-kecil cabe rawit. Perumpamaan itu cocok bagi telepon seluler (ponsel) BlackBerry (BB) Curve 8900 yang biasa disebut Javelin. Meski hanya kamera di ponsel, tapi cukup mumpuni pada resolusi 3,2 megapiksel.

Saya sering tergelitik dengan pertanyaan untuk mengkonfirmasi bahwa foto bagus harus dihasilkan kamera besar dan bagus. Kamera profesional, begitu kira-kira sebutannya. Padahal untuk membuat foto bagus tak perlu pakai kamera mahal.

Berikut ini saya bagikan pengalaman memotret dengan kamera pada ponsel BB Javelin. Semua tanpa sedikitpun sentuhan editing komputer. Saya upload ke blog ini pada ukuran asli.

Sudut Pengambilan dan Komposisi

The Beauty of Toba Lake. Pemandangan di Desa Silalahi, Silahisabungan, Dairi, Sumatra Utara. Waktu pemotretan pagi hari, sehingga tak terlalu terkendala dengan pencahayaan. Cukup memilih angle yang tepat sehingga mendapat komposisi fotografi yang apik. Kamera: BlackBerry Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Ide Sederhana

On Their Own. Ide foto cukup sederhana,tapi visualisasi mesti menarik dalam ramuan komposisi fotografi yang sedap dipandang. Foto ini dibuat di bagian keberangkatan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto Interior

My Room in Surabaya. Foto interior menjadi salah satu tantangan memotret dengan kamera ponsel, mengingat cahaya yang minim. Tantangan lainnya adalah rentang beda kontras (dynamic range) yang terbatas. Tapi di foto ini saya berhasil memperoleh ambient light di ruangan dengan baik, sekaligus nuansa kebiruan senja hari di jendela. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pencahayaan

White Orchid. Dalam memotret, hal paling penting adalah pencahayaan. Di foto ini, bunga anggrek putih saya foto memanfaatkan cahaya dari belakang subyek yang dalam fotografi disebut back light. Agar efektif, back light dipadukan dengan latar belakang berwarna gelap. Kebetulan situasi di sebuah hotel di Yogyakarta ini cukup apik dan tamannya ditata menarik. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Indoor dengan Flash

Veteran. Dalam situasi indoor, aktifkan flash untuk mengatasi situasi minim cahaya. Perhatikan, subyek tak bisa terlalu jauh karena kemampuan flash di kamera ponsel tak memadai. Foto ini saya buat dalam sebuah acara fotografi di Surabaya yang berkaitan dengan Hari Pahlawan, November 2009. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Indoor Tanpa Flash

FNPD. Terkadang situasi pencahayaan dalam ruangan sudah dibuat sedemikian rupa agar apik dengan warna-warninya. Dalam hal demikian, matikan fungsi flash agar kamera bisa merekam cahaya ambient. Foto ini dibuat di acara gathering anggota Fotografer.net di sebuah tempat di Surabaya. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Danto

Komposisi

Sibuk Sendiri. Subyek yang menarik ada di sekitar kita. Dalam sebuah acara jalan-jalan akhir pekan bersama teman saya Kusri, kebetulan melewati elemen interior menarik di sebuah pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Flash di-nonaktif-kan untuk merekam cahaya ambient. Garis-garis di latar belakang dimanfaatkan untuk menyusun komposisi diagonal. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Food Photography dengan Side Light dan Back Light

Sarapan Pagi. Memotret makanan jangan sembarangan, karena alih-alih menerbitkan selera nanti malah menghilangkan nafsu makan. Matikan flash di kamera agar bisa merekam cahaya yang ada di tempat (ambient light). Perhatikan arah datang cahaya, agar dimensi lebih muncul manfaatkan cahaya dari samping (side light) dan dari belakang (back light). Susun properti pendukung makanan secara logis tapi dalam susunan yang sedap dipandang agar menerbitkan air liur pemirsa foto. Saya memilih meja sarapan pagi di restoran sebuah hotel di Surabaya yang dekat jendela agar memperoleh siraman sinar matahari pagi. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Rekam Detail

Pempek Lenggang. Memotret makanan tak harus menampilkan porsi makanan secara utuh. Pilih detail yang menarik didukung dengan properti yang logis sehingga menerbitkan selera pemirsa foto. Di sebuah warung makan pempek di Yogyakarta ini cahaya ruangan sebenarnya kurang memadai. Meski tak ada jendela untuk memperoleh sinar matahari, flash tetap saya matikan agar mendapat cahaya ruangan yang lembut. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Eksterior Bangunan

