Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Places

Kairaku-en, Salah Satu Taman Terbaik di Jepang #Ibaraki

KSTT3498_Japan_Ibaraki_2015

Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Ada banyak taman indah di Jepang, namun tak banyak yang sarat nilai sejarah. Dari taman-taman bersejarah itu ada satu yang terkenal karena bunga pohon plum nan indah, Kairaku-en 偕楽園 di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang.

Sebagai salah satu dari Three Great Gardens of Japan日本三名園 Nihon Sanmeien, memang Kairaku-en, bagi orang asing, tak sefamiliar taman Kenroku-en di Prefektur Kanazawa dan taman Koraku-en di Prefektur Okayama.

KSTT3512_Japan_Ibaraki_2015

Bunga sakura yang mekar 2 kali dalam setahun, pada musim semi dan musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

Berarti “taman untuk dinikmati rakyat”, Kairaku-en dibuat oleh pembangunnya untuk rakyat. Buka tiap hari sepanjang tahun dan gratis. Jika di Jepang taman lazimnya dibangun untuk dinikmati para tuan penguasa daerah, tidak demikian dengan Kairaku-en. Nariaki Tokugawa, seorang penguasa daerah, alias daimyo Mito pada awal tahun 1800-an, yang bertekad mulia ini.

Kairaku-en ramai dikunjungi pada musim berbunga pohon plum, mulai akhir Februari hingga Maret. Ada 3.000 pohon plum di Kairaku-en yang terdiri atas lebih dari 100 varian, yang utamanya berbunga warna putih, merah dan merah muda. Ada Festival Plum Mito yang digelar tiap tahun pada tanggal 20 Februari hingga 31 Maret.

KSTT3537_Japan_Ibaraki_2015

Pemandangan Kairaku-en dinikmati dari dalam Kobuntei. Foto: Kristupa Saragih

Selain pohon plum, Kairaku-en juga terkenal karena hutan kecil bambu dan cemara. Ada rumah tradisional Jepang bernama Kobuntei yang dipakai untuk keperluan pendidikan dan kunjungan wisatawan.Dari lantai atas Kobuntei, pengunjung bisa memandang ke seantero Kairaku-en dan Danau Senba.

KSTT3548_Japan_Ibaraki_2015

Dedaunan di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang menguning di musim gugur. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3551_Japan_Ibaraki_2015

Suasana senja di Kairaku-en, Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Berkunjung ke #Ibaraki Prefectural Government Building, Jepang

KSTT3459_Japan_Ibaraki_2015

Lantai 25, lantai teratas di Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang dengan jendela pandang yang berdesain modern dan berlantai karpet. Foto: Kristupa Saragih

Setahu saya, di Tanah Air tak banyak kantor pemerintahan provinsi di gedung tinggi. Kebanyakan malah memanfaatkan gedung-gedung bersejarah peninggalan era kolonial.

Namun di Jepang, hampir semua kantor pemerintahan prefektur, setingkat provinsi, jadi satu di gedung yang sama. Hal yang sama berlaku untuk pemerintah kota. Bahkan legislatif berkantor di gedung yang sama dengan eksekutif. Berbeda dengan Indonesia, yang punya kantor-kantor pemerintahan terserak di mana-mana, sehingga boros waktu dan biaya untuk transportasi.

KSTT3476_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung memotret pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki, Jepang dari jendela pandang di lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki. Foto: Kristupa Saragih

Mirip seperti pemerintah Tokyo Metropolitan yang berkantor di gedung setinggi 243 meter dan berlantai 48, Ibaraki Prefectural Government Building alias 茨城県庁舎 Ibaraki-ken Shōsha, berkantor di gedung pencakar langit. Berlantai 25 setinggi 120 meter, Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menjulang di antara bangunan-bangunan lain di ibukota Mito, yang kebanyakan tak tinggi.

Dengan populasi 2,9 juta jiwa, Prefektur Ibaraki yang setingkat provinsi di Indonesia, kira-kira sepadan dengan Kota Surabaya, Jawa Timur yang berpopulasi 2,7 juta jiwa. Namun dari koordinasi di pemerintahan mencerminkan efisiensi sekaligus keseriusan pemerintah Ibaraki membangun dan mengelola daerahnya.

