Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Traveling Photography

Kairaku-en, Salah Satu Taman Terbaik di Jepang #Ibaraki

KSTT3498_Japan_Ibaraki_2015

Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Ada banyak taman indah di Jepang, namun tak banyak yang sarat nilai sejarah. Dari taman-taman bersejarah itu ada satu yang terkenal karena bunga pohon plum nan indah, Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang.

Sebagai salah satu dari Three Great Gardens of Japan日本三名園 Nihon Sanmeien, memang Kairaku-en, bagi orang asing, tak sefamiliar taman Kenroku-en di Prefektur Kanazawa dan taman Koraku-en di Prefektur Okayama.

KSTT3512_Japan_Ibaraki_2015

Bunga sakura yang mekar 2 kali dalam setahun, pada musim semi dan musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

Berarti “taman untuk dinikmati rakyat”, Kairaku-en dibuat oleh pembangunnya untuk rakyat. Buka tiap hari sepanjang tahun dan gratis. Jika di Jepang taman lazimnya dibangun untuk dinikmati para tuan penguasa daerah, tidak demikian dengan Kairaku-en. Nariaki Tokugawa, seorang penguasa daerah, alias daimyo Mito pada awal tahun 1800-an, yang bertekad mulia ini.

Kairaku-en ramai dikunjungi pada musim berbunga pohon plum, mulai akhir Februari hingga Maret. Ada 3.000 pohon plum di Kairaku-en yang terdiri atas lebih dari 100 varian, yang utamanya berbunga warna putih, merah dan merah muda. Ada Festival Plum Mito yang digelar tiap tahun pada tanggal 20 Februari hingga 31 Maret.

KSTT3537_Japan_Ibaraki_2015

Pemandangan Kairaku-en dinikmati dari dalam Kobuntei. Foto: Kristupa Saragih

Selain pohon plum, Kairaku-en juga terkenal karena hutan kecil bambu dan cemara. Ada rumah tradisional Jepang bernama Kobuntei yang dipakai untuk keperluan pendidikan dan kunjungan wisatawan.Dari lantai atas Kobuntei, pengunjung bisa memandang ke seantero Kairaku-en dan Danau Senba.

KSTT3548_Japan_Ibaraki_2015

Dedaunan di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang menguning di musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3551_Japan_Ibaraki_2015

Suasana senja di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Advertisements

Berkunjung ke #Ibaraki Prefectural Government Building, Jepang

KSTT3459_Japan_Ibaraki_2015

Lantai 25, lantai teratas di Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang dengan jendela pandang yang berdesain modern dan berlantai karpet. Foto: Kristupa Saragih

Setahu saya, di Tanah Air tak banyak kantor pemerintahan provinsi di gedung tinggi. Kebanyakan malah memanfaatkan gedung-gedung bersejarah peninggalan era kolonial.

Namun di Jepang, hampir semua kantor pemerintahan prefektur, setingkat provinsi, jadi satu di gedung yang sama. Hal yang sama berlaku untuk pemerintah kota. Bahkan legislatif berkantor di gedung yang sama dengan eksekutif. Berbeda dengan Indonesia, yang punya kantor-kantor pemerintahan terserak di mana-mana, sehingga boros waktu dan biaya untuk transportasi.

KSTT3476_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung memotret pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki, Jepang dari jendela pandang di lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki. Foto: Kristupa Saragih

Mirip seperti pemerintah Tokyo Metropolitan yang berkantor di gedung setinggi 243 meter dan berlantai 48, Ibaraki Prefectural Government Building alias 茨城県庁舎 Ibaraki-ken Shōsha, berkantor di gedung pencakar langit. Berlantai 25 setinggi 120 meter, Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menjulang di antara bangunan-bangunan lain di ibukota Mito, yang kebanyakan tak tinggi.

Dengan populasi 2,9 juta jiwa, Prefektur Ibaraki yang setingkat provinsi di Indonesia, kira-kira sepadan dengan Kota Surabaya, Jawa Timur yang berpopulasi 2,7 juta jiwa. Namun dari koordinasi di pemerintahan mencerminkan efisiensi sekaligus keseriusan pemerintah Ibaraki membangun dan mengelola daerahnya.

Berarsitektur modern, kantor ini selesai dibangun tahun. Bersih. Dinding berhias dekorasi khas zen. Tak ada spanduk-spanduk, yang simbolis dan sebenarnya tak perlu, melambai-lambai tak artistik, seperti kantor-kantor di Tanah Air.

IMG_5320_Japan_Ibaraki_2015

Interior lobi gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Resepsionis ramah dan melayani dengan profesional. Tak ada pegawai ngobrol-ngobrol atau duduk-duduk di interior gedung. Setiap staf yang dijumpai membungkuk memberi hormat khas Jepang, yang keberadabannya perlu jadi benchmark Negeri Pancasila.

Sebelum rapat dengan pemerintah Prefektur Ibaraki dan sejumlah praktisi pariwisata Ibaraki, saya terkagum-kagum dengan akses yang mudah hingga lantai 25 tanpa mengabaikan peran petugas keamanan.

Di lantai teratas gedung pemerintah milik rakyat Ibaraki ini, ada galeri pandang berjendela kaca sepanjang gedung, setinggi langit-langit. Gratis, bersih, modern dan informatif.

KSTT3475_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menikmati pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung. Foto: Kristupa Saragih

Dari lantai ini terlihat sejauh mata memandang hamparan kota Mito dan prefektur Ibaraki.

Di lantai ini pun ada kantin kecil, yang penataan kursinya efisien dan mengindahkan estetika sehingga semua meja bisa menikmati pemandangan dari jendela kaca. Meski sedang ramai pengunjung yang mengobrol, kantin ini relatif senyap dan tak mengganggu pengunjung yang sedang menikmati pemandangan dari jendela.

KSTT3468_Japan_Ibaraki_2015-2

Kantin kecil di salah satu sudut lantai 25, lantai teratas gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

IMG_5365-1_Japan_Ibaraki_2015

Eksterior salah satu sudut gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3472_Japan_Ibaraki_2015

Panorama ibukota Mito dan Prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Pasar Ikan dan Lelang Bunga di Pasar Grosir Mito #Ibaraki

KSTT3328_Japan_Ibaraki_2015

Sepasang kakek-nenek berbelanja di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Bicara tentang pasar ikan, ada pasar ikan di Jepang yang terkenal dengan lelang di dini hari, Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo. Namun, siapapun yang pernah berkunjung ke Tsukiji, pasti pernah menikmati antrian panjang dan kunjungan singkat. Bahkan sempat ada cerita, tak bisa berkunjung pagi itu jika pengunjung sudah terlalu banyak.

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Mirip dengan Tsukiji, lelang ikan di Pasar Grosir Kota Mito di Prefektur Ibaraki, Jepang menjanjikan aktivitas serupa namun tanpa antre. Belum banyak orang tahu tentang pasar ikan di Mito, yang jam kegiatannya sama dengan Tsukiji. Padahal jarak kota Mito dari Tokyo hanya sekitar satu setengah jam perjalanan bermobil. Konon pula, Pasar Grosir Kota Mito ini merupakan salah satu pasar grosir terbesar dan kondang di Negeri Matahari Terbit.

Tak hanya menyimak lelang ikan, pengelola Pasar Grosir Kota Mito juga membawa pengunjung ke penyimpanan ikan. Siap-siaplah merasakan udara bersuhu minus 20 derajat Celcius ketika masuk ke gudang penyimpanan ikan. Super dingin dan kering, demi menjaga kesegaran produk-produk bahari agar tetap nikmat ketika dikonsumsi.

KSTT3302_Japan_Ibaraki_2015

Persiapan distribusi buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito juga mewadahi kegiatan perdagangan sayur mayur dan buah-buahan. Konon, orang menyebut Mito, ibukota Prefektur Ibaraki, sebagai daerah produksi utama sayur mayur dan buah-buahan penduduk metropolitan Tokyo.

KSTT3340_Japan_Ibaraki_2015

Sayur mayur dan buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Setiap hari ribuan ton sayur mayur, buah-buahan dan produk-produk turunannya berseliweran di pasar ini. Baik produk pertanian Prefektur Ibaraki maupun dari daerah-daerah lain di seantero Jepang.

Pasar yang dibuka tahun 1972 ini memiliki volume perdagangan 96,7 milyar Yen per tahun, atau sekitar Rp 10 triliun. Ada lebih dari 50 perusahaan dagang yang beraktivitas di sini, yang digerakkan lebih dari 1.000 pekerja.

Demikian pentingnya posisi Pasar Grosir Kota Mito sebagai gerbang masuk ke Tokyo. Bahkan buah-buahan impor pun banyak terdistribusi melalui pasar ini. Dari pasar ini, komoditas perdagangan bergerak ke supermarket-supermarket dan perusahaan pengolah makanan.

Terlihat tumpukan kardus-kardus berisi pisang dari Filipina di salah satu sisi. Sementara di sisi lain ada tumpukan karton-karton berisi buah naga besar-besar dan segar dari Vietnam. Impor dalam bentuk buah utuh, tiba di Mito lantas dikemas rapi dengan bungkusan plastik berlabel dan kotak karton.

KSTT3325_Japan_Ibaraki_2015

Buah-buahan dari seantero Jepang dan impor dari luar Jepang didistribusikan dari Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Hal menarik lainnya, Pasar Grosir Kota Mito ternyata juga menyediakan tempat lelang bunga dan pohon. Seumur-umur lihat ada lelang bunga dan pohon baru di Mito ini.

Bukannya ecek-ecek, lelang bunga berlangsung seperti lelang ikan di Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo, Jepang dan Pasar Ikan Sydney di Australia. Ada deretan bangku pembeli, dengan susunan ala teater. Tanaman yang dijual diatur di ban berjalan. Display harga dan pembeli memakai tampilan sejumlah layar monitor komputer. Rapi jali.

KSTT3435_Japan_Ibaraki_2015

Suguhan buah-buahan segar potong dan berbagai produk Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang suguhan dari pengelola pasar. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito alias Mito City Public Wholesale Market terbuka untuk umum. Namun pengunjung agar menghubungi terlebih dahulu pengelola pasar beberapa hari di muka. Selain menjamin Anda dapat pemandu, ada baiknya pengunjung terhindar dari hal-hal yang mengganggu aktvitas pasar.

Jika beruntung, di akhir kunjungan, Anda bisa disuguhi buah-buahan segar dan sayur-mayur yang sudah dimasak. Mulai dari jeruk segar tanpa biji, ubi rebus manis berukuran besar hingga sup labu yang hangat.

KSTT3299_Japan_Ibaraki_2015

Produk buah segar yang dijual di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3308_Japan_Ibaraki_2015

Sebelum dikemas, buah-buahan segar dibersihkan dan disusun dalam kotak-kota karton, lantas siap didistribusikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3322_Japan_Ibaraki_2015

Berbagai produk buah-buahan dan sayur mayur siap didistribusikan dari Pasar Grosir Kota MIto, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3334_Japan_Ibaraki_2015

Produk sayur mayur dan buah-buahan Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang sedang dipilih-pilih oleh pembeli. Foto: Kristupa Saragih

 

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3351_Japan_Ibaraki_2015

Pasar ikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Meski ramai dan banyak dagangan, namun pasar ini bersih dan tak berbau. Sulit menemukan sampah barang secuil. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Situasi lelang bunga di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3397_Japan_Ibaraki_2015

Lelang bunga didukung teknologi canggih, harga dan pembeli terpampang di layar monitor komputer, di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Deretan bunga-bunga di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3416_Japan_Ibaraki_2015

Situasi di belakang lelang bunga, ribuan tangkai bunga mengantre giliran di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3407_Japan_Ibaraki_2015

Puspa ragam bunga dari seantero Jepang di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3422_Japan_Ibaraki_2015

Para perempuan pekerja di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Prajurit Keraton Yogyakarta di Grebeg Syawal 2014

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Memotret prajurit Keraton Yogyakarta sudah berkali-kali saya lakoni sejak awal 2000-an. Sejak masih jaman pakai film slide, digital SLR, hingga sekarang memakai kamera mirrorless. Ada banyak kesempatan memotret apel prajurit Keraton Yogyakarta, karena upacara adat grebeg digelar 3 kali dalam 1 tahun Masehi.

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih


Menikmati Senja Teluk Ambon di Atas KMP Siwalima 01

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih
KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu pekan di pertengahan bulan Mei 2012, cuaca di Ambon, ibukota Provinsi Maluku amat bersahabat. Fotografer.net (FN), komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara, menggelar FN Hunting Series 2012 di salah satu tempat indah Indonesia ini.

Dalam suasana persabatan, kawan-kawan anggota FN di Ambon berkumpul di Kedai Kopi Sibu-sibu, yang kondang di Ambon. Di tengah obrolan akrab, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Benny Gaspersz datang bergabung menikmati kopi sambil mengobrol santai dengan rombongan FN Hunting Series. Terbit tawaran untuk menghabiskan senja nan indah dengan memotret matahari terbenam dengan KMP Siwalima 01.

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Tanpa ragu, seluruh rombongan mengiyakan tawaran dan bersiap berangkat. Teluk Ambon yang indah jadi tujuan. Semua wajah berseri-seri menyiapkan kamera dan lensa serta baterai dan memori agar tak satu momen pun terlewat.

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Sebagai provinsi kepulauan, sudah selayaknya Maluku punya kapal untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata. Memotret matahari terbenam di Teluk Ambon dari daratan Pulau Ambon sudah biasa. Tapi merekam laut dan alam indah Ambon dari atas kapal jadi hal yang luar biasa.

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto di posting ini dibuat dengan Samsung Galaxy Note, semua tanpa penyuntingan.


Motret Panorama di Seputar Mahboonkrong มาบุญครอง

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Di sela-sela agenda Fotografer.net Series 2012 Bangkok meliput Songkran Water Festival, 13-16 April 2012, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri street photography di kota. Tempat yang paling gampang dijangkau dan aman adalah pusat perbelanjaan kondang Mahboonkrong.

Berikut adalah foto-foto panorama di seputar Mahboonkrong menggunakan Samsung Galaxy Note pada shooting mode panorama. Tidak ada penyuntingan foto.

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih


Beberapa Tips Fotografi dari Songkran Water Festival 2012, Bangkok, Thailand

Under Rapid Songkran Fire - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih
A Friend Indeed - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

A Friend Indeed – Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Tahun ini adalah kali kedua saya meliput Songkran Water Festival di Bangkok, Thailand. Berangkat bersama tim Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok, kami berkunjung ke Bangkok 13-16 April 2012. Tahun lalu, di Songkran 2011, pengalaman saya posting di “My Canon EOS 1D Mk III Survived in Songkran Water Festival 2011“.

Under Rapid Songkran Fire - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Under Rapid Songkran Fire – Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Berikut beberapa tips fotografi jika Anda hendak memotret Songkran Water Festival di Thailand, yang saya rangkum dari twit @kristupa ketika festival berlangsung di Bangkok:

  1. Memotret Songkran Water Festival kental nuansa dokumenter dan jurnalistik
  2. Songkran digelar di seluruh Thailand. Di Bangkok teramai di Khao San Road dan Silom Road
  3. Songkran di Bangkok biasanya ramai setelah tengah hari. Di Khao San ramai mulai jam 4 sore
  4. Songkran berupa water festival berbentuk “perang” siram-siraman air. Lindungi kamera dengan rain cover
  5. Di Songkran, suasana ramai berdesak-desakan. Pilih angle supaya dapat clear shot. Pertimbangkan lighting dan background
  6. Di Songkran tak mungkin setting subyek foto. Jika Anda aliran fotografer pictorial bisa frustasi
  7. Pakai lensa normal atau tele, karena sulit mendekat ke subyek dan situasi out of control
  8. Untuk lindungi kamera dari air tak disarankan pakai underwater housing. Berat bo’!
  9. Bisa pakai kamera jenis apa saja, tak harus DSLR. Yang penting Anda kuasai benar pengoperasiannya
  10. Songkran adalah festival tahun baru Thai. Rekam suasana ceria dan optimis. Air sebagai simbol yang ada artinya
  11. Songkran adalah festival siram-siraman air, maka dress accordingly. Tapi jangan pakai wet suit!
  12. Disiram air, dilarang marah. Blend in dan jadilah bagian dari pertempuran siram-siraman air
  13. Cukup bawa 1 bodi kamera, lebih dari itu berarti Anda perbesar resiko loss karena kesemprot air
  14. Cukup pakai 1 lensa, karena sulit ganti-ganti lensa di situasi simpang-siur semprotan air
  15. Cipratan air bisa direkam dengan speed tinggi untuk freezing, bisa juga dengan speed lambat
  16. Agar cipratan air terlihat signifikan, pilih background gelap dan kondisi backlight atau sidelight
  17. Lautan manusia terus bergerak, gunakan AF mode AI-servo atau AF-C
  18. Amankan alat komunikasi dan uang tunai secukupnya dalam kantung plastik kedap air
  19. Meski medan tak luas, tetap butuh stamina prima. Lautan manusia berdesakan
  20. Di Silom Road Bangkok ada jembatan penyeberangan, bisa high angle, tapi tetap siap basah
  21. Di Silom ada semburan hidran pemadam kebakaran, jadi permudah pilih angle
  22. Waspada lensa terkena semprotan frontal, siapkan tisu atau lap di kantung kedap air
  23. Tiba di lokasi segera orientasi medan, tentukan meeting point dan jam bertemu dengan teman-teman serombongan
  24. Selain semprotan air, siap-siap terima olesan larutan tepung di muka. Dilarang marah
  25. Siapkan pakaian ganti, naik mobil/bis/MRT ber-AC dengan pakaian basah kurang sehat
  26. Siapkan memory card cukup, kalaupun harus ganti memory card cari tempat aman dari semprotan air
  27. Available light is the best, flash tambahan ribet dan resiko kena semprot
  28. Berbaur dengan massa itu harus tapi jangan hanyut, tetap konsentrasi dengan subyek foto dan pesan
Suasana Songkran Water Festival di Silom Road, Bangkok, 15 April 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana Songkran Water Festival di Silom Road, Bangkok, 15 April 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok basah kuyup usai memotret Songkran Water Festival di Khao San Road, 14 April 2012. Dari kiri: Armand Megawe, Yulianus Ladung, Kristupa Saragih, Zulkifli Kibor. Foto oleh Farano Gunawan

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok basah kuyup usai memotret Songkran Water Festival di Khao San Road, 14 April 2012. Dari kiri: Armand Megawe, Yulianus Ladung, Kristupa Saragih, Zulkifli Kibor. Foto oleh Farano Gunawan

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok usai memotret Songkran Water Festival di Silom Road, 15 April 2012. Dari kiri: Kristupa Saragih, Yulianus Ladung, Farano Gunawan, Zulkifli Kibor. Foto oleh Armand Megawe

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok usai memotret Songkran Water Festival di Silom Road, 15 April 2012. Dari kiri: Kristupa Saragih, Yulianus Ladung, Farano Gunawan, Zulkifli Kibor. Foto oleh Armand Megawe

Kamera Canon EOS-1D Mark IV basah kuyup air campur larutan tepung di Songkran Water Festival 2012 namun lancar dan berfungsi normal. Foto oleh Kristupa Saragih

Kamera Canon EOS-1D Mark IV basah kuyup air campur larutan tepung di Songkran Water Festival 2012 namun lancar dan berfungsi normal. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar tenang ketika berdesakan, bodi kamera diamankan dengan camera strap Pacsafe yang anti-jambret. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar tenang ketika berdesakan, bodi kamera diamankan dengan camera strap Pacsafe yang anti-jambret. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar aman dari semprotan air, barang bawaan dan asesoris fotografi disimpan di dalam pouch dengan built-in cover buatan ThinkTank Photo. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar aman dari semprotan air, barang bawaan dan asesoris fotografi disimpan di dalam pouch dengan built-in cover buatan ThinkTank Photo


The Jeepneys of Angeles City, Philippines

All photos are made by Nokia Lumia 800 and edited by Pictomaphone app for Windows Mobile. This blog post is made by WordPress app for Windows Mobile. Date taken: Feb 10-11, 2012.

All comments are welcome.

The Backdoor - Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Posted from WordPress for Windows Phone


Sihir Balon Udara The 17th Philippines Hot-Air Baloon Fiesta 2012

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800
The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Menonton balon udara menyenangkan, menerbangkannya lebih menantang. Ketika Filipina menggelar Festival Internasional ke-17 Balon Udara Filipina pada 9-12 Februari 2012, ribuan orang tiap hari menyemut mengunjungi lokasi festival di Pangkalan Udara Clark.

Pada hari pertama, festival tak terlampau ramai. Tapi pada hari kedua, sekitar 2 ribu pengunjung sudah di lokasi sejak subuh. Balon-balon sudah siap sejak jam 5.30 pagi dan mengudara mulai sekitar pukul 6 waktu setempat. Tahun ini tercatat 28 balon dari berbagai belahan dunia hadir di Clark.

Weekend with Everything That Flies“, akhir pekan dengan segala sesuatu yang terbang, demikian tema festival tahun ini. Jadi, selain balon udara ada pula atraksi sky diving, paramotor, paralayang, ultra-glide dan akrobat udara. Bahkan layang-layang pun ikut dipertunjukkan, dalam berbagai warna dan bentuk atraktif.

Hari ketiga sudah memasuki akhir pekan. Diperkirakan lebih dari 20 ribu pengunjung memadati lokasi. Bahkan ada yang menginap di rerumputan Pangkalan Udara Clark, dengan membawa tenda-tenda kecil. Luar biasa ramai dan meriah.

Skydivers in Clark Air Base with Philippine national flag and Philippine national anthem Lupang Hinirang at The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Skydivers in Clark Air Base with Philippine national flag and Philippine national anthem Lupang Hinirang at The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Pada pukul 5.30 pagi di hari Sabtu itu, jalan menuju Clark sudah padat merayap dalam radius 2 km. Padahal jalan lurus dan lebar menuju Clark masing-masing 2 jalur di tiap arah. Parkir sudah disiapkan untuk 5 ribu kendaraan roda empat, dengan arus sirkulasi yang rapi.

Pangkalan Udara Clark sudah menjadi lautan manusia, meski hari masih gelap dan matahari baru saja tersembul di ufuk. Pria wanita, tua muda, dan anak-anak maupun remaja berdesak-desakan. Tiket masuk dipatok pada harga PHP 200 sehari, atau sekitar Rp 40 ribu pada kurs PHP 1 = Rp 200.

Suara helikopter memecah pagi, ketika ribuan kepala menengadah ke langit muncullah sekelompok sky diver mengibarkan bendera Filipina di udara. Lantas di pengeras suara terdengar pembawa acara mengumumkan, “Bapak-bapak dan Ibu-ibu, lagu kebangsaan Filipina…”. Lalu berkumandanglah Lupang Hinirang, lagu kebangsaan negara 7 ribu pulau ini, mengiringi kibaran bendera Filipina di udara.

Fire it up. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Fire it up. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Pemantik-pemantik api dinyalakan, balon-balon mulai menggelembung. Tak berapa lama kemudian satu per satu balon mengudara membawa keranjang-keranjang yang berisi pilot dan penumpangnya.

Tak hanya berbentuk bundar dalam balutan warna-warni penarik perhatian, ada juga balon berbentuk kue ulang tahun, karakter game Sonic, ice cream cup dan karakter mirip kungfu panda.

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Hari keempat, hari terakhir festival dimulai dengan pengunjung yang sudah memarkir kendaraan roda empat hingga pinggir kota Angeles. Padahal jarak dari Pangkalan Udara Clark ke Angeles lebih dari 5km.

Subuh hari keempat, jalan tol sudah padat merayap. Ketika jarum jam menyentuh angka 8, jalan tol dan jalan biasa sudah macet total tak bergerak. Antisipasi penyelenggara untuk 50 ribu penonton sepertinya masih kurang.

Semua tersihir balon udara.

Airborne with Mount Arayat in the background. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Airborne with Mount Arayat in the background. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800


Foto-foto di posting ini seluruhnya dibuat dengan Nokia Lumia 800 tanpa editing. Resize oleh WordPress.


Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang

Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih
Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih

Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih

Memotret upacara Cap Go Meh banyak dinanti fotografer. Di Indonesia, Singkawang, Kalimantan Barat jadi tempat tujuan paling ramai karena acara-acara yang atraktif. Tapi, upacara Cap Go Meh di Palembang, Sumatra Selatan ternyata menarik juga.

Dari tahun ke tahun, upacara Cap Go Meh di ibukota Provinsi Sumatra Selatan dipusatkan di kelenteng Hok Tjhing Rio, Pulau Kemaro. Dari pusat kota Palembang, Pulau Kemaro bisa dicapai tak sampai setengah jam. Pada hari biasa, pengunjung harus menyeberang dengan perahu untuk mencapai Pulau Kemaro.

Pada Cap Go Meh 2012, panitia sudah mengantisipasi 70 ribu pengunjung yang diperkirakan hadir di Pulau Kemaro. Dipusatkan pada tanggal 4-5 Februari 2012, ada 7 barge alias kapal tongkang yang dijajarkan membentuk jembatan menuju Pulau Kemaro. Pengunjung datang dari banyak tempat di Indonesia, seperti pantai timur Sumatra dan Jakarta. Bahkan ada beberapa bis yang mengangkut pengunjung dari Malaysia.

Umat bersembahyang dalam upacara Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Umat bersembahyang dalam upacara Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pulau Kemaro lekat dengan legenda Siti Fatimah dan Tan Bun An. Secara historis, banyak cerita yang melekatkan penduduk setempat dan penduduk Tionghoa. Di hari biasa, kelenteng Hok Tjhing Rio dan pagoda 7 lantai di sebelahnya sudah jadi salah satu tempat tujuan wisata penting setelah Jembatan Ampera.

Pada Cap Go Meh 2012, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin hadir pada puncak acara, tengah malam 4 Februari dan dinihari 5 Februari. Asap hio pekat membumbung tanpa henti. Mata perih dan napas sesak jika berlama-lama berada di sekitar tempat sembahyang umat.

Penjual kacang rebus dan kembang api Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjual kacang rebus dan kembang api Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Antrian kendaraan membuat macet jalan sejak kompleks Pusri. Tak hanya umat yang hendak sembahyang yang datang ke Pulau Kemaro, tapi banyak wisatawan juga datang hendak merasakan kemeriahan Cap Go Meh. Untunglah panitia menyiapkan lahan parkir yang terorganisir rapi dan aman, penerangan cukup dan petugas parkir dalam jumlah memadai.

Kembang api silih berganti mewarnai langit, seiring bunyi yang meledak-ledak. Di Pulau Kemaro, kembang-kembang api menghiasi langit di sekitar pagoda. Bahkan penumpang kapal-kapal yang hendak merapat dan baru angkat sauh pun ikut memeriahkan malam dengan kembang api yang mengudara dari atas dek.

Saya menggunakan kamera Canon EOS-1D Mark IV dan lensa lebar Canon ED 17-40mm f/4L untuk memotret di Pulau Kemaro malam itu. Karena gelap, saya harus mengandalkan ISO 800 dan ISO 1600. Shooting mode dipaku pada modus aperture priority Av dan bukaan diset pada f/4.

Memotret dengan lensa tele jadi sulit karena puluhan ribu pengunjung yang berdesakan. Selain itu, seringkali lensa tele menarik perhatian dan mengganggu konsentrasi umat yang sembahyang. Lagipula, memotret pagoda dan kembang api di sekitarnya lebih mudah dengan lensa lebar.