Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Archive for July, 2014

Harapan Fotografer Indonesia Pada Presiden & Wakil Presiden Terpilih RI 2014-2019

Memakai titel “fotografer Indonesia” terkesan berat dan jamak. Begitu banyak fotografer profesional dan fotografer amatir yang terwakili dengan titel itu. Namun berangkat dari Fotografer.net (FN), sebagai komunitas fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara beranggotakan lebih dari 450.000 orang, perkenankan tulisan ini berisi harapan-harapan yang terangkum dari berbagai sumber.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan kondisi negeri yang memungkinkan harga kamera lebih terjangkau. Kami sadar, tak mudah mewujudkan hal ini mengingat berbagai aspek terkait. Namun kami paham pula, bahwa dengan semangat baru yang dibawa oleh Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) terpilih Republik Indonesia (RI) maka kondisi ekonomi lebih baik.

Kami mendambakan kondisi ekonomi dengan nilai tukar Rupiah yang lebih kuat agar harga kamera, yang kami beli dengan Rupiah, bisa terjangkau.

Jika memungkinkan, kami berharap iklim penelitian, pengembangan dan pendidikan berbasis iptek dan seni pun maju. Dengan demikian, bukan tak mungkin Indonesia memiliki pabrik kamera dan berbagai piranti pendukung. Kalau memungkinkan, merk kamera pun adalah merk Indonesia, yang lahir dari buah pikiran dan karya tangan ilmuwan-ilmuwan Indonesia.

Kami berharap, karya para fotografer Indonesia terlindungi secara hukum. Memang sudah ada undang-undang pelindung Hak Cipta namun penegakan hukum masih lemah. Seandainya bisa terwujud, maka para fotografer Indonesia pun sudah sepatutnya menghormati Hak Cipta dalam segala aspek kehidupan kreatif.

Dengan penegakan hukum lebih tegas, maka karya-karya foto dihargai lebih layak oleh khalayak. Fotografer bisa hidup layak dan halal, selayaknya profesi-profesi lain di Tanah Air. Banyak talenta kreatif Indonesia yang berdikari membutuhkan situasi kepastian dan perlindungan hukum yang patut. Kita sama-sama mewujudkan para wirausaha muda yang sukses dan kreatif lahir dari fotografi. Para pewarta foto pun bisa menekuni profesinya menjadi mata hati nurani rakyat.

Melalui ketegasan dan kepastian hukum pula, kita bisa sama-sama menelisik kepatuhan para fotografer membayar pajak secara ikhlas dan jujur. Penegakan hukum tentu butuh biaya, dan merupakan tanggung jawab kita semua untuk menanggungnya bersama-sama, secara terbuka dan jujur pula.

Masih mengenai kepastian hukum, khalayak fotografi Indonesia mendambakan sudut-sudut pemotretan yang bebas spanduk liar, papan reklame yang jadi sampah visual, bangunan angkuh di lereng perbukitan, danau dan pantai, serta sawah dan kebun yang bersih dari bangunan-bangunan pengalih fungsi lahan pertanian. Kami yakin alam yang asri bisa dipertahankan tanpa tunduk kepada ketamakan otoritas setempat pada materialisme.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan situasi yang bebas pungli. Banyak tempat memotret yang dikuasai oleh orang, entah siapa dan dari mana, memungut bayaran. Bayaran-bayaran ini berupa pungutan tak jelas, non-standar, dan seringkali tanpa tanda terima.

Kami sadar, bahwa di banyak negara, banyak tempat menarik untuk fotografi tersedia secara gratis. Kami ulangi, gratis. Kalaupun berbayar, otoritas yang mengurus tempat-tempat yang menarik uang, secara fotografi, memberikan fasilitas yang memadai, seperti kebersihan, keamanan dan toilet bersih.

Fotografer Indonesia siap membayar dengan ikhlas, namun kritis terhadap penggunaan uang yang telah kami bayar. Kami tak rela, Tanah Air ini dikotak-kotakkan oleh pecinta uang, yang menyuburkan iklim penadah tangan dan pengutip tanpa bekerja.

Kami berharap, Presiden dan Wapres terpilih 2014-2019 memberikan ruang lebih banyak bagi fotografer untuk aktualisasi diri. Kata cukup mungkin tak akan pernah terwujud, namun kita perjuangkan bersama-sama.

Semakin banyak ruang pamer dan galeri foto memberikan sarana aktualisasi diri bagi fotografer sekaligus ruang apresiasi seni khalayak secara luas. Semakin banyak publikasi fotografi, baik secara online maupun offline, membudayakan kreativitas secara luas ke berbagai aspek kehidupan. Pendidikan Indonesia tak hanya di sekolah dan di keluarga di rumah, publik fotografi pun mendidik secara terbuka berbasis kebebasan yang bertanggung jawab demi kreativitas.

Khalayak fotografi Indonesia kerap kali terpinggirkan karena dianggap remeh. Kalaupun remeh, tentu hidup ini sudah membosankan lantaran tak koran dan majalah hanya tulisan melulu dan acara perkawinan hanya tinggal cerita lisan tanpa foto. Pariwisata dan kebudayaan hanya berbasis budaya tutur dan tulis tanpa budaya gambar, yang merupakan ciri kebudayaan modern.

Tanggung jawab fotografer dan peminat fotografi Indonesia untuk melestarikan budaya Tanah Air dan hidup dengan layak dari itu.

Foto-foto mempromosikan tempat wisata bersamaan dengan kerajinan tangan, tari-tarian, baik tradisional maupun modern, penginapan dan kuliner. Melalui foto pula industri garmen dan busana, baik modern maupun tradisional, bisa terpasarkan efektif. Melalui fotografi pula industri periklanan lebih kompetitif dan disain arsitektur terapresiasi lebih luas. Dengan fotografi pula poster-poster film dan sampul album-album musik tampil menarik.

Kalau kita berbicara tentang fotografi pernikahan saja, sebagai contoh, ada milyaran uang yang terlibat. Anggaplah ada 10 juta pasangan siap nikah, dari lebih dari 200 juta populasi Indonesia, dan anggaplah tiap pasang membayar Rp 1 juta untuk paket foto weding mereka. Berarti tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun, ada ratusan milyar, mungkin trilyun, uang yang berputar karena fotografi. Dan dari ratusan milyar itu, ada jutaan mulut yang bisa makan secara layak dan halal dari bisnis fotografi.

Dari segala harapan ini, kita berharap semua fotografer bertugas dengan lancar dan layak. Segala sudut Nusantara dijelajahi, termasuk garis depan perbatasan Tanah Air dengan negara-negara tetangga.

Identitas bangsa kita dokumentasikan dan publikasikan secara terus menerus di berbagai media, baik berupa warisan-warisan budaya tradisional nenek moyang maupun kreasi-kreasi modern Nusantara. Bahasa gambar bicara jutaan makna. Fotografi jadi salah satu piranti ketahanan nasional dan fotografer Indonesia wajib mengawal kekayaan Tanah Air kita sekaligus memupuk persahabatan dan persaudaraan untuk Persatuan Indonesia.

Seringkali foto-foto kami lebih berbicara daripada kemampuan kami berbicara dan menulis. Semoga harapan-harapan ini sampai kepada Presiden dan Wapres terpilih RI 2014-2019.

Biar foto yang bicara.


 

Tulisan ini dimuat pertama kali di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194608045

Advertisements

Etika, Norma dan Hukum Publikasi Foto yang Memuat Unsur Sadisme

Kita bebas memotret apapun. Tapi ketika dipublikasikan, wajib tunduk pada etika, norma dan hukum yang berlaku.

Publikasi foto di media sosial dan messenger pun wajib hormati etika, norma dan hukum yang berlaku. Sebelum publikasi foto di media sosial dan messenger, bedakan foto yang Anda buat sendiri dan foto yang hak ciptanya bukan milik Anda.

Seleksi foto-foto milik Anda, yang hak ciptanya Anda miliki, sebelum disebar di media sosial dan messenger. Periksa seksama dan cermati agar foto-foto yang Anda sebar tersebut sesuai etika, norma dan hukum yang berlaku. Etika, norma dan hukum yang dimaksud adalah etika, norma dan hukum negara dan tempat Anda menjadi warga, atau tempat Anda berdomisili ketika penyebaran foto Anda buat.

Foto-foto yang memuat unsur-unsur ketelanjangan, rokok dan narkoba, alkohol, sadisme dan pedofilia tak sesuai dengan hukum, etika dan norma. Ada unsur-unsur yang bisa dipublikasi terbatas, secara tempat dan umur. Ada pula hal-hal yang memang tak pantas dipublikasikan kepada umum.

Karena itulah media massa seperti koran, majalah, tabloid, TV dan media online tak memuat foto-foto yang melanggar etika, norma dan hukum.

Anda tentu tak ingin buka media sosial dan terpapar pada sadisme, yang dipublikasikan oleh akun-akun yang Anda follow. Anda pun, ketika sedang kumpul bersama keluarga dan teman, tak ingin semerta-merta terpapar pada foto mayat perang berdarah-darah atau mayat yang tak lengkap anggota tubuhnya.

Mawas diri dan sadar dirilah. Kritis dan jangan seenak kepala sendiri. Hormati orang lain jika ingin dihormati.

Kita memang bebas memotret, apapun. Namun, bijaksanalah berbagi dan mempublikasikan foto-foto. Bertanggung jawablah terhadap setiap foto yang Anda siarkan. Kebebasan selalu lekat dengan tanggung jawab. Dan hanya orang-orang dewasa dan berakhlak yang sanggup memikul tanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan atas kehendak bebas.

Jika Anda berbagi foto milik orang lain di media sosial dan messenger, maka tunduklah pada Undang-undang Hak Cipta. Foto-foto yang bukan hasil karya tangan Anda berarti tak Anda miliki hak ciptanya.

Foto milik orang lain yang Anda publikasi di media sosial dan messenger milik Anda wajib dicantumi kredit foto, berupa nama fotografer. Pelanggar Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) diancam pengadilan berupa hukuman ratusan juta rupiah dan kurungan penjara 5 tahun, yang berarti tanpa ada kesempatan penangguhan penahanan.

Pelanggar UU Hak Cipta atas foto yang dipublikasi di media internet bahkan menghadapi ancaman hukuman berganda, dengan ancaman hukuman dari UU ITE (Internet dan Transaksi Elektronika). Ancaman hukuman berganda menanti penyebar foto tanpa kredit foto, dan mengandung unsur sadisme dan kekerasan.

Kita bisa membedakan akun media sosial mana yang seperti “koran lampu merah” dengan akun bertanggung jawab, dengan cara memirsa foto-foto yang dipublikasi oleh media-media itu.

Contoh kasus, ada kawan yang tak masalah melihat foto orang buang hajat. Namun, ada kawan lain yang lihat foto jamban bersih saja sudah muntah-muntah.

Anggaplah semua follower dan teman media sosial kita, pukul rata saja, tangguh mental melebihi dokter forensik dan tentara pasukan khusus. Kita masih harus mengkritisi isi foto-foto milik orang lain itu: benar atau rekayasa?

Sebelum menyiarkan foto di media sosial dan messenger, kritisi juga waktu pemotretan: aktual kah atau foto lama yang dibuat bertahun-tahun lalu?

Etika itu sederhana. Bisa penting, bisa juga dianggap remeh. Sesederhana dan seremeh memberi dan menerima sesuatu dengan tangan kanan.

Contoh kasus: ada foto 3 orang berpakaian militer Barat seolah-olah menganiaya 1 orang berwajah Timur Tengah. Foto tersebut “bocor” ke publik dan dimuat di koran. Kemarahan publik tersulut, banyak pengaku-aku relawan di berbagai negara Asia siap berangkat tempur. Padahal foto itu adalah foto bercanda 4 pemuda yang saling berteman, dibuat di garasi rumah salah satu dari mereka.

Gara-gara penyiar foto dan media tak betanggung jawab, perang bisa tersulut. Kebodohan disahkan atas nama entah nama apa dan siapa.

Berangkat tempat demi membela Tanah Air sudah jadi kewajiban setiap Warga Negara Indonesia. Tapi tentu jangan berangkat temput gara-gara foto bercanda yang disebarkan oknum tak bonafide di akun media sosialnya. Berangkat tempur berarti siap pulang nama.

Tak rumit untuk berbagi foto di media sosial dan messenger milik pribadi. Cukup hormati etika foto dengan mencantumi foto dengan kredit nama fotografer dan sumber yang jelas, bukan nama media sosial lain atau mesin pencari.

Contoh kasus: foto erupsi sebuah gunung berapi di Indonesia. Ketika erupsi yang terjadi, seketika dalam hitungan menit lantas tersebar foto di media sosial dan messenger. Padahal foto-foto yang tersebar itu adalah foto-foto erupsi bertahun-tahun lalu. Hal ini menyesatkan dan membohongi, kondisi alam tak sama dari waktu ke waktu. Arah, intensitas dan akibat erupsi tak pernah sama. Apalagi jika kita membawa pembahasan ini ke ranah ilimiah secara geologis.

Saya pernah diwawancara untuk produksi berita salah satu TV swasta soal keaslian foto. Saya bersikeras untuk membahas motivasi di balik penyebaran foto ketimbang keasliannya.

Dalam wawancara lain untuk TV swasta, saya ditanya keaslian foto acungan pistol di publik. Ketimbang membahas keaslian, lagi-lagi saya membahas motivasi pembuatan dan penyebaran foto.

Dari sebuah foto, ada rasa yang tergugah dan ada informasi yang terserap. Orang bisa tercerahkan, bisa juga marah dan menangis karena foto.

Dalam dunia informasi ada istilah: “garbage in, garbage out”. Informasi “sampah” tak akan menghasilkan berlian. Demikian juga foto.

Bijaksanalah menyikapi foto dan ariflah menyiarkan foto di akun media sosial dan messenger milik Anda.

Para penyebar foto sadisme wajib bertanggung jawab pada orang-orang yang lantas berjiwa sadis karena terinspirasi foto-foto yang Anda sebar.

Sesuatu yang mengandung pornografi bisa jadi memuat batasan umur, untuk membatasi penyiarannya di muka publik. Tapi, bagi foto yang membuat sadisme, menurut Anda, adakah batasan umur?

Foto adalah bahasa komunikasi visual. Kita bicara dengan bahasa gambar. Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dibuat berdasarkan twit saya @kristupa pada 10 Juli 2014 bertagar #etikafoto

Tulisan ini sudah dimuat sebagai topik di Forum Diskusi website fotografi terbesar se-Indonesia dan Asia Tenggara Fotografer.net http://www.fotografer.net