Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Thoughts

Harapan Fotografer Indonesia Pada Presiden & Wakil Presiden Terpilih RI 2014-2019

Memakai titel “fotografer Indonesia” terkesan berat dan jamak. Begitu banyak fotografer profesional dan fotografer amatir yang terwakili dengan titel itu. Namun berangkat dari Fotografer.net (FN), sebagai komunitas fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara beranggotakan lebih dari 450.000 orang, perkenankan tulisan ini berisi harapan-harapan yang terangkum dari berbagai sumber.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan kondisi negeri yang memungkinkan harga kamera lebih terjangkau. Kami sadar, tak mudah mewujudkan hal ini mengingat berbagai aspek terkait. Namun kami paham pula, bahwa dengan semangat baru yang dibawa oleh Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) terpilih Republik Indonesia (RI) maka kondisi ekonomi lebih baik.

Kami mendambakan kondisi ekonomi dengan nilai tukar Rupiah yang lebih kuat agar harga kamera, yang kami beli dengan Rupiah, bisa terjangkau.

Jika memungkinkan, kami berharap iklim penelitian, pengembangan dan pendidikan berbasis iptek dan seni pun maju. Dengan demikian, bukan tak mungkin Indonesia memiliki pabrik kamera dan berbagai piranti pendukung. Kalau memungkinkan, merk kamera pun adalah merk Indonesia, yang lahir dari buah pikiran dan karya tangan ilmuwan-ilmuwan Indonesia.

Kami berharap, karya para fotografer Indonesia terlindungi secara hukum. Memang sudah ada undang-undang pelindung Hak Cipta namun penegakan hukum masih lemah. Seandainya bisa terwujud, maka para fotografer Indonesia pun sudah sepatutnya menghormati Hak Cipta dalam segala aspek kehidupan kreatif.

Dengan penegakan hukum lebih tegas, maka karya-karya foto dihargai lebih layak oleh khalayak. Fotografer bisa hidup layak dan halal, selayaknya profesi-profesi lain di Tanah Air. Banyak talenta kreatif Indonesia yang berdikari membutuhkan situasi kepastian dan perlindungan hukum yang patut. Kita sama-sama mewujudkan para wirausaha muda yang sukses dan kreatif lahir dari fotografi. Para pewarta foto pun bisa menekuni profesinya menjadi mata hati nurani rakyat.

Melalui ketegasan dan kepastian hukum pula, kita bisa sama-sama menelisik kepatuhan para fotografer membayar pajak secara ikhlas dan jujur. Penegakan hukum tentu butuh biaya, dan merupakan tanggung jawab kita semua untuk menanggungnya bersama-sama, secara terbuka dan jujur pula.

Masih mengenai kepastian hukum, khalayak fotografi Indonesia mendambakan sudut-sudut pemotretan yang bebas spanduk liar, papan reklame yang jadi sampah visual, bangunan angkuh di lereng perbukitan, danau dan pantai, serta sawah dan kebun yang bersih dari bangunan-bangunan pengalih fungsi lahan pertanian. Kami yakin alam yang asri bisa dipertahankan tanpa tunduk kepada ketamakan otoritas setempat pada materialisme.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan situasi yang bebas pungli. Banyak tempat memotret yang dikuasai oleh orang, entah siapa dan dari mana, memungut bayaran. Bayaran-bayaran ini berupa pungutan tak jelas, non-standar, dan seringkali tanpa tanda terima.

Kami sadar, bahwa di banyak negara, banyak tempat menarik untuk fotografi tersedia secara gratis. Kami ulangi, gratis. Kalaupun berbayar, otoritas yang mengurus tempat-tempat yang menarik uang, secara fotografi, memberikan fasilitas yang memadai, seperti kebersihan, keamanan dan toilet bersih.

Fotografer Indonesia siap membayar dengan ikhlas, namun kritis terhadap penggunaan uang yang telah kami bayar. Kami tak rela, Tanah Air ini dikotak-kotakkan oleh pecinta uang, yang menyuburkan iklim penadah tangan dan pengutip tanpa bekerja.

Kami berharap, Presiden dan Wapres terpilih 2014-2019 memberikan ruang lebih banyak bagi fotografer untuk aktualisasi diri. Kata cukup mungkin tak akan pernah terwujud, namun kita perjuangkan bersama-sama.

Semakin banyak ruang pamer dan galeri foto memberikan sarana aktualisasi diri bagi fotografer sekaligus ruang apresiasi seni khalayak secara luas. Semakin banyak publikasi fotografi, baik secara online maupun offline, membudayakan kreativitas secara luas ke berbagai aspek kehidupan. Pendidikan Indonesia tak hanya di sekolah dan di keluarga di rumah, publik fotografi pun mendidik secara terbuka berbasis kebebasan yang bertanggung jawab demi kreativitas.

Khalayak fotografi Indonesia kerap kali terpinggirkan karena dianggap remeh. Kalaupun remeh, tentu hidup ini sudah membosankan lantaran tak koran dan majalah hanya tulisan melulu dan acara perkawinan hanya tinggal cerita lisan tanpa foto. Pariwisata dan kebudayaan hanya berbasis budaya tutur dan tulis tanpa budaya gambar, yang merupakan ciri kebudayaan modern.

Tanggung jawab fotografer dan peminat fotografi Indonesia untuk melestarikan budaya Tanah Air dan hidup dengan layak dari itu.

