Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Traveling Photography

Gocefa, Ritual yang Hilang dari Pesisir Sulawesi Utara

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih
Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Sedikit sekali informasi yang bisa dihimpun perihal gocefa. Ritual penting masyarakat pesisir Sulawesi Utara ini konon lahir 2.000 tahun yang lalu di kalangan masyarakat adat Bantik. Ketika Manado Ocean Festival (MOF) 2011 menghadirkan ritual ini pada 27 Mei 2011 lalu di Pantai Malalayang Manado, banyak orang yang baru pertama kali menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah.

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

…torang batrima kaseh atas firman yang Dia so kase pa torang. Juga atas torang pe orang tua, torang pe tete deng nene moyang yang so kase lahir pa torang samua. Deng atas pante dan lao yang Tuhan so bekeng vor torang yang so jadi torang pe pohong hidop.”

Gocefa diyakini sebagai ritual adat memanjatkan doa bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir yang bergantung pada laut. Tinggal di tepi laut, hidup dari laut, dan menyandarkan diri pada laut. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Bantik, yang hampir punah. Bahasa Bantik diyakini seumur dengan bahasa Kawi, alias Jawa Kuna di Pulau Jawa, yang telah punah.

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Hidop ini anugera Tuhan. Torang sambut itu deng bajanji hidop sebaik-baiknya. Torang bajanji mo paka ni pante deng lao vor torang pe hidop. Torang bajanji mo piara deng jaga ni pante deng lao pe bagus ini.”

Iring-iringan rombongan pelaksana ritual gocefa dibuka dengan penari-penari cakalele. Berpakaian merah-merah, para penari ini bersenjatakan parang. Lantas diikuti dengan orang-orang tua berpakaian putih-putih, berikat kepala merah. Baru para pemimpin upacara ritual yang adalah para pemuka agama.

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Su suwu-suwu dunia, mawu pukakelungangu. Maning alang diminuhe, mawu pukakelungangu. Ya Yesus bukide pubawukidang sudunia, sudunia. Ore tamalaombo suwu-suwu, tamalenggeng dimpuluse.

Ada 6 pemimpin upacara yang hadir, dua orang di antaranya adalah pendeta. Tak ada sumber resmi yang bisa menjelaskan, tapi konon ritual gocefa ini lahir sebelum agama Kristen masuk ke tanah Sulawesi Utara. Ketika agama Kristen masuk, lantas terjadi akulturasi budaya, meski kepastian kabar ini perlu dikonfirmasi kepada para pemuka adat yang berwenang.

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Sudara-sudara, marijo torang taru sebagian dari torang pe persembahan yang so takumpul tadi ka atas gocefa, pasang dia pe obor, lapas ni gocefa ka lao kong trus torang manyanyi…

Persembahan dikumpulkan, seiring khalayak memanjatkan doa dan menyanyikan lagu-lagu. Ketika matahari mencium cakrawala, obor-obor dinyalakan. Lampu-lampu di sekitar tempat upacara dipadamkan. Doa-doa tetap dipanjatkan bersama lagu-lagu persembahan.

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Sakaeng sutaghaloang, mesesenggo mapia. Nangkodane kai i tuang, apisu takahia. Maning selihe maiha, balade geguwa. I kau tawe mekapu, nangkodanu mawu.

Rakit bambu kecil, yang disebut gocefa, dimuati semua persembahan. Lantas dilepas, sembari ditarik perahu motor kecil ke tengah laut. Nyala obor menari-nari ditiup angin laut. Seiring dengan matahari yang bersembunyi di peraduan, gocefa ditelan kegelapan Laut Sulawesi.

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih

Advertisements

Bambu Gila, Atraksi Budaya Maluku

Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih
Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Tifa ditabuh bertalu-talu. Alunan irama monotonik mengiringi wangi kemenyan yg menyeruak. Sebatang bambu dibekap 7 laki-laki bertelanjang dada, berikat kepala merah dan bercelana selutut merah.

Bambu sepanjang sekitar 2,5 meter itu berdiameter sekitar 8 cm. Seorang pawang berbaju hitam dan celana pendek merah, meniupkan asap kemenyan yang dibakar di batok kelapa. Alunan tifa dengan ketukan teratur tetap mengiringi.

Sejurus kemudian ketujuh laki-laki mulai bergerak menyesuaikan diri dengan gerakan bambu. Konon roh-roh leluhur masuk ke dalam bambu. Sejurus kemudian, bambu dan ketujuh laki-laki itu bergerak liar ke sana kemari. Gila.

