Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Actuals

Ambon to Host Two Photography Events This May

Ambon, the capital of Maluku Province, Indonesia is to host 2 big photography events on May 2011. Maluku Underwater Photo Competition (MUPC) 2011 is going to be held on May 5-7, mainly sponsored by Garuda Indonesia. On the following week, there will be Dell Ambonesia Photography Competition, May 14-17.

MUPC 2011

MUPC 2011

Garuda Indonesia as Indonesia’s flagship airline has a great concern on Maluku, as they open 1 daily flight which serves Jakarta and Ambon, the capital of the province. Maluku’s underwater world is well-known to divers as underwater paradise in The Spice Islands. MUPC 2011 provides a total prizes of IDR 35 million for 3 winners. The prizes also include Jakarta-Singapore vv and Jakarta-Amsterdam vv flight ticket.

Admission fee for MUPC 2011 is IDR 4,750,000 which includes return flight ticket Jakarta-Ambon, 4D/3N accommodation in twin-sharing basis, shuttle service hotel to dive sites, boat, divemasters, tanks and lunch. Participants are obligated to show a valid diving license, with Advanced Open Water license as minimum grade. Participants presence in technical meeting on May 5, 2011 in Ambon is also mandatory.

On land, there will also be a must-attend Ambonesia Photography Competition (APC) 2011, sponsored by Dell. The itinerary includes various interesting photography sites and subjects. There are Natsepa Beach, Liang Beach, Pintu Kota and Cape Latuhalat which are must-visit beaches in the island. Participants will also attend the annual Pattimura Festival, Bambu Gila (crazy bamboo) attraction, and to visit clove-ship building yard.

Admission fee for APC 2011 is IDR 3,990,000 which includes return flight ticket Jakarta-Ambon, accommodation in twin-sharing basis, local transport and meals. Admission to local attractions is also included. There are 2 categories: DSLR and pocket camera. Total prize for both categories is IDR 65 million.

APC 2011

APC 2011

Please visit official websites of the respective organizers for more information. In Twitter, follow @mupc_diving for MUPC 2011 and follow @wondersofmaluku for APC 2011.

I will attend both events as jury.

Find additional info and discussion of both events in Fotografer.net:

Maluku Underwater Photo Competition 2011 in Fotografer.net

Dell Ambonesia Photography Competition 2011 in Fotografer.net


Buku Fotografi Agung Krisprimandoyo: Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo
Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Seorang kawan D Agung Krisprimandoyo bertandang ke kantor dan memberikan buku fotografi karyanya, Selasa (22/02). Berdisain grafis sampul menarik, buku itu berjudul “Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You”. Isinya ternyata lebih menarik ketimbang sampul dan judulnya.

Berisi 75 karya foto yang dibuat di seluruh dunia, Agung Pimo, demikian panggilan akrabnya, hendak berbagi tempat-tempat yang menginspirasinya. Sebagian besar dibuat Agung Pimo dalam perjalanan dinas ke berbagai tempat. Dan semua foto dibuat dengan kamera DSLR kelas amatir dan lensa biasa, bukan kamera dan lensa-lensa mahal, bahkan beberapa foto dibuat dengan kamera saku.

“Istri dan anak-anak saya bertanya, mengapa tidak membeli beberapa postcard saja yang lebih mudah dan murah sebagai oleh-oleh dibandingkan bersusah payah membawa kamera, lensa dan tripod hanya untuk mengabadikan suatu tempat dan bahan untuk bercerita mengenai suatu perjalanan,” tulis Agung Pimo pada kata pengantar buku ini. Satu foto berbicara seribu kata, a picture speaks thousand words. Dan bahasa gambar yang dibuat secara personal mengekspresikan kesan pribadi fotografer ketimbang kartu pos yang dibuat orang lain.

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Diterbitkan oleh Fotografer.net, buku ini memuat foto-foto dari dataran tinggi Tengger di Bromo hingga Grand Canyon di Arizona, AS. Mulai dari Pura Taman Ayun di Bali hingga Temple of Heaven di Beijing, Cina. Ada pula foto rumah art deco Villa Isola di Bandung dan kanal-kanal di Venesia, Italia.

Foto-foto dikelompokkan menjadi 11: Mountains, The Coast, Flowers, Famous Places, Skylines, Places of Worship, Temple, Traffic & Transport, Architecture, Heritage, dan Theme Park. Seluruh foto berupa foto-foto tempat, baik dalam bentuk foto pemandangan, perkotaan maupun arsitektur. Sesuai judulnya, buku ini minim pemaparan tentang foto-foto manusia.

Seluruh foto disertai data teknis sederhana, berupa jenis kamera, kecepatan rana dan bukaan diafragma. Secara teknis, terlihat benar bahwa Agung Pimo paham benar teknik fotografi, meskipun bersenjatakan kamera sederhana. Lagipula, dalam perjalanan dinas, tentu akan terasa repot dan berlebihan untuk membawa banyak kamera dan lensa-lensa mahal. Agung Pimo, yang bermukim di Surabaya ini, melihat dan berkarya secara sederhana dan apa adanya. Fotografi merupakan sesuatu yang menyenangkan, bukan sebaliknya.

Buku ini direkomendasikan untuk dibaca sebagai motivator fotografer pemula. Selain itu, traveling photographer juga bisa menggali berbagai ide dan inspirasi dari foto-foto berbagai tempat di seluruh penjuru dunia di buku ini. Para business traveler bisa menjadikan buku ini acuan untuk memotret di sela-sela waktu beraktivitas bisnis.

Bekerja sebagai eksekutif di sebuah grup raksasa di bidang properti tak membuat Agung Pimo kehabisan waktu dan energi. Dalam beberapa tahun terakhir ini Agung Pimo juga menempuh studi Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya. Dan buku Amazing Places ini semula dibuat alumni SMA Kolese De Britto dan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Parahyangan ini sebagai cenderamata pengukuhan gelar S3.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo


Angkatan 2 Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) dan Konsistensi Sekolah Gratis Fotografi

Anton Ismael di pembukaan pameran foto Halo #2 Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), Senin (14/2). Foto oleh Berto Gesit
Kelas Pagi Yogyakarta

Kelas Pagi Yogyakarta

Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) membuka pameran foto bertitel Halo #2 di Rumah KPY, Yogyakarta, Senin (15/2). Ada 90 bingkai foto yang dipamerkan dengan berbagai subyek dan beragam gaya serta genre. Sebagian besar foto adalah karya para siswa angkatan pertama KPY dan beberapa foto pengajar. Pameran digelar tiap hari hingga 19 Februari 2011 jam 17.00-21.00 WIB.

Dirintis oleh fotografer Anton Ismael dengan Kelas Pagi di Jakarta, Kelas Pagi Yogyakarta sudah berusia setahun. Kelas Pagi Jakarta dan Kelas Pagi Yogyakarta sama-sama berupa sekolah gratis fotografi. Gratis dalam arti siswa tak membayar, demikian pula dengan para pengajar yang tak dibayar.

Di KPY, kelas digelar dua kali sepekan. Sesuai namanya, jam kelas dimulai pukul 7 pagi. Tak ada meja kursi, siswa dan pengajar lesehan. Nana dan Berto, pengelola KPY, menyiapkan proyektor LCD dan layar serta mengorganisir praktek foto.

Anton Ismael di pembukaan pameran foto Halo #2 Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), Senin (14/2). Foto oleh Berto Gesit

Anton Ismael di pembukaan pameran foto Halo #2 Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), Senin (14/2). Foto oleh Dokumentasi KPY

Keberadaan sekolah gratis fotografi ini menguji motivasi siswa-siswanya. Bangun pagi jam 7 bagi sejumlah orang sudah merupakan ujian tersendiri. Demikian pula konsistensi untuk terus menerus hadir tanpa melewatkan para pengajar yang ahli di bidang fotografi masing-masing.

Fotografi tak lagi eksklusif. Semua orang bisa belajar memotret dan mahir memotret jika punya niat dan motivasi. Keberhasilan berfotografi ditentukan oleh proses yang mencakup ujian motivasi dan mental.

Tak gampang menemukan fotografer yang mumpuni namun punya kemauan berbagi ilmu. Tak semua fotografer yang mau berbagi ilmu punya kapabilitas mengajar. Dan tak semua yang mumpuni dan mau berbagi ilmu itu punya cukup waktu serta mau mengajar tanpa dibayar.

Saringan berlapis ini menyarikan kedekatan antarsiswa, antarpengajar, dan antara siswa dan pengajar. Alhasil, keberhasilan berproses dalam fotografi ditentukan oleh ketangguhan niat dan kemurnian motivasi. Meski demikian, semua butuh waktu dan lama berproses tentu berbeda antara satu siswa dengan siswa-siswa lain.

Sebelum jaman fotografi digital, hanya segelintir orang yang bisa beli kamera. Dari segelintir itu, hanya beberapa saja yang menggeluti fotografi. Dulu ilmu fotografi bagai barang langka yang eksklusif, namun era teknologi digital mengubah semuanya.

Perbedaan orang sukses dan tak sukses adalah kemauan, karena kita semua bisa jika kita mau. Fotografer handal tak hanya mahir, terampil dan beride cemerlang namun bermental baja dengan motivasi murni. Secara alami, proseslah yang menyeleksi konsistensi berfotografi seseorang. Dan proses itu berlangsung apa adanya di KPY.

Selamat berpameran, KPY. Dan selamat berfotografi untuk siswa-siswa baru Angkatan 2 KPY. Biar foto yang bicara.

Siswa-siswa Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) menghadiri presentasi oleh pendiri Kelas Pagi fotografer Anton Ismael (berdiri kanan) pada pembukaan pameran foto Halo #2, Senin (14/2). Foto oleh Berto Gesit

Siswa-siswa Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) menghadiri presentasi oleh pendiri Kelas Pagi fotografer Anton Ismael (berdiri kanan) pada pembukaan pameran foto Halo #2, Senin (14/2). Foto oleh Dokumentasi KPY


Lima Finalis Indonesia di 2011 Sony World Photography Awards

Majalah fotografi regional Exposure memberitakan, ada 5 fotografer Indonesia yang masuk daftar finalis 2011 Sony World Photography Awards. Kelima fotografer tersebut adalah Hubert Januar, Alam Syah, Gde Wira Brahmana, Andiyan Lutfi dan Nara Pratama. Kelima nama fotografer Indonesia ini menyisihkan lebih dari 105.000 fotografer dari 162 negara, seperti disebutkan dalam rilis resmi penyelenggara bertanggal 1 Februari 2011.

Secara umum ada 2 jenis kompetisi, profesional dan terbuka. Kelima fotografer Indonesia itu jadi finalis di kategori-kategori berbeda di kompetisi terbuka. Hubert Januar (Surabaya) dan Alam Syah di kategori Art & Culture, Gde Wira Brahmana (Jogja) di kategori Fashion, Andiyan Lutfi (Cibinong) di kategori Nature & Wildlife, dan Nara Pratama (Jakarta) di kategori Travel.

Pemenang tiap kategori akan dihadiahi kamera digital Sony. Sementara pemenang Best Overall akan dihadiahi tiket ke London, Inggris, akomodasi 2 malam, tiket VIP untuk menghadiri acara pemberian hadiah 27 April 2011 dan uang 5.000 Dollar AS.

Prestasi kelima fotografer Indonesia ini merupakan hal mengagumkan lantaran telah menyisihkan ribuan fotografer dari berbagai negara. Kemudahan akses informasi di era digital telah membuat fotografi maju pesat dan membawa manfaat bagi siapapun yang piawai menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan kebaikan.

Fotografer bicara melalui foto. Dan kita tak hanya bicara, tapi juga berprestasi.


Galeri foto para finalis di Fotografer.net:

Hubert Januar

Gde Wira Brahmana
Death Fashion Scene

Andiyan Lutfi
Rebutan

Nara Pratama
Walking After You


Refleksi Creative Asia 2011

Joe McNally di Creative Asia 2001, Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 Januari 2011. Foto oleh: Kristupa Saragih
Joe McNally di Creative Asia 2001, Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 Januari 2011. Foto oleh: Kristupa Saragih

Joe McNally di Creative Asia 2001, Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 Januari 2011. Foto oleh: Kristupa Saragih

Hadir di Creative Asia 2011 di Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 Januari 2011 merupakan kesempatan berharga. Sebuah konferensi fotografi yang diberi titel penyelenggaranya sebagai “Asia’s World Class Photography Conference” yang menghadirkan pembicara-pembicara terkemuka dari berbagai negara.

Joe McNally dari AS hadir sebagai pembicara yang tampil di Opening Keynote pada hari pertama. Fotografer terkemuka ini mengerjakan assignment dari National Geographic, Life dan Sports Illustrated. Joe McNally merupakan fotografer pertama di National Geographic yang membuat foto dengan kamera digital untuk majalah dunia itu saat memotret pesawat tempur F/A-22 dan pembom B2.

Di hari kedua tampil Mike Langford, fotografer terkemuka dari Selandia Baru dan Manny Librodo, fotografer Filipina yang memenangi berbagai penghargaan. Dilanjutkan penampilan dari Jason Magbanua, wedding filmmaker terkenal dari Filipina yang dilanjutkan dengan Daniel Capobianco, fotografer Australia.

Pada hari ketiga fotografer AS Dane Sanders presentasi secara teleconference dari Los Angeles. Lantas dilanjutkan dengan sesi Michael Greenberg, fotografer terkemuka Kanada. Seluruh rangkaian sesi ditutup dengan penampilan Louis Pang, fotografer wedding Malaysia yang memenangi banyak penghargaan WPPI (Wedding & Portrait Photographers International).

Konferensi dihadiri 130 peserta dari berbagai negara Asia, seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina dan Bahrain. Selain itu ada pula peserta dari Australia, Amerika Serikat dan Inggris. Mengingatkan konferensi serupa bertitel Photo World Asia 2010 di Manila, Filipina yang saya hadiri sebagai pembicara pada Januari 2010.

Kemampuan tim Louis Pang menghadirkan pembicara kelas dunia layak diacungi jempol. Tentu semua dilakukan dengan perhitungan matang. Sebelum konferensi, ada sederet workshop intensif bertiket rata-rata RM 2.000 per orang, atau sekitar 650 Dollar AS dan Rp 6 juta. Tiket konferensi dijual seharga RM 995 atau setara 325 Dollar AS dan Rp 3 juta untuk 3 hari, tak termasuk makan dan minum.

Dari segi harga kontribusi peserta, angka-angka di atas bisa jadi semacam pembuka mata bagi khalayak fotografi Indonesia. Ajang bagi ilmu dan pengalaman merupakan hal yang patut dihargai secara layak. Jumlah massa fotografi di Indonesia berjumlah lebih besar berlipat ganda daripada negara-negara jiran.

Tiga raksasa besar industri fotografi Canon, Nikon dan Epson mensponsori event ini secara bersamaan. Hal ini langka terjadi di Indonesia, bahkan dalam acara kelas nasional sekalipun. Lagi-lagi kita teringat betapa besar jumlah massa fotografi di Indonesia ketimbang negara-negara jiran.

Penyelenggaraan berlangsung lancar dan tepat waktu. Mulai jam 8 pagi hingga jam 9 malam, tiap agenda dimulai tepat waktu dan diakhiri tepat waktu pula.

Sudah waktunya, Indonesia jadi penyelenggara event fotografi kelas dunia.

Related links:
Live Report: Creative Asia 2011 in Kuala Lumpur
30-year Career in Photography of Joe McNally Revealed in Creative Asia 2011
Second Day of Creative Asia 2011, Educating and Inspiring
Speakers Showdown in Creative Asia 2011
The Last Day in Creative Asia 2011


Crossing Bridges 7 Day 04: Island-hopping to San Carlos City

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700
Tiket MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 dari Toledo City di Pulau Cebu ke San Carlos City di Pulau Negros. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tiket MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 dari Toledo City di Pulau Cebu ke San Carlos City di Pulau Negros. Foto oleh: Kristupa Saragih

Minggu, 21 November 2010
Hari 4 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Hari keempat dibuka dengan bangun pagi, seperti biasa, di penginapan sederhana di Balamban. Jam 6 pagi rombongan diberangkatkan dari hotel ke pelabuhan di Toledo City. Telat bangun, berarti ketinggalan rombongan dan ketinggalan kapal.

Pelabuhan Toledo bersih dan besar. Sedikitnya ada 3 kali pelayaran bolak-balik Toledo dan San Carlos. Toledo berada di Pulau Cebu, Provinsi Cebu, sementara San Carlos berada di Pulau Negros, Provinsi Negros Occidental. Rute ini dilayani kapal feri jenis ro-ro, seperti kapal feri penyeberangan Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk.

Becak sepeda di Pelabuhan Toledo City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Becak sepeda di Pelabuhan Toledo City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pelabuhan Toledo City yang bersih dan tertib. Penumpang masuk ke kapal secara tertib dan teratur. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pelabuhan Toledo City yang bersih dan tertib. Penumpang masuk ke kapal secara tertib dan teratur. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Arsi, peserta CB7 kontingen Indonesia, merekam suasana Pelabuhan Toledo City dengan kamera video. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Arsi, peserta CB7 kontingen Indonesia, merekam suasana Pelabuhan Toledo City dengan kamera video. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pandangan dari dek kapal MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 menyeberang dari Toledo City ke San Carlos City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pandangan dari dek kapal MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 menyeberang dari Toledo City ke San Carlos City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Bedanya, pelabuhan asal dan pelabuhan tujuan di Toledo dan San Carlos ini amat bersih dan tertib. Kapal feri pun bersih, rapi, tertib dan tak bau. Pendingin udara berfungsi baik. Amat nyaman untuk perjalanan sekitar 1 jam.

Tiba di San Carlos City, disambut panitia setempat dari kantor pariwisata Provinsi Negros Occidental. Dibawa ke dua pasar tradisional, mirip dengan di Indonesia, tapi lagi-lagi pasar di kota kecil ini amat bersih, tak becek dan tak bau. Sebelum makan siang, rombongan sempat berkunjung ke pusat daur-ulang sampah kota San Carlos. Ternyata bisnis ini cukup menguntungkan.

 

Salah satu komoditas pusat daur ulang sampah kota San Carlos yang jadi sumber penghasilan kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Salah satu komoditas pusat daur ulang sampah kota San Carlos yang jadi sumber penghasilan kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

 

Setelah melepas penat sejenak di hotel, rombongan Crossing Bridges 7 (CB7) bergerak menuju semacam kota. Ada sekelompok seniman body painting yang sedang berkarya. Belasan mahasiswa institut seni setempat sedang dilukis body painting dan jadi sasaran tembakan kamera 80 peserta CB7.

Kota San Carlos bukanlah kota besar. Populasi tercatat hanya 33 ribu jiwa saja. Selepas jam 7 malam jalanan sudah sepi. Tapi kota ini tumbuh sebagai kota pelabuhan dan sekarang terkenal karena seniman body painting. Selain itu ada festival tahunan Pintaflores tiap bulan November yang selalu dinanti.

 

Sajian tari-tarian khas Negros di depan gedung pertemuan terbesar di San Carlos City sebelum jamuan makan malam bersama walikota dan sejumlah pejabat kota. Spontan para penari jadi sasaran tembak para peserta CB7. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Sajian tari-tarian khas Negros di depan gedung pertemuan terbesar di San Carlos City sebelum jamuan makan malam bersama walikota dan sejumlah pejabat kota. Spontan para penari jadi sasaran tembak para peserta CB7. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Malam ditutup dengan makan malam bersama walikota di gedung pertemuan terbesar di San Carlos. Puluhan penari menyambut rombongan CB7 sebelum masuk ke gedung. Makan malam diakhiri pertunjukan tari body painting di depan walikota dan sejumlah pejabat kota.

 

Seluruh peserta CB7 bermalam di San Carlos City, di 5 hotel terpisah lantaran tak ada hotel yang cukup besar menampung ke-80 peserta CB7.

 

Pertunjukan tari body painting usai jamuan makan malam di hadapan walikota San Carlos City dan para pejabat kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pertunjukan tari body painting usai jamuan makan malam di hadapan walikota San Carlos City dan para pejabat kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

 

 


Crossing Bridges 7 Day 01: Great Welcome Dinner by The Governor of Cebu Philippines

Crossing Bridges 7 Day 02: Aloguinsan, Pinamungajan and Toledo

Crossing Bridges 7 Day 03: Baranggai, Tuburan and Tobuelan


Crossing Bridges 7 Day 03: Baranggai, Tuburan and Tobuelan

Sabtu, 20 November 2010
Hari 3 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Hari kedua Crossing Bridges 7 (CB 7) Philippines 2010 dimulai pukul 6 pagi waktu setempat. Sarapan di Knight’s Cafe Hotel di Balamban, 80 fotografer dari 5 negara lantas meluncur menuju dataran tinggi Baranggai. Matahari pagi bersinar hangat dan langit bersih berwarna biru amat memanjakan fotografer.

Masih di dataran tinggi Baranggai, peserta CB 7 dibagi jadi 2 kelompok. Tempat tujuan memotret tak cukup menampung seluruh peserta. Satu kelompok turun ke dasar sungai dan memotret di gua. Sementara kelompok lain naik ke puncak bukit memotret di Monumen Ramon Magsaysay.

Jamuan makan siang di rumah Vice Mayor of Balamban, di rumah yang asri nan nyaman dengan pemandangan dataran tinggi nan indah. Lantas perjalanan dilanjutkan menuju Tuburan.

Tuburan amat indah dengan pantainya. Sambutan tari-tarian begitu meriah. Anak-anak yang bermain di mata air tawar di tepi pantai jadi sasaran tembak para peserta CB 7. Sepanjang jalan di kota Tuburan, anak2 sekolah berbaris sepanjang jalan yang dilalui iring-iringin sekitar 20 mobil CB 7. Rasanya bak tamu negara.

Sunset dinikmati di Tobuelan, masih di Provinsi Cebu. Makan malam dijamu Mayor of Tobuelan di halaman Balaikota yang luas. Atraksi tari-tarian tampil silih berganti. Di akhir acara, seluruh peserta CB7 ikut menari bersama anak-anak penari di Balaikota Tobuelan.

Bermalam kembali di Balamban.

Dataran tinggi Baranggai, Cebu, Philippines. Foto oleh: Kristupa Saragih

Dataran tinggi Baranggai, Cebu, Philippines. Foto oleh: Kristupa Saragih

Posted with WordPress for BlackBerry.


Crossing Bridges 7 Day 02: Aloguinsan, Pinamungajan and Toledo

Jumat, 19 November 2010
Hari 2 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Hari kedua Crossing Bridges 7 (CB 7) dimulai dini hari. Dikawal 2 mobil SWAT Kepolisian Filipina dan 1 ambulans, iring-iringan lebih dari 14 mobil meninggalkan Cebu menuju Aloguinsan, Provinsi Cebu. Langit masih gelap, udara sejuk.

Perhentian di Aloguinsan memanjakan fotografer. Sembari sarapan pagi di tepi laut, kamera merekam kehidupan nelayan yang ramah. Beberapa peserta sempat menumpang perahu demi memotret para nelayan dari dekat. Makan pagi bersama Walikota Aloguinsan dengan suguhan tari-tarian yang fotogenik.

Sebelum makan siang, peserta mengunjungi Pinamungajan. Disambut Walikota Pinamungajan, tak jauh dari Balaikota ada pasar induk setempat. Kebetulan Jumat adalah hari pasaran, hingga tak sulit bagi fotografer menghabiskan kartu memori di sana. Makan siang dijamu oleh Walikota Pinamungajan yang cantik itu dengan suguhan tari-tarian dan penyanyi anak-anak.

Petang hari, rombongan CB7 tiba di Toledo. Disambut Walikota Toledo di Balaikota Toledo yang megah itu, suguhan tari-tarian kembali memeriahkan suara rana kamera yang riuh mengabadikan. Tak lama di Balaikota, karena senja sudah menjelang.

Sore itu ditutup dengan kunjungan ke tambang tembaga Carmen Copper Corporation. Tambang yang masih aktif beroperasi ini berikan kesempatan kepada awam untuk memotret hingga di tepi mine pit. Suatu kesempatan langka, tentu setelah safety induction briefing.

Rangkaian acara hari pertama CB7 ditutup dengan makan malam di Balamban. Terasa meriah lantaran ada kejutan berupa atraksi kembang api seusai makan malam. Briefing malam dilakukan di Balaikota Balamban setelah suguhan tari-tarian.

Nelayan di Aloguinsan, Cebu, Philippines. Foto oleh: Kristupa Saragih

Nelayan di Aloguinsan, Cebu, Philippines. Foto oleh: Kristupa Saragih

Hari pertama diakhiri dengan bermalam di Balamban. Karena keterbatasan kapasitas hotel, 80 peserta CB7 menginap di 2 hotel terpisah. Hari pertama yang cukup panjang dan melelahkan. Tapi terasa bak tamu negara lantaran sambutan-sambutan meriah dengan atraksi tari-tarian di tiap kota yang dikunjungi.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Crossing Bridges 7 Day 01: Great Welcome Dinner by The Governor of Cebu Philippines

Kamis, 18 November 2010
Hari 1 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Cebu cerah menyambut 80 peserta Crossing Bridges 7 (CB 7) yang berasal dari 5 negara: Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam dan Filipina. Hari pertama ditandai dengan konferensi pers di Kantor Gubernur Provinsi Cebu di pusat kota Cebu. Tuan rumah FPPF (Federation of Philippines Photography Foundation) menyiapkan segala sesuatu dengan rapi.

Malam hari, seluruh peserta CB 7 dijamu makan malam oleh Gubernur Provinsi Cebu di Kantor Gubernur. Hadir pada jamuan makan malam tersebut Provincial Board Member Agnes Magpale, yang juga adalah pejabat otoritas pariwisata Cebu. Seluruh peserta dimanjakan dengan pertunjukan tari-tarian tanpa henti sejak acara dimulai pukul 19 hingga usai pukul 21 waktu setempat.

Agnes Magpale mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta CB 7 di Provinsi Cebu. Sementara para pemimpin kontingen negara berulang kali menyebutkan hal persahabatan melalui fotografi dalam sambutan mereka masing-masing.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Menyongsong Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Besok, 18 November 2010 Crossing Bridges digelar. Ajang pertemuan tahunan forum persahabatan komunitas fotografi Asia Tenggara ini digelar untuk kali ketujuh di Western Visayas, Filipina. FPPF (Federation Philippines Photography Foundation) bertindak sebagai tuan rumah Crossing Bridges 7 (CB 7) ini.

Tengah malam ini, forum-forum fotografi di Asia Tenggara memberangkatkan delegasinya ke Cebu, Filipina. Delegasi Fotografer.net (Indonesia) beranggotakan 16 orang, berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta tengah malam ini.

Pada saat yang hampir bersamaan, kontingen Clubsnap berangkat dari Bandara Changi di Singapura. Kontingen Photo.vn berangkat dari Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, sementara kontingen PhotoMalaysia.com berangkat dari Kuala Lumpur International Airport.

Dengan jumlah total peserta mencapai hampir 80 orang, maka CB 7 ini adalah yang tergemuk sejak pelaksanaan Crossing Bridges pertama tahun 2004. CB 1 digelar tahun 2004 di Jogja oleh tuan rumah Fotografer.net.

CB 2 di Hong Kong dan Macau digelar oleh Clubsnap dan CB 3 digelar tuan rumah Photo.vn di Hanoi dan Sapa, Vietnam. Sementara CB 4 digelar PhotoMalaysia.com di Tawau dan Semporna, Malaysia dan CB 5 digelar oleh Clubsnap di Siem Reap, Kamboja.

CB 6 tahun 2009 mencatat sejarah. Digelar oleh tuan rumah Fotografer.net di Sumatra Barat, bencana gempa bumi menandai pelaksanaan CB hingga tak terlupakan. Tahun 2010, CB 7 digelar FPPF di Cebu, Iloilo dan Bacolod di Filipina.

Crossing Bridges merupakan forum penting bagi fotografi secara regional. Dari segi jumlah, anggota kelima forum dari 5 negara ASEAN ini berjumlah lebih dari 600.000 orang. Kegiatan tahunan untuk saling tatap muka pun digelar secara konsisten selama 7 tahun berturut-turut tanpa putus.

Keberadaan Indonesia menempati posisi penting di Crossing Bridges lantaran jumlah anggota Fotografer.net yang 325.000 orang merupakan jumlah terbesar di Asia Tenggara. Secara strategis, Crossing Bridges berarti bagi eksistensi Indonesia di pergaulan dunia fotografi regional.

Melalui fotografi, Indonesia membuka mata dunia bahwa ada negara kita menyimpan talenta-talenta berharga. Insan-insan yang berperasaan halus dan rendah hati sekaligus tahu diri untuk mengambil peran penting di masanya.

Nilai-nilai luhur bangsa kita, warisan nenek moyang, jadi modal kita untuk secara bijaksana menempatkan diri di posisi-posisi strategis. Melalui fotografi kita menempatkan martabat bangsa pada tempat yang selayaknya. Melalui fotografi pula kita menjalin persahabatan antarnegara.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, 17 November 2010 23:30 WIB

Posted with WordPress for BlackBerry.