Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

One Fine Morning in Kedonganan Fishing Village, Bali

Teamwork. Pushing the traditional fishing boat after the fishermen of Kedonganan deliver their catch of the day. Photo by: Kristupa Saragih

Teamwork. Pushing the traditional fishing boat after the fishermen of Kedonganan deliver their catch of the day. Photo by: Kristupa Saragih

Bali tak hanya gemerlap lintasan Kuta, Legian, Seminyak, Kerobokan hingga Petitenget. Bukan juga hanya kemewahan hotel, resor dan vila di lintasan Jimbaran, Nusa Dua, Ungasan hingga Uluwatu. Bali pun tak hanya kedamaian alam di Ubud, Kintamani dan Bedugul.

Hanya sepelemparan batu dari Jimbaran terhampar desa nelayan Kedonganan. Desa nelayan sederhana yang diapit Bandara Internasional Ngurah Rai nan sibuk dan restoran-restoran nan romantis di tepi pantai Jimbaran kala malam hari. Fenomena kontras ini sebelah-menyebelah dalam radius tak lebih dari 3 km.

Lelaki-lelaki nelayan melaut di malam hari dan merapat ketika mentari terbit. Sementara para wanita berdagang di pasar ikan tradisional, para lelaki merawat perahu dan memperbaiki jala. Selebihnya, Kedonganan hanya desa kecil yang sepi dan damai.

Tahun 2002, kali pertama saya mengunjungi Kedonganan, para nelayan didominasi orang-orang asal Lombok. Sementara pada kunjungan pada akhir Agustus 2010 ini, terlihat dominasi orang-orang Jawa. Logat Jawa Timur medhok terdengar kental di antara perahu-perahu jukung tradisional yang sandar.

Tapi tak hanya nelayan-nelayan asal Banyuwangi, Jawa Timur, karena terdengar juga logat Jawa ngapak-ngapak khas pantai utara Jawa Tengah di antara mereka. Beberapa perempuan yang berjualan nasi dan minuman hangat mengaku berasal dari Lumajang, kota pegunungan di Jawa Timur bagian selatan.

Secara fotografis, desa nelayan Kedonganan adalah tempat wajib kunjung bagi penyuka foto-foto human interest. Tibalah di sana tak berapa lama setelah matahari terbit, ketika para nelayan merapat. Rekam aktivitas pengangkutan ikan dan perdagangan di pasar ikan tradisional.

Lensa lebar maupun tele sama-sama ampuh untuk dipakai di sini. Jika beruntung mendapat langit biru, filter circular polarizing (CPL) adalah hal wajib. Tapi, menggaris bawahi semua saran fotografi, berlaku santun dan low profile selama di Kedonganan akan mendatangkan kenyamanan dan foto-foto bagus.

Maintenance. Fixing the fishing net during free time after the fishermen of Kedonganan landed their fishing boats and deliver their catch of the day to fish market nearby. Photo by: Kristupa Saragih

Maintenance. Fixing the fishing net during free time after the fishermen of Kedonganan landed their fishing boats and deliver their catch of the day to fish market nearby. Photo by: Kristupa Saragih

Good Business. Fish trading in Kedonganan is mainly held by the ladies, while the rugged gentlemen prefer to take care of the boat and their fishing journey. Photo by: Kristupa Saragih

Good Business. Fish trading in Kedonganan is mainly held by the ladies, while the rugged gentlemen prefer to take care of the boat and their fishing journey. Photo by: Kristupa Saragih

Transporting. From bigger fishing boats to smaller boats then on foot to the fish market of Kedonganan. Photo by: Kristupa Saragih

Transporting. From bigger fishing boats to smaller boats then on foot to the fish market of Kedonganan. Photo by: Kristupa Saragih

Transaction. Kedonganan's traditional fish market is one of important fish market in Bali although there is no offical record of daily total transaction being held here. Photo by: Kristupa Saragih

Transaction. Kedonganan's traditional fish market is one of important fish market in Bali although there is no offical record of daily total transaction being held here. Photo by: Kristupa Saragih

Shopping. Traditional fish market of Kedonganan provides supply to restaurants in nearby Jimbaran area as well as visiting customers. Photo by: Kristupa Saragih

Shopping. Traditional fish market of Kedonganan provides supply to restaurants in nearby Jimbaran area as well as visiting customers. Photo by: Kristupa Saragih

Kids at Play. These children are the future fishermen of their family, who were born and grow up in Kedonganan. Photo by: Kristupa Saragih

Kids at Play. These children are the future fishermen of their family, who were born and grow up in Kedonganan. Photo by: Kristupa Saragih

Bertetangga dengan Desa Kedonganan adalah Desa Kelan. Keduanya masih berada di wilayah administratif Kecamatan Kuta, Badung, Bali tapi Desa Kelan berada di wilayah Kelurahan Tuban. Ujung desa nelayan Kedonganan berakhir di Kelan, yang sebagian besar wilayahnya sudah menjadi milik Angkasa Pura, pengelola Bandara Internasional Ngurah Rai.