Tatkala gerakan mulai tak terkendali, pawang satu lagi yang berbaju merah datang mendekat. Di tangannya juga tergenggam batok kelapa tempat membakar kemenyan. Asapnya ditiupkan ke bambu. Alunan irama tifa tetap teratur teralun.

Atraksi bambu gila, asap kemenyan ditiupkan memanggil roh-roh leluhur di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila, asap kemenyan ditiupkan memanggil roh-roh leluhur di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Panitia Ambonesia Photo Competition (APC) 2011 menghadirkan atraksi khas warisan leluhur masyarakat Maluku ini untuk difoto para peserta. Angin laut berhembus lembut di Pantai Hunimua, yang juga terkenal dengan sebutan Pantai Liang. Di sela-sela irama monotonik tifa, para fotografer sesekali berhamburan lantaran bambu gila yang menyeruduk tak terkendali.

Konon atraksi bambu gila bukan sekedar pertunjukan mistis belaka. Masyarakat setempat yakin atraksi ini diwariskan untuk melambangkan kegotongroyongan rakyat. Budaya luhur warisan nenek moyang untuk kesejahteraan hidup generasi penerus.

Atraksi bambu gila, jika bambu mulai tak terkendali maka pawang bertindak, Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila, jika bambu mulai tak terkendali maka pawang bertindak, Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih


Kedamaian dalam Patriotisme Hari Pattimura 2011 Ambon

Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih
Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Siapa tak kenal Pattimura, pahlawan nasional dari Maluku? Terlahir bernama Thomas Matulessy di Pulau Saparua, 8 Juni 1783, lantas digelari Kapitan Pattimura karena keberaniannya memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan kolonialisme Belanda. Pertempuran bersejarah merebut Benteng Duurstede di Saparua pada 14 Mei 1817 membuat Hari Pattimura selalu diperingati tiap 15 Mei dini hari.

Dini hari 15 Mei 2011 ratusan orang memadati Pattimura Park di pusat kota Ambon. Sehari sebelumnya, pukul 3 sore obor Pattimura disulut di Gunung Saniri, Pulau Saparua. Obor lantas diarak secara estafet oleh kelompok pemuda desa di tiap desa menuju pelabuhan, lantas diseberangkan kapal TNI AL. Merapat di Tulehu, Pulau Ambon, obor kembali diarak secara estafet oleh kelompok-kelompok pemuda tiap desa yang dilalui rute menuju Pattimura Park.

Penari Cakalele lengkap dengan perang dan salawaku pada peringatan Hari Pattimura di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari Cakalele lengkap dengan perang dan salawaku pada peringatan Hari Pattimura di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Hampir tiap pemuda yang mengarak obor juga membawa obor masing-masing. Tari Cakalele, tarian perang, berada di depan, membuka jalan bagi arak-arakan obor Pattimura. Semua berpakaian merah, melambangkan keberanian. Para penari Cakalele, juga berpakaian merah, mengacung-acungkan parang dan salawaku.

Pada 194 tahun lalu, tempat para pemuda berkumpul, di lapangan upacara Hari Pattimura di Pattimura Park, Thomas Matulessy digantung oleh Belanda. Upacara dihadiri 17 walikota se-Indonesia Timur, para prajurit dan perwira TNI AD, TNI AL dan TNI AU serta Polri. Saya pun berada di upacara itu bersama 41 peserta dan juri Dell Ambonesia Photo Competition 2011 untuk mengabadikan prosesi obor Pattimura sebagai acara penting di Maluku.

Semangat para pemuda yang berapi-api seirama dengan kobaran api obor. Doa upacara dipanjatkan secara 2 agama: Islam dan Kristen. Patriotisme Pattimura dibalut dalam kedamaian, yang kontras dengan konflik horisontal di Ambon dan sebagian Maluku selama 1999-2006.

Sebanyak 240 pemuda dari 8 desa mengarak secara estafet obor Pattimura dari Saparua hingga Pattimura Park di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Sebanyak 240 pemuda dari 8 desa mengarak secara estafet obor Pattimura dari Saparua hingga Pattimura Park di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Hujan mengguyur Ambon sejak sehari sebelum upacara, dan berhenti seketika beberapa saat sebelum arak-arakan obor Pattimura masuk Pattimura Park. Seorang kawan asli Ambon berujar, “Setiap tahun selalu begini. Hujan terus menerus sebelum upacara, tapi berhenti waktu obor masuk tempat upacara.”

