Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Mengenang Gempa Sumbar Setahun Lalu Rabu, 30 September 2009

Rabu, 30 September 2009
Sebagian peserta rombongan fotografer 5 negara di photo hunting trip Crossing Bridges VI 2009 West Sumatra (CB 6) masih berada di arena balap sapi “pacu jawi” di Kabupaten Tanah Datar. Saya dan Daniel, seorang peserta kontingen Singapura, berada di RS Umum Daerah (RSUD) MA Hanafiah di Batusangkar membawa Liao Mao Lin, peserta kontingen Vietnam. Liao Mao Lin, yang akrab dipanggil Quanman, mengalami musibah tertabrak sapi pacu jawi ketika ia sedang memotret di tepi arena. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama
Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tak ada yang menyangka hari itu adalah hari yang luar biasa, Rabu, 30 September 2009. Saya bersama rombongan 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi Crossing Bridges diterima ramah oleh Muspida Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Pak Bupati dan Ketua DPRD bertopi ala koboi menyambut ramah bersama Komandan Korem dan Kepala Polisi Resort Tanah Datar bersama ninik mamak nagari-nagari setempat.

Acara hunting foto dan pacu jawi berlangsung seru sampai Quanman, seorang peserta kontingen Vietnam terluka karena tertabrak sapi yang sedang berlaga. Seluruh rombongan surut kembali ke bis dan membawa rekan yang terluka ke rumah sakit terdekat. Karena perlengkapan tak memadai, lantas rekan tersebut dirujuk ke rumah sakit di Padang.

Saya bersama Madoca, rekan kontingen Vietnam menemani Quanman di dalam ambulans. Peserta-peserta lain berada di bis rombongan di belakang kami. Dari Batusangkar menuju Padang, selepas Padang Panjang jalan berkelok-kelok. Sejurus kemudian keempat ban mobil ambulans terasa seolah kempes bersamaan. Orang-orang berhamburan ke luar rumah hingga terjatuh. Pengendara-pengendara sepeda motor bertumbangan, pohon-pohon kelapa dan tiang-tiang listrik berayun-ayun seperti metronom.

17:18 WIB: Gempa Terjadi di Sumatra Barat!
Ambulans sedang meluncur, menyusuri jalan menuju Padang. Berkelok-kelok di lalu lintas yang rada padat. Lampu sirine dinyalakan agar memperoleh prioritas jalan, dan alarm dibunyikan sesekali. Kota Padang Panjang baru saja dilewati. Tiba-tiba saya merasa seolah-olah ban mobil kempes. Pikir saya, “Kenapa bisa keempat-empat ban kempes dalam waktu bersamaan?” – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama

Few seconds after earthquake happenned, I updated my Facebook status. I thought I must do that before cellular networks down due to heavy traffic or damaged.

Few seconds after earthquake happenned, I updated my Facebook status. I thought I must do that before cellular networks down due to heavy traffic or damaged.

Gempa terjadi di Sumatra Barat, pada hari Rabu, 30 September 2009 jam 17:18 WIB.

Dan semuanya berubah. Orang-orang panik. Jalan tertimbun tanah longsor. Ambulans ambil jalan memutar  untuk menuju Padang. Pemandangan di pinggir jalan sungguh memiriskan hati. Paramedis di ambulans menyuntikkan pain-killer secara teratur ke Quanman.

Masuk Padang, lalu lintas macet. Sirene ambulans tak berarti. Semua memang dalam situasi darurat, dan semua merasa harus didahulukan. Hujan turun menyiram reruntuhan Ranah Minang malam itu.

Hotel Best Western Premier Basko tempat kami menginap masih berdiri utuh, tapi tak bisa dimasuki. Tak aman. Interior ruangan rusak. Listrik padam, gelap gulita dan air menggenang karena hujan deras masuk melalui kaca-kaca yang pecah.

Jaringan komunikasi putus. Telepon seluler tak berfungsi. Kami putus kontak dengan rombongan besar. Malam itu kami mengungsi di rumah milik karyawan hotel. Baju basah karena hujan bercampur keringat.

Roadblock in a junction near Indarung blocked the ambulance from getting a priority to pass through. Photo by: Kristupa Saragih

Roadblock in a junction near Indarung blocked the ambulance from getting a priority to pass through. Photo by: Kristupa Saragih

Tidur di lantai, di kegelapan dan kedinginan, memang tak nyenyak. Bangun subuh keesokan harinya, hanya ada satu hal dalam kepala, mengumpulkan seluruh anggota rombongan dan siapkan evakuasi.

06:18 WIB: Sarapan di Dapur Darurat Basko Hotel
Haus mendera, karena sejak semalam tidak minum. Saya pun minta air mineral ke karyawan hotel. Oleh para karyawan yang baik itu, saya dan Madoca malah diarahkan ke dapur darurat di bagian belakang hotel. Ada beberapa botol kecil air mineral dan dua kerat roti dan kue. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Pagi Hari Kedua

Waiting to be called to evacuate personal belongings inside hotel rooms. Photo by: Kristupa Saragih

Waiting to be called to evacuate personal belongings inside hotel rooms. Photo by: Kristupa Saragih

Kembali ke hotel, berkoordinasi dengan petugas, akhirnya evakuasi barang-barang peserta bisa dilakukan. Rombongan besar merapat tak lama kemudian. Rekan-rekan sesama kontingen Indonesia saja sebagian besar belum pernah mengalami gempa. Kawan-kawan dari negara-negara tetangga belum pernah satu kalipun merasakannya.

Air bersih sulit diperoleh. Makanan langka. Uang tak berarti.