Foto-foto mempromosikan tempat wisata bersamaan dengan kerajinan tangan, tari-tarian, baik tradisional maupun modern, penginapan dan kuliner. Melalui foto pula industri garmen dan busana, baik modern maupun tradisional, bisa terpasarkan efektif. Melalui fotografi pula industri periklanan lebih kompetitif dan disain arsitektur terapresiasi lebih luas. Dengan fotografi pula poster-poster film dan sampul album-album musik tampil menarik.

Kalau kita berbicara tentang fotografi pernikahan saja, sebagai contoh, ada milyaran uang yang terlibat. Anggaplah ada 10 juta pasangan siap nikah, dari lebih dari 200 juta populasi Indonesia, dan anggaplah tiap pasang membayar Rp 1 juta untuk paket foto weding mereka. Berarti tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun, ada ratusan milyar, mungkin trilyun, uang yang berputar karena fotografi. Dan dari ratusan milyar itu, ada jutaan mulut yang bisa makan secara layak dan halal dari bisnis fotografi.

Dari segala harapan ini, kita berharap semua fotografer bertugas dengan lancar dan layak. Segala sudut Nusantara dijelajahi, termasuk garis depan perbatasan Tanah Air dengan negara-negara tetangga.

Identitas bangsa kita dokumentasikan dan publikasikan secara terus menerus di berbagai media, baik berupa warisan-warisan budaya tradisional nenek moyang maupun kreasi-kreasi modern Nusantara. Bahasa gambar bicara jutaan makna. Fotografi jadi salah satu piranti ketahanan nasional dan fotografer Indonesia wajib mengawal kekayaan Tanah Air kita sekaligus memupuk persahabatan dan persaudaraan untuk Persatuan Indonesia.

Seringkali foto-foto kami lebih berbicara daripada kemampuan kami berbicara dan menulis. Semoga harapan-harapan ini sampai kepada Presiden dan Wapres terpilih RI 2014-2019.

Biar foto yang bicara.


 

Tulisan ini dimuat pertama kali di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194608045

Advertisements

Etika, Norma dan Hukum Publikasi Foto yang Memuat Unsur Sadisme

Kita bebas memotret apapun. Tapi ketika dipublikasikan, wajib tunduk pada etika, norma dan hukum yang berlaku.

Publikasi foto di media sosial dan messenger pun wajib hormati etika, norma dan hukum yang berlaku. Sebelum publikasi foto di media sosial dan messenger, bedakan foto yang Anda buat sendiri dan foto yang hak ciptanya bukan milik Anda.

Seleksi foto-foto milik Anda, yang hak ciptanya Anda miliki, sebelum disebar di media sosial dan messenger. Periksa seksama dan cermati agar foto-foto yang Anda sebar tersebut sesuai etika, norma dan hukum yang berlaku. Etika, norma dan hukum yang dimaksud adalah etika, norma dan hukum negara dan tempat Anda menjadi warga, atau tempat Anda berdomisili ketika penyebaran foto Anda buat.

Foto-foto yang memuat unsur-unsur ketelanjangan, rokok dan narkoba, alkohol, sadisme dan pedofilia tak sesuai dengan hukum, etika dan norma. Ada unsur-unsur yang bisa dipublikasi terbatas, secara tempat dan umur. Ada pula hal-hal yang memang tak pantas dipublikasikan kepada umum.

Karena itulah media massa seperti koran, majalah, tabloid, TV dan media online tak memuat foto-foto yang melanggar etika, norma dan hukum.

Anda tentu tak ingin buka media sosial dan terpapar pada sadisme, yang dipublikasikan oleh akun-akun yang Anda follow. Anda pun, ketika sedang kumpul bersama keluarga dan teman, tak ingin semerta-merta terpapar pada foto mayat perang berdarah-darah atau mayat yang tak lengkap anggota tubuhnya.

Mawas diri dan sadar dirilah. Kritis dan jangan seenak kepala sendiri. Hormati orang lain jika ingin dihormati.

Kita memang bebas memotret, apapun. Namun, bijaksanalah berbagi dan mempublikasikan foto-foto. Bertanggung jawablah terhadap setiap foto yang Anda siarkan. Kebebasan selalu lekat dengan tanggung jawab. Dan hanya orang-orang dewasa dan berakhlak yang sanggup memikul tanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan atas kehendak bebas.

Jika Anda berbagi foto milik orang lain di media sosial dan messenger, maka tunduklah pada Undang-undang Hak Cipta. Foto-foto yang bukan hasil karya tangan Anda berarti tak Anda miliki hak ciptanya.

Foto milik orang lain yang Anda publikasi di media sosial dan messenger milik Anda wajib dicantumi kredit foto, berupa nama fotografer. Pelanggar Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) diancam pengadilan berupa hukuman ratusan juta rupiah dan kurungan penjara 5 tahun, yang berarti tanpa ada kesempatan penangguhan penahanan.

Pelanggar UU Hak Cipta atas foto yang dipublikasi di media internet bahkan menghadapi ancaman hukuman berganda, dengan ancaman hukuman dari UU ITE (Internet dan Transaksi Elektronika). Ancaman hukuman berganda menanti penyebar foto tanpa kredit foto, dan mengandung unsur sadisme dan kekerasan.

Kita bisa membedakan akun media sosial mana yang seperti “koran lampu merah” dengan akun bertanggung jawab, dengan cara memirsa foto-foto yang dipublikasi oleh media-media itu.

Contoh kasus, ada kawan yang tak masalah melihat foto orang buang hajat. Namun, ada kawan lain yang lihat foto jamban bersih saja sudah muntah-muntah.

Anggaplah semua follower dan teman media sosial kita, pukul rata saja, tangguh mental melebihi dokter forensik dan tentara pasukan khusus. Kita masih harus mengkritisi isi foto-foto milik orang lain itu: benar atau rekayasa?

