Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Publikasikan Foto-Foto Bentrok di PN Jaksel Secara Bijaksana

Satu foto bicara seribu kata. Seribu kata berarti berjuta interpretasi. Demikian besar potensi sebuah foto kepada mata yang memirsanya.

Ketika bentrok terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan hari ini, Rabu (29/9) ada banyak kamera yang merekam. Saat itu sedang terjadi sidang kasus perkelahian berdarah tempat hiburan malam Blowfish. Ada banyak wartawan yang meliput, berarti ada banyak pula kamera yang berada di sana.

Tak perlu menghitung kamera wartawan, saat ini hampir semua ponsel sudah dilengkapi kamera. Banyak pula ponsel pintar yang bisa memudahkan foto-foto langsung diunggah seketika ke jagat maya. Semua kemudahan dan fasilitas ini menuntut kita semakin arif menyikapinya.

Dalam kerja jurnalistik, pewarta foto memang bertugas merekam gambar dalam bentuk foto. Tentu, tak semua orang bisa menjadi pewarta foto yang bekerja resmi untuk media. Pewarta foto sudah dibekali kaidah-kaidah baku pemberitaan. Publikasi di media mereka pun musti melalui saringan para redaktur.

Kemudahan masa kini pulalah yang membuat siapapun yang memegang kamera bisa mempublikasikan foto ke jagat maya. Keadaan ini perlu disikapi secara bijaksana dan digunakan untuk tujuan-tujuan kebaikan. Dalam konteks kerja jurnalistik, paham-pahamnya jelas.

Tapi dalam konteks foto dibuat oleh khayalak awam, tentu perlu sikap bijaksana sebelum mempublikasikan. Ada jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook yang bisa dimanfaatkan dengan mudah. Ada pula fasilitas chat seperti berbagai jenis messenger, seperti Yahoo Messenger dan BlackBerry Messenger yang populer itu.

Korban bentrok di PN Jaksel yang berdarah-darah tentu adalah sebuah fakta. Tapi visualisasi dalam pemberitaan di media massa pasti dilakukan sesuai kaidah-kaidah baku pemberitaan. Demikian pula hendaknya kebijaksanaan senantiasa mengayomi siapapun juga yang memiliki foto tersebut tatkala hendak menyebarluaskan.

Kata kuncinya adalah publikasi alias sebar luas. Jika foto tersebut hanya berada di komputer atau ponsel untuk dilihat sendiri, tak masalah. Tapi, tentu berbeda hal manakala kita berniat hendak menyebarluaskannya.

Hendaknya kita selalu arif untuk menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Pewarta foto bekerja sesuai dengan tugasnya. Demikian pula kita, sesuai dengan tugas masing-masing. Ada kalanya seorang awam menempatkan dirinya sebagai citizen journalist, tentu dengan mengemban tanggung jawab dan pemahaman kaidah-kaidah jurnalistik.

Tanpa pemahaman kaidah yang benar, foto bisa menjadi senjata mematikan. Mematikan rasa, mematikan suasana, dan mungkin mematikan kesadaran. Seseorang berprofesi dokter bisa jadi tahan melihat darah, tapi bisa jadi seseorang kehilangan nafsu makan, bahkan muntah-muntah, melihat tetesan darah yang belum tentu juga darah manusia.

Kita tempatkan foto sebagai wahana untuk membuat kehidupan manusia lebih baik. Sebagai wahana pemberitaan, fotografi memberikan sejuta makna melalui sebuah foto. Agar kita, manusia, bisa melihat tanpa harus hadir secara fisik di tempat kejadian. Muaranya, agar kita bisa memetik pelajaran dan menyikapinya sesuai tugas kita masing-masing.

4 responses

  1. dwi

    benar mas.😀 saya setuju…
    dan ngakunya citizen journalist. kalaupun mau katakanlah publikasi foto kan tidak semuanya ditampilkan. hanya secara personal melakukan seleksi foto sebelum mereka mempublikasi fotonya melalui jejaring sosial.

    September 29, 2010 at 7:11 PM

  2. Betul banget bang
    Banyak teman2 share dengan TIDAK menggunakan etika jurnalistik..takutnya menyerempet ke arah yang lain..
    Mengingat pengguna jejaring sosial kebanyakan anak kecil..

    September 30, 2010 at 12:08 PM

  3. Bagi yang sudah terbiasa “melihat darah” mungkin gambar gambar bentrokan di PN Jaksel itu dianggap sebagai hal yang biasa, tapi bagi yang tidak terbiasa melihat pemandangan seperti itu, sepertinya (maaf) bikin perut mual.
    Saya pernah lihat foto-foto di blog kawan, belum sampai loading selesai keburu saya tutup, bukan apa-apa, sebagai sesama manusia saya merasa tidak tega.
    Jadi, saya setuju, harus lebih bijaksana, walau “hanya” bicara bahasa gambar.
    Terimakasih

    October 11, 2010 at 4:31 PM

  4. setuju dan mulai selektif untuk menampilkan foto-foto di socialmedia. Thanks atas artikelnya.

    September 17, 2011 at 9:27 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s