Sepanjang siang kami hanya menyiapkan diri untuk segera pulang, meninggalkan Padang. Begitu barang-barang tersisa bisa diselamatkan, seluruh rombongan masuk bis. Para kru bis untuk bisa mengerti dan masih bersedia mengantar, meski mereka pun adalah para korban gempa bumi.

At 12:23 PM local time. Our CB6 buses passed through a road side cemetery. We witnessed a funeral of earthquake victim. Photo by: Kristupa Saragih

At 12:23 PM local time. Our CB6 buses passed through a road side cemetery. We witnessed a funeral of earthquake victim. Photo by: Kristupa Saragih

Pemandangan sepanjang jalan penuh kepiluan. Rumah-rumah runtuh. Kendaraan bermotor saling berebut jalan. Dalam perjalanan menuju SPBU yang masih beroperasi terlihat keranda-keranda diusung di antara nisan-nisan tempat pemakaman umum.

Jalanan macet. Simpul-simpul anyaman kendaraan terjadi di setiap persimpangan jalan. Semua orang ingin didahulukan dan tak peduli. Semua orang ingin mencari selamat.- Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Siang Hari Kedua

At 01:53 PM local time. People in their anger on queueing their turn in a petrol station in Padang ring-road bypass. Data says it should be more than 30 petrol stations in Padang and nearby surroundings. But we saw only 2 of them in operation, on our way from hotel to airport. We saw couples of petrol stations hit by earthquake. The rest of them was not in operation due to many reasons. This operating petrol station had a long queue, about 1 km in both directions. There were some armed-police guard to make sure the people's anger did not turn into riot. Everyone wanted to be a priority. Photo by: Kristupa Saragih

At 01:53 PM local time. People in their anger on queueing their turn in a petrol station in Padang ring-road bypass. Data says it should be more than 30 petrol stations in Padang and nearby surroundings. But we saw only 2 of them in operation, on our way from hotel to airport. We saw couples of petrol stations hit by earthquake. The rest of them was not in operation due to many reasons. This operating petrol station had a long queue, about 1 km in both directions. There were some armed-police guard to make sure the people's anger did not turn into riot. Everyone wanted to be a priority. Photo by: Kristupa Saragih

Tiba di SPBU antrian menyemut. Semua ingin didahulukan. Klakson-klakson menjerit-jerit memekakkan telinga. Perjalanan dilanjutkan ke Bandara Internasional Minangkabau, tempat tujuan akhir dalam rencana evakuasi rombongan. Perjalanan, yang dalam keadaan normal bisa ditempuh 30 menit, musti memakan waktu 5 jam. Lima jam yang penuh kepiluan, memandang keadaan sepanjang jalan.

Messages from Singapore Embassy in Jakarta to Chan Bin Kan. Singapore government takes care of their citizens, especially in emergency situation such as disaster in Padang and West Sumatra.

Messages from Singapore Embassy in Jakarta to Chan Bin Kan. Singapore government takes care of their citizens, especially in emergency situation such as disaster in Padang and West Sumatra.

Masing-masing pimpinan kontingen negara mengatur anggotanya masing-masing. Sungguh miris melihat tamu-tamu sejawat dari Singapura, Malaysia, Vietnam dan Filipina berada dalam situasi darurat, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Kondisi di bandara pun memprihatinkan, tidur seadanya di lantai dan fasilitas peturasan tak berfungsi.

Sebagai pimpinan seluruh acara saat itu rencana yang ada dalam benak saya adalah mengirim semua orang kembali ke rumah. Pimpinan kontingen Vietnam, Malaysia dan Filipina bergegas mengurus tiket ke kantor Air Asia.

Kontingen Singapura yang terbang dengan Tiger Airways mendapati kenyataan bahwa maskapai tersebut menghentikan operasi karena gempa. Mereka pun bergegas membeli tiket Air Asia tujuan Kuala Lumpur, bersambung dengan penerbangan ke Singapura.

Sebagian anggota rombongan yang enggan menginap di lantai bandara memilih mengungsi ke Bukittinggi dan tinggal di hotel berbintang di sana. Sementara saya dengan sisa anggota rombongan mengatur jadwal piket jaga koper dan tas kamera. Sejumlah rekan lain berburu air minum, di antara orang-orang yang berserak melepas lelah di lantai bandara.

Sekitar pukul 22 WIB, seluruh penumpang GA 165 dipanggil untuk masuk pesawat. Kabin penuh, tak ada kursi kosong. Sebagian besar penumpang adalah anak-anak dan orang tua. Beberapa penumpang adalah pasien, yang diantar dengan kursi roda. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Petang Hingga Malam Hari Kedua

Saya beruntung bisa menumpang pesawat Garuda penerbangan terakhir malam itu tujuan Jakarta. Sembari masih merasa was-was jika memang harus memberikan kursi untuk mendahulukan orang sakit, orang tua dan anak-anak untuk mengungsi. Tak percaya rasanya ketika bisa duduk di kursi belakang GA 165 Padang-Jakarta. Dan ketika kaki-kaki burung besi menjejak di Bandara Soekarno-Hatta, hanya ungkapan syukur yang bisa terucap.

At 12:54 PM local time. A lady and her kid, in front of ruins of their home. Looks like their car survived. Not sure what happen with her husband. Photo by: Kristupa Saragih

At 12:54 PM local time. A lady and her kid, in front of ruins of their home. Looks like their car survived. Not sure what happen with her husband. Photo by: Kristupa Saragih


Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Pagi Hari Kedua

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Siang Hari Kedua

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Petang Hingga Malam Hari Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s