Sebelum menyiarkan foto di media sosial dan messenger, kritisi juga waktu pemotretan: aktual kah atau foto lama yang dibuat bertahun-tahun lalu?

Etika itu sederhana. Bisa penting, bisa juga dianggap remeh. Sesederhana dan seremeh memberi dan menerima sesuatu dengan tangan kanan.

Contoh kasus: ada foto 3 orang berpakaian militer Barat seolah-olah menganiaya 1 orang berwajah Timur Tengah. Foto tersebut “bocor” ke publik dan dimuat di koran. Kemarahan publik tersulut, banyak pengaku-aku relawan di berbagai negara Asia siap berangkat tempur. Padahal foto itu adalah foto bercanda 4 pemuda yang saling berteman, dibuat di garasi rumah salah satu dari mereka.

Gara-gara penyiar foto dan media tak betanggung jawab, perang bisa tersulut. Kebodohan disahkan atas nama entah nama apa dan siapa.

Berangkat tempat demi membela Tanah Air sudah jadi kewajiban setiap Warga Negara Indonesia. Tapi tentu jangan berangkat temput gara-gara foto bercanda yang disebarkan oknum tak bonafide di akun media sosialnya. Berangkat tempur berarti siap pulang nama.

Tak rumit untuk berbagi foto di media sosial dan messenger milik pribadi. Cukup hormati etika foto dengan mencantumi foto dengan kredit nama fotografer dan sumber yang jelas, bukan nama media sosial lain atau mesin pencari.

Contoh kasus: foto erupsi sebuah gunung berapi di Indonesia. Ketika erupsi yang terjadi, seketika dalam hitungan menit lantas tersebar foto di media sosial dan messenger. Padahal foto-foto yang tersebar itu adalah foto-foto erupsi bertahun-tahun lalu. Hal ini menyesatkan dan membohongi, kondisi alam tak sama dari waktu ke waktu. Arah, intensitas dan akibat erupsi tak pernah sama. Apalagi jika kita membawa pembahasan ini ke ranah ilimiah secara geologis.

Saya pernah diwawancara untuk produksi berita salah satu TV swasta soal keaslian foto. Saya bersikeras untuk membahas motivasi di balik penyebaran foto ketimbang keasliannya.

Dalam wawancara lain untuk TV swasta, saya ditanya keaslian foto acungan pistol di publik. Ketimbang membahas keaslian, lagi-lagi saya membahas motivasi pembuatan dan penyebaran foto.

Dari sebuah foto, ada rasa yang tergugah dan ada informasi yang terserap. Orang bisa tercerahkan, bisa juga marah dan menangis karena foto.

Dalam dunia informasi ada istilah: “garbage in, garbage out”. Informasi “sampah” tak akan menghasilkan berlian. Demikian juga foto.

Bijaksanalah menyikapi foto dan ariflah menyiarkan foto di akun media sosial dan messenger milik Anda.

Para penyebar foto sadisme wajib bertanggung jawab pada orang-orang yang lantas berjiwa sadis karena terinspirasi foto-foto yang Anda sebar.

Sesuatu yang mengandung pornografi bisa jadi memuat batasan umur, untuk membatasi penyiarannya di muka publik. Tapi, bagi foto yang membuat sadisme, menurut Anda, adakah batasan umur?

Foto adalah bahasa komunikasi visual. Kita bicara dengan bahasa gambar. Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dibuat berdasarkan twit saya @kristupa pada 10 Juli 2014 bertagar #etikafoto

Tulisan ini sudah dimuat sebagai topik di Forum Diskusi website fotografi terbesar se-Indonesia dan Asia Tenggara Fotografer.net http://www.fotografer.net


Prediksi Tren Fotografi 2014 @FotograferNet #FNprediksi #FN11

Fotografer.net 11th Anniversary logoAda banyak hal yang bakal mewarnai fotografi di tahun 2014. Berikut adalah prediksi pribadi saya berdasarkan pengamatan fotografi selama 2013, berjumpa dengan banyak fotografer berbagai latar belakang dan perbincangan pribadi dengan berbagai pihak di akhir tahun 2013.

Karya

Selama 2013 foto-foto berona retro tone. Sekitar 1-2 tahun lalu, tren retro tone ini lahir dari olah digital (oldig) piranti lunak di komputer. Namun gelora mobile app di smartphone dan tablet menawarkan banyak aplikasi oldig.

Retro tone diperkirakan masih mewarnai banyak foto yang dibuat selama 2014.

Tahun 2014 diperkirakan menjadi tren single light. Aksesoris bisa macam-macam, baik untuk monoblock, strobist, maupun foto dengan available light. Foto-foto tahun ini terkutub jadi 2: low key dan terang normal contrast.

Makin banyak orang suka flare. Di 2014 flare tampil asli ketika pemotretan maupun hasil oldig di mobile application. Jenis cahaya backlight ini diperkirakan bakal salah kaprah diterapkan di 2014, karena banyak yang mengabaikan logika pencahayaan dan fisika optika.

Genre

Genre street photography makin popular di 2014 karena fotografi jadi gaya hidup masyarakat kota & banyak traveler yang serius memotret. Seiring dengan mencorongnya street photography, pemotret human interest (HI) dan portrait juga makin banyak. Sementara pertumbuhan pemotret landscape tak terlalu signifikan namun komunitasnya fanatik.

Tahun 2014 banyak citizen photojournalist. Fenomena ini membuat pewarta foto instrospeksi, baik pada kualitas karya maupun tanggung jawabnya. Fotografer freelance menjamur dengan mengandalkan kebutuhan foto-foto editorital yang semakin beragam dengan honor yang kompetitif.

Pemotret amatir berusia lebih muda di tahun 2014 karena kualitas pendidikan & taraf hidup lebih baik. Pelajar berusia SMP sudah banyak serius motret, didukung kemampuan ekonomi orang tua mereka. Remaja terpapar pada kebebasan berkarya yang ditawarkan fotografi, dan kalangan sekolah serta orang tua bersentimen positif pada kegiatan ekstrakurikuler fotografi.

Teknologi

Pada tahun 2014 pengguna software oldig menjadi lebih terbatas di profesional. Fotografer amatir dan orang awam enjoy memakai mobile application di tablet dan smartphone. Social media dan web fotografi diperkirakan di 2014 mulai memunculkan fitur filter, sebagai bentuk oldig sederhana, yang tersedia untuk dipakai di browser.

Di tahun 2014, harapan menanam OS Android di kamera tetap tak lebih mudah dari memasang SIM card seluler di kamera juga. Coba juga hitung berapa kamera DSLR dan mirrorless yang dilengkapi bluetooth. Fitur wifi terbatas hanya untuk komunikasi antargadget, bukan untuk terhubung ke web. Namun tetap ada kemungkinan, produsen kamera dengan fungsi remote control di mobile application akan meluncurkan jasa cloud, seperti iCloud-nya Apple dan Google Drive.

Kamera

Di tahun 2014 kamera mirrorless semakin merajalela. Data penjualan dunia menunjukkan hal tersebut, demikian pula Indonesia. Pendekar ber-DSLR mengeluhkan berat, terutama berat lensa, dan ukuran. Sementara pemotret pemula enggan dengan kesan rumit DSLR dan perempuan yang hobi motret suka dengan keringkasan mirrorless yang mudah dibenamkan di tas mereka sehari-hari.

Di tahun 2014 jika tak ada inovasi teknologi dari marketleader dunia Canon, agresivitas Sony mengancam. Hal yang sama berlaku untuk Nikon, karena penggemar fanatiknya mulai kritis. Di lapis kedua, ada ancaman daripara jawara mirrorless Olympus, FujiFilm dan Panasonic.

Dominasi kamera Negeri Matahari Terbit diperkirakan lebih dari 90 persen, sementara sisanya diperebutkan Negeri Ginseng dan kamera-kamera buatan Eropa. Produsen kamera Negeri Tirai Bambu diperkirakan mulai coba-coba bikin mirrorless. Namun pabrikan rumah tangga di negeri itu belum terlalu punya nyali terjun ke DSLR, karena menganggap resiko merakit smartphone lebih kecil.

Pada tahun 2014 semakin banyak kamera ber-layar sentuh alias touch screen. Konsumen menyukai karena tersihir kebiasaan memakai layar smartphone. Kamera DSLR pertama di dunia berlayar sentuh sudah dirilis Canon tahun 2013.

Di tahun 2014 wifi connectivity di DSLR & mirrorless jadi pengimbang kamera smartphone yang mobile & ringkas. Kamera smartphone tak bisa menyamai DSLR, sementara pasar kamera semakin digerus smartphone berkamera. Pertambahan tingkat internet literacy dan pertumbuhan media sosial menuntut kemudahan berbagi foto. Selain itu, mobile application untuk remote control di kamera menjadi fitur andalan para pemasar kamera di 2014.

Fitur video di kamera mirrorless menjadi salah satu bahan kompetisi di 2014. Konsumen bakal mengkritisi sistem AF di fitur video kamera mirrorless. Hal yang dikritisi meliputi akurasi sistem AF dan kesenyapan motor AF.

Jumlah pemotret berkamera film di 2014 terancam kelangkaan film, chemical & kertas. Harga melambung dan semakin sedikit pelaku kamar gelap konvensional. Fans kamera lomo dan holga hanyut dalam gelora mobile application berefek retro, terutama lantaran bisa seketika di-share ketimbang film konvensional yang butuh waktu.

Sesuai tulisan saya di Kompas, tahun 2014 era kamera saku berakhir. Tergencet entry-level DSLR, mirrorless, smartphone berkamera. Namun smartphone berkamera dapat saingan kamera mirrorless & DSLR dengan fitur wifi transfer. Di akhir 2014 kekuatan kedua blok ini bakal berakhir sama kuat.

Lensa

Di tahun 2014 demand terhadap kualitas lensa dikritisi kesukaan pemotret awam memakai efek retro di mobile application. Ada lensa-lensa yang berkualitas prima, namun sirna khasiatnya jika ketajaman dan warna “dihancurkan” dengan olah digital. Apalagi jika berhadapan dengan efek retro di mobile application, yang mengadaptasi kerendahan teknologi di jaman baheula.

Sementara itu, tahun 2014 semakin banyak bertabur lensa untuk mirrorless. Produsen 3rd party pun diperkirakan bakal memberi banyak opsi lensa. Namun, kualitas optik sedemikian banyak lensa untuk kamera mirrorless akan dikritisi, baik di kualitas optika maupun harga.

Asesoris

Asesoris fotografi akan berevolusi seiring dinamika pemilihan kamera dan subyek foto di 2014. Akan banyak asesoris yang mendukung kamera mirrorless, dengan harga kompetitif, seperti tripod ringkas, filter kreatif, cover kamera yang bisa digonta-ganti, camera body strap dan tas kamera yang modis.

Bisnis

Bisnis traveling photography bagus di 2014. Banyak orang yang suka jalan2 dan belajar motret. Banyak pula traveler berkamera, karena harga terjangkau dan model semakin ringkas. Namun bisnis Indonesia di 2014 terpengaruh pemilu dan pilpres.

Bisnis foto wedding 2014 diperkirakan lebih mobile dan portable mengadapi smartphone dan mirrorless yang mudah dioperasikan. Fenomena ini membuat fotografer wedding lebih kreatif menyediakan jasanya. Tapi evolusi foto wedding semacam ini baru canggih di 2015 ketika semakin banyak konsumen yang memperoleh album foto wedding dalam bentuk digital.

Album digital wedding bakal berisi multimedia foto dan video berbungkus animasi. Selain itu, fitur instant sharing akan dimanfaatkan fotografer wedding di venue saat acara berlangsung. Tamu-tamu bisa membawa pulang cinderamata, berupa foto mempelai dan foto bersama mempelai serta peristiwa-peristiwa dramatis, di smartphone mereka.

Secara nasional, bisnis stock photo terpengaruh pemilu dan pilpres di tahun 2014, sebagai dampak dinamika perekonomian Indonesia. Sementara secara global, bisnis stock photo semakin kompetitif karena semakin banyak populasi kamera dan semakin banyak media yang membutuhkan foto.

Di tahun 2014 toko kamera bertambah, terutama toko untuk pasar kelas menengah-atas. Konsumen terkutub menjadi 2: price-sensitive dan service-sensitif. Toko-toko kamera tradisional dan konvensional bakal perlahan berevolusi menjadi tempat yang nyaman untuk komunitas yang suka belanja berkelompok, atau sekedar bertemu dan mengobrol. Namuan ada pula fenomena yang mungkin terlihat di 2014 yakni perkembangan 2nd hand market yang semakin gurih.

Komunitas

Fotografi semakin populer di tahun 2014. Semakin banyak orang paham fotografi. Komunitas fotografi bertumbuh, kegiatan fotografi menjamur. Penyuka fotografi butuh wahana aktualisasi diri.

Sementara itu, pemotret amatir butuh eksistensi. Artinya, media sharing dan pamer fotografi semakin dibutuhkan. Di sisi lain, fenomena ini jadi potensi pelanggaran hak cipta. Banyak maling foto beraksi di media berbagi dan pamer foto yang tak bonafide dan tak bisa menegakkan wibawa hak cipta dan hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Arus deras informasi membawaketerbukaan di fotografi. Fotografer jadi kritis dan membuat internet jadi referensi di 2014. Seperti suatu kewarganegaraan digital, demikian para fotografer fanatik pada forum fotografi yang menjadi tempat mereka mengacu dan berlindung.


Kebhinekaan Kita adalah Kekayaan Kita

Tulisan ini adalah kata pengantar saya untuk e-book #FNstreethunting 2013, yang bisa diunduh gratis di: Fotografer.net


Pada tanggal 20 Oktober 2013 fotografer Indonesia menorehkan sejarah. Sebanyak 3.880 fotografer secara serentak di 55 kota di seantero Nusantara menggelar street photography hunting, #FNstreethunting. Kegiatan akbar ini berangkat dari inisiatif anggota Fotografer.net (FN), secara swadaya dan swakarsa: dari, oleh dan untuk anggota FN.

Tahun 2013 adalah kali ketiga para anggota FN menggelar #FNstreethunting serentak. Pada 2011 berkumpul 2.000 fotografer di 35 kota secara serentak, lantas tahun 2012 meningkat menjadi 2.500 fotografer di 49 kota. Setiap tahun, FN menerbitkan e-book berisi foto-foto dari seluruh kota untuk mengabadikan evolusi budaya dan mengapresiasi karya semua fotografer yang terlibat.

Penghargaan setinggi-tingginya diberikan kepada para inisiator tiap kota, yang secara sukarela menyumbang tenaga dan ide. Kesuksesan ini adalah kebanggan kita semua, prestasi kita bersama.

Atas nama para 3.880 fotografer yang terlibat di #FNstreethunting 2013 di 55 kota, perkenankan kami di FN dan Exposure Magz mempersembahkan buku yang sederhana ini. Sumbangsih kami yang apa adanya untuk khalayak fotografi Indonesia.

Secara karya, foto-foto ini belum apa-apa dibanding karya banyak rekan sejawat lainnya di Indonesia. Namun dengan rendah hati kami menyumbangkan semua yang kami punya untuk negeri ini. Secara fisik, kami sudah hadir dalam kebersamaan yang hangat dan murni. Secara batin, kami sudah terikat dalam persahabatan yang bersih dan kritis.

Kami mengusung rasa persatuan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia melalui fotografi. Dari setiap kota yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, kami beranikan diri mengikat rasa kebersamaan untuk Persatuan Indonesia dengan cara fotografi.

Fotografer sudah turun ke jalan, menjadi saksi sejarah dan mengabadikannya untuk anak cucu. Kami melihat, kami merasa dan kami berpikir lantas menuangkannya spontan dalam karya-karya foto di buku ini. Tanpa beropini, kami sajikan fotografi yang bicara kejujuran.

Pada 28 Oktober 1928 para pemuda sudah bersumpah mempersatukan Indonesia dalam kesatuan bangsa, bahasa dan Tanah Air. Sekarang 85 tahun kemudian, perkenankan kami mengobarkan nyala api persatuan dengan cara fotografer Indonesia, yang berasal dari berbagai daerah, berbagai jenis kamera dan berbagai komunitas. Kebhinekaan kita adalah kekayaan kita.

Fotografer bisa mati, namun karya foto niscaya abadi.

Biar foto yang bicara.

e-Book #FNstreethunting 2013

#FNstreethunting 2013 digelar secara serentak di 55 kota pada 20 Oktober 2013 dan dihadiri 3.880 fotografer anggota Fotografer.net


Ketika Media Cetak Berguguran, Exposure Tetap Tegar

image

Majalah berita ternama Newsweek di AS pada hari Kamis (18/10) mengumumkan penghentian edisi cetak per 31 Desember 2012. Alasan penghentian berupa penurunan iklan dan pelanggan memotivasi majalah itu untuk total terbit digital. Keputusan Newsweek jadi bahan perbincangan, karena media tradisional semakin ditinggalkan.

Media-media di Indonesia bisa jadi tak kuatir, lantaran para pelanggannya masih doyan pegang koran dan majalah dalam bentuk fisik. Media-media di AS seperti Time dan The Economist juga masih bertahan terbit edisi cetak, meski Far Eastern Economic Review sudah berhenti cetak. Tak dipungkiri bahwa Time dan The Economist sudah merintis terbit digital, terima iklan digital dan pelanggan berbayar digital.

Majalah fotografi regional Exposure http://www.exposure-magz.com tak kuatir dengan tren ini lantaran sejak pertama terbit sudah digital. Diluncurkan perdana 8 Agustus 2008, Exposure terbit dalam format PDF yang bisa diunduh gratis. Belakangan Exposure terbit pula dalam edisi web untuk berita harian, yang juga gratis.

Terbit dwibahasa, majalah yang diterbitkan oleh FotograferNet ini dipimpin Chief Editor Farid Wahdiono. Oplah per bulan sebanyak rata-rata 7.000 unduhan. Namun, tak ada batasan untuk penggandaan unduhan secara swakarsa. Pembaca Exposure diasumsikan 4-5 kali lebih banyak dari jumlah unduhan.

Menanggapi terbitan dalam format digital, Exposure pun menerbitkan iklan dalam bentuk audio-video. Artikel-artikel isi majalah sudah tentu bisa disertai ilustrasi visual bergerak disertai suara. Kepeloporan Exposure dalam media digital tak mudah. Pengiklan tradisional tak gampang beralih ke digital. Namun ketika jaman berubah, Exposure sudah berada di depan karena berpengalaman dan terpercaya. Harga iklan pun tentu sudah tak sama lagi dengan kala pertama Exposure terbit lebih dari 4 tahun yang lalu.



Megapiksel, Seberapa Penting? #megapiksel #FN9

Kamera digital semakin modern seiring perkembangan teknologi digital. Megapiksel sebagai satuan resolusi sensor kamera digital jadi tolok ukur. Padahal megapiksel selayaknya disikapi dengan benar dan bijaksana.

Asumsi pertama, semakin besar megapiksel maka semakin bagus kualitas foto. Asumsi ini benar dan tidak benar. Benar, karena biasanya kamera beresolusi tinggi dibarengi teknologi canggih. Tidak benar, lantaran kualitas foto lebih ditentukan oleh fotografer, the man behind the camera, dan piranti-piranti pendukung, seperti lensa.

Asumsi kedua, semakin besar megapiksel maka semakin mahal harga kamera. Asumsi ini juga benar sekaligus tidak benar. Benar, karena harga keping sensor semakin mahal seiring dengan resolusi. Tidak benar, lantaran saat ini sudah banyak kamera saku dan kamera ponsel beresolusi hingga 12 megapiksel, bahkan lebih, yang berharga terjangkau orang banyak.

Argumentasi megapiksel akan bermuara pada kebutuhan mencetak foto. Tapi di era digital ini, seberapa sering Anda mencetak foto? Seberapa besar pula foto Anda cetak?

Karya fotografer profesional bisa dipasang pada papan reklame 5×10 meter. Tapi resolusi untuk gambar di papan reklame hanya 72 dpi, karena tak mungkin orang mengamatinya dari jarak sejengkal. Pertengahan tahun 2000, kamera DSLR 6 megapiksel sudah bisa menghasilkan foto untuk billboard 5×10 meter dalam kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebagai fotografer amatir, foto bisa dipamerkan dan diperjualbelikan sebagai karya seni. Lazimnya ukuran foto untuk pameran berkisar pada 30×40 cm dan 40×60 cm, jarang yang diperbesar hingga 50×75 cm. Seberapa sering pula karya Anda dipamerkan dan dibeli orang sebagai karya seni?

Menenteng kamera canggih, sudah pasti menampilkan kesan mentereng. Tapi jika foto-foto yang dihasilkan kamera itu hanya untuk diunggah ke Facebook, tentu sudah sepatutnya kita tempatkan megapiksel secara bijaksana.

Jika mengikuti kenginan, tak ada batasnya. Tapi kebutuhan punya pertimbangan rasional.


Kodak Pailit, Bukti Dinamika Fotografi

Kodak High-Speed Infrared HIE dan Kodak Ektachrome Plus EPP. Foto oleh Kristupa Saragih

Kodak High-Speed Infrared HIE dan Kodak Ektachrome Plus EPP. Foto oleh Kristupa Saragih

Kamis, 19 Januari 2012 jadi hari yang selalu dikenang dalam sejarah fotografi. Raksasa fotografi Kodak membukukan kebangkrutan secara resmi di negara tempatnya berdiri, AS. Perusahaan ternama dunia ini tutup usia meninggalkan nama besar, sekaligus hutang sebesar lebih dari 6 milyar dolar AS.

Berdiri secara resmi sebagai Eastman Kodak Company pada 1892, sang pendiri George Eastman sudah memulai usahanya sejak 1880. Mulanya sebagai produsen plat cetak, Kodak adalah perusahaan pertama pembuat film rol pada 1885. Tahun 1888 juga tercatat sebagai sejarah fotografi, Kodak memproduksi kamera single focus yang secara populer dipakai oleh fotografer amatir.

Banyak hal yang pertama, dan lantas menjadi terbesar, yang dilakukan Kodak. Selain sebagai penemu film rol, Kodak pulalah yang memproduksi pertama kali film berwarna pada tahun 1935. Dinamai Kodachrome, film warna pertama itu berupa film positif alias slide. Kodak juga mempopulerkan pertama kali kamera instan bernama Instamatic pada tahun 1960-an, bersaing dengan Polaroid.

Kodak juga yang pertama kali memproduksi kamera digital pada 1986. Dimulai sejak penemuan teknologi fotografi digital pada 1975, juga oleh insinyur-insinyur Kodak, sensor digital pertama pada 1986 beresolusi 1,4 juta piksel dan cukup untuk membuat foto 5R berukuran 5×7 inci.

Teknologi kamera digital digunakan pertama kali di event dunia juga oleh Kodak. Modul digital bernama Kodak DCS (Digital Camera System) beresolusi 1,3 megapiksel ditanam di Nikon F3 pada 1991, total seharga 20 ribu dolar AS. Besar modul Kodak DCS hampir sama dengan bodi Nikon F3 dan membuat bobotnya berlipat ganda, dengan modul penyimpan file foto secara terpisah.

Teknologi yang pertama kali dikembangkan oleh Kodak inilah yang kemudian menggulung hidupnya sendiri. Kodak disusul Sony, Panasonic, Nikon dan Canon lantas tenggelam dalam pusaran industri peralatan fotografi digital. Padahal, Kodak dulu pernah jaya, selain sebagai produsen film, juga sebagai produsen terkemuka kertas foto dan bahan kimia pemroses film dan kertas foto. Kodak juga memproduksi kamera digital saku hingga akhir hayatnya.

Fotografer-fotografer yang lahir di era film pasti ingat kejayaan Kodak T-Max, film hitam-putih yang legendaris itu. Kodak T-Max ISO 100 berkode TMX, dan ISO 400 berkode TMY. Ilford juga dikenal sebagai produsen film dan kertas ternama, tapi ada rasa berbeda jika memotret dengan T-Max lantas diproses dengan developer Kodak D76. Fotografer profesional pun belum terasa mantap hati jika tak memotret dengan Kodachrome Professional 100 berkode EPP itu.

Meski memproduksi kamera digital, Kodak ternyata tak mampu bertahan di kedahsyatan arus perkembangan teknologi fotografi digital. Fuji Film, pesaingnya dari Jepang, masih berusaha bertahan. Kamera termutakhir dari Fuji Film didesain retro bertipe X10 dan X100.

Entah akan bertahan lama. Film merk Sakura sudah tutup usia jauh lebih dahulu. Pabrik film Konica sudah membeli Minolta tahun 2000-an, namun sekarang Konica-Minolta sudah diakuisisi Sony. Siapa sangka raksasa sebesar Kodak yang pernah terdaftar di bursa Wall Street harus “delisted” bahkan pailit?

Saya masih menyimpan Kodak High-Speed Infrared berkode HIE format 135 dan Kodak Ektachrome Plus 100 format 120 berkode EPP, masing-masing 1 rol. Biar menjadi kenangan, lantaran meski masih punya kamera film tapi sulit mencari tempat proses dan biayanya mahal.

Bagi fotografer amatir alias pehobi yang fanatik film, memotret dengan film bisa jadi menyimpan kesenangan tersendiri. Tapi fotografer profesional mungkin tak akan pernah lagi memotret dengan film, kecuali untuk proyek pribadi atau memang dipesan klien yang membayar mahal.

Kepailitan Kodak bukan semata hanya bisa disikapi secara bisnis. Kodak menjadi bukti bahwa duia fotografi dinamis. Dalam fotografi tak ada yang abadi kecuali karya foto dan nama fotografer pembuatnya, serta pesan yang terkandung di dalam foto.


#FNstreet 30 Oktober 2011 Momentum Tak Terlupakan #FN9

Pada hari Minggu, 30 Oktober 2011 kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) telah membuat sejarah. Sebanyak lebih dari 1.700 fotografer di 35 kota di hampir seluruh Indonesia dan beberapa negara dunia menggelar street photo hunting serentak.

Street photo hunting yang digelar serentak itu diberi sandi tandapagar #FNstreet dan #FN9.

Tak ada kota yang punya persiapan lebih dari seminggu kecuali Jakarta, Jogja dan Batam. Jakarta dengan Jakarta Street Hunting #JASH pada 2011 ini menggelar street photo hunting untuk kali ketujuh. Sementara Jogja Street Shoot #JoSS adalah kali ketiga pada 2011 ini, dan Batam Street Hunting #BASH baru pertama digelar di Batam.

Selebihnya, semua kota di luar Jakarta, Jogja dan Batam hanya punya waktu persiapan kurang dari seminggu. Bahkan ada kota yang baru menyatakan ikut bergabung untuk hunting serentak ini 2 hari menjelang pelaksanaan.

Kita paham, bahwa keberadaan kita di kota masing-masing adalah bagian dari komunitas fotografi di tempat tinggal kita. Kita pun paham perihal keberadaan kota tempat tinggal kita sebagai bagian dari peta fotografi nasional. Dan kita pun sewajarnya menerima diri sebagai bagian dari pergaulan fotografi internasional.

Kita gelar street photo hunting di kota masing-masing secara sukarela. Tak ada panitia yang dibayar, apalagi menjaring keuntungan pribadi. Peserta pun tak membayar, dan tak ada yang dipaksa-paksa untuk ikut.

Acara street photo hunting serentak FN jauh dari iming-iming dalam bentuk apapun, kecuali kebersamaan dalam persahabatan sejati. Manusia adalah makhluk sosial, dan fotografer hidup secara komunal. Kita pelihara persahabatan komunitas fotografi agar senantiasa bersih dari materialisme.

Kita mungkin bisa selalu menjadi pemula dalam fotografi. Banyak pula kawan-kawan fotografer yang pemalu dan penyendiri. Tapi justru melalui fotografi kita terpapar pada kemuliaan hidup bersaudara yang tulus.

Kita bukan siapa-siapa dibanding orang-orang yang bertitel seniman terkenal di bidang seni rupa atau orang-orang yang mencap diri sebagai praktisi seni fotografi. Namun kita percaya bahwa kita bicara jujur secara visual, melalui bahasa fotografi. Tanpa peduli titel dan tanpa pamrih puja-puji, kita berkarya dalam sepi namun penuh sesak oleh keharuan persahabatan fotografi.

Jarak dan waktu memisahkan kita secara fisik, tetapi jiwa kita disatukan oleh kecintaan pada fotografi. Kita yakin bahwa pertemanan dimulai dari saling percaya, dan persahabatan fotografi dilandasi oleh keterbukaan dan kejujuran. Oleh karena itu, meski tanpa iming-iming hadiah pun banyak fotografer yang mengikutsertakan diri.

Kita jauh dari gempita fotografi komersial, kita pun tak menjadi bagian kemegahan fotografi jurnalistik. Namun di jalanan justru kita temukan kebersamaan tanpa batas, yang egaliter dan murni. Hidup di jalanan keras, kata orang, namun kehalusan sanubari kita mengemasnya menjadi karya fotografi yang layak pirsa.

Ucapan terimakasih kita sampaikan kepada kawan-kawan yang telah mengorganisir street photo hunting di kota masing-masing. Kita percaya bahwa dalam persahabatan fotografi yang tulus dan murni, jerih payah kita tak sia-sia.

Biar foto yang bicara tentang suara hati nurani kita.

 


Tautan:

Liputan Fotografer.net Street Hunting 2011 #FNstreet #FN9


Fotografi adalah Sarana Belajar Mengerti

Sebuah foto dikritik habis, sementara foto lain sarat puja-puji. Seorang pemirsa foto manggut-manggut sambil acung jempol, sementara pemirsa lain mengernyitkan dahi kepada foto yang sama.

Sebuah foto tak berarti tanpa pemirsa. Dan sebuah ide hanya bisa jadi cemerlang jika diwujudkan dalam foto. Itulah hakikat foto sebagai bahasa komunikasi visual.

Komunikasi tentu butuh 2 pihak: komunikator dan komunikan. Jika pemirsa foto tak mengerti, maka fotografer tak berhasil menyampaikan pesan. Sesederhana apapun pesan itu, musti sampai ke benak pemirsa.

Fotografer haram meminta-minta dimengerti karya fotonya. Adalah hak tiap pemirsa untuk menginterpretasi secara bebas. Karena kebebasan adalah syarat kreativitas, dan kreativitas adalah motor fotografi.

Demikianlah fotografer musti memahami cara berpikir para pemirsa karya-karyanya. Tanpa belajar mengerti, fotografer tak akan berhasil menyampaikan pesan-pesan dari benaknya.

Tatkala belajar memotret pun, fotografer musti memahami prinsip dasar dan logika pencahayaan. Menghapalkan teori fotografi tak bakal menelurkan pemahaman logika. Dalam fotografi tak ada dogma. Dan setiap teori yang dipelajari musti dibuktikan sendiri di lapangan.

Ketika memotret pun hakikat mengerti masih berlaku. Seorang fotografer arsitektur tak menghasilkan karya cemerlang tanpa mempelajari karya arsitektur yang dipotretnya. Seorang fotografer makanan bisa jadi terkendala dalam pekerjaan memotret jika tak mengerti bahan-bahan penyusun makanan yang dipotretnya.

Alangkah aneh seorang fotografer perjalanan tak bisa menjelaskan subyek-subyek fotonya sepanjang perjalanan. Alangkah naif seorang pewarta foto jika hanya bertugas mengandalkan agenda acara resmi dan memotret ketika semua pewarta foto lain juga membuat foto yang kurang lebih sama.

Pekerjaan memotret bisa jadi kacau balau tatkala fotografer pernikahan tak paham acara adat yang ditugaskan kepadanya. Bahkan seorang fotografer pasfoto bisa dapat masalah besar jika tak tahu nama orang yang dipotret, atau silap menamai foto.

Mengerti dan memahami bersifat aktif. Mulai dari fotografer sebagai komunikator, melalui karya foto sebagai media komunikasi visual.

Kita percaya bahwa fotografi bertujuan membawa harkat hidup yang lebih baik untuk umat manusia. Berkarya tanpa pamrih niscaya membersihkan niat luhur dari keinginan untuk dikagumi dan hasrat bergelimang puja-puji. Kita juga percaya bahwa kerendahhatian dan pikiran terbuka melandasi kreativitas fotografi.

Biar foto yang bicara.