Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Latest

Menikmati Senja Teluk Ambon di Atas KMP Siwalima 01

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu pekan di pertengahan bulan Mei 2012, cuaca di Ambon, ibukota Provinsi Maluku amat bersahabat. Fotografer.net (FN), komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara, menggelar FN Hunting Series 2012 di salah satu tempat indah Indonesia ini.

Dalam suasana persabatan, kawan-kawan anggota FN di Ambon berkumpul di Kedai Kopi Sibu-sibu, yang kondang di Ambon. Di tengah obrolan akrab, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Benny Gaspersz datang bergabung menikmati kopi sambil mengobrol santai dengan rombongan FN Hunting Series. Terbit tawaran untuk menghabiskan senja nan indah dengan memotret matahari terbenam dengan KMP Siwalima 01.

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Tanpa ragu, seluruh rombongan mengiyakan tawaran dan bersiap berangkat. Teluk Ambon yang indah jadi tujuan. Semua wajah berseri-seri menyiapkan kamera dan lensa serta baterai dan memori agar tak satu momen pun terlewat.

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Sebagai provinsi kepulauan, sudah selayaknya Maluku punya kapal untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata. Memotret matahari terbenam di Teluk Ambon dari daratan Pulau Ambon sudah biasa. Tapi merekam laut dan alam indah Ambon dari atas kapal jadi hal yang luar biasa.

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto di posting ini dibuat dengan Samsung Galaxy Note, semua tanpa penyuntingan.

Menyeberang Poka-Galala dengan Feri KMP Teluk Ambon

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyeberangi Teluk Ambon antara Poka dan Galala, Ambon, Maluku bisa jadi biasa dan singkat. Feri ada di mana-mana, bahkan di Provinsi Maluku yang terdiri atas ribuan pulau. Tapi 15 menit di atas feri KMP Teluk Ambon bisa jadi amat menarik dengan ponsel berkamera di tangan.

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Tiba di Bandar Udara Pattimura, Ambon pada hari Minggu (13/5), mobil berbelok kanan masuk pelabuhan Poka. Masuk perut KMP Teluk Ambon, kapal feri yang masih baru ini langsung angkat sauh.

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Feri jenis ro-ro buatan tahun 2010 ini berbobot mati 300 ton, mampu mengangkut 6 truk, 9 mobil kecil dan 80 penumpang pada saat bersamaan. Berkecepatan maksimal 9 knot, KMP Teluk Ambon dijalankan oleh 16 ABK.

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Tiket mobil kecil Rp 20 ribu saja sekali menyeberang, penumpang gratis. Dengan tiket seharga itu, perjalanan melintasi Teluk Ambon bisa dihemat 20-30 menit daripada lewat darat. Lama akses dari kota Ambon ke kampus Universitas Pattimura dan Bandar Udara Pattimura pun jadi lebih singkat.

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto dibuat dengan Samsung Galaxy Note.

Terminal 3 Changi International Airport in Panorama

Last month, I flew Garuda Indonesia airline from Singapore to Jakarta. The time in Departure Terminal of Terminal 3 Changi International Airport (SIN) Singapore was worth spending. I also spent a little time waiting in SATS Executive Lounge prior to proceeding to boarding gate.

For me, reading and writing while waiting for the flight is worthwile. But spending time for going around and shooting with my mobile phone brought so many things to be memorized and shared.

Here are some shots that you might get if your flight departed from Terminal 3 Changi International Airport Singapore:

Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Samsung Galaxy Note

Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih. Taken by Samsung Galaxy Note

SATS Executive Lounge in erminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

SATS Executive Lounge in Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Interior SATS Executive Lounge in erminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Interior SATS Executive Lounge in Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Waiting hall in departure Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Waiting hall in departure Terminal 3 Changi International Airport. Photo by Kristupa Saragih

Motret Panorama di Seputar Mahboonkrong มาบุญครอง

Di sela-sela agenda Fotografer.net Series 2012 Bangkok meliput Songkran Water Festival, 13-16 April 2012, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri street photography di kota. Tempat yang paling gampang dijangkau dan aman adalah pusat perbelanjaan kondang Mahboonkrong.

Berikut adalah foto-foto panorama di seputar Mahboonkrong menggunakan Samsung Galaxy Note pada shooting mode panorama. Tidak ada penyuntingan foto.

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Mahboonkrong in panorama by Samsung Galaxy Note. Photo by Kristupa Saragih

Beberapa Tips Fotografi dari Songkran Water Festival 2012, Bangkok, Thailand

A Friend Indeed - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

A Friend Indeed – Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Tahun ini adalah kali kedua saya meliput Songkran Water Festival di Bangkok, Thailand. Berangkat bersama tim Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok, kami berkunjung ke Bangkok 13-16 April 2012. Tahun lalu, di Songkran 2011, pengalaman saya posting di “My Canon EOS 1D Mk III Survived in Songkran Water Festival 2011“.

Under Rapid Songkran Fire - Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Under Rapid Songkran Fire – Fotografer.net Hunting Series 2012 Songkran Water Festival Bangkok. Photo by Kristupa Saragih

Berikut beberapa tips fotografi jika Anda hendak memotret Songkran Water Festival di Thailand, yang saya rangkum dari twit @kristupa ketika festival berlangsung di Bangkok:

  1. Memotret Songkran Water Festival kental nuansa dokumenter dan jurnalistik
  2. Songkran digelar di seluruh Thailand. Di Bangkok teramai di Khao San Road dan Silom Road
  3. Songkran di Bangkok biasanya ramai setelah tengah hari. Di Khao San ramai mulai jam 4 sore
  4. Songkran berupa water festival berbentuk “perang” siram-siraman air. Lindungi kamera dengan rain cover
  5. Di Songkran, suasana ramai berdesak-desakan. Pilih angle supaya dapat clear shot. Pertimbangkan lighting dan background
  6. Di Songkran tak mungkin setting subyek foto. Jika Anda aliran fotografer pictorial bisa frustasi
  7. Pakai lensa normal atau tele, karena sulit mendekat ke subyek dan situasi out of control
  8. Untuk lindungi kamera dari air tak disarankan pakai underwater housing. Berat bo’!
  9. Bisa pakai kamera jenis apa saja, tak harus DSLR. Yang penting Anda kuasai benar pengoperasiannya
  10. Songkran adalah festival tahun baru Thai. Rekam suasana ceria dan optimis. Air sebagai simbol yang ada artinya
  11. Songkran adalah festival siram-siraman air, maka dress accordingly. Tapi jangan pakai wet suit!
  12. Disiram air, dilarang marah. Blend in dan jadilah bagian dari pertempuran siram-siraman air
  13. Cukup bawa 1 bodi kamera, lebih dari itu berarti Anda perbesar resiko loss karena kesemprot air
  14. Cukup pakai 1 lensa, karena sulit ganti-ganti lensa di situasi simpang-siur semprotan air
  15. Cipratan air bisa direkam dengan speed tinggi untuk freezing, bisa juga dengan speed lambat
  16. Agar cipratan air terlihat signifikan, pilih background gelap dan kondisi backlight atau sidelight
  17. Lautan manusia terus bergerak, gunakan AF mode AI-servo atau AF-C
  18. Amankan alat komunikasi dan uang tunai secukupnya dalam kantung plastik kedap air
  19. Meski medan tak luas, tetap butuh stamina prima. Lautan manusia berdesakan
  20. Di Silom Road Bangkok ada jembatan penyeberangan, bisa high angle, tapi tetap siap basah
  21. Di Silom ada semburan hidran pemadam kebakaran, jadi permudah pilih angle
  22. Waspada lensa terkena semprotan frontal, siapkan tisu atau lap di kantung kedap air
  23. Tiba di lokasi segera orientasi medan, tentukan meeting point dan jam bertemu dengan teman-teman serombongan
  24. Selain semprotan air, siap-siap terima olesan larutan tepung di muka. Dilarang marah
  25. Siapkan pakaian ganti, naik mobil/bis/MRT ber-AC dengan pakaian basah kurang sehat
  26. Siapkan memory card cukup, kalaupun harus ganti memory card cari tempat aman dari semprotan air
  27. Available light is the best, flash tambahan ribet dan resiko kena semprot
  28. Berbaur dengan massa itu harus tapi jangan hanyut, tetap konsentrasi dengan subyek foto dan pesan
Suasana Songkran Water Festival di Silom Road, Bangkok, 15 April 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana Songkran Water Festival di Silom Road, Bangkok, 15 April 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok basah kuyup usai memotret Songkran Water Festival di Khao San Road, 14 April 2012. Dari kiri: Armand Megawe, Yulianus Ladung, Kristupa Saragih, Zulkifli Kibor. Foto oleh Farano Gunawan

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok basah kuyup usai memotret Songkran Water Festival di Khao San Road, 14 April 2012. Dari kiri: Armand Megawe, Yulianus Ladung, Kristupa Saragih, Zulkifli Kibor. Foto oleh Farano Gunawan

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok usai memotret Songkran Water Festival di Silom Road, 15 April 2012. Dari kiri: Kristupa Saragih, Yulianus Ladung, Farano Gunawan, Zulkifli Kibor. Foto oleh Armand Megawe

Pasukan Fotografer.net Hunting Series 2012 Bangkok usai memotret Songkran Water Festival di Silom Road, 15 April 2012. Dari kiri: Kristupa Saragih, Yulianus Ladung, Farano Gunawan, Zulkifli Kibor. Foto oleh Armand Megawe

Kamera Canon EOS-1D Mark IV basah kuyup air campur larutan tepung di Songkran Water Festival 2012 namun lancar dan berfungsi normal. Foto oleh Kristupa Saragih

Kamera Canon EOS-1D Mark IV basah kuyup air campur larutan tepung di Songkran Water Festival 2012 namun lancar dan berfungsi normal. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar tenang ketika berdesakan, bodi kamera diamankan dengan camera strap Pacsafe yang anti-jambret. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar tenang ketika berdesakan, bodi kamera diamankan dengan camera strap Pacsafe yang anti-jambret. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar aman dari semprotan air, barang bawaan dan asesoris fotografi disimpan di dalam pouch dengan built-in cover buatan ThinkTank Photo. Foto oleh Kristupa Saragih

Agar aman dari semprotan air, barang bawaan dan asesoris fotografi disimpan di dalam pouch dengan built-in cover buatan ThinkTank Photo

Biar Foto yang Bicara #FN9: Mahasiswa dan Polisi Salat Berjamaah di Tengah Jalan

Mahasiswa dan polisi salat dzuhur bersama di sela-sela demo kenaikan BBM di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (27/03). Foto oleh Muhammad Abdiwan/Tribun Timur

Mahasiswa dan polisi salat dzuhur bersama di sela-sela demo kenaikan BBM di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (27/03). Foto oleh Muhammad Abdiwan/Tribun Timur

Foto ini dimuat pertama kali di Harian Tribun Timur Makassar online pada Selasa, 27 Maret 2012 jam 20:58 WITA. Lantas, foto tersebut beredar luas di media sosial. Tak mengemuka, foto tersebut tenggelam oleh foto-foto seru bakar-membakar ban, bentrok fisik massa dan aparat keamanaan, dan adegan-adegan agitatif lainnya.

Setelah menelusuri belantara media sosial, baru ketemu nama Muhammad Abdiwan, fotografer pembuat foto itu. Sejauh ini media yang memuat foto lengkap dengan kredit foto barulah Tribun Timur. Sementara foto-foto yang beredar di media sosial maupun berbagai messenger tak mencantumkan kredit foto.

Pewarta foto bertanggung jawab sama dengan wartawan tulis, melaksanakan tugas jurnalistik dan berpegang teguh pada etika dan kode etik jurnalistik. Demikian pula media-media tempat mereka bekerja, sudah sepatutnya berpijak pada kode etik, yang netral alias tak berpihak serta cover both sides of the story.

Salut kepada Muhammad Abdiwan atas pengabdian pada tugas sebagai pewarta foto. Hormat kepada Harian Tribun Timur yang menghormati hak cipta foto dengan mencantumkan kredit foto secara benar dan lengkap.

Fotografi Biak Meriah Bersama Kobe Biak #FN9

Pameran foto Kobe Biak bertema Yaswar Byak, aku cinta Biak, digelar 20-24 Maret 2012 di Aerotel Irian Hotel, Biak. Foto oleh Alit Saryono

Pameran foto Kobe Biak bertema Yaswar Byak, aku cinta Biak, digelar 20-24 Maret 2012 di Aerotel Irian Hotel, Biak. Foto oleh Alit Saryono

Biak, hanya sebuah pulau di utara Papua. Tapi komunitas fotografi Biak telah menggeliat dengan bersatu mengusung bendera Komunitas Bersama, dipendekkan menjadi Kobe, Biak. Pekan lalu, 20-24 Maret 2012, Kobe Biak menggelar serangkaian kegiatan fotografi meriah.

Diawali dengan pameran, ada 80 foto dipajang di lobi Aerotel Irian Hotel, Biak. Tercatat 26 fotografer pajang karya, berasal dari Biak, Jayapura dan beberapa daerah lain. Kualitas karya foto layak dapat acungan semua jempol. Kualitas cetak apik dan rapi serta cemerlang. Untuk Biak, inilah kali pertama pameran foto digelar dengan standar baku sebuah pameran.

Seiring dengan pameran, Kobe juga menggelar lomba foto untuk pelajar dan mahasiswa. Subyek foto diwajibkan berada di seputar Kabupaten Biak Numfor. Lomba foto menghadirkan 3 pemenang, dengan juara pertama mahasiswa perguruan tinggi di Biak. Juara kedua dan ketiga masing-masing adalah siswa SMU Negeri 1 Biak, dan salah satunya perempuan.

Suasana workshop fotografi oleh Kobe Biak di Aerotel Irian Hotel, Sabtu (24/03). Tercatat 51 peserta hadir dari Biak, Jayapura dan sekitarnya. Foto oleh Ilias Irawan

Suasana workshop fotografi oleh Kobe Biak di Aerotel Irian Hotel, Sabtu (24/03). Tercatat 51 peserta hadir dari Biak, Jayapura dan sekitarnya. Foto oleh Ilias Irawan

Memungkasi seluruh rangkaian kegiatan, Kobe menggelar workshop foto di Aerotel Irian Hotel, Biak. Saya diundang sebagai pembicara, dihadiri oleh 51 peserta, yang datang dari Biak, Jayapura dan daerah-daerah sekitarnya. Dimulai dengan sesi dikelas, workshop dilanjutkan dengan praktek foto dan ditutup dengan evaluasi. Para peserta terlihat antusias dan tekun namun santai dan akrab.

Salut kepada para panitia dan aktivis Kobe Biak, yang hanya 10 orang saja. Meski sedikit, tapi masing-masing bekerja sesuai peran masing-masing dengan suasana persahabatan yang kental.

Maret 2012 ini adalah kali keempat saya mengunjungi Biak. Tiap kunjungan selalu terasa singkat, dan tak cukup waktu. Terlalu banyak yang tak bisa terlewatkan di Biak, dan masih banyak tempat indah yang belum dikunjungi.

Maju terus fotografi Biak dan Papua.

Biar foto yang bicara.

Ngobrol santai tentang fotografi seusai workshop bersama kawan-kawan Kobe Biak, Sabtu (24/03). Foto oleh Ilias Irawan

Ngobrol santai tentang fotografi seusai workshop bersama kawan-kawan Kobe Biak, Sabtu (24/03). Foto oleh Ilias Irawan

Sebagian foto yang dipamerkan Kobe Biak di Aerotel Irian Hotel, 20-24 Maret 2012. Foto oleh Ilias Irawan

Sebagian foto yang dipamerkan Kobe Biak di Aerotel Irian Hotel, 20-24 Maret 2012. Foto oleh Ilias Irawan

Megapiksel, Seberapa Penting? #megapiksel #FN9

Kamera digital semakin modern seiring perkembangan teknologi digital. Megapiksel sebagai satuan resolusi sensor kamera digital jadi tolok ukur. Padahal megapiksel selayaknya disikapi dengan benar dan bijaksana.

Asumsi pertama, semakin besar megapiksel maka semakin bagus kualitas foto. Asumsi ini benar dan tidak benar. Benar, karena biasanya kamera beresolusi tinggi dibarengi teknologi canggih. Tidak benar, lantaran kualitas foto lebih ditentukan oleh fotografer, the man behind the camera, dan piranti-piranti pendukung, seperti lensa.

Asumsi kedua, semakin besar megapiksel maka semakin mahal harga kamera. Asumsi ini juga benar sekaligus tidak benar. Benar, karena harga keping sensor semakin mahal seiring dengan resolusi. Tidak benar, lantaran saat ini sudah banyak kamera saku dan kamera ponsel beresolusi hingga 12 megapiksel, bahkan lebih, yang berharga terjangkau orang banyak.

Argumentasi megapiksel akan bermuara pada kebutuhan mencetak foto. Tapi di era digital ini, seberapa sering Anda mencetak foto? Seberapa besar pula foto Anda cetak?

Karya fotografer profesional bisa dipasang pada papan reklame 5×10 meter. Tapi resolusi untuk gambar di papan reklame hanya 72 dpi, karena tak mungkin orang mengamatinya dari jarak sejengkal. Pertengahan tahun 2000, kamera DSLR 6 megapiksel sudah bisa menghasilkan foto untuk billboard 5×10 meter dalam kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebagai fotografer amatir, foto bisa dipamerkan dan diperjualbelikan sebagai karya seni. Lazimnya ukuran foto untuk pameran berkisar pada 30×40 cm dan 40×60 cm, jarang yang diperbesar hingga 50×75 cm. Seberapa sering pula karya Anda dipamerkan dan dibeli orang sebagai karya seni?

Menenteng kamera canggih, sudah pasti menampilkan kesan mentereng. Tapi jika foto-foto yang dihasilkan kamera itu hanya untuk diunggah ke Facebook, tentu sudah sepatutnya kita tempatkan megapiksel secara bijaksana.

Jika mengikuti kenginan, tak ada batasnya. Tapi kebutuhan punya pertimbangan rasional.

Remain Seated Until The Airplane Has Reached Its Final Parking Position #AirSafety

Berdiri di kabin hanya bisa dilakukan semasa lampu Kenakan Sabun Pengaman padam. Foto oleh Kristupa Saragih

Berdiri di kabin hanya bisa dilakukan semasa lampu Kenakan Sabun Pengaman padam. Foto oleh Kristupa Saragih

Pekan lalu, saya terbang domestik menumpang maskapai penerbangan sipil nasional dan mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Awak kabin mengumumkan berbagai hal dan ucapan selamat datang di Jakarta.

Sebagai standar operasi sesuai aturan keselamatan penerbangan sipil, awak kabin menginstruksikan, “Please remain seated with safety belt fastened until the aircraft has reached its final parking position and Fasten Seat Belt sign is off.” Dalam bahasa Indonesia sebelumnya sudah disebutkan, “Tetap duduk dan pasang sabuk pengaman hingga pesawat berhenti dengan sempurna dan lampu Kenakan Sabuk Pengaman dipadamkan.”

Saat taxi di apron, pesawat sempat berhenti sejenak. Sebagian penumpang mengira pesawat sudah parkir, lantas berdiri. Sebagian malah langsung buka bagasi kabin dan turunkan barang-barang bawaan. Para awak kabin menghambur dari depan dan belakang mendudukkan mereka kembali. Lampu Kenakan Sabuk Pengaman masih menyala.

Ternyata pesawat memang belum berhenti sempurna, lantaran memberi kesempatan pesawat lain untuk taxi. Pesawat lantas melanjutkan taxi menuju tempat parkir.

Kita hendaknya paham bahwa selama pesawat dalam keadaan taxi, ada resiko penumpang yang berdiri untuk jatuh. Hal ini tak hanya membahayakan diri penumpang tersebut, namun juga penumpang-penumpang lain yang patuh. Sebelum berhenti sempurna, dalam keadaan taxi, pesawat bisa bermanuver belok dan berhenti. Dalam keadaan berdiri, penumpang bisa kehilangan keseimbangan.

Selama kita menumpang maskapai penerbangan nasional, instruksi awak kabin pasti disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Kecuali kita abai atau tuna rungu, instruksi pasti terdengar jelas di seluruh kabin. Penting pula untuk menonaktifkan seluruh alat elektronik dan piranti hiburan agar instruksi-instruksi awak pesawat dapat prioritas perhatian.

Saat pesawat sudah parkir sempurna, biasanya mesin pesawat dimatikan, barulah lampu Kenakan Sabuk Pengaman dipadamkan. Lantas awak kokpit menyebutkan, “Disarm side bars and cross-check.” Setelah itu barulah penumpang bisa berdiri dan menurunkan barang-barang bawaan. Setelah pilot menginstruksikan awak kabin, “When ready, doors may be opened,” barulah penumpang bisa keluar dari pesawat.

Kita menghormati aturan yang sudah dibuat demi keselamatan. Kecelakaan diawali oleh pelanggaran.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52,508 other followers

%d bloggers like this: