Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Uncategorized

Onboard GA889 KIX-CGK PK-GPN
Pilot-in-Command Capt Iwan Surya
#Fujikina2017 – with Wawan, Yan, Samuel, and Dewandra at Kansai International Airport (KIX) (関西国際空港)

View on Path


Tipikal rumah penduduk Muara Enim, Sumatera Selatan jaman dahulu – at Muara Enim

View on Path


Obituari Hubert Januar #FN12 Modz @FotograferNet

image

Saya kenal Hubert Januar sejak pertengahan 1990-an. Waktu itu sekedar kenal nama, lantaran nama kami sering menghiasi majalah fotografi Indonesia sebagai pemenang lomba foto bulanan. Di lomba-lomba foto di berbagai tempat di Indonesia pun kami sering sama-sama menempatkan nama sebagai juara.

Ketika Fotografer.net (FN) mendaring Desember 2002, Hubert termasuk di 10 ribu anggota pertama di bulan pertama usia FN, bernomor ID FN 6721. Sebagai sosok muda dan jawara fotografi Indonesia, merupakan kehormatan bagi FN memiliki moderator sekaliber Hubert.

Tatap muka sering terjadi sejak saya mulai sering berkeliling sebagai pembicara dan juri fotografi. Hubert sering menjemput dan mengantar saya ke Bandara Juanda Surabaya dengan mobil Panther “perang”-nya itu bersama David Hermandy.

Aktif sebagai senior unit kegiatan mahasiswa (UKM) di Universitas Petra Surabaya, Hubert beberapa kali melibatkan saya di kegiatan-kegiatan adik-adiknya di kampus. Hubert pun sering mengajak saya makan masakan-masakan kesenangan kami bersama istrinya Julia, anaknya dan sahabatnya David Hermandy.

Kami pun sering berburu foto bersama. Hubert hafal tempat-tempat bagus di Bali dan tanggal-tanggal upacara sesuai kalender Bali. Ia kerap mengemudikan sendiri Panther-nya Surabaya-Bali pp. Semangat terpancar dari matanya, apalagi jika dapat foto-foto bagus.

Meski bersahabat baik dengan saya, Hubert kritis. Justru karena kami bersahabat ia berani berkata apa-adanya. Tak hanya soal fotografi namun sampai hal-hal pribadi. Saya pun demikian.

Pada 2006 ketika kami sama-sama menjadi juri lomba foto di Bali, kebetulan kami ditempatkan di kamar penginapan yang sama. Kami mengkritisi usia para senior yang sudah layak regenerasi. Saya memilih memperbaiki situasi dari luar. Sementara Hubert bersikap, kalau ingin memperbaiki harus dari dalam. Kami pun menyebut nama-nama fotografer muda yang secara kualitas mumpuni, terbukti diakui masyarakat luas dan kreatif, dalam arti enggan mengulang karya yang pernah ada atau mem-“fotokopi” karya orang lain. Demi wibawa fotografi Indonesia.

Tatkala Hubert terkendala kehidupan pribadi, bisnisnya pun terpengaruh. Hubert sempat mampir ke Jogja beberapa kali, bahkan pernah sekali menginap di kantor FN untuk beberapa malam.

Saya mengenal Hubert juga sebagai kolektor kamera. Sebagai penggemar fanatik Nikon, Hubert mengoleksi banyak piranti langka. Suatu kali Hubert membanggakan bodi kamera bernomor cantik yang baru diperolehnya.

Meski untuk urusan “agama” kami berseberangan, Hubert menganggap kesenangan bukanlah hal untuk diperdebatkan. Meski sifat Hubert yang kritis sering dianggap orang sebagai sesuatu yang mengundang debat.

Kontak kami terakhir beberapa bulan lalu ketika FN mengaktifkan chat room di sebuah messenger. Saya menelepon Hubert dan saling meng-update kabar terakhir. Terpancar sebersit energi harapan dari suaranya tentang masa depan yang lebih baik.

Namun kenyataan mengarahkan Hubert ke kehidupan yang terbaik, di pangkuan-Nya.

Selamat jalan, Hubert Januar. Saya yakin, seperti saya yang kehilangan sosok muda Surabaya penggerak fotografi Indonesia, banyak penggiat fotografi yang kehilangan Hubert.

Hubert boleh pergi, namun karya-karyanya abadi.

Biar foto yang bicara.

image


Kisah dari Air Terjun Semolon, Malinau #KaltaraPhotoCamp

Image

Berada di hamparan hutan tropis Kalimantan, air terjun Semolon sehari-hari sunyi. Sesekali saja ada pengunjung di salah satu tempat wisata andal Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini. Tapi pada akhir pekan 17-18 Mei, air terjun Semolon ramai benar.

Image

Tercatat 60 fotografer dari seluruh kabupaten di Kaltara hadir, bersama dengan sejumlah tamu fotografer asal Balikpapan, Kaltim dan Jakarta. Tampak hadir juga puluhan penari dan pemusik tradisional dari desa wisata Setulang, yang bertetangga dengan Semolon. Terlihat pula hadir belasan Pramuka Saka Wira Kartika yang membaur bersama pemuda-pemuda setempat.

Workshop singkat fotografi oleh Kristupa Saragih dan Dewandra Djelantik membuka rangkaian kegiatan Kaltara Photography Camp. Kedua fotografer profesional ini berasal dari komunitas Fotografer.net (FN), website fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Bagi semua peserta dan pembicara, ini adalah kali pertama mereka semua mengalami workshop fotografi di tengah hutan tropis lebat.

Total ada 200 ransum makanan yang disiapkan untuk seluruh hadirin yang menginap semalam di tenda-tenda yang terhampar di lapangan. Gelaran Kaltara Photography Camp semula optimis hanya pada jumlah sekitar 50 pendukung saja. Namun gema semangat fotografer untuk Persatuan Indonesia ini ternaya sampai ke mana-mana.

Image

Bupati Malinau Yansen Tipa Padang hadir membawa serta jajaran pemkab (pemerintah kabupaten). Kehadirannya menyemangati para peserta dan pendukung. Tak hanya ikut memotret bersama peserta, Bupati hadir hingga larut malam dan berbaur akrab seraya berseling dengan canda tawa.

Image

Inisiatif Dandim 0910 Malinau Letkol Inf Agus Bhakti semula hanya sesederhana mengumpulkan para fotografer Kaltara, yang masih muda-muda, lantas mengumandangkan semangat kebangsaan dan cinta Tanah Air. Namun motivasi sederhana ini justru membakar semangat para fotografer dari kabupaten-kabupaten lain di Kaltara untuk merapatkan barisan dan menyatukan langkah untuk NKRI.

Semangat yang bergelora dari para fotografer ini dikemas dengan acara motret figur-figur khas Dayak, yang diboyong ke Semolon, dan atraksi-atraksi tradisional Dayak. Para fotografer Kaltara paham benar, bahwa tugas dokumentasi untuk pelestarian budaya tradisional dan ajaran para leluhur ada di tangan mereka.

