Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for May, 2014

Kisah dari Air Terjun Semolon, Malinau #KaltaraPhotoCamp

Image

Berada di hamparan hutan tropis Kalimantan, air terjun Semolon sehari-hari sunyi. Sesekali saja ada pengunjung di salah satu tempat wisata andal Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini. Tapi pada akhir pekan 17-18 Mei, air terjun Semolon ramai benar.

Image

Tercatat 60 fotografer dari seluruh kabupaten di Kaltara hadir, bersama dengan sejumlah tamu fotografer asal Balikpapan, Kaltim dan Jakarta. Tampak hadir juga puluhan penari dan pemusik tradisional dari desa wisata Setulang, yang bertetangga dengan Semolon. Terlihat pula hadir belasan Pramuka Saka Wira Kartika yang membaur bersama pemuda-pemuda setempat.

Workshop singkat fotografi oleh Kristupa Saragih dan Dewandra Djelantik membuka rangkaian kegiatan Kaltara Photography Camp. Kedua fotografer profesional ini berasal dari komunitas Fotografer.net (FN), website fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Bagi semua peserta dan pembicara, ini adalah kali pertama mereka semua mengalami workshop fotografi di tengah hutan tropis lebat.

Total ada 200 ransum makanan yang disiapkan untuk seluruh hadirin yang menginap semalam di tenda-tenda yang terhampar di lapangan. Gelaran Kaltara Photography Camp semula optimis hanya pada jumlah sekitar 50 pendukung saja. Namun gema semangat fotografer untuk Persatuan Indonesia ini ternaya sampai ke mana-mana.

Image

Bupati Malinau Yansen Tipa Padang hadir membawa serta jajaran pemkab (pemerintah kabupaten). Kehadirannya menyemangati para peserta dan pendukung. Tak hanya ikut memotret bersama peserta, Bupati hadir hingga larut malam dan berbaur akrab seraya berseling dengan canda tawa.

Image

Inisiatif Dandim 0910 Malinau Letkol Inf Agus Bhakti semula hanya sesederhana mengumpulkan para fotografer Kaltara, yang masih muda-muda, lantas mengumandangkan semangat kebangsaan dan cinta Tanah Air. Namun motivasi sederhana ini justru membakar semangat para fotografer dari kabupaten-kabupaten lain di Kaltara untuk merapatkan barisan dan menyatukan langkah untuk NKRI.

Semangat yang bergelora dari para fotografer ini dikemas dengan acara motret figur-figur khas Dayak, yang diboyong ke Semolon, dan atraksi-atraksi tradisional Dayak. Para fotografer Kaltara paham benar, bahwa tugas dokumentasi untuk pelestarian budaya tradisional dan ajaran para leluhur ada di tangan mereka.

Posisi Kaltara di perbatasan dengan negara asing mengkukuhkan semangat pengibaran Merah Putih melalui fotografi. Jangan sampai alam indah Indonesia dan budaya Nusantara diklaim sebagai milik asing. Foto-foto yang dibuat di Semolon menjadi inspirator para fotografer di seantero Kaltara untuk menyebarluaskan foto-foto yang dibuat di daerah masing-masing sebagai pengumuman kepemilikan atas Tanah Air dan budaya Indonesia.

Sudah cukup kejadian-kejadian tari tradisional Indonesia, motif pakaian dan makanan asli Indonesia diklaim sebagai milik asing. Sudah bulat tekad para peserta Kaltara Photography Camp menyumbangkan diri untuk kedaulatan Indonesia melalui fotografi.

Image

Malam Minggu di air terjun Semolon itu sangat berarti. Para peserta dan panitia Kaltara Photography Camp berdiri melingkari apa unggun dan berpengangan tangan sembari menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Ketika lagu “Syukur” dinyanyikan, salah satu panitia membacakan puisi kebangsaan yang disahut dengan deklamasi kebangsaan oleh Bupati Yansen. Di bawah siraman cahaya bulan purnama, nyala api unggun dan lirik “Syukur” memadu keharuan dan semangat.

Image

Esok paginya, para peserta mandi di mata air panas yang bercampur dengan sumber air segar air terjun Semolon. Usai sarapan ala lapangan, para peserta menanam bibit pohon di seputar lokasi wisata air terjun Semolon bersama Dandim 0910 Malinau, Komandan Yonif (Danyon) 614/RP Letkol Inf Hadi Al Jufri dan direksi PT BDMS Daniel Suharya. Semua hadir di Kaltara Photography Camp karena Bupati, Dandim, Danyon dan direksi serta sejumlah staf PT BDMS memang penggemar fotografi.

Dari lomba foto kecil-kecilan yang digelar, pagi itu hasil lomba diumumkan. Ada masing-masing 3 pemenang dari 3 kategori lomba: landscape, human interest dan model. Para pemenang asal Tarakan ternyata tak mengantongi uang tunai hadiah lomba. Mereka ternyata menggabungkan seluruh uang hadiah untuk menyiapkan kegiatan lanjutan serupa Kaltara Photography Camp di Tarakan. Semoga niat mulia ini terwujud segera.

Image

Begitu besar semangat persahabatan, kebersamaan dan kebangsaan yang timbul sekaligus disatukan di antara suara gemericik air terjun Semolon. Para peserta berangkat ke Semolon dan pulang ke rumah masing-masing atas biaya pribadi. Hanya semangat lah yang memberanikan mereka menumpang pesawat terbang dan speed boat berjam-jam, disambung menumpang truk tentara, untuk berjumpa rekan-rekan fotografer dari kabupaten-kabupaten se-Kaltara.

Nun di ujung utara Kalimantan sana, hutan masih terhampar lebat bersama deburan jeram Sungai Kayan dan Sungai Mentarang. Udara yang segar dan tradisi masyarakat yang masih asli merekatkan persatuan fotografer Kaltara untuk Persatuan Indonesia melalui fotografi. Kebhinekaan kita adalah kekayaan kita.

Meski hidup masih sulit, BBM (bahan bakar minyak) dan sembako (sembilan bahan pokok) saja berasal dari negara tetangga dan berharga mahal, semangat kreativitas senantiasa menyala. Sinyal seluler baru masuk pedalaman pada Desember 2013, itupun dalam kecepatan data internet yang amat minim.

Justru dalam segala keterbatasan itulah semangat perjuangan dan persatuan terjaga.

Dari Malinau, para fotografer Kaltara menyuarakan semangat persahabatan dan cinta lingkungan. Jauh dari pamrih nama tenar dan iming-iming materialisme, mereka bergerak dalam sepi. Namun gema Persatuan Indonesia dari ujung utara Kalimantan ini menggelorakan semangat para fotografer di seluruh Nusantara untuk beraksi serupa.

Biar foto yang bicara.

 

Image

 

Foto-foto oleh: Kristupa Saragih

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang


Refleksi #FNpapuaGathering 2014

Gelar acara kumpul bareng alias gathering fotografer di provinsi padat penduduk dan dekat, atau malah di, ibukota tak menjumpai kendala berarti. Peminat banyak, biaya murah dan sponsor mudah mendekat.

Menggelar gathering di ibukota provinsi Papua Jayapura ternyata menjumpai banyak kendala, dari berbagai arah.

Motivasi “Majukan Papua Melalui Fotografi” lahir dari kegelisahan sejumlah fotografer untuk berbuat nyata bagi tanah Papua melalui kamera mereka. Namun mantra ini tak menarik bagi sejumlah perusahaan, yang mayoritas berbasis di Jakarta.

Berbagai alasan lahir dari perusahaan-perusahaan yang diincar panitia Fotografer.net (FN) Papua Gathering atau #FNpapuaGathering untuk mensponsori kegiatan. Mulai dari “no interest” bagi bisnis mereka, biaya mahal namun “small return”, tak ada dealer alias cabang di Papua, hingga cibiran untuk perkiraan jumlah peserta yang kecil.

Saya secara pribadi mendekati sejumlah kenalan yang menempati posisi “decision making” di perusahaan-perusahaan nasional di Jakarta. Tapi hanya senyuman dan penolakan halus yang menerpa mata dan telinga saya. Bagi mereka, keamanan Papua bukan pertimbangan, lantaran percaya rekomendasi saya. Namun alasan bisa lahir dalam 1001 bentuk dan varian.

Dalam hati saya berulang kali membatin, haruskah fotografer tanah Papua berhutang budi pada kebaikan pihak asing yang berminat mensponsori? Apakah bisnis murni bagi sebuah perusahaan di tingkat tertentu mengalahkan rasa kebangsaan, meski mereka memajang Merah Putih di berbagai kesempatan?

Bersemangat Merah Putih, segenap panitia #FNpapuaGathering bertekad menggelar kegiatan pada tanggal 1 Mei. Bertepatan dengan hari peringatan penggabungan Irian Barat ke NKRI pada tahun 1963 oleh UNTEA, badan dunia PBB, kami ingin menunjukkan kedaulatan fotografer Indonesia atas Tanah Air kami sendiri.

Para panitia yakin, tak ada NKRI tanpa Papua. Motivasi ini tak berlebihan, karena setiap WNI wajib ikut serta membela dan mempertahankan keutuhan NKRI. Komunitas fotografi Indonesia, dengan payung website fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara Fotografer.net berada di garis terdepan mewujudkan dan menjaga nyala semangat itu.

Kocek pribadi panitia pun dipertaruhkan, seraya tetap bergerilya mencari dukungan agar fotografer Papua punya momentum menunjukkan kebersatuan dan persahabatan. Hingga kurang dari sebulan sebelum pelaksanaan, kami paham bahwa #FNpapuaGathering, secara biaya, adalah sebuah “mission impossible”.

Pendekatan pribadi ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua membuahkan hasil, sejurus dengan pendekatan ke sejumlah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) di Papua. Namun kabar ini baru diterima sekitar seminggu sebelum acara digelar. Pemprov Papua dan Pemkab Lanny Jaya memberikan dukungan dana tunai.

Napas sudah ngos-ngosan dan hampir habis lantaran dompet sudah terkuras membiayai pemesanan tiket pesawat panitia, memesan makanan, membayar produksi publikasi dan memesan penginapan. Bantuan pemerintah baru cair setelah acara kelar.

Perusahaan telekomunikasi seluler akhirnya bersedia mendukung, setelah pendekatan pribadi. Perusahaan ini menyediakan 3 baliho untuk dipakai publikasi #FNpapuaGathering di Jayapura. Dalam hati kami berharap, seandainya juga ada titik-titik baliho di kota-kota lain di Papua.

Masalah dana teratasi di menit terakhir, namun kendala lain justru datang dari beberapa individu di Papua sendiri.

Ada figur yang ogah turun tangan saat bekerja, tapi paling lekas di posisi paling depan ketika tiba saatnya makan-makan dan acara santai. Ada pula figur yang merasa “senior” tapi tidak bisa merasakan junior-juniornya bermandi keringat dan berkorban waktu menyiapkan acara.

Bibit perpecahan bisa terjadi di mana-mana. Namun kita paham bahwa kebhinekaan Indonesia lah sebenarnya kekayaan bangsa dan Tanah Air kita. Warisan budaya luhur nenek moyang adalah pemersatu kita.

Tanah Papua yang begitu luas terdiri atas beragam suku dan bahasa daerah. Apalagi jika kita berbicara kebhinekaan Indonesia. Keberagaman itulah pemersatu kita, tapi bukan berarti penyeragaman lantaran setiap individu adalah pribadi unik.

Melalui cara dan kecintaan pada fotografi, #FNpapuaGathering terwujud. Tak hanya gathering sehari, namun berimbuh workshop dan lomba foto yang total berdurasi 3 hari.

Peserta datang dari berbagai penjuru Papua, mulai dari Merauke, Biak hingga Kaimana di Papua Barat. Semua peserta menanggung sendiri biaya transportasi atas semangat bersatu dan persahabatan dalam balutan fotografi. Ada peserta yang harus menumpang kapal perintis belasan jam bersambung dengan 2 penerbangan perintis berjam-jam untuk mencapai Jayapura.

Ruang kelas workshop tersedia bagus dan rapi. Sejuk dan nyaman namun berbiaya murah untuk kelas hotel berbintang. Lomba foto berhadiah yang tunai jutaan rupiah digelar di tepi Danau Sentani. Model-model berdandan etnik khas Papua dihadirkan dengan berbagai setting khas aktivitas tradisional.

Orang bilang burung khas Papua Cendrawasih adalah burung surga. Panitia #FNpapuaGathering menjadikannya logo berkelir merah putih. Biar orang tahu bahwa salah satu surga fotografi Indonesia adalah Papua.

Rangkaian #FNpapuaGathering selama 3 hari dipungkasi dengan makan malam bersama. Belasan komunitas fotografi dari seluruh penjuru Papua hadir. Tiap komunitas maju ke panggung memperkenalkan diri. Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang.

Kehadiran Asisten Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua, yang mewakili Gubernur Papua, membesarkan hati para panitia dan peserta. Apalagi sambutan beliau menyatakan, bahwa tema “Majukan Papua Melalui Fotografi” sejalan dengan arah pembangunan menjadikan Papua sejahtera dan berdikari.

Secara pribadi saya cemburu dengan kawan-kawan Papua yang didukung pemprov dan pemkab. Saya teringat dengan FN Goes to Natuna tahun 2013 yang didukung Pemkab Natuna di Provinsi Kepulauan Riau. Saya juga teringat dengan Kaltara Photography Camp yang digelar bulan Mei 2014 ini atas dukungan Pemkab Malinau di Provinsi Kalimantan Utara.

Indonesia bukan hanya Jawa, dan Jawa tidak hanya Jakarta. Di tempat yang mudah, semua merasa hebat. FN mencamkan benar dalam setiap kegiatan keliling Indonesia, bahwa untuk sukses tak harus di Jakarta. Dengan demikian kita menjaga semangat fotografi yang menghargai karya dan ide, bukan memuja nama individu, gelar, jabatan dan harta.

Seandainya para pemimpin daerah di Indonesia meneladani Gubernur Papua Lukas Enembe dan Pemprov Papua, betapa maju fotografi Indonesia dan bersatu fotografernya. Asisten Sekda Papua sepakat bahwa fotografi adalah alat pemasar pariwisata yang efektif, mudah dan murah jika berpadu dengan internet. Saya respek, karena pemprov dan pemkab Papua melaksanakan secara riil, bukan hanya omdo alias omong doang.

Andai-andai tak akan ada habisnya.

Dari #FNpapuaGathering 2014 ada banyak bahan refleksi dan instrospeksi. Namun, yang jelas, setiap peserta pulang dengan senyum tersungging. Terbersit harapan di hati panitia bahwa tahun depan acara serupa terulang lebih meriah. Agar lebih banyak senyum tersungging di Papua, memajukan Papua melalui fotografi.

Biar foto yang bicara.

20140524-084737-31657268.jpg