Pada November 1817, Thomas Matulessy dan pengikut-pengikutnya ditangkap tentara Belanda. Pemimpin perjuangan rakyat Maluku mengakhiri hidupnya digantung pemerintah kolonial Belanda di lapangan di belakang Benteng Victoria, yang sekarang menjadi Pattimura Park. Jenazahnya dipamerkan dalam kurungan besi di tempat publik.

Keberanian Kapitan Pattimura tak surut saat menuju tiang gantungan. Pesan terakhir Thomas Matulessy sebelum tali gantungan menutup usianya, “Beta akan mati. Tetapi nanti akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan beta punya perjuangan…”

Heroisme upacara Hari Pattimura 2011 berlangsung damai di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Heroisme upacara Hari Pattimura 2011 berlangsung damai di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih


Menikmati Pantai Hukurila, Ambon, Maluku

Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih
Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih

Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih

Hukurila, di Ambon, Maluku selama ini dikenal keindahan bawah airnya. Masukkan kata kunci Hukurila di mesin pencari dunia maya maka halaman pertama hasil pencarian akan penuh oleh keterangan bawah air Hukurila. Tapi daratan Hukurila ternyata menyimpan banyak hal yang bisa dinikmati.

Pantai Hukurila berada di sisi selatan Pulau Ambon yang menghadap ke timur. Secara administratif, Pantai Hukurila berada di Kecamatan Leitimur Selatan, yang masih termasuk Kota Ambon. Pantai ini menghadap langsung ke Laut Banda. Kesan pertama ketika tiba di pantai ini, penduduk ramah dan pemandangan indah.

Karena menghadap ke timur, secara fotografis pantai ini cocok untuk menanti matahari terbit. Ketika berkunjung ke Pantai Hukurila pada hari Minggu (8/4), saat petang setelah jam 14 pantai ini sudah mulai diselimuti bayangan. Terhampar pantai berdasar batugamping warna putih yang disaput pasir hitam.

Sepertinya ada gunung api tua yang sudah mati, tapi masih menyisakan endapan material vulkanik dalam bentuk pasir hitam. Air tawar mengalir segar di sungai kecil yang bening dan dangkal. Anak-anak setempat berlarian sembari berteriak-teriak girang menyambut ombak yang berdebur-debur.

Pantai Hukurila tak seperti Pantai Liang yang padat pengunjung di akhir pekan. Pantai ini pun tak seterkenal Pantai Natsepa dengan rujaknya itu. Pantai Hukurila hanya berhiaskan nyiur melambai dan beberapa rumah penduduk yang bersuasana hening. Tak ada pedagang, tak ada pula pondok-pondok tempat berteduh. Bahkan Pantai Lawena yang belakangan mulai ramai saja punya beberapa pondok sekedarnya untuk para pengunjung.

Di kedalaman lebih dari 20 meter di bawah permukaan laut, ada Hukurila Cave yang jadi tempat favorit para penyelam yang berkunjung ke Ambon. Di atas permukaan air, Pantai Hukurila punya pemandangan yang layak difavoritkan pula. Tapi biarlah keheningan di bawah maupun di atas permukaan air Pantai Hukurila tetap terjaga.

Kelak jika Pantai Hukurila semakin terkenal, kiranya penduduk dan otoritas setempat tetap menjaga keaslian suasana dan keheningan nan alami.


Rayuan Pantai Lawena, Ambon, Maluku

Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih
Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih

Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih

Pulau Ambon, Maluku menyimpan banyak pantai indah. Sekitar setengah jam perjalanan arah timur pusat kota Ambon, terhampar Pantai Lawena. Dahulu pernah populer, tapi konflik horisontal tahun 1999 membuat pantai ini tak dikunjungi.

Berada di sisi selatan Teluk Baguala, Pantai Lawena berseberangan dengan Pantai Natsepa yang kondang dengan rujaknya itu. Lantaran lama sepi akibat konflik 1999, Pantai Lawena hampir tak dikenal di kalangan remaja dan kalah kondang dibanding Pantai Liang di Hunimua. Konon Pantai Lawena baru dibuka satu dua tahun belakangan, dan tak banyak yang tahu.

Ketika mengunjungi Pantai Lawena hari Minggu (8/4) lalu, tak sampai lima puluh pengunjung bersantai di pantai indah nan luas ini. Hal yang kontras kalau dibandingkan dengan keramaian di Pantai Liang dan kepadatan pengunjung Pantai Natsepa. Konon pula, Pantai Lawena berada di tanah milik pribadi, bukan pemerintah setempat.

Maklum saja jika jalan akses ke Pantai Lawena masih seadanya. Infrastruktur pun masih belum layak terima pengunjung. Baru ada beberapa pondok tempat berteduh, tanpa sarana peturasan yang memadai dan fasilitas keamanan bagi pengunjung yang berenang.

Secara fotografis, Pantai Lawena menghadap ke timur sehingga cocok untuk menangkap matahari terbit. Tapi, ketika berkunjung ke sana saat sore pun pesona pantai ini masih memancar. Setelah jam 4 sore, matahari sudah sembunyi di balik bukit kecil sehingga sebagian besar pantai sudah berada di daerah “shadow”.

Jika kelak Pantai Lawena siap menerima pengunjung, itu berarti ada tambahan tempat tujuan wisata pantai di Pulau Ambon. Akan bijaksana jika eksploitasi tempat ini untuk pariwisata tetap mempertahankan kelestarian alam dan bermanfaat positif bagi kehidupan sosial penduduk setempat.


Suatu Pagi di Pasar Pabean Surabaya

Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya. Foto oleh: Kristupa Saragih
Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Kota metropolitan Surabaya masih menyimpan harta karun berupa pasar tradisional. Di tengah himpitan kehidupan modern dan kepungan hutan beton pusat perbelanjaan mewah, masih ada Pasar Pabean di daerah kota lama Surabaya. Pasar besar yang masih berdenyut dengan keramaian khas pasar tradisional Indonesia.

Ada banyak pedagang, mulai dari sayur mayur hingga ikan dan daging-dagingan. Mulai dari rempah-rempah hingga buah-buahan. Tersedia pula perkakas rumah tangga dan berbagai jenis pakaian.

Tak ada data resmi perihal tahun resmi pendirian Pasar Pabean. Tapi ada foto tua Pasar Pabean bertarikh 1899. Selangkah dari sana, ada Stasiun Surabaya Kota, yang dikenal dengan nama Stasiun Semut, yang berdiri tahun 1878. Jadi, kira-kira Pasar Pabean sudah berdiri sejak akhir abad 19.

Secara fotografis, Pasar Pabean menyimpan banyak subyek human interest. Aman untuk mondar-mandir membawa kamera, dan para pedagang pun ramah sepanjang fotografer pandai membawa diri. Terdengar kental bahasa Madura di seluruh pasar, pertanda dominasi etnis ini sebagai pedagang pasar.

Berikut beberapa foto yang dibuat pada kunjungan ke Pasar Pabean, Minggu (24/04) bersama beberapa kawan penggemar fotografi di Surabaya.

Contented. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Contented. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Occupied. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Occupied. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Swinging. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Swinging. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Triangular. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Triangular. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Busy. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Busy. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Fellows. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Fellows. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Inside The Market. Suasana Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Inside The Market. Suasana Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih


My Canon EOS 1D Mk III Survived in Songkran Water Festival 2011

Incessant Songkran - Photo by Kristupa Saragih
Incessant Songkran - Photo by Kristupa Saragih

Incessant Songkran - Photo by Kristupa Saragih

Songkran สงกรานต์ is one of important festivals in Thailand. People celebrates Thai traditional New Year by throwing water to symbolize cleansing for good fortune. This annual festival is celebrated throughout this Buddhist country.

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #1

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #1

Photographically, Songkran is a must-shoot opportunity. This is the first year I shoot Songkran, together with a group of fellow Indonesian photographers. We went to Silom and Khao San in Bangkok to capture the “water battle”.

I realized that keep camera safe, it had to be covered properly against water. All fellows covered their gears with various brands of plastic rain cover for photography gears. Considering my Canon EOS 1D Mk III is weather-resistant and splash-proof, I did not put any cover.

The only cover in camera body is Camera Armor. It is not a protection for water, as actually Camera Armor is designed only to protect camera body from scratch and impact. Anyway, the lens I used Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM was not covered by anything.

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #2

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #2

I read in a photography magazine a story about photographer shooting similar festival in India using Canon EOS 1Ds Mk II. The camera was totally showered by colored water, and it was working normally. To clean it up after shooting, the photographer switched off the camera body, took off the lens and put the body cap on, then gave a flowing hot-water from a hose. The camera then got dried up properly, and worked again normally.

A couple years ago, I went to shoot traditional bull race in rice field in West Sumatra, Indonesia. A fellow Singaporean photographer somehow fell down into the mud of rice field. He got himself covered by mud all over his body, and so was the camera which was Canon EOS 1Ds Mk II.

He then went to a nearby house, got himself a hose and gave a flowing water to the camera body to clean it up from mud. After giving it a proper drying up, the camera then worked properly with no single malfunction. I noticed it myself and it convinced me to go to Songkran without any water protection to my EOS 1D Mk III.

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #3

Canon EOS 1D Mk III and Canon EF 70-200mm f/2.8L IS USM in Songkran #3

Me and my group hit the road of Silom in downtown Bangkok around 9 AM. Then, after lunch, we continued to shoot more extreme water battle of Songkran in Khao San Road. No one, I repeat: no one, came out dry from Khao San. It was around 4 PM in the afternoon when we decided to cease fire and struggled to come out from water-battleground.

My camera and lens was totally wet. Some part of the camera body and lens even got some powder, as powder is also part of the water-battle of Songkran. I took some proof pictures of my camera and lens using my mobile phone. My wallet, mobile phone and some other important stuff was kept in a splash-proof plastic bag.

As written in the specification, Canon EOS 1D/1Ds serie is designed to endure the weather, including water splash. No, it is not designed to be waterproof, if you tried to sink it into water. It is designed for professionals working in unfriendly shooting situation and extreme condition.

And I feel satisfied to prove myself that Canon EOS 1D Mk III works and functions normally until now.

Songkran 2011 in Khao San, Bangkok - photo by Kristupa Saragih | taken by BlackBerry 9780

Songkran 2011 in Khao San, Bangkok - photo by Kristupa Saragih | taken by BlackBerry 9780

After succeeded to get out from Songkran water-battleground in Khao San, Bangkok. From left: Armand, Yoyon, Dimar (sit), myself, Romi and Edy. All Indonesian photographers.

After succeeded to get out from Songkran water-battleground in Khao San, Bangkok. From left: Armand, Yoyon, Dimar (sit), myself, Romi and Edy. All Indonesian photographers.


Pesona Pantai Liang, Ambon, Maluku

Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih
Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu hari yang cerah, siang tak terasa panas. Sinar matahari menembus air laut nan bening hingga ke dasar yang dangkal. Pasir terlihat hangat dicium air laut berwarna hijau kebiruan. Demikian suatu hari yang sempurna di Pantai Liang, Ambon, Maluku.

Pantai yang berjarak sekitar 40 km dari kota Ambon, atau sekitar 30 menit bermobil ini, musti masuk daftar kunjung pelancong di Ambon. Konon badan PBB yang mengurusi pembangunan UNDP alias United Nations Development Programme, pada tahun 1990, melabeli Pantai Liang sebagai pantai terindah di Indonesia. Suatu label yang layak untuk pantai yang juga berjuluk Pantai Hunimua ini.

Berada di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, perjalanan ke Pantai Liang ditempuh setelah melewati Pantai Natsepa terlebih dahulu. Jika hendak menikmati keheningan, kunjungi Pantai Liang di hari biasa, bukan akhir pekan dan hari libur. Niscaya angin sepoi-sepoi menyapa lembut diiringi nyiur yang melambai-lambai, mengiringi langkah kaki di butir-butir halus pasir Pantai Liang.


Keindahan Pantai Natsepa, Ambon, Maluku

Generasi Bahari. Pemandangan Pantai Natsepa, Ambon, Maluku - Foto oleh Kristupa Saragih
Generasi Bahari. Pemandangan Pantai Natsepa, Ambon, Maluku - Foto oleh Kristupa Saragih

Generasi Bahari. Pemandangan Pantai Natsepa, Ambon, Maluku - Foto oleh Kristupa Saragih

Bersih dan tenang, berair jernih dan dangkal, demikian Pantai Natsepa terlihat indah. Tak jauh dari pusat kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku, dan bisa ditempuh sekitar 20 menit berkendaraan mobil.

Penjual rujak berderet sepanjang pantai. Rujak Natsepa memang terkenal, dan konon belum berkunjung ke Pantai Natsepa jika belum mencicipi rujaknya. Tak mahal, dan begitu dipesan langsung dibuatkan dari buah-buahan segar.

Tapi di hamparan pasir putih dan air laut jernih nan tenang, hanya mood baik yang terbawa. Sepanjang hari pantai berhiaskan perahu-perahu warna-warni bercadik. Anak-anak nelayan berlarian ke sana kemari.

Seterik apapun matahari bersinar di atas Pantai Natsepa, keteduhan masih terasa di pepohonan rindang sepanjang pantai. Di saat pagi, Natsepa bisa jadi lebih menarik lantaran Teluk Ambon menghadap timur. Semoga kealamian nan indah di Pantai Natsepa senantiasa terjaga.


Photographs That Travel Through Space and Time

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Places stay the same. People change but memories last forever. This is how so many places around the world come into existence. Fresh and natural landscapes evolve, marking the dynamics of life. Houses and buildings are constructed one after another, marking the twists and turns of human culture. Photographs records all events as they are; honestly and openly. Through a photo, time seems to stop and a moment is made eternal. Exploring photos frame by frame is like treading tracks of time.

A fellow photographer had been consistently taking photos of Tugu Yogyakarta. The photos are taken consistently each year on the same date at approximately the same time and at the same angle. The series of photographs of this monument then tell stories about everything that the landmark historic city of Yogyakarta ever experienced.

Through photography, humans can also be motivated to travel, to visit many places in various parts of the world. From big cities such as Kuala Lumpur, Shanghai and San Francisco to places such as the exotic, natural landscapes of Mount Bromo in East Java to Machu Piccu in Peru. Every places represents a culture and symbolises a level of human civilization within a certain time. Photography records it and presents a lot of things in various dimensions. A picture speaks a thousand words and a thousand words deliver countless interpretation.

So rich is the meaning captured by a photo. While in fact, it is technically only the combination of aperture and shutter speed that catches light in a blink, it is the angle of the camera and ideas in the mind of the photographer that make a picture worth interpreting as something.

The camera and the lens are like a third eye of a photographer; the third eye that completes the photographer’s heartstrings as a human being. As well as being a representative for the million of pairs of viewers’ eyes who could not observe a moment directly.


Foto yang Menjelajah Tempat dan Waktu

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Tempat tetap namun waktu berganti. Orang berubah tapi kenangan abadi. Demikianlah berbagai tempat di berbagai penjuru dunia terwujud.

Alam nan asli dan segar berevolusi pertanda dinamika kehidupan berlangsung. Rumah dan gedung berdiri silih berganti pertanda budaya manusia menggeliat. Fotografi merekam segala peristiwa secara jujur, apa adanya dan terbuka.

Melalui sebingkai foto, waktu seolah berhenti dan membuat suatu momen jadi abadi. Menjelajah foto bingkai demi bingkai bak menelusuri waktu.

Seorang rekan fotografer pernah secara konsisten memotret Tugu Yogyakarta. Foto dibuat setiap tahun secara konsisten pada tanggal yang sama, pada jam yang kurang lebih sama dan angle yang sama. Rangkaian foto-foto Tugu ini lantas bercerita tentang segala sesuatu yang pernah dilalui landmark bersejarah kota Yogyakarta itu.

Melalui fotografi, manusia bisa pula termotivasi untuk bepergian mengunjungi berbagai tempat di berbagai penjuru dunia. Mulai dari kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, Shanghai dan San Fransisco hingga tempat-tempat alami nan eksotis seperti Gunung Bromo di Jawa Timur hingga Machu Piccu di Peru.

Setiap tempat menjadi wakil suatu kebudayaan dan simbol suatu tingkat peradaban manusia dalam suatu waktu tertentu. Fotografi merekamnya lantas memaparkan banyak hal dalam berbagai dimensi. Satu foto berbicara seribu kata. Dan seribu kata melahirkan berjuta interpretasi.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Demikian kaya sebuah foto menyimpan makna. Padahal, secara teknis, hanya kombinasi besar diafragma dan kecepatan bilah-bilah rana mengejap saja yang menangkap cahaya. Namun sudut tembak lensa kamera dan ide di benak pemotret menjadikan sebuah foto sesuatu yang layak dimaknai.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.***


Ditulis sebagai Kata Pengantar untuk buku fotografi “Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You” karya D Agung Krisprimandoyo, 2011, Fotografer Net Global

Alih bahasa tulisan ini oleh: Andrew Charles