Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “Agung Krisprimandoyo

Photographs That Travel Through Space and Time

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Places stay the same. People change but memories last forever. This is how so many places around the world come into existence. Fresh and natural landscapes evolve, marking the dynamics of life. Houses and buildings are constructed one after another, marking the twists and turns of human culture. Photographs records all events as they are; honestly and openly. Through a photo, time seems to stop and a moment is made eternal. Exploring photos frame by frame is like treading tracks of time.

A fellow photographer had been consistently taking photos of Tugu Yogyakarta. The photos are taken consistently each year on the same date at approximately the same time and at the same angle. The series of photographs of this monument then tell stories about everything that the landmark historic city of Yogyakarta ever experienced.

Through photography, humans can also be motivated to travel, to visit many places in various parts of the world. From big cities such as Kuala Lumpur, Shanghai and San Francisco to places such as the exotic, natural landscapes of Mount Bromo in East Java to Machu Piccu in Peru. Every places represents a culture and symbolises a level of human civilization within a certain time. Photography records it and presents a lot of things in various dimensions. A picture speaks a thousand words and a thousand words deliver countless interpretation.

So rich is the meaning captured by a photo. While in fact, it is technically only the combination of aperture and shutter speed that catches light in a blink, it is the angle of the camera and ideas in the mind of the photographer that make a picture worth interpreting as something.

The camera and the lens are like a third eye of a photographer; the third eye that completes the photographer’s heartstrings as a human being. As well as being a representative for the million of pairs of viewers’ eyes who could not observe a moment directly.


Foto yang Menjelajah Tempat dan Waktu

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Tempat tetap namun waktu berganti. Orang berubah tapi kenangan abadi. Demikianlah berbagai tempat di berbagai penjuru dunia terwujud.

Alam nan asli dan segar berevolusi pertanda dinamika kehidupan berlangsung. Rumah dan gedung berdiri silih berganti pertanda budaya manusia menggeliat. Fotografi merekam segala peristiwa secara jujur, apa adanya dan terbuka.

Melalui sebingkai foto, waktu seolah berhenti dan membuat suatu momen jadi abadi. Menjelajah foto bingkai demi bingkai bak menelusuri waktu.

Seorang rekan fotografer pernah secara konsisten memotret Tugu Yogyakarta. Foto dibuat setiap tahun secara konsisten pada tanggal yang sama, pada jam yang kurang lebih sama dan angle yang sama. Rangkaian foto-foto Tugu ini lantas bercerita tentang segala sesuatu yang pernah dilalui landmark bersejarah kota Yogyakarta itu.

Melalui fotografi, manusia bisa pula termotivasi untuk bepergian mengunjungi berbagai tempat di berbagai penjuru dunia. Mulai dari kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, Shanghai dan San Fransisco hingga tempat-tempat alami nan eksotis seperti Gunung Bromo di Jawa Timur hingga Machu Piccu di Peru.

Setiap tempat menjadi wakil suatu kebudayaan dan simbol suatu tingkat peradaban manusia dalam suatu waktu tertentu. Fotografi merekamnya lantas memaparkan banyak hal dalam berbagai dimensi. Satu foto berbicara seribu kata. Dan seribu kata melahirkan berjuta interpretasi.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Demikian kaya sebuah foto menyimpan makna. Padahal, secara teknis, hanya kombinasi besar diafragma dan kecepatan bilah-bilah rana mengejap saja yang menangkap cahaya. Namun sudut tembak lensa kamera dan ide di benak pemotret menjadikan sebuah foto sesuatu yang layak dimaknai.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.***


Ditulis sebagai Kata Pengantar untuk buku fotografi “Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You” karya D Agung Krisprimandoyo, 2011, Fotografer Net Global

Alih bahasa tulisan ini oleh: Andrew Charles


Buku Fotografi Agung Krisprimandoyo: Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo
Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Seorang kawan D Agung Krisprimandoyo bertandang ke kantor dan memberikan buku fotografi karyanya, Selasa (22/02). Berdisain grafis sampul menarik, buku itu berjudul “Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You”. Isinya ternyata lebih menarik ketimbang sampul dan judulnya.

Berisi 75 karya foto yang dibuat di seluruh dunia, Agung Pimo, demikian panggilan akrabnya, hendak berbagi tempat-tempat yang menginspirasinya. Sebagian besar dibuat Agung Pimo dalam perjalanan dinas ke berbagai tempat. Dan semua foto dibuat dengan kamera DSLR kelas amatir dan lensa biasa, bukan kamera dan lensa-lensa mahal, bahkan beberapa foto dibuat dengan kamera saku.

“Istri dan anak-anak saya bertanya, mengapa tidak membeli beberapa postcard saja yang lebih mudah dan murah sebagai oleh-oleh dibandingkan bersusah payah membawa kamera, lensa dan tripod hanya untuk mengabadikan suatu tempat dan bahan untuk bercerita mengenai suatu perjalanan,” tulis Agung Pimo pada kata pengantar buku ini. Satu foto berbicara seribu kata, a picture speaks thousand words. Dan bahasa gambar yang dibuat secara personal mengekspresikan kesan pribadi fotografer ketimbang kartu pos yang dibuat orang lain.

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Diterbitkan oleh Fotografer.net, buku ini memuat foto-foto dari dataran tinggi Tengger di Bromo hingga Grand Canyon di Arizona, AS. Mulai dari Pura Taman Ayun di Bali hingga Temple of Heaven di Beijing, Cina. Ada pula foto rumah art deco Villa Isola di Bandung dan kanal-kanal di Venesia, Italia.

Foto-foto dikelompokkan menjadi 11: Mountains, The Coast, Flowers, Famous Places, Skylines, Places of Worship, Temple, Traffic & Transport, Architecture, Heritage, dan Theme Park. Seluruh foto berupa foto-foto tempat, baik dalam bentuk foto pemandangan, perkotaan maupun arsitektur. Sesuai judulnya, buku ini minim pemaparan tentang foto-foto manusia.

Seluruh foto disertai data teknis sederhana, berupa jenis kamera, kecepatan rana dan bukaan diafragma. Secara teknis, terlihat benar bahwa Agung Pimo paham benar teknik fotografi, meskipun bersenjatakan kamera sederhana. Lagipula, dalam perjalanan dinas, tentu akan terasa repot dan berlebihan untuk membawa banyak kamera dan lensa-lensa mahal. Agung Pimo, yang bermukim di Surabaya ini, melihat dan berkarya secara sederhana dan apa adanya. Fotografi merupakan sesuatu yang menyenangkan, bukan sebaliknya.

Buku ini direkomendasikan untuk dibaca sebagai motivator fotografer pemula. Selain itu, traveling photographer juga bisa menggali berbagai ide dan inspirasi dari foto-foto berbagai tempat di seluruh penjuru dunia di buku ini. Para business traveler bisa menjadikan buku ini acuan untuk memotret di sela-sela waktu beraktivitas bisnis.

Bekerja sebagai eksekutif di sebuah grup raksasa di bidang properti tak membuat Agung Pimo kehabisan waktu dan energi. Dalam beberapa tahun terakhir ini Agung Pimo juga menempuh studi Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya. Dan buku Amazing Places ini semula dibuat alumni SMA Kolese De Britto dan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Parahyangan ini sebagai cenderamata pengukuhan gelar S3.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo