Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Traveling

Kairaku-en, Salah Satu Taman Terbaik di Jepang #Ibaraki

KSTT3498_Japan_Ibaraki_2015

Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Ada banyak taman indah di Jepang, namun tak banyak yang sarat nilai sejarah. Dari taman-taman bersejarah itu ada satu yang terkenal karena bunga pohon plum nan indah, Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang.

Sebagai salah satu dari Three Great Gardens of Japan日本三名園 Nihon Sanmeien, memang Kairaku-en, bagi orang asing, tak sefamiliar taman Kenroku-en di Prefektur Kanazawa dan taman Koraku-en di Prefektur Okayama.

KSTT3512_Japan_Ibaraki_2015

Bunga sakura yang mekar 2 kali dalam setahun, pada musim semi dan musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

Berarti “taman untuk dinikmati rakyat”, Kairaku-en dibuat oleh pembangunnya untuk rakyat. Buka tiap hari sepanjang tahun dan gratis. Jika di Jepang taman lazimnya dibangun untuk dinikmati para tuan penguasa daerah, tidak demikian dengan Kairaku-en. Nariaki Tokugawa, seorang penguasa daerah, alias daimyo Mito pada awal tahun 1800-an, yang bertekad mulia ini.

Kairaku-en ramai dikunjungi pada musim berbunga pohon plum, mulai akhir Februari hingga Maret. Ada 3.000 pohon plum di Kairaku-en yang terdiri atas lebih dari 100 varian, yang utamanya berbunga warna putih, merah dan merah muda. Ada Festival Plum Mito yang digelar tiap tahun pada tanggal 20 Februari hingga 31 Maret.

KSTT3537_Japan_Ibaraki_2015

Pemandangan Kairaku-en dinikmati dari dalam Kobuntei. Foto: Kristupa Saragih

Selain pohon plum, Kairaku-en juga terkenal karena hutan kecil bambu dan cemara. Ada rumah tradisional Jepang bernama Kobuntei yang dipakai untuk keperluan pendidikan dan kunjungan wisatawan.Dari lantai atas Kobuntei, pengunjung bisa memandang ke seantero Kairaku-en dan Danau Senba.

KSTT3548_Japan_Ibaraki_2015

Dedaunan di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang menguning di musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3551_Japan_Ibaraki_2015

Suasana senja di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Berkunjung ke #Ibaraki Prefectural Government Building, Jepang

KSTT3459_Japan_Ibaraki_2015

Lantai 25, lantai teratas di Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang dengan jendela pandang yang berdesain modern dan berlantai karpet. Foto: Kristupa Saragih

Setahu saya, di Tanah Air tak banyak kantor pemerintahan provinsi di gedung tinggi. Kebanyakan malah memanfaatkan gedung-gedung bersejarah peninggalan era kolonial.

Namun di Jepang, hampir semua kantor pemerintahan prefektur, setingkat provinsi, jadi satu di gedung yang sama. Hal yang sama berlaku untuk pemerintah kota. Bahkan legislatif berkantor di gedung yang sama dengan eksekutif. Berbeda dengan Indonesia, yang punya kantor-kantor pemerintahan terserak di mana-mana, sehingga boros waktu dan biaya untuk transportasi.

KSTT3476_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung memotret pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki, Jepang dari jendela pandang di lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki. Foto: Kristupa Saragih

Mirip seperti pemerintah Tokyo Metropolitan yang berkantor di gedung setinggi 243 meter dan berlantai 48, Ibaraki Prefectural Government Building alias 茨城県庁舎 Ibaraki-ken Shōsha, berkantor di gedung pencakar langit. Berlantai 25 setinggi 120 meter, Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menjulang di antara bangunan-bangunan lain di ibukota Mito, yang kebanyakan tak tinggi.

Dengan populasi 2,9 juta jiwa, Prefektur Ibaraki yang setingkat provinsi di Indonesia, kira-kira sepadan dengan Kota Surabaya, Jawa Timur yang berpopulasi 2,7 juta jiwa. Namun dari koordinasi di pemerintahan mencerminkan efisiensi sekaligus keseriusan pemerintah Ibaraki membangun dan mengelola daerahnya.

Berarsitektur modern, kantor ini selesai dibangun tahun. Bersih. Dinding berhias dekorasi khas zen. Tak ada spanduk-spanduk, yang simbolis dan sebenarnya tak perlu, melambai-lambai tak artistik, seperti kantor-kantor di Tanah Air.

IMG_5320_Japan_Ibaraki_2015

Interior lobi gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Resepsionis ramah dan melayani dengan profesional. Tak ada pegawai ngobrol-ngobrol atau duduk-duduk di interior gedung. Setiap staf yang dijumpai membungkuk memberi hormat khas Jepang, yang keberadabannya perlu jadi benchmark Negeri Pancasila.

Sebelum rapat dengan pemerintah Prefektur Ibaraki dan sejumlah praktisi pariwisata Ibaraki, saya terkagum-kagum dengan akses yang mudah hingga lantai 25 tanpa mengabaikan peran petugas keamanan.

Di lantai teratas gedung pemerintah milik rakyat Ibaraki ini, ada galeri pandang berjendela kaca sepanjang gedung, setinggi langit-langit. Gratis, bersih, modern dan informatif.

KSTT3475_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menikmati pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung. Foto: Kristupa Saragih

Dari lantai ini terlihat sejauh mata memandang hamparan kota Mito dan prefektur Ibaraki.

Di lantai ini pun ada kantin kecil, yang penataan kursinya efisien dan mengindahkan estetika sehingga semua meja bisa menikmati pemandangan dari jendela kaca. Meski sedang ramai pengunjung yang mengobrol, kantin ini relatif senyap dan tak mengganggu pengunjung yang sedang menikmati pemandangan dari jendela.

KSTT3468_Japan_Ibaraki_2015-2

Kantin kecil di salah satu sudut lantai 25, lantai teratas gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

IMG_5365-1_Japan_Ibaraki_2015

Eksterior salah satu sudut gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3472_Japan_Ibaraki_2015

Panorama ibukota Mito dan Prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Pasar Ikan dan Lelang Bunga di Pasar Grosir Mito #Ibaraki

KSTT3328_Japan_Ibaraki_2015

Sepasang kakek-nenek berbelanja di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Bicara tentang pasar ikan, ada pasar ikan di Jepang yang terkenal dengan lelang di dini hari, Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo. Namun, siapapun yang pernah berkunjung ke Tsukiji, pasti pernah menikmati antrian panjang dan kunjungan singkat. Bahkan sempat ada cerita, tak bisa berkunjung pagi itu jika pengunjung sudah terlalu banyak.

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Mirip dengan Tsukiji, lelang ikan di Pasar Grosir Kota Mito di Prefektur Ibaraki, Jepang menjanjikan aktivitas serupa namun tanpa antre. Belum banyak orang tahu tentang pasar ikan di Mito, yang jam kegiatannya sama dengan Tsukiji. Padahal jarak kota Mito dari Tokyo hanya sekitar satu setengah jam perjalanan bermobil. Konon pula, Pasar Grosir Kota Mito ini merupakan salah satu pasar grosir terbesar dan kondang di Negeri Matahari Terbit.

Tak hanya menyimak lelang ikan, pengelola Pasar Grosir Kota Mito juga membawa pengunjung ke penyimpanan ikan. Siap-siaplah merasakan udara bersuhu minus 20 derajat Celcius ketika masuk ke gudang penyimpanan ikan. Super dingin dan kering, demi menjaga kesegaran produk-produk bahari agar tetap nikmat ketika dikonsumsi.

