Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Thoughts

Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 7 – habis]

Makin hari makin banyak lomba foto tergelar. Mulai dari lomba berhadiah piagam hingga uang ratusan juta Rupiah. Mulai dari penyelenggara tingkat sekolah hingga perusahaan terkemuka.

Namun masih terdengar beberapa tanggapan sumbang mengenai sejumlah Iomba yang mengecewakan peserta.

1. Hadiah Dipublikasikan Detail

2. Nama Juri Lengkap dan Jelas

3. Publikasi Lomba di Media Terpercaya

4. Pelaksana Lomba Terpercaya

5. Menghormati Hak Cipta

6. Info Lengkap Penjurian dan Pengumuman Pemenang, serta Penyerahan Hadiah

Demikian nukilan pengalaman jadi peserta lomba foto sejak 1991 dan menjadi juri lomba foto sejak awal 2000-an. Hal-hal seperti ini belum pernah ada di buku-buku fotografi lantaran tak semua peserta lomba foto mau berbagi pengalaman, lantaran ogah tersaingi. Tak semua juri lomba foto juga bisa berbagi hal ini lantaran banyak juri tak berjati diri, alias dikarbit dan belum pernah jadi peserta, apalagi pemenang lomba foto.

Memang tak ada larangan untuk menghalangi Anda ikut lomba foto tak bonafide. Banyak juga “lomba foto” yang bersifat santai, rekreatif dan lucu-lucuan, yang tentu jadi terlalu serius jika bereferensi ke enam butir bonafiditas di atas.

Semoga setelah tulisan ini dipublikasikan, tiap protes atas ketidakberesan lomba foto sudah tercantum di sini. Kalaupun belum, maka makin kayalah tulisan ini akan referensi kasus, dan makin terlindungi pula kepentingan dan kebaikan fotografer Indonesia. Namun, jika sudah diingatkan namun nekat diikuti, berarti silakan Anda tanggung resiko sendiri.

Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220


Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 6 dari 7]

Terdengar tak penting, namun publikasi tanggal-tanggal ini membuktikan bonafiditas pelaksana lomba foto. Jangan sampai ikut lomba foto yang gagal penjurian lantaran peserta sedikit. Jangan juga ikut lomba foto yang tak jelas jadwalnya, karena berbagai alasan yang asal-muasalnya peremehtemehan fotografi oleh penggelar lomba foto. Jika pelaksana lomba tak respek pada fotografi, tentu hal yang sama berlaku pada Anda sebagai peserta lomba dan karya foto Anda.

Pengumuman pemenang hendaknya terbuka dan di media terpercaya. Pengumuman lomba secara sembunyi-sembunyi mengesankan keberadaan hal negatif atau kongkalikong hasil lomba. Cara penyerahan hadiah pun sejatinya tercantum detail di peraturan lomba. Hadiah uang tunai bisa ditransfer, piala dan piagam bisa dikirim, atau bisa pula diserahkan langsung. Namun tentu tak lucu jika hadiah uang dicicil dan hadiah barang dikirim bagian per bagian.


Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220


Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 5 dari 7]

Hak cipta pada hakikatnya melekat pada karya foto sama dengan hak asasi yang melekat pada tiap individu. Negara maju manapun memiliki undang-undang yang melindungi hak cipta, termasuk Indonesia. Namun, jangan naif kepada penyelenggara lomba foto yang mencari foto bagus melalui lomba foto. Pelaksana lomba wajib mencantumkan perlindungan atas hak cipta foto di klausul peraturan lomba. Hak pakai bisa berada di tangan penyelenggara lomba dengan imbalan hadiah yang sesuai. Pembelian terhadap hak cipta tentu lebih mahal daripada hak pakai.

Klausul lomba foto yang menyiratkan “semua foto yang diikutkan lomba menjadi milik panitia”, atau senada, pertanda penyelenggara lomba mau enaknya sendiri dan tak mengindahkan undang-undang. Klausul lomba harus tegas bahwa hanya foto pemenang saja yang bisa dipakai dengan durasi jelas dan jenis-jenis media placement yang detail.


 

Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220


Ciri Lomba Foto Bonadife [Bagian 4 dari 7]

Pelaksana lomba foto bertanggung jawab atas penanganan foto, sejak diterima hingga pemusnahan foto yang tak menang. Pelaksana juga bertanggung jawab menegakkan aturan lomba, serta menjamin kualitas penjurian agar adil. Pelaksana yang “entah siapa” beresiko menghilangkan foto, membuat foto tertukar, penjurian ceroboh atau salah umumkan pemenang. Pelaksana yang memang sehari-hari menggeluti fotografi paham operasional lomba karena menjaga integritas dan nama baik.

Bayangkan jika nama peserta lomba “bocor” ke mata juri saat penilaian, atau lemah menghadapi protes peserta lomba. Bayangkan pula kalau panitia lomba tak tegas menghadapi peserta yang telat kirim foto atau gagal menguasai juri yang terlibat debat sengit. Fatal apabila pelaksana lomba tak paham motivasi pembedaan penjurian terbuka dan tertutup.


 

Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220


Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 3 dari 7]

Tatkala belum ada Internet, saya geram melihat orang mencopoti poster lomba foto supaya sedikit orang tahu dan sedikit pula pesaingnya. Lantas, setelah ada Fotografer.net, saya buka keran informasi selebar-lebarnya agar sebanyak-banyaknya orang tahu dan ikut lomba. Penyelenggara lomba foto berdana besar bisa beriklan di media nasional namun tidak demikian halnya dengan lembaga sosial dan nirlaba. Internet membuat publikasi jadi mudah dan murah, jika Anda tepat memilih media.

Media sosial bisa jadi pilihan, namun terbatas pada “friend” dan follower Anda saja, atau paling jauh friend-of-friend. Karena itu, pilihlah media yang tepat sebagai wahana publikasi lomba foto. Publikasi penting untuk menjamin kualitas dan kuantitas foto yang dilombakan. Penting pula menggunakan media fotografi untuk memastikan bahwa peserta lomba memang khalayak fotografi. Saya pernah mendapati lomba foto yang dipublikasikan terbatas, hasil kongkalikong panitia dan peserta, atas dasar motivasi tak terpuji.

 


 

 

Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220


Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 2 dari 7]

Sejumlah publikasi lomba tak menampilkan nama juri, atau hanya menyebutkan instansi tanpa nama jelas. Lomba bonafide mempublikasikan nama juri secara lengkap dan jelas. Publik bisa menakar kaliber pelaksanaan lomba dan peserta bisa menyusun strategi meramu karya foto. Juri tak harus fotografer, tapi seyogyanya mencintai fotografi. Bayangkan jika juri lomba masak tak pernah bermandi asap dapur, atau juri lompat indah tapi takut ketinggian. Kealpaan menayangkan nama juri secara lengkap dan jelas berpotensi merendahkan kualitas penjurian dan mengurangi wibawa penyelenggara lomba dan pemenang.

 


 

 

Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220


Ciri Lomba Foto Bonafide [Bagian 1 dari 7]

Banyak publikasi lomba mencantumkan hadiah “total jutaan rupiah” atau senada, tanpa detail untuk tiap posisi juara. Lomba bonafide menampilkan detail hadiah untuk tiap posisi juara, mulai dari juara pertama hingga hadiah hiburan. Kealpaan menayangkan detail hadiah di publikasi mengesankan penyelenggara lomba tak yakin mengenai kelangsungan lomba dan ada potensi penggelapan hadiah.


Tulisan ini dimuat selengkapnya di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194618220


Exploring The Dynamics of Photography

Exploring The Dynamics of Photography, Exposure Magz ed December  2014

Exploring The Dynamics of Photography, Exposure Magz ed December 2014

Tulisan ini dibuat untuk Exposure Magz edisi bulan Desember 2014

Banyak orang yang merasa bisa namun tak bisa merasa. Kesuksesan fotografer dianggap hal mudah dan bisa diperoleh semua orang begitu saja. Memang semua orang bisa membeli kamera, tapi memotret merupakan hal yang berbeda.

