Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for September, 2010

Mengenang Gempa Sumbar Setahun Lalu Rabu, 30 September 2009

Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih
Rabu, 30 September 2009
Sebagian peserta rombongan fotografer 5 negara di photo hunting trip Crossing Bridges VI 2009 West Sumatra (CB 6) masih berada di arena balap sapi “pacu jawi” di Kabupaten Tanah Datar. Saya dan Daniel, seorang peserta kontingen Singapura, berada di RS Umum Daerah (RSUD) MA Hanafiah di Batusangkar membawa Liao Mao Lin, peserta kontingen Vietnam. Liao Mao Lin, yang akrab dipanggil Quanman, mengalami musibah tertabrak sapi pacu jawi ketika ia sedang memotret di tepi arena. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama
Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tak ada yang menyangka hari itu adalah hari yang luar biasa, Rabu, 30 September 2009. Saya bersama rombongan 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi Crossing Bridges diterima ramah oleh Muspida Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Pak Bupati dan Ketua DPRD bertopi ala koboi menyambut ramah bersama Komandan Korem dan Kepala Polisi Resort Tanah Datar bersama ninik mamak nagari-nagari setempat.

Acara hunting foto dan pacu jawi berlangsung seru sampai Quanman, seorang peserta kontingen Vietnam terluka karena tertabrak sapi yang sedang berlaga. Seluruh rombongan surut kembali ke bis dan membawa rekan yang terluka ke rumah sakit terdekat. Karena perlengkapan tak memadai, lantas rekan tersebut dirujuk ke rumah sakit di Padang.

Saya bersama Madoca, rekan kontingen Vietnam menemani Quanman di dalam ambulans. Peserta-peserta lain berada di bis rombongan di belakang kami. Dari Batusangkar menuju Padang, selepas Padang Panjang jalan berkelok-kelok. Sejurus kemudian keempat ban mobil ambulans terasa seolah kempes bersamaan. Orang-orang berhamburan ke luar rumah hingga terjatuh. Pengendara-pengendara sepeda motor bertumbangan, pohon-pohon kelapa dan tiang-tiang listrik berayun-ayun seperti metronom.

17:18 WIB: Gempa Terjadi di Sumatra Barat!
Ambulans sedang meluncur, menyusuri jalan menuju Padang. Berkelok-kelok di lalu lintas yang rada padat. Lampu sirine dinyalakan agar memperoleh prioritas jalan, dan alarm dibunyikan sesekali. Kota Padang Panjang baru saja dilewati. Tiba-tiba saya merasa seolah-olah ban mobil kempes. Pikir saya, “Kenapa bisa keempat-empat ban kempes dalam waktu bersamaan?” – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama

Few seconds after earthquake happenned, I updated my Facebook status. I thought I must do that before cellular networks down due to heavy traffic or damaged.

Few seconds after earthquake happenned, I updated my Facebook status. I thought I must do that before cellular networks down due to heavy traffic or damaged.

Gempa terjadi di Sumatra Barat, pada hari Rabu, 30 September 2009 jam 17:18 WIB.

Dan semuanya berubah. Orang-orang panik. Jalan tertimbun tanah longsor. Ambulans ambil jalan memutar  untuk menuju Padang. Pemandangan di pinggir jalan sungguh memiriskan hati. Paramedis di ambulans menyuntikkan pain-killer secara teratur ke Quanman.

Masuk Padang, lalu lintas macet. Sirene ambulans tak berarti. Semua memang dalam situasi darurat, dan semua merasa harus didahulukan. Hujan turun menyiram reruntuhan Ranah Minang malam itu.

Hotel Best Western Premier Basko tempat kami menginap masih berdiri utuh, tapi tak bisa dimasuki. Tak aman. Interior ruangan rusak. Listrik padam, gelap gulita dan air menggenang karena hujan deras masuk melalui kaca-kaca yang pecah.

Jaringan komunikasi putus. Telepon seluler tak berfungsi. Kami putus kontak dengan rombongan besar. Malam itu kami mengungsi di rumah milik karyawan hotel. Baju basah karena hujan bercampur keringat.

Roadblock in a junction near Indarung blocked the ambulance from getting a priority to pass through. Photo by: Kristupa Saragih

Roadblock in a junction near Indarung blocked the ambulance from getting a priority to pass through. Photo by: Kristupa Saragih

Tidur di lantai, di kegelapan dan kedinginan, memang tak nyenyak. Bangun subuh keesokan harinya, hanya ada satu hal dalam kepala, mengumpulkan seluruh anggota rombongan dan siapkan evakuasi.

06:18 WIB: Sarapan di Dapur Darurat Basko Hotel
Haus mendera, karena sejak semalam tidak minum. Saya pun minta air mineral ke karyawan hotel. Oleh para karyawan yang baik itu, saya dan Madoca malah diarahkan ke dapur darurat di bagian belakang hotel. Ada beberapa botol kecil air mineral dan dua kerat roti dan kue. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Pagi Hari Kedua

Waiting to be called to evacuate personal belongings inside hotel rooms. Photo by: Kristupa Saragih

Waiting to be called to evacuate personal belongings inside hotel rooms. Photo by: Kristupa Saragih

Kembali ke hotel, berkoordinasi dengan petugas, akhirnya evakuasi barang-barang peserta bisa dilakukan. Rombongan besar merapat tak lama kemudian. Rekan-rekan sesama kontingen Indonesia saja sebagian besar belum pernah mengalami gempa. Kawan-kawan dari negara-negara tetangga belum pernah satu kalipun merasakannya.