KSTT3302_Japan_Ibaraki_2015

Persiapan distribusi buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito juga mewadahi kegiatan perdagangan sayur mayur dan buah-buahan. Konon, orang menyebut Mito, ibukota Prefektur Ibaraki, sebagai daerah produksi utama sayur mayur dan buah-buahan penduduk metropolitan Tokyo.

KSTT3340_Japan_Ibaraki_2015

Sayur mayur dan buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Setiap hari ribuan ton sayur mayur, buah-buahan dan produk-produk turunannya berseliweran di pasar ini. Baik produk pertanian Prefektur Ibaraki maupun dari daerah-daerah lain di seantero Jepang.

Pasar yang dibuka tahun 1972 ini memiliki volume perdagangan 96,7 milyar Yen per tahun, atau sekitar Rp 10 triliun. Ada lebih dari 50 perusahaan dagang yang beraktivitas di sini, yang digerakkan lebih dari 1.000 pekerja.

Demikian pentingnya posisi Pasar Grosir Kota Mito sebagai gerbang masuk ke Tokyo. Bahkan buah-buahan impor pun banyak terdistribusi melalui pasar ini. Dari pasar ini, komoditas perdagangan bergerak ke supermarket-supermarket dan perusahaan pengolah makanan.

Terlihat tumpukan kardus-kardus berisi pisang dari Filipina di salah satu sisi. Sementara di sisi lain ada tumpukan karton-karton berisi buah naga besar-besar dan segar dari Vietnam. Impor dalam bentuk buah utuh, tiba di Mito lantas dikemas rapi dengan bungkusan plastik berlabel dan kotak karton.

KSTT3325_Japan_Ibaraki_2015

Buah-buahan dari seantero Jepang dan impor dari luar Jepang didistribusikan dari Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Hal menarik lainnya, Pasar Grosir Kota Mito ternyata juga menyediakan tempat lelang bunga dan pohon. Seumur-umur lihat ada lelang bunga dan pohon baru di Mito ini.

Bukannya ecek-ecek, lelang bunga berlangsung seperti lelang ikan di Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo, Jepang dan Pasar Ikan Sydney di Australia. Ada deretan bangku pembeli, dengan susunan ala teater. Tanaman yang dijual diatur di ban berjalan. Display harga dan pembeli memakai tampilan sejumlah layar monitor komputer. Rapi jali.

KSTT3435_Japan_Ibaraki_2015

Suguhan buah-buahan segar potong dan berbagai produk Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang suguhan dari pengelola pasar. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito alias Mito City Public Wholesale Market terbuka untuk umum. Namun pengunjung agar menghubungi terlebih dahulu pengelola pasar beberapa hari di muka. Selain menjamin Anda dapat pemandu, ada baiknya pengunjung terhindar dari hal-hal yang mengganggu aktvitas pasar.

Jika beruntung, di akhir kunjungan, Anda bisa disuguhi buah-buahan segar dan sayur-mayur yang sudah dimasak. Mulai dari jeruk segar tanpa biji, ubi rebus manis berukuran besar hingga sup labu yang hangat.

KSTT3299_Japan_Ibaraki_2015

Produk buah segar yang dijual di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3308_Japan_Ibaraki_2015

Sebelum dikemas, buah-buahan segar dibersihkan dan disusun dalam kotak-kota karton, lantas siap didistribusikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3322_Japan_Ibaraki_2015

Berbagai produk buah-buahan dan sayur mayur siap didistribusikan dari Pasar Grosir Kota MIto, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3334_Japan_Ibaraki_2015

Produk sayur mayur dan buah-buahan Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang sedang dipilih-pilih oleh pembeli. Foto: Kristupa Saragih

 

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3351_Japan_Ibaraki_2015

Pasar ikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Meski ramai dan banyak dagangan, namun pasar ini bersih dan tak berbau. Sulit menemukan sampah barang secuil. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Situasi lelang bunga di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3397_Japan_Ibaraki_2015

Lelang bunga didukung teknologi canggih, harga dan pembeli terpampang di layar monitor komputer, di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Deretan bunga-bunga di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3416_Japan_Ibaraki_2015