Posisi Kaltara di perbatasan dengan negara asing mengkukuhkan semangat pengibaran Merah Putih melalui fotografi. Jangan sampai alam indah Indonesia dan budaya Nusantara diklaim sebagai milik asing. Foto-foto yang dibuat di Semolon menjadi inspirator para fotografer di seantero Kaltara untuk menyebarluaskan foto-foto yang dibuat di daerah masing-masing sebagai pengumuman kepemilikan atas Tanah Air dan budaya Indonesia.

Sudah cukup kejadian-kejadian tari tradisional Indonesia, motif pakaian dan makanan asli Indonesia diklaim sebagai milik asing. Sudah bulat tekad para peserta Kaltara Photography Camp menyumbangkan diri untuk kedaulatan Indonesia melalui fotografi.

Image

Malam Minggu di air terjun Semolon itu sangat berarti. Para peserta dan panitia Kaltara Photography Camp berdiri melingkari apa unggun dan berpengangan tangan sembari menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Ketika lagu “Syukur” dinyanyikan, salah satu panitia membacakan puisi kebangsaan yang disahut dengan deklamasi kebangsaan oleh Bupati Yansen. Di bawah siraman cahaya bulan purnama, nyala api unggun dan lirik “Syukur” memadu keharuan dan semangat.

Image

Esok paginya, para peserta mandi di mata air panas yang bercampur dengan sumber air segar air terjun Semolon. Usai sarapan ala lapangan, para peserta menanam bibit pohon di seputar lokasi wisata air terjun Semolon bersama Dandim 0910 Malinau, Komandan Yonif (Danyon) 614/RP Letkol Inf Hadi Al Jufri dan direksi PT BDMS Daniel Suharya. Semua hadir di Kaltara Photography Camp karena Bupati, Dandim, Danyon dan direksi serta sejumlah staf PT BDMS memang penggemar fotografi.

Dari lomba foto kecil-kecilan yang digelar, pagi itu hasil lomba diumumkan. Ada masing-masing 3 pemenang dari 3 kategori lomba: landscape, human interest dan model. Para pemenang asal Tarakan ternyata tak mengantongi uang tunai hadiah lomba. Mereka ternyata menggabungkan seluruh uang hadiah untuk menyiapkan kegiatan lanjutan serupa Kaltara Photography Camp di Tarakan. Semoga niat mulia ini terwujud segera.

Image

Begitu besar semangat persahabatan, kebersamaan dan kebangsaan yang timbul sekaligus disatukan di antara suara gemericik air terjun Semolon. Para peserta berangkat ke Semolon dan pulang ke rumah masing-masing atas biaya pribadi. Hanya semangat lah yang memberanikan mereka menumpang pesawat terbang dan speed boat berjam-jam, disambung menumpang truk tentara, untuk berjumpa rekan-rekan fotografer dari kabupaten-kabupaten se-Kaltara.

Nun di ujung utara Kalimantan sana, hutan masih terhampar lebat bersama deburan jeram Sungai Kayan dan Sungai Mentarang. Udara yang segar dan tradisi masyarakat yang masih asli merekatkan persatuan fotografer Kaltara untuk Persatuan Indonesia melalui fotografi. Kebhinekaan kita adalah kekayaan kita.

Meski hidup masih sulit, BBM (bahan bakar minyak) dan sembako (sembilan bahan pokok) saja berasal dari negara tetangga dan berharga mahal, semangat kreativitas senantiasa menyala. Sinyal seluler baru masuk pedalaman pada Desember 2013, itupun dalam kecepatan data internet yang amat minim.

Justru dalam segala keterbatasan itulah semangat perjuangan dan persatuan terjaga.

Dari Malinau, para fotografer Kaltara menyuarakan semangat persahabatan dan cinta lingkungan. Jauh dari pamrih nama tenar dan iming-iming materialisme, mereka bergerak dalam sepi. Namun gema Persatuan Indonesia dari ujung utara Kalimantan ini menggelorakan semangat para fotografer di seluruh Nusantara untuk beraksi serupa.

Biar foto yang bicara.

 

Image

 

Foto-foto oleh: Kristupa Saragih

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang


Refleksi #FNpapuaGathering 2014

Gelar acara kumpul bareng alias gathering fotografer di provinsi padat penduduk dan dekat, atau malah di, ibukota tak menjumpai kendala berarti. Peminat banyak, biaya murah dan sponsor mudah mendekat.

Menggelar gathering di ibukota provinsi Papua Jayapura ternyata menjumpai banyak kendala, dari berbagai arah.

Motivasi “Majukan Papua Melalui Fotografi” lahir dari kegelisahan sejumlah fotografer untuk berbuat nyata bagi tanah Papua melalui kamera mereka. Namun mantra ini tak menarik bagi sejumlah perusahaan, yang mayoritas berbasis di Jakarta.

Berbagai alasan lahir dari perusahaan-perusahaan yang diincar panitia Fotografer.net (FN) Papua Gathering atau #FNpapuaGathering untuk mensponsori kegiatan. Mulai dari “no interest” bagi bisnis mereka, biaya mahal namun “small return”, tak ada dealer alias cabang di Papua, hingga cibiran untuk perkiraan jumlah peserta yang kecil.

Saya secara pribadi mendekati sejumlah kenalan yang menempati posisi “decision making” di perusahaan-perusahaan nasional di Jakarta. Tapi hanya senyuman dan penolakan halus yang menerpa mata dan telinga saya. Bagi mereka, keamanan Papua bukan pertimbangan, lantaran percaya rekomendasi saya. Namun alasan bisa lahir dalam 1001 bentuk dan varian.

Dalam hati saya berulang kali membatin, haruskah fotografer tanah Papua berhutang budi pada kebaikan pihak asing yang berminat mensponsori? Apakah bisnis murni bagi sebuah perusahaan di tingkat tertentu mengalahkan rasa kebangsaan, meski mereka memajang Merah Putih di berbagai kesempatan?

Bersemangat Merah Putih, segenap panitia #FNpapuaGathering bertekad menggelar kegiatan pada tanggal 1 Mei. Bertepatan dengan hari peringatan penggabungan Irian Barat ke NKRI pada tahun 1963 oleh UNTEA, badan dunia PBB, kami ingin menunjukkan kedaulatan fotografer Indonesia atas Tanah Air kami sendiri.

Para panitia yakin, tak ada NKRI tanpa Papua. Motivasi ini tak berlebihan, karena setiap WNI wajib ikut serta membela dan mempertahankan keutuhan NKRI. Komunitas fotografi Indonesia, dengan payung website fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara Fotografer.net berada di garis terdepan mewujudkan dan menjaga nyala semangat itu.

Kocek pribadi panitia pun dipertaruhkan, seraya tetap bergerilya mencari dukungan agar fotografer Papua punya momentum menunjukkan kebersatuan dan persahabatan. Hingga kurang dari sebulan sebelum pelaksanaan, kami paham bahwa #FNpapuaGathering, secara biaya, adalah sebuah “mission impossible”.

Pendekatan pribadi ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua membuahkan hasil, sejurus dengan pendekatan ke sejumlah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) di Papua. Namun kabar ini baru diterima sekitar seminggu sebelum acara digelar. Pemprov Papua dan Pemkab Lanny Jaya memberikan dukungan dana tunai.

Napas sudah ngos-ngosan dan hampir habis lantaran dompet sudah terkuras membiayai pemesanan tiket pesawat panitia, memesan makanan, membayar produksi publikasi dan memesan penginapan. Bantuan pemerintah baru cair setelah acara kelar.

Perusahaan telekomunikasi seluler akhirnya bersedia mendukung, setelah pendekatan pribadi. Perusahaan ini menyediakan 3 baliho untuk dipakai publikasi #FNpapuaGathering di Jayapura. Dalam hati kami berharap, seandainya juga ada titik-titik baliho di kota-kota lain di Papua.

Masalah dana teratasi di menit terakhir, namun kendala lain justru datang dari beberapa individu di Papua sendiri.

Ada figur yang ogah turun tangan saat bekerja, tapi paling lekas di posisi paling depan ketika tiba saatnya makan-makan dan acara santai. Ada pula figur yang merasa “senior” tapi tidak bisa merasakan junior-juniornya bermandi keringat dan berkorban waktu menyiapkan acara.

Bibit perpecahan bisa terjadi di mana-mana. Namun kita paham bahwa kebhinekaan Indonesia lah sebenarnya kekayaan bangsa dan Tanah Air kita. Warisan budaya luhur nenek moyang adalah pemersatu kita.

Tanah Papua yang begitu luas terdiri atas beragam suku dan bahasa daerah. Apalagi jika kita berbicara kebhinekaan Indonesia. Keberagaman itulah pemersatu kita, tapi bukan berarti penyeragaman lantaran setiap individu adalah pribadi unik.

Melalui cara dan kecintaan pada fotografi, #FNpapuaGathering terwujud. Tak hanya gathering sehari, namun berimbuh workshop dan lomba foto yang total berdurasi 3 hari.

Peserta datang dari berbagai penjuru Papua, mulai dari Merauke, Biak hingga Kaimana di Papua Barat. Semua peserta menanggung sendiri biaya transportasi atas semangat bersatu dan persahabatan dalam balutan fotografi. Ada peserta yang harus menumpang kapal perintis belasan jam bersambung dengan 2 penerbangan perintis berjam-jam untuk mencapai Jayapura.

Ruang kelas workshop tersedia bagus dan rapi. Sejuk dan nyaman namun berbiaya murah untuk kelas hotel berbintang. Lomba foto berhadiah yang tunai jutaan rupiah digelar di tepi Danau Sentani. Model-model berdandan etnik khas Papua dihadirkan dengan berbagai setting khas aktivitas tradisional.

Orang bilang burung khas Papua Cendrawasih adalah burung surga. Panitia #FNpapuaGathering menjadikannya logo berkelir merah putih. Biar orang tahu bahwa salah satu surga fotografi Indonesia adalah Papua.

Rangkaian #FNpapuaGathering selama 3 hari dipungkasi dengan makan malam bersama. Belasan komunitas fotografi dari seluruh penjuru Papua hadir. Tiap komunitas maju ke panggung memperkenalkan diri. Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang.

Kehadiran Asisten Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua, yang mewakili Gubernur Papua, membesarkan hati para panitia dan peserta. Apalagi sambutan beliau menyatakan, bahwa tema “Majukan Papua Melalui Fotografi” sejalan dengan arah pembangunan menjadikan Papua sejahtera dan berdikari.

Secara pribadi saya cemburu dengan kawan-kawan Papua yang didukung pemprov dan pemkab. Saya teringat dengan FN Goes to Natuna tahun 2013 yang didukung Pemkab Natuna di Provinsi Kepulauan Riau. Saya juga teringat dengan Kaltara Photography Camp yang digelar bulan Mei 2014 ini atas dukungan Pemkab Malinau di Provinsi Kalimantan Utara.

Indonesia bukan hanya Jawa, dan Jawa tidak hanya Jakarta. Di tempat yang mudah, semua merasa hebat. FN mencamkan benar dalam setiap kegiatan keliling Indonesia, bahwa untuk sukses tak harus di Jakarta. Dengan demikian kita menjaga semangat fotografi yang menghargai karya dan ide, bukan memuja nama individu, gelar, jabatan dan harta.

Seandainya para pemimpin daerah di Indonesia meneladani Gubernur Papua Lukas Enembe dan Pemprov Papua, betapa maju fotografi Indonesia dan bersatu fotografernya. Asisten Sekda Papua sepakat bahwa fotografi adalah alat pemasar pariwisata yang efektif, mudah dan murah jika berpadu dengan internet. Saya respek, karena pemprov dan pemkab Papua melaksanakan secara riil, bukan hanya omdo alias omong doang.

Andai-andai tak akan ada habisnya.

Dari #FNpapuaGathering 2014 ada banyak bahan refleksi dan instrospeksi. Namun, yang jelas, setiap peserta pulang dengan senyum tersungging. Terbersit harapan di hati panitia bahwa tahun depan acara serupa terulang lebih meriah. Agar lebih banyak senyum tersungging di Papua, memajukan Papua melalui fotografi.

Biar foto yang bicara.

20140524-084737-31657268.jpg


Selamat Jalan Letkol Inf Hendra Heryana

Pada suatu siang di bulan Januari 2012, Pulau Kemaro di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan ramai oleh fotografer. Sesosok pria berkacamata hitam memperkenalkan diri kepada saya sebagai Hendra Heryana, seraya memohon maaf terlambat ikut kegiatan karena pekerjaan. Hari itu Pulau Kemaro jadi salah satu lokasi kegiatan Jelajah Musi berkaitan dengan HUT ke-9 Fotografer.net (FN) dan kawan-kawan FN Palembang bertindak selaku tuan rumah HUT.

Saya tahu Hendra Heryana adalah perwira TNI AD berpangkat letnan kolonel infanteri yang bertugas sebagai pabandya (perwira pembantu madya) di Kodam II Sriwijaya. Namun kesehariannya jauh dari kesan lazim tentara, malah luwes membaurkan diri dengan kawan-kawan fotografer di Palembang yang berasal dari berbagai latar belakang.

Saya ingat suatu peristiwa ketika kami makan di Pempek Beringin Jl Radial bersama-sama kawan-kawan FN Palembang. Setelah pempek terhidang dan sesaat sebelum kami mulai bersantap, Hendra Heryana di ujung meja berdiri seraya mohon ijin makan. Kami semua terhenyak akan kesantunannya.

Pergaulan di Palembang lantas dilanjutkan Hendra mengakrabkan diri dengan Rully Trisaputra, Adriansyah dan Muliady Effendy, para penggiat fotografi di Palembang dan kawan-kawan FN se-Sumatera Selatan.