Air bersih sulit diperoleh. Makanan langka. Uang tak berarti.

Sepanjang siang kami hanya menyiapkan diri untuk segera pulang, meninggalkan Padang. Begitu barang-barang tersisa bisa diselamatkan, seluruh rombongan masuk bis. Para kru bis untuk bisa mengerti dan masih bersedia mengantar, meski mereka pun adalah para korban gempa bumi.

At 12:23 PM local time. Our CB6 buses passed through a road side cemetery. We witnessed a funeral of earthquake victim. Photo by: Kristupa Saragih

At 12:23 PM local time. Our CB6 buses passed through a road side cemetery. We witnessed a funeral of earthquake victim. Photo by: Kristupa Saragih

Pemandangan sepanjang jalan penuh kepiluan. Rumah-rumah runtuh. Kendaraan bermotor saling berebut jalan. Dalam perjalanan menuju SPBU yang masih beroperasi terlihat keranda-keranda diusung di antara nisan-nisan tempat pemakaman umum.

Jalanan macet. Simpul-simpul anyaman kendaraan terjadi di setiap persimpangan jalan. Semua orang ingin didahulukan dan tak peduli. Semua orang ingin mencari selamat.- Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Siang Hari Kedua

At 01:53 PM local time. People in their anger on queueing their turn in a petrol station in Padang ring-road bypass. Data says it should be more than 30 petrol stations in Padang and nearby surroundings. But we saw only 2 of them in operation, on our way from hotel to airport. We saw couples of petrol stations hit by earthquake. The rest of them was not in operation due to many reasons. This operating petrol station had a long queue, about 1 km in both directions. There were some armed-police guard to make sure the people's anger did not turn into riot. Everyone wanted to be a priority. Photo by: Kristupa Saragih

At 01:53 PM local time. People in their anger on queueing their turn in a petrol station in Padang ring-road bypass. Data says it should be more than 30 petrol stations in Padang and nearby surroundings. But we saw only 2 of them in operation, on our way from hotel to airport. We saw couples of petrol stations hit by earthquake. The rest of them was not in operation due to many reasons. This operating petrol station had a long queue, about 1 km in both directions. There were some armed-police guard to make sure the people's anger did not turn into riot. Everyone wanted to be a priority. Photo by: Kristupa Saragih

Tiba di SPBU antrian menyemut. Semua ingin didahulukan. Klakson-klakson menjerit-jerit memekakkan telinga. Perjalanan dilanjutkan ke Bandara Internasional Minangkabau, tempat tujuan akhir dalam rencana evakuasi rombongan. Perjalanan, yang dalam keadaan normal bisa ditempuh 30 menit, musti memakan waktu 5 jam. Lima jam yang penuh kepiluan, memandang keadaan sepanjang jalan.

Messages from Singapore Embassy in Jakarta to Chan Bin Kan. Singapore government takes care of their citizens, especially in emergency situation such as disaster in Padang and West Sumatra.

Messages from Singapore Embassy in Jakarta to Chan Bin Kan. Singapore government takes care of their citizens, especially in emergency situation such as disaster in Padang and West Sumatra.

Masing-masing pimpinan kontingen negara mengatur anggotanya masing-masing. Sungguh miris melihat tamu-tamu sejawat dari Singapura, Malaysia, Vietnam dan Filipina berada dalam situasi darurat, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Kondisi di bandara pun memprihatinkan, tidur seadanya di lantai dan fasilitas peturasan tak berfungsi.

Sebagai pimpinan seluruh acara saat itu rencana yang ada dalam benak saya adalah mengirim semua orang kembali ke rumah. Pimpinan kontingen Vietnam, Malaysia dan Filipina bergegas mengurus tiket ke kantor Air Asia.

Kontingen Singapura yang terbang dengan Tiger Airways mendapati kenyataan bahwa maskapai tersebut menghentikan operasi karena gempa. Mereka pun bergegas membeli tiket Air Asia tujuan Kuala Lumpur, bersambung dengan penerbangan ke Singapura.

Sebagian anggota rombongan yang enggan menginap di lantai bandara memilih mengungsi ke Bukittinggi dan tinggal di hotel berbintang di sana. Sementara saya dengan sisa anggota rombongan mengatur jadwal piket jaga koper dan tas kamera. Sejumlah rekan lain berburu air minum, di antara orang-orang yang berserak melepas lelah di lantai bandara.

