Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Ports

Menyeberang Poka-Galala dengan Feri KMP Teluk Ambon

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyeberangi Teluk Ambon antara Poka dan Galala, Ambon, Maluku bisa jadi biasa dan singkat. Feri ada di mana-mana, bahkan di Provinsi Maluku yang terdiri atas ribuan pulau. Tapi 15 menit di atas feri KMP Teluk Ambon bisa jadi amat menarik dengan ponsel berkamera di tangan.

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Tiba di Bandar Udara Pattimura, Ambon pada hari Minggu (13/5), mobil berbelok kanan masuk pelabuhan Poka. Masuk perut KMP Teluk Ambon, kapal feri yang masih baru ini langsung angkat sauh.

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Feri jenis ro-ro buatan tahun 2010 ini berbobot mati 300 ton, mampu mengangkut 6 truk, 9 mobil kecil dan 80 penumpang pada saat bersamaan. Berkecepatan maksimal 9 knot, KMP Teluk Ambon dijalankan oleh 16 ABK.

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Tiket mobil kecil Rp 20 ribu saja sekali menyeberang, penumpang gratis. Dengan tiket seharga itu, perjalanan melintasi Teluk Ambon bisa dihemat 20-30 menit daripada lewat darat. Lama akses dari kota Ambon ke kampus Universitas Pattimura dan Bandar Udara Pattimura pun jadi lebih singkat.

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto dibuat dengan Samsung Galaxy Note.


Terminal 3 Changi International Airport in Panorama

Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Samsung Galaxy Note

Last month, I flew Garuda Indonesia airline from Singapore to Jakarta. The time in Departure Terminal of Terminal 3 Changi International Airport (SIN) Singapore was worth spending. I also spent a little time waiting in SATS Executive Lounge prior to proceeding to boarding gate.

For me, reading and writing while waiting for the flight is worthwile. But spending time for going around and shooting with my mobile phone brought so many things to be memorized and shared.

Here are some shots that you might get if your flight departed from Terminal 3 Changi International Airport Singapore:

Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Samsung Galaxy Note

Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Samsung Galaxy Note

SATS Executive Lounge in erminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

SATS Executive Lounge in Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Interior SATS Executive Lounge in erminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Interior SATS Executive Lounge in Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Waiting hall in departure Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Waiting hall in departure Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih


#TheTerminal Series 01 KUL

Visiting Kuala Lumpur International Airport (KLIA) Malaysia gives me time to enjoy lines and shapes in its architecture. Come early to KLIA and make some shots with my BlackBerry camera is worth a spend of time.

20120110-002211.jpg

20120110-002042.jpg

20120110-002422.jpg

20120110-002802.jpg

20120110-002911.jpg

20120110-003010.jpg

20120110-003109.jpg


Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900
Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Mengunjungi Da Lat, kota wisata di Vietnam Selatan, berkaitan dengan Crossing Bridges 8 Vietnam 2011, saya dan kawan-kawan fotografer 5 negara ASEAN mampir ke Stasiun Kereta Api Da Lat, Senin (14/11). Semula biasa saja, sampai seluruh rombongan tiba di tempat barulah tersadar bahwa bangunan stasiun KA ini mempesona. Terpelihara baik, rapi dan bersih, Stasiun Da Lat masih berfungsi hingga kini.

Membawa kamera besar sudah pasti, apalagi Crossing Bridges adalah ajang pertemuan tahunan fotografer-fotografer Asia Tenggara. Tapi merekam keindahan karya arsitektur Stasiun Da Lat terasa menyenangkan juga dengan kamera sesederhana ponsel BlackBerry 9900.

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Didesain pada tahun 1932, arsitek-arsitek Perancis Moncet dan Reveron memilih gaya art deco dipadu dengan elemen lokal Cao Nguyen, yang ada di rumah-rumah besar dataran tinggi Vietnam Tengah. Secara umum, desain Stasiun Da Lat dibuat mirip dengan stasiun di Normandy. Stasiun ini mulai beroperasi tahun 1938 dan oleh pemerintah kolonial Perancis dibuat untuk melayani jalur Da Lat-Thap Cam.

Tiga puncak atap Stasiun Da Lat didesain untuk melambangkan ketiga puncak Pegunungan Liang Biang di Da Lat. Stasiun ini berhenti beroperasi pada saat Perang Vietnam tahun 1960-an. Pada tahun 1990-an, usaha restorasi Stasiun Da Lat dan jalur kereta api dimulai untuk kepentingan pariwisata. Tahun 2001 Stasiun Da Lat diresmikan sebagai gedung bersejarah yang dilindungi.

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat wajib dikunjungi pecinta arsitektur, penyuka perkeretaapian dan fotografer arsitektur.

Semua foto yang menyertai tulisan ini dibuat dengan kamera ponsel BlackBerry 9900 tanpa editing apapun.

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900