Berarsitektur modern, kantor ini selesai dibangun tahun. Bersih. Dinding berhias dekorasi khas zen. Tak ada spanduk-spanduk, yang simbolis dan sebenarnya tak perlu, melambai-lambai tak artistik, seperti kantor-kantor di Tanah Air.

IMG_5320_Japan_Ibaraki_2015

Interior lobi gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Resepsionis ramah dan melayani dengan profesional. Tak ada pegawai ngobrol-ngobrol atau duduk-duduk di interior gedung. Setiap staf yang dijumpai membungkuk memberi hormat khas Jepang, yang keberadabannya perlu jadi benchmark Negeri Pancasila.

Sebelum rapat dengan pemerintah Prefektur Ibaraki dan sejumlah praktisi pariwisata Ibaraki, saya terkagum-kagum dengan akses yang mudah hingga lantai 25 tanpa mengabaikan peran petugas keamanan.

Di lantai teratas gedung pemerintah milik rakyat Ibaraki ini, ada galeri pandang berjendela kaca sepanjang gedung, setinggi langit-langit. Gratis, bersih, modern dan informatif.

KSTT3475_Japan_Ibaraki_2015

Pengunjung kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki menikmati pemandangan ibukota Mito dan prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung. Foto: Kristupa Saragih

Dari lantai ini terlihat sejauh mata memandang hamparan kota Mito dan prefektur Ibaraki.

Di lantai ini pun ada kantin kecil, yang penataan kursinya efisien dan mengindahkan estetika sehingga semua meja bisa menikmati pemandangan dari jendela kaca. Meski sedang ramai pengunjung yang mengobrol, kantin ini relatif senyap dan tak mengganggu pengunjung yang sedang menikmati pemandangan dari jendela.

KSTT3468_Japan_Ibaraki_2015-2

Kantin kecil di salah satu sudut lantai 25, lantai teratas gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

IMG_5365-1_Japan_Ibaraki_2015

Eksterior salah satu sudut gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3472_Japan_Ibaraki_2015

Panorama ibukota Mito dan Prefektur Ibaraki dari lantai teratas 25 gedung Kantor Pemerintah Prefektur Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Pasar Ikan dan Lelang Bunga di Pasar Grosir Mito #Ibaraki

KSTT3328_Japan_Ibaraki_2015

Sepasang kakek-nenek berbelanja di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Bicara tentang pasar ikan, ada pasar ikan di Jepang yang terkenal dengan lelang di dini hari, Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo. Namun, siapapun yang pernah berkunjung ke Tsukiji, pasti pernah menikmati antrian panjang dan kunjungan singkat. Bahkan sempat ada cerita, tak bisa berkunjung pagi itu jika pengunjung sudah terlalu banyak.

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Eksterior Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Mirip dengan Tsukiji, lelang ikan di Pasar Grosir Kota Mito di Prefektur Ibaraki, Jepang menjanjikan aktivitas serupa namun tanpa antre. Belum banyak orang tahu tentang pasar ikan di Mito, yang jam kegiatannya sama dengan Tsukiji. Padahal jarak kota Mito dari Tokyo hanya sekitar satu setengah jam perjalanan bermobil. Konon pula, Pasar Grosir Kota Mito ini merupakan salah satu pasar grosir terbesar dan kondang di Negeri Matahari Terbit.

Tak hanya menyimak lelang ikan, pengelola Pasar Grosir Kota Mito juga membawa pengunjung ke penyimpanan ikan. Siap-siaplah merasakan udara bersuhu minus 20 derajat Celcius ketika masuk ke gudang penyimpanan ikan. Super dingin dan kering, demi menjaga kesegaran produk-produk bahari agar tetap nikmat ketika dikonsumsi.

KSTT3302_Japan_Ibaraki_2015

Persiapan distribusi buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito juga mewadahi kegiatan perdagangan sayur mayur dan buah-buahan. Konon, orang menyebut Mito, ibukota Prefektur Ibaraki, sebagai daerah produksi utama sayur mayur dan buah-buahan penduduk metropolitan Tokyo.

KSTT3340_Japan_Ibaraki_2015

Sayur mayur dan buah-buahan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Setiap hari ribuan ton sayur mayur, buah-buahan dan produk-produk turunannya berseliweran di pasar ini. Baik produk pertanian Prefektur Ibaraki maupun dari daerah-daerah lain di seantero Jepang.

Pasar yang dibuka tahun 1972 ini memiliki volume perdagangan 96,7 milyar Yen per tahun, atau sekitar Rp 10 triliun. Ada lebih dari 50 perusahaan dagang yang beraktivitas di sini, yang digerakkan lebih dari 1.000 pekerja.

Demikian pentingnya posisi Pasar Grosir Kota Mito sebagai gerbang masuk ke Tokyo. Bahkan buah-buahan impor pun banyak terdistribusi melalui pasar ini. Dari pasar ini, komoditas perdagangan bergerak ke supermarket-supermarket dan perusahaan pengolah makanan.

Terlihat tumpukan kardus-kardus berisi pisang dari Filipina di salah satu sisi. Sementara di sisi lain ada tumpukan karton-karton berisi buah naga besar-besar dan segar dari Vietnam. Impor dalam bentuk buah utuh, tiba di Mito lantas dikemas rapi dengan bungkusan plastik berlabel dan kotak karton.

KSTT3325_Japan_Ibaraki_2015

Buah-buahan dari seantero Jepang dan impor dari luar Jepang didistribusikan dari Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Hal menarik lainnya, Pasar Grosir Kota Mito ternyata juga menyediakan tempat lelang bunga dan pohon. Seumur-umur lihat ada lelang bunga dan pohon baru di Mito ini.

Bukannya ecek-ecek, lelang bunga berlangsung seperti lelang ikan di Pasar Ikan Tsukiji di Tokyo, Jepang dan Pasar Ikan Sydney di Australia. Ada deretan bangku pembeli, dengan susunan ala teater. Tanaman yang dijual diatur di ban berjalan. Display harga dan pembeli memakai tampilan sejumlah layar monitor komputer. Rapi jali.

KSTT3435_Japan_Ibaraki_2015

Suguhan buah-buahan segar potong dan berbagai produk Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang suguhan dari pengelola pasar. Foto: Kristupa Saragih

Pasar Grosir Kota Mito alias Mito City Public Wholesale Market terbuka untuk umum. Namun pengunjung agar menghubungi terlebih dahulu pengelola pasar beberapa hari di muka. Selain menjamin Anda dapat pemandu, ada baiknya pengunjung terhindar dari hal-hal yang mengganggu aktvitas pasar.

Jika beruntung, di akhir kunjungan, Anda bisa disuguhi buah-buahan segar dan sayur-mayur yang sudah dimasak. Mulai dari jeruk segar tanpa biji, ubi rebus manis berukuran besar hingga sup labu yang hangat.

KSTT3299_Japan_Ibaraki_2015

Produk buah segar yang dijual di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3308_Japan_Ibaraki_2015

Sebelum dikemas, buah-buahan segar dibersihkan dan disusun dalam kotak-kota karton, lantas siap didistribusikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3322_Japan_Ibaraki_2015

Berbagai produk buah-buahan dan sayur mayur siap didistribusikan dari Pasar Grosir Kota MIto, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3334_Japan_Ibaraki_2015

Produk sayur mayur dan buah-buahan Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang sedang dipilih-pilih oleh pembeli. Foto: Kristupa Saragih

 

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

Produk perikanan laut di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3351_Japan_Ibaraki_2015

Pasar ikan di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Meski ramai dan banyak dagangan, namun pasar ini bersih dan tak berbau. Sulit menemukan sampah barang secuil. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Situasi lelang bunga di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3397_Japan_Ibaraki_2015

Lelang bunga didukung teknologi canggih, harga dan pembeli terpampang di layar monitor komputer, di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3387_Japan_Ibaraki_2015

Deretan bunga-bunga di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3416_Japan_Ibaraki_2015