Sekitar pukul 22 WIB, seluruh penumpang GA 165 dipanggil untuk masuk pesawat. Kabin penuh, tak ada kursi kosong. Sebagian besar penumpang adalah anak-anak dan orang tua. Beberapa penumpang adalah pasien, yang diantar dengan kursi roda. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Petang Hingga Malam Hari Kedua

Saya beruntung bisa menumpang pesawat Garuda penerbangan terakhir malam itu tujuan Jakarta. Sembari masih merasa was-was jika memang harus memberikan kursi untuk mendahulukan orang sakit, orang tua dan anak-anak untuk mengungsi. Tak percaya rasanya ketika bisa duduk di kursi belakang GA 165 Padang-Jakarta. Dan ketika kaki-kaki burung besi menjejak di Bandara Soekarno-Hatta, hanya ungkapan syukur yang bisa terucap.

At 12:54 PM local time. A lady and her kid, in front of ruins of their home. Looks like their car survived. Not sure what happen with her husband. Photo by: Kristupa Saragih

At 12:54 PM local time. A lady and her kid, in front of ruins of their home. Looks like their car survived. Not sure what happen with her husband. Photo by: Kristupa Saragih


Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Pagi Hari Kedua

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Siang Hari Kedua

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Petang Hingga Malam Hari Kedua

Advertisements

Publikasikan Foto-Foto Bentrok di PN Jaksel Secara Bijaksana

Satu foto bicara seribu kata. Seribu kata berarti berjuta interpretasi. Demikian besar potensi sebuah foto kepada mata yang memirsanya.

Ketika bentrok terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan hari ini, Rabu (29/9) ada banyak kamera yang merekam. Saat itu sedang terjadi sidang kasus perkelahian berdarah tempat hiburan malam Blowfish. Ada banyak wartawan yang meliput, berarti ada banyak pula kamera yang berada di sana.

Tak perlu menghitung kamera wartawan, saat ini hampir semua ponsel sudah dilengkapi kamera. Banyak pula ponsel pintar yang bisa memudahkan foto-foto langsung diunggah seketika ke jagat maya. Semua kemudahan dan fasilitas ini menuntut kita semakin arif menyikapinya.

Dalam kerja jurnalistik, pewarta foto memang bertugas merekam gambar dalam bentuk foto. Tentu, tak semua orang bisa menjadi pewarta foto yang bekerja resmi untuk media. Pewarta foto sudah dibekali kaidah-kaidah baku pemberitaan. Publikasi di media mereka pun musti melalui saringan para redaktur.

Kemudahan masa kini pulalah yang membuat siapapun yang memegang kamera bisa mempublikasikan foto ke jagat maya. Keadaan ini perlu disikapi secara bijaksana dan digunakan untuk tujuan-tujuan kebaikan. Dalam konteks kerja jurnalistik, paham-pahamnya jelas.

Tapi dalam konteks foto dibuat oleh khayalak awam, tentu perlu sikap bijaksana sebelum mempublikasikan. Ada jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook yang bisa dimanfaatkan dengan mudah. Ada pula fasilitas chat seperti berbagai jenis messenger, seperti Yahoo Messenger dan BlackBerry Messenger yang populer itu.

Korban bentrok di PN Jaksel yang berdarah-darah tentu adalah sebuah fakta. Tapi visualisasi dalam pemberitaan di media massa pasti dilakukan sesuai kaidah-kaidah baku pemberitaan. Demikian pula hendaknya kebijaksanaan senantiasa mengayomi siapapun juga yang memiliki foto tersebut tatkala hendak menyebarluaskan.

Kata kuncinya adalah publikasi alias sebar luas. Jika foto tersebut hanya berada di komputer atau ponsel untuk dilihat sendiri, tak masalah. Tapi, tentu berbeda hal manakala kita berniat hendak menyebarluaskannya.

Hendaknya kita selalu arif untuk menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Pewarta foto bekerja sesuai dengan tugasnya. Demikian pula kita, sesuai dengan tugas masing-masing. Ada kalanya seorang awam menempatkan dirinya sebagai citizen journalist, tentu dengan mengemban tanggung jawab dan pemahaman kaidah-kaidah jurnalistik.

Tanpa pemahaman kaidah yang benar, foto bisa menjadi senjata mematikan. Mematikan rasa, mematikan suasana, dan mungkin mematikan kesadaran. Seseorang berprofesi dokter bisa jadi tahan melihat darah, tapi bisa jadi seseorang kehilangan nafsu makan, bahkan muntah-muntah, melihat tetesan darah yang belum tentu juga darah manusia.

Kita tempatkan foto sebagai wahana untuk membuat kehidupan manusia lebih baik. Sebagai wahana pemberitaan, fotografi memberikan sejuta makna melalui sebuah foto. Agar kita, manusia, bisa melihat tanpa harus hadir secara fisik di tempat kejadian. Muaranya, agar kita bisa memetik pelajaran dan menyikapinya sesuai tugas kita masing-masing.


Camera Armor Lindungi Kamera Sekaligus Buat Penampilan Gagah

Tulisan pada tombol terlihat jelas, demikian pula layar LCD. Terlihat hot shoe juga terlindung rapi. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih
Camera Armor & Canon EOS 1D Mk III - Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor & Canon EOS 1D Mk III - Foto oleh: Kristupa Saragih

Semua fotografer setuju bahwa bodi kamera adalah alat penting dalam pekerjaan memotret. Harganya mahal dan musti dijaga baik-baik. Tanpa kamera, pasti tak bisa memotret.

Bodi Canon EOS 1D Mk III yang saya pakai memang sudah didesain untuk tahan berbagai situasi ekstrem. Selain kedap percikan air, juga kedap debu. Kamera kelas profesional ini memang sudah saya buktikan sendiri kehandalannya di lapangan.

Meski demikian, pekerjaan sebagai profesional menuntut fotografer siap di berbagai situasi, beragam kondisi dan situasi tak terduga. Sebagai sahabat sejati, tentu kamera harus dilindungi. Kamera musti tetap bisa ditembakkan dan musti selalu menghasilkan foto kualitas terbaik.

Warna hitam doff. LCD atas masih terlihat jelas. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Warna hitam doff. LCD atas masih terlihat jelas. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Urusan goresan bisa saja dianggap sederhana, tapi tentu sayang melihat kamera andalan penuh parutan di tubuhnya. Demikian juga pelindung layar LCD belakang yang tak cukup hanya selapis plastik tipis. Untuk fungsi-fungsi itu, saya mencoba memasangkan Camera Armor ke EOS 1D Mk III.

Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Tampak LCD atas dan LCD belakang bagian bawah terlihat jelas dan terlindung. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Tampak LCD atas dan LCD belakang bagian bawah terlihat jelas dan terlindung. Foto oleh: Kristupa Saragih

Proses pemasangan cukup sederhana, nggak ribet. Seperti memasangkan sarung pelindung pada ponsel. Bahan Camera Armor cukup elastis karena terbuat dari silikon. Ukurannya pas sehingga bisa mencengkeram erat bodi kamera.

Pelindung LCD berupa sekeping plastik kuat yang dikaitkan pada jendela bidik. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pelindung LCD berupa sekeping plastik kuat yang dikaitkan pada jendela bidik. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pelindung LCD berupa sekeping plastik kokoh. Bukan ditempelkan ke layar LCD seperti di ponsel, tapi dikaitkan ke jendela bidik (viewfinder). Sisi samping dan bawahnya dicengkeram oleh silikon Camera Armor.

Posisi tombol masih terlihat jelas dan berlabel. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Posisi tombol masih terlihat jelas dan berlabel. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Secara keseluruhan, bodi kamera jadi terlihat gagah. Apalagi Camera Armor berkelir hitam doff, bukan mengkilat, sehingga terkesan garang. Layar LCD terlihat jelas.

Tombol-tombol kamera sebagian besar tertutup oleh Camera Armor. Jangan kuatir, tulisan-tulisan keterangan tiap tombol tercantum pula di Camera Armor. Jadi tak perlu mengingat-ingat posisi dan fungsi tiap tombol.

Penekanan tombol pelepas rana (shutter release) memang perlu penyesuaian. Setelah dipasangi Camera Armor, sensitivitas jari telunjuk perlu disesuaikan untuk mengaktifkan fungsi autofocus dan melepas rana. Untuk kamera kelas profesional lain, sekelas seri EOS 1D dan 1Ds dengan tombol pelepas rana di posisi vertikal, berlaku pula penyesuaian yang sama.

Selebihnya, Camera Armor nyaman dipakai. Penampilan gagah. Satu set Camera Armor untuk Canon EOS 1D Mk III terdiri atas body armor, LCD shield, lens armor dan lens cap leash.

Satu set Camera Armor untuk Canon EOS 1D Mk III terdiri atas body armor, LCD shield, lens armor, dan lens cap leash. Foto oleh: Kristupa Saragih

Satu set Camera Armor untuk Canon EOS 1D Mk III terdiri atas body armor, LCD shield, lens armor, dan lens cap leash. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor direkomendasikan untuk fotografer profesional yang bekerja di luar studio dan luar ruangan. Pekerjaan yang membutuhkan Camera Armor seperti pewarta foto, fotografer pre-wedding di luar ruangan, travel photographer, fotografer petualangan alam bebas dan fotografer satwa.

Camera Armor memang impact-proof dan scratch-proof tapi tidak water-resistant. Meski seorang teman pernah mengguyur Canon EOS 1Ds Mk III dengan air tawar karena terguling di lumpur sawah, bukan berarti kamera aman dari siraman air. Kamera kita adalah sahabat setia kita, dan Camera Armor yang melindungi sahabat setia itu.

Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III dilengkapi dengan lens armor yang dipasang di bagian depan lensa. Hanya tersedia untuk lensa wide, yang pada foto ini berupa lensa Canon EF 17-40mm f/4L. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III dilengkapi dengan lens armor yang dipasang di bagian depan lensa. Hanya tersedia untuk lensa wide, yang pada foto ini berupa lensa Canon EF 17-40mm f/4L. Foto oleh: Kristupa Saragih

Perlu penyesuaian sensitivitas untuk menekan tombol pelepas rana. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Perlu penyesuaian sensitivitas untuk menekan tombol pelepas rana. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tulisan pada tombol terlihat jelas, demikian pula layar LCD. Terlihat hot shoe juga terlindung rapi. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tulisan pada tombol terlihat jelas, demikian pula layar LCD. Terlihat hot shoe juga terlindung rapi. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih


Menyongsong Canon PhotoMarathon 2010 Jakarta

Canon PhotoMarathon Indonesia

Canon PhotoMarathon Indonesia

Bukan lari maraton sambil memotret, tapi Canon PhotoMarathon 2010 adalah semacam ajang hunting foto bersama dengan rute tertentu. Garis start dan finish ditentukan, demikian pula waktu tempuh yang kudu dipatuhi. Rute tempuh berada dalam jarak tempuh nyaman untuk berjalan kaki di seputar lokasi.

Foto-foto hasil hunting langsung dinilai juri. Sementara juri menilai, para peserta PhotoMarathon bisa ikut sesi foto model tematis atau bersantai menikmati pertunjukan musik di tempat yang sama. Para pemenang diumumkan di akhir acara, pada hari yang sama.

Santai, casual dan menyenangkan. Demikian suasana yang terjadi di Canon PhotoMarathon 2009 di Jakarta. Berlokasi di Taman Fatahillah, tak sulit menjumpai subyek-subyek fotogenik di warisan budaya bersejarah ini.

Ada 1.028 peserta yang berpartisipasi di Canon PhotoMarathon 2009, demikian data resmi dari sumber di Datascrip, distributor Canon di Indonesia. Tak hanya peserta seputar Jabotabek, saya menjumpai banyak peserta dari Bandung dan Surabaya. Bahkan ada peserta dari Manado, Sulawesi Utara yang hadir hanya untuk Canon PhotoMarathon 2009.

Kemeriahan yang lebih menarik diperkirakan bakal terjadi di Canon PhotoMarathon 2010 pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010 di Central Park, Jakarta. Sintra Wong, Canon Division PT Datascrip, menyebutkan bahwa tempat akan disiapkan untuk mampu menampung 2.000 peserta. Sebuah jumlah yang cukup realistis jika melihat jumlah peserta tahun lalu dan populasi peminat fotografi di Indonesia.

Pada hari yang sama dengan acara di Jakarta, Canon PhotoMarathon 2010 juga digelar Canon Asia di Penang, Malaysia dan Chiang Mai, Thailand. Selengkapnya, Canon Asia menggelar Canon PhotoMarathon 2010 di 12 kota, di 6 negara. Selain Indonesia, PhotoMarathon digelar pula di Malaysia (Penang), 4 kota di Thailand (Khonkean, Phuket, Chiang Mai dan Bangkok), 2 kota di Vietnam (Hanoi dan Ho Chi Minh City), 3 kota di India (Delhi, Mumbai dan Bangalore), dan Singapura.

Canon PhotoMarathon digelar oleh Canon Asia sejak 2007 di 5 negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina. Para pemenang hadiah utama PhotoMarathon 2008 dikirim ikut Photo Clinic di Kyushu, Jepang. Tahun 2008 PhotoMarathon masih digelar di kelima negara yang sama, berhadiah Photo Clinic di South Island, Selandia Baru. Baru pada tahun 2009 India dan Indonesia masuk, tapi Filipina absen. Para pemenang hadiah utama 2009 dikirim ikut Photo Clinic di Jepang bagian tengah.

Para pemenang hadiah utama PhotoMarathon 2010 akan dikirim mengikuti PhotoClinic selama 8 hari di Turki. Sudah pasti Indonesia akan mengirimkan 2 pemenangnya untuk hunting foto di Turki bersama tutor Triston Yeo, fotografer profesional Singapura. Tentu, untuk memperoleh kesempatan itu, peserta harus hadir di Central Park, Jakarta.

Sebagai negara dengan populasi kamera digital yang besar di Asia, Indonesia layak diperhitungkan. Pertambahan populasi kamera digital di Indonesia diperkirakan terus berlipat ganda, meski belum ada data dan rilis resmi mengenai hal ini. Jika melihat jumlah anggota yang terdaftar di Fotografer.net sebanyak 320 ribu dan pertambahan anggota baru rata-rata 189 orang per hari, Indonesia layak diperhitungkan. Apalagi Fotografer.net adalah komunitas online fotografi terbesar di Asia Tenggara.

Kita buktikan Indonesia berjaya tak hanya dalam jumlah populasi, tapi juga berwibawa karena karya-karya fotografi berkualitas wahid.


Foto: Pawai Malam Takbiran Idul Fitri 1431H di Jogja

Pawai lampion di Alun-alun Utara Yogyakarta. Salah satu maskot lampion yang paling banyak dipakai adalah karakter sebuah film kartun anak-anak. Foto oleh: Kristupa Saragih
Pawai lampion di Alun-alun Utara Yogyakarta. Salah satu maskot lampion yang paling banyak dipakai adalah karakter sebuah film kartun anak-anak. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pawai lampion meriahkan malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta, Kamis (9/9). Salah satu maskot lampion yang paling banyak dipakai adalah karakter sebuah film kartun anak-anak. Foto oleh: Kristupa Saragih

Malam takbiran selalu dinanti. Pertanda bulan Ramadhan berakhir, Syawal dimulai. Yogyakarta menandainya, antara lain, dengan pawai lampion.

