Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “Canon

Rusidah, Fotografer Tanpa Jari dari Purworejo

Rusidah, perempuan fotografer yang tuna daksa dari Purworejo. Foto oleh Nico Wijaya

Rusidah, perempuan fotografer yang tuna daksa dari Purworejo. Foto oleh Nico Wijaya

Memotret tanpa jari, tak terbayangkan sebelumnya. Tapi hari ini, Rabu (14/09) saya menyaksikan Rusidah, perempuan fotografer, memotret dengan keterbatasan diri sebagai tuna daksa. Kenyataan memiliki tangan hanya selengan, tanpa kehadiran jari dan telapak di kedua tangan, tak menghalangi Rusidah menjadi fotografer profesional.

Lahir tahun 1968, Rusidah sudah mulai memotret profesional sejak 1995. Berbekal kamera bantuan pemerintah Kabupaten Purworejo, waktu itu Rusidah memotret dengan kamera film. Jasa fotografi Rusidah terbagi menjadi 2 paket, per foto seharga Rp 5 ribu dan per paket 30 foto ukuran 4R seharga Rp 150 ribu termasuk album.

Hadir di jumpa pers berkaitan dengan Canon Photo Marathon 2011 di Jogja, Rusidah berbagi kisah sebagai perempuan fotografer yang mencari nafkah sepenuhnya dari memotret. Suaminya berprofesi sebagai penjual es putar.

Sekarang Rusidah sudah berbekal kamera digital Canon EOS 550D dan flash Canon Speedlite 430EX II. “Saya mulai motret sejak pakai kamera film. Sudah beberapa merk kamera pernah saya pakai,” papar Rusidah, sembari menunjukkan album-album hasil karyanya. Uang terbanyak diperolehnya dari jasa memotret pada saat karnaval tingkat kampung, selain dari jasa memotret resepsi pernikahan. “Saya ingin punya studio foto,” ungkapnya.

Gayung bersambut seiring bantuan PT Datascrip sebagai distributor kamera Canon di Indonesia. Rusidah memperoleh seperangkat fotografi studio sederhana dan cetak foto. “Bu Rusidah jadi motivasi kita. Semangat pantang menyerah,” ungkap Merry Harun, Direktur Divisi Canon PT Datascrip. Seusai jumpa pers, staf Datascrip menyertai kepulangan Rusidah ke Purworejo untuk memberi pelatihan penggunaan peralatan studio foto dan cetak foto.

Rusidah menjadi teladan, contoh nyata sosok manusia pantang menyerah.


Camera Armor Lindungi Kamera Sekaligus Buat Penampilan Gagah

Tulisan pada tombol terlihat jelas, demikian pula layar LCD. Terlihat hot shoe juga terlindung rapi. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih
Camera Armor & Canon EOS 1D Mk III - Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor & Canon EOS 1D Mk III - Foto oleh: Kristupa Saragih

Semua fotografer setuju bahwa bodi kamera adalah alat penting dalam pekerjaan memotret. Harganya mahal dan musti dijaga baik-baik. Tanpa kamera, pasti tak bisa memotret.

Bodi Canon EOS 1D Mk III yang saya pakai memang sudah didesain untuk tahan berbagai situasi ekstrem. Selain kedap percikan air, juga kedap debu. Kamera kelas profesional ini memang sudah saya buktikan sendiri kehandalannya di lapangan.

Meski demikian, pekerjaan sebagai profesional menuntut fotografer siap di berbagai situasi, beragam kondisi dan situasi tak terduga. Sebagai sahabat sejati, tentu kamera harus dilindungi. Kamera musti tetap bisa ditembakkan dan musti selalu menghasilkan foto kualitas terbaik.

Warna hitam doff. LCD atas masih terlihat jelas. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Warna hitam doff. LCD atas masih terlihat jelas. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Urusan goresan bisa saja dianggap sederhana, tapi tentu sayang melihat kamera andalan penuh parutan di tubuhnya. Demikian juga pelindung layar LCD belakang yang tak cukup hanya selapis plastik tipis. Untuk fungsi-fungsi itu, saya mencoba memasangkan Camera Armor ke EOS 1D Mk III.

Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Tampak LCD atas dan LCD belakang bagian bawah terlihat jelas dan terlindung. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Tampak LCD atas dan LCD belakang bagian bawah terlihat jelas dan terlindung. Foto oleh: Kristupa Saragih

Proses pemasangan cukup sederhana, nggak ribet. Seperti memasangkan sarung pelindung pada ponsel. Bahan Camera Armor cukup elastis karena terbuat dari silikon. Ukurannya pas sehingga bisa mencengkeram erat bodi kamera.

Pelindung LCD berupa sekeping plastik kuat yang dikaitkan pada jendela bidik. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pelindung LCD berupa sekeping plastik kuat yang dikaitkan pada jendela bidik. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pelindung LCD berupa sekeping plastik kokoh. Bukan ditempelkan ke layar LCD seperti di ponsel, tapi dikaitkan ke jendela bidik (viewfinder). Sisi samping dan bawahnya dicengkeram oleh silikon Camera Armor.

Posisi tombol masih terlihat jelas dan berlabel. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Posisi tombol masih terlihat jelas dan berlabel. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Secara keseluruhan, bodi kamera jadi terlihat gagah. Apalagi Camera Armor berkelir hitam doff, bukan mengkilat, sehingga terkesan garang. Layar LCD terlihat jelas.

Tombol-tombol kamera sebagian besar tertutup oleh Camera Armor. Jangan kuatir, tulisan-tulisan keterangan tiap tombol tercantum pula di Camera Armor. Jadi tak perlu mengingat-ingat posisi dan fungsi tiap tombol.

Penekanan tombol pelepas rana (shutter release) memang perlu penyesuaian. Setelah dipasangi Camera Armor, sensitivitas jari telunjuk perlu disesuaikan untuk mengaktifkan fungsi autofocus dan melepas rana. Untuk kamera kelas profesional lain, sekelas seri EOS 1D dan 1Ds dengan tombol pelepas rana di posisi vertikal, berlaku pula penyesuaian yang sama.

Selebihnya, Camera Armor nyaman dipakai. Penampilan gagah. Satu set Camera Armor untuk Canon EOS 1D Mk III terdiri atas body armor, LCD shield, lens armor dan lens cap leash.

Satu set Camera Armor untuk Canon EOS 1D Mk III terdiri atas body armor, LCD shield, lens armor, dan lens cap leash. Foto oleh: Kristupa Saragih

Satu set Camera Armor untuk Canon EOS 1D Mk III terdiri atas body armor, LCD shield, lens armor, dan lens cap leash. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor direkomendasikan untuk fotografer profesional yang bekerja di luar studio dan luar ruangan. Pekerjaan yang membutuhkan Camera Armor seperti pewarta foto, fotografer pre-wedding di luar ruangan, travel photographer, fotografer petualangan alam bebas dan fotografer satwa.

Camera Armor memang impact-proof dan scratch-proof tapi tidak water-resistant. Meski seorang teman pernah mengguyur Canon EOS 1Ds Mk III dengan air tawar karena terguling di lumpur sawah, bukan berarti kamera aman dari siraman air. Kamera kita adalah sahabat setia kita, dan Camera Armor yang melindungi sahabat setia itu.

Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III dilengkapi dengan lens armor yang dipasang di bagian depan lensa. Hanya tersedia untuk lensa wide, yang pada foto ini berupa lensa Canon EF 17-40mm f/4L. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III dilengkapi dengan lens armor yang dipasang di bagian depan lensa. Hanya tersedia untuk lensa wide, yang pada foto ini berupa lensa Canon EF 17-40mm f/4L. Foto oleh: Kristupa Saragih

Perlu penyesuaian sensitivitas untuk menekan tombol pelepas rana. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Perlu penyesuaian sensitivitas untuk menekan tombol pelepas rana. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tulisan pada tombol terlihat jelas, demikian pula layar LCD. Terlihat hot shoe juga terlindung rapi. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tulisan pada tombol terlihat jelas, demikian pula layar LCD. Terlihat hot shoe juga terlindung rapi. Camera Armor dipasang pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih

Camera Armor pada Canon EOS 1D Mk III. Foto oleh: Kristupa Saragih


Menyongsong Canon PhotoMarathon 2010 Jakarta

Canon PhotoMarathon Indonesia

Canon PhotoMarathon Indonesia

Bukan lari maraton sambil memotret, tapi Canon PhotoMarathon 2010 adalah semacam ajang hunting foto bersama dengan rute tertentu. Garis start dan finish ditentukan, demikian pula waktu tempuh yang kudu dipatuhi. Rute tempuh berada dalam jarak tempuh nyaman untuk berjalan kaki di seputar lokasi.

Foto-foto hasil hunting langsung dinilai juri. Sementara juri menilai, para peserta PhotoMarathon bisa ikut sesi foto model tematis atau bersantai menikmati pertunjukan musik di tempat yang sama. Para pemenang diumumkan di akhir acara, pada hari yang sama.

Santai, casual dan menyenangkan. Demikian suasana yang terjadi di Canon PhotoMarathon 2009 di Jakarta. Berlokasi di Taman Fatahillah, tak sulit menjumpai subyek-subyek fotogenik di warisan budaya bersejarah ini.

Ada 1.028 peserta yang berpartisipasi di Canon PhotoMarathon 2009, demikian data resmi dari sumber di Datascrip, distributor Canon di Indonesia. Tak hanya peserta seputar Jabotabek, saya menjumpai banyak peserta dari Bandung dan Surabaya. Bahkan ada peserta dari Manado, Sulawesi Utara yang hadir hanya untuk Canon PhotoMarathon 2009.

Kemeriahan yang lebih menarik diperkirakan bakal terjadi di Canon PhotoMarathon 2010 pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010 di Central Park, Jakarta. Sintra Wong, Canon Division PT Datascrip, menyebutkan bahwa tempat akan disiapkan untuk mampu menampung 2.000 peserta. Sebuah jumlah yang cukup realistis jika melihat jumlah peserta tahun lalu dan populasi peminat fotografi di Indonesia.

Pada hari yang sama dengan acara di Jakarta, Canon PhotoMarathon 2010 juga digelar Canon Asia di Penang, Malaysia dan Chiang Mai, Thailand. Selengkapnya, Canon Asia menggelar Canon PhotoMarathon 2010 di 12 kota, di 6 negara. Selain Indonesia, PhotoMarathon digelar pula di Malaysia (Penang), 4 kota di Thailand (Khonkean, Phuket, Chiang Mai dan Bangkok), 2 kota di Vietnam (Hanoi dan Ho Chi Minh City), 3 kota di India (Delhi, Mumbai dan Bangalore), dan Singapura.

Canon PhotoMarathon digelar oleh Canon Asia sejak 2007 di 5 negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina. Para pemenang hadiah utama PhotoMarathon 2008 dikirim ikut Photo Clinic di Kyushu, Jepang. Tahun 2008 PhotoMarathon masih digelar di kelima negara yang sama, berhadiah Photo Clinic di South Island, Selandia Baru. Baru pada tahun 2009 India dan Indonesia masuk, tapi Filipina absen. Para pemenang hadiah utama 2009 dikirim ikut Photo Clinic di Jepang bagian tengah.

Para pemenang hadiah utama PhotoMarathon 2010 akan dikirim mengikuti PhotoClinic selama 8 hari di Turki. Sudah pasti Indonesia akan mengirimkan 2 pemenangnya untuk hunting foto di Turki bersama tutor Triston Yeo, fotografer profesional Singapura. Tentu, untuk memperoleh kesempatan itu, peserta harus hadir di Central Park, Jakarta.