Sebulan kemudian, saya kembali ke Palembang untuk hunting foto Cap Go Meh di Pulau Kemaro. Hendra terlihat sudah berbaur tanpa batas dengan kawan-kawan fotografer Palembang. Bahkan saat hunting Hendra membawa serta istri Derby Yuki Berbenia dan seorang putrinya.

Melalui Anif Putramijaya, kawan yang berinisiatif memperkenalkan saya, Hendra Heryana menunjukkan kesungguhan berbaur dengan fotografer. Foto-fotonya bagus dan secara teknis sudah “jadi”. Bahkan berbagai teknik olah digital telah dikuasainya. Namun Hendra tetap haus belajar apa saja.

Sebulan kemudian Hendra memperoleh tugas baru sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 134 Tuah Sakti (134/TS) di Batam, di wilayah Kodam I Bukit Barisan. Saya diundang hadir sebagai tamu di upacara serah terima jabatan dan tradisi satuan. Sejak itu selama 11 bulan, saya tiap bulan mengunjunginya di Batam untuk kepentingan Yonif 134/TS, satuan di atasnya Korem 033 Wira Pratama dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan komunitas-komunitas fotografi di Batam dan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Ada-ada saja alasan yang dibuat Hendra untuk membuat saya berkunjung ke batalyon. Hingga pada bulan puasa 2012, saya dan Nico Wijaya, staf FN, diundang untuk membuat foto-foto batalyon yang bermuara pada pembuatan video durasi pendek secara tak sengaja. Sejak itu FN serius menggarap video-video bertema kemiliteran.

Kecintaan Hendra Heryana pada fotografi membangkitkan inisiatifnya menggelar kegiatan Military Photography. Atas izin Komandan Korem (Danrem) 033/WP Brigjen TNI Deni K Irawan, atasan Hendra sebagai Danyon 134/TS, izin pun diperoleh dari Panglima Kodam (Pangdam) I Bukit Barisan. Lantas digelarlah kegiatan Military Photography pada 1-2 September 2012 di Yonif 134/TS yang dihadiri 150 fotografer dari Kepri, Riau, dan Jabodetabek.

Hari pertama diawali dengan apel pagi gabungan Yonif 134/TS, jajaran petugas kebersihan Kota Batam dan komunitas-komunitas fotografi di Kepri. Lantas kegiatan berlanjut dengan aksi gabungan di kampung kumuh terapung di Batam, berupa aksi kebersihan, operasi kesehatan gratis dan pembagian sembako.

Di hari kedua, kegiatan berpusat di batalyon. Semua peserta berangkat dengan truk tentara dari kota Batam menuju batalyon di Barelang. Motivasi Hendra, demi kekompakan agar pergi bersama dan pulang bersama, tanpa seorang pun membawa kendaraan pribadi.

Fotografer disambut dan dikawal drum band batalyon. Semua peserta disamar muka ala tentara siap tempur. Memasuki medan “laga”, para fotografer “dihujani” tembakan untuk menyemangati. Semua makan dengan ompreng, doa bersama, makan serentak dan cuci sendiri ompreng yang kelar dipakai makan. Tanpa kecuali, termasuk peserta yang anak jendral.

Sebagai perwira yang melek teknologi, Hendra membawa angin segar ke anggota-anggotanya. Para perwira diwajibkan piawai memakai ponsel cerdas untuk berkomunikasi, navigasi dan berbagai tujuan penyuksesan tupoksi (tugas pokok operasi) TNI AD. Laporan disampaikan secara digital, tentu termasuk laporan berbentuk foto berikut koordinat.

Tatkala Hendra dapat promosi menjadi Komandan Kodim (Dandim) 0318 Natuna pun, kecintaan pada fotografi semakin menjadi. Para fotografer dihadirkan dari seluruh Indonesia pada kegiatan bertajuk FN Goes to Natuna. Tugas teritorialnya sebagai perwira TNI AD membawanya pada tataran yang lebih luas, komprehensif dan integral untuk operasi selain perang.

Tak hanya TNI AD, Hendra Heryana juga melibatkan TNI AL dan jajaran Lanal Natuna serta TNI AU dan jajaran Pangkalan Ranai. Salah satu tujuan kegiatan memang mempromosikan pariwisata Natuna. Namun tugas yang lebih besar adalah mengibarkan Merah Putih di tempat-tempat terdepan Indonesia melalui fotografi.

Saya kenal cukup dekat dengan keluarga Hendra Heryana. Ketika bertugas di Natuna, saya diinapkan di rumah dinasnya. Dalam sejumlah kesempatan di Jakarta dan Batam pun ketika bertemu saya Hendra membawa serta istri dan ketiga putrinya.

Anak-anaknya disekolahkan di tempat terbaik. Istrinya pun supel bergaul dan membawa diri secara sederhana. Demikian juga dengan para ajudan Hendra yang rendah hati, sekaligus piawai memotret dengan mentor komandannya langsung.

Kecintaannya pada olahraga ekstrem klop dengan kesukaannya pada segala sesuatu yang erat dengan petualangan. Ada motor cross special engine 250cc yang dibeli bekas agar murah, dan selalu dipinjamkannya kepada saya tiap kali saya berkunjung. “Gua tau lu suka banget, bro,” ujarnya berulang-ulang di kesempatan berbeda.

Mungkin karena kami berzodiak sama, maka saya dan Hendra punya sejumlah kesamaan. Apalagi Hendra adalah perwira TNI AD berkualifikasi Raider. Kami pun sering bermotor bersama dan latihan menembak. Di Natuna pada suatu kesempatan bermotor bersama, secara tak sengaja kami sampai ke ujung kaki Gunung Ranai. Maka spontan kami memarkir motor dan mendaki gunung bersama Danramil Ranai dan sejumlah anggota Kodim.

Pada suatu kunjungan kerja ke Kepulauan Anambas bersama rombongan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Hendra meminjami saya motor trail berkeliling Tarempa. Ketika berkunjung ke Pulau Jemaja, salah satu pulau besar di Kepulauan Anambas, kami bermotor menikmati keindahan alam sampai ke pelosok.

Ketika jalan kami berujung di suatu kampung kecil nelayan di tepi pantai, Hendra menjumpai sekelompok anak berkostum sepak bola negara asing. Sembari menyarankan kebanggaan terhadap negeri sendiri, Hendra pun mengajak anak-anak itu bernyanyi Indonesia Raya.

Lulus Akademi Militer (Akmil) Magelang tahun 1995, Hendra bertugas di Yonif 412 Raider, satuan bersejarah TNI AD di Purworejo. Sempat bertugas sebagai pengajar di Pussenif (Pusat Persenjataan Infanteri) di Bandung, Hendra kemudian bertugas di Korem 042 Garuda Putih di Jambi, baru pindah ke Palembang.

Kamera menjadi senjatanya berbaur dengan kawan-kawan di manapun Hendra bertugas. Pada kesempatan saya berkunjung ke Wamena, Dandim Jayawijaya Letkol Inf Yusuf Sampetoding, teman seangkatan Hendra di Akmil, menceritakan hobi foto kawan sekamarnya itu. Ternyata di sela-sela pendidikan ketat Akmil dan keuangan yang minim, Hendra sudah piawai memotret di era fotografi film.

Jiwa seni tak berhenti sampai di situ, karena Hendra berhasrat bikin film bertema militer di layar lebar. “Supaya rasa kebangsaan para penonton bangkit. Dan supaya rakyat Indonesia bangga dengan TNI. Jangan lihat film tentara asing melulu,” ujarnya pada suatu waktu.

Pemutar musik di mobil dinasnya sarat dengan lagu-lagu bermutu. Di mana pun bertugas, kabin mobilnya penuh lantunan musik klasik dan jazz serta lagu-lagu pop dari pemusik terkemuka. Hendra pun penggemar berat nonton film layar lebar. Beberapa kali saya diajak nonton film secara maraton, jika mumpung berada di kota berbioskop. Tugas di tempat terpencil tak mematikan hasrat seninya.

Kalaupun sekarang tugas Hendra Heryana sejak 21 Desember 1972 sudah berakhir di dunia fana, saya yakin di alam sana ia tersenyum melihat jerih payah perjuangannya dinikmati orang banyak. Tak ada rasa takut bagi perwira berbakat TNI AD ini, termasuk hasratnya terbang dengan paramotor.

Hendra Heryana sahabatku, beristirahatlah tenang bersama Sang Pencipta. Jasamu senantiasa kami kenang. Fotografi untuk Persatuan Indonesia.

Biar foto yang bicara.

20140430-072621.jpg


11 Tahun Fotografer.net #FN11

Sebelas tahun keberadaan Fotografer.net (FN) di khalayak fotografi dunia membuktikan banyak hal. Sebagai forum digital, FN menjadi komunitas terbesar se-Asia Tenggara dengan 483.000 anggota dan 1,9 juta foto. Sebagai forum di dunia nyata, sepanjang 2013 saja FN sukses menggelar 24 kegiatan di 17 kota. Para anggota FN pun membuktikan kesatuan hati untuk Persatuan Indonesia dengan turun ke jalan serentak di 20 Oktober 2013 untuk #FNstreethunting di 55 kota dan dihadiri 3.880 fotografer, yang mengisi daftar hadir.

Dengan banyak suara merdu dan sumbang seputar keberadaan FN, kita tahu ikan lele hidup di air keruh dan suara negatif terdengar lebih lantang. Namun fakta, baik secara online maupun offline, membuktikan bahwa berkarya dalam sepi menguji kesungguhan hati kita untuk berkiprah tanpa pamrih. Tanpa banyak omong basa basi dan jauh dari niat cari-muka, anggota FN membuktikan pepatah “tong kosong berbunyi nyaring” benar adanya.

ImageAngka statistik FN mustahil terabaikan dan tak terbandingkan dengan forum-forum serupa di Tanah Air, di regional Asia Tenggara saja FN teratas. Para anggota FN di berbagai tempat giat menyebar semangat kreativitas dan kesetiakawanan. Kita paham bahwa nilai 3 jempol ke atas dan ke bawah lebih bertanggung jawab dari sekedar tombol suka dan abstain. Kita bersikap, maka kita dihargai sebagai insan dewasa. Anak kecil haus perhatian, remaja haus sanjungan, sementara manusia dewasa memahami dan menerima kenyataan.

Kita sikapi tahun kesebelas komunitas fotografi terbesar se-Asia Tenggara ini dengan filosofi air, yang jadi wahana refleksi. Seringkali interaksi muncul ketika satu individu butuh sesuatu, dan tak acuh ketika individu lain di komunitas kita membutuhkan uluran tangan. Namun secara sosial, komunitas FN berhasil membangun nilai dan etika, bahwa persahabatan lahir dari peristiwa sehari-hari yang sederhana. Banyak sosok terkemuka yang lahir dari FN dan masih ingat tanggung jawab sosialnya untuk membina persahabatan sejati yang pernah dikecap.

Kita belajar pada air yang selalu mencari tempat yang rendah. Mengaku sebagai pemula itu baik, namun kalau terus menerus mengaku pemula maka usia persahabatan tak lama lantaran terbelenggu kerendahdirian dan sikap ogah bertanggung jawab. Rendah diri dan rendah hati berbeda tipis. Anggota FN tahu diri dan paham bahwa kearifan lahir dari hubungan antar-individu yang jujur dan kritis. 

Filosofi air mengajak kita untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Permukaan air yang selalu datar mendasari semangat egaliter di FN. Banyak individu yang tak nyaman, bahkan bersikap berseberangan dengan FN, lantaran ingin dianggap lebih daripada yang lain dengan mengandalkan paham materialistis dan status sosial. Banyak pula individu yang memaksakan kehendak di FN, namun jiwa yang bersih dan itikad baik mengatasi banyak hal. FN berpihak kepada para anggota yang menghormati kerja cerdas dan proses melahirkan ide cemerlang serta semangat pantang menyerah.

Ucapan terimakasih ditujukan kepada seluruh pihak yang sudah membantu kegiatan FN dalam berbagai bentuk dan di berbagai tempat. Para moderator yang sukarela menghangatkan Forum dan menegakkan Aturan FN, termasuk Aturan Kategori Terbatas, layak mendapat tempat terhormat. Para anggota yang menjadi relawan pandega berbagai kegiatan FN patut mendapat penghargaan. 

Filosofi air yang selalu mengikuti bentuk wadahnya membuat kita belajar untuk senantiasa beradaptasi dan menanggapi dinamika secara bijak. FN sadar bahwa keberadaan aplikasi mobile sudah mendesak, namun keterbatasan SDM dan finansial jualah yang membuat kita belajar arif. Pengelola FN juga paham, bahwa sudah waktunya komunitas raksasa ini tinggal landas dan mengepakkan sayap ke tingkat yang lebih penting dan luas lagi.

Tahun kesebelas tak akan sama dengan 10 tahun pertama. Mulai tahun ini membuka diri bagi dukungan yang memungkinkan FN dikelola dengan SDM yang berkualitas lebih tinggi dengan infrastuktur lebih baik. FN juga terbuka bagi dukungan untuk pengembangan komunitas ini sehingga memiliki sarana berinteraksi, berdagang dan berpromosi yang lebih efektif. FN juga terbuka bagi pihak-pihak yang membawa komunitas ini mewujudkan mimpi memiki sarana penyiaran global dan modern.

Dengan tekad FN untuk tetap berpihak kepada jiwa-jiwa muda yang kreatif dan bersemangat menyala-nyala, semoga mimpi kita terwujud. Dari Indonesia kita sebar luaskan keluhuran budaya dan keindahan Tanah Air ke seluruh dunia. Kelak, negara kita dihormati karena prestasi fotografi yang berlandaskan Persatuan Indonesia.

