Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Traveling Photography

Kairaku-en, Salah Satu Taman Terbaik di Jepang #Ibaraki

KSTT3498_Japan_Ibaraki_2015

Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Ada banyak taman indah di Jepang, namun tak banyak yang sarat nilai sejarah. Dari taman-taman bersejarah itu ada satu yang terkenal karena bunga pohon plum nan indah, Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang.

Sebagai salah satu dari Three Great Gardens of Japan日本三名園 Nihon Sanmeien, memang Kairaku-en, bagi orang asing, tak sefamiliar taman Kenroku-en di Prefektur Kanazawa dan taman Koraku-en di Prefektur Okayama.

KSTT3512_Japan_Ibaraki_2015

Bunga sakura yang mekar 2 kali dalam setahun, pada musim semi dan musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

Berarti “taman untuk dinikmati rakyat”, Kairaku-en dibuat oleh pembangunnya untuk rakyat. Buka tiap hari sepanjang tahun dan gratis. Jika di Jepang taman lazimnya dibangun untuk dinikmati para tuan penguasa daerah, tidak demikian dengan Kairaku-en. Nariaki Tokugawa, seorang penguasa daerah, alias daimyo Mito pada awal tahun 1800-an, yang bertekad mulia ini.

Kairaku-en ramai dikunjungi pada musim berbunga pohon plum, mulai akhir Februari hingga Maret. Ada 3.000 pohon plum di Kairaku-en yang terdiri atas lebih dari 100 varian, yang utamanya berbunga warna putih, merah dan merah muda. Ada Festival Plum Mito yang digelar tiap tahun pada tanggal 20 Februari hingga 31 Maret.

KSTT3537_Japan_Ibaraki_2015

Pemandangan Kairaku-en dinikmati dari dalam Kobuntei. Foto: Kristupa Saragih

Selain pohon plum, Kairaku-en juga terkenal karena hutan kecil bambu dan cemara. Ada rumah tradisional Jepang bernama Kobuntei yang dipakai untuk keperluan pendidikan dan kunjungan wisatawan.Dari lantai atas Kobuntei, pengunjung bisa memandang ke seantero Kairaku-en dan Danau Senba.

KSTT3548_Japan_Ibaraki_2015

Dedaunan di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang menguning di musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3551_Japan_Ibaraki_2015

Suasana senja di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Berkunjung ke #Ibaraki Prefectural Government Building, Jepang

KSTT3459_Japan_Ibaraki_2015

Lantai 25, lantai teratas di Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang dengan jendela pandang yang berdesain modern dan berlantai karpet. Foto: Kristupa Saragih

Setahu saya, di Tanah Air tak banyak kantor pemerintahan provinsi di gedung tinggi. Kebanyakan malah memanfaatkan gedung-gedung bersejarah peninggalan era kolonial.

Namun di Jepang, hampir semua kantor pemerintahan prefektur, setingkat provinsi, jadi satu di gedung yang sama. Hal yang sama berlaku untuk pemerintah kota. Bahkan legislatif berkantor di gedung yang sama dengan eksekutif. Berbeda dengan Indonesia, yang punya kantor-kantor pemerintahan terserak di mana-mana, sehingga boros waktu dan biaya untuk transportasi.

KSTT3476_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung memotret pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki, Jepang dari jendela pandang di lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki. Foto: Kristupa Saragih

Mirip seperti pemerintah Tokyo Metropolitan yang berkantor di gedung setinggi 243 meter dan berlantai 48, Ibaraki Prefectural Government Building alias 茨城県庁舎 Ibaraki-ken Shōsha, berkantor di gedung pencakar langit. Berlantai 25 setinggi 120 meter, Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menjulang di antara bangunan-bangunan lain di ibukota Mito, yang kebanyakan tak tinggi.

Dengan populasi 2,9 juta jiwa, Prefektur Ibaraki yang setingkat provinsi di Indonesia, kira-kira sepadan dengan Kota Surabaya, Jawa Timur yang berpopulasi 2,7 juta jiwa. Namun dari koordinasi di pemerintahan mencerminkan efisiensi sekaligus keseriusan pemerintah Ibaraki membangun dan mengelola daerahnya.

Berarsitektur modern, kantor ini selesai dibangun tahun. Bersih. Dinding berhias dekorasi khas zen. Tak ada spanduk-spanduk, yang simbolis dan sebenarnya tak perlu, melambai-lambai tak artistik, seperti kantor-kantor di Tanah Air.

IMG_5320_Japan_Ibaraki_2015

Interior lobi gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Resepsionis ramah dan melayani dengan profesional. Tak ada pegawai ngobrol-ngobrol atau duduk-duduk di interior gedung. Setiap staf yang dijumpai membungkuk memberi hormat khas Jepang, yang keberadabannya perlu jadi benchmark Negeri Pancasila.

Sebelum rapat dengan pemerintah Prefektur Ibaraki dan sejumlah praktisi pariwisata Ibaraki, saya terkagum-kagum dengan akses yang mudah hingga lantai 25 tanpa mengabaikan peran petugas keamanan.

Di lantai teratas gedung pemerintah milik rakyat Ibaraki ini, ada galeri pandang berjendela kaca sepanjang gedung, setinggi langit-langit. Gratis, bersih, modern dan informatif.

KSTT3475_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menikmati pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung. Foto: Kristupa Saragih

Dari lantai ini terlihat sejauh mata memandang hamparan kota Mito dan prefektur Ibaraki.

Di lantai ini pun ada kantin kecil, yang penataan kursinya efisien dan mengindahkan estetika sehingga semua meja bisa menikmati pemandangan dari jendela kaca. Meski sedang ramai pengunjung yang mengobrol, kantin ini relatif senyap dan tak mengganggu pengunjung yang sedang menikmati pemandangan dari jendela.

KSTT3468_Japan_Ibaraki_2015-2

Kantin kecil di salah satu sudut lantai 25, lantai teratas gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

IMG_5365-1_Japan_Ibaraki_2015

Eksterior salah satu sudut gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3472_Japan_Ibaraki_2015

Panorama ibukota Mito dan Prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Pasar Ikan dan Lelang Bunga di Pasar Grosir Mito #Ibaraki

KSTT3328_Japan_Ibaraki_2015

Sepasang kakek-nenek berbelanja di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Bicara tentang pasar ikan, ada pasar ikan di Jepang yang terkenal dengan lelang di dini hari, Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo. Namun, siapapun yang pernah berkunjung ke Tsukiji, pasti pernah menikmati antrian panjang dan kunjungan singkat. Bahkan sempat ada cerita, tak bisa berkunjung pagi itu jika pengunjung sudah terlalu banyak.

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Mirip dengan Tsukiji, lelang ikan di Pasar Grosir Kota Mito di Prefektur Ibaraki, Jepang menjanjikan aktivitas serupa namun tanpa antre. Belum banyak orang tahu tentang pasar ikan di Mito, yang jam kegiatannya sama dengan Tsukiji. Padahal jarak kota Mito dari Tokyo hanya sekitar satu setengah jam perjalanan bermobil. Konon pula, Pasar Grosir Kota Mito ini merupakan salah satu pasar grosir terbesar dan kondang di Negeri Matahari Terbit.

Tak hanya menyimak lelang ikan, pengelola Pasar Grosir Kota Mito juga membawa pengunjung ke penyimpanan ikan. Siap-siaplah merasakan udara bersuhu minus 20 derajat Celcius ketika masuk ke gudang penyimpanan ikan. Super dingin dan kering, demi menjaga kesegaran produk-produk bahari agar tetap nikmat ketika dikonsumsi.

KSTT3302_Japan_Ibaraki_2015

Persiapan distribusi buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito juga mewadahi kegiatan perdagangan sayur mayur dan buah-buahan. Konon, orang menyebut Mito, ibukota Prefektur Ibaraki, sebagai daerah produksi utama sayur mayur dan buah-buahan penduduk metropolitan Tokyo.

KSTT3340_Japan_Ibaraki_2015

Sayur mayur dan buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Setiap hari ribuan ton sayur mayur, buah-buahan dan produk-produk turunannya berseliweran di pasar ini. Baik produk pertanian Prefektur Ibaraki maupun dari daerah-daerah lain di seantero Jepang.

Pasar yang dibuka tahun 1972 ini memiliki volume perdagangan 96,7 milyar Yen per tahun, atau sekitar Rp 10 triliun. Ada lebih dari 50 perusahaan dagang yang beraktivitas di sini, yang digerakkan lebih dari 1.000 pekerja.

Demikian pentingnya posisi Pasar Grosir Kota Mito sebagai gerbang masuk ke Tokyo. Bahkan buah-buahan impor pun banyak terdistribusi melalui pasar ini. Dari pasar ini, komoditas perdagangan bergerak ke supermarket-supermarket dan perusahaan pengolah makanan.

Terlihat tumpukan kardus-kardus berisi pisang dari Filipina di salah satu sisi. Sementara di sisi lain ada tumpukan karton-karton berisi buah naga besar-besar dan segar dari Vietnam. Impor dalam bentuk buah utuh, tiba di Mito lantas dikemas rapi dengan bungkusan plastik berlabel dan kotak karton.

KSTT3325_Japan_Ibaraki_2015

Buah-buahan dari seantero Jepang dan impor dari luar Jepang didistribusikan dari Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Hal menarik lainnya, Pasar Grosir Kota Mito ternyata juga menyediakan tempat lelang bunga dan pohon. Seumur-umur lihat ada lelang bunga dan pohon baru di Mito ini.

Bukannya ecek-ecek, lelang bunga berlangsung seperti lelang ikan di Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo, Jepang dan Pasar Ikan Sydney di Australia. Ada deretan bangku pembeli, dengan susunan ala teater. Tanaman yang dijual diatur di ban berjalan. Display harga dan pembeli memakai tampilan sejumlah layar monitor komputer. Rapi jali.

KSTT3435_Japan_Ibaraki_2015

Suguhan buah-buahan segar potong dan berbagai produk Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang suguhan dari pengelola pasar. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito alias Mito City Public Wholesale Market terbuka untuk umum. Namun pengunjung agar menghubungi terlebih dahulu pengelola pasar beberapa hari di muka. Selain menjamin Anda dapat pemandu, ada baiknya pengunjung terhindar dari hal-hal yang mengganggu aktvitas pasar.

Jika beruntung, di akhir kunjungan, Anda bisa disuguhi buah-buahan segar dan sayur-mayur yang sudah dimasak. Mulai dari jeruk segar tanpa biji, ubi rebus manis berukuran besar hingga sup labu yang hangat.

KSTT3299_Japan_Ibaraki_2015

Produk buah segar yang dijual di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3308_Japan_Ibaraki_2015

Sebelum dikemas, buah-buahan segar dibersihkan dan disusun dalam kotak-kota karton, lantas siap didistribusikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3322_Japan_Ibaraki_2015

Berbagai produk buah-buahan dan sayur mayur siap didistribusikan dari Pasar Grosir Kota MIto, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3334_Japan_Ibaraki_2015

Produk sayur mayur dan buah-buahan Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang sedang dipilih-pilih oleh pembeli. Foto: Kristupa Saragih

 

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3351_Japan_Ibaraki_2015

Pasar ikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Meski ramai dan banyak dagangan, namun pasar ini bersih dan tak berbau. Sulit menemukan sampah barang secuil. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Situasi lelang bunga di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3397_Japan_Ibaraki_2015

Lelang bunga didukung teknologi canggih, harga dan pembeli terpampang di layar monitor komputer, di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Deretan bunga-bunga di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3416_Japan_Ibaraki_2015

Situasi di belakang lelang bunga, ribuan tangkai bunga mengantre giliran di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3407_Japan_Ibaraki_2015

Puspa ragam bunga dari seantero Jepang di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3422_Japan_Ibaraki_2015

Para perempuan pekerja di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Prajurit Keraton Yogyakarta di Grebeg Syawal 2014

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Memotret prajurit Keraton Yogyakarta sudah berkali-kali saya lakoni sejak awal 2000-an. Sejak masih jaman pakai film slide, digital SLR, hingga sekarang memakai kamera mirrorless. Ada banyak kesempatan memotret apel prajurit Keraton Yogyakarta, karena upacara adat grebeg digelar 3 kali dalam 1 tahun Masehi.

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih


Menikmati Senja Teluk Ambon di Atas KMP Siwalima 01

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih
KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu pekan di pertengahan bulan Mei 2012, cuaca di Ambon, ibukota Provinsi Maluku amat bersahabat. Fotografer.net (FN), komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara, menggelar FN Hunting Series 2012 di salah satu tempat indah Indonesia ini.

Dalam suasana persabatan, kawan-kawan anggota FN di Ambon berkumpul di Kedai Kopi Sibu-sibu, yang kondang di Ambon. Di tengah obrolan akrab, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Benny Gaspersz datang bergabung menikmati kopi sambil mengobrol santai dengan rombongan FN Hunting Series. Terbit tawaran untuk menghabiskan senja nan indah dengan memotret matahari terbenam dengan KMP Siwalima 01.

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Tanpa ragu, seluruh rombongan mengiyakan tawaran dan bersiap berangkat. Teluk Ambon yang indah jadi tujuan. Semua wajah berseri-seri menyiapkan kamera dan lensa serta baterai dan memori agar tak satu momen pun terlewat.

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Sebagai provinsi kepulauan, sudah selayaknya Maluku punya kapal untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata. Memotret matahari terbenam di Teluk Ambon dari daratan Pulau Ambon sudah biasa. Tapi merekam laut dan alam indah Ambon dari atas kapal jadi hal yang luar biasa.

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto di posting ini dibuat dengan Samsung Galaxy Note, semua tanpa penyuntingan.


Motret Panorama di Seputar Mahboonkrong มาบุญครอง

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Di sela-sela agenda Fotografer.net Series 2012 Bangkok meliput Songkran Water Festival, 13-16 April 2012, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri street photography di kota. Tempat yang paling gampang dijangkau dan aman adalah pusat perbelanjaan kondang Mahboonkrong.

Berikut adalah foto-foto panorama di seputar Mahboonkrong menggunakan Samsung Galaxy Note pada shooting mode panorama. Tidak ada penyuntingan foto.

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih


Beberapa Tips Fotografi dari Songkran Water Festival 2012, Bangkok, Thailand

Under Rapid Songkran Fire - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih
A Friend Indeed - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

A Friend Indeed – Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Tahun ini adalah kali kedua saya meliput Songkran Water Festival di Bangkok, Thailand. Berangkat bersama tim Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok, kami berkunjung ke Bangkok 13-16 April 2012. Tahun lalu, di Songkran 2011, pengalaman saya posting di “My Canon EOS 1D Mk III Survived in Songkran Water Festival 2011“.

Under Rapid Songkran Fire - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Under Rapid Songkran Fire – Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Berikut beberapa tips fotografi jika Anda hendak memotret Songkran Water Festival di Thailand, yang saya rangkum dari twit @kristupa ketika festival berlangsung di Bangkok:

  1. Memotret Songkran Water Festival kental nuansa dokumenter dan jurnalistik
  2. Songkran digelar di seluruh Thailand. Di Bangkok teramai di Khao San Road dan Silom Road
  3. Songkran di Bangkok biasanya ramai setelah tengah hari. Di Khao San ramai mulai jam 4 sore
  4. Songkran berupa water festival berbentuk “perang” siram-siraman air. Lindungi kamera dengan rain cover
  5. Di Songkran, suasana ramai berdesak-desakan. Pilih angle supaya dapat clear shot. Pertimbangkan lighting dan background
  6. Di Songkran tak mungkin setting subyek foto. Jika Anda aliran fotografer pictorial bisa frustasi
  7. Pakai lensa normal atau tele, karena sulit mendekat ke subyek dan situasi out of control
  8. Untuk lindungi kamera dari air tak disarankan pakai underwater housing. Berat bo’!
  9. Bisa pakai kamera jenis apa saja, tak harus DSLR. Yang penting Anda kuasai benar pengoperasiannya
  10. Songkran adalah festival tahun baru Thai. Rekam suasana ceria dan optimis. Air sebagai simbol yang ada artinya
  11. Songkran adalah festival siram-siraman air, maka dress accordingly. Tapi jangan pakai wet suit!
  12. Disiram air, dilarang marah. Blend in dan jadilah bagian dari pertempuran siram-siraman air
  13. Cukup bawa 1 bodi kamera, lebih dari itu berarti Anda perbesar resiko loss karena kesemprot air
  14. Cukup pakai 1 lensa, karena sulit ganti-ganti lensa di situasi simpang-siur semprotan air
  15. Cipratan air bisa direkam dengan speed tinggi untuk freezing, bisa juga dengan speed lambat
  16. Agar cipratan air terlihat signifikan, pilih background gelap dan kondisi backlight atau sidelight
  17. Lautan manusia terus bergerak, gunakan AF mode AI-servo atau AF-C
  18. Amankan alat komunikasi dan uang tunai secukupnya dalam kantung plastik kedap air
  19. Meski medan tak luas, tetap butuh stamina prima. Lautan manusia berdesakan
  20. Di Silom Road Bangkok ada jembatan penyeberangan, bisa high angle, tapi tetap siap basah
  21. Di Silom ada semburan hidran pemadam kebakaran, jadi permudah pilih angle
  22. Waspada lensa terkena semprotan frontal, siapkan tisu atau lap di kantung kedap air
  23. Tiba di lokasi segera orientasi medan, tentukan meeting point dan jam bertemu dengan teman-teman serombongan
  24. Selain semprotan air, siap-siap terima olesan larutan tepung di muka. Dilarang marah
  25. Siapkan pakaian ganti, naik mobil/bis/MRT ber-AC dengan pakaian basah kurang sehat
  26. Siapkan memory card cukup, kalaupun harus ganti memory card cari tempat aman dari semprotan air
  27. Available light is the best, flash tambahan ribet dan resiko kena semprot
  28. Berbaur dengan massa itu harus tapi jangan hanyut, tetap konsentrasi dengan subyek foto dan pesan
Suasana Songkran Water Festival di Silom Road, Bangkok, 15 April 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana Songkran Water Festival di Silom Road, Bangkok, 15 April 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok basah kuyup usai memotret Songkran Water Festival di Khao San Road, 14 April 2012. Dari kiri: Armand Megawe, Yulianus Ladung, Kristupa Saragih, Zulkifli Kibor. Foto oleh Farano Gunawan

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok basah kuyup usai memotret Songkran Water Festival di Khao San Road, 14 April 2012. Dari kiri: Armand Megawe, Yulianus Ladung, Kristupa Saragih, Zulkifli Kibor. Foto oleh Farano Gunawan

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok usai memotret Songkran Water Festival di Silom Road, 15 April 2012. Dari kiri: Kristupa Saragih, Yulianus Ladung, Farano Gunawan, Zulkifli Kibor. Foto oleh Armand Megawe

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok usai memotret Songkran Water Festival di Silom Road, 15 April 2012. Dari kiri: Kristupa Saragih, Yulianus Ladung, Farano Gunawan, Zulkifli Kibor. Foto oleh Armand Megawe

Kamera Canon EOS-1D Mark IV basah kuyup air campur larutan tepung di Songkran Water Festival 2012 namun lancar dan berfungsi normal. Foto oleh Kristupa Saragih

Kamera Canon EOS-1D Mark IV basah kuyup air campur larutan tepung di Songkran Water Festival 2012 namun lancar dan berfungsi normal. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar tenang ketika berdesakan, bodi kamera diamankan dengan camera strap Pacsafe yang anti-jambret. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar tenang ketika berdesakan, bodi kamera diamankan dengan camera strap Pacsafe yang anti-jambret. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar aman dari semprotan air, barang bawaan dan asesoris fotografi disimpan di dalam pouch dengan built-in cover buatan ThinkTank Photo. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar aman dari semprotan air, barang bawaan dan asesoris fotografi disimpan di dalam pouch dengan built-in cover buatan ThinkTank Photo


The Jeepneys of Angeles City, Philippines

All photos are made by Nokia Lumia 800 and edited by Pictomaphone app for Windows Mobile. This blog post is made by WordPress app for Windows Mobile. Date taken: Feb 10-11, 2012.

All comments are welcome.

The Backdoor - Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Posted from WordPress for Windows Phone


Sihir Balon Udara The 17th Philippines Hot-Air Baloon Fiesta 2012

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800
The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Menonton balon udara menyenangkan, menerbangkannya lebih menantang. Ketika Filipina menggelar Festival Internasional ke-17 Balon Udara Filipina pada 9-12 Februari 2012, ribuan orang tiap hari menyemut mengunjungi lokasi festival di Pangkalan Udara Clark.

Pada hari pertama, festival tak terlampau ramai. Tapi pada hari kedua, sekitar 2 ribu pengunjung sudah di lokasi sejak subuh. Balon-balon sudah siap sejak jam 5.30 pagi dan mengudara mulai sekitar pukul 6 waktu setempat. Tahun ini tercatat 28 balon dari berbagai belahan dunia hadir di Clark.

Weekend with Everything That Flies“, akhir pekan dengan segala sesuatu yang terbang, demikian tema festival tahun ini. Jadi, selain balon udara ada pula atraksi sky diving, paramotor, paralayang, ultra-glide dan akrobat udara. Bahkan layang-layang pun ikut dipertunjukkan, dalam berbagai warna dan bentuk atraktif.

Hari ketiga sudah memasuki akhir pekan. Diperkirakan lebih dari 20 ribu pengunjung memadati lokasi. Bahkan ada yang menginap di rerumputan Pangkalan Udara Clark, dengan membawa tenda-tenda kecil. Luar biasa ramai dan meriah.

Skydivers in Clark Air Base with Philippine national flag and Philippine national anthem Lupang Hinirang at The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Skydivers in Clark Air Base with Philippine national flag and Philippine national anthem Lupang Hinirang at The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Pada pukul 5.30 pagi di hari Sabtu itu, jalan menuju Clark sudah padat merayap dalam radius 2 km. Padahal jalan lurus dan lebar menuju Clark masing-masing 2 jalur di tiap arah. Parkir sudah disiapkan untuk 5 ribu kendaraan roda empat, dengan arus sirkulasi yang rapi.

Pangkalan Udara Clark sudah menjadi lautan manusia, meski hari masih gelap dan matahari baru saja tersembul di ufuk. Pria wanita, tua muda, dan anak-anak maupun remaja berdesak-desakan. Tiket masuk dipatok pada harga PHP 200 sehari, atau sekitar Rp 40 ribu pada kurs PHP 1 = Rp 200.

Suara helikopter memecah pagi, ketika ribuan kepala menengadah ke langit muncullah sekelompok sky diver mengibarkan bendera Filipina di udara. Lantas di pengeras suara terdengar pembawa acara mengumumkan, “Bapak-bapak dan Ibu-ibu, lagu kebangsaan Filipina…”. Lalu berkumandanglah Lupang Hinirang, lagu kebangsaan negara 7 ribu pulau ini, mengiringi kibaran bendera Filipina di udara.

Fire it up. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Fire it up. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Pemantik-pemantik api dinyalakan, balon-balon mulai menggelembung. Tak berapa lama kemudian satu per satu balon mengudara membawa keranjang-keranjang yang berisi pilot dan penumpangnya.

Tak hanya berbentuk bundar dalam balutan warna-warni penarik perhatian, ada juga balon berbentuk kue ulang tahun, karakter game Sonic, ice cream cup dan karakter mirip kungfu panda.

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Hari keempat, hari terakhir festival dimulai dengan pengunjung yang sudah memarkir kendaraan roda empat hingga pinggir kota Angeles. Padahal jarak dari Pangkalan Udara Clark ke Angeles lebih dari 5km.

Subuh hari keempat, jalan tol sudah padat merayap. Ketika jarum jam menyentuh angka 8, jalan tol dan jalan biasa sudah macet total tak bergerak. Antisipasi penyelenggara untuk 50 ribu penonton sepertinya masih kurang.

Semua tersihir balon udara.

Airborne with Mount Arayat in the background. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Airborne with Mount Arayat in the background. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800


Foto-foto di posting ini seluruhnya dibuat dengan Nokia Lumia 800 tanpa editing. Resize oleh WordPress.


Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang

Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih
Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih

Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih

Memotret upacara Cap Go Meh banyak dinanti fotografer. Di Indonesia, Singkawang, Kalimantan Barat jadi tempat tujuan paling ramai karena acara-acara yang atraktif. Tapi, upacara Cap Go Meh di Palembang, Sumatra Selatan ternyata menarik juga.

Dari tahun ke tahun, upacara Cap Go Meh di ibukota Provinsi Sumatra Selatan dipusatkan di kelenteng Hok Tjhing Rio, Pulau Kemaro. Dari pusat kota Palembang, Pulau Kemaro bisa dicapai tak sampai setengah jam. Pada hari biasa, pengunjung harus menyeberang dengan perahu untuk mencapai Pulau Kemaro.

Pada Cap Go Meh 2012, panitia sudah mengantisipasi 70 ribu pengunjung yang diperkirakan hadir di Pulau Kemaro. Dipusatkan pada tanggal 4-5 Februari 2012, ada 7 barge alias kapal tongkang yang dijajarkan membentuk jembatan menuju Pulau Kemaro. Pengunjung datang dari banyak tempat di Indonesia, seperti pantai timur Sumatra dan Jakarta. Bahkan ada beberapa bis yang mengangkut pengunjung dari Malaysia.

Umat bersembahyang dalam upacara Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Umat bersembahyang dalam upacara Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pulau Kemaro lekat dengan legenda Siti Fatimah dan Tan Bun An. Secara historis, banyak cerita yang melekatkan penduduk setempat dan penduduk Tionghoa. Di hari biasa, kelenteng Hok Tjhing Rio dan pagoda 7 lantai di sebelahnya sudah jadi salah satu tempat tujuan wisata penting setelah Jembatan Ampera.

Pada Cap Go Meh 2012, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin hadir pada puncak acara, tengah malam 4 Februari dan dinihari 5 Februari. Asap hio pekat membumbung tanpa henti. Mata perih dan napas sesak jika berlama-lama berada di sekitar tempat sembahyang umat.

Penjual kacang rebus dan kembang api Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjual kacang rebus dan kembang api Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Antrian kendaraan membuat macet jalan sejak kompleks Pusri. Tak hanya umat yang hendak sembahyang yang datang ke Pulau Kemaro, tapi banyak wisatawan juga datang hendak merasakan kemeriahan Cap Go Meh. Untunglah panitia menyiapkan lahan parkir yang terorganisir rapi dan aman, penerangan cukup dan petugas parkir dalam jumlah memadai.

Kembang api silih berganti mewarnai langit, seiring bunyi yang meledak-ledak. Di Pulau Kemaro, kembang-kembang api menghiasi langit di sekitar pagoda. Bahkan penumpang kapal-kapal yang hendak merapat dan baru angkat sauh pun ikut memeriahkan malam dengan kembang api yang mengudara dari atas dek.

Saya menggunakan kamera Canon EOS-1D Mark IV dan lensa lebar Canon ED 17-40mm f/4L untuk memotret di Pulau Kemaro malam itu. Karena gelap, saya harus mengandalkan ISO 800 dan ISO 1600. Shooting mode dipaku pada modus aperture priority Av dan bukaan diset pada f/4.

Memotret dengan lensa tele jadi sulit karena puluhan ribu pengunjung yang berdesakan. Selain itu, seringkali lensa tele menarik perhatian dan mengganggu konsentrasi umat yang sembahyang. Lagipula, memotret pagoda dan kembang api di sekitarnya lebih mudah dengan lensa lebar.


Gocefa, Ritual yang Hilang dari Pesisir Sulawesi Utara

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih
Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Sedikit sekali informasi yang bisa dihimpun perihal gocefa. Ritual penting masyarakat pesisir Sulawesi Utara ini konon lahir 2.000 tahun yang lalu di kalangan masyarakat adat Bantik. Ketika Manado Ocean Festival (MOF) 2011 menghadirkan ritual ini pada 27 Mei 2011 lalu di Pantai Malalayang Manado, banyak orang yang baru pertama kali menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah.

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

…torang batrima kaseh atas firman yang Dia so kase pa torang. Juga atas torang pe orang tua, torang pe tete deng nene moyang yang so kase lahir pa torang samua. Deng atas pante dan lao yang Tuhan so bekeng vor torang yang so jadi torang pe pohong hidop.”

Gocefa diyakini sebagai ritual adat memanjatkan doa bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir yang bergantung pada laut. Tinggal di tepi laut, hidup dari laut, dan menyandarkan diri pada laut. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Bantik, yang hampir punah. Bahasa Bantik diyakini seumur dengan bahasa Kawi, alias Jawa Kuna di Pulau Jawa, yang telah punah.

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Hidop ini anugera Tuhan. Torang sambut itu deng bajanji hidop sebaik-baiknya. Torang bajanji mo paka ni pante deng lao vor torang pe hidop. Torang bajanji mo piara deng jaga ni pante deng lao pe bagus ini.”

Iring-iringan rombongan pelaksana ritual gocefa dibuka dengan penari-penari cakalele. Berpakaian merah-merah, para penari ini bersenjatakan parang. Lantas diikuti dengan orang-orang tua berpakaian putih-putih, berikat kepala merah. Baru para pemimpin upacara ritual yang adalah para pemuka agama.

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Su suwu-suwu dunia, mawu pukakelungangu. Maning alang diminuhe, mawu pukakelungangu. Ya Yesus bukide pubawukidang sudunia, sudunia. Ore tamalaombo suwu-suwu, tamalenggeng dimpuluse.

Ada 6 pemimpin upacara yang hadir, dua orang di antaranya adalah pendeta. Tak ada sumber resmi yang bisa menjelaskan, tapi konon ritual gocefa ini lahir sebelum agama Kristen masuk ke tanah Sulawesi Utara. Ketika agama Kristen masuk, lantas terjadi akulturasi budaya, meski kepastian kabar ini perlu dikonfirmasi kepada para pemuka adat yang berwenang.

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Sudara-sudara, marijo torang taru sebagian dari torang pe persembahan yang so takumpul tadi ka atas gocefa, pasang dia pe obor, lapas ni gocefa ka lao kong trus torang manyanyi…

Persembahan dikumpulkan, seiring khalayak memanjatkan doa dan menyanyikan lagu-lagu. Ketika matahari mencium cakrawala, obor-obor dinyalakan. Lampu-lampu di sekitar tempat upacara dipadamkan. Doa-doa tetap dipanjatkan bersama lagu-lagu persembahan.

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Sakaeng sutaghaloang, mesesenggo mapia. Nangkodane kai i tuang, apisu takahia. Maning selihe maiha, balade geguwa. I kau tawe mekapu, nangkodanu mawu.

Rakit bambu kecil, yang disebut gocefa, dimuati semua persembahan. Lantas dilepas, sembari ditarik perahu motor kecil ke tengah laut. Nyala obor menari-nari ditiup angin laut. Seiring dengan matahari yang bersembunyi di peraduan, gocefa ditelan kegelapan Laut Sulawesi.

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih


Bambu Gila, Atraksi Budaya Maluku

Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih
Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Tifa ditabuh bertalu-talu. Alunan irama monotonik mengiringi wangi kemenyan yg menyeruak. Sebatang bambu dibekap 7 laki-laki bertelanjang dada, berikat kepala merah dan bercelana selutut merah.

Bambu sepanjang sekitar 2,5 meter itu berdiameter sekitar 8 cm. Seorang pawang berbaju hitam dan celana pendek merah, meniupkan asap kemenyan yang dibakar di batok kelapa. Alunan tifa dengan ketukan teratur tetap mengiringi.

Sejurus kemudian ketujuh laki-laki mulai bergerak menyesuaikan diri dengan gerakan bambu. Konon roh-roh leluhur masuk ke dalam bambu. Sejurus kemudian, bambu dan ketujuh laki-laki itu bergerak liar ke sana kemari. Gila.

Tatkala gerakan mulai tak terkendali, pawang satu lagi yang berbaju merah datang mendekat. Di tangannya juga tergenggam batok kelapa tempat membakar kemenyan. Asapnya ditiupkan ke bambu. Alunan irama tifa tetap teratur teralun.

Atraksi bambu gila, asap kemenyan ditiupkan memanggil roh-roh leluhur di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila, asap kemenyan ditiupkan memanggil roh-roh leluhur di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Panitia Ambonesia Photo Competition (APC) 2011 menghadirkan atraksi khas warisan leluhur masyarakat Maluku ini untuk difoto para peserta. Angin laut berhembus lembut di Pantai Hunimua, yang juga terkenal dengan sebutan Pantai Liang. Di sela-sela irama monotonik tifa, para fotografer sesekali berhamburan lantaran bambu gila yang menyeruduk tak terkendali.

Konon atraksi bambu gila bukan sekedar pertunjukan mistis belaka. Masyarakat setempat yakin atraksi ini diwariskan untuk melambangkan kegotongroyongan rakyat. Budaya luhur warisan nenek moyang untuk kesejahteraan hidup generasi penerus.

Atraksi bambu gila, jika bambu mulai tak terkendali maka pawang bertindak, Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila, jika bambu mulai tak terkendali maka pawang bertindak, Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih


Kedamaian dalam Patriotisme Hari Pattimura 2011 Ambon

Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih
Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Siapa tak kenal Pattimura, pahlawan nasional dari Maluku? Terlahir bernama Thomas Matulessy di Pulau Saparua, 8 Juni 1783, lantas digelari Kapitan Pattimura karena keberaniannya memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan kolonialisme Belanda. Pertempuran bersejarah merebut Benteng Duurstede di Saparua pada 14 Mei 1817 membuat Hari Pattimura selalu diperingati tiap 15 Mei dini hari.

Dini hari 15 Mei 2011 ratusan orang memadati Pattimura Park di pusat kota Ambon. Sehari sebelumnya, pukul 3 sore obor Pattimura disulut di Gunung Saniri, Pulau Saparua. Obor lantas diarak secara estafet oleh kelompok pemuda desa di tiap desa menuju pelabuhan, lantas diseberangkan kapal TNI AL. Merapat di Tulehu, Pulau Ambon, obor kembali diarak secara estafet oleh kelompok-kelompok pemuda tiap desa yang dilalui rute menuju Pattimura Park.

Penari Cakalele lengkap dengan perang dan salawaku pada peringatan Hari Pattimura di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari Cakalele lengkap dengan perang dan salawaku pada peringatan Hari Pattimura di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Hampir tiap pemuda yang mengarak obor juga membawa obor masing-masing. Tari Cakalele, tarian perang, berada di depan, membuka jalan bagi arak-arakan obor Pattimura. Semua berpakaian merah, melambangkan keberanian. Para penari Cakalele, juga berpakaian merah, mengacung-acungkan parang dan salawaku.

Pada 194 tahun lalu, tempat para pemuda berkumpul, di lapangan upacara Hari Pattimura di Pattimura Park, Thomas Matulessy digantung oleh Belanda. Upacara dihadiri 17 walikota se-Indonesia Timur, para prajurit dan perwira TNI AD, TNI AL dan TNI AU serta Polri. Saya pun berada di upacara itu bersama 41 peserta dan juri Dell Ambonesia Photo Competition 2011 untuk mengabadikan prosesi obor Pattimura sebagai acara penting di Maluku.

Semangat para pemuda yang berapi-api seirama dengan kobaran api obor. Doa upacara dipanjatkan secara 2 agama: Islam dan Kristen. Patriotisme Pattimura dibalut dalam kedamaian, yang kontras dengan konflik horisontal di Ambon dan sebagian Maluku selama 1999-2006.

Sebanyak 240 pemuda dari 8 desa mengarak secara estafet obor Pattimura dari Saparua hingga Pattimura Park di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Sebanyak 240 pemuda dari 8 desa mengarak secara estafet obor Pattimura dari Saparua hingga Pattimura Park di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Hujan mengguyur Ambon sejak sehari sebelum upacara, dan berhenti seketika beberapa saat sebelum arak-arakan obor Pattimura masuk Pattimura Park. Seorang kawan asli Ambon berujar, “Setiap tahun selalu begini. Hujan terus menerus sebelum upacara, tapi berhenti waktu obor masuk tempat upacara.”

Pada November 1817, Thomas Matulessy dan pengikut-pengikutnya ditangkap tentara Belanda. Pemimpin perjuangan rakyat Maluku mengakhiri hidupnya digantung pemerintah kolonial Belanda di lapangan di belakang Benteng Victoria, yang sekarang menjadi Pattimura Park. Jenazahnya dipamerkan dalam kurungan besi di tempat publik.

Keberanian Kapitan Pattimura tak surut saat menuju tiang gantungan. Pesan terakhir Thomas Matulessy sebelum tali gantungan menutup usianya, “Beta akan mati. Tetapi nanti akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan beta punya perjuangan…”

Heroisme upacara Hari Pattimura 2011 berlangsung damai di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Heroisme upacara Hari Pattimura 2011 berlangsung damai di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih


Menikmati Pantai Hukurila, Ambon, Maluku

Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih
Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih

Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih

Hukurila, di Ambon, Maluku selama ini dikenal keindahan bawah airnya. Masukkan kata kunci Hukurila di mesin pencari dunia maya maka halaman pertama hasil pencarian akan penuh oleh keterangan bawah air Hukurila. Tapi daratan Hukurila ternyata menyimpan banyak hal yang bisa dinikmati.

Pantai Hukurila berada di sisi selatan Pulau Ambon yang menghadap ke timur. Secara administratif, Pantai Hukurila berada di Kecamatan Leitimur Selatan, yang masih termasuk Kota Ambon. Pantai ini menghadap langsung ke Laut Banda. Kesan pertama ketika tiba di pantai ini, penduduk ramah dan pemandangan indah.

Karena menghadap ke timur, secara fotografis pantai ini cocok untuk menanti matahari terbit. Ketika berkunjung ke Pantai Hukurila pada hari Minggu (8/4), saat petang setelah jam 14 pantai ini sudah mulai diselimuti bayangan. Terhampar pantai berdasar batugamping warna putih yang disaput pasir hitam.

Sepertinya ada gunung api tua yang sudah mati, tapi masih menyisakan endapan material vulkanik dalam bentuk pasir hitam. Air tawar mengalir segar di sungai kecil yang bening dan dangkal. Anak-anak setempat berlarian sembari berteriak-teriak girang menyambut ombak yang berdebur-debur.

Pantai Hukurila tak seperti Pantai Liang yang padat pengunjung di akhir pekan. Pantai ini pun tak seterkenal Pantai Natsepa dengan rujaknya itu. Pantai Hukurila hanya berhiaskan nyiur melambai dan beberapa rumah penduduk yang bersuasana hening. Tak ada pedagang, tak ada pula pondok-pondok tempat berteduh. Bahkan Pantai Lawena yang belakangan mulai ramai saja punya beberapa pondok sekedarnya untuk para pengunjung.

Di kedalaman lebih dari 20 meter di bawah permukaan laut, ada Hukurila Cave yang jadi tempat favorit para penyelam yang berkunjung ke Ambon. Di atas permukaan air, Pantai Hukurila punya pemandangan yang layak difavoritkan pula. Tapi biarlah keheningan di bawah maupun di atas permukaan air Pantai Hukurila tetap terjaga.

Kelak jika Pantai Hukurila semakin terkenal, kiranya penduduk dan otoritas setempat tetap menjaga keaslian suasana dan keheningan nan alami.


Rayuan Pantai Lawena, Ambon, Maluku

Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih
Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih

Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih

Pulau Ambon, Maluku menyimpan banyak pantai indah. Sekitar setengah jam perjalanan arah timur pusat kota Ambon, terhampar Pantai Lawena. Dahulu pernah populer, tapi konflik horisontal tahun 1999 membuat pantai ini tak dikunjungi.

Berada di sisi selatan Teluk Baguala, Pantai Lawena berseberangan dengan Pantai Natsepa yang kondang dengan rujaknya itu. Lantaran lama sepi akibat konflik 1999, Pantai Lawena hampir tak dikenal di kalangan remaja dan kalah kondang dibanding Pantai Liang di Hunimua. Konon Pantai Lawena baru dibuka satu dua tahun belakangan, dan tak banyak yang tahu.

Ketika mengunjungi Pantai Lawena hari Minggu (8/4) lalu, tak sampai lima puluh pengunjung bersantai di pantai indah nan luas ini. Hal yang kontras kalau dibandingkan dengan keramaian di Pantai Liang dan kepadatan pengunjung Pantai Natsepa. Konon pula, Pantai Lawena berada di tanah milik pribadi, bukan pemerintah setempat.

Maklum saja jika jalan akses ke Pantai Lawena masih seadanya. Infrastruktur pun masih belum layak terima pengunjung. Baru ada beberapa pondok tempat berteduh, tanpa sarana peturasan yang memadai dan fasilitas keamanan bagi pengunjung yang berenang.

Secara fotografis, Pantai Lawena menghadap ke timur sehingga cocok untuk menangkap matahari terbit. Tapi, ketika berkunjung ke sana saat sore pun pesona pantai ini masih memancar. Setelah jam 4 sore, matahari sudah sembunyi di balik bukit kecil sehingga sebagian besar pantai sudah berada di daerah “shadow”.

Jika kelak Pantai Lawena siap menerima pengunjung, itu berarti ada tambahan tempat tujuan wisata pantai di Pulau Ambon. Akan bijaksana jika eksploitasi tempat ini untuk pariwisata tetap mempertahankan kelestarian alam dan bermanfaat positif bagi kehidupan sosial penduduk setempat.


Suatu Pagi di Pasar Pabean Surabaya

Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya. Foto oleh: Kristupa Saragih
Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Kota metropolitan Surabaya masih menyimpan harta karun berupa pasar tradisional. Di tengah himpitan kehidupan modern dan kepungan hutan beton pusat perbelanjaan mewah, masih ada Pasar Pabean di daerah kota lama Surabaya. Pasar besar yang masih berdenyut dengan keramaian khas pasar tradisional Indonesia.

Ada banyak pedagang, mulai dari sayur mayur hingga ikan dan daging-dagingan. Mulai dari rempah-rempah hingga buah-buahan. Tersedia pula perkakas rumah tangga dan berbagai jenis pakaian.

Tak ada data resmi perihal tahun resmi pendirian Pasar Pabean. Tapi ada foto tua Pasar Pabean bertarikh 1899. Selangkah dari sana, ada Stasiun Surabaya Kota, yang dikenal dengan nama Stasiun Semut, yang berdiri tahun 1878. Jadi, kira-kira Pasar Pabean sudah berdiri sejak akhir abad 19.

Secara fotografis, Pasar Pabean menyimpan banyak subyek human interest. Aman untuk mondar-mandir membawa kamera, dan para pedagang pun ramah sepanjang fotografer pandai membawa diri. Terdengar kental bahasa Madura di seluruh pasar, pertanda dominasi etnis ini sebagai pedagang pasar.

Berikut beberapa foto yang dibuat pada kunjungan ke Pasar Pabean, Minggu (24/04) bersama beberapa kawan penggemar fotografi di Surabaya.

Contented. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Contented. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Occupied. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Occupied. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Swinging. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Swinging. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Triangular. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Triangular. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Busy. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Busy. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Fellows. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Fellows. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Inside The Market. Suasana Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Inside The Market. Suasana Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih


My Canon EOS 1D Mk III Survived in Songkran Water Festival 2011

Incessant Songkran - Photo by Kristupa Saragih
Incessant Songkran - Photo by Kristupa Saragih

Incessant Songkran - Photo by Kristupa Saragih

Songkran สงกรานต์ is one of important festivals in Thailand. People celebrates Thai traditional New Year by throwing water to symbolize cleansing for good fortune. This annual festival is celebrated throughout this Buddhist country.

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #1

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #1

Photographically, Songkran is a must-shoot opportunity. This is the first year I shoot Songkran, together with a group of fellow Indonesian photographers. We went to Silom and Khao San in Bangkok to capture the “water battle”.

I realized that keep camera safe, it had to be covered properly against water. All fellows covered their gears with various brands of plastic rain cover for photography gears. Considering my Canon EOS 1D Mk III is weather-resistant and splash-proof, I did not put any cover.

The only cover in camera body is Camera Armor. It is not a protection for water, as actually Camera Armor is designed only to protect camera body from scratch and impact. Anyway, the lens I used Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM was not covered by anything.

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #2

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #2

I read in a photography magazine a story about photographer shooting similar festival in India using Canon EOS 1Ds Mk II. The camera was totally showered by colored water, and it was working normally. To clean it up after shooting, the photographer switched off the camera body, took off the lens and put the body cap on, then gave a flowing hot-water from a hose. The camera then got dried up properly, and worked again normally.

A couple years ago, I went to shoot traditional bull race in rice field in West Sumatra, Indonesia. A fellow Singaporean photographer somehow fell down into the mud of rice field. He got himself covered by mud all over his body, and so was the camera which was Canon EOS 1Ds Mk II.

He then went to a nearby house, got himself a hose and gave a flowing water to the camera body to clean it up from mud. After giving it a proper drying up, the camera then worked properly with no single malfunction. I noticed it myself and it convinced me to go to Songkran without any water protection to my EOS 1D Mk III.

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #3

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #3

Me and my group hit the road of Silom in downtown Bangkok around 9 AM. Then, after lunch, we continued to shoot more extreme water battle of Songkran in Khao San Road. No one, I repeat: no one, came out dry from Khao San. It was around 4 PM in the afternoon when we decided to cease fire and struggled to come out from water-battleground.

My camera and lens was totally wet. Some part of the camera body and lens even got some powder, as powder is also part of the water-battle of Songkran. I took some proof pictures of my camera and lens using my mobile phone. My wallet, mobile phone and some other important stuff was kept in a splash-proof plastic bag.

As written in the specification, Canon EOS 1D/1Ds serie is designed to endure the weather, including water splash. No, it is not designed to be waterproof, if you tried to sink it into water. It is designed for professionals working in unfriendly shooting situation and extreme condition.

And I feel satisfied to prove myself that Canon EOS 1D Mk III works and functions normally until now.

Songkran 2011 in Khao San, Bangkok - photo by Kristupa Saragih | taken by BlackBerry 9780

Songkran 2011 in Khao San, Bangkok - photo by Kristupa Saragih | taken by BlackBerry 9780

After succeeded to get out from Songkran water-battleground in Khao San, Bangkok. From left: Armand, Yoyon, Dimar (sit), myself, Romi and Edy. All Indonesian photographers.

After succeeded to get out from Songkran water-battleground in Khao San, Bangkok. From left: Armand, Yoyon, Dimar (sit), myself, Romi and Edy. All Indonesian photographers.


Pesona Pantai Liang, Ambon, Maluku

Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih
Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu hari yang cerah, siang tak terasa panas. Sinar matahari menembus air laut nan bening hingga ke dasar yang dangkal. Pasir terlihat hangat dicium air laut berwarna hijau kebiruan. Demikian suatu hari yang sempurna di Pantai Liang, Ambon, Maluku.

Pantai yang berjarak sekitar 40 km dari kota Ambon, atau sekitar 30 menit bermobil ini, musti masuk daftar kunjung pelancong di Ambon. Konon badan PBB yang mengurusi pembangunan UNDP alias United Nations Development Programme, pada tahun 1990, melabeli Pantai Liang sebagai pantai terindah di Indonesia. Suatu label yang layak untuk pantai yang juga berjuluk Pantai Hunimua ini.

Berada di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, perjalanan ke Pantai Liang ditempuh setelah melewati Pantai Natsepa terlebih dahulu. Jika hendak menikmati keheningan, kunjungi Pantai Liang di hari biasa, bukan akhir pekan dan hari libur. Niscaya angin sepoi-sepoi menyapa lembut diiringi nyiur yang melambai-lambai, mengiringi langkah kaki di butir-butir halus pasir Pantai Liang.


Keindahan Pantai Natsepa, Ambon, Maluku

Generasi Bahari. Pemandangan Pantai Natsepa, Ambon, Maluku - Foto oleh Kristupa Saragih
Generasi Bahari. Pemandangan Pantai Natsepa, Ambon, Maluku - Foto oleh Kristupa Saragih

Generasi Bahari. Pemandangan Pantai Natsepa, Ambon, Maluku - Foto oleh Kristupa Saragih

Bersih dan tenang, berair jernih dan dangkal, demikian Pantai Natsepa terlihat indah. Tak jauh dari pusat kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku, dan bisa ditempuh sekitar 20 menit berkendaraan mobil.

Penjual rujak berderet sepanjang pantai. Rujak Natsepa memang terkenal, dan konon belum berkunjung ke Pantai Natsepa jika belum mencicipi rujaknya. Tak mahal, dan begitu dipesan langsung dibuatkan dari buah-buahan segar.

Tapi di hamparan pasir putih dan air laut jernih nan tenang, hanya mood baik yang terbawa. Sepanjang hari pantai berhiaskan perahu-perahu warna-warni bercadik. Anak-anak nelayan berlarian ke sana kemari.

Seterik apapun matahari bersinar di atas Pantai Natsepa, keteduhan masih terasa di pepohonan rindang sepanjang pantai. Di saat pagi, Natsepa bisa jadi lebih menarik lantaran Teluk Ambon menghadap timur. Semoga kealamian nan indah di Pantai Natsepa senantiasa terjaga.


Photographs That Travel Through Space and Time

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Places stay the same. People change but memories last forever. This is how so many places around the world come into existence. Fresh and natural landscapes evolve, marking the dynamics of life. Houses and buildings are constructed one after another, marking the twists and turns of human culture. Photographs records all events as they are; honestly and openly. Through a photo, time seems to stop and a moment is made eternal. Exploring photos frame by frame is like treading tracks of time.

A fellow photographer had been consistently taking photos of Tugu Yogyakarta. The photos are taken consistently each year on the same date at approximately the same time and at the same angle. The series of photographs of this monument then tell stories about everything that the landmark historic city of Yogyakarta ever experienced.

Through photography, humans can also be motivated to travel, to visit many places in various parts of the world. From big cities such as Kuala Lumpur, Shanghai and San Francisco to places such as the exotic, natural landscapes of Mount Bromo in East Java to Machu Piccu in Peru. Every places represents a culture and symbolises a level of human civilization within a certain time. Photography records it and presents a lot of things in various dimensions. A picture speaks a thousand words and a thousand words deliver countless interpretation.

So rich is the meaning captured by a photo. While in fact, it is technically only the combination of aperture and shutter speed that catches light in a blink, it is the angle of the camera and ideas in the mind of the photographer that make a picture worth interpreting as something.

The camera and the lens are like a third eye of a photographer; the third eye that completes the photographer’s heartstrings as a human being. As well as being a representative for the million of pairs of viewers’ eyes who could not observe a moment directly.


Foto yang Menjelajah Tempat dan Waktu

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Tempat tetap namun waktu berganti. Orang berubah tapi kenangan abadi. Demikianlah berbagai tempat di berbagai penjuru dunia terwujud.

Alam nan asli dan segar berevolusi pertanda dinamika kehidupan berlangsung. Rumah dan gedung berdiri silih berganti pertanda budaya manusia menggeliat. Fotografi merekam segala peristiwa secara jujur, apa adanya dan terbuka.

Melalui sebingkai foto, waktu seolah berhenti dan membuat suatu momen jadi abadi. Menjelajah foto bingkai demi bingkai bak menelusuri waktu.

Seorang rekan fotografer pernah secara konsisten memotret Tugu Yogyakarta. Foto dibuat setiap tahun secara konsisten pada tanggal yang sama, pada jam yang kurang lebih sama dan angle yang sama. Rangkaian foto-foto Tugu ini lantas bercerita tentang segala sesuatu yang pernah dilalui landmark bersejarah kota Yogyakarta itu.

Melalui fotografi, manusia bisa pula termotivasi untuk bepergian mengunjungi berbagai tempat di berbagai penjuru dunia. Mulai dari kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, Shanghai dan San Fransisco hingga tempat-tempat alami nan eksotis seperti Gunung Bromo di Jawa Timur hingga Machu Piccu di Peru.

Setiap tempat menjadi wakil suatu kebudayaan dan simbol suatu tingkat peradaban manusia dalam suatu waktu tertentu. Fotografi merekamnya lantas memaparkan banyak hal dalam berbagai dimensi. Satu foto berbicara seribu kata. Dan seribu kata melahirkan berjuta interpretasi.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Demikian kaya sebuah foto menyimpan makna. Padahal, secara teknis, hanya kombinasi besar diafragma dan kecepatan bilah-bilah rana mengejap saja yang menangkap cahaya. Namun sudut tembak lensa kamera dan ide di benak pemotret menjadikan sebuah foto sesuatu yang layak dimaknai.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.***


Ditulis sebagai Kata Pengantar untuk buku fotografi “Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You” karya D Agung Krisprimandoyo, 2011, Fotografer Net Global

Alih bahasa tulisan ini oleh: Andrew Charles


Buku Fotografi Agung Krisprimandoyo: Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo
Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Seorang kawan D Agung Krisprimandoyo bertandang ke kantor dan memberikan buku fotografi karyanya, Selasa (22/02). Berdisain grafis sampul menarik, buku itu berjudul “Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You”. Isinya ternyata lebih menarik ketimbang sampul dan judulnya.

Berisi 75 karya foto yang dibuat di seluruh dunia, Agung Pimo, demikian panggilan akrabnya, hendak berbagi tempat-tempat yang menginspirasinya. Sebagian besar dibuat Agung Pimo dalam perjalanan dinas ke berbagai tempat. Dan semua foto dibuat dengan kamera DSLR kelas amatir dan lensa biasa, bukan kamera dan lensa-lensa mahal, bahkan beberapa foto dibuat dengan kamera saku.

“Istri dan anak-anak saya bertanya, mengapa tidak membeli beberapa postcard saja yang lebih mudah dan murah sebagai oleh-oleh dibandingkan bersusah payah membawa kamera, lensa dan tripod hanya untuk mengabadikan suatu tempat dan bahan untuk bercerita mengenai suatu perjalanan,” tulis Agung Pimo pada kata pengantar buku ini. Satu foto berbicara seribu kata, a picture speaks thousand words. Dan bahasa gambar yang dibuat secara personal mengekspresikan kesan pribadi fotografer ketimbang kartu pos yang dibuat orang lain.

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Diterbitkan oleh Fotografer.net, buku ini memuat foto-foto dari dataran tinggi Tengger di Bromo hingga Grand Canyon di Arizona, AS. Mulai dari Pura Taman Ayun di Bali hingga Temple of Heaven di Beijing, Cina. Ada pula foto rumah art deco Villa Isola di Bandung dan kanal-kanal di Venesia, Italia.

Foto-foto dikelompokkan menjadi 11: Mountains, The Coast, Flowers, Famous Places, Skylines, Places of Worship, Temple, Traffic & Transport, Architecture, Heritage, dan Theme Park. Seluruh foto berupa foto-foto tempat, baik dalam bentuk foto pemandangan, perkotaan maupun arsitektur. Sesuai judulnya, buku ini minim pemaparan tentang foto-foto manusia.

Seluruh foto disertai data teknis sederhana, berupa jenis kamera, kecepatan rana dan bukaan diafragma. Secara teknis, terlihat benar bahwa Agung Pimo paham benar teknik fotografi, meskipun bersenjatakan kamera sederhana. Lagipula, dalam perjalanan dinas, tentu akan terasa repot dan berlebihan untuk membawa banyak kamera dan lensa-lensa mahal. Agung Pimo, yang bermukim di Surabaya ini, melihat dan berkarya secara sederhana dan apa adanya. Fotografi merupakan sesuatu yang menyenangkan, bukan sebaliknya.

Buku ini direkomendasikan untuk dibaca sebagai motivator fotografer pemula. Selain itu, traveling photographer juga bisa menggali berbagai ide dan inspirasi dari foto-foto berbagai tempat di seluruh penjuru dunia di buku ini. Para business traveler bisa menjadikan buku ini acuan untuk memotret di sela-sela waktu beraktivitas bisnis.

Bekerja sebagai eksekutif di sebuah grup raksasa di bidang properti tak membuat Agung Pimo kehabisan waktu dan energi. Dalam beberapa tahun terakhir ini Agung Pimo juga menempuh studi Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya. Dan buku Amazing Places ini semula dibuat alumni SMA Kolese De Britto dan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Parahyangan ini sebagai cenderamata pengukuhan gelar S3.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo


Memotret Kembang Api Itu Menyenangkan

Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih
Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih

Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih

Siapa yang tak suka kembang api? Mengudara dan meletus pancarkan sinar warna-warni. Memotret kembang api jadi suatu kesukaan tersendiri.

Prinsip utama memotret kembang api adalah melukis dengan cahaya.

Alat yang dibutuhkan pun tak muluk. Kamera sudah mutlak, bisa berupa DSLR atau kamera saku prosumer yang punya setting manual kecepatan dan bukaan. Lensa bisa berupa lensa lebar maupun lensa tele tergantung pada situasi lokasi pemotretan. Tripod jadi piranti mutlak pemotretan kembang api lantaran penggunaan kecepatan rana lambat dan untuk mencegah camera shake.

Sebelum memotret, pastikan pilihan lokasi tepat dan terbaik. Jika asing di suatu tempat, tanya orang-orang setempat perihal atraksi kembang api beberapa jam atau sehari sebelum acara dimulai. Pastikan tak ada kabel, tiang atau kabel-kabel yang menghalangi sudut tembak.

Berada beberapa jam di tempat sebelum atraksi kembang api dimulai merupakan suatu keharusan. Tempatkan diri sebelum rekan-rekan fotografer lain mengambil tempat dengan sudut tembak terbaik. Pasang tripod sedini mungkin sebagai penanda tempat memotret dan berjaga di dekatnya sampai waktu atraksi kembang api tiba. Atraksi kembang api pasti menarik minat banyak rekan yang punya keinginan sama.

Secara teknis, pemotretan kembang api memakai ISO tinggi, minimal ISO 400 lantaran kondisi minim cahaya. Modus pemotretan disarankan set pada modus M alias manual untuk mempermudah penyesuaikan kombinasi kecepatan rana dan bukaan. Setelah set ISO barulah tentukan diafragma dan kecepatan rana.

Tak ada rumus atau dogma yang mengharuskan pemakaian kecepatan rana tertentu. Saya biasa set kecepatan rana mulai pada 1 detik dan bukaan f/5.6 di ISO 400. Buat satu dua foto, lantas ubah kecepatan rana sesuai kebutuhan. Jika 1 detik masih under-exposed atau garis kembang api kurang panjang maka ubah kecepatan menjadi 2 detik atau 4 detik, demikian seterusnya pada pecahan tiap 1 stop. Pada contoh foto di atas, saya temukan lintasan kembang api yang paling cocok jika rana dibuka selama 4 detik.

Setelah dapat kecepatan rana yang cocok, barulah diafragma disesuaikan agar memperoleh kombinasi yang tepat. Berangkat dari f/5.6 lantas naik ke f/8, f/11, f/16 atau f/22 sesuai kebutuhan akan exposure yang tepat. Pada contoh foto di atas, saya memutuskan untuk expose foto di f/16 agar cocok dengan kecepatan rana 4 detik. Semakin sempit bukaan diaframa, semakin kecil kemungkinan foto kehilangan detail pada highlight.

Setelah kamera terpasang pada tripod dan teknik di atas diterapkan, maka tinggal eksekusi pemotretan. Hati-hati menekan tombol rana, karena meski terpasang di tripod getaran tangan bisa membuat camera-shake. Set WB alias white balance sesuai suhu warna, yang pada lokasi pemotretan foto di atas, Manado, pakai  WB tungsten sesuai suhu warna lampu-lampu penerangan jalan dan gedung.

Selamat ber-kembang api ria dengan kamera Anda.

Tahun Baru di Manado. Kamera DSLR terpasang pada tripod, dengan bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Foto oleh Kristupa Saragih

Tahun Baru di Manado. Kamera DSLR terpasang pada tripod, dengan bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Foto oleh Kristupa Saragih


Indah Tak Tertandingi, Kemeriahan Kembang Api Tahun Baru 2011 di Manado

Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih
Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih

Begitu meriah Malam Tahun Baru 2011 di Manado. Masyarakat ibukota Provinsi Sulawesi Utara ini tahu benar merayakan Malam Tahun Baru dan menikmatinya. Lebih dari 2 jam seluruh kota berpesta kembang api sahut-menyahut.

Sepanjang mata memandang, di seluruh penjuru 360 derajat, hanya nyala kembang api yang terlihat di angkasa. Besar dan kecil, tinggi dan rendah, kembang api berbagai warna mengudara di seluruh penjuru kota. Indah dan mengagumkan.

Tahun Baru 2010 lalu, ada pesta kembang api dan meriah, namun tak semeriah Malam Tahun Baru 2011. Berbagai tempat berinisiatif menggelar pesta kembang api. Tapi kembang api termeriah dipusatkan di sekitar Pohon Natal tertinggi di Asia, di kawasan Mega Mas, Boulevard Manado.

Selama masa Natal dan Tahun Baru, pohon Natal tertinggi ini menjadi landmark kota. Setinggi 50 meter, pohon Natal ini dibalut ribuan lampu dan hiasan. Pada saat pesta kembang api, pohon Natal tertinggi di Asia ini tampak makin indah.

Foto dibuat bersama kawan-kawan panitia dan peserta Manado Photo Fest 2010 dari lokasi acara.


Keceriaan di Tukad Unda, Bali dan Tanggung Jawab Fotografer

Splash Time. Kids at play in Tukad Unda, Klungkung, Bali. Photo by: Kristupa Saragih
Splash Time. Kids at play in Tukad Unda, Klungkung, Bali. Photo by: Kristupa Saragih

Splash Time. Kids at play in Tukad Unda, Klungkung, Bali. Photo by: Kristupa Saragih

Bendung bisa ada di mana-mana, tapi bendung dengan tampilan fotogenik bisa jadi baru ada di Tukad Unda, Klungkung, Bali. Kali pertama memotret di bendung Tukad Unda tahun 2003, belum banyak fotografer yang mengeksplorasinya. Tapi begitu cepat informasi meluas, banyak rekan fotografer yang sudah memenangi hadiah dan medali hasil memotret di bendung ini.

Anak-anak di Tukad Unda sudah paham benar peluang dari fotografer. Begitu kendaraan diparkir dan pintu dibuka, anak-anak berkerubung mendekat. “Foto, Pak. Foto, Bu. Lima ribu (Rupiah) sekali lompat,” ujar anak-anak itu menawarkan jasa.

Sedih rasanya melihat mereka mencari uang di saat mereka mustinya masih menikmati hakikat usia bermain dan belajar. Tapi, senang juga lantaran tak perlu sulit mencari model untuk difoto. Apalagi mereka pun paham cara menampilkan aksi-aksi atraktif di bendung.

Rekan-rekan fotografer kiranya paham konsekuensi datang ke suatu lokasi dan mempublikasikan foto-foto lokasi tersebut. Bahwa suatu lokasi kelak bisa jadi ramai didatangi fotografer-fotografer lain. Demikian pula pemahaman atas konsekuensi atas pemberian imbalan uang kepada orang yang menjadi subyek foto.

Keputusan untuk memberi maupun tak memberi tentu terpulang kepada tiap fotografer. Tiap orang, tiap lokasi dan tiap kepentingan tentu tak berkeputusan yang sama. Tapi, hal yang paling jelas dan digarisbawahi adalah menjadi fotografer yang bertanggung jawab.

Bertanggung jawab dalam arti tak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga mempertimbangkan konsekuensi kehadiran fotografer di suatu tempat. Itu berarti pula memikirkan pula rekan-rekan fotografer lain yang akan hadir di tempat tersebut kelak.

Lebih jauh lagi, konsekuensi terhadap penduduk lokal atas hal-hal yang mereka lihat pada diri fotografer. Demikian pula konsekuensi terhadap lingkungan setempat atas hal-hal yang diperbuat fotografer di tempat tersebut, atas isu pelestarian lingkungan dan kemungkinan tempat tersebut kelak dilirik kepentingan bisnis.

Be a responsible photographer.


Original post of the picture above in Fotografer.net: Splash Time