Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Gocefa, Ritual yang Hilang dari Pesisir Sulawesi Utara

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Sedikit sekali informasi yang bisa dihimpun perihal gocefa. Ritual penting masyarakat pesisir Sulawesi Utara ini konon lahir 2.000 tahun yang lalu di kalangan masyarakat adat Bantik. Ketika Manado Ocean Festival (MOF) 2011 menghadirkan ritual ini pada 27 Mei 2011 lalu di Pantai Malalayang Manado, banyak orang yang baru pertama kali menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah.

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

…torang batrima kaseh atas firman yang Dia so kase pa torang. Juga atas torang pe orang tua, torang pe tete deng nene moyang yang so kase lahir pa torang samua. Deng atas pante dan lao yang Tuhan so bekeng vor torang yang so jadi torang pe pohong hidop.”

Gocefa diyakini sebagai ritual adat memanjatkan doa bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir yang bergantung pada laut. Tinggal di tepi laut, hidup dari laut, dan menyandarkan diri pada laut. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Bantik, yang hampir punah. Bahasa Bantik diyakini seumur dengan bahasa Kawi, alias Jawa Kuna di Pulau Jawa, yang telah punah.

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Hidop ini anugera Tuhan. Torang sambut itu deng bajanji hidop sebaik-baiknya. Torang bajanji mo paka ni pante deng lao vor torang pe hidop. Torang bajanji mo piara deng jaga ni pante deng lao pe bagus ini.”

Iring-iringan rombongan pelaksana ritual gocefa dibuka dengan penari-penari cakalele. Berpakaian merah-merah, para penari ini bersenjatakan parang. Lantas diikuti dengan orang-orang tua berpakaian putih-putih, berikat kepala merah. Baru para pemimpin upacara ritual yang adalah para pemuka agama.

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Su suwu-suwu dunia, mawu pukakelungangu. Maning alang diminuhe, mawu pukakelungangu. Ya Yesus bukide pubawukidang sudunia, sudunia. Ore tamalaombo suwu-suwu, tamalenggeng dimpuluse.

Ada 6 pemimpin upacara yang hadir, dua orang di antaranya adalah pendeta. Tak ada sumber resmi yang bisa menjelaskan, tapi konon ritual gocefa ini lahir sebelum agama Kristen masuk ke tanah Sulawesi Utara. Ketika agama Kristen masuk, lantas terjadi akulturasi budaya, meski kepastian kabar ini perlu dikonfirmasi kepada para pemuka adat yang berwenang.

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Sudara-sudara, marijo torang taru sebagian dari torang pe persembahan yang so takumpul tadi ka atas gocefa, pasang dia pe obor, lapas ni gocefa ka lao kong trus torang manyanyi…

Persembahan dikumpulkan, seiring khalayak memanjatkan doa dan menyanyikan lagu-lagu. Ketika matahari mencium cakrawala, obor-obor dinyalakan. Lampu-lampu di sekitar tempat upacara dipadamkan. Doa-doa tetap dipanjatkan bersama lagu-lagu persembahan.

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Sakaeng sutaghaloang, mesesenggo mapia. Nangkodane kai i tuang, apisu takahia. Maning selihe maiha, balade geguwa. I kau tawe mekapu, nangkodanu mawu.

Rakit bambu kecil, yang disebut gocefa, dimuati semua persembahan. Lantas dilepas, sembari ditarik perahu motor kecil ke tengah laut. Nyala obor menari-nari ditiup angin laut. Seiring dengan matahari yang bersembunyi di peraduan, gocefa ditelan kegelapan Laut Sulawesi.

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih

7 responses

  1. Luar biasa foto2 dan tulisannya !
    Saya jg baru tahu bang tentang gocefa, nice post ^^

    June 6, 2011 at 10:49 AM

    • Thanks, Bro!

      June 6, 2011 at 11:05 AM

  2. bener-bener baru ndengernya…

    June 6, 2011 at 4:02 PM

  3. Romo Farano

    Opo Wananatas… tembone se mengale ale… pakatuan wo pakalawiren…

    June 6, 2011 at 4:05 PM

  4. rivo malonda

    mantaps sekali bro kris…….. awal yg bagus utk mengangkat kembali budaya yg tertutupi dengan kemanjuan zaman…….. i m proud of you bro ……..harus diangkat utk jadi duta budaya……

    June 14, 2011 at 12:02 PM

  5. Ellen Manoppo

    Bahasanya seperti sama dengan bahasa suku Sanger, salah satu suku di Sulawesi Utara juga. Trimakasih. Bagus.🙂

    July 2, 2011 at 7:29 PM

  6. Nice article…
    ijin di share yah🙂

    May 28, 2012 at 5:02 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s