Situasi di belakang lelang bunga, ribuan tangkai bunga mengantre giliran di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3407_Japan_Ibaraki_2015

Puspa ragam bunga dari seantero Jepang di Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih

 

KSTT3422_Japan_Ibaraki_2015

Para perempuan pekerja di lelang bunga Pasar Grosir Kota Mito, Ibaraki, Jepang. Foto: Kristupa Saragih


Menikmati Senja Teluk Ambon di Atas KMP Siwalima 01

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih
KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu pekan di pertengahan bulan Mei 2012, cuaca di Ambon, ibukota Provinsi Maluku amat bersahabat. Fotografer.net (FN), komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara, menggelar FN Hunting Series 2012 di salah satu tempat indah Indonesia ini.

Dalam suasana persabatan, kawan-kawan anggota FN di Ambon berkumpul di Kedai Kopi Sibu-sibu, yang kondang di Ambon. Di tengah obrolan akrab, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Benny Gaspersz datang bergabung menikmati kopi sambil mengobrol santai dengan rombongan FN Hunting Series. Terbit tawaran untuk menghabiskan senja nan indah dengan memotret matahari terbenam dengan KMP Siwalima 01.

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Tanpa ragu, seluruh rombongan mengiyakan tawaran dan bersiap berangkat. Teluk Ambon yang indah jadi tujuan. Semua wajah berseri-seri menyiapkan kamera dan lensa serta baterai dan memori agar tak satu momen pun terlewat.

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Sebagai provinsi kepulauan, sudah selayaknya Maluku punya kapal untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata. Memotret matahari terbenam di Teluk Ambon dari daratan Pulau Ambon sudah biasa. Tapi merekam laut dan alam indah Ambon dari atas kapal jadi hal yang luar biasa.

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto di posting ini dibuat dengan Samsung Galaxy Note, semua tanpa penyuntingan.


Motret Panorama di Seputar Mahboonkrong มาบุญครอง

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Di sela-sela agenda Fotografer.net Series 2012 Bangkok meliput Songkran Water Festival, 13-16 April 2012, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri street photography di kota. Tempat yang paling gampang dijangkau dan aman adalah pusat perbelanjaan kondang Mahboonkrong.

Berikut adalah foto-foto panorama di seputar Mahboonkrong menggunakan Samsung Galaxy Note pada shooting mode panorama. Tidak ada penyuntingan foto.

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih


Matahari Terbenam di Sumba Barat, NTT

Sunset in Marosi Beach, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790
Sunset in Marosi Beach, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Sunset in Marosi Beach, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Suasana senja dan matahari terbenam selalu jadi subyek foto wajib. Tempat seindah Sumba Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur menyimpan banyak lokasi sunset yang menarik. Sempat banyak foto dibuat dengan kamera di ponsel BlackBerry 9900, juga ada 1 video.

Memotret dengan kamera ponsel menyenangkan, tak perlu dipusingkan aspek-aspek teknik. Memang secara kualitas tak akan menyamai kamera DSLR profesional yang saya bawa, tapi kamera sesimpel ponsel seringkali ampuh dan handal. Foto-foto dibuat di Pantai Marosi dan tempat menginap di Sumba Nautil Resort, Lamboya.

One of favorite place for sunset in West Sumba, Marosi Beach. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

One of favorite place for sunset in West Sumba, Marosi Beach. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Pathway light in Sumba Nautil Resort, Lamboya, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. This photo shows dynamic range of camera in BlackBerry 9790. It capture good detail in shadow area with a little noise and good detail in highlight with a little washout. Photo by Kristupa Saragih by BlackBerry 9790

Pathway light in Sumba Nautil Resort, Lamboya, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. This photo shows dynamic range of camera in BlackBerry 9790. It capture good detail in shadow area with a little noise and good detail in highlight with a little washout. Photo by Kristupa Saragih by BlackBerry 9790

Camera in BlackBerry 9790 tolerates high dynamic range. It captures a highlight in left side of the model and good details on reflection on water surface. Colors is good. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

