Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for October, 2011

Fotografi adalah Sarana Belajar Mengerti

Sebuah foto dikritik habis, sementara foto lain sarat puja-puji. Seorang pemirsa foto manggut-manggut sambil acung jempol, sementara pemirsa lain mengernyitkan dahi kepada foto yang sama.

Sebuah foto tak berarti tanpa pemirsa. Dan sebuah ide hanya bisa jadi cemerlang jika diwujudkan dalam foto. Itulah hakikat foto sebagai bahasa komunikasi visual.

Komunikasi tentu butuh 2 pihak: komunikator dan komunikan. Jika pemirsa foto tak mengerti, maka fotografer tak berhasil menyampaikan pesan. Sesederhana apapun pesan itu, musti sampai ke benak pemirsa.

Fotografer haram meminta-minta dimengerti karya fotonya. Adalah hak tiap pemirsa untuk menginterpretasi secara bebas. Karena kebebasan adalah syarat kreativitas, dan kreativitas adalah motor fotografi.

Demikianlah fotografer musti memahami cara berpikir para pemirsa karya-karyanya. Tanpa belajar mengerti, fotografer tak akan berhasil menyampaikan pesan-pesan dari benaknya.

Tatkala belajar memotret pun, fotografer musti memahami prinsip dasar dan logika pencahayaan. Menghapalkan teori fotografi tak bakal menelurkan pemahaman logika. Dalam fotografi tak ada dogma. Dan setiap teori yang dipelajari musti dibuktikan sendiri di lapangan.

Ketika memotret pun hakikat mengerti masih berlaku. Seorang fotografer arsitektur tak menghasilkan karya cemerlang tanpa mempelajari karya arsitektur yang dipotretnya. Seorang fotografer makanan bisa jadi terkendala dalam pekerjaan memotret jika tak mengerti bahan-bahan penyusun makanan yang dipotretnya.

Alangkah aneh seorang fotografer perjalanan tak bisa menjelaskan subyek-subyek fotonya sepanjang perjalanan. Alangkah naif seorang pewarta foto jika hanya bertugas mengandalkan agenda acara resmi dan memotret ketika semua pewarta foto lain juga membuat foto yang kurang lebih sama.

Pekerjaan memotret bisa jadi kacau balau tatkala fotografer pernikahan tak paham acara adat yang ditugaskan kepadanya. Bahkan seorang fotografer pasfoto bisa dapat masalah besar jika tak tahu nama orang yang dipotret, atau silap menamai foto.

Mengerti dan memahami bersifat aktif. Mulai dari fotografer sebagai komunikator, melalui karya foto sebagai media komunikasi visual.

Kita percaya bahwa fotografi bertujuan membawa harkat hidup yang lebih baik untuk umat manusia. Berkarya tanpa pamrih niscaya membersihkan niat luhur dari keinginan untuk dikagumi dan hasrat bergelimang puja-puji. Kita juga percaya bahwa kerendahhatian dan pikiran terbuka melandasi kreativitas fotografi.

Biar foto yang bicara.

Advertisements

Mudah Memotret Makanan dengan BlackBerry 9900

Saturasi warna dan akurasi yang baik ada di ponsel berkamera BlackBerry 9900. Menu pindang udang dan pindang patin di sebuah rumah makan di Palembang, Sumatra Selatan. Foto oleh Kristupa Saragih
Saturasi warna dan akurasi yang baik ada di ponsel berkamera BlackBerry 9900. Menu pindang udang dan pindang patin di sebuah rumah makan di Palembang, Sumatra Selatan. Foto oleh Kristupa Saragih

Saturasi warna dan akurasi yang baik ada di ponsel berkamera BlackBerry 9900. Menu pindang udang dan pindang patin lengkap dengan ikan seluang goreng, sambal buah dan sambal kerang di sebuah rumah makan di Palembang, Sumatra Selatan. Foto oleh Kristupa Saragih

Makanan mengundang selera. Makanan enak selalu dicari. Dan pengalaman indah selalu ingin segera dibagikan.

Dalam kesempatan santai, kumpul dengan keluarga dan teman, atau dalam perjalanan wisata, makanan kerap disebut pengalaman kuliner, bahkan wisata kuliner. Tentu akan ribet membawa kamera besar untuk memotret makanan, karena hanya untuk kepentingan kasual.

