Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for January, 2011

Refleksi Creative Asia 2011

Joe McNally di Creative Asia 2001, Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 Januari 2011. Foto oleh: Kristupa Saragih
Joe McNally di Creative Asia 2001, Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 Januari 2011. Foto oleh: Kristupa Saragih

Joe McNally di Creative Asia 2001, Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 Januari 2011. Foto oleh: Kristupa Saragih

Hadir di Creative Asia 2011 di Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 Januari 2011 merupakan kesempatan berharga. Sebuah konferensi fotografi yang diberi titel penyelenggaranya sebagai “Asia’s World Class Photography Conference” yang menghadirkan pembicara-pembicara terkemuka dari berbagai negara.

Joe McNally dari AS hadir sebagai pembicara yang tampil di Opening Keynote pada hari pertama. Fotografer terkemuka ini mengerjakan assignment dari National Geographic, Life dan Sports Illustrated. Joe McNally merupakan fotografer pertama di National Geographic yang membuat foto dengan kamera digital untuk majalah dunia itu saat memotret pesawat tempur F/A-22 dan pembom B2.

Di hari kedua tampil Mike Langford, fotografer terkemuka dari Selandia Baru dan Manny Librodo, fotografer Filipina yang memenangi berbagai penghargaan. Dilanjutkan penampilan dari Jason Magbanua, wedding filmmaker terkenal dari Filipina yang dilanjutkan dengan Daniel Capobianco, fotografer Australia.

Pada hari ketiga fotografer AS Dane Sanders presentasi secara teleconference dari Los Angeles. Lantas dilanjutkan dengan sesi Michael Greenberg, fotografer terkemuka Kanada. Seluruh rangkaian sesi ditutup dengan penampilan Louis Pang, fotografer wedding Malaysia yang memenangi banyak penghargaan WPPI (Wedding & Portrait Photographers International).

Konferensi dihadiri 130 peserta dari berbagai negara Asia, seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina dan Bahrain. Selain itu ada pula peserta dari Australia, Amerika Serikat dan Inggris. Mengingatkan konferensi serupa bertitel Photo World Asia 2010 di Manila, Filipina yang saya hadiri sebagai pembicara pada Januari 2010.

Kemampuan tim Louis Pang menghadirkan pembicara kelas dunia layak diacungi jempol. Tentu semua dilakukan dengan perhitungan matang. Sebelum konferensi, ada sederet workshop intensif bertiket rata-rata RM 2.000 per orang, atau sekitar 650 Dollar AS dan Rp 6 juta. Tiket konferensi dijual seharga RM 995 atau setara 325 Dollar AS dan Rp 3 juta untuk 3 hari, tak termasuk makan dan minum.

Dari segi harga kontribusi peserta, angka-angka di atas bisa jadi semacam pembuka mata bagi khalayak fotografi Indonesia. Ajang bagi ilmu dan pengalaman merupakan hal yang patut dihargai secara layak. Jumlah massa fotografi di Indonesia berjumlah lebih besar berlipat ganda daripada negara-negara jiran.

Tiga raksasa besar industri fotografi Canon, Nikon dan Epson mensponsori event ini secara bersamaan. Hal ini langka terjadi di Indonesia, bahkan dalam acara kelas nasional sekalipun. Lagi-lagi kita teringat betapa besar jumlah massa fotografi di Indonesia ketimbang negara-negara jiran.

Penyelenggaraan berlangsung lancar dan tepat waktu. Mulai jam 8 pagi hingga jam 9 malam, tiap agenda dimulai tepat waktu dan diakhiri tepat waktu pula.

Sudah waktunya, Indonesia jadi penyelenggara event fotografi kelas dunia.

Related links:
Live Report: Creative Asia 2011 in Kuala Lumpur
30-year Career in Photography of Joe McNally Revealed in Creative Asia 2011
Second Day of Creative Asia 2011, Educating and Inspiring
Speakers Showdown in Creative Asia 2011
The Last Day in Creative Asia 2011


Memotret Kembang Api Itu Menyenangkan

Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih
Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih

Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih

Siapa yang tak suka kembang api? Mengudara dan meletus pancarkan sinar warna-warni. Memotret kembang api jadi suatu kesukaan tersendiri.