Sebagai negara dengan populasi kamera digital yang besar di Asia, Indonesia layak diperhitungkan. Pertambahan populasi kamera digital di Indonesia diperkirakan terus berlipat ganda, meski belum ada data dan rilis resmi mengenai hal ini. Jika melihat jumlah anggota yang terdaftar di Fotografer.net sebanyak 320 ribu dan pertambahan anggota baru rata-rata 189 orang per hari, Indonesia layak diperhitungkan. Apalagi Fotografer.net adalah komunitas online fotografi terbesar di Asia Tenggara.

Kita buktikan Indonesia berjaya tak hanya dalam jumlah populasi, tapi juga berwibawa karena karya-karya fotografi berkualitas wahid.


Gaby and The Smoke in Tondano

Surrounded. Wireless TTL flash in Tondano, North Sulawesi. Model: Gaby. Photo by: Kristupa Saragih
Surrounded. Wireless TTL flash in Tondano, North Sulawesi. Model: Gaby. Photo by: Kristupa Saragih

Surrounded. Wireless TTL flash in Tondano, North Sulawesi. Model: Gaby. Photo by: Kristupa Saragih

It was a beautiful day spent with Manado photography fellows, on the last weekend of June 2010. I was in the capital of North Sulawesi for attending Fotografer.net Gathering Series 2010. Manado fellows are so kind and they were very anthusiast to arrange a simple model photo shoot with me while I was visiting their hometown.

We went to Tondano, 30km away from Manado, the capital of Minahasa Region. Cool breeze and widespread rice fields welcomed us in this beautiful highland of North Sulawesi. Then it was just happenned for us to find harvesting time on a roadside.

Above dried rice straws and thick-wet mud we made some shots with Gaby, in a ricefield on the roadside of Tondano, Minahasa, North Sulawesi. Photo by: Raya

Above dried rice straws and thick-wet mud we made some shots with Gaby, in a ricefield on the roadside of Tondano, Minahasa, North Sulawesi. Photo by: Raya

Dried rice straws were everywhere. Some farmers started to burn some rice straw piles and rose some smoke. We pulled-over, geared-up and asked our model Gaby to walk into the smoke.

It wasn’t easy to step over dried rice straws. The piles are soft, above wet and thick mud. As we got closer to the smokes, oxygen decreased and the smoke hit our eyes just like tear gas.

I geared myself with Canon 1D Mk III body and 17-40mm lens. The area of shooting was narrow, and I wanted to keep close to the models to make sure she heard my direction. The wind was quite hard and the directions changed in minutes.

Sky was covered by cloud and created low-contast condition. I armed one unit flash Canon Speedlite 580 EX II with PocketWizard FlexTT5. To trigger it, PocketWizard FlexTT1 was slided into 1D Mk III hotshoe.

Photo shoot with Gaby among the smokes of dried rice straws in a rice field on roadside of Tondano, Minahasa, North Sulawesi. We couldn't stand the smoke that long, made some shots and pull everything out. Photo by: Regy Kurniawan

Photo shoot with Gaby among the smokes of dried rice straws in a rice field on roadside of Tondano, Minahasa, North Sulawesi. We couldn't stand the smoke that long, made some shots and pull everything out. Photo by: Regy Kurniawan

I wanted to step down the background 1-stop under the flash exposure on the model. As PocketWizard FlexTT1 and FlexTT5 supports Canon E-TTL system, it was easy for me to compensate the exposure -1 stop and keep the flash exposure normal.

We realized that we couldn’t stand the smoke that long. So we just made some shots, quickly evaluate them and made some other alternative shots from some different angles. Went back to our cars, we stepped again over the dried straws carefully, and called our short and simple photo shoot a wrap.

My Manado fellows and I simply browsed the pictures on the camera LCD. We were satisfied and so was Gaby. Shorthly after that, we hit the road again, back to Manado, to attend Fotografer.net members gathering later in the evening. Thanks to all Fotografer.net fellows in Manado, SPOT photographer.

Another fun was waiting for us.