Di Kota Budaya ini banyak sejarah terukir. Banyak hal yang bermula dari Yogyakarta, hingga Bung Karno menyebutnya pula sebagai Kota Revolusi pada masa perjuangan. Ketika waktu bergulir dan jaman berganti, Yogyakarta pun ikut mengalir.

Bintang besar menjadi kepala sebuah iring-iringan rombongan pawai lampion pada malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta, Kamis (9/9). Foto oleh: Kristupa Saragih

Bintang besar menjadi kepala sebuah iring-iringan rombongan pawai lampion pada malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta, Kamis (9/9). Foto oleh: Kristupa Saragih

Tetabuhan bersahut-sahutan meriahkan pawai lampion di Alun-alun Utara Yogyakarta pada malam takbiran, Kamis malam (9/9). Foto oleh: Kristupa Saragih

Tetabuhan bersahut-sahutan meriahkan pawai lampion di Alun-alun Utara Yogyakarta pada malam takbiran, Kamis (9/9). Foto oleh: Kristupa Saragih

Masyarakat dari berbagai usia ikut ambil bagian dalam pawai lampion memeriahkan malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta, Kamis (9/9). Foto oleh: Kristupa Saragih

Masyarakat dari berbagai usia ikut ambil bagian dalam pawai lampion memeriahkan malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta, Kamis (9/9). Foto oleh: Kristupa Saragih

Gadis-gadis kecil berjilbab dan lampion mereka memeriahkan malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta, Kamis (9/9). Foto oleh: Kristupa Saragih

Gadis-gadis kecil berjilbab dan lampion mereka memeriahkan malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta, Kamis (9/9). Foto oleh: Kristupa Saragih


Keceriaan di Tukad Unda, Bali dan Tanggung Jawab Fotografer

Splash Time. Kids at play in Tukad Unda, Klungkung, Bali. Photo by: Kristupa Saragih
Splash Time. Kids at play in Tukad Unda, Klungkung, Bali. Photo by: Kristupa Saragih

Splash Time. Kids at play in Tukad Unda, Klungkung, Bali. Photo by: Kristupa Saragih

Bendung bisa ada di mana-mana, tapi bendung dengan tampilan fotogenik bisa jadi baru ada di Tukad Unda, Klungkung, Bali. Kali pertama memotret di bendung Tukad Unda tahun 2003, belum banyak fotografer yang mengeksplorasinya. Tapi begitu cepat informasi meluas, banyak rekan fotografer yang sudah memenangi hadiah dan medali hasil memotret di bendung ini.

Anak-anak di Tukad Unda sudah paham benar peluang dari fotografer. Begitu kendaraan diparkir dan pintu dibuka, anak-anak berkerubung mendekat. “Foto, Pak. Foto, Bu. Lima ribu (Rupiah) sekali lompat,” ujar anak-anak itu menawarkan jasa.

Sedih rasanya melihat mereka mencari uang di saat mereka mustinya masih menikmati hakikat usia bermain dan belajar. Tapi, senang juga lantaran tak perlu sulit mencari model untuk difoto. Apalagi mereka pun paham cara menampilkan aksi-aksi atraktif di bendung.

Rekan-rekan fotografer kiranya paham konsekuensi datang ke suatu lokasi dan mempublikasikan foto-foto lokasi tersebut. Bahwa suatu lokasi kelak bisa jadi ramai didatangi fotografer-fotografer lain. Demikian pula pemahaman atas konsekuensi atas pemberian imbalan uang kepada orang yang menjadi subyek foto.

Keputusan untuk memberi maupun tak memberi tentu terpulang kepada tiap fotografer. Tiap orang, tiap lokasi dan tiap kepentingan tentu tak berkeputusan yang sama. Tapi, hal yang paling jelas dan digarisbawahi adalah menjadi fotografer yang bertanggung jawab.

Bertanggung jawab dalam arti tak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga mempertimbangkan konsekuensi kehadiran fotografer di suatu tempat. Itu berarti pula memikirkan pula rekan-rekan fotografer lain yang akan hadir di tempat tersebut kelak.

Lebih jauh lagi, konsekuensi terhadap penduduk lokal atas hal-hal yang mereka lihat pada diri fotografer. Demikian pula konsekuensi terhadap lingkungan setempat atas hal-hal yang diperbuat fotografer di tempat tersebut, atas isu pelestarian lingkungan dan kemungkinan tempat tersebut kelak dilirik kepentingan bisnis.

Be a responsible photographer.


Original post of the picture above in Fotografer.net: Splash Time


Sirui N-1204, A Lightweight 4-Sections Carbon-Fiber Tripod

Sirui N-1204 tripod and Sirui Ballhead G-20 at sunrise shooting in Angkor Wat, Siem Reap, Cambodia
Sirui N-1204 tripod and Sirui Ballhead G-20 at sunrise shooting in Angkor Wat, Siem Reap, Cambodia. Photo by: Kristupa Saragih

Sirui N-1204 tripod and Sirui Ballhead G-20 at sunrise shooting in Angkor Wat, Siem Reap, Cambodia. Photo by: Kristupa Saragih

Talking about tripod, photographer always needs a light one but yet strong. A tripod must be compact when folded but tall enough when needed. In most of the criteria, Sirui N-1204 matches all of them.

Sirui N-1204’s angle-adjusting button is comfortable and easy to use - Photo by: Kristupa Saragih

Sirui N-1204’s angle-adjusting button is comfortable and easy to use - Photo by: Kristupa Saragih

Physically, Sirui N-1204 looks like a pricey tripod. It looks like a typical carbon-fiber tripod which costs a lot. Its build quality, material and accessories enforce the notion of it.

If one says that IDR 2,000,000 is a lot, it’s like half or one-third of the price of other carbon-fiber tripods. Let’s take a look at some important specifications that Sirui N-1204 has.

A 4-section thing is essential for traveling and storage. It saves space. It weighs as low as 1 kg only. Contrastingly, Sirui N-1204 may handle total load of gear up to 10 kg. It may handle Canon EOS 1D Mk IV weighs 1.18 kg and Canon EF 400mm f/2.8L IS weighs 5.31 kg.

This tripod is a tube-locking type. It might bring you to your personal preference of leg lock. Anyway, N-1204 angle-adjusting button is comfortable and easy to use. Each leg of tripod can be adjusted to three different supporting angles.

Sirui N-1204 minimum height of 160mm. Photo by: Kristupa Saragih

Sirui N-1204 minimum height of 160mm. Photo by: Kristupa Saragih

Should you need a low angle shooting, N-1204 features a reversible center column. As found in my brand and type of tripods, the reversing procedure is similar and easy. The center column has a hook to hang some stable articles for steadiness.

An important thing about Sirui tripod family is their additional feature of knock-down monopod. Well, it’s hard to find a carbon-fiber monopod, tough. But it’s easy to disassemble knock-down leg of the tripod and assemble it to be a monopod.

Additional mounting screw and mounting platform for monopod come along with the complete set. They are packed in a small tripod bag, which is included as a package. There is also a complete package which includes ball head.

Sirui N-1204 Specification

Sirui N-1204 Specification

Say the package includes Sirui G-20 ball head, it means the head adds an extra  0.4 kg weight, which is not much. As an addition, actual maximum load of this head is up to 20 kg. It also features a bubble level for horizontal adjustment.

Sirui N-1204 is recommended for traveling photographer for its compact size and sturdy structure. This tripod is also recommended for urban photographer for its simple operation and light weight. Any price-sensitive photographer may consider this carbon-fiber tripod for its low price.

Sirui N-1204 carbon-fiber tripod has sturdy design. Photo by: Kristupa Saragih

Sirui N-1204 carbon-fiber tripod has sturdy design. Photo by: Kristupa Saragih

Sirui N-1204 knock-down monopod when completely assembled with mounting plate and mounting screw. Photo by: Kristupa Saragih

Sirui N-1204 knock-down monopod when completely assembled with mounting plate and mounting screw. Photo by: Kristupa Saragih

Sirui N-1204 also features a knock-down monopod complete with its mounting screw and mounting plate. Photo by: Kristupa Saragih

Sirui N-1204 also features a knock-down monopod complete with its mounting screw and mounting plate. Photo by: Kristupa Saragih

N-1204 also comes in a package where Sirui G-20 ballhead is included, maximum load up to 20 kg. Photo by: Kristupa Saragih

N-1204 also comes in a package where Sirui G-20 ballhead is included, maximum load up to 20 kg. Photo by: Kristupa Saragih


One Fine Morning in Kedonganan Fishing Village, Bali

Teamwork. Pushing the traditional fishing boat after the fishermen of Kedonganan deliver their catch of the day. Photo by: Kristupa Saragih
Teamwork. Pushing the traditional fishing boat after the fishermen of Kedonganan deliver their catch of the day. Photo by: Kristupa Saragih

Teamwork. Pushing the traditional fishing boat after the fishermen of Kedonganan deliver their catch of the day. Photo by: Kristupa Saragih

Bali tak hanya gemerlap lintasan Kuta, Legian, Seminyak, Kerobokan hingga Petitenget. Bukan juga hanya kemewahan hotel, resor dan vila di lintasan Jimbaran, Nusa Dua, Ungasan hingga Uluwatu. Bali pun tak hanya kedamaian alam di Ubud, Kintamani dan Bedugul.

Hanya sepelemparan batu dari Jimbaran terhampar desa nelayan Kedonganan. Desa nelayan sederhana yang diapit Bandara Internasional Ngurah Rai nan sibuk dan restoran-restoran nan romantis di tepi pantai Jimbaran kala malam hari. Fenomena kontras ini sebelah-menyebelah dalam radius tak lebih dari 3 km.

Lelaki-lelaki nelayan melaut di malam hari dan merapat ketika mentari terbit. Sementara para wanita berdagang di pasar ikan tradisional, para lelaki merawat perahu dan memperbaiki jala. Selebihnya, Kedonganan hanya desa kecil yang sepi dan damai.

Tahun 2002, kali pertama saya mengunjungi Kedonganan, para nelayan didominasi orang-orang asal Lombok. Sementara pada kunjungan pada akhir Agustus 2010 ini, terlihat dominasi orang-orang Jawa. Logat Jawa Timur medhok terdengar kental di antara perahu-perahu jukung tradisional yang sandar.

Tapi tak hanya nelayan-nelayan asal Banyuwangi, Jawa Timur, karena terdengar juga logat Jawa ngapak-ngapak khas pantai utara Jawa Tengah di antara mereka. Beberapa perempuan yang berjualan nasi dan minuman hangat mengaku berasal dari Lumajang, kota pegunungan di Jawa Timur bagian selatan.

Secara fotografis, desa nelayan Kedonganan adalah tempat wajib kunjung bagi penyuka foto-foto human interest. Tibalah di sana tak berapa lama setelah matahari terbit, ketika para nelayan merapat. Rekam aktivitas pengangkutan ikan dan perdagangan di pasar ikan tradisional.

Lensa lebar maupun tele sama-sama ampuh untuk dipakai di sini. Jika beruntung mendapat langit biru, filter circular polarizing (CPL) adalah hal wajib. Tapi, menggaris bawahi semua saran fotografi, berlaku santun dan low profile selama di Kedonganan akan mendatangkan kenyamanan dan foto-foto bagus.

Maintenance. Fixing the fishing net during free time after the fishermen of Kedonganan landed their fishing boats and deliver their catch of the day to fish market nearby. Photo by: Kristupa Saragih

Maintenance. Fixing the fishing net during free time after the fishermen of Kedonganan landed their fishing boats and deliver their catch of the day to fish market nearby. Photo by: Kristupa Saragih

Good Business. Fish trading in Kedonganan is mainly held by the ladies, while the rugged gentlemen prefer to take care of the boat and their fishing journey. Photo by: Kristupa Saragih

Good Business. Fish trading in Kedonganan is mainly held by the ladies, while the rugged gentlemen prefer to take care of the boat and their fishing journey. Photo by: Kristupa Saragih

Transporting. From bigger fishing boats to smaller boats then on foot to the fish market of Kedonganan. Photo by: Kristupa Saragih

Transporting. From bigger fishing boats to smaller boats then on foot to the fish market of Kedonganan. Photo by: Kristupa Saragih

Transaction. Kedonganan's traditional fish market is one of important fish market in Bali although there is no offical record of daily total transaction being held here. Photo by: Kristupa Saragih

Transaction. Kedonganan's traditional fish market is one of important fish market in Bali although there is no offical record of daily total transaction being held here. Photo by: Kristupa Saragih

Shopping. Traditional fish market of Kedonganan provides supply to restaurants in nearby Jimbaran area as well as visiting customers. Photo by: Kristupa Saragih

Shopping. Traditional fish market of Kedonganan provides supply to restaurants in nearby Jimbaran area as well as visiting customers. Photo by: Kristupa Saragih

Kids at Play. These children are the future fishermen of their family, who were born and grow up in Kedonganan. Photo by: Kristupa Saragih

Kids at Play. These children are the future fishermen of their family, who were born and grow up in Kedonganan. Photo by: Kristupa Saragih

Bertetangga dengan Desa Kedonganan adalah Desa Kelan. Keduanya masih berada di wilayah administratif Kecamatan Kuta, Badung, Bali tapi Desa Kelan berada di wilayah Kelurahan Tuban. Ujung desa nelayan Kedonganan berakhir di Kelan, yang sebagian besar wilayahnya sudah menjadi milik Angkasa Pura, pengelola Bandara Internasional Ngurah Rai.

Dari Kelan, yang berjarak tak lebih dari 500 meter, terlihat jelas pesawat yang sedang taxi di landas pacu Ngurah Rai. Di sini juga dijumpai beberapa meriam kuno jaman kolonial. Dan di sini pula telah terpancang papan bergambar rencana pengembangan Desa Adat Kelan.

Tak disebutkan nama bangunan megah yang gambarnya terpampang di papan berjudul “Perencanaan Penataan & Pengelolaan Pantai Desa Adat Kelan” itu. Sekiranya bangunan itu berdiri, entah apa yang terjadi dengan desa nelayan Kedonganan. Desa sederhana nan damai ini terlihat kontras dengan bangunan megah itu, jika tak hendak dibilang tak berdaya.

Secara fotografi, tak terlalu penting lantaran hanya fotografer yang kehilangan tempat memotret kehidupan nelayan yang humanis. Tapi secara mata pencaharian, tentu perlu ada yang serius memikirkan kehidupan para nelayan Kedonganan selanjutnya. Kehidupan para pelaut bangsa ini sudah disegani jagat bahari sejak ratusan tahun lalu.

nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai

The Future or The End? In neighbouring village of Kelan, there is a billboard showing the development plan of the area. It looks like more to tourism industry rather than something that supports fishing business. This billboard stands less than 1 km away from Ngurah Rai International Airport of Bali. Photo by: Kristupa Saragih

The Future or The End? In neighbouring village of Kelan, there is a billboard showing the development plan of the area. It looks like more to tourism industry rather than something that supports fishing business. This billboard stands less than 1 km away from Ngurah Rai International Airport of Bali, as taken on Sunday, Aug 29, 2010. Photo by: Kristupa Saragih