Prinsip utama memotret kembang api adalah melukis dengan cahaya.

Alat yang dibutuhkan pun tak muluk. Kamera sudah mutlak, bisa berupa DSLR atau kamera saku prosumer yang punya setting manual kecepatan dan bukaan. Lensa bisa berupa lensa lebar maupun lensa tele tergantung pada situasi lokasi pemotretan. Tripod jadi piranti mutlak pemotretan kembang api lantaran penggunaan kecepatan rana lambat dan untuk mencegah camera shake.

Sebelum memotret, pastikan pilihan lokasi tepat dan terbaik. Jika asing di suatu tempat, tanya orang-orang setempat perihal atraksi kembang api beberapa jam atau sehari sebelum acara dimulai. Pastikan tak ada kabel, tiang atau kabel-kabel yang menghalangi sudut tembak.

Berada beberapa jam di tempat sebelum atraksi kembang api dimulai merupakan suatu keharusan. Tempatkan diri sebelum rekan-rekan fotografer lain mengambil tempat dengan sudut tembak terbaik. Pasang tripod sedini mungkin sebagai penanda tempat memotret dan berjaga di dekatnya sampai waktu atraksi kembang api tiba. Atraksi kembang api pasti menarik minat banyak rekan yang punya keinginan sama.

Secara teknis, pemotretan kembang api memakai ISO tinggi, minimal ISO 400 lantaran kondisi minim cahaya. Modus pemotretan disarankan set pada modus M alias manual untuk mempermudah penyesuaikan kombinasi kecepatan rana dan bukaan. Setelah set ISO barulah tentukan diafragma dan kecepatan rana.

Tak ada rumus atau dogma yang mengharuskan pemakaian kecepatan rana tertentu. Saya biasa set kecepatan rana mulai pada 1 detik dan bukaan f/5.6 di ISO 400. Buat satu dua foto, lantas ubah kecepatan rana sesuai kebutuhan. Jika 1 detik masih under-exposed atau garis kembang api kurang panjang maka ubah kecepatan menjadi 2 detik atau 4 detik, demikian seterusnya pada pecahan tiap 1 stop. Pada contoh foto di atas, saya temukan lintasan kembang api yang paling cocok jika rana dibuka selama 4 detik.

Setelah dapat kecepatan rana yang cocok, barulah diafragma disesuaikan agar memperoleh kombinasi yang tepat. Berangkat dari f/5.6 lantas naik ke f/8, f/11, f/16 atau f/22 sesuai kebutuhan akan exposure yang tepat. Pada contoh foto di atas, saya memutuskan untuk expose foto di f/16 agar cocok dengan kecepatan rana 4 detik. Semakin sempit bukaan diaframa, semakin kecil kemungkinan foto kehilangan detail pada highlight.

Setelah kamera terpasang pada tripod dan teknik di atas diterapkan, maka tinggal eksekusi pemotretan. Hati-hati menekan tombol rana, karena meski terpasang di tripod getaran tangan bisa membuat camera-shake. Set WB alias white balance sesuai suhu warna, yang pada lokasi pemotretan foto di atas, Manado, pakai  WB tungsten sesuai suhu warna lampu-lampu penerangan jalan dan gedung.

Selamat ber-kembang api ria dengan kamera Anda.

Tahun Baru di Manado. Kamera DSLR terpasang pada tripod, dengan bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Foto oleh Kristupa Saragih

Tahun Baru di Manado. Kamera DSLR terpasang pada tripod, dengan bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Foto oleh Kristupa Saragih


Disain “Stylish” Lowepro Classified Sling 220 AW

Lowepro Classified Sling 220 AW nyaman disandang. Foto oleh: Kristupa Saragih
Lowepro Classified Sling 220 AW. Foto oleh: Kristupa Saragih

Lowepro Classified Sling 220 AW. Foto oleh: Kristupa Saragih

Ada banyak tipe tas kamera produksi Lowepro. Sebagian besar bersosok garang penakluk segala medan pemotretan. Tapi ada seri Classified yang berdisain stylish, modern dan minimalis.

Dari sekian banyak line-up di seri Classified, model termutakhir adalah tipe sling berlabel Lowepro Classified Sling 220 AW. Tipe sling punya disain khas berupa tas selempang. Bukan berupa tas sandang, bukan pula tas punggung. Tas tipe sling mempermudah akses mengambil kamera di tas tanpa melepas tas dari badan.

Kapasitas muat Lowepro Classified Sling 220 AW: 1 bodi pro-DSLR dengan lensa 70-200mm f/2.8 terpasang, 1 bodi medium-DSLR, 1 lensa lebar dan 1 flash serta 1 laptop 15.4 inci. Foto oleh: Kristupa Saragih

Kapasitas muat Lowepro Classified Sling 220 AW: 1 bodi pro-DSLR dengan lensa 70-200mm f/2.8 terpasang, 1 bodi medium-DSLR, 2 lensa tambahan dan 1 flash serta 1 laptop 15.4 inci. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tipe sling membuat Lowepro Classified Sling 220 AW punya akses mudah untuk buka tas dan ambil kamera dengan cepat. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tipe sling membuat Lowepro Classified Sling 220 AW punya akses mudah untuk buka tas dan ambil kamera dengan cepat. Foto oleh: Kristupa Saragih

Classified Sling 220 AW berkapasitas 1 bodi pro-DSLR, 1 bodi medium-DSLR, 1 lensa 70-200mm f/2.8 yang terpasang di bodi pro-DSLR, 2 lensa tambahan dan 1 flash. Ada juga ruang penyimpan laptop yang mampu membuat hingga ukuran widescreen 15,4 inci. Akhiran AW, yang kependekan dari All Weather, menandakan tas ini dilengkapi sarung pembungkus kedap siraman air.

Akses membuka tas amat mudah dengan sandangan model sling ini. Tali tas cukup lebar dan tebal, sehingga pundak nyaman dan tak terasa berat. Posisi kantong-kantong tas berada pada posisi yang aman untuk penyimpanan sekaligus mudah diakses saat dibutuhkan cepat.

Tas Lowepro Classified Sling 220 AW direkomendasikan untuk fotografer dengan perlengkapan profesional. Volume ruang penyimpan cukup memadai tapi ringkas. Disain tas yang elegan bisa mendukung penampilan fotografer profesional yang membutuhkan citra terpandang di depan klien.

Disain pula yang membuat tas ini aman karena penampilan yang menyamarkan fungsi sebagai tas kamera. Untuk bepergian, letak kantong-kantong penyimpan cukup efektif dan aman. Bahan pembungkus tas terlihat apik sekaligus fungsional untuk melindungi peralatan fotografi di dalam tas.

Lowepro Classified Sling 220 AW nyaman disandang. Foto oleh: Kristupa Saragih

Lowepro Classified Sling 220 AW nyaman disandang. Foto oleh: Kristupa Saragih


Indah Tak Tertandingi, Kemeriahan Kembang Api Tahun Baru 2011 di Manado

Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih
Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih

Begitu meriah Malam Tahun Baru 2011 di Manado. Masyarakat ibukota Provinsi Sulawesi Utara ini tahu benar merayakan Malam Tahun Baru dan menikmatinya. Lebih dari 2 jam seluruh kota berpesta kembang api sahut-menyahut.

Sepanjang mata memandang, di seluruh penjuru 360 derajat, hanya nyala kembang api yang terlihat di angkasa. Besar dan kecil, tinggi dan rendah, kembang api berbagai warna mengudara di seluruh penjuru kota. Indah dan mengagumkan.

Tahun Baru 2010 lalu, ada pesta kembang api dan meriah, namun tak semeriah Malam Tahun Baru 2011. Berbagai tempat berinisiatif menggelar pesta kembang api. Tapi kembang api termeriah dipusatkan di sekitar Pohon Natal tertinggi di Asia, di kawasan Mega Mas, Boulevard Manado.

Selama masa Natal dan Tahun Baru, pohon Natal tertinggi ini menjadi landmark kota. Setinggi 50 meter, pohon Natal ini dibalut ribuan lampu dan hiasan. Pada saat pesta kembang api, pohon Natal tertinggi di Asia ini tampak makin indah.

Foto dibuat bersama kawan-kawan panitia dan peserta Manado Photo Fest 2010 dari lokasi acara.


Jadi Anggota Platinum Garuda Frequent Flyer

Garuda Frequent Flyer (GFF) Platinum. Difoto dengan BlackBerry 9700 oleh Kristupa Saragih.

Setelah 8 tahun menjadi anggota Garuda Frequent Flyer (GFF), tercapai pula tingkat keanggotaan Platinum. Tingkat keanggotaan tertinggi GFF ini diperoleh atas frekuensi terbang pada jumlah tertentu menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Anggota GFF harus melakukan aktivitas dengan Garuda sedikitnya 55.000 tier miles atau terbang 55 kali eligible flight dalam satu tahun keanggotaan agar menjadi anggota Platinum.

Selama tahun 2010 tercatat ada 76 penerbangan bersama maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia ini.

Melihat catatan aktivitas selama 2010, sebenarnya frekuensi terbang lebih dari itu. Banyak penerbangan domestik dengan maskapai lain lantaran ada rute yang belum diterbangi Garuda, semisal rute Yogyakarta (JOG)-Surabaya (SUB) dan Yogyakarta (JOG)-Bandung (BDO). Penerbangan internasional selama 2010 tercatat belum ada bersama Garuda.

Pertama kali jadi anggota GFF pada September 2002, saat itu benefit yang dibutuhkan semata-mata bagasi ekstra. Sebagai fotografer, peralatan yang dibawa untuk pekerjaan memotret bisa mencapai 20 kg bahkan lebih. Tahun 2002 itu, seingat saya, batas maksimum bagasi kelas ekonomi adalah 20 kg. Dengan jadi anggota GFF Silver, seingat saya pula, bisa dapat tambahan gratis 10 kg bagasi. Saat itu, belum ada tingkat GFF Blue, jadi begitu mendaftar langsung dapat keanggotaan GFF Silver.

Keanggotaan GFF Gold baru diperoleh pada 2007. Lebih banyak benefit yang diperoleh daripada GFF Silver. Berat bagasi tambahan bisa lebih banyak. Selain itu ada jalur khusus di check-in desk yang terpisah dari GFF Silver. Selain itu, ada fasilitas akses gratis ke GFF Lounge di seluruh Indonesia yang hanya bisa dimasuki tingkat keanggotaan minimal GFF Gold.

Per November 2010 keanggotaan resmi ditingkatkan oleh Garuda menjadi GFF Platinum, meski kartunya baru diterima Januari 2011. Semua benefit GFF Gold masih diperoleh ditambah fasilitas akses gratis ke Singapore Airport Lounge, 25 tier bonus, dan tambahan bagasi sebesar 20kg. Selain itu, sebagai anggota GFF Platinum bebas pula dari biaya perubahan tiket alias cancellation fee dan biaya pembatalan tiket alias refund fee.

Memang ada jenis keanggotaan GFF Platinum yang bisa diperoleh lebih mudah dengan mendaftarkan diri jadi pemegang kartu kredit Citibank Garuda. Tapi bagi saya pribadi, meraih keanggotaan GFF Platinum dengan cara mengumpulkan frekuensi terbang lebih menantang. Lagipula, ini merupakan penghargaan Garuda bagi pelanggan setia dan memang bermanfaat bagi frequent traveler.

Bagi saya, keanggotaan GFF Platinum ini adalah hadiah tahun baru dari Garuda Indonesia. Terimakasih.

Semoga sayap Garuda Indonesia makin mengepak gagah menerbangi rute-rute seluruh dunia membawa identitas ke-Indonesia-an kita.

Garuda Frequent Flyer (GFF) Platinum. Difoto dengan BlackBerry 9700 oleh Kristupa Saragih.

Garuda Frequent Flyer (GFF) Platinum. Difoto dengan BlackBerry 9700 oleh Kristupa Saragih.