Situasi di belakang lelang bunga, ribuan tangkai bunga mengantre giliran di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3407_Japan_Ibaraki_2015

Puspa ragam bunga dari seantero Jepang di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3422_Japan_Ibaraki_2015

Para perempuan pekerja di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Prajurit Keraton Yogyakarta di Grebeg Syawal 2014

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Memotret prajurit Keraton Yogyakarta sudah berkali-kali saya lakoni sejak awal 2000-an. Sejak masih jaman pakai film slide, digital SLR, hingga sekarang memakai kamera mirrorless. Ada banyak kesempatan memotret apel prajurit Keraton Yogyakarta, karena upacara adat grebeg digelar 3 kali dalam 1 tahun Masehi.

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih


Foto: Pawai Malam Takbiran 1435H di Jogja

 

Penjual wedang ronde di Alun-alun Utara Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Penjual wedang ronde di Alun-alun Utara Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Tahun ini jadi kali ketiga saya memotret pawai malam takbiran di Jogja. Pada takbiran tahun 2010, saya memotret di Alun-Alun Utara Yogyakarta, dan di-posting di Foto: Pawai Malam Takbiran 1431H di Jogja. Sementara takbiran tahun 2012, takbiran berpindah ke Alun-Alun Selatan Yogyakarta, yang saya posting di Foto: Pawai Malam Takbiran 1433H di Jogja.

Takbiran 1435H pada 2014 kembali berlokasi di Alun-Alun Utara.

 

Anak-anak menyandang atribut mainan menyerupai senapan di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Anak-anak menyandang atribut mainan menyerupai senapan di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Isu-isu aktual mewarnai atribut para peserta pawai. Karena isu Jalur Gaza antara Palestina dan Isreal sedang mencuat, banyak peserta pawai menyesuaikan atribut-atribut mereka. Ada bendera Palestina yang dikibar-kibarkan di muka barisan. Ada sebarisan anak-anak bertutup muka menyandang senapan mainan. Tentu, mereka semua berpawai sembari menggemakan takbir.

 

Photo 27-07-14 21.30.55_lowres_takbiran_jogja_2014

Atribut kendaraan lapis baja di pawai Malam Takbiran 1435H tahun 2014 berkaitan dengan isu aktual seputar Jalur Gaza di Timur Tengah. Foto: Kristupa Saragih

 

Takbiran tahun ini menjadi kali pertama saya memakai kamera mirrorless untuk memotret rangkaian pawai. Cukup memakai lensa kit 18-55, saya juga melengkapi kamera dengan flash standar ber-GN kecil, namun memadai.

Secara umum, memotret dengan kamera mirrorless jadi lebih menyenangkan karena lebih ringkas dan tak menarik perhatian. Berbeda dengan fotografer-fotografer lain peliput acara yang sama, DSLR menarik perhatian dan kerap mempengaruhi pendekatan ke subyek foto. Subyek foto bergerak tak masalah, lantaran bisa saya atasi dengan modus autofokus continuous. Sementara kondisi pencahayaan redup bisa diatasi dengan mengaktikan lampu AF-assist di bodi kamera.

Usai memotret, sembari santai menyeruput wedang ronde di tepi alun-alun, saya mentransfer foto dari kamera ke ponsel secara nirkabel alias wireless.

 

Barisan anak-anak perempuan menyerukan gema takbir pada Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Barisan anak-anak perempuan menyerukan gema takbir pada Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sederetan anak laki-laki berkostum khas Timur Tengah di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sederetan anak laki-laki berkostum khas Timur Tengah di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sekelompok anak laki-lagi berkostum khas Timur Tengah beratribut mainan mirip senjata di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sekelompok anak laki-lagi berkostum khas Timur Tengah beratribut mainan mirip senjata di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sepasang anak perempuan berkostum unik di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sepasang anak perempuan berkostum unik di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Bendera Palestina dan bendera Indonesia di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Bendera Palestina dan bendera Indonesia di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih


Foto: Pawai Malam Takbiran Idul Fitri 1433H di Jogja

Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih
Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Banyak hal yang bisa dipotret dari rangkaian acara Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari malam takbiran hingga shalat Ied esok paginya. Tentu, sebagai fotografer, harus menempatkan kekhidmatan acara agama lebih tinggi daripada kepentingan memperoleh foto bagus.

