Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for February, 2011

Photographs That Travel Through Space and Time

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Places stay the same. People change but memories last forever. This is how so many places around the world come into existence. Fresh and natural landscapes evolve, marking the dynamics of life. Houses and buildings are constructed one after another, marking the twists and turns of human culture. Photographs records all events as they are; honestly and openly. Through a photo, time seems to stop and a moment is made eternal. Exploring photos frame by frame is like treading tracks of time.

A fellow photographer had been consistently taking photos of Tugu Yogyakarta. The photos are taken consistently each year on the same date at approximately the same time and at the same angle. The series of photographs of this monument then tell stories about everything that the landmark historic city of Yogyakarta ever experienced.

Through photography, humans can also be motivated to travel, to visit many places in various parts of the world. From big cities such as Kuala Lumpur, Shanghai and San Francisco to places such as the exotic, natural landscapes of Mount Bromo in East Java to Machu Piccu in Peru. Every places represents a culture and symbolises a level of human civilization within a certain time. Photography records it and presents a lot of things in various dimensions. A picture speaks a thousand words and a thousand words deliver countless interpretation.

So rich is the meaning captured by a photo. While in fact, it is technically only the combination of aperture and shutter speed that catches light in a blink, it is the angle of the camera and ideas in the mind of the photographer that make a picture worth interpreting as something.

The camera and the lens are like a third eye of a photographer; the third eye that completes the photographer’s heartstrings as a human being. As well as being a representative for the million of pairs of viewers’ eyes who could not observe a moment directly.


Foto yang Menjelajah Tempat dan Waktu

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Tempat tetap namun waktu berganti. Orang berubah tapi kenangan abadi. Demikianlah berbagai tempat di berbagai penjuru dunia terwujud.

Alam nan asli dan segar berevolusi pertanda dinamika kehidupan berlangsung. Rumah dan gedung berdiri silih berganti pertanda budaya manusia menggeliat. Fotografi merekam segala peristiwa secara jujur, apa adanya dan terbuka.

Melalui sebingkai foto, waktu seolah berhenti dan membuat suatu momen jadi abadi. Menjelajah foto bingkai demi bingkai bak menelusuri waktu.

Seorang rekan fotografer pernah secara konsisten memotret Tugu Yogyakarta. Foto dibuat setiap tahun secara konsisten pada tanggal yang sama, pada jam yang kurang lebih sama dan angle yang sama. Rangkaian foto-foto Tugu ini lantas bercerita tentang segala sesuatu yang pernah dilalui landmark bersejarah kota Yogyakarta itu.

Melalui fotografi, manusia bisa pula termotivasi untuk bepergian mengunjungi berbagai tempat di berbagai penjuru dunia. Mulai dari kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, Shanghai dan San Fransisco hingga tempat-tempat alami nan eksotis seperti Gunung Bromo di Jawa Timur hingga Machu Piccu di Peru.

Setiap tempat menjadi wakil suatu kebudayaan dan simbol suatu tingkat peradaban manusia dalam suatu waktu tertentu. Fotografi merekamnya lantas memaparkan banyak hal dalam berbagai dimensi. Satu foto berbicara seribu kata. Dan seribu kata melahirkan berjuta interpretasi.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Demikian kaya sebuah foto menyimpan makna. Padahal, secara teknis, hanya kombinasi besar diafragma dan kecepatan bilah-bilah rana mengejap saja yang menangkap cahaya. Namun sudut tembak lensa kamera dan ide di benak pemotret menjadikan sebuah foto sesuatu yang layak dimaknai.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.***


Ditulis sebagai Kata Pengantar untuk buku fotografi “Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You” karya D Agung Krisprimandoyo, 2011, Fotografer Net Global

Alih bahasa tulisan ini oleh: Andrew Charles

Advertisements

Buku Fotografi Agung Krisprimandoyo: Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo
Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Seorang kawan D Agung Krisprimandoyo bertandang ke kantor dan memberikan buku fotografi karyanya, Selasa (22/02). Berdisain grafis sampul menarik, buku itu berjudul “Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You”. Isinya ternyata lebih menarik ketimbang sampul dan judulnya.

Berisi 75 karya foto yang dibuat di seluruh dunia, Agung Pimo, demikian panggilan akrabnya, hendak berbagi tempat-tempat yang menginspirasinya. Sebagian besar dibuat Agung Pimo dalam perjalanan dinas ke berbagai tempat. Dan semua foto dibuat dengan kamera DSLR kelas amatir dan lensa biasa, bukan kamera dan lensa-lensa mahal, bahkan beberapa foto dibuat dengan kamera saku.

“Istri dan anak-anak saya bertanya, mengapa tidak membeli beberapa postcard saja yang lebih mudah dan murah sebagai oleh-oleh dibandingkan bersusah payah membawa kamera, lensa dan tripod hanya untuk mengabadikan suatu tempat dan bahan untuk bercerita mengenai suatu perjalanan,” tulis Agung Pimo pada kata pengantar buku ini. Satu foto berbicara seribu kata, a picture speaks thousand words. Dan bahasa gambar yang dibuat secara personal mengekspresikan kesan pribadi fotografer ketimbang kartu pos yang dibuat orang lain.

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Diterbitkan oleh Fotografer.net, buku ini memuat foto-foto dari dataran tinggi Tengger di Bromo hingga Grand Canyon di Arizona, AS. Mulai dari Pura Taman Ayun di Bali hingga Temple of Heaven di Beijing, Cina. Ada pula foto rumah art deco Villa Isola di Bandung dan kanal-kanal di Venesia, Italia.

Foto-foto dikelompokkan menjadi 11: Mountains, The Coast, Flowers, Famous Places, Skylines, Places of Worship, Temple, Traffic & Transport, Architecture, Heritage, dan Theme Park. Seluruh foto berupa foto-foto tempat, baik dalam bentuk foto pemandangan, perkotaan maupun arsitektur. Sesuai judulnya, buku ini minim pemaparan tentang foto-foto manusia.

Seluruh foto disertai data teknis sederhana, berupa jenis kamera, kecepatan rana dan bukaan diafragma. Secara teknis, terlihat benar bahwa Agung Pimo paham benar teknik fotografi, meskipun bersenjatakan kamera sederhana. Lagipula, dalam perjalanan dinas, tentu akan terasa repot dan berlebihan untuk membawa banyak kamera dan lensa-lensa mahal. Agung Pimo, yang bermukim di Surabaya ini, melihat dan berkarya secara sederhana dan apa adanya. Fotografi merupakan sesuatu yang menyenangkan, bukan sebaliknya.

Buku ini direkomendasikan untuk dibaca sebagai motivator fotografer pemula. Selain itu, traveling photographer juga bisa menggali berbagai ide dan inspirasi dari foto-foto berbagai tempat di seluruh penjuru dunia di buku ini. Para business traveler bisa menjadikan buku ini acuan untuk memotret di sela-sela waktu beraktivitas bisnis.

Bekerja sebagai eksekutif di sebuah grup raksasa di bidang properti tak membuat Agung Pimo kehabisan waktu dan energi. Dalam beberapa tahun terakhir ini Agung Pimo juga menempuh studi Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya. Dan buku Amazing Places ini semula dibuat alumni SMA Kolese De Britto dan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Parahyangan ini sebagai cenderamata pengukuhan gelar S3.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo


Angkatan 2 Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) dan Konsistensi Sekolah Gratis Fotografi

Anton Ismael di pembukaan pameran foto Halo #2 Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), Senin (14/2). Foto oleh Berto Gesit
Kelas Pagi Yogyakarta

Kelas Pagi Yogyakarta

Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) membuka pameran foto bertitel Halo #2 di Rumah KPY, Yogyakarta, Senin (15/2). Ada 90 bingkai foto yang dipamerkan dengan berbagai subyek dan beragam gaya serta genre. Sebagian besar foto adalah karya para siswa angkatan pertama KPY dan beberapa foto pengajar. Pameran digelar tiap hari hingga 19 Februari 2011 jam 17.00-21.00 WIB.

Dirintis oleh fotografer Anton Ismael dengan Kelas Pagi di Jakarta, Kelas Pagi Yogyakarta sudah berusia setahun. Kelas Pagi Jakarta dan Kelas Pagi Yogyakarta sama-sama berupa sekolah gratis fotografi. Gratis dalam arti siswa tak membayar, demikian pula dengan para pengajar yang tak dibayar.

Di KPY, kelas digelar dua kali sepekan. Sesuai namanya, jam kelas dimulai pukul 7 pagi. Tak ada meja kursi, siswa dan pengajar lesehan. Nana dan Berto, pengelola KPY, menyiapkan proyektor LCD dan layar serta mengorganisir praktek foto.

Anton Ismael di pembukaan pameran foto Halo #2 Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), Senin (14/2). Foto oleh Berto Gesit

Anton Ismael di pembukaan pameran foto Halo #2 Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), Senin (14/2). Foto oleh Dokumentasi KPY

Keberadaan sekolah gratis fotografi ini menguji motivasi siswa-siswanya. Bangun pagi jam 7 bagi sejumlah orang sudah merupakan ujian tersendiri. Demikian pula konsistensi untuk terus menerus hadir tanpa melewatkan para pengajar yang ahli di bidang fotografi masing-masing.

Fotografi tak lagi eksklusif. Semua orang bisa belajar memotret dan mahir memotret jika punya niat dan motivasi. Keberhasilan berfotografi ditentukan oleh proses yang mencakup ujian motivasi dan mental.

Tak gampang menemukan fotografer yang mumpuni namun punya kemauan berbagi ilmu. Tak semua fotografer yang mau berbagi ilmu punya kapabilitas mengajar. Dan tak semua yang mumpuni dan mau berbagi ilmu itu punya cukup waktu serta mau mengajar tanpa dibayar.

Saringan berlapis ini menyarikan kedekatan antarsiswa, antarpengajar, dan antara siswa dan pengajar. Alhasil, keberhasilan berproses dalam fotografi ditentukan oleh ketangguhan niat dan kemurnian motivasi. Meski demikian, semua butuh waktu dan lama berproses tentu berbeda antara satu siswa dengan siswa-siswa lain.

Sebelum jaman fotografi digital, hanya segelintir orang yang bisa beli kamera. Dari segelintir itu, hanya beberapa saja yang menggeluti fotografi. Dulu ilmu fotografi bagai barang langka yang eksklusif, namun era teknologi digital mengubah semuanya.

Perbedaan orang sukses dan tak sukses adalah kemauan, karena kita semua bisa jika kita mau. Fotografer handal tak hanya mahir, terampil dan beride cemerlang namun bermental baja dengan motivasi murni. Secara alami, proseslah yang menyeleksi konsistensi berfotografi seseorang. Dan proses itu berlangsung apa adanya di KPY.

Selamat berpameran, KPY. Dan selamat berfotografi untuk siswa-siswa baru Angkatan 2 KPY. Biar foto yang bicara.

Siswa-siswa Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) menghadiri presentasi oleh pendiri Kelas Pagi fotografer Anton Ismael (berdiri kanan) pada pembukaan pameran foto Halo #2, Senin (14/2). Foto oleh Berto Gesit

Siswa-siswa Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) menghadiri presentasi oleh pendiri Kelas Pagi fotografer Anton Ismael (berdiri kanan) pada pembukaan pameran foto Halo #2, Senin (14/2). Foto oleh Dokumentasi KPY


Lima Finalis Indonesia di 2011 Sony World Photography Awards

Majalah fotografi regional Exposure memberitakan, ada 5 fotografer Indonesia yang masuk daftar finalis 2011 Sony World Photography Awards. Kelima fotografer tersebut adalah Hubert Januar, Alam Syah, Gde Wira Brahmana, Andiyan Lutfi dan Nara Pratama. Kelima nama fotografer Indonesia ini menyisihkan lebih dari 105.000 fotografer dari 162 negara, seperti disebutkan dalam rilis resmi penyelenggara bertanggal 1 Februari 2011.

Secara umum ada 2 jenis kompetisi, profesional dan terbuka. Kelima fotografer Indonesia itu jadi finalis di kategori-kategori berbeda di kompetisi terbuka. Hubert Januar (Surabaya) dan Alam Syah di kategori Art & Culture, Gde Wira Brahmana (Jogja) di kategori Fashion, Andiyan Lutfi (Cibinong) di kategori Nature & Wildlife, dan Nara Pratama (Jakarta) di kategori Travel.

Pemenang tiap kategori akan dihadiahi kamera digital Sony. Sementara pemenang Best Overall akan dihadiahi tiket ke London, Inggris, akomodasi 2 malam, tiket VIP untuk menghadiri acara pemberian hadiah 27 April 2011 dan uang 5.000 Dollar AS.

Prestasi kelima fotografer Indonesia ini merupakan hal mengagumkan lantaran telah menyisihkan ribuan fotografer dari berbagai negara. Kemudahan akses informasi di era digital telah membuat fotografi maju pesat dan membawa manfaat bagi siapapun yang piawai menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan kebaikan.

Fotografer bicara melalui foto. Dan kita tak hanya bicara, tapi juga berprestasi.


Galeri foto para finalis di Fotografer.net:

Hubert Januar

Gde Wira Brahmana
Death Fashion Scene

Andiyan Lutfi
Rebutan

Nara Pratama
Walking After You