Perjalanan memotret saya dimulai sejak masih SMP di Jambi, ketika menjadi redaksi majalah sekolah. Menjadi serius saat sekolah di SMA Kolese De Britto di Yogyakarta dan bergabung di kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Lantas kegiatan di SMA berlanjut dengan mengurus lembaran remaja di Harian Bernas di Yogyakarta.

Masih duduk di bangku SMA pada 1992, Majalah Hai memanggil saya bergabung sebagai koresponden di Yogyakarta. Karena majalah remaja terbesar di Indonesia itu menuntut reporter piawai memotret, maka saya pun serius menggeluti fotografi. Waktu itu, memotret masih memakai kamera pinjaman dan lensa pinjaman.

Saya menyaksikan dinamika fotografi Indonesia pada pertengahan 1990-an berupa fenomena memiring-miringkan foto dan cross-process film slide dengan proses C41. Kedua fenomena itu dipopulerkan oleh Majalah Hai tempat saya bekerja.

Sayang foto-foto cross-process karya saya ini belum sempat didigitalkan. Jaman dahulu, untuk menghemat, foto biasa dicetak contact print dahulu. Dahulu, untuk menghemat biaya dan waktu, lebih mudah memotret di format film 135 ketimbang format 120 untuk medium format.

Situasi waktu itu, kaum senior yang sudah lebih dahulu belajar fotografi  memandang foto hasil cross process sebagai suatu kesalahan. Warna harus akurat, dan skin tone harus sesuai asli. Pertengahan tahun 90-an saya sudah mulai memotret model dan memperoleh uang dari memotret model.

Kontras dengan fotografi masa sekarang, yang malah musti membayar untuk motret model, dahulu langganan saya adalah model agency dan perorangan. Namun, ada kesamaan dengan masa sekarang, para senior pun menganggap hasil olah digital, efek-efek khusus di kamera dan komputer, sebagai bukan hasil karya fotografi dan dianggap tak benar.

Fenomena ini hendaknya menjadi alarm kelak jika saya juga menjadi sosok yang dianggap senior oleh para fotografer yang lebih muda daripada saya. 

Ketika kamera digital di tangan pada 2003, saya pun bereksperimen banyak hal, termasuk memotret infra red (IR). Di era film saya memotret IR dengan Kodak High Speed Infra Red atau dengan Ilford. Dengan kamera digital saya bermodalkan filter gel IR dari Ilford. 

Puas dengan hasil bereksperimen, foto IR digital saya yang diupload ke Fotografer.net (FN) menuai celaan, bahwa foto IR haruslah pakai film. Pantang mundur, saya beranggapan media berfotografi tetap menjadi media. Ide dan isi foto bisa tampil lintas media seiring waktu dan dinamika teknologi. 

Pada 2004, foto IR digital saya menggondol medali emas kategori hitam putih di Salon Foto Indonesia (SFI), foto IR digital pertama yang dapat penghargaan di berbagai lomba saat itu. Penghargaan ini menyusul Honorable Mention di SFI 2003 untuk kategori sama namun masih pakai film. 

Saya makin yakin pada IR dan lanjut bereksperimen pada IR warna. Seperti biasa, celaan mengalir, menyebut bahwa IR “haruslah” hitam putih. Namun lagi-lagi foto IR warna saya memborong Medali Perak dan Honorable Mention di SFI 2005.

Sejak 2004 orang-orang sudah mulai ber-IR ria. Saya sendiri baru pakai kamera modifikasi IR sejak 2007, buatan Harlim. Selama orang ber-eforia IR kala itu, banyak yang merasa paling dahulu mengerti IR namun tak bisa merasa bahwa ada yang lebih dahulu ber-IR, bahkan memenangi penghargaan prestisius.

Namun eforia IR ini melahirkan fenomena baru, banyak orang mendewakan teknik dan alat ketimbang isi dan ide foto. Bahkan banyak fotografer yang ber-IR ria sebelum paham teknik dasar fotografi. Semua “dihajar” dengan kamera IR namun lemah secara komposisi dan pencahayaan amburadul. 

Apalah artinya berkamera mahal namun ide foto sama dengan foto sepuluh dua puluh tahun yang lalu? Sungguh merendahkan diri sendiri jika isi foto sama dengan isi foto banyak fotografer lain, sehingga lebih cocok menggondol fotokopi ketimbang kamera sebagai fotografer.

Ketika kemudian dinamika fotografi membawa kita ke fenomena kamera ponsel dan kamera mirrorless, saya makin yakin bahwa hal yang tak berubah di fotografi adalah perubahan itu sendiri. 

Sebenarnya ada satu hal lagi yang tak berubah, bahwa banyak peniru dan follower di dunia fotografi. Bahkan banyak peniru dan follower di fotografi yang selalu mengklaim dirinya paling pertama, paling benar, paling hebat dan paling bagus namun tak sadar bahwa mereka paling tak punya harga diri.

 

 

Exposure Magz, December 2014

Exposure Magz, December 2014

Tulisan saya selengkapnya bisa dibaca dengan mengunduh gratis Exposure Magazine edisi Desember 2014 di: http://www.exposure-magz.com/2014/12/06/exposure-77th-edition/


Fotografi untuk Keutuhan NKRI

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Alam permai Indonesia membelai wajah bak sapuan ombak di pantai-pantai Natuna dan Anambas, Kepulauan Riau. Lestari menyejukkan seperti hembusan hawa segar hutan Taman Nasional Kayan Mentarang di Malinau, Kalimantan Utara. Indah memukau mata seperti hamparan dataran tinggi pegunungan-pegunungan Papua.

Ikan-ikan berlari-larian di antara warna-warni terumbu karang taman laut Bunaken, Sulawesi Utara. Alunan sasando membuai telinga sembari berdansa tatkala berada di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Dalam beberapa perjalanan ke sejumlah daerah terdepan Indonesia, yang berbatasan darat maupun laut dengan negara-negara tetangga, ada banyak cerita tentang pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berkaitan dengan fotografi.

Ketika peradaban manusia modern melebihi budaya lisan dan tulis, gaya bertutur secara visual menjadi tatanan budaya baru. Gambar lebih mudah dan lebih cepat terserap daripada tulisan dan kata-kata. Bisa jadi, gambar pun lebih mudah diingat.

Banyak orang tahu bahwa Natuna dan Anambas adalah milik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Alamnya indah, dengan imbuhan “kata orang”, selain kekayaan sumber daya alam hidrokarbon. Keindahan alam Natuna secara mudah terpaparkan oleh gambar tatkala foto-foto tim hunting Fotografer.net (FN) dipublikasikan setelah kunjungan atas undangan Dandim Natuna, Korem 033/WP, Alm Letkol Inf Hendra Heryana. Komandan Korem (Danrem) 033/WP, waktu itu, Brigjen TNI Deni K Irawan pun mendukung peran fotografi di satuan kewilayahan pimpinannya.

Dari perjalanan fotografi itulah terpapar secara luas keindahan gunung dan pantai Natuna. Dari salah satu perjalanan ke Anambas bisa terpapar pula foto-foto pantai terindah menurut CNN Travel dan menegaskan bahwa pantai-pantai itu milik NKRI. 

Berkaitan dengan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi, sempat terdengar ungkapan “Garuda di dada kami, tapi negara asing di perut kami” terucap oleh penduduk yang tinggal di beranda depan NKRI di Malinau, Kalimanan Utara (Kaltara). Suatu realitas yang tak pada tempatnya untuk ditanggapi secara reaktif buta seperti pepatah “buruk muka, cermin dibelah”.

Prakarsa Dandim Malinau, Korem 091/ASN, Letkol Inf Agus Bhakti bergandengan tangan bersama Bupati Malinau Dr Yansen Tipa Padang membuahkan kunjungan-kunjungan fotografer yang menyebarluaskan keotentikan budaya luhur masyarakat adat Dayak.

Pada suatu akhir pekan, Kodim Malinau menggelar HUT dengan Kaltara Photography Camp yang dihadiri para fotografer dari seluruh penjuru Kaltara: Malinau, Nunukan, Tana Tidung, Bulungan dan Tarakan, dan sejumlah fotografer ibukota. Bermalam di hutan air terjun Semolon, para fotografer mengelilingi api unggun dan Bupati mengumandangkan puisi-puisi persatuan dan kesatuan bangsa melalui fotografi.

Bisa jadi ada banyak kegiatan yang bisa mengumpulkan anak muda. Namun fotografi menjadi kegiatan pengumpulan massa yang populer sekaligus bisa menggemakan isi dan pesan kegiatan meski telah lama usai. Apalagi dinamika kebudayaan modern semakin berpihak pada budaya visual dan digital, maka fotografi semakin terposisikan lebih strategis.

Tulisan di Kompas mengenai cerita di balik foto Proklamasi Kemerdekaan RI mengingatkan khalayak fotografi perihal peran penting, lebih dari sekedar membuat foto bagus.

Tanpa foto maka peristiwa penting hanya sekedar menjadi bahan pembicaraan turun temurun, atau terabadikan berupa tulisan yang butuh daya serap. Bahasa lisan dan bahasa tulisan sama-sama rawan distorsi dan punya resiko language barrier. Tapi, tentu tak pada tempatnya juga jika proklamasi kita kenang dalam bentuk sketsa atau lukisan, meski berupa bahasa visual.

Fotografi sebagai wahana komunikasi visual berbicara dalam bahasa global. Ketika para fotografer memotret Indonesia, termasuk beranda depan Nusantara yang berbatas dengan negara tetangga, publikasi menjadi peran penting selanjutnya.

Patok batas negara hanya berdiri membisu di tempat, namun foto-foto budaya dan alam beranda Nusantara menjadi patok visual yang bisa disebarluaskan ke mana saja dengan berbagai wahana, termasuk internet.

Kejadian saling klaim budaya niscaya jadi nihil manakala salah satu pihak sudah membuktikan terlebih dahulu secara sah dan mempublikasikan secara luas. Analoginya seperti penemuan fakta baru ilmiah yang pembuktiannya disebarluaskan di jurnal-jurnal terkemuka dan relevan.

Sudah menjadi tugas khalayak fotografi Indonesia untuk menjaga Persatuan Indonesia melalui karya-karya foto dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan fotografi. Jika gempuran asing menyerang ruang-ruang dalam rumah, yang jauh dari beranda perbatasan Nusantara, tugas para fotografer Indonesia pula lah untuk mengibarkan Merah Putih melalui fotografi.

Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014


Solusi untuk Mitigasi Bencana Gunung Api

Pada suatu sore yang mendung di pertengahan Mei 2014, saya bersama beberapa kawan fotografer singgah di Kabanjahe, dalam perjalanan memotret melintasi Kabupaten Simalungun, Danau Toba dan Pulau Samosir dan Tanah Karo. Halaman GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Kabanjahe terlihat lengang. Di gereja terbesar di ibukota Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara, itu tenda-tenda pengungsi Gunung Sinabung terlihat lengang. Para pengungsi masih beraktivitas di luar posko pengungsian GBKP Kabanjahe Kota.

Rupanya para pengungsi yang sudah 6 bulan tidur beralas lantai dan tanah itu mengalami dinamika baru dalam hidup mereka. Sudah ada yang mengontrak rumah di luar posko, lantaran tak tahan hidup berdesakan secara tak layak. Ada sekitar 130 keluarga yang tinggal di posko ini dengan fasilitas minim.

MCK mengandalkan toilet gereja, yang didesain untuk kegiatan mingguan bagi ratusan jemaat, jadi dipakai ribuan orang untuk kegiatan sehari-hari. Dapur umum, yang peralatannya sumbangan kawan-kawan Fotografer.net (FN) di Sumatera Utara, krisis bahan pangan.

“Persediaan beras kami saat ini hanya cukup untuk empat hari ke depan,” ungkap Pdt Nurbeti br Ginting, pemimpin GBKP Kabanjahe Kota, ketika dijumpai hari Selasa, 13 Mei. “Perlengkapan mandi dan kebersihan sudah habis, pengungsi tak semua mampu membeli sendiri,” imbuh Ibu Pendeta. Belanja sayur saja sehari menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 juta untuk ribuan pengungsi yang tinggal di posko GBKP Kabanjahe Kota. Namun makan nasi dan sayur belaka selama seminggu bisa membuat tak betah, apalagi 6 bulan.

Di lokasi pengungsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara di GBKP Kabanjahe bersama Pdt Nurbeti br Ginting (paling kiri), Ketua Harian Toba Photo Club (TPC) Johnny Siahaan (kedua dari kanan), dan pengurus TPC Eduard Perangin-angin (paling kanan), Mei 2014.

Di lokasi pengungsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara di GBKP Kabanjahe bersama Pdt Nurbeti br Ginting (paling kiri), Ketua Harian Toba Photo Club (TPC) Johnny Siahaan (kedua dari kanan), dan pengurus TPC Eduard Perangin-angin (paling kanan), Mei 2014.

Tanah Karo terkenal sebagai lumbung pangan Sumatera Utara lantaran ladang sayur mayur serta buah-buahan dan ternak yang melimpah ruah. Namun abu vulkanik Sinabung menyelimuti semuanya dalam kelam dan maut. Tak hanya mematikan sumber pangan, bencana ini membunuh semangat masyarakat Karo yang terbiasa bekerja di ladang.

Saya termenung melihat anak-anak pengungsi yang pulang sekolah sore itu dan bermain di antara tenda. Betapa suram memori masa kecil yang sedang tercetak di kepala mereka saat ini. Enam bulan bukan waktu sebentar untuk mencetak memori tak terlupakan di otak.

Indonesia yang berada di Cincin Api Dunia berhiaskan untaian gunung api aktif. Teruntai indah ratusan gunung api mulai dari pantai barat Sumatera hingga lantai selatan Jawa dan Nusa Tenggara dan berbelok ke Maluku dan Sulawesi Utara.

Gunung api sudah ada sebelum manusia ada. Tugas manusia untuk menyesuaikan diri dengan alam, bukan mengubahnya. Bukan kuasa manusia untuk nengendalikan kekuatan alam.

Sebagai mantan mahasiswa teknik geologi, yang salah satu semesternya mempelajari vulkanologi, saya bersikap bahwa bantuan bagi pengungsi bencana gunung api bersifat sementara. Otoritas yang berwenang di mitigasi bencana seyogyanya membuat prosedur operasi standar permanen dan melatihkannya secara rutin kepada penduduk di kawasan bencana.

Sudah cukup bencana Gunung Sinabung yang berusia 6 bulan menjadi contoh. Indonesia memiliki ratusan gunung api dan banyak gunung berada di populasi padat.

Bodoh sekali, sekaligus hipokrit, membiarkan masalah, tanpa solusi.

Jika Sinabung bisa erupsi dan membuat warga di sekitarnya hidup berbulan-bulan dalam pengungsian, maka demikian pula dengan Gunung Marapi di Sumatera Barat dan gunungapi-gunungapi lain di Sumatera. Demikian pula dengan gunungapi-gunungapi di sepanjang pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Maluku dan Sulawesi Utara.

Jika Gunung Sinabung bisa merusak ribuan rumah dan menghancurkan ratusan ribu hektar sawah, kebun dan ladang serta membunuh jutaan ternak maka demikian pula gunungapi-gunungapi lain di di Tanah Air.

Memang ada berbagai macam tipe gunung api dan beragam pula jenis erupsinya. Mulai dari tipe erupsi lelehan seperti Gunung Merapi di Jawa Tengah, hingga tipe eksplosif seperti Gunung Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Tambora di Nusa Tenggara.

Tapi satu hal yang pasti: erupsi gunung api tak bisa diprediksi manusia dan ilmu pengetahuannya.

Memang ilmu vulkanologi bisa membaca gejala-gejala letusan, namun tak bisa mengetahui jam-J dan hari-H erupsi. Manusia masa kini hanya lebih modern dari nenek moyang kita dalam hal membaca tanda-tanda alam. Dahulu hanya burung-burung berterbangan dan satwa-satwa eksodus turun gunung jadi penanda erupsi. Saat ini manusia bisa membaca gempa vulkanik, perubahan suhu kawah dan komposisi kimia kawah.

Satu hal yang pasti pula: tak ada bencana baru. Semua bencana alam sudah pernah terjadi, hanya berbeda skala, waktu, intensitas, magnitude dan lokasi. Pembuat jumlah korban dan kerugian sebenarnya manusia sendiri. Jika dalam zona bahaya tak ada aktivitas manusia, maka bisa dipastikan tak ada korban.

Dari semua gunung api yang sudah pernah erupsi, ada catatan waktu dan cakupan bencana serta skalanya. Belajar dari data itu saja, korban bisa diminimalisir, bahkan kalau perlu ditekan hingga nihil.

Kita tak perlu membahas erupsi legendaris Gunung Toba yang abu vulkaniknya menutup seluruh planet Bumi dan membuat global cooling bertahun-tahun. Tak perlu pula membahas erupsi Gunung Krakatau dan Gunung Tambora yang membuat “matahari tak terbit” berhari-hari lantaran abu vulkaniknya tersebar di seluruh dunia dalam sekali erupsi.

Cukup dengan memetakan daerah bencana tiap gunung api aktif dan menerapkannya dalam rencana tata ruang daerah, maka tinggal pelaksanaan kepatuhan saja yang perlu diperlihara. Pelaksanaan berarti ketersediaan segala infrastruktur yang berkaitan dengan mitigasi bencana. Sementara kepatuhan mencakup kesediaan penduduk setempat mematuhi tata ruang.

Standar operasi mitigasi bencana ini berkaitan dengan 3 kebutuhan pokok hidup manusia: pangan, sandang dan papan.

Oleh karena itu, standar musti pasti dan tanpa toleransi. Ibarat fire plan di gedung bertingkat, tiap pintu mencantumi diri dengan dengan denah evakuasi. Denah mengandung jalur evakuasi, posisi alat penyelamatan diri dan tempat berkumpul aman alias master point atau assembly point.

Standar operasi mitigasi ini sebaiknya juga meniru safety demo di tiap penerbangan sipil. Ada peragaan alat keselamatan diri dalam keadaan darurat setiap awal penerbangan. Ada pula safety drill untuk awak pesawat, yang jika diterapkan ke mitigasi bencana berupa evacuation drill bagi para pemimpin setempat, seperti ketua RT, pemimpin komunitas dan tokoh-tokoh informal.

Denah dan diagram standar operasi dipasang di berbagai tempat strategis dan di tiap pintu rumah. Evacuation drill digelar secara acak-waktu, sesekali tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Para pemimpin setempat dan otoritas mitigasi bencana memeriksa piranti keselamatan dan alarm secara berkala tanpa batas waktu.

Jadikan standar operasi mitigasi bencana dan evacuation drill sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di daerah rawan bencana. Hal-hal ini perlu dilakukan semata-mata demi keselamatan diri. Jika enggan hidup dalam kesiapsiagaan, ada opsi migrasi.

Kesiapsiagaan terhadap bencana alam juga meliputi ketersediaan pangan, sandang dan papan di tempat pengungsian.

Artinya, setiap kawasan rawan bencana alam wajib memiliki bangunan bebas-bencana penampung pengungsi. Kapasitas bangunan minimal sama dengan jumlah penduduk kawasan rawan bencana berikut kegiatan kesehariannya, minimal untuk MCK dan klinik kesehatan.

Instalasi penampung pengungsi wajib pula dilengkapi lumbung pangan dan air bersih siap minum, yang secara berkala atau acak-waktu terperiksa agar siap pakai sewaktu-waktu. Dengan begitu, dapur umum tinggal dilengkapi dengan daftar petugas yang dirotasi antar-nama penduduk yang memakai instalasi itu.

Lantaran listrik sudah jadi salah satu kebutuhan primer, maka instalasi penampung pengungsi seyogyanya memiliki sel panel surya. Dengan sel surya, maka kebutuhan listrik bisa aman dari resiko jaringan listrik putus, nirbiaya BBM dan pemeliharaan genset, serta ramah lingkungan.

Desain tata ruang membungkus gaya hidup tanggap bencana dan kesiapan infrastruktur darurat bencana dalam kesatuan utuh. Ada daerah yang dijadikan pemukiman dan ada daerah yang nihil pemukiman namun bisa dipakai kegiatan bisnis dan pelayanan.

Kita percaya banyak kearifan lokal yang memuat sikap tanggap bencana. Tata ruang masyarakat di Pulau Simeleue, Aceh, misalnya, yang tinggal di elevasi tinggi agar terhindar dari ancaman tsunami. Demikian pula kearifan lokal di berbagai daerah lain di lintasan “The Ring of Fire”, seperti Simeuleue, yang sudah menanggapi bencana secara disiplin jauh sebelum sekolah ada di daerah mereka.

Kita respek pada peta rawan bencana yang disusun para ahli geologi. Ancaman bencana alam tak hanya gunung api, gempa bumi dan tsunami melainkan juga banjir dan tanah longsor. Semua pasti bisa dipetakan secara geologis. Tinggal kegigihan otoritas setempat menerapkannya dan keikhlasan penduduk mematuhinya.

Memang hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Tuhan pulalah yang menganugerahi manusia, makhluk ciptaanNya yang paling sempurna, dengan akal budi yang melahirkan ilmu geologi dan akal sehat untuk mematuhi saran para ahli dan otoritas daerah tempat tinggal.

Pada bulan Oktober 2014, sudah hampir setahun Sinabung tak kunjung reda memuntahkan isi perutnya. Guguran lava pijar dan luncuran awan panas silih berganti dengan muntahan material piroklastika.

Kalau seandainya ada anak Tanah Karo yang lahir tatkala Sinabung baru erupsi tahun 2013 lalu, maka hingga usia sudah hampir memungkinkan bisa berjalan belum juga anak itu tinggal di tempat yang layak.

Sebagai manusia, bisa jadi para pemegang otoritas telah mengabaikan akal budi dengan pembiaran para pengungsi hidup tanpa perubahan dan tak antisipatif serta sarat nuansa pencitraan belaka. Bisa jadi pula oknum pemegang otoritas abai dengan kenyataan diri sebagai bagian dari alam atau memang jumawa merasa bisa mengatasi alam.

Yang jelas, isi perut bumi tetap bergejolak, detik demi detik, sesuai Teori Tektonika Lempeng. Alam tak peduli dengan siapapun juga pemegang otoritas. Namun, kita sangat peduli dengan orang yang kita pilih jadi pemimpin kita, pemegang otoritas yang bertanggung jawab mengatur mitigasi bencana. Sejatinya, semua kita mulai dari diri sendiri, dengan bertanggung jawab kepada diri sendiri untuk bijaksana menyikapi tanda-tanda alam.

Sebagai manusia bisa jadi para pemegang otoritas telah mengabaikan akal budi dengan pembiaran para pengungsi hidup tanpa perubahan dan tak antisipatif serta sarat nuansa pencitraan belaka.