Tahun 2010 saya sempat mengabadikan pawai malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta. Tahun ini, dapat kabar mengenai festival malam takbiran di Alun-alun Selatan, langsung saja memutuskan untuk motret di sana.

Memotret arak-arakan malam takbiran mengasah naluri foto jurnalistik. Tantangannya adalah situasi pencahayaan yang redup alias low-light dan ruang gerak terbatas di tengah himpitan keramaian penonton.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya bergerak dengan perlengkapan ringkas: 1 bodi DSLR dan 1 lensa lebar, 1 flash dan sepasang wireless TTL radio transceiver. Lensa lebar dipilih karena situasi ruang gerak sempit, dan lensa tele mensyaratkan minimum focusing distance. Flash dibutuhkankan untuk mencahayai subyek foto, sementara ambient light direkam dengan penggunaan ISO tinggi 1600.

Pada saat memotret, dengan lensa 17-40mm, bukaan diafragma saya kunci di bukaan terlebar f/4. Dengan bukaan itu dan ISO 1600, di lokasi pemotretan, kecepatan rana pemotretan berkisar dari 1/8 hingga 1/60 detik. Situasi pencahayaan di tiap titik berbeda dan atribut lampu dan obor pun bervariasi dari kelompok peserta satu ke kelompok lain.

Teknik pemakaian flash untuk merekam ambient light ini disebut slow-sync flash. “Slow-sync” adalah kependekan dari “slow synchro”, untuk melambangkan kecepatan sinkron flash di bawah 1/60 detik.

Menanti giliran tampil di tempat atraksi malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Menanti giliran tampil di tempat atraksi malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Pawai obor jadi atribut utama festival malam takbiran anak-anak Kecamatan Keraton di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Pawai obor jadi atribut utama festival malam takbiran anak-anak Kecamatan Keraton di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi menarik yang sepertinya melambangkan belenggu penjajahan, karena Lebaran 2012 berdekatan dengan HUT ke-67 Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi menarik yang sepertinya melambangkan belenggu penjajahan, karena Lebaran 2012 berdekatan dengan HUT ke-67 Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Boneka berbentuk burung garuda berwarna merah putih karena malam takbiran berdekatan dengan HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Boneka berbentuk burung garuda berwarna merah putih karena malam takbiran berdekatan dengan HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang bawa meriam bambu dan ikut arak-arakan, bunyinya mengagetkan dan memekakkan telinga. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang bawa meriam bambu dan ikut arak-arakan, bunyinya mengagetkan dan memekakkan telinga. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang mengarak bendera merah-putih-biru, melambangkan penjajahan kolonial, lantaran malam takbiran masih dibalut suasana HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang mengarak bendera merah-putih-biru, melambangkan penjajahan kolonial, lantaran malam takbiran masih dibalut suasana HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Bendera Merah-Putih berukuran besar ikut diarak di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Bendera Merah-Putih berukuran besar ikut diarak di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Arakan-arakan anak-anak pembawa obor di festival malam takbiran di Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Arakan-arakan anak-anak pembawa obor di festival malam takbiran di Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih


Menikmati Senja Teluk Ambon di Atas KMP Siwalima 01

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih
KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu pekan di pertengahan bulan Mei 2012, cuaca di Ambon, ibukota Provinsi Maluku amat bersahabat. Fotografer.net (FN), komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara, menggelar FN Hunting Series 2012 di salah satu tempat indah Indonesia ini.