Sunset in Malang. Memotret eksterior ada baiknya memperhatikan waktu pemotretan. Saat petang hari, langit senja yang membias lembayung tentu apik dipadukan dengan lampu-lampu yang sudah dinyalakan. Kebetulan saya memperoleh kamar di posisi yang tepat ketika menginap di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Detail Eksterior

Cozy Pool. Sama seperti foto makanan, foto eksterior pun tak harus merekam keseluruhan bangunan. Detail bisa lebih berbicara banyak dan membuat tampilan foto lebih sederhana agar lebih mudah dinikmati pemirsa foto. Penataan taman dan eksterior di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur kebetulan memang sudah digarap serius. Tinggal merekam suasanya saja dan meramunya dalam komposisi diagonal agar sedap dipandang. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Suasana dari Ketinggian

View to Semeru. Dalam keadaan cahaya berlimpah, tak sulit untuk membuat foto bagus. Apalagi jika langit biru dan dapat subyek yang menarik. Ketika berkunjung ke Malang, Jawa Timur saya mendapati pintu kamar menghadap ke Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Tinggal memilih waktu yang tepat di pagi hari, agar mendapat cahaya samping (side light) yang menampilkan dimensi. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Suasana Dramatis Seperti Aslinya

Jakarta Sky From 22nd Floor. Langit kerap kali tampil dramatis. Perkaranya adalah merekamnya dalam exposure yang pas agar tak terlalu terang dan terlalu gelap. Dari kamar saya di lantai 22 di Jakarta, langit sebuah petang hari kebetulan memamerkan awan yang bak disapukan kuas cat pelukis. Kamera di ponsel sudah memiliki pengukur cahaya otomatis, dan "preview"-nya bisa dilihat "real time". Saya minimalisir porsi gedung-gedung agar foto tidak terlalu terang (over-exposed) dan menambah porsi langit agar detail awal terekam baik. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Teknik Panning

Panning. Dalam fotografi ada teknik panning, yakni menggunakan slow shutter speed untuk obyek bergerak dan ketika memotret kamera ikut bergerak pula mengikuti gerakan subyek. Berhubung kamera di HP tidak bisa mengatur shutter speed secara manual, maka saya asumsikan cahaya di ruangan cukup minim sehingga kamera sudah mengeset secara otomatis shutter speed-nya. Perkara fokus tinggal diserahkan saja ke kamera, dengan cara menekan tombol memotret. Pada saat menekan tombol, keadaan kamera sudah dalam mengikuti gerakan subyek. Ada jeda waktu yang disebut "shutter lag" yang harus diperhatikan, dan kamera tetap mengayun mengikuti gerakan subyek. Foto ini saya buat ketika sedang menjadi pembicara sebuah workshop fotografi yang digelar sebuah operator seluler di kantornya di Yogyakarta. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Landscape dengan Lensa Lebar

Sunset in Tigapanah. Dalam perjalanan pulang memotret Danau Toba di Tongging kembali ke Medan, Sumatra Utara saya dan rekan-rekan seperjalanan menjumpai langit senja yang cantik. Agar memperoleh exposure yang tepat, minimalkan porsi tanah atau daratan agar foto tidak terlalu terang (over-exposed). Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Landscape dengan Lensa Tele

Sky on Fire. Memotret landscape tak harus pakai lensa lebar. Justru dengan lensa tele kita bisa membuat perspektif lebih sempit dan menambah impresi foto. Perhatikan elemen-elemen pendukung yang bisa mempercantik foto, seperti batang bambu yang saya temukan ketika memotret langit senja di Tiga Panah, dalam perjalanan pulang dari memotret di Tongging kembali ke Medan, Sumatra Utara. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Mendokumentasikan Suasana dengan Sentuhan Artistik

My Shooting Buddy. Subyek foto ada di mana-mana. Bahkan mendokumentasikan sesuatu pun bisa disajikan secara apik. Dalam perjalanan dari Tongging ke Medan, sepulang dari Danau Toba, saya dan rekan-rekan memotret langit senja yang apik di Tigapanah. Rekan-rekan yang sedang memotret saya dokumentasikan dengan tujuan merekam kisah perjalanan saya dalam foto-foto yang apik. Dan, tentu saja, teman-teman seperjalanan jadi senang karena dapat foto ketika sedang bergaya dengan kamera dan lensa mereka. Berbuat baik bagi sesama amat mudah dengan kamera kita dan foto-foto yang kita buat. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Seandainya ada waktu dan tempat yang cukup, masih ada banyak foto yang bisa di-share. Foto-foto yang saya sajikan di sini, sekali lagi ditekankan, tanpa sentuhan editing digital sedikit pun. Upload ke dalam ukuran asli.

Foto bagus bukan soal alat, kamera yang canggih atau piranti yang mahal. Memang benar, kamera yang bagus mempermudah fotografer membuat foto bagus. Tapi belum tentu kamera canggih menghasilkan foto ciamik, jika pemotretnya tidak mengerti menggunakannya.

Modal membuat foto bagus cukup sederhana. Ada mata yang jeli melihat subyek menarik. Lantas, ada hati dan rasa yang bisa merekam suasana dan mendekati subyek dengan penuh perhatian. Kemudian semuanya dipadukan di benak yang meramu hal-hal teknis dan non-teknis agar bisa tampil artistik. Mata, hati dan otak.


Traveling with BlackBerry Bold 9700 Camera

Taal. When traveling you must have pictures that would make you memorize the place. In a visit to Taal, Batangas Province, Philippines, I found this sign inside a Spanish colonial style building. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

You must live in the other planet or live in another century back if you haven’t traveled anywhere in your life. Traveling becomes an integrated part of life and for some people becomes their habit and desire. One important thing is to have a camera to be your best traveling buddy.

One compact camera is enough to accompany you during the trip. It was years ago when traveler had to bring, at least, two gadgets: mobile phone and pocket camera. Image sensor, resolution and quality in camera in mobile phone was not good. Today, there are plenty of options of mobile phone which has good quality of image sensor, lens and big resolution.

I know a mobile phone today reaches 12 megapixel resolution. Another mobile phone put on the legendary Carl-Zeiss lens. You may want anything, but it’s better to have what you really need. I choose BlackBerry Bold 9700 Onyx which has 3.2 megapixel camera.

It goes whereever I go. I seldom bring my pocket camera. My big professional DSLR is with me in serious targets. Anyway, simplicity in mobile phone camera would let us concentrate more on the subject and idea rather than technical things, i.e shutter speed and aperture settings.

Sample of pictures here didn’t go through any single digital editing. I only resized them down so you may witness the strengths and weaknesses of mobile phone camera. Let the pictures talk.

Afternoon in Kalasey. Overlooking Manado Tua volcano in the distance, I found this place calming. It was a bit cloudy but some parts of blue sky occured. Shooting only the volcano would not distinguish it with another shot from another angle. An addition of foreground would make it distinctive. If you visit Manado, North Sulawesi you must give yourself a photo of Manado Tua. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

Filipino Traditional Dance. I positioned myself as an ordinary tourist. If I put myself as serious photographer, I would remove the background and find more artistic setting. But this kind of situation is a scene that any traveler might face. There was low light condition and the subject was moving. I read the movement and tried to find the pattern, as any kind of dance would have, and caught the moment of when some dancers sat still while the others moving. Pre-focus, hold the camera button half-way then only pressed fully down at the desired moment. This is a regular dance performance in Intramuros, Manila, Philippines. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

New Year's Fireworks. Shooting fireworks is a challenge, even if you're armed with DSLR. It's even much more challenging to shoot fireworks with mobile phone camera. It couldn't measure exposure value as in DSLR, and we couldn't set aperture and speed manually. The effective way to shoot is to determine the exact location of fireworks, pre-focus by pressing the camera button half-way down and pushing it all-the-way down at the desired moment. It's hard, but I made about 2 out of 10 successful pictures in New Year 2010 Eve in Manado, North Sulawesi, Indonesia. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

Jeepney. When traveling, you must give yourself photo of an icon of the place you visit. Manila, of course, is famous with its Jeepney, the common public transport. When shooting in front of Malate Church, I found a lot of Jeepney passing by. It's only a couple hundred meters away from Roxas Boulevard, Manila Bay, Manila, Philippines. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

St Nino Festival. A trip that match an event would give some more memories, things to learn, experiences, and subject for photography. St Nino Festival is held annualy in Manila, Philippines. I found this eye-catching costume of guards among the crowd of thousands of people in the streets of Pasay City, Manila, Philippines. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx

Nasi Kuning. Another important thing in traveling photography is making photos of local food. Yellow rice in Yogyakarta, Indonesia is made of turmeric and accompanied with grilled chicken, sliced fried tempe, and some condiments. Light situation was available light, a side light from nearby window. Photo by: Kristupa Saragih with BlackBerry Bold 9700 Onyx