Dengan ponsel berkamera, memotret makanan jadi mudah dan bisa langsung dibagikan ke kolega dan social media. Lebih mudah lagi dengan kelebihan-kelebihan BlackBerry 9900. Ponsel cerdas dengan layar sentuh yang lebar 2,8 inci.

Tak perlu repot membawa-bawa makanan ke tempat dengan pencahayaan sempurna. Cukup di meja saja, dan potret makanan dengan cahaya yang ada. Untuk mempermudah, pilih meja dekat jendela agar memperoleh window lighting.

Manfaatkan side-lighting dari window lighting. Detail di daerah shadow masih terekam baik oleh kamera beresolusi 5 megapiksel di BlackBerry 9900. Foto oleh Kristupa Saragih

Manfaatkan side-lighting dari window lighting. Detail di daerah shadow masih terekam baik oleh kamera beresolusi 5 megapiksel di BlackBerry 9900. Kue ape, penganan khas Sumatera Selatan difoto di sebuah rumah makan di Palembang. Foto oleh Kristupa Saragih

Cahaya dari jendela lazimnya sudah bersifat lembut, sehingga tak perlu bawa-bawa softbox dan flash. Posisikan makanan dekat jendela dan posisikan sudut pemotretan agar sumber cahaya datang dari samping, alias side lighting.

Selebihnya adalah tinggal mengatur sudut agar susunan makanan terlihat sesuai keinginan Anda. Pastikan point-of-interest memperoleh porsi cukup. Menu-menu penyerta diposisikan sesuai fungsinya sebagai penyerta, bukan yang utama.

Fitur autofocus-lock yang absen di BlackBerry 9900 bisa jadi hambatan. Tapi bisa diatasi dengan mengatur jarak yang cukup, dan bisa dipantau melalui layar kamera 5 megapiksel. Untuk zoom, sentuhkan jari di layar ponsel dan geser-geser sesuai kebutuhan. Inilah kelebihan BlackBerry 9900 berlayar sentuh yang responsif dan presisi.

Fitur AF-lock absen di BlackBerry 9900. Atasi dengan pantau jarak agar memadai bagi sistem autofokus standar. Pho bo, mie daging sapi khas Negara Paman Ho di sebuah restoran Vietnam di Jakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Fitur AF-lock absen di BlackBerry 9900. Atasi dengan pantau jarak agar memadai bagi sistem autofokus standar. Pho bo, mie daging sapi khas Negara Paman Ho di sebuah restoran Vietnam di Jakarta. Foto oleh Kristupa Saragih


Taking Fireworks Pictures with BlackBerry 9900

Fireworks in Prambanan Temple. Taken by BlackBerry 9900. Photo by Kristupa Saragih

Fireworks in Prambanan Temple. Taken by BlackBerry 9900. Photo by Kristupa Saragih

Fireworks is always interesting. Serious photographers might grab a DSLR and slide it into a sturdy tripod. Exposure would be set to slow-shutter speed setting to capture the fireworks trails.

But what would we do with only a mobile phone camera in hand?

Capturing pictures doesn’t solely rely on gear. As long as we get the idea beforehand, then execution just needs a little practice.

In an event in Prambanan Temple, Yogyakarta a couple weeks ago, there was fireworks show to finalize the day. I got myself BlackBerry 9990 in-hand, which I have just received a couple of days back.

BlackBerry 9900 has a smart light meter to capture correct exposure in dark backgroound. Photo by Kristupa Saragih

BlackBerry 9900 has a smart light meter to capture correct exposure in dark backgroound. Photo by Kristupa Saragih

First impression, BlackBerry 9900 camera is more responsive than my previous BlackBerry 9780. It has less shutter lag, less time-lapse in-between photo-taking, and smarter light meter. Bigger screen in BlackBerry 9900 is a big addition with better image quality.

Although BlackBerry 9900 camera doesn’t have autofocus-lock, it doesn’t really matter on shooting fireworks. In certain distance of shooting, less autofocus-lock doesn’t become a handicap in producing acceptable mobile phone camera pictures.

I still could capture dark sky as total black, while some other mobile phone cameras produces grayish cast. I also could produce sharp images in a bit difficult situation with dim ambient light and dark background.

I thought I was lucky to be on the right time and the right place to capture the fireworks. But with BlackBerry 9900 in my hand, yes, I am the lucky man with the right gear.

Please be noticed, that none of the pictures attached here have undergone anykind of digital editing. They are all original without any single adjustment.

Capturing the joy of the moment by BlackBerry 9900. Photo by Kristupa Saragih

Capturing the joy of the moment by BlackBerry 9900. Photo by Kristupa Saragih


Belajar pada #FN9 Manado dan Palembang

Awal tahun 2009, kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) Manado mengontak. Terbit niat untuk menggelar gathering FN di ibukota Sulawesi Utara. Sayang agenda FN Gathering 2009 sudah diajukan ke sponsor sejak akhir 2008 dan sudah disetujui.

Pantang menyerah, kawan-kawan FN Manado di bawah bendera klub Manado Photo Club (MPC) waktu itu merapatkan barisan. Kepanitiaan dibentuk dan anggaran disusun, sponsor dicari. Semua dilakukan atas inisiatif anggota-anggota FN Manado secara swakarsa dan swadaya.

Gathering pertama pun berhasil digelar pada Juli 2009. Peserta ramai dan acara berlangsung seru. Mumpung semangat masih berkobar, kawan-kawan FN Manado kembali menggelar gathering Tahun Baru 2010. Kali ini bendera yang diusung adalah klub Spot Photographers, menyikapi dinamika yang terjadi di MPC.

Kekompakan dan kerja keras kawan-kawan FN Manado berbuah. FN Gathering Series 2010 menempatkan Manado sebagai salah satu kota di agenda seri tahunan. Tapi kawan-kawan FN Manado tak lekas puas, masih dengan bendera Spot Photographers mereka kembali menggelar gathering Tahun Baru 2011. Semua sukses, semua ramai peserta dan semua berlangsung seru dalam kebersamaan dan suasana persahabatan.

Menanggapi semangat swakarsa dan inisiatif yang menggebu-gebu, kawan-kawan FN Manado di tahun 2011 menjadi tuan rumah 2 acara, FN Gathering Series 2011 dan FN Workshop Series 2011. Kedua acara sudah berlangsung, tetap dalam suasana persahabatan namun jumlah peserta yang bertambah dan acara yang lebih beragam.

Cerita yang serupa tertoreh di Palembang. Berkali-kali diusulkan masuk ke agenda seri tahunan FN tapi nampaknya ibukota Sumatera Selatan ini belum terperhatikan. Tapi justru hal itu menjadi penyulut semangat gotong royong kawan-kawan FN Palembang dan pengikat kekompakan mereka.

Dalam waktu kurang dari seminggu, kepanitiaan dibentuk dan anggaran disusun. Rapat-rapat panitia yang berjumlah beberapa gelintir orang saja digelar tiap malam. Berbagai warung kopi dan warung pempek jadi saksi gerilya penyusunan strategi kawan-kawan FN Palembang.

Sponsor tak jadi masalah, lantaran ada banyak teman di Palembang yang bisa “ditodong” meski hasil tak banyak. Namun, semboyan “bersatu kita teguh” dan “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” jadi nyata di Palembang. Gathering pertama di Palembang digelar dua pekan lalu.

Acara FN Palembang diawali petang hari di Dekranasda, Jakabaring dan ditutup makan malam bersama di tepi Sungai Musi, menghadap Jembatan Ampera yang legendaris itu. Peserta datang dari berbagai kota di Sumatra Selatan, seperti Muara Enim dan Baturaja. Banyak juga peserta yang datang dari provinsi-provinsi tetangga, 5 orang dari Jambi, 2 dari Batam di Kepulauan Riau, 4 dari Pangkalpinang di Bangka Belitung dan 1 orang dari Lampung.

Jumlah 159 peserta dan asal dari berbagai daerah jelas jadi bukti nyata kerinduan kawan-kawan anggota FN untuk bertemu, berkumpul dan berbagi. Palembang membuktikannya dalam bungkus acara yang meriah, dan lebih dari 90 persen peserta tetap setia mengikuti acara hingga usai mendekati pukul 10 malam.

Kita membuktikan, bahwa keinginan dan kerinduan yang sama mengumpulkan kita untuk mencapai tujuan yang sama, dibungkus persahabatan dalam kecintaan pada fotografi. Inisiatif terbit dari bawah, bottom up. Bukan sebaliknya, ada yang gelar acara meski esensi tak mengena dan bertujuan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.

Kendala dana diatasi secara gotong royong. Jangan sampai persahabatan kita dan kemauan untuk berbagi terganggu karena dana. Kalau kita mau, kita bisa.

Manado dan Palembang bisa.