Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for January, 2012

#TheTerminal Series 02 UPG

People may say airports in Indonesia are old-school and old-fashioned. But there is Sultan Hasanuddin International Airport in Makassar, the capital of South Sulawesi, Indonesia which shows a modern look.

Internationally coded as UPG, Sultan Hasanuddin International Airport serves flights as main-hub for eastern Indonesia. It is built by Indonesian engineers and designed by Indonesian architects. It shows good compromise among the function as airport, tropical climate and traditional South Sulawesi visualization.

I always enjoy my transit here. It is very easy to find shooting spots. I wish more Indonesian airports were built with similar compromises as this airport has.

All pictures in this post were taken by BlackBerry 9700 and post-processed in Molome.


Kodak Pailit, Bukti Dinamika Fotografi

Kodak High-Speed Infrared HIE dan Kodak Ektachrome Plus EPP. Foto oleh Kristupa Saragih

Kodak High-Speed Infrared HIE dan Kodak Ektachrome Plus EPP. Foto oleh Kristupa Saragih

Kamis, 19 Januari 2012 jadi hari yang selalu dikenang dalam sejarah fotografi. Raksasa fotografi Kodak membukukan kebangkrutan secara resmi di negara tempatnya berdiri, AS. Perusahaan ternama dunia ini tutup usia meninggalkan nama besar, sekaligus hutang sebesar lebih dari 6 milyar dolar AS.

Berdiri secara resmi sebagai Eastman Kodak Company pada 1892, sang pendiri George Eastman sudah memulai usahanya sejak 1880. Mulanya sebagai produsen plat cetak, Kodak adalah perusahaan pertama pembuat film rol pada 1885. Tahun 1888 juga tercatat sebagai sejarah fotografi, Kodak memproduksi kamera single focus yang secara populer dipakai oleh fotografer amatir.

Banyak hal yang pertama, dan lantas menjadi terbesar, yang dilakukan Kodak. Selain sebagai penemu film rol, Kodak pulalah yang memproduksi pertama kali film berwarna pada tahun 1935. Dinamai Kodachrome, film warna pertama itu berupa film positif alias slide. Kodak juga mempopulerkan pertama kali kamera instan bernama Instamatic pada tahun 1960-an, bersaing dengan Polaroid.

Kodak juga yang pertama kali memproduksi kamera digital pada 1986. Dimulai sejak penemuan teknologi fotografi digital pada 1975, juga oleh insinyur-insinyur Kodak, sensor digital pertama pada 1986 beresolusi 1,4 juta piksel dan cukup untuk membuat foto 5R berukuran 5×7 inci.

Teknologi kamera digital digunakan pertama kali di event dunia juga oleh Kodak. Modul digital bernama Kodak DCS (Digital Camera System) beresolusi 1,3 megapiksel ditanam di Nikon F3 pada 1991, total seharga 20 ribu dolar AS. Besar modul Kodak DCS hampir sama dengan bodi Nikon F3 dan membuat bobotnya berlipat ganda, dengan modul penyimpan file foto secara terpisah.

Teknologi yang pertama kali dikembangkan oleh Kodak inilah yang kemudian menggulung hidupnya sendiri. Kodak disusul Sony, Panasonic, Nikon dan Canon lantas tenggelam dalam pusaran industri peralatan fotografi digital. Padahal, Kodak dulu pernah jaya, selain sebagai produsen film, juga sebagai produsen terkemuka kertas foto dan bahan kimia pemroses film dan kertas foto. Kodak juga memproduksi kamera digital saku hingga akhir hayatnya.

Fotografer-fotografer yang lahir di era film pasti ingat kejayaan Kodak T-Max, film hitam-putih yang legendaris itu. Kodak T-Max ISO 100 berkode TMX, dan ISO 400 berkode TMY. Ilford juga dikenal sebagai produsen film dan kertas ternama, tapi ada rasa berbeda jika memotret dengan T-Max lantas diproses dengan developer Kodak D76. Fotografer profesional pun belum terasa mantap hati jika tak memotret dengan Kodachrome Professional 100 berkode EPP itu.

Meski memproduksi kamera digital, Kodak ternyata tak mampu bertahan di kedahsyatan arus perkembangan teknologi fotografi digital. Fuji Film, pesaingnya dari Jepang, masih berusaha bertahan. Kamera termutakhir dari Fuji Film didesain retro bertipe X10 dan X100.

Entah akan bertahan lama. Film merk Sakura sudah tutup usia jauh lebih dahulu. Pabrik film Konica sudah membeli Minolta tahun 2000-an, namun sekarang Konica-Minolta sudah diakuisisi Sony. Siapa sangka raksasa sebesar Kodak yang pernah terdaftar di bursa Wall Street harus “delisted” bahkan pailit?

Saya masih menyimpan Kodak High-Speed Infrared berkode HIE format 135 dan Kodak Ektachrome Plus 100 format 120 berkode EPP, masing-masing 1 rol. Biar menjadi kenangan, lantaran meski masih punya kamera film tapi sulit mencari tempat proses dan biayanya mahal.

Bagi fotografer amatir alias pehobi yang fanatik film, memotret dengan film bisa jadi menyimpan kesenangan tersendiri. Tapi fotografer profesional mungkin tak akan pernah lagi memotret dengan film, kecuali untuk proyek pribadi atau memang dipesan klien yang membayar mahal.

Kepailitan Kodak bukan semata hanya bisa disikapi secara bisnis. Kodak menjadi bukti bahwa duia fotografi dinamis. Dalam fotografi tak ada yang abadi kecuali karya foto dan nama fotografer pembuatnya, serta pesan yang terkandung di dalam foto.


#TheTerminal Series 01 KUL

Visiting Kuala Lumpur International Airport (KLIA) Malaysia gives me time to enjoy lines and shapes in its architecture. Come early to KLIA and make some shots with my BlackBerry camera is worth a spend of time.

20120110-002211.jpg

20120110-002042.jpg

20120110-002422.jpg

20120110-002802.jpg

20120110-002911.jpg

20120110-003010.jpg

20120110-003109.jpg


Kisah Koresponden Majalah Hai 1992-2000 #hai35

Kartu identitas koresponden Hai yang saya pakai dalam tugas
Kartu identitas koresponden Hai yang saya pakai dalam tugas

Kartu identitas koresponden Hai yang saya pakai dalam tugas

Berawal dari sebuah telepon ke kantor Harian Bernas Jogja pada suatu sore tahun 1992. Saya waktu itu masih siswa SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan menjadi redaksi lembaran khusus pelajar SMA bernama Gema di Bernas. Di ujung telepon B Dharmawan dari Majalah Hai berbicara dari kantornya di Jl Palmerah Selatan 22 Jakarta.

Demikianlah awal kisah saya bersama Majalah Hai, majalah remaja pria paling top saat itu. Kegiatan di Gema Bernas tetap dilakoni bareng dengan Majalah Hai karena kedua media itu masih berada dalam Kelompok Kompas Gramedia. Saya beruntung bisa bergabung dengan Hai yang adalah pencetus istilah “pers abu-abu” untuk ekstrakuriler jurnalistik pelajar SMA yang berseragam putih abu-abu.

Saya juga beruntung bersekolah di SMA Kolese De Britto yang menganut paham pendidikan bebas. Menunaikan tugas jurnalistik tak gampang bagi siswa SMA, lantaran kadang-kadang harus keluar di jam sekolah. Untunglah pamong-pamong di SMA Kolese De Britto amat mendukung dan mengerti. Waktu saya SMA, ijin saya mintakan ke Rm T Krispurwana Cahyadi SJ, yang dulu masih Frater. Dukungan ini ada juga karena Romo Pamong Rm E Baskoro Pudji Nugroho SJ.

Jadilah saya berguru pada Yusran Pare di Harian Bernas dan B Dharmawan di Majalah Hai. Jaman dulu belum ada internet, komputer masih langka dan mahal. Saya dididik Mas Yusran membuat tulisan dengan mesin tik, dan diperiksa dengan spidol merah plus komentar-komentar lisan namun keras. B Dharmawan, akrab dipanggil dengan inisial Dhw, mendidik membuat tulisan berdasar outline dan kebutuhan foto yang layak tampil di majalah terkemuka kelas nasional.

Saya masuk ke Hai menggantikan koresponden Dino Martin, kakak kelas di SMA Kolese De Britto. Sekarang Dino Martin jadi pebisnis di Jakarta. Mas Yusran sekarang jadi Pemimpin Redaksi Harian Banjarmasin Post di Banjarmasin, Kalsel dan Mas Dhw saat ini bertugas sebagai Editor in Chief Majalah Martha Stewart Living di Jakarta, kedua media tersebut bernaung di Kelompok Kompas Gramedia.

Di lembaran Gema Bernas, saya dan teman-teman sesama redaksi tidak memperoleh bayaran. Semangat Gema memang memajukan ekstrakurikuler jurnalistik pelajar SMA di Yogyakarta dan sekitarnya. Sementara di Hai saya dapat honor, sama seperti koresponden-koresponden lainnya. Bernas dan Gema menjadi pondasi kemampuan jurnalistik yang saya lakoni hingga saat ini.

Pergaulan sebagai siswa SMA yang bertugas sebagai koresponden Hai berlanjut hingga kuliah. Saya berjumpa banyak orang di berbagai kesempatan. Tugas pertama dari Hai untuk saya adalah menulis features Akademi Teknologi Kulit di Yogyakarta untuk rubrik Ke Mana Setelah SMA. Tulisan pertama itu dimuat bulan Juli 1992. Tugas selanjutnya adalah menulis profil Sekolah Menengah Musik Yogyakarta.

Tugas-tugas yang saya lakoni tak hanya dikirim berupa tulisan tapi juga beserta foto-foto yang saya buat sendiri. Kebutuhan ini membuat saya belajar fotografi serius, agar foto layak tampil di Hai. Namun karena keterbatasan ekonomi, saya hanya mampu belajar otodidak, baca majalah pinjaman dan bergaul dengan kawan-kawan yang berminat sama. Senjata saya pada saat itu adalah kamera Nikon F-401x dan lensa 35-70mm berikut tunggangan Honda GL100 butut yang dibeli bekas.

Sejak SMA saya terdidik secara alami untuk tak terkendala dengan keterbatasan. Tak punya lensa tele atau lebar, saya cari pinjaman teman. Butuh liputan dengan mobil, saya pun cari pinjaman, karena untuk sewa pun tak cukup uang. Keterbatasan waktu sejak SMA berlanjut hingga kuliah di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, yang bahkan lebih amat sangat terbatas. Keadaan membuat saya terbiasa tak punya waktu luang.

Saya merasa beruntung bisa belajar jurnalistik sejak dini. Pola berpikir menjadi runtut, dan mudah menulis dengan nalar yang mudah dipahami pembaca. Saya juga beruntung bisa belajar fotografi sejak dini, yang lantas menjadi jalan hidup.

Tahun 1992 saya dapat tugas menulis profil SMA Van Lith di Muntilan, sekitar 45 menit arah utara Yogyakarta, saya pergi sendiri menunggang GL 100. Pulang dari Muntilan, hujan mengguyur di jalan, dan sepatu saya satu-satunya jadi tabung air hujan. Untung SMA Kolese De Britto membebaskan siswa untuk memakai sepatu sandal ke sekolah.

Tugas-tugas jurnalistik yang saya terima mendidik diri untuk menyelesaikan segala sesuatu demi tulisan yang dikirim tepat waktu. Bimbingan dari Mas Dhw dan Mas Yusran bukan melenakan, tapi lebih berupa cambuk yang bertujuan mulia. Saya beruntung bisa dapat pendidikan jurnalistik gratis, langsung di lapangan, langsung praktek dan sudah pasti dimuat, meski jalannya tak gampang.

Sebagai koresponden di luar Jakarta, saya tak mendapat kemudahan seperti koresponden yang berbasis di Jakarta. Untuk beli film dan cuci-cetak, saya musti menalangi ongkos terlebih dahulu. Padahal sebagai pelajar, kantong saya sebenarnya pas hanya untuk makan sehari-hari. Honor dari Hai baru dikirim setelah tulisan dimuat. Waktu itu masih jaman wesel, dikirim ke sekolah dan saya cairkan di kantor pos.

Suatu sore di tahun 1993, saya sedang tidur di kamar kos di Jogja, tiba-tiba Mas Dhw sudah di depan kamar. Saya dibangunkan dan diminta segera meliput. Hal ini saya pahami sebagai bagian dari pendidikan agar jadi jurnalis yang siap bekerja 30 jam sehari dan 10 hari seminggu.

Dari Hai saya dapat banyak pengalaman berguna, unik dan tak terlupakan. Saya beberapa kali meliput seri kejuaraan nasional motocross dan 2 seri kejuaraan motocross seri FIM Asia, pertengahan tahun 1990-an. Dari liputan-liputan itu saya kenal banyak pembalap yang akrab hingga saat ini. Tahun 2003 saya pernah dapat telepon dari seorang mantan pengawal mantan anak RI-1 yang sering turun ke sirkuit, kenal saya waktu liputan-liputan untuk Hai.

Foto Sheila on 7 karya saya yang dimuat jadi sampul Majalah Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999

Foto Sheila on 7 karya saya yang dimuat jadi sampul Majalah Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999

Kedekatan dengan grup band Sheila on 7 di Jogja, membuat saya gampang mendekati mereka dan membuat foto-foto bagus. Dalam sebuah tugas tahun 1999, saya mewawancarai Sheila on 7 perihal kemiripan lagu mereka dengan lagu Boyzone. Tak disangka, foto yang saya kirim ke Jakarta jadi cover Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999. Foto saya buat di beranda lobi Hotel Satelit di Surabaya, sewaktu Sheila on 7 ada jadwal manggung di ibukota Jawa Timur itu.

Karena Hai, saya berkesempatan bisa ikut dalam produksi film Bulan Tertusuk Ilalang, tahun 1995 di Solo. Saya berkenalan dengan sutradara Garin Nugroho, yang akrab hingga saat ini. Saya juga berkenalan dengan Riri Riza dan pemeran utama Norman Wibowo, fotografer sampul album Iwa K.

Liputan film Bulan Tertusuk Ilalang mustinya dijadwalkan hanya 1 malam saja. Saya mengajukan tambahan waktu kepada redaksi Hai di Jakarta, karena benar-benar enjoy terlibat dalam produksi. Alhasil, liputan yang mustinya hanya 1 malam menjadi 1 minggu.

Kesempatan kedua meliput produksi film adalah tahun 1998, film Daun di Atas Bantal yang juga disutradarai Garin Nugroho. Ketemu Christine Hakim untuk saya wawancara. Baru mulai wawancara, saya dikira wartawan “koran kuning” oleh pemeran utama wanita itu. Saya protes dan hampir pulang, untung ditenangkan Mas Garin dan Mas Dhw.

Dua kali meliput produksi film, saya lantas tergerak bikin produksi film pendek dengan kawan-kawan di Jogja tahun 1999. Hasrat untuk produksi film masih ada hingga kini.

Karena Hai juga saya bisa menginjakkan kaki di Bali. Tahun 1999 saya ditugasi Hai meliput grup band Netral yang tur beberapa kota di Jawa dan Bali. Saya bergabung dengan rombongan band, bersama Bagus, Eno, Miten dan kawan-kawan. Bagian dalam bis yang disewa dari Jakarta, kursi-kursi di barisan kanan dicopot untuk peratalan band. Rombongan duduk di kursi-kursi barisan kiri.

Dalam tugas meliput tur Netral ini juga saya pertama kali merasakan menginap di hotel bintang 5, Hard Rock Hotel Bali. Di berbagai kota, agenda selalu sama. Tiba sehari sebelum pertunjukan untuk latihan, sound-check siang sebelum pentas, dan esok hari berangkat melanjutkan perjalanan. Saya sampai hapal lagu-lagu Netral dan urutan tampilnya.

Bersama Hai juga saya ikut dalam rombongan tur beberapa band dalam MTV Say No to Drugs tahun 1999. Tur Jawa-Bali di banyak kota, membuat saya kenal lebih banyak dengan artis dan dunia hiburan. Banyak hal yang saya pelajari dan terpakai hingga kini.

Karena nama Hai, saya dapat akses mudah waktu meliput pernikahan Andra Dewa di Yogyakarta tahun 1999. Oleh Andra, saya diberi posisi motret dengan sudut yang leluasa. Saya dapat foto yang lebih bagus daripada media-media lain.

Lantaran lebih sering menulis soal sekolah berikut kegiatan-kegiatan pelajar dan event-event otomotif, untuk liputan musik saya perlu banyak input. Begitu terima tugas, saya langsung menimba informasi dari Denny MR, yang kala itu adalah redaktur musik Hai. Jaman 90-an internet-literacy masih rendah dan belum banyak informasi di internet.

Tahun 1998 saya dapat tugas wawancara Dewa yang sedang manggung di Jogja. Tugas diterima lisan via telepon dan bersifat urgent, mengenai lagu-lagu di album Pandawa Lima yang kental nuansa Queen. Ahmad Dhani saya jumpai di Hotel Melia Purosani Jogja, dan dapat wawancara eksklusif. Tak disangka, tulisan saya lantas menjadi cover story Hai.

Kala itu, tulisan untuk Hai saya buat dengan komputer pinjaman atau pinjam komputer Bernas. Lantas tulisan dicetak dengan printer dot matrix, karena printer inkjet masih langka dan printer laser mahal. Setelah di-print, tulisan dikirim via faksimili  dari warnet di depan kantor Bernas ke kantor redaksi di Jakarta. Bon faksimili saya minta dibuatkan terlebih dahulu, ditempel di halaman akhir, supaya ikut terkirim dan biaya diganti redaksi.

Foto-foto liputan saya cetak semua, yang amat mahal, karena bukan otoritas saya untuk memilih foto untuk dimuat. Total biaya cuci-cetak tahun 90-an bisa mencapai Rp 40 ribu untuk 1 rol film isi 36. Film ISO 100 waktu itu berharga sekitar Rp 15 ribu. Kalau dapat tugas motret panggung, saya musti beli film ISO 400 yang berharga lebih mahal dan musti push processed, yang lebih lama dan lebih mahal daripada proses biasa.

Honor dari Hai satu tulisan Rp 100 ribu dan satu foto Rp 25 ribu. Dalam satu features, bisa 6-8 foto dimuat. Tapi, rubrik singkat bisa jadi hanya butuh 1 foto saja. Kalau beruntung, sebulan saya bisa dapat wesel dari Hai total Rp 600 ribu. Jumlah itu besar untuk tahun 90-an awal bagi pelajar berkantong pas-pasan seperti saya.

Dahulu belum jaman ponsel. Penyeranta alias pager baru saya miliki tahun 1996. Untuk telepon ke kantor redaksi di Jakarta, saya harus collect call dari kantor Telkom di Kridosono.

Berbagai liputan seru pernah saya tulis untuk Hai. Di event-event otomotif saya bisa bersanding dengan fotografer-fotografer sport terkemuka internasional. Tapi rasa deg-degan justru timbul kalau dapat tugas untuk rubrik Cewek Hai. Maklum, sekolah di SMA Kolese De Britto yang semua muridnya laki-laki tentu “gersang”. Lanjut kuliah di Teknik Geologi UGM juga langka perempuan.

Segala sesuatu yang terjadi selama saya bertugas untuk Hai telah menjadi dasar pola bekerja dan pola berpikir saya saat ini. Sewaktu saya direkrut oleh Schlumberger pada Desember 1999, mental saya telah tertempa karena bertahun-tahun kerja di lingkungan yang selalu baru. Ketika tahun 2000 saya berangkat bekerja keVietnam dan Mesir, sebagai field engineer Schlumberger, karena saya lulusan Teknik Geologi, saya terbiasa dengan hidup sebagai jurnalis yang banyak bepergian dan tidur lelap di tempat seperti apapun.

Waktu bersama Hai adalah salah satu periode penting dalam hidup saya. Jika ada dana dan personil, serta waktu memungkinkan, ingin rasanya menghidupkan kembali Pesta Pelajar yang pernah harum oleh Hai. Saya juga menyimpan kerinduan untuk ikut serta dalam kegiatan pers abu-abu, yang pernah mendidik saya dahulu dan membentuk saya hingga seperti saat ini.

Selamat berhari jadi ke-35 Majalah Hai.