Dari Kelan, yang berjarak tak lebih dari 500 meter, terlihat jelas pesawat yang sedang taxi di landas pacu Ngurah Rai. Di sini juga dijumpai beberapa meriam kuno jaman kolonial. Dan di sini pula telah terpancang papan bergambar rencana pengembangan Desa Adat Kelan.

Tak disebutkan nama bangunan megah yang gambarnya terpampang di papan berjudul “Perencanaan Penataan & Pengelolaan Pantai Desa Adat Kelan” itu. Sekiranya bangunan itu berdiri, entah apa yang terjadi dengan desa nelayan Kedonganan. Desa sederhana nan damai ini terlihat kontras dengan bangunan megah itu, jika tak hendak dibilang tak berdaya.

Secara fotografi, tak terlalu penting lantaran hanya fotografer yang kehilangan tempat memotret kehidupan nelayan yang humanis. Tapi secara mata pencaharian, tentu perlu ada yang serius memikirkan kehidupan para nelayan Kedonganan selanjutnya. Kehidupan para pelaut bangsa ini sudah disegani jagat bahari sejak ratusan tahun lalu.

nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai

The Future or The End? In neighbouring village of Kelan, there is a billboard showing the development plan of the area. It looks like more to tourism industry rather than something that supports fishing business. This billboard stands less than 1 km away from Ngurah Rai International Airport of Bali. Photo by: Kristupa Saragih

The Future or The End? In neighbouring village of Kelan, there is a billboard showing the development plan of the area. It looks like more to tourism industry rather than something that supports fishing business. This billboard stands less than 1 km away from Ngurah Rai International Airport of Bali, as taken on Sunday, Aug 29, 2010. Photo by: Kristupa Saragih

13 responses

  1. retnodevil

    aduhhh asyiknya…. fotonya bagus, tapi bahasa teksnya lebih menarik imajinasiku🙂
    tengkiu Kris.. kapan2 aku ke sana..

    September 3, 2010 at 4:32 PM

    • Thanks sudah berkunjung, Retno🙂
      Berkunjung pulalah ke Kedonganan sebelum desa itu jadi sejarah

      September 3, 2010 at 4:42 PM

  2. harni hapsari

    nicely captured. was living there for about 3 years and kedonganan fish market is a weekly destination to fill my fridge with fresh snapper, prawn and squid

    September 3, 2010 at 5:03 PM

    • What a wonderful live in Bali🙂

      September 3, 2010 at 5:08 PM

  3. Saya sepakat banget sama ini: “Tapi, menggaris bawahi semua saran fotografi, berlaku santun dan low profile selama di Kedonganan akan mendatangkan kenyamanan dan foto-foto bagus.”

    Photography is about approach.🙂

    September 3, 2010 at 6:00 PM

    • Matur nuwun, Paman

      September 4, 2010 at 1:52 AM

  4. Srinarno

    “…. karena terdengar juga logat Jawa ngapak-ngapak khas pantai utara Jawa Tengah di antara mereka …”. Hmmm, bukan hanya foto2 dan momentnya yang bagus, tapi tradisi multi-kultural disana juga kuat. Hope to be there on my next trip to Bali.

    September 4, 2010 at 3:33 AM

    • Tempatnya bagus, Pak
      Tak jauh dari restoran2 ikan bakar di Jimbaran

      September 4, 2010 at 11:01 AM

  5. Narasinya luar biasa, terus terang tidak samapi pikiranku bisa membuat cerita semenarik ini dengan gaya bahasa yang sangat imaginatif. salut bang..

    Foto2nya keren bang..🙂

    September 4, 2010 at 10:44 AM

    • Terimakasih sudah mampir, Bung
      Terimakasih atas apresiasinya
      Salam untuk kawan-kawan di Jayapura

      September 4, 2010 at 11:02 AM

  6. Adji NT

    Para ‘regulator’ itu belum tentu bisa mengakomodasi kepentingan nelayan dan kulturnya, seringkali kurang pas… bahkan tidak pas sama sekali… dan destruktif pada akhirnya… Kultur di bangun dengan hati nurani, pemahaman sejarah, toleransi… itu jarang dimiliki oleh para ‘regulator’ saat ini..

    September 11, 2010 at 9:56 AM

  7. Refleksi yang bagus

    September 14, 2010 at 12:54 PM

  8. Foto-foto dan cerita yang sangat menarik Bang. Akhir Desember 2009 kemaren saya juga sempat ke salah satu perkampungan di Jimbaran dan mengambil beberapa foto nelayan-nelayan disana, tapi sayang bukan di Kedonganan. Pada kesempatan lain di kemudian hari bila berkunjung kembali ke Bali, saya akan mengunjungi Kedonganan – terinspirasi dari cerita dan foto-foto Abang.
    Salam kenal dari Medan Bang!

    November 5, 2010 at 9:12 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s