Ketika fotografi semakin instan, kita percaya ide lah yang mendasari karya fotografi kreatif. Ketika publikasi foto semakin gampang, kita percaya hanya karya asli lah inspiratif dan anti-fotokopi. Ketika piranti fotografi semakin mudah dimiliki, kita percaya bahwa dalam sebingkai foto termuat jiwa dan semangat yang tak tergantikan oleh uang. 

Satu musuh terlalu banyak, namun seribu teman terlalu sedikit. Dengan penuh kerendahhatian kita songsong tahun kesebelas FN dengan optimisme yang konkret. Kita cetak para problem-solver, dan kita libas para trouble-maker. Keberadaan para anggota FN di berbagai tempat sejatinya menjadi manfaat dan meningkatkan harkat hidup orang-orang sekitarnya. 

Fotografer bisa berakhir hidup, namun karya foto niscaya abadi.

Selamat berhari jadi kesebelas bagi para anggota FN. Kesuksesan ini milik kita bersama. Berkarya tak gentar.

Biar foto yang bicara.


Mengunjungi Photokina 2012 di Köln, Jerman

image

Gerbang selatan Koelnmesse tempat penyelenggaraan Photokina di Koln, Jerman

Berkunjung ke Photokina jadi keinginan banyak fotografer dan kewajiban bagi para pebisnis fotografi. Sebagai trade fair fotografi terbesar dunia yang digelar dua tahun sekali, banyak pihak yang mengumumkan hal-hal baru dan strategis di Photokina. Pebisnis fotografi dan fotografer profesional tentu selalu ingin sedini mungkin memperoleh informasi dan membaca tren.

Photokina selalu digelar di Köln, kota sejarah di bagian barat Jerman. Tahun 2012 Photokina digelar di Koelnmesse, gedung eksibisi di tepi Sungai Rhein. Biasa digelar bulan September, tahun ini Photokina digelar 18-23 September 2012.

Begitu banyak produsen yang pamer produk dan ribuan pengunjung saban hari membuat hampir seluruh lahan Koelnmesse ludes dipakai. Besar 1 hall kira-kira seluas lapangan sepakbola dan beberapa hal terdiri atas 2 lantai berluas sama. Ada 11 hall di Koelnmesse, dan ruang antar-hall yang juga luas-luas.

Pebisnis fotografi biasanya mengunjungi tempat-tempat yang relevan dengan bisnisnya saja. Pengunjung fotografer amatir kebanyakan mengunjungi tempat-tempat yang akrab dengan mereka saja. Pecinta berat fotografi butuh sepasang kaki yang kuat untuk menjelajahi seluruh areal pameran Photokina.

Udara di Köln saat awal musim gugur berkisar 7-17 Celcius. Memang terasa hangat di dalam Koelnmesse karena sistem sirkulasi udara yang baik. Namun urusan makan siang bisa jadi menguji kesabaran atas antrian panjang lantaran penjual terbatas dan pengunjung berjibun.

Photokina menjadi tempat yang cocok untuk bertemu dengan kolega-kolega lama. Cocok juga untuk bertemu kenalan-kenalan baru karena pelaku bisnis dari seluruh dunia hadir di Photokina.


Remain Seated Until The Airplane Has Reached Its Final Parking Position #AirSafety

Berdiri di kabin hanya bisa dilakukan semasa lampu Kenakan Sabun Pengaman padam. Foto oleh Kristupa Saragih

Berdiri di kabin hanya bisa dilakukan semasa lampu Kenakan Sabun Pengaman padam. Foto oleh Kristupa Saragih

Pekan lalu, saya terbang domestik menumpang maskapai penerbangan sipil nasional dan mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Awak kabin mengumumkan berbagai hal dan ucapan selamat datang di Jakarta.

Sebagai standar operasi sesuai aturan keselamatan penerbangan sipil, awak kabin menginstruksikan, “Please remain seated with safety belt fastened until the aircraft has reached its final parking position and Fasten Seat Belt sign is off.” Dalam bahasa Indonesia sebelumnya sudah disebutkan, “Tetap duduk dan pasang sabuk pengaman hingga pesawat berhenti dengan sempurna dan lampu Kenakan Sabuk Pengaman dipadamkan.”

Saat taxi di apron, pesawat sempat berhenti sejenak. Sebagian penumpang mengira pesawat sudah parkir, lantas berdiri. Sebagian malah langsung buka bagasi kabin dan turunkan barang-barang bawaan. Para awak kabin menghambur dari depan dan belakang mendudukkan mereka kembali. Lampu Kenakan Sabuk Pengaman masih menyala.

Ternyata pesawat memang belum berhenti sempurna, lantaran memberi kesempatan pesawat lain untuk taxi. Pesawat lantas melanjutkan taxi menuju tempat parkir.

Kita hendaknya paham bahwa selama pesawat dalam keadaan taxi, ada resiko penumpang yang berdiri untuk jatuh. Hal ini tak hanya membahayakan diri penumpang tersebut, namun juga penumpang-penumpang lain yang patuh. Sebelum berhenti sempurna, dalam keadaan taxi, pesawat bisa bermanuver belok dan berhenti. Dalam keadaan berdiri, penumpang bisa kehilangan keseimbangan.

Selama kita menumpang maskapai penerbangan nasional, instruksi awak kabin pasti disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Kecuali kita abai atau tuna rungu, instruksi pasti terdengar jelas di seluruh kabin. Penting pula untuk menonaktifkan seluruh alat elektronik dan piranti hiburan agar instruksi-instruksi awak pesawat dapat prioritas perhatian.

Saat pesawat sudah parkir sempurna, biasanya mesin pesawat dimatikan, barulah lampu Kenakan Sabuk Pengaman dipadamkan. Lantas awak kokpit menyebutkan, “Disarm side bars and cross-check.” Setelah itu barulah penumpang bisa berdiri dan menurunkan barang-barang bawaan. Setelah pilot menginstruksikan awak kabin, “When ready, doors may be opened,” barulah penumpang bisa keluar dari pesawat.

Kita menghormati aturan yang sudah dibuat demi keselamatan. Kecelakaan diawali oleh pelanggaran.


Kisah Koresponden Majalah Hai 1992-2000 #hai35

Kartu identitas koresponden Hai yang saya pakai dalam tugas
Kartu identitas koresponden Hai yang saya pakai dalam tugas

Kartu identitas koresponden Hai yang saya pakai dalam tugas

Berawal dari sebuah telepon ke kantor Harian Bernas Jogja pada suatu sore tahun 1992. Saya waktu itu masih siswa SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan menjadi redaksi lembaran khusus pelajar SMA bernama Gema di Bernas. Di ujung telepon B Dharmawan dari Majalah Hai berbicara dari kantornya di Jl Palmerah Selatan 22 Jakarta.

Demikianlah awal kisah saya bersama Majalah Hai, majalah remaja pria paling top saat itu. Kegiatan di Gema Bernas tetap dilakoni bareng dengan Majalah Hai karena kedua media itu masih berada dalam Kelompok Kompas Gramedia. Saya beruntung bisa bergabung dengan Hai yang adalah pencetus istilah “pers abu-abu” untuk ekstrakuriler jurnalistik pelajar SMA yang berseragam putih abu-abu.

Saya juga beruntung bersekolah di SMA Kolese De Britto yang menganut paham pendidikan bebas. Menunaikan tugas jurnalistik tak gampang bagi siswa SMA, lantaran kadang-kadang harus keluar di jam sekolah. Untunglah pamong-pamong di SMA Kolese De Britto amat mendukung dan mengerti. Waktu saya SMA, ijin saya mintakan ke Rm T Krispurwana Cahyadi SJ, yang dulu masih Frater. Dukungan ini ada juga karena Romo Pamong Rm E Baskoro Pudji Nugroho SJ.

Jadilah saya berguru pada Yusran Pare di Harian Bernas dan B Dharmawan di Majalah Hai. Jaman dulu belum ada internet, komputer masih langka dan mahal. Saya dididik Mas Yusran membuat tulisan dengan mesin tik, dan diperiksa dengan spidol merah plus komentar-komentar lisan namun keras. B Dharmawan, akrab dipanggil dengan inisial Dhw, mendidik membuat tulisan berdasar outline dan kebutuhan foto yang layak tampil di majalah terkemuka kelas nasional.

Saya masuk ke Hai menggantikan koresponden Dino Martin, kakak kelas di SMA Kolese De Britto. Sekarang Dino Martin jadi pebisnis di Jakarta. Mas Yusran sekarang jadi Pemimpin Redaksi Harian Banjarmasin Post di Banjarmasin, Kalsel dan Mas Dhw saat ini bertugas sebagai Editor in Chief Majalah Martha Stewart Living di Jakarta, kedua media tersebut bernaung di Kelompok Kompas Gramedia.

Di lembaran Gema Bernas, saya dan teman-teman sesama redaksi tidak memperoleh bayaran. Semangat Gema memang memajukan ekstrakurikuler jurnalistik pelajar SMA di Yogyakarta dan sekitarnya. Sementara di Hai saya dapat honor, sama seperti koresponden-koresponden lainnya. Bernas dan Gema menjadi pondasi kemampuan jurnalistik yang saya lakoni hingga saat ini.

Pergaulan sebagai siswa SMA yang bertugas sebagai koresponden Hai berlanjut hingga kuliah. Saya berjumpa banyak orang di berbagai kesempatan. Tugas pertama dari Hai untuk saya adalah menulis features Akademi Teknologi Kulit di Yogyakarta untuk rubrik Ke Mana Setelah SMA. Tulisan pertama itu dimuat bulan Juli 1992. Tugas selanjutnya adalah menulis profil Sekolah Menengah Musik Yogyakarta.

Tugas-tugas yang saya lakoni tak hanya dikirim berupa tulisan tapi juga beserta foto-foto yang saya buat sendiri. Kebutuhan ini membuat saya belajar fotografi serius, agar foto layak tampil di Hai. Namun karena keterbatasan ekonomi, saya hanya mampu belajar otodidak, baca majalah pinjaman dan bergaul dengan kawan-kawan yang berminat sama. Senjata saya pada saat itu adalah kamera Nikon F-401x dan lensa 35-70mm berikut tunggangan Honda GL100 butut yang dibeli bekas.

Sejak SMA saya terdidik secara alami untuk tak terkendala dengan keterbatasan. Tak punya lensa tele atau lebar, saya cari pinjaman teman. Butuh liputan dengan mobil, saya pun cari pinjaman, karena untuk sewa pun tak cukup uang. Keterbatasan waktu sejak SMA berlanjut hingga kuliah di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, yang bahkan lebih amat sangat terbatas. Keadaan membuat saya terbiasa tak punya waktu luang.

Saya merasa beruntung bisa belajar jurnalistik sejak dini. Pola berpikir menjadi runtut, dan mudah menulis dengan nalar yang mudah dipahami pembaca. Saya juga beruntung bisa belajar fotografi sejak dini, yang lantas menjadi jalan hidup.

Tahun 1992 saya dapat tugas menulis profil SMA Van Lith di Muntilan, sekitar 45 menit arah utara Yogyakarta, saya pergi sendiri menunggang GL 100. Pulang dari Muntilan, hujan mengguyur di jalan, dan sepatu saya satu-satunya jadi tabung air hujan. Untung SMA Kolese De Britto membebaskan siswa untuk memakai sepatu sandal ke sekolah.

Tugas-tugas jurnalistik yang saya terima mendidik diri untuk menyelesaikan segala sesuatu demi tulisan yang dikirim tepat waktu. Bimbingan dari Mas Dhw dan Mas Yusran bukan melenakan, tapi lebih berupa cambuk yang bertujuan mulia. Saya beruntung bisa dapat pendidikan jurnalistik gratis, langsung di lapangan, langsung praktek dan sudah pasti dimuat, meski jalannya tak gampang.

Sebagai koresponden di luar Jakarta, saya tak mendapat kemudahan seperti koresponden yang berbasis di Jakarta. Untuk beli film dan cuci-cetak, saya musti menalangi ongkos terlebih dahulu. Padahal sebagai pelajar, kantong saya sebenarnya pas hanya untuk makan sehari-hari. Honor dari Hai baru dikirim setelah tulisan dimuat. Waktu itu masih jaman wesel, dikirim ke sekolah dan saya cairkan di kantor pos.

Suatu sore di tahun 1993, saya sedang tidur di kamar kos di Jogja, tiba-tiba Mas Dhw sudah di depan kamar. Saya dibangunkan dan diminta segera meliput. Hal ini saya pahami sebagai bagian dari pendidikan agar jadi jurnalis yang siap bekerja 30 jam sehari dan 10 hari seminggu.

Dari Hai saya dapat banyak pengalaman berguna, unik dan tak terlupakan. Saya beberapa kali meliput seri kejuaraan nasional motocross dan 2 seri kejuaraan motocross seri FIM Asia, pertengahan tahun 1990-an. Dari liputan-liputan itu saya kenal banyak pembalap yang akrab hingga saat ini. Tahun 2003 saya pernah dapat telepon dari seorang mantan pengawal mantan anak RI-1 yang sering turun ke sirkuit, kenal saya waktu liputan-liputan untuk Hai.

Foto Sheila on 7 karya saya yang dimuat jadi sampul Majalah Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999

Foto Sheila on 7 karya saya yang dimuat jadi sampul Majalah Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999

Kedekatan dengan grup band Sheila on 7 di Jogja, membuat saya gampang mendekati mereka dan membuat foto-foto bagus. Dalam sebuah tugas tahun 1999, saya mewawancarai Sheila on 7 perihal kemiripan lagu mereka dengan lagu Boyzone. Tak disangka, foto yang saya kirim ke Jakarta jadi cover Hai nomor 40 edisi 15 Oktober 1999. Foto saya buat di beranda lobi Hotel Satelit di Surabaya, sewaktu Sheila on 7 ada jadwal manggung di ibukota Jawa Timur itu.

Karena Hai, saya berkesempatan bisa ikut dalam produksi film Bulan Tertusuk Ilalang, tahun 1995 di Solo. Saya berkenalan dengan sutradara Garin Nugroho, yang akrab hingga saat ini. Saya juga berkenalan dengan Riri Riza dan pemeran utama Norman Wibowo, fotografer sampul album Iwa K.

Liputan film Bulan Tertusuk Ilalang mustinya dijadwalkan hanya 1 malam saja. Saya mengajukan tambahan waktu kepada redaksi Hai di Jakarta, karena benar-benar enjoy terlibat dalam produksi. Alhasil, liputan yang mustinya hanya 1 malam menjadi 1 minggu.

Kesempatan kedua meliput produksi film adalah tahun 1998, film Daun di Atas Bantal yang juga disutradarai Garin Nugroho. Ketemu Christine Hakim untuk saya wawancara. Baru mulai wawancara, saya dikira wartawan “koran kuning” oleh pemeran utama wanita itu. Saya protes dan hampir pulang, untung ditenangkan Mas Garin dan Mas Dhw.

Dua kali meliput produksi film, saya lantas tergerak bikin produksi film pendek dengan kawan-kawan di Jogja tahun 1999. Hasrat untuk produksi film masih ada hingga kini.

Karena Hai juga saya bisa menginjakkan kaki di Bali. Tahun 1999 saya ditugasi Hai meliput grup band Netral yang tur beberapa kota di Jawa dan Bali. Saya bergabung dengan rombongan band, bersama Bagus, Eno, Miten dan kawan-kawan. Bagian dalam bis yang disewa dari Jakarta, kursi-kursi di barisan kanan dicopot untuk peratalan band. Rombongan duduk di kursi-kursi barisan kiri.

Dalam tugas meliput tur Netral ini juga saya pertama kali merasakan menginap di hotel bintang 5, Hard Rock Hotel Bali. Di berbagai kota, agenda selalu sama. Tiba sehari sebelum pertunjukan untuk latihan, sound-check siang sebelum pentas, dan esok hari berangkat melanjutkan perjalanan. Saya sampai hapal lagu-lagu Netral dan urutan tampilnya.

Bersama Hai juga saya ikut dalam rombongan tur beberapa band dalam MTV Say No to Drugs tahun 1999. Tur Jawa-Bali di banyak kota, membuat saya kenal lebih banyak dengan artis dan dunia hiburan. Banyak hal yang saya pelajari dan terpakai hingga kini.

Karena nama Hai, saya dapat akses mudah waktu meliput pernikahan Andra Dewa di Yogyakarta tahun 1999. Oleh Andra, saya diberi posisi motret dengan sudut yang leluasa. Saya dapat foto yang lebih bagus daripada media-media lain.

Lantaran lebih sering menulis soal sekolah berikut kegiatan-kegiatan pelajar dan event-event otomotif, untuk liputan musik saya perlu banyak input. Begitu terima tugas, saya langsung menimba informasi dari Denny MR, yang kala itu adalah redaktur musik Hai. Jaman 90-an internet-literacy masih rendah dan belum banyak informasi di internet.

Tahun 1998 saya dapat tugas wawancara Dewa yang sedang manggung di Jogja. Tugas diterima lisan via telepon dan bersifat urgent, mengenai lagu-lagu di album Pandawa Lima yang kental nuansa Queen. Ahmad Dhani saya jumpai di Hotel Melia Purosani Jogja, dan dapat wawancara eksklusif. Tak disangka, tulisan saya lantas menjadi cover story Hai.

Kala itu, tulisan untuk Hai saya buat dengan komputer pinjaman atau pinjam komputer Bernas. Lantas tulisan dicetak dengan printer dot matrix, karena printer inkjet masih langka dan printer laser mahal. Setelah di-print, tulisan dikirim via faksimili  dari warnet di depan kantor Bernas ke kantor redaksi di Jakarta. Bon faksimili saya minta dibuatkan terlebih dahulu, ditempel di halaman akhir, supaya ikut terkirim dan biaya diganti redaksi.

Foto-foto liputan saya cetak semua, yang amat mahal, karena bukan otoritas saya untuk memilih foto untuk dimuat. Total biaya cuci-cetak tahun 90-an bisa mencapai Rp 40 ribu untuk 1 rol film isi 36. Film ISO 100 waktu itu berharga sekitar Rp 15 ribu. Kalau dapat tugas motret panggung, saya musti beli film ISO 400 yang berharga lebih mahal dan musti push processed, yang lebih lama dan lebih mahal daripada proses biasa.

Honor dari Hai satu tulisan Rp 100 ribu dan satu foto Rp 25 ribu. Dalam satu features, bisa 6-8 foto dimuat. Tapi, rubrik singkat bisa jadi hanya butuh 1 foto saja. Kalau beruntung, sebulan saya bisa dapat wesel dari Hai total Rp 600 ribu. Jumlah itu besar untuk tahun 90-an awal bagi pelajar berkantong pas-pasan seperti saya.

Dahulu belum jaman ponsel. Penyeranta alias pager baru saya miliki tahun 1996. Untuk telepon ke kantor redaksi di Jakarta, saya harus collect call dari kantor Telkom di Kridosono.

Berbagai liputan seru pernah saya tulis untuk Hai. Di event-event otomotif saya bisa bersanding dengan fotografer-fotografer sport terkemuka internasional. Tapi rasa deg-degan justru timbul kalau dapat tugas untuk rubrik Cewek Hai. Maklum, sekolah di SMA Kolese De Britto yang semua muridnya laki-laki tentu “gersang”. Lanjut kuliah di Teknik Geologi UGM juga langka perempuan.

Segala sesuatu yang terjadi selama saya bertugas untuk Hai telah menjadi dasar pola bekerja dan pola berpikir saya saat ini. Sewaktu saya direkrut oleh Schlumberger pada Desember 1999, mental saya telah tertempa karena bertahun-tahun kerja di lingkungan yang selalu baru. Ketika tahun 2000 saya berangkat bekerja keVietnam dan Mesir, sebagai field engineer Schlumberger, karena saya lulusan Teknik Geologi, saya terbiasa dengan hidup sebagai jurnalis yang banyak bepergian dan tidur lelap di tempat seperti apapun.

Waktu bersama Hai adalah salah satu periode penting dalam hidup saya. Jika ada dana dan personil, serta waktu memungkinkan, ingin rasanya menghidupkan kembali Pesta Pelajar yang pernah harum oleh Hai. Saya juga menyimpan kerinduan untuk ikut serta dalam kegiatan pers abu-abu, yang pernah mendidik saya dahulu dan membentuk saya hingga seperti saat ini.

Selamat berhari jadi ke-35 Majalah Hai.