Finally we called it a wrap. All Fotografer.net Manado fellows and I were satisfied, and so was Gaby. From left to right: Regy Kurniawan, Raya, Farid Wahdiono (Exposure Magazine), Michael Winerungan (stand), Achmad Bagenda (sit down), Dodi Sandradi (FN HQ), Fesix Suyudi, Surya Rachman, Santho Montu, Kristupa Saragih, Diandra Gabriela Nelwan (Gaby), dan Hernan Halim. Photo by: Palty Silalahi

Finally we called it a wrap. All Fotografer.net Manado fellows and I were satisfied, and so was Gaby. From left to right: Regy Kurniawan, Raya, Farid Wahdiono (Exposure Magazine), Michael Winerungan (stand), Achmad Bagenda (sit down), Dodi Sandradi (FN HQ), Fesix Suyudi, Surya Rachman, Santho Montu, Kristupa Saragih, Diandra Gabriela Nelwan (Gaby), dan Hernan Halim. Photo by: Palty Silalahi


Original post of the main picture above: Surrounded


Pakai Kamera Saku Juga Bisa Membuat Foto Bagus

Saya risau sekali jika mendapati rekan-rekan penyuka fotografi yang beranggapan membuat foto bagus harus pakai kamera DSLR, yang besar, bagus dan mahal. Padahal kamera saku pun bisa menghasilkan foto-foto bagus.

Berikut beberapa foto hasil jepretan menggunakan kamera saku Canon PowerShot G10 yang saya buat. Foto-foto dan tulisan ini dibuat tanpa sponsorship sama sekali dari Canon, maupun dealer dan distributornya. Jadi, saya bisa menggaransi kejujuran membedah foto-foto dengan kamera saku ini.

Panorama Bromo | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/160 - ISO 100 - Kompensasi +1 - Focal length 6mm - Modus Pengukuran cahaya: Center Weighted - Filter Circular Polarizing | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Panorama Bromo” di atas dibuat dengan metode seolah-olah saya memakai kamera besar. Metode yang saya pakai adalah kompensasi pencahayaan lebih terang 1 stop, karena pengukuran cahaya normal menghasilkan foto under-exposed. Tak sulit mengetahui over atauunder, lantaran kamera digital sudah dilengkapi LCD. Pendekatan lain adalah penggunaan filtercircular polarizing (CPL), dengan tujuan untuk memekatkan warna biru di langit dan menambah saturasi warna.

Kebakaran di Makassar | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/800 - ISO 400 - Kompensasi 0 - Focal length 16mm - Modus pengukuran cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Kebakaran di Makassar” saya buat dengan pendekatan jurnalistik, alias tanpa rencana dan merupakan spontanitas atas peristiwa yang sedang terjadi dan sedang saya lihat. Foto dibuat dari kursi saya pada penerbangan MZ 708, 12 Juni 2009 jam 08:55 WITA, dari Jogja ke Makassar, pada saat pesawat sedang approach runway Bandara Hasanuddin.

Tidak ada filter yang saya pakai. ISO 400 dipakai untuk menjamin gambar tidak goyang (shake). Sementara bukaan f/8 dipakai untuk memperoleh ruang tajam (depth of field) yang luas. Tak ada kompensasi pencahayaan, karena hasil pemotretan sudah correct exposureFocal length 16 mm merupakan jangkauan lensa tele di Canon G10.

Interior Bandara Hasanuddin | Canon G10 - Bukaan f/5 - Kecepatan 1/60 - ISO 400 - Kompensasi 0 - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Kamera saku cukup handal untuk memotret di dalam ruangan dengan pencahayaan minim. Foto “Interior Bandara Hasanuddin” dibuat pada sore hari jam 17:52 WITA, sembari menunggu keberangkatan MZ 709 dari Makassar ke Jogja. Interior bandara ini memang bagus dan menarik nan fotogenik pula.

Focal length 6mm menandakan lensa diset selebar-lebarnya. Kondisi pencahayaan kontