Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Actuals

Rapatkan Barisan #FNstreethunting Serentak 2 November 2014

Tiada yang menyangka bahwa pembicaraan antara kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) di beberapa kota tentang street hunting lantas mewujudkan #FNstreethunting serentak pertama pada 2011.

Jakarta membahas JaSH (Jakarta Street Hunting) ke-7 pada 2011 bersama kawan-kawan FN di Jogja yang menelurkan JoSS pertama. Sepakat digelar pada hari yang sama, kawan-kawan FN di Batam menangkap pembicaraan antara kedua kota itu di Twitter. Batam Street Hunting pun lahir dan tersepakati untuk digelar pada hari yang sama dengan Jakarta dan Jogja.

Kawan-kawan di kota-kota lain menangkap pembicaraan antara ketiga kota itu. Tahun 2011 kemudian jadi tahun pertama penyelenggaraan #FNstreethunting pertama di 35 kota dan mencatat 1.700 fotografer hadir di berbagai penjuru Indonesia dan dunia.

Jakarta mencatatkan jumlah peserta terbanyak pada #FNstreethunting serentak pertama pada 2011, sebanyak 219 fotografer. Tahun-tahun setelah 2011 mencatat pertambahan jumlah kota dan fotografer. Tahun 2012 mencatat 50 kota ikut #FNstreethunting serentak dan sebanyak 2.500 fotografer turun ke jalan. Kota Palembang terbanyak dihadiri fotografer.

Tahun 2013, tahun ketiga #FNstreethunting diramaikan 3.880 fotografer di 55 kota. Pekanbaru mencatatkan peserta hadir terbanyak, 333  fotografer. Sejak Tahun pertama hingga 2013, tiap kota punya bukti otentik kehadiran fotografer.

Pada 2 November 2014, kembali kita serentak turun ke jalan.

#FNstreethunting bersifat terbuka dan nirbiaya. Semua digelar secara swakarsa dan swadaya. Hal yang terpenting, tiap kota menggelar #FNstreethunting digelar atas inisiatif para anggota FN di tiap kota. Tak ada yang meminta maupun menyuruh, dan tanpa iming-iming dalam bentuk apapun, kecuali iming-iming berupa kebersamaan dalam persahabatan sejati.

Kita percaya, bahwa Persatuan Indonesia kita wujudkan melalui cara fotografi. Jarak bukanlah halangan, karena semangat persahabatan kita. Susah dan senang ditanggung bersama. Tidak ada yang menjadi boss atas yang lain, dan tiada yang menjadi bawahan bagi kawan yang lain. Satu-satunya hal yang membedakan hanya berupa tanggung jawab yang berbeda kadar antara satu kawan dengan kawan yang lain.

Menjadi bagian dari kegiatan serentak nasional mengobarkan lagi api persatuan yang kita gelar minimal setahun sekali.

Fakta bahwa kita adalah komunitas terbesar fotografi Indonesia dan Asia Tenggara tak terbantahkan oleh dalil apapun juga. Ketangguhan motivasi kita tak tergoyahkan akan kebutuhan akan uang, lantaran kita menyokong kegiatan ini secara gotong royong. Kemandirian kita atas dana membuat banyak pihak yang berdecak kagum, meski di seberang sana ada rekan sejawat yang mencibir dengki atau hanya berdiam diri dalam penyesalan.

Hak untuk untuk berkumpul dan berorganisasi dijamin oleh undang-undang. Oleh karena itu, FN mewadahi berbagai komunitas di tiap kota dan membungkusnya dalam satu nama kegiatan per kota. Seluruh kegiatan di tiap kota lantas berkibar dalam satu bendera yang sama, kebhinekaan fotografi untuk Persatuan Indonesia.

#FNstreethunting Serentak 2 November 2014

#FNstreethunting Serentak 2 November 2014

Tahun 2014, kali keempat #FNstreethunting, rasanya sebuah buku foto tak muat merekam segala kenangan yang kita punya. Selama 3 tahun, #FNstreethunting kita bungkus dalam buku fotografi gratis yang bisa diunduh siapapun juga. Oleh karena itu, sebar luaskan pula kenangan kita selama 2 November 2014 dalam bentu video, baik dari kamera ponsel maupun kamera yang lebih besar.

Kita percaya, bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan untuk khalayak membawa kebaikan untuk orang banyak. Jika satu hari menjelang hari-H ini sudah tercatat lebih dari 70 kota siap bergerak, biar foto yang bicara.

Advertisements

Solusi untuk Mitigasi Bencana Gunung Api

Pada suatu sore yang mendung di pertengahan Mei 2014, saya bersama beberapa kawan fotografer singgah di Kabanjahe, dalam perjalanan memotret melintasi Kabupaten Simalungun, Danau Toba dan Pulau Samosir dan Tanah Karo. Halaman GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Kabanjahe terlihat lengang. Di gereja terbesar di ibukota Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara, itu tenda-tenda pengungsi Gunung Sinabung terlihat lengang. Para pengungsi masih beraktivitas di luar posko pengungsian GBKP Kabanjahe Kota.

Rupanya para pengungsi yang sudah 6 bulan tidur beralas lantai dan tanah itu mengalami dinamika baru dalam hidup mereka. Sudah ada yang mengontrak rumah di luar posko, lantaran tak tahan hidup berdesakan secara tak layak. Ada sekitar 130 keluarga yang tinggal di posko ini dengan fasilitas minim.

MCK mengandalkan toilet gereja, yang didesain untuk kegiatan mingguan bagi ratusan jemaat, jadi dipakai ribuan orang untuk kegiatan sehari-hari. Dapur umum, yang peralatannya sumbangan kawan-kawan Fotografer.net (FN) di Sumatera Utara, krisis bahan pangan.

“Persediaan beras kami saat ini hanya cukup untuk empat hari ke depan,” ungkap Pdt Nurbeti br Ginting, pemimpin GBKP Kabanjahe Kota, ketika dijumpai hari Selasa, 13 Mei. “Perlengkapan mandi dan kebersihan sudah habis, pengungsi tak semua mampu membeli sendiri,” imbuh Ibu Pendeta. Belanja sayur saja sehari menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 juta untuk ribuan pengungsi yang tinggal di posko GBKP Kabanjahe Kota. Namun makan nasi dan sayur belaka selama seminggu bisa membuat tak betah, apalagi 6 bulan.

Di lokasi pengungsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara di GBKP Kabanjahe bersama Pdt Nurbeti br Ginting (paling kiri), Ketua Harian Toba Photo Club (TPC) Johnny Siahaan (kedua dari kanan), dan pengurus TPC Eduard Perangin-angin (paling kanan), Mei 2014.

Di lokasi pengungsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara di GBKP Kabanjahe bersama Pdt Nurbeti br Ginting (paling kiri), Ketua Harian Toba Photo Club (TPC) Johnny Siahaan (kedua dari kanan), dan pengurus TPC Eduard Perangin-angin (paling kanan), Mei 2014.

Tanah Karo terkenal sebagai lumbung pangan Sumatera Utara lantaran ladang sayur mayur serta buah-buahan dan ternak yang melimpah ruah. Namun abu vulkanik Sinabung menyelimuti semuanya dalam kelam dan maut. Tak hanya mematikan sumber pangan, bencana ini membunuh semangat masyarakat Karo yang terbiasa bekerja di ladang.

Saya termenung melihat anak-anak pengungsi yang pulang sekolah sore itu dan bermain di antara tenda. Betapa suram memori masa kecil yang sedang tercetak di kepala mereka saat ini. Enam bulan bukan waktu sebentar untuk mencetak memori tak terlupakan di otak.

Indonesia yang berada di Cincin Api Dunia berhiaskan untaian gunung api aktif. Teruntai indah ratusan gunung api mulai dari pantai barat Sumatera hingga lantai selatan Jawa dan Nusa Tenggara dan berbelok ke Maluku dan Sulawesi Utara.

Gunung api sudah ada sebelum manusia ada. Tugas manusia untuk menyesuaikan diri dengan alam, bukan mengubahnya. Bukan kuasa manusia untuk nengendalikan kekuatan alam.

Sebagai mantan mahasiswa teknik geologi, yang salah satu semesternya mempelajari vulkanologi, saya bersikap bahwa bantuan bagi pengungsi bencana gunung api bersifat sementara. Otoritas yang berwenang di mitigasi bencana seyogyanya membuat prosedur operasi standar permanen dan melatihkannya secara rutin kepada penduduk di kawasan bencana.

Sudah cukup bencana Gunung Sinabung yang berusia 6 bulan menjadi contoh. Indonesia memiliki ratusan gunung api dan banyak gunung berada di populasi padat.

Bodoh sekali, sekaligus hipokrit, membiarkan masalah, tanpa solusi.

Jika Sinabung bisa erupsi dan membuat warga di sekitarnya hidup berbulan-bulan dalam pengungsian, maka demikian pula dengan Gunung Marapi di Sumatera Barat dan gunungapi-gunungapi lain di Sumatera. Demikian pula dengan gunungapi-gunungapi di sepanjang pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Maluku dan Sulawesi Utara.

Jika Gunung Sinabung bisa merusak ribuan rumah dan menghancurkan ratusan ribu hektar sawah, kebun dan ladang serta membunuh jutaan ternak maka demikian pula gunungapi-gunungapi lain di di Tanah Air.

Memang ada berbagai macam tipe gunung api dan beragam pula jenis erupsinya. Mulai dari tipe erupsi lelehan seperti Gunung Merapi di Jawa Tengah, hingga tipe eksplosif seperti Gunung Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Tambora di Nusa Tenggara.

Tapi satu hal yang pasti: erupsi gunung api tak bisa diprediksi manusia dan ilmu pengetahuannya.

Memang ilmu vulkanologi bisa membaca gejala-gejala letusan, namun tak bisa mengetahui jam-J dan hari-H erupsi. Manusia masa kini hanya lebih modern dari nenek moyang kita dalam hal membaca tanda-tanda alam. Dahulu hanya burung-burung berterbangan dan satwa-satwa eksodus turun gunung jadi penanda erupsi. Saat ini manusia bisa membaca gempa vulkanik, perubahan suhu kawah dan komposisi kimia kawah.

Satu hal yang pasti pula: tak ada bencana baru. Semua bencana alam sudah pernah terjadi, hanya berbeda skala, waktu, intensitas, magnitude dan lokasi. Pembuat jumlah korban dan kerugian sebenarnya manusia sendiri. Jika dalam zona bahaya tak ada aktivitas manusia, maka bisa dipastikan tak ada korban.

Dari semua gunung api yang sudah pernah erupsi, ada catatan waktu dan cakupan bencana serta skalanya. Belajar dari data itu saja, korban bisa diminimalisir, bahkan kalau perlu ditekan hingga nihil.

Kita tak perlu membahas erupsi legendaris Gunung Toba yang abu vulkaniknya menutup seluruh planet Bumi dan membuat global cooling bertahun-tahun. Tak perlu pula membahas erupsi Gunung Krakatau dan Gunung Tambora yang membuat “matahari tak terbit” berhari-hari lantaran abu vulkaniknya tersebar di seluruh dunia dalam sekali erupsi.

Cukup dengan memetakan daerah bencana tiap gunung api aktif dan menerapkannya dalam rencana tata ruang daerah, maka tinggal pelaksanaan kepatuhan saja yang perlu diperlihara. Pelaksanaan berarti ketersediaan segala infrastruktur yang berkaitan dengan mitigasi bencana. Sementara kepatuhan mencakup kesediaan penduduk setempat mematuhi tata ruang.

Standar operasi mitigasi bencana ini berkaitan dengan 3 kebutuhan pokok hidup manusia: pangan, sandang dan papan.

Oleh karena itu, standar musti pasti dan tanpa toleransi. Ibarat fire plan di gedung bertingkat, tiap pintu mencantumi diri dengan dengan denah evakuasi. Denah mengandung jalur evakuasi, posisi alat penyelamatan diri dan tempat berkumpul aman alias master point atau assembly point.

Standar operasi mitigasi ini sebaiknya juga meniru safety demo di tiap penerbangan sipil. Ada peragaan alat keselamatan diri dalam keadaan darurat setiap awal penerbangan. Ada pula safety drill untuk awak pesawat, yang jika diterapkan ke mitigasi bencana berupa evacuation drill bagi para pemimpin setempat, seperti ketua RT, pemimpin komunitas dan tokoh-tokoh informal.

Denah dan diagram standar operasi dipasang di berbagai tempat strategis dan di tiap pintu rumah. Evacuation drill digelar secara acak-waktu, sesekali tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Para pemimpin setempat dan otoritas mitigasi bencana memeriksa piranti keselamatan dan alarm secara berkala tanpa batas waktu.

Jadikan standar operasi mitigasi bencana dan evacuation drill sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di daerah rawan bencana. Hal-hal ini perlu dilakukan semata-mata demi keselamatan diri. Jika enggan hidup dalam kesiapsiagaan, ada opsi migrasi.

Kesiapsiagaan terhadap bencana alam juga meliputi ketersediaan pangan, sandang dan papan di tempat pengungsian.

Artinya, setiap kawasan rawan bencana alam wajib memiliki bangunan bebas-bencana penampung pengungsi. Kapasitas bangunan minimal sama dengan jumlah penduduk kawasan rawan bencana berikut kegiatan kesehariannya, minimal untuk MCK dan klinik kesehatan.

Instalasi penampung pengungsi wajib pula dilengkapi lumbung pangan dan air bersih siap minum, yang secara berkala atau acak-waktu terperiksa agar siap pakai sewaktu-waktu. Dengan begitu, dapur umum tinggal dilengkapi dengan daftar petugas yang dirotasi antar-nama penduduk yang memakai instalasi itu.

Lantaran listrik sudah jadi salah satu kebutuhan primer, maka instalasi penampung pengungsi seyogyanya memiliki sel panel surya. Dengan sel surya, maka kebutuhan listrik bisa aman dari resiko jaringan listrik putus, nirbiaya BBM dan pemeliharaan genset, serta ramah lingkungan.

Desain tata ruang membungkus gaya hidup tanggap bencana dan kesiapan infrastruktur darurat bencana dalam kesatuan utuh. Ada daerah yang dijadikan pemukiman dan ada daerah yang nihil pemukiman namun bisa dipakai kegiatan bisnis dan pelayanan.

Kita percaya banyak kearifan lokal yang memuat sikap tanggap bencana. Tata ruang masyarakat di Pulau Simeleue, Aceh, misalnya, yang tinggal di elevasi tinggi agar terhindar dari ancaman tsunami. Demikian pula kearifan lokal di berbagai daerah lain di lintasan “The Ring of Fire”, seperti Simeuleue, yang sudah menanggapi bencana secara disiplin jauh sebelum sekolah ada di daerah mereka.

Kita respek pada peta rawan bencana yang disusun para ahli geologi. Ancaman bencana alam tak hanya gunung api, gempa bumi dan tsunami melainkan juga banjir dan tanah longsor. Semua pasti bisa dipetakan secara geologis. Tinggal kegigihan otoritas setempat menerapkannya dan keikhlasan penduduk mematuhinya.

Memang hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Tuhan pulalah yang menganugerahi manusia, makhluk ciptaanNya yang paling sempurna, dengan akal budi yang melahirkan ilmu geologi dan akal sehat untuk mematuhi saran para ahli dan otoritas daerah tempat tinggal.

Pada bulan Oktober 2014, sudah hampir setahun Sinabung tak kunjung reda memuntahkan isi perutnya. Guguran lava pijar dan luncuran awan panas silih berganti dengan muntahan material piroklastika.

Kalau seandainya ada anak Tanah Karo yang lahir tatkala Sinabung baru erupsi tahun 2013 lalu, maka hingga usia sudah hampir memungkinkan bisa berjalan belum juga anak itu tinggal di tempat yang layak.

Sebagai manusia, bisa jadi para pemegang otoritas telah mengabaikan akal budi dengan pembiaran para pengungsi hidup tanpa perubahan dan tak antisipatif serta sarat nuansa pencitraan belaka. Bisa jadi pula oknum pemegang otoritas abai dengan kenyataan diri sebagai bagian dari alam atau memang jumawa merasa bisa mengatasi alam.

Yang jelas, isi perut bumi tetap bergejolak, detik demi detik, sesuai Teori Tektonika Lempeng. Alam tak peduli dengan siapapun juga pemegang otoritas. Namun, kita sangat peduli dengan orang yang kita pilih jadi pemimpin kita, pemegang otoritas yang bertanggung jawab mengatur mitigasi bencana. Sejatinya, semua kita mulai dari diri sendiri, dengan bertanggung jawab kepada diri sendiri untuk bijaksana menyikapi tanda-tanda alam.

Sebagai manusia bisa jadi para pemegang otoritas telah mengabaikan akal budi dengan pembiaran para pengungsi hidup tanpa perubahan dan tak antisipatif serta sarat nuansa pencitraan belaka.


Harapan Fotografer Indonesia Pada Presiden & Wakil Presiden Terpilih RI 2014-2019

Memakai titel “fotografer Indonesia” terkesan berat dan jamak. Begitu banyak fotografer profesional dan fotografer amatir yang terwakili dengan titel itu. Namun berangkat dari Fotografer.net (FN), sebagai komunitas fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara beranggotakan lebih dari 450.000 orang, perkenankan tulisan ini berisi harapan-harapan yang terangkum dari berbagai sumber.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan kondisi negeri yang memungkinkan harga kamera lebih terjangkau. Kami sadar, tak mudah mewujudkan hal ini mengingat berbagai aspek terkait. Namun kami paham pula, bahwa dengan semangat baru yang dibawa oleh Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) terpilih Republik Indonesia (RI) maka kondisi ekonomi lebih baik.

Kami mendambakan kondisi ekonomi dengan nilai tukar Rupiah yang lebih kuat agar harga kamera, yang kami beli dengan Rupiah, bisa terjangkau.

Jika memungkinkan, kami berharap iklim penelitian, pengembangan dan pendidikan berbasis iptek dan seni pun maju. Dengan demikian, bukan tak mungkin Indonesia memiliki pabrik kamera dan berbagai piranti pendukung. Kalau memungkinkan, merk kamera pun adalah merk Indonesia, yang lahir dari buah pikiran dan karya tangan ilmuwan-ilmuwan Indonesia.

Kami berharap, karya para fotografer Indonesia terlindungi secara hukum. Memang sudah ada undang-undang pelindung Hak Cipta namun penegakan hukum masih lemah. Seandainya bisa terwujud, maka para fotografer Indonesia pun sudah sepatutnya menghormati Hak Cipta dalam segala aspek kehidupan kreatif.

Dengan penegakan hukum lebih tegas, maka karya-karya foto dihargai lebih layak oleh khalayak. Fotografer bisa hidup layak dan halal, selayaknya profesi-profesi lain di Tanah Air. Banyak talenta kreatif Indonesia yang berdikari membutuhkan situasi kepastian dan perlindungan hukum yang patut. Kita sama-sama mewujudkan para wirausaha muda yang sukses dan kreatif lahir dari fotografi. Para pewarta foto pun bisa menekuni profesinya menjadi mata hati nurani rakyat.

Melalui ketegasan dan kepastian hukum pula, kita bisa sama-sama menelisik kepatuhan para fotografer membayar pajak secara ikhlas dan jujur. Penegakan hukum tentu butuh biaya, dan merupakan tanggung jawab kita semua untuk menanggungnya bersama-sama, secara terbuka dan jujur pula.

Masih mengenai kepastian hukum, khalayak fotografi Indonesia mendambakan sudut-sudut pemotretan yang bebas spanduk liar, papan reklame yang jadi sampah visual, bangunan angkuh di lereng perbukitan, danau dan pantai, serta sawah dan kebun yang bersih dari bangunan-bangunan pengalih fungsi lahan pertanian. Kami yakin alam yang asri bisa dipertahankan tanpa tunduk kepada ketamakan otoritas setempat pada materialisme.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan situasi yang bebas pungli. Banyak tempat memotret yang dikuasai oleh orang, entah siapa dan dari mana, memungut bayaran. Bayaran-bayaran ini berupa pungutan tak jelas, non-standar, dan seringkali tanpa tanda terima.

Kami sadar, bahwa di banyak negara, banyak tempat menarik untuk fotografi tersedia secara gratis. Kami ulangi, gratis. Kalaupun berbayar, otoritas yang mengurus tempat-tempat yang menarik uang, secara fotografi, memberikan fasilitas yang memadai, seperti kebersihan, keamanan dan toilet bersih.

Fotografer Indonesia siap membayar dengan ikhlas, namun kritis terhadap penggunaan uang yang telah kami bayar. Kami tak rela, Tanah Air ini dikotak-kotakkan oleh pecinta uang, yang menyuburkan iklim penadah tangan dan pengutip tanpa bekerja.

Kami berharap, Presiden dan Wapres terpilih 2014-2019 memberikan ruang lebih banyak bagi fotografer untuk aktualisasi diri. Kata cukup mungkin tak akan pernah terwujud, namun kita perjuangkan bersama-sama.

Semakin banyak ruang pamer dan galeri foto memberikan sarana aktualisasi diri bagi fotografer sekaligus ruang apresiasi seni khalayak secara luas. Semakin banyak publikasi fotografi, baik secara online maupun offline, membudayakan kreativitas secara luas ke berbagai aspek kehidupan. Pendidikan Indonesia tak hanya di sekolah dan di keluarga di rumah, publik fotografi pun mendidik secara terbuka berbasis kebebasan yang bertanggung jawab demi kreativitas.

Khalayak fotografi Indonesia kerap kali terpinggirkan karena dianggap remeh. Kalaupun remeh, tentu hidup ini sudah membosankan lantaran tak koran dan majalah hanya tulisan melulu dan acara perkawinan hanya tinggal cerita lisan tanpa foto. Pariwisata dan kebudayaan hanya berbasis budaya tutur dan tulis tanpa budaya gambar, yang merupakan ciri kebudayaan modern.

Tanggung jawab fotografer dan peminat fotografi Indonesia untuk melestarikan budaya Tanah Air dan hidup dengan layak dari itu.

Foto-foto mempromosikan tempat wisata bersamaan dengan kerajinan tangan, tari-tarian, baik tradisional maupun modern, penginapan dan kuliner. Melalui foto pula industri garmen dan busana, baik modern maupun tradisional, bisa terpasarkan efektif. Melalui fotografi pula industri periklanan lebih kompetitif dan disain arsitektur terapresiasi lebih luas. Dengan fotografi pula poster-poster film dan sampul album-album musik tampil menarik.

Kalau kita berbicara tentang fotografi pernikahan saja, sebagai contoh, ada milyaran uang yang terlibat. Anggaplah ada 10 juta pasangan siap nikah, dari lebih dari 200 juta populasi Indonesia, dan anggaplah tiap pasang membayar Rp 1 juta untuk paket foto weding mereka. Berarti tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun, ada ratusan milyar, mungkin trilyun, uang yang berputar karena fotografi. Dan dari ratusan milyar itu, ada jutaan mulut yang bisa makan secara layak dan halal dari bisnis fotografi.

Dari segala harapan ini, kita berharap semua fotografer bertugas dengan lancar dan layak. Segala sudut Nusantara dijelajahi, termasuk garis depan perbatasan Tanah Air dengan negara-negara tetangga.

Identitas bangsa kita dokumentasikan dan publikasikan secara terus menerus di berbagai media, baik berupa warisan-warisan budaya tradisional nenek moyang maupun kreasi-kreasi modern Nusantara. Bahasa gambar bicara jutaan makna. Fotografi jadi salah satu piranti ketahanan nasional dan fotografer Indonesia wajib mengawal kekayaan Tanah Air kita sekaligus memupuk persahabatan dan persaudaraan untuk Persatuan Indonesia.

Seringkali foto-foto kami lebih berbicara daripada kemampuan kami berbicara dan menulis. Semoga harapan-harapan ini sampai kepada Presiden dan Wapres terpilih RI 2014-2019.

Biar foto yang bicara.


 

Tulisan ini dimuat pertama kali di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194608045


Etika, Norma dan Hukum Publikasi Foto yang Memuat Unsur Sadisme

Kita bebas memotret apapun. Tapi ketika dipublikasikan, wajib tunduk pada etika, norma dan hukum yang berlaku.

Publikasi foto di media sosial dan messenger pun wajib hormati etika, norma dan hukum yang berlaku. Sebelum publikasi foto di media sosial dan messenger, bedakan foto yang Anda buat sendiri dan foto yang hak ciptanya bukan milik Anda.

Seleksi foto-foto milik Anda, yang hak ciptanya Anda miliki, sebelum disebar di media sosial dan messenger. Periksa seksama dan cermati agar foto-foto yang Anda sebar tersebut sesuai etika, norma dan hukum yang berlaku. Etika, norma dan hukum yang dimaksud adalah etika, norma dan hukum negara dan tempat Anda menjadi warga, atau tempat Anda berdomisili ketika penyebaran foto Anda buat.

Foto-foto yang memuat unsur-unsur ketelanjangan, rokok dan narkoba, alkohol, sadisme dan pedofilia tak sesuai dengan hukum, etika dan norma. Ada unsur-unsur yang bisa dipublikasi terbatas, secara tempat dan umur. Ada pula hal-hal yang memang tak pantas dipublikasikan kepada umum.

Karena itulah media massa seperti koran, majalah, tabloid, TV dan media online tak memuat foto-foto yang melanggar etika, norma dan hukum.

Anda tentu tak ingin buka media sosial dan terpapar pada sadisme, yang dipublikasikan oleh akun-akun yang Anda follow. Anda pun, ketika sedang kumpul bersama keluarga dan teman, tak ingin semerta-merta terpapar pada foto mayat perang berdarah-darah atau mayat yang tak lengkap anggota tubuhnya.

Mawas diri dan sadar dirilah. Kritis dan jangan seenak kepala sendiri. Hormati orang lain jika ingin dihormati.

Kita memang bebas memotret, apapun. Namun, bijaksanalah berbagi dan mempublikasikan foto-foto. Bertanggung jawablah terhadap setiap foto yang Anda siarkan. Kebebasan selalu lekat dengan tanggung jawab. Dan hanya orang-orang dewasa dan berakhlak yang sanggup memikul tanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan atas kehendak bebas.

Jika Anda berbagi foto milik orang lain di media sosial dan messenger, maka tunduklah pada Undang-undang Hak Cipta. Foto-foto yang bukan hasil karya tangan Anda berarti tak Anda miliki hak ciptanya.

Foto milik orang lain yang Anda publikasi di media sosial dan messenger milik Anda wajib dicantumi kredit foto, berupa nama fotografer. Pelanggar Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) diancam pengadilan berupa hukuman ratusan juta rupiah dan kurungan penjara 5 tahun, yang berarti tanpa ada kesempatan penangguhan penahanan.

Pelanggar UU Hak Cipta atas foto yang dipublikasi di media internet bahkan menghadapi ancaman hukuman berganda, dengan ancaman hukuman dari UU ITE (Internet dan Transaksi Elektronika). Ancaman hukuman berganda menanti penyebar foto tanpa kredit foto, dan mengandung unsur sadisme dan kekerasan.

Kita bisa membedakan akun media sosial mana yang seperti “koran lampu merah” dengan akun bertanggung jawab, dengan cara memirsa foto-foto yang dipublikasi oleh media-media itu.

Contoh kasus, ada kawan yang tak masalah melihat foto orang buang hajat. Namun, ada kawan lain yang lihat foto jamban bersih saja sudah muntah-muntah.

Anggaplah semua follower dan teman media sosial kita, pukul rata saja, tangguh mental melebihi dokter forensik dan tentara pasukan khusus. Kita masih harus mengkritisi isi foto-foto milik orang lain itu: benar atau rekayasa?

Sebelum menyiarkan foto di media sosial dan messenger, kritisi juga waktu pemotretan: aktual kah atau foto lama yang dibuat bertahun-tahun lalu?

Etika itu sederhana. Bisa penting, bisa juga dianggap remeh. Sesederhana dan seremeh memberi dan menerima sesuatu dengan tangan kanan.

Contoh kasus: ada foto 3 orang berpakaian militer Barat seolah-olah menganiaya 1 orang berwajah Timur Tengah. Foto tersebut “bocor” ke publik dan dimuat di koran. Kemarahan publik tersulut, banyak pengaku-aku relawan di berbagai negara Asia siap berangkat tempur. Padahal foto itu adalah foto bercanda 4 pemuda yang saling berteman, dibuat di garasi rumah salah satu dari mereka.

Gara-gara penyiar foto dan media tak betanggung jawab, perang bisa tersulut. Kebodohan disahkan atas nama entah nama apa dan siapa.

Berangkat tempat demi membela Tanah Air sudah jadi kewajiban setiap Warga Negara Indonesia. Tapi tentu jangan berangkat temput gara-gara foto bercanda yang disebarkan oknum tak bonafide di akun media sosialnya. Berangkat tempur berarti siap pulang nama.

Tak rumit untuk berbagi foto di media sosial dan messenger milik pribadi. Cukup hormati etika foto dengan mencantumi foto dengan kredit nama fotografer dan sumber yang jelas, bukan nama media sosial lain atau mesin pencari.

Contoh kasus: foto erupsi sebuah gunung berapi di Indonesia. Ketika erupsi yang terjadi, seketika dalam hitungan menit lantas tersebar foto di media sosial dan messenger. Padahal foto-foto yang tersebar itu adalah foto-foto erupsi bertahun-tahun lalu. Hal ini menyesatkan dan membohongi, kondisi alam tak sama dari waktu ke waktu. Arah, intensitas dan akibat erupsi tak pernah sama. Apalagi jika kita membawa pembahasan ini ke ranah ilimiah secara geologis.

Saya pernah diwawancara untuk produksi berita salah satu TV swasta soal keaslian foto. Saya bersikeras untuk membahas motivasi di balik penyebaran foto ketimbang keasliannya.

Dalam wawancara lain untuk TV swasta, saya ditanya keaslian foto acungan pistol di publik. Ketimbang membahas keaslian, lagi-lagi saya membahas motivasi pembuatan dan penyebaran foto.

Dari sebuah foto, ada rasa yang tergugah dan ada informasi yang terserap. Orang bisa tercerahkan, bisa juga marah dan menangis karena foto.

Dalam dunia informasi ada istilah: “garbage in, garbage out”. Informasi “sampah” tak akan menghasilkan berlian. Demikian juga foto.

Bijaksanalah menyikapi foto dan ariflah menyiarkan foto di akun media sosial dan messenger milik Anda.

Para penyebar foto sadisme wajib bertanggung jawab pada orang-orang yang lantas berjiwa sadis karena terinspirasi foto-foto yang Anda sebar.

Sesuatu yang mengandung pornografi bisa jadi memuat batasan umur, untuk membatasi penyiarannya di muka publik. Tapi, bagi foto yang membuat sadisme, menurut Anda, adakah batasan umur?

Foto adalah bahasa komunikasi visual. Kita bicara dengan bahasa gambar. Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dibuat berdasarkan twit saya @kristupa pada 10 Juli 2014 bertagar #etikafoto

Tulisan ini sudah dimuat sebagai topik di Forum Diskusi website fotografi terbesar se-Indonesia dan Asia Tenggara Fotografer.net http://www.fotografer.net


Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 untuk Seluruh Anggota FotograferNet dan Hadiah HUT ke-10 #FNX

Para moderator dan anggota FN yang hadir di acara berfoto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ibu Mari Elka Pangestu atas penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 Subsektor Foto. Disampaikan di Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 pada hari Minggu, 25 November 2012, penghargaan diberikan kepada 17 subsektor Wiramuda Kreatif 2012, termasuk fotografi.

Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Wiwin Yulius

Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Wiwin Yulius

Tertulis di piagam, bahwa penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas sumbangsih memajukan ekonomi kreatif Indonesia.

Kita bersyukur dan berterimakasih, bahwa pemerintah memperhatikan Fotografer.net (FN) setelah 10 tahun, terhitung sejak diluncurkan pada 30 Desember 2002. Selama 10 tahun, FN bergerak secara mandiri, atas dukungan para anggota dan rekan-rekan sejawat yang peduli.

Para anggota FN melestarikan budaya Nusantara dan mempromosikan Indonesia di luar negeri atas insiatif sendiri dan berdikari. Para pedagang di Bursa FN maju atas kerja keras tak kenal lelah secara mandiri. Demikian pula para fotografer profesional anggota FN, tak kenal lelah berkarya karena budaya saling dukung antaranggota FN.

Penghargaan ini diterima mendekati peringatan satu dekade FN memajukan fotografi Indonesia. Kita yakin, waktu lah yang membuktikan komitmen dan kecintaan pada fotografi. Bahwa persahabatan lebih dari sekedar uang, kita sikapi sebagai pemicu kreativitas atas dasar kebebasan yang bertanggung jawab.

Kita percaya, bahwa banyak wiramuda kreatif yang kelak lahir dari komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara ini. Kita bawa prestasi untuk mengokohkan identitas sebagai sosok yang layak diteladani dan disegani, sekaligus rendah hati. Kita sepakat untuk mengingatkan yang kuat agar peka terhadap yang lemah, dan membantu yang lemah agar maju dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Penghargaan bisa jadi hanya selembar kertas. Tapi sebutir prestasi sejatinya memotivasi individu-individu di sekitar kita untuk terus berkarya tanpa pamrih. Biar foto yang bicara.

Bersama para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Foto oleh Wiwin Yulius

Bersama para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Foto oleh Wiwin Yulius

Para moderator dan anggota FN yang hadir di acara berfoto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu

Para moderator dan anggota FN yang hadir di acara berfoto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu

Tanya jawab bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Anif Putramijaya

Tanya jawab bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Anif Putramijaya


Biar Foto yang Bicara #FN9: Mahasiswa dan Polisi Salat Berjamaah di Tengah Jalan

Mahasiswa dan polisi salat dzuhur bersama di sela-sela demo kenaikan BBM di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (27/03). Foto oleh Muhammad Abdiwan/Tribun Timur

Mahasiswa dan polisi salat dzuhur bersama di sela-sela demo kenaikan BBM di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (27/03). Foto oleh Muhammad Abdiwan/Tribun Timur

Foto ini dimuat pertama kali di Harian Tribun Timur Makassar online pada Selasa, 27 Maret 2012 jam 20:58 WITA. Lantas, foto tersebut beredar luas di media sosial. Tak mengemuka, foto tersebut tenggelam oleh foto-foto seru bakar-membakar ban, bentrok fisik massa dan aparat keamanaan, dan adegan-adegan agitatif lainnya.

Setelah menelusuri belantara media sosial, baru ketemu nama Muhammad Abdiwan, fotografer pembuat foto itu. Sejauh ini media yang memuat foto lengkap dengan kredit foto barulah Tribun Timur. Sementara foto-foto yang beredar di media sosial maupun berbagai messenger tak mencantumkan kredit foto.

Pewarta foto bertanggung jawab sama dengan wartawan tulis, melaksanakan tugas jurnalistik dan berpegang teguh pada etika dan kode etik jurnalistik. Demikian pula media-media tempat mereka bekerja, sudah sepatutnya berpijak pada kode etik, yang netral alias tak berpihak serta cover both sides of the story.

Salut kepada Muhammad Abdiwan atas pengabdian pada tugas sebagai pewarta foto. Hormat kepada Harian Tribun Timur yang menghormati hak cipta foto dengan mencantumkan kredit foto secara benar dan lengkap.


Fotografi Biak Meriah Bersama Kobe Biak #FN9

Pameran foto Kobe Biak bertema Yaswar Byak, aku cinta Biak, digelar 20-24 Maret 2012 di Aerotel Irian Hotel, Biak. Foto oleh Alit Saryono

Pameran foto Kobe Biak bertema Yaswar Byak, aku cinta Biak, digelar 20-24 Maret 2012 di Aerotel Irian Hotel, Biak. Foto oleh Alit Saryono

Biak, hanya sebuah pulau di utara Papua. Tapi komunitas fotografi Biak telah menggeliat dengan bersatu mengusung bendera Komunitas Bersama, dipendekkan menjadi Kobe, Biak. Pekan lalu, 20-24 Maret 2012, Kobe Biak menggelar serangkaian kegiatan fotografi meriah.

Diawali dengan pameran, ada 80 foto dipajang di lobi Aerotel Irian Hotel, Biak. Tercatat 26 fotografer pajang karya, berasal dari Biak, Jayapura dan beberapa daerah lain. Kualitas karya foto layak dapat acungan semua jempol. Kualitas cetak apik dan rapi serta cemerlang. Untuk Biak, inilah kali pertama pameran foto digelar dengan standar baku sebuah pameran.

Seiring dengan pameran, Kobe juga menggelar lomba foto untuk pelajar dan mahasiswa. Subyek foto diwajibkan berada di seputar Kabupaten Biak Numfor. Lomba foto menghadirkan 3 pemenang, dengan juara pertama mahasiswa perguruan tinggi di Biak. Juara kedua dan ketiga masing-masing adalah siswa SMU Negeri 1 Biak, dan salah satunya perempuan.

Suasana workshop fotografi oleh Kobe Biak di Aerotel Irian Hotel, Sabtu (24/03). Tercatat 51 peserta hadir dari Biak, Jayapura dan sekitarnya. Foto oleh Ilias Irawan

Suasana workshop fotografi oleh Kobe Biak di Aerotel Irian Hotel, Sabtu (24/03). Tercatat 51 peserta hadir dari Biak, Jayapura dan sekitarnya. Foto oleh Ilias Irawan

Memungkasi seluruh rangkaian kegiatan, Kobe menggelar workshop foto di Aerotel Irian Hotel, Biak. Saya diundang sebagai pembicara, dihadiri oleh 51 peserta, yang datang dari Biak, Jayapura dan daerah-daerah sekitarnya. Dimulai dengan sesi dikelas, workshop dilanjutkan dengan praktek foto dan ditutup dengan evaluasi. Para peserta terlihat antusias dan tekun namun santai dan akrab.

Salut kepada para panitia dan aktivis Kobe Biak, yang hanya 10 orang saja. Meski sedikit, tapi masing-masing bekerja sesuai peran masing-masing dengan suasana persahabatan yang kental.

Maret 2012 ini adalah kali keempat saya mengunjungi Biak. Tiap kunjungan selalu terasa singkat, dan tak cukup waktu. Terlalu banyak yang tak bisa terlewatkan di Biak, dan masih banyak tempat indah yang belum dikunjungi.

Maju terus fotografi Biak dan Papua.

Biar foto yang bicara.

Ngobrol santai tentang fotografi seusai workshop bersama kawan-kawan Kobe Biak, Sabtu (24/03). Foto oleh Ilias Irawan

Ngobrol santai tentang fotografi seusai workshop bersama kawan-kawan Kobe Biak, Sabtu (24/03). Foto oleh Ilias Irawan

Sebagian foto yang dipamerkan Kobe Biak di Aerotel Irian Hotel, 20-24 Maret 2012. Foto oleh Ilias Irawan

Sebagian foto yang dipamerkan Kobe Biak di Aerotel Irian Hotel, 20-24 Maret 2012. Foto oleh Ilias Irawan


Menyongsong Crossing Bridges 8 Vietnam 2011

20111108-150025.jpg

Forum persahabatan komunitas-komunitas online fotografi Asia Tenggara kembali beracara untuk kali kedelapan. Pada 10-16 November 2011 di Ho Chi Minh City dan sekitarnya, 75 fotografer dari 5 negara Asean akan berkumpul dengan tuan rumah Vietnam. Para peserta datang dari komunitas-komunitas fotografi Fotografer.net (Indonesia), Clubsnap (Singapura), Photo Malaysia (Malaysia), FPFF (Filipina) dan Photo.vn (Vietnam).

Melalui forum Crossing Bridges, komunitas-komunitas fotografi terbesar di negara-negara Asean bertemu dan mengaktualkan diri. Demikian pula Fotografer.net yang menempatkan diri sebagai komunitas terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 398.000 anggota terdaftar.

Fotografer pada hakekatnya adalah makhluk komunal. Pada saat menekan tombol pelepas rana memang sendiri, tapi dalam kehidupan nyata fotografer mutlak berkomunitas. Untuk maju, dibutuhkan komunitas yang sehat.

Itu berarti komunitas fotografi berbeda dengan komunitas lain. Komunitas fotografi sewajarnya bertemu untuk memotret, bukan hanya mengobrol belaka. Dan sebagai warga Asean, fotografer-fotografer Indonesia harus menempatkan diri secara bijaksana di tengah pergaulan internasional.

Berkaitan dengan aktualisasi diri dan persahabatan itulah Crossing Bridges bergandengan tangan secara nyata, takhanya secara maya. Pertemuan tahunan digelar rutin sejak 2004, kali pertama Crossing Bridges diwujudkan. Fotografer.net Indonesia menjadi tuan rumah CB 1 yang bertempat di Yogyakarta dan sekitarnya.

CB 2 digelar tuan rumah Clubsnap Singapura di Hong Kong dan Macau tahun 2005. Tahun 2006 Photo.vn Vietnam bergabung dan langsung menjadi tuan rumah CB 3 di Hanoi dan Sapa. Photo Malaysia bergabung tahun 2007 dan menggelar CB 4 di Tawau dan Semporna.

Clubsnap Singapura kembali menjadi tuan rumah CB 5 di Siem Reap, Kamboja tahun 2008. Pelaksanaan CB 6 tahun 2009 yang tak terlupakan digelar di Sumatra Barat oleh Fotografer.net Indonesia. Dua hari sebelum CB 6 selesai, para fotografer dari 5 negara Asean ikut mengalami musibah gempa bumi. Pada tahun ini juga FPPF Filipina bergabung ke Crossing Bridges.

FPPF lantas menjadi tuan rumah CB 7 tahun lalu di Western Visayas. Saat ini sudah 5 negara Asean bergabung di Crossing Bridges, menanti Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Laos dan Timor Leste untuk bergabung.

Tahun ini kali kedua Photo.vn menjadi tuan rumah Crossing Bridges. Bertolak dari Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam setelah ibukota Hanoi, 75 fotografer dari 5 negara Asean berkeliling sebagian Vietnam Selatan.

Kontingen Indonesia beranggotakan 15 orang ikut serta menyukseskan CB 8. Kita percaya, keberadaan Fotografer.net, sebagai salah satu inisiator Crossing Bridges, bisa bermanfaat untuk kawan-kawan sesama fotografer Asia Tenggara.

Kita ingin berpartisipasi aktif di pergaulan regional untuk menunjukkan eksistensi fotografi Indonesia. Nilai-nilai luhur bangsa dan kekayaan alam budaya Tanah Air mendasari kerendahhatian kita untuk menjalin persahabatan. Hunting foto bisa di mana saja dan dengan siapa saja, tapi persahabatan lebih bernilai untuk kita pupuk bersama.

Prestasi dan hal-hal yang dibuat oleh forum Crossing Bridges mungkin bukan sesuatu yang spektakuler. Tapi semangat, komitmen dan kesinambungan yang telah dijaga tetap berkobar merupakan hal yang luar biasa bagi para anggota yang terlibat di dalamnya. Hal yang luar biasa untuk dipikirkan, diingat dan diceritakan serta dipelajari untuk kelak dikembangkan lagi.

Melalui fotografi, Indonesia membuka mata dunia bahwa negara kita menyimpan talenta-talenta berharga. Insan-insan yang berperasaan halus dan rendah hati sekaligus tahu diri untuk mengambil peran penting di masanya.


#FNstreet 30 Oktober 2011 Momentum Tak Terlupakan #FN9

Pada hari Minggu, 30 Oktober 2011 kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) telah membuat sejarah. Sebanyak lebih dari 1.700 fotografer di 35 kota di hampir seluruh Indonesia dan beberapa negara dunia menggelar street photo hunting serentak.

Street photo hunting yang digelar serentak itu diberi sandi tandapagar #FNstreet dan #FN9.

Tak ada kota yang punya persiapan lebih dari seminggu kecuali Jakarta, Jogja dan Batam. Jakarta dengan Jakarta Street Hunting #JASH pada 2011 ini menggelar street photo hunting untuk kali ketujuh. Sementara Jogja Street Shoot #JoSS adalah kali ketiga pada 2011 ini, dan Batam Street Hunting #BASH baru pertama digelar di Batam.

Selebihnya, semua kota di luar Jakarta, Jogja dan Batam hanya punya waktu persiapan kurang dari seminggu. Bahkan ada kota yang baru menyatakan ikut bergabung untuk hunting serentak ini 2 hari menjelang pelaksanaan.

Kita paham, bahwa keberadaan kita di kota masing-masing adalah bagian dari komunitas fotografi di tempat tinggal kita. Kita pun paham perihal keberadaan kota tempat tinggal kita sebagai bagian dari peta fotografi nasional. Dan kita pun sewajarnya menerima diri sebagai bagian dari pergaulan fotografi internasional.

Kita gelar street photo hunting di kota masing-masing secara sukarela. Tak ada panitia yang dibayar, apalagi menjaring keuntungan pribadi. Peserta pun tak membayar, dan tak ada yang dipaksa-paksa untuk ikut.

Acara street photo hunting serentak FN jauh dari iming-iming dalam bentuk apapun, kecuali kebersamaan dalam persahabatan sejati. Manusia adalah makhluk sosial, dan fotografer hidup secara komunal. Kita pelihara persahabatan komunitas fotografi agar senantiasa bersih dari materialisme.

Kita mungkin bisa selalu menjadi pemula dalam fotografi. Banyak pula kawan-kawan fotografer yang pemalu dan penyendiri. Tapi justru melalui fotografi kita terpapar pada kemuliaan hidup bersaudara yang tulus.

Kita bukan siapa-siapa dibanding orang-orang yang bertitel seniman terkenal di bidang seni rupa atau orang-orang yang mencap diri sebagai praktisi seni fotografi. Namun kita percaya bahwa kita bicara jujur secara visual, melalui bahasa fotografi. Tanpa peduli titel dan tanpa pamrih puja-puji, kita berkarya dalam sepi namun penuh sesak oleh keharuan persahabatan fotografi.

Jarak dan waktu memisahkan kita secara fisik, tetapi jiwa kita disatukan oleh kecintaan pada fotografi. Kita yakin bahwa pertemanan dimulai dari saling percaya, dan persahabatan fotografi dilandasi oleh keterbukaan dan kejujuran. Oleh karena itu, meski tanpa iming-iming hadiah pun banyak fotografer yang mengikutsertakan diri.

Kita jauh dari gempita fotografi komersial, kita pun tak menjadi bagian kemegahan fotografi jurnalistik. Namun di jalanan justru kita temukan kebersamaan tanpa batas, yang egaliter dan murni. Hidup di jalanan keras, kata orang, namun kehalusan sanubari kita mengemasnya menjadi karya fotografi yang layak pirsa.

Ucapan terimakasih kita sampaikan kepada kawan-kawan yang telah mengorganisir street photo hunting di kota masing-masing. Kita percaya bahwa dalam persahabatan fotografi yang tulus dan murni, jerih payah kita tak sia-sia.

Biar foto yang bicara tentang suara hati nurani kita.

 


Tautan:

Liputan Fotografer.net Street Hunting 2011 #FNstreet #FN9


Belajar pada #FN9 Manado dan Palembang

Awal tahun 2009, kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) Manado mengontak. Terbit niat untuk menggelar gathering FN di ibukota Sulawesi Utara. Sayang agenda FN Gathering 2009 sudah diajukan ke sponsor sejak akhir 2008 dan sudah disetujui.

Pantang menyerah, kawan-kawan FN Manado di bawah bendera klub Manado Photo Club (MPC) waktu itu merapatkan barisan. Kepanitiaan dibentuk dan anggaran disusun, sponsor dicari. Semua dilakukan atas inisiatif anggota-anggota FN Manado secara swakarsa dan swadaya.

Gathering pertama pun berhasil digelar pada Juli 2009. Peserta ramai dan acara berlangsung seru. Mumpung semangat masih berkobar, kawan-kawan FN Manado kembali menggelar gathering Tahun Baru 2010. Kali ini bendera yang diusung adalah klub Spot Photographers, menyikapi dinamika yang terjadi di MPC.

Kekompakan dan kerja keras kawan-kawan FN Manado berbuah. FN Gathering Series 2010 menempatkan Manado sebagai salah satu kota di agenda seri tahunan. Tapi kawan-kawan FN Manado tak lekas puas, masih dengan bendera Spot Photographers mereka kembali menggelar gathering Tahun Baru 2011. Semua sukses, semua ramai peserta dan semua berlangsung seru dalam kebersamaan dan suasana persahabatan.

Menanggapi semangat swakarsa dan inisiatif yang menggebu-gebu, kawan-kawan FN Manado di tahun 2011 menjadi tuan rumah 2 acara, FN Gathering Series 2011 dan FN Workshop Series 2011. Kedua acara sudah berlangsung, tetap dalam suasana persahabatan namun jumlah peserta yang bertambah dan acara yang lebih beragam.

Cerita yang serupa tertoreh di Palembang. Berkali-kali diusulkan masuk ke agenda seri tahunan FN tapi nampaknya ibukota Sumatera Selatan ini belum terperhatikan. Tapi justru hal itu menjadi penyulut semangat gotong royong kawan-kawan FN Palembang dan pengikat kekompakan mereka.

Dalam waktu kurang dari seminggu, kepanitiaan dibentuk dan anggaran disusun. Rapat-rapat panitia yang berjumlah beberapa gelintir orang saja digelar tiap malam. Berbagai warung kopi dan warung pempek jadi saksi gerilya penyusunan strategi kawan-kawan FN Palembang.

Sponsor tak jadi masalah, lantaran ada banyak teman di Palembang yang bisa “ditodong” meski hasil tak banyak. Namun, semboyan “bersatu kita teguh” dan “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” jadi nyata di Palembang. Gathering pertama di Palembang digelar dua pekan lalu.

Acara FN Palembang diawali petang hari di Dekranasda, Jakabaring dan ditutup makan malam bersama di tepi Sungai Musi, menghadap Jembatan Ampera yang legendaris itu. Peserta datang dari berbagai kota di Sumatra Selatan, seperti Muara Enim dan Baturaja. Banyak juga peserta yang datang dari provinsi-provinsi tetangga, 5 orang dari Jambi, 2 dari Batam di Kepulauan Riau, 4 dari Pangkalpinang di Bangka Belitung dan 1 orang dari Lampung.

Jumlah 159 peserta dan asal dari berbagai daerah jelas jadi bukti nyata kerinduan kawan-kawan anggota FN untuk bertemu, berkumpul dan berbagi. Palembang membuktikannya dalam bungkus acara yang meriah, dan lebih dari 90 persen peserta tetap setia mengikuti acara hingga usai mendekati pukul 10 malam.

Kita membuktikan, bahwa keinginan dan kerinduan yang sama mengumpulkan kita untuk mencapai tujuan yang sama, dibungkus persahabatan dalam kecintaan pada fotografi. Inisiatif terbit dari bawah, bottom up. Bukan sebaliknya, ada yang gelar acara meski esensi tak mengena dan bertujuan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.

Kendala dana diatasi secara gotong royong. Jangan sampai persahabatan kita dan kemauan untuk berbagi terganggu karena dana. Kalau kita mau, kita bisa.

Manado dan Palembang bisa.