Dalam suasana persabatan, kawan-kawan anggota FN di Ambon berkumpul di Kedai Kopi Sibu-sibu, yang kondang di Ambon. Di tengah obrolan akrab, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Benny Gaspersz datang bergabung menikmati kopi sambil mengobrol santai dengan rombongan FN Hunting Series. Terbit tawaran untuk menghabiskan senja nan indah dengan memotret matahari terbenam dengan KMP Siwalima 01.

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Tanpa ragu, seluruh rombongan mengiyakan tawaran dan bersiap berangkat. Teluk Ambon yang indah jadi tujuan. Semua wajah berseri-seri menyiapkan kamera dan lensa serta baterai dan memori agar tak satu momen pun terlewat.

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Sebagai provinsi kepulauan, sudah selayaknya Maluku punya kapal untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata. Memotret matahari terbenam di Teluk Ambon dari daratan Pulau Ambon sudah biasa. Tapi merekam laut dan alam indah Ambon dari atas kapal jadi hal yang luar biasa.

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto di posting ini dibuat dengan Samsung Galaxy Note, semua tanpa penyuntingan.


Menyeberang Poka-Galala dengan Feri KMP Teluk Ambon

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyeberangi Teluk Ambon antara Poka dan Galala, Ambon, Maluku bisa jadi biasa dan singkat. Feri ada di mana-mana, bahkan di Provinsi Maluku yang terdiri atas ribuan pulau. Tapi 15 menit di atas feri KMP Teluk Ambon bisa jadi amat menarik dengan ponsel berkamera di tangan.

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Tiba di Bandar Udara Pattimura, Ambon pada hari Minggu (13/5), mobil berbelok kanan masuk pelabuhan Poka. Masuk perut KMP Teluk Ambon, kapal feri yang masih baru ini langsung angkat sauh.

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Feri jenis ro-ro buatan tahun 2010 ini berbobot mati 300 ton, mampu mengangkut 6 truk, 9 mobil kecil dan 80 penumpang pada saat bersamaan. Berkecepatan maksimal 9 knot, KMP Teluk Ambon dijalankan oleh 16 ABK.

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Tiket mobil kecil Rp 20 ribu saja sekali menyeberang, penumpang gratis. Dengan tiket seharga itu, perjalanan melintasi Teluk Ambon bisa dihemat 20-30 menit daripada lewat darat. Lama akses dari kota Ambon ke kampus Universitas Pattimura dan Bandar Udara Pattimura pun jadi lebih singkat.

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto dibuat dengan Samsung Galaxy Note.


Terminal 3 Changi International Airport in Panorama

Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Samsung Galaxy Note

Last month, I flew Garuda Indonesia airline from Singapore to Jakarta. The time in Departure Terminal of Terminal 3 Changi International Airport (SIN) Singapore was worth spending. I also spent a little time waiting in SATS Executive Lounge prior to proceeding to boarding gate.

For me, reading and writing while waiting for the flight is worthwile. But spending time for going around and shooting with my mobile phone brought so many things to be memorized and shared.

Here are some shots that you might get if your flight departed from Terminal 3 Changi International Airport Singapore:

Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Samsung Galaxy Note

Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Samsung Galaxy Note

SATS Executive Lounge in erminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

SATS Executive Lounge in Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Interior SATS Executive Lounge in erminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Interior SATS Executive Lounge in Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Waiting hall in departure Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Waiting hall in departure Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih


Motret Panorama di Seputar Mahboonkrong มาบุญครอง

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Di sela-sela agenda Fotografer.net Series 2012 Bangkok meliput Songkran Water Festival, 13-16 April 2012, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri street photography di kota. Tempat yang paling gampang dijangkau dan aman adalah pusat perbelanjaan kondang Mahboonkrong.

Berikut adalah foto-foto panorama di seputar Mahboonkrong menggunakan Samsung Galaxy Note pada shooting mode panorama. Tidak ada penyuntingan foto.

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih