Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Festival

Prajurit Keraton Yogyakarta di Grebeg Syawal 2014

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Memotret prajurit Keraton Yogyakarta sudah berkali-kali saya lakoni sejak awal 2000-an. Sejak masih jaman pakai film slide, digital SLR, hingga sekarang memakai kamera mirrorless. Ada banyak kesempatan memotret apel prajurit Keraton Yogyakarta, karena upacara adat grebeg digelar 3 kali dalam 1 tahun Masehi.

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih

Advertisements

Foto: Pawai Malam Takbiran 1435H di Jogja

 

Penjual wedang ronde di Alun-alun Utara Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Penjual wedang ronde di Alun-alun Utara Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Tahun ini jadi kali ketiga saya memotret pawai malam takbiran di Jogja. Pada takbiran tahun 2010, saya memotret di Alun-Alun Utara Yogyakarta, dan di-posting di Foto: Pawai Malam Takbiran 1431H di Jogja. Sementara takbiran tahun 2012, takbiran berpindah ke Alun-Alun Selatan Yogyakarta, yang saya posting di Foto: Pawai Malam Takbiran 1433H di Jogja.

Takbiran 1435H pada 2014 kembali berlokasi di Alun-Alun Utara.

 

Anak-anak menyandang atribut mainan menyerupai senapan di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Anak-anak menyandang atribut mainan menyerupai senapan di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Isu-isu aktual mewarnai atribut para peserta pawai. Karena isu Jalur Gaza antara Palestina dan Isreal sedang mencuat, banyak peserta pawai menyesuaikan atribut-atribut mereka. Ada bendera Palestina yang dikibar-kibarkan di muka barisan. Ada sebarisan anak-anak bertutup muka menyandang senapan mainan. Tentu, mereka semua berpawai sembari menggemakan takbir.

 

Photo 27-07-14 21.30.55_lowres_takbiran_jogja_2014

Atribut kendaraan lapis baja di pawai Malam Takbiran 1435H tahun 2014 berkaitan dengan isu aktual seputar Jalur Gaza di Timur Tengah. Foto: Kristupa Saragih

 

Takbiran tahun ini menjadi kali pertama saya memakai kamera mirrorless untuk memotret rangkaian pawai. Cukup memakai lensa kit 18-55, saya juga melengkapi kamera dengan flash standar ber-GN kecil, namun memadai.

Secara umum, memotret dengan kamera mirrorless jadi lebih menyenangkan karena lebih ringkas dan tak menarik perhatian. Berbeda dengan fotografer-fotografer lain peliput acara yang sama, DSLR menarik perhatian dan kerap mempengaruhi pendekatan ke subyek foto. Subyek foto bergerak tak masalah, lantaran bisa saya atasi dengan modus autofokus continuous. Sementara kondisi pencahayaan redup bisa diatasi dengan mengaktikan lampu AF-assist di bodi kamera.

Usai memotret, sembari santai menyeruput wedang ronde di tepi alun-alun, saya mentransfer foto dari kamera ke ponsel secara nirkabel alias wireless.

 

Barisan anak-anak perempuan menyerukan gema takbir pada Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Barisan anak-anak perempuan menyerukan gema takbir pada Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sederetan anak laki-laki berkostum khas Timur Tengah di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sederetan anak laki-laki berkostum khas Timur Tengah di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sekelompok anak laki-lagi berkostum khas Timur Tengah beratribut mainan mirip senjata di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sekelompok anak laki-lagi berkostum khas Timur Tengah beratribut mainan mirip senjata di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sepasang anak perempuan berkostum unik di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sepasang anak perempuan berkostum unik di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Bendera Palestina dan bendera Indonesia di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Bendera Palestina dan bendera Indonesia di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih


Foto: Pawai Malam Takbiran Idul Fitri 1433H di Jogja

Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih
Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Banyak hal yang bisa dipotret dari rangkaian acara Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari malam takbiran hingga shalat Ied esok paginya. Tentu, sebagai fotografer, harus menempatkan kekhidmatan acara agama lebih tinggi daripada kepentingan memperoleh foto bagus.

Tahun 2010 saya sempat mengabadikan pawai malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta. Tahun ini, dapat kabar mengenai festival malam takbiran di Alun-alun Selatan, langsung saja memutuskan untuk motret di sana.

Memotret arak-arakan malam takbiran mengasah naluri foto jurnalistik. Tantangannya adalah situasi pencahayaan yang redup alias low-light dan ruang gerak terbatas di tengah himpitan keramaian penonton.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya bergerak dengan perlengkapan ringkas: 1 bodi DSLR dan 1 lensa lebar, 1 flash dan sepasang wireless TTL radio transceiver. Lensa lebar dipilih karena situasi ruang gerak sempit, dan lensa tele mensyaratkan minimum focusing distance. Flash dibutuhkankan untuk mencahayai subyek foto, sementara ambient light direkam dengan penggunaan ISO tinggi 1600.

Pada saat memotret, dengan lensa 17-40mm, bukaan diafragma saya kunci di bukaan terlebar f/4. Dengan bukaan itu dan ISO 1600, di lokasi pemotretan, kecepatan rana pemotretan berkisar dari 1/8 hingga 1/60 detik. Situasi pencahayaan di tiap titik berbeda dan atribut lampu dan obor pun bervariasi dari kelompok peserta satu ke kelompok lain.

Teknik pemakaian flash untuk merekam ambient light ini disebut slow-sync flash. “Slow-sync” adalah kependekan dari “slow synchro”, untuk melambangkan kecepatan sinkron flash di bawah 1/60 detik.

Menanti giliran tampil di tempat atraksi malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Menanti giliran tampil di tempat atraksi malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Pawai obor jadi atribut utama festival malam takbiran anak-anak Kecamatan Keraton di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Pawai obor jadi atribut utama festival malam takbiran anak-anak Kecamatan Keraton di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi menarik yang sepertinya melambangkan belenggu penjajahan, karena Lebaran 2012 berdekatan dengan HUT ke-67 Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi menarik yang sepertinya melambangkan belenggu penjajahan, karena Lebaran 2012 berdekatan dengan HUT ke-67 Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Boneka berbentuk burung garuda berwarna merah putih karena malam takbiran berdekatan dengan HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Boneka berbentuk burung garuda berwarna merah putih karena malam takbiran berdekatan dengan HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang bawa meriam bambu dan ikut arak-arakan, bunyinya mengagetkan dan memekakkan telinga. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang bawa meriam bambu dan ikut arak-arakan, bunyinya mengagetkan dan memekakkan telinga. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang mengarak bendera merah-putih-biru, melambangkan penjajahan kolonial, lantaran malam takbiran masih dibalut suasana HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang mengarak bendera merah-putih-biru, melambangkan penjajahan kolonial, lantaran malam takbiran masih dibalut suasana HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Bendera Merah-Putih berukuran besar ikut diarak di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Bendera Merah-Putih berukuran besar ikut diarak di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Arakan-arakan anak-anak pembawa obor di festival malam takbiran di Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Arakan-arakan anak-anak pembawa obor di festival malam takbiran di Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih


Beberapa Tips Fotografi dari Songkran Water Festival 2012, Bangkok, Thailand

Under Rapid Songkran Fire - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih
A Friend Indeed - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

A Friend Indeed – Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Tahun ini adalah kali kedua saya meliput Songkran Water Festival di Bangkok, Thailand. Berangkat bersama tim Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok, kami berkunjung ke Bangkok 13-16 April 2012. Tahun lalu, di Songkran 2011, pengalaman saya posting di “My Canon EOS 1D Mk III Survived in Songkran Water Festival 2011“.

Under Rapid Songkran Fire - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Under Rapid Songkran Fire – Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Berikut beberapa tips fotografi jika Anda hendak memotret Songkran Water Festival di Thailand, yang saya rangkum dari twit @kristupa ketika festival berlangsung di Bangkok:

  1. Memotret Songkran Water Festival kental nuansa dokumenter dan jurnalistik
  2. Songkran digelar di seluruh Thailand. Di Bangkok teramai di Khao San Road dan Silom Road
  3. Songkran di Bangkok biasanya ramai setelah tengah hari. Di Khao San ramai mulai jam 4 sore
  4. Songkran berupa water festival berbentuk “perang” siram-siraman air. Lindungi kamera dengan rain cover
  5. Di Songkran, suasana ramai berdesak-desakan. Pilih angle supaya dapat clear shot. Pertimbangkan lighting dan background
  6. Di Songkran tak mungkin setting subyek foto. Jika Anda aliran fotografer pictorial bisa frustasi
  7. Pakai lensa normal atau tele, karena sulit mendekat ke subyek dan situasi out of control
  8. Untuk lindungi kamera dari air tak disarankan pakai underwater housing. Berat bo’!
  9. Bisa pakai kamera jenis apa saja, tak harus DSLR. Yang penting Anda kuasai benar pengoperasiannya
  10. Songkran adalah festival tahun baru Thai. Rekam suasana ceria dan optimis. Air sebagai simbol yang ada artinya
  11. Songkran adalah festival siram-siraman air, maka dress accordingly. Tapi jangan pakai wet suit!
  12. Disiram air, dilarang marah. Blend in dan jadilah bagian dari pertempuran siram-siraman air
  13. Cukup bawa 1 bodi kamera, lebih dari itu berarti Anda perbesar resiko loss karena kesemprot air
  14. Cukup pakai 1 lensa, karena sulit ganti-ganti lensa di situasi simpang-siur semprotan air
  15. Cipratan air bisa direkam dengan speed tinggi untuk freezing, bisa juga dengan speed lambat
  16. Agar cipratan air terlihat signifikan, pilih background gelap dan kondisi backlight atau sidelight
  17. Lautan manusia terus bergerak, gunakan AF mode AI-servo atau AF-C
  18. Amankan alat komunikasi dan uang tunai secukupnya dalam kantung plastik kedap air
  19. Meski medan tak luas, tetap butuh stamina prima. Lautan manusia berdesakan
  20. Di Silom Road Bangkok ada jembatan penyeberangan, bisa high angle, tapi tetap siap basah
  21. Di Silom ada semburan hidran pemadam kebakaran, jadi permudah pilih angle
  22. Waspada lensa terkena semprotan frontal, siapkan tisu atau lap di kantung kedap air
  23. Tiba di lokasi segera orientasi medan, tentukan meeting point dan jam bertemu dengan teman-teman serombongan
  24. Selain semprotan air, siap-siap terima olesan larutan tepung di muka. Dilarang marah
  25. Siapkan pakaian ganti, naik mobil/bis/MRT ber-AC dengan pakaian basah kurang sehat
  26. Siapkan memory card cukup, kalaupun harus ganti memory card cari tempat aman dari semprotan air
  27. Available light is the best, flash tambahan ribet dan resiko kena semprot
  28. Berbaur dengan massa itu harus tapi jangan hanyut, tetap konsentrasi dengan subyek foto dan pesan
Suasana Songkran Water Festival di Silom Road, Bangkok, 15 April 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana Songkran Water Festival di Silom Road, Bangkok, 15 April 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok basah kuyup usai memotret Songkran Water Festival di Khao San Road, 14 April 2012. Dari kiri: Armand Megawe, Yulianus Ladung, Kristupa Saragih, Zulkifli Kibor. Foto oleh Farano Gunawan

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok basah kuyup usai memotret Songkran Water Festival di Khao San Road, 14 April 2012. Dari kiri: Armand Megawe, Yulianus Ladung, Kristupa Saragih, Zulkifli Kibor. Foto oleh Farano Gunawan

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok usai memotret Songkran Water Festival di Silom Road, 15 April 2012. Dari kiri: Kristupa Saragih, Yulianus Ladung, Farano Gunawan, Zulkifli Kibor. Foto oleh Armand Megawe

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok usai memotret Songkran Water Festival di Silom Road, 15 April 2012. Dari kiri: Kristupa Saragih, Yulianus Ladung, Farano Gunawan, Zulkifli Kibor. Foto oleh Armand Megawe

Kamera Canon EOS-1D Mark IV basah kuyup air campur larutan tepung di Songkran Water Festival 2012 namun lancar dan berfungsi normal. Foto oleh Kristupa Saragih

Kamera Canon EOS-1D Mark IV basah kuyup air campur larutan tepung di Songkran Water Festival 2012 namun lancar dan berfungsi normal. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar tenang ketika berdesakan, bodi kamera diamankan dengan camera strap Pacsafe yang anti-jambret. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar tenang ketika berdesakan, bodi kamera diamankan dengan camera strap Pacsafe yang anti-jambret. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar aman dari semprotan air, barang bawaan dan asesoris fotografi disimpan di dalam pouch dengan built-in cover buatan ThinkTank Photo. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar aman dari semprotan air, barang bawaan dan asesoris fotografi disimpan di dalam pouch dengan built-in cover buatan ThinkTank Photo


Shooting The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012 with Nokia Lumia 800

The other side of The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

I made a visit to The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012 in Clark Air Base on February 9-12, 2012. While bringing my DSLR to the festival, I also made a lot of shots with Nokia Lumia 800. The lens is made by Carl Zeiss and the resolution is as high as 8MP.

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

It starts as early as 6 AM in the morning, when the sun has just risen. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

It starts as early as 5.30 AM in the morning, when the sun has just risen. The lighting condition is dim in low contrast and focusing should be done carefully. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The other side of The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The other side of The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Sonic character in The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Sonic character in The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Take-off. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Take-off. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Airborne. The 17th Philippine Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Airborne. The 17th Philippine Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

High contrast lighting condition. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

High contrast lighting condition. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Fire it up. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Fire it up. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Drifting attraction in Clark Air Base tarmac. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Drifting attraction in Clark Air Base tarmac. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Philippine's Army panzer in The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Philippine's Army panzer in The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Wind toys. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Wind toys. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Lines and shapes. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Lines and shapes. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

My ride. The 17th Hot Air Balloon Fiesta 2012 @ Clark Air Base Philippines. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

My ride. The 17th Hot Air Balloon Fiesta 2012 @ Clark Air Base Philippines. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Indonesian Air Force TNI-AU's CN-235 @ The 17th Hot Air Balloon Fiesta 2012 @ Clark Air Base Philippines. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Indonesian Air Force TNI-AU's CN-235 @ The 17th Hot Air Balloon Fiesta 2012 @ Clark Air Base Philippines. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Antique bikes. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Antique bikes. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Classic jeeps @ The 17th Philippine Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Classic jeeps @ The 17th Philippine Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

A weekend with everything that flies. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

A weekend with everything that flies. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Kungfu panda character. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Kungfu panda character. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The adventure begins. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The adventure begins. The 17th Philippine International Hot Air Balloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800


All pictures in this post were taken by Nokia Lumia 800. No editing. Resized in WordPress.


Sihir Balon Udara The 17th Philippines Hot-Air Baloon Fiesta 2012

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800
The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta at Clark Air Base. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Menonton balon udara menyenangkan, menerbangkannya lebih menantang. Ketika Filipina menggelar Festival Internasional ke-17 Balon Udara Filipina pada 9-12 Februari 2012, ribuan orang tiap hari menyemut mengunjungi lokasi festival di Pangkalan Udara Clark.

Pada hari pertama, festival tak terlampau ramai. Tapi pada hari kedua, sekitar 2 ribu pengunjung sudah di lokasi sejak subuh. Balon-balon sudah siap sejak jam 5.30 pagi dan mengudara mulai sekitar pukul 6 waktu setempat. Tahun ini tercatat 28 balon dari berbagai belahan dunia hadir di Clark.

Weekend with Everything That Flies“, akhir pekan dengan segala sesuatu yang terbang, demikian tema festival tahun ini. Jadi, selain balon udara ada pula atraksi sky diving, paramotor, paralayang, ultra-glide dan akrobat udara. Bahkan layang-layang pun ikut dipertunjukkan, dalam berbagai warna dan bentuk atraktif.

Hari ketiga sudah memasuki akhir pekan. Diperkirakan lebih dari 20 ribu pengunjung memadati lokasi. Bahkan ada yang menginap di rerumputan Pangkalan Udara Clark, dengan membawa tenda-tenda kecil. Luar biasa ramai dan meriah.

Skydivers in Clark Air Base with Philippine national flag and Philippine national anthem Lupang Hinirang at The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Skydivers in Clark Air Base with Philippine national flag and Philippine national anthem Lupang Hinirang at The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Pada pukul 5.30 pagi di hari Sabtu itu, jalan menuju Clark sudah padat merayap dalam radius 2 km. Padahal jalan lurus dan lebar menuju Clark masing-masing 2 jalur di tiap arah. Parkir sudah disiapkan untuk 5 ribu kendaraan roda empat, dengan arus sirkulasi yang rapi.

Pangkalan Udara Clark sudah menjadi lautan manusia, meski hari masih gelap dan matahari baru saja tersembul di ufuk. Pria wanita, tua muda, dan anak-anak maupun remaja berdesak-desakan. Tiket masuk dipatok pada harga PHP 200 sehari, atau sekitar Rp 40 ribu pada kurs PHP 1 = Rp 200.

Suara helikopter memecah pagi, ketika ribuan kepala menengadah ke langit muncullah sekelompok sky diver mengibarkan bendera Filipina di udara. Lantas di pengeras suara terdengar pembawa acara mengumumkan, “Bapak-bapak dan Ibu-ibu, lagu kebangsaan Filipina…”. Lalu berkumandanglah Lupang Hinirang, lagu kebangsaan negara 7 ribu pulau ini, mengiringi kibaran bendera Filipina di udara.

Fire it up. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Fire it up. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Pemantik-pemantik api dinyalakan, balon-balon mulai menggelembung. Tak berapa lama kemudian satu per satu balon mengudara membawa keranjang-keranjang yang berisi pilot dan penumpangnya.

Tak hanya berbentuk bundar dalam balutan warna-warni penarik perhatian, ada juga balon berbentuk kue ulang tahun, karakter game Sonic, ice cream cup dan karakter mirip kungfu panda.

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Birthday cake baloon for Joy Roa. The 17th Philippine Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Hari keempat, hari terakhir festival dimulai dengan pengunjung yang sudah memarkir kendaraan roda empat hingga pinggir kota Angeles. Padahal jarak dari Pangkalan Udara Clark ke Angeles lebih dari 5km.

Subuh hari keempat, jalan tol sudah padat merayap. Ketika jarum jam menyentuh angka 8, jalan tol dan jalan biasa sudah macet total tak bergerak. Antisipasi penyelenggara untuk 50 ribu penonton sepertinya masih kurang.

Semua tersihir balon udara.

Airborne with Mount Arayat in the background. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800

Airborne with Mount Arayat in the background. The 17th Philippine International Hot-Air Baloon Fiesta 2012. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Nokia Lumia 800


Foto-foto di posting ini seluruhnya dibuat dengan Nokia Lumia 800 tanpa editing. Resize oleh WordPress.


Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang

Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih
Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih

Lilin-lilin raksasa di kelenteng Pulau Kemaro, Palembang saat Cap Go Meh 2012. Foto oleh: Kristupa Saragih

Memotret upacara Cap Go Meh banyak dinanti fotografer. Di Indonesia, Singkawang, Kalimantan Barat jadi tempat tujuan paling ramai karena acara-acara yang atraktif. Tapi, upacara Cap Go Meh di Palembang, Sumatra Selatan ternyata menarik juga.

Dari tahun ke tahun, upacara Cap Go Meh di ibukota Provinsi Sumatra Selatan dipusatkan di kelenteng Hok Tjhing Rio, Pulau Kemaro. Dari pusat kota Palembang, Pulau Kemaro bisa dicapai tak sampai setengah jam. Pada hari biasa, pengunjung harus menyeberang dengan perahu untuk mencapai Pulau Kemaro.

Pada Cap Go Meh 2012, panitia sudah mengantisipasi 70 ribu pengunjung yang diperkirakan hadir di Pulau Kemaro. Dipusatkan pada tanggal 4-5 Februari 2012, ada 7 barge alias kapal tongkang yang dijajarkan membentuk jembatan menuju Pulau Kemaro. Pengunjung datang dari banyak tempat di Indonesia, seperti pantai timur Sumatra dan Jakarta. Bahkan ada beberapa bis yang mengangkut pengunjung dari Malaysia.

Umat bersembahyang dalam upacara Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Umat bersembahyang dalam upacara Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pulau Kemaro lekat dengan legenda Siti Fatimah dan Tan Bun An. Secara historis, banyak cerita yang melekatkan penduduk setempat dan penduduk Tionghoa. Di hari biasa, kelenteng Hok Tjhing Rio dan pagoda 7 lantai di sebelahnya sudah jadi salah satu tempat tujuan wisata penting setelah Jembatan Ampera.

Pada Cap Go Meh 2012, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin hadir pada puncak acara, tengah malam 4 Februari dan dinihari 5 Februari. Asap hio pekat membumbung tanpa henti. Mata perih dan napas sesak jika berlama-lama berada di sekitar tempat sembahyang umat.

Penjual kacang rebus dan kembang api Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjual kacang rebus dan kembang api Cap Go Meh 2012 di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Foto oleh: Kristupa Saragih

Antrian kendaraan membuat macet jalan sejak kompleks Pusri. Tak hanya umat yang hendak sembahyang yang datang ke Pulau Kemaro, tapi banyak wisatawan juga datang hendak merasakan kemeriahan Cap Go Meh. Untunglah panitia menyiapkan lahan parkir yang terorganisir rapi dan aman, penerangan cukup dan petugas parkir dalam jumlah memadai.

Kembang api silih berganti mewarnai langit, seiring bunyi yang meledak-ledak. Di Pulau Kemaro, kembang-kembang api menghiasi langit di sekitar pagoda. Bahkan penumpang kapal-kapal yang hendak merapat dan baru angkat sauh pun ikut memeriahkan malam dengan kembang api yang mengudara dari atas dek.

Saya menggunakan kamera Canon EOS-1D Mark IV dan lensa lebar Canon ED 17-40mm f/4L untuk memotret di Pulau Kemaro malam itu. Karena gelap, saya harus mengandalkan ISO 800 dan ISO 1600. Shooting mode dipaku pada modus aperture priority Av dan bukaan diset pada f/4.

Memotret dengan lensa tele jadi sulit karena puluhan ribu pengunjung yang berdesakan. Selain itu, seringkali lensa tele menarik perhatian dan mengganggu konsentrasi umat yang sembahyang. Lagipula, memotret pagoda dan kembang api di sekitarnya lebih mudah dengan lensa lebar.


Gocefa, Ritual yang Hilang dari Pesisir Sulawesi Utara

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih
Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari cakalele yang membuka iring-iringan rombongan pelaksana upacara gocefa di Pantai Malalayang dengan latar belakang Pulau Manado Tua, Jumat (27/05). Foto oleh Kristupa Saragih

Sedikit sekali informasi yang bisa dihimpun perihal gocefa. Ritual penting masyarakat pesisir Sulawesi Utara ini konon lahir 2.000 tahun yang lalu di kalangan masyarakat adat Bantik. Ketika Manado Ocean Festival (MOF) 2011 menghadirkan ritual ini pada 27 Mei 2011 lalu di Pantai Malalayang Manado, banyak orang yang baru pertama kali menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah.

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

Penjaga Samudra. Foto oleh: Kristupa Saragih

…torang batrima kaseh atas firman yang Dia so kase pa torang. Juga atas torang pe orang tua, torang pe tete deng nene moyang yang so kase lahir pa torang samua. Deng atas pante dan lao yang Tuhan so bekeng vor torang yang so jadi torang pe pohong hidop.”

Gocefa diyakini sebagai ritual adat memanjatkan doa bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir yang bergantung pada laut. Tinggal di tepi laut, hidup dari laut, dan menyandarkan diri pada laut. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Bantik, yang hampir punah. Bahasa Bantik diyakini seumur dengan bahasa Kawi, alias Jawa Kuna di Pulau Jawa, yang telah punah.

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Pelaut dan Persembahan. Foto oleh Kristupa Saragih

Hidop ini anugera Tuhan. Torang sambut itu deng bajanji hidop sebaik-baiknya. Torang bajanji mo paka ni pante deng lao vor torang pe hidop. Torang bajanji mo piara deng jaga ni pante deng lao pe bagus ini.”

Iring-iringan rombongan pelaksana ritual gocefa dibuka dengan penari-penari cakalele. Berpakaian merah-merah, para penari ini bersenjatakan parang. Lantas diikuti dengan orang-orang tua berpakaian putih-putih, berikat kepala merah. Baru para pemimpin upacara ritual yang adalah para pemuka agama.

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyalakan Obor. Foto oleh Kristupa Saragih

Su suwu-suwu dunia, mawu pukakelungangu. Maning alang diminuhe, mawu pukakelungangu. Ya Yesus bukide pubawukidang sudunia, sudunia. Ore tamalaombo suwu-suwu, tamalenggeng dimpuluse.

Ada 6 pemimpin upacara yang hadir, dua orang di antaranya adalah pendeta. Tak ada sumber resmi yang bisa menjelaskan, tapi konon ritual gocefa ini lahir sebelum agama Kristen masuk ke tanah Sulawesi Utara. Ketika agama Kristen masuk, lantas terjadi akulturasi budaya, meski kepastian kabar ini perlu dikonfirmasi kepada para pemuka adat yang berwenang.

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Generasi Penerus Bantik. Foto oleh Kristupa Saragih

Sudara-sudara, marijo torang taru sebagian dari torang pe persembahan yang so takumpul tadi ka atas gocefa, pasang dia pe obor, lapas ni gocefa ka lao kong trus torang manyanyi…

Persembahan dikumpulkan, seiring khalayak memanjatkan doa dan menyanyikan lagu-lagu. Ketika matahari mencium cakrawala, obor-obor dinyalakan. Lampu-lampu di sekitar tempat upacara dipadamkan. Doa-doa tetap dipanjatkan bersama lagu-lagu persembahan.

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Berbagi. Foto oleh Kristupa Saragih

Sakaeng sutaghaloang, mesesenggo mapia. Nangkodane kai i tuang, apisu takahia. Maning selihe maiha, balade geguwa. I kau tawe mekapu, nangkodanu mawu.

Rakit bambu kecil, yang disebut gocefa, dimuati semua persembahan. Lantas dilepas, sembari ditarik perahu motor kecil ke tengah laut. Nyala obor menari-nari ditiup angin laut. Seiring dengan matahari yang bersembunyi di peraduan, gocefa ditelan kegelapan Laut Sulawesi.

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih

Mengawal Gocefa. Foto oleh Kristupa Saragih


Bambu Gila, Atraksi Budaya Maluku

Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih
Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Tifa ditabuh bertalu-talu. Alunan irama monotonik mengiringi wangi kemenyan yg menyeruak. Sebatang bambu dibekap 7 laki-laki bertelanjang dada, berikat kepala merah dan bercelana selutut merah.

Bambu sepanjang sekitar 2,5 meter itu berdiameter sekitar 8 cm. Seorang pawang berbaju hitam dan celana pendek merah, meniupkan asap kemenyan yang dibakar di batok kelapa. Alunan tifa dengan ketukan teratur tetap mengiringi.

Sejurus kemudian ketujuh laki-laki mulai bergerak menyesuaikan diri dengan gerakan bambu. Konon roh-roh leluhur masuk ke dalam bambu. Sejurus kemudian, bambu dan ketujuh laki-laki itu bergerak liar ke sana kemari. Gila.

Tatkala gerakan mulai tak terkendali, pawang satu lagi yang berbaju merah datang mendekat. Di tangannya juga tergenggam batok kelapa tempat membakar kemenyan. Asapnya ditiupkan ke bambu. Alunan irama tifa tetap teratur teralun.

Atraksi bambu gila, asap kemenyan ditiupkan memanggil roh-roh leluhur di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila, asap kemenyan ditiupkan memanggil roh-roh leluhur di Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Panitia Ambonesia Photo Competition (APC) 2011 menghadirkan atraksi khas warisan leluhur masyarakat Maluku ini untuk difoto para peserta. Angin laut berhembus lembut di Pantai Hunimua, yang juga terkenal dengan sebutan Pantai Liang. Di sela-sela irama monotonik tifa, para fotografer sesekali berhamburan lantaran bambu gila yang menyeruduk tak terkendali.

Konon atraksi bambu gila bukan sekedar pertunjukan mistis belaka. Masyarakat setempat yakin atraksi ini diwariskan untuk melambangkan kegotongroyongan rakyat. Budaya luhur warisan nenek moyang untuk kesejahteraan hidup generasi penerus.

Atraksi bambu gila, jika bambu mulai tak terkendali maka pawang bertindak, Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi bambu gila, jika bambu mulai tak terkendali maka pawang bertindak, Pantai Hunimua, Ambon, Maluku, Sabtu (14/5). Foto oleh Kristupa Saragih


Kedamaian dalam Patriotisme Hari Pattimura 2011 Ambon

Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih
Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Tari perang Cakalele membuka arak-arakan obor Pattimura di Pattimura Park, Ambon, Maluku, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Siapa tak kenal Pattimura, pahlawan nasional dari Maluku? Terlahir bernama Thomas Matulessy di Pulau Saparua, 8 Juni 1783, lantas digelari Kapitan Pattimura karena keberaniannya memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan kolonialisme Belanda. Pertempuran bersejarah merebut Benteng Duurstede di Saparua pada 14 Mei 1817 membuat Hari Pattimura selalu diperingati tiap 15 Mei dini hari.

Dini hari 15 Mei 2011 ratusan orang memadati Pattimura Park di pusat kota Ambon. Sehari sebelumnya, pukul 3 sore obor Pattimura disulut di Gunung Saniri, Pulau Saparua. Obor lantas diarak secara estafet oleh kelompok pemuda desa di tiap desa menuju pelabuhan, lantas diseberangkan kapal TNI AL. Merapat di Tulehu, Pulau Ambon, obor kembali diarak secara estafet oleh kelompok-kelompok pemuda tiap desa yang dilalui rute menuju Pattimura Park.

Penari Cakalele lengkap dengan perang dan salawaku pada peringatan Hari Pattimura di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Penari Cakalele lengkap dengan perang dan salawaku pada peringatan Hari Pattimura di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Hampir tiap pemuda yang mengarak obor juga membawa obor masing-masing. Tari Cakalele, tarian perang, berada di depan, membuka jalan bagi arak-arakan obor Pattimura. Semua berpakaian merah, melambangkan keberanian. Para penari Cakalele, juga berpakaian merah, mengacung-acungkan parang dan salawaku.

Pada 194 tahun lalu, tempat para pemuda berkumpul, di lapangan upacara Hari Pattimura di Pattimura Park, Thomas Matulessy digantung oleh Belanda. Upacara dihadiri 17 walikota se-Indonesia Timur, para prajurit dan perwira TNI AD, TNI AL dan TNI AU serta Polri. Saya pun berada di upacara itu bersama 41 peserta dan juri Dell Ambonesia Photo Competition 2011 untuk mengabadikan prosesi obor Pattimura sebagai acara penting di Maluku.

Semangat para pemuda yang berapi-api seirama dengan kobaran api obor. Doa upacara dipanjatkan secara 2 agama: Islam dan Kristen. Patriotisme Pattimura dibalut dalam kedamaian, yang kontras dengan konflik horisontal di Ambon dan sebagian Maluku selama 1999-2006.

Sebanyak 240 pemuda dari 8 desa mengarak secara estafet obor Pattimura dari Saparua hingga Pattimura Park di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Sebanyak 240 pemuda dari 8 desa mengarak secara estafet obor Pattimura dari Saparua hingga Pattimura Park di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Hujan mengguyur Ambon sejak sehari sebelum upacara, dan berhenti seketika beberapa saat sebelum arak-arakan obor Pattimura masuk Pattimura Park. Seorang kawan asli Ambon berujar, “Setiap tahun selalu begini. Hujan terus menerus sebelum upacara, tapi berhenti waktu obor masuk tempat upacara.”

Pada November 1817, Thomas Matulessy dan pengikut-pengikutnya ditangkap tentara Belanda. Pemimpin perjuangan rakyat Maluku mengakhiri hidupnya digantung pemerintah kolonial Belanda di lapangan di belakang Benteng Victoria, yang sekarang menjadi Pattimura Park. Jenazahnya dipamerkan dalam kurungan besi di tempat publik.

Keberanian Kapitan Pattimura tak surut saat menuju tiang gantungan. Pesan terakhir Thomas Matulessy sebelum tali gantungan menutup usianya, “Beta akan mati. Tetapi nanti akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan beta punya perjuangan…”

Heroisme upacara Hari Pattimura 2011 berlangsung damai di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih

Heroisme upacara Hari Pattimura 2011 berlangsung damai di Ambon, Minggu (15/5). Foto oleh Kristupa Saragih