Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for December, 2010

Orang Jawa Petani Teh di Kaki Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatra Selatan

Pagi yang indah di Pagar Alam, Sumatra Selatan. Disambut kesejukan pagi udara pegunungan, Gunung Dempo berdiri gagah berlatar belakang langit biru.

Kamera berlensa lebar jadi pilihan untuk dibawa. Sekedar ingin simple, satu bodi kamera dan satu lensa. Filter CPL tentu wajib terpasang.

Kemarin Gunung Dempo tersaput kabut. Pagi ini cerah, dan masih banyak petani bekerja memetik teh. Semua ramah dan semua berbahasa Jawa karena keturunan Jawa meski lahir di Sumatra Selatan.

Secara etika, sejatinya fotografer tak serta merta masuk ke suatu tempat tanpa beramah tamah. Sekedar senyum dan sapa singkat sudah cukup. Suatu hal yang sopan untuk minta permisi sebelum memotret.

Dari sapaan singkat di kebun teh inilah terungkap ternyata semua petani adalah orang Jawa. Spontan senyum tersungging di wajah-wajah para petani tatkala saya menyapa mereka dengan bahasa Jawa halus. Alhasil, saya lebih diterima dan lebih nyaman membuat foto-foto bagus.

Lebih dari sekedar dapat foto bagus, seorang fotografer bisa belajar. Sapaan dan obrolan membuat kita bisa tahu sedikit, atau malah banyak, hal. Lebih dari itu lagi, kita mendapat saudara-saudara baru di kaki Gunung Dempo yang indah dan damai.

Foto dibuat dengan BlackBerry 9700

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Good Morning from Pagar Alam

Good morning from Pagar Alam, South Sumatra, Indonesia

Hawa sejuk pegunungan menyergap spontan saat bangun pagi ini. Hamparan kebun teh nan hijau mengepung diri ke manapun mata memandang. Mentari pagi menyiramkan kehangatan.

Terletak di kaki Gunung Dempo, Kota Pagar Alam berlokasi 298 km sebelah barat Palembang, ibukota Provinsi Sumatra Selatan. Perjalanan dari Palembang sekitar 7 jam terbayar dengan keindahan alam dan kesegaran udara.

Foto ini dibuat pukul 08:15 WIB pagi ini dengan kamera di ponsel BlackBerry 9700. Sarapan sudah menanti bersama kawan-kawan pecinta fotografi dari Palembang. Hari ini dan besok kawan-kawan Palembang menggelar workshop dan hunting foto di Pagar Alam, tempat yang indah ini.

Ayo ke Pagar Alam!

Posted with WordPress for BlackBerry.


Crossing Bridges 7 Day 04: Island-hopping to San Carlos City

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700
Tiket MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 dari Toledo City di Pulau Cebu ke San Carlos City di Pulau Negros. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tiket MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 dari Toledo City di Pulau Cebu ke San Carlos City di Pulau Negros. Foto oleh: Kristupa Saragih

Minggu, 21 November 2010
Hari 4 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Hari keempat dibuka dengan bangun pagi, seperti biasa, di penginapan sederhana di Balamban. Jam 6 pagi rombongan diberangkatkan dari hotel ke pelabuhan di Toledo City. Telat bangun, berarti ketinggalan rombongan dan ketinggalan kapal.

Pelabuhan Toledo bersih dan besar. Sedikitnya ada 3 kali pelayaran bolak-balik Toledo dan San Carlos. Toledo berada di Pulau Cebu, Provinsi Cebu, sementara San Carlos berada di Pulau Negros, Provinsi Negros Occidental. Rute ini dilayani kapal feri jenis ro-ro, seperti kapal feri penyeberangan Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk.

Becak sepeda di Pelabuhan Toledo City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Becak sepeda di Pelabuhan Toledo City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pelabuhan Toledo City yang bersih dan tertib. Penumpang masuk ke kapal secara tertib dan teratur. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pelabuhan Toledo City yang bersih dan tertib. Penumpang masuk ke kapal secara tertib dan teratur. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Arsi, peserta CB7 kontingen Indonesia, merekam suasana Pelabuhan Toledo City dengan kamera video. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Arsi, peserta CB7 kontingen Indonesia, merekam suasana Pelabuhan Toledo City dengan kamera video. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pandangan dari dek kapal MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 menyeberang dari Toledo City ke San Carlos City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pandangan dari dek kapal MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 menyeberang dari Toledo City ke San Carlos City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Bedanya, pelabuhan asal dan pelabuhan tujuan di Toledo dan San Carlos ini amat bersih dan tertib. Kapal feri pun bersih, rapi, tertib dan tak bau. Pendingin udara berfungsi baik. Amat nyaman untuk perjalanan sekitar 1 jam.

Tiba di San Carlos City, disambut panitia setempat dari kantor pariwisata Provinsi Negros Occidental. Dibawa ke dua pasar tradisional, mirip dengan di Indonesia, tapi lagi-lagi pasar di kota kecil ini amat bersih, tak becek dan tak bau. Sebelum makan siang, rombongan sempat berkunjung ke pusat daur-ulang sampah kota San Carlos. Ternyata bisnis ini cukup menguntungkan.

 

Salah satu komoditas pusat daur ulang sampah kota San Carlos yang jadi sumber penghasilan kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Salah satu komoditas pusat daur ulang sampah kota San Carlos yang jadi sumber penghasilan kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

 

Setelah melepas penat sejenak di hotel, rombongan Crossing Bridges 7 (CB7) bergerak menuju semacam kota. Ada sekelompok seniman body painting yang sedang berkarya. Belasan mahasiswa institut seni setempat sedang dilukis body painting dan jadi sasaran tembakan kamera 80 peserta CB7.

Kota San Carlos bukanlah kota besar. Populasi tercatat hanya 33 ribu jiwa saja. Selepas jam 7 malam jalanan sudah sepi. Tapi kota ini tumbuh sebagai kota pelabuhan dan sekarang terkenal karena seniman body painting. Selain itu ada festival tahunan Pintaflores tiap bulan November yang selalu dinanti.

 

Sajian tari-tarian khas Negros di depan gedung pertemuan terbesar di San Carlos City sebelum jamuan makan malam bersama walikota dan sejumlah pejabat kota. Spontan para penari jadi sasaran tembak para peserta CB7. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Sajian tari-tarian khas Negros di depan gedung pertemuan terbesar di San Carlos City sebelum jamuan makan malam bersama walikota dan sejumlah pejabat kota. Spontan para penari jadi sasaran tembak para peserta CB7. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Malam ditutup dengan makan malam bersama walikota di gedung pertemuan terbesar di San Carlos. Puluhan penari menyambut rombongan CB7 sebelum masuk ke gedung. Makan malam diakhiri pertunjukan tari body painting di depan walikota dan sejumlah pejabat kota.

 

Seluruh peserta CB7 bermalam di San Carlos City, di 5 hotel terpisah lantaran tak ada hotel yang cukup besar menampung ke-80 peserta CB7.

 

Pertunjukan tari body painting usai jamuan makan malam di hadapan walikota San Carlos City dan para pejabat kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pertunjukan tari body painting usai jamuan makan malam di hadapan walikota San Carlos City dan para pejabat kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

 

 


Crossing Bridges 7 Day 01: Great Welcome Dinner by The Governor of Cebu Philippines

Crossing Bridges 7 Day 02: Aloguinsan, Pinamungajan and Toledo

Crossing Bridges 7 Day 03: Baranggai, Tuburan and Tobuelan