Camera in BlackBerry 9790 tolerates high dynamic range. It captures a highlight in left side of the model and good details on reflection on water surface. Colors is good. Photo by Kristupa Saragih with BlackBerry 9790

 


Menikmati Pantai Hukurila, Ambon, Maluku

Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih
Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih

Anak-anak Pantai Hukurila - Foto oleh Kristupa Saragih

Hukurila, di Ambon, Maluku selama ini dikenal keindahan bawah airnya. Masukkan kata kunci Hukurila di mesin pencari dunia maya maka halaman pertama hasil pencarian akan penuh oleh keterangan bawah air Hukurila. Tapi daratan Hukurila ternyata menyimpan banyak hal yang bisa dinikmati.

Pantai Hukurila berada di sisi selatan Pulau Ambon yang menghadap ke timur. Secara administratif, Pantai Hukurila berada di Kecamatan Leitimur Selatan, yang masih termasuk Kota Ambon. Pantai ini menghadap langsung ke Laut Banda. Kesan pertama ketika tiba di pantai ini, penduduk ramah dan pemandangan indah.

Karena menghadap ke timur, secara fotografis pantai ini cocok untuk menanti matahari terbit. Ketika berkunjung ke Pantai Hukurila pada hari Minggu (8/4), saat petang setelah jam 14 pantai ini sudah mulai diselimuti bayangan. Terhampar pantai berdasar batugamping warna putih yang disaput pasir hitam.

Sepertinya ada gunung api tua yang sudah mati, tapi masih menyisakan endapan material vulkanik dalam bentuk pasir hitam. Air tawar mengalir segar di sungai kecil yang bening dan dangkal. Anak-anak setempat berlarian sembari berteriak-teriak girang menyambut ombak yang berdebur-debur.

Pantai Hukurila tak seperti Pantai Liang yang padat pengunjung di akhir pekan. Pantai ini pun tak seterkenal Pantai Natsepa dengan rujaknya itu. Pantai Hukurila hanya berhiaskan nyiur melambai dan beberapa rumah penduduk yang bersuasana hening. Tak ada pedagang, tak ada pula pondok-pondok tempat berteduh. Bahkan Pantai Lawena yang belakangan mulai ramai saja punya beberapa pondok sekedarnya untuk para pengunjung.

Di kedalaman lebih dari 20 meter di bawah permukaan laut, ada Hukurila Cave yang jadi tempat favorit para penyelam yang berkunjung ke Ambon. Di atas permukaan air, Pantai Hukurila punya pemandangan yang layak difavoritkan pula. Tapi biarlah keheningan di bawah maupun di atas permukaan air Pantai Hukurila tetap terjaga.

Kelak jika Pantai Hukurila semakin terkenal, kiranya penduduk dan otoritas setempat tetap menjaga keaslian suasana dan keheningan nan alami.


Rayuan Pantai Lawena, Ambon, Maluku

Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih
Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih

Rayuan Pantai Lawena - Foto oleh Kristupa Saragih

Pulau Ambon, Maluku menyimpan banyak pantai indah. Sekitar setengah jam perjalanan arah timur pusat kota Ambon, terhampar Pantai Lawena. Dahulu pernah populer, tapi konflik horisontal tahun 1999 membuat pantai ini tak dikunjungi.

Berada di sisi selatan Teluk Baguala, Pantai Lawena berseberangan dengan Pantai Natsepa yang kondang dengan rujaknya itu. Lantaran lama sepi akibat konflik 1999, Pantai Lawena hampir tak dikenal di kalangan remaja dan kalah kondang dibanding Pantai Liang di Hunimua. Konon Pantai Lawena baru dibuka satu dua tahun belakangan, dan tak banyak yang tahu.

Ketika mengunjungi Pantai Lawena hari Minggu (8/4) lalu, tak sampai lima puluh pengunjung bersantai di pantai indah nan luas ini. Hal yang kontras kalau dibandingkan dengan keramaian di Pantai Liang dan kepadatan pengunjung Pantai Natsepa. Konon pula, Pantai Lawena berada di tanah milik pribadi, bukan pemerintah setempat.

Maklum saja jika jalan akses ke Pantai Lawena masih seadanya. Infrastruktur pun masih belum layak terima pengunjung. Baru ada beberapa pondok tempat berteduh, tanpa sarana peturasan yang memadai dan fasilitas keamanan bagi pengunjung yang berenang.

Secara fotografis, Pantai Lawena menghadap ke timur sehingga cocok untuk menangkap matahari terbit. Tapi, ketika berkunjung ke sana saat sore pun pesona pantai ini masih memancar. Setelah jam 4 sore, matahari sudah sembunyi di balik bukit kecil sehingga sebagian besar pantai sudah berada di daerah “shadow”.

Jika kelak Pantai Lawena siap menerima pengunjung, itu berarti ada tambahan tempat tujuan wisata pantai di Pulau Ambon. Akan bijaksana jika eksploitasi tempat ini untuk pariwisata tetap mempertahankan kelestarian alam dan bermanfaat positif bagi kehidupan sosial penduduk setempat.


Suatu Pagi di Pasar Pabean Surabaya

Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya. Foto oleh: Kristupa Saragih
Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Kota metropolitan Surabaya masih menyimpan harta karun berupa pasar tradisional. Di tengah himpitan kehidupan modern dan kepungan hutan beton pusat perbelanjaan mewah, masih ada Pasar Pabean di daerah kota lama Surabaya. Pasar besar yang masih berdenyut dengan keramaian khas pasar tradisional Indonesia.

Ada banyak pedagang, mulai dari sayur mayur hingga ikan dan daging-dagingan. Mulai dari rempah-rempah hingga buah-buahan. Tersedia pula perkakas rumah tangga dan berbagai jenis pakaian.

Tak ada data resmi perihal tahun resmi pendirian Pasar Pabean. Tapi ada foto tua Pasar Pabean bertarikh 1899. Selangkah dari sana, ada Stasiun Surabaya Kota, yang dikenal dengan nama Stasiun Semut, yang berdiri tahun 1878. Jadi, kira-kira Pasar Pabean sudah berdiri sejak akhir abad 19.

Secara fotografis, Pasar Pabean menyimpan banyak subyek human interest. Aman untuk mondar-mandir membawa kamera, dan para pedagang pun ramah sepanjang fotografer pandai membawa diri. Terdengar kental bahasa Madura di seluruh pasar, pertanda dominasi etnis ini sebagai pedagang pasar.

Berikut beberapa foto yang dibuat pada kunjungan ke Pasar Pabean, Minggu (24/04) bersama beberapa kawan penggemar fotografi di Surabaya.

Contented. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Contented. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Occupied. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Occupied. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Swinging. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Swinging. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Triangular. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Triangular. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Busy. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Busy. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Fellows. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Fellows. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Inside The Market. Suasana Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Inside The Market. Suasana Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih


Pesona Pantai Liang, Ambon, Maluku

Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih
Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Menaungi Pantai Liang, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu hari yang cerah, siang tak terasa panas. Sinar matahari menembus air laut nan bening hingga ke dasar yang dangkal. Pasir terlihat hangat dicium air laut berwarna hijau kebiruan. Demikian suatu hari yang sempurna di Pantai Liang, Ambon, Maluku.

Pantai yang berjarak sekitar 40 km dari kota Ambon, atau sekitar 30 menit bermobil ini, musti masuk daftar kunjung pelancong di Ambon. Konon badan PBB yang mengurusi pembangunan UNDP alias United Nations Development Programme, pada tahun 1990, melabeli Pantai Liang sebagai pantai terindah di Indonesia. Suatu label yang layak untuk pantai yang juga berjuluk Pantai Hunimua ini.

Berada di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, perjalanan ke Pantai Liang ditempuh setelah melewati Pantai Natsepa terlebih dahulu. Jika hendak menikmati keheningan, kunjungi Pantai Liang di hari biasa, bukan akhir pekan dan hari libur. Niscaya angin sepoi-sepoi menyapa lembut diiringi nyiur yang melambai-lambai, mengiringi langkah kaki di butir-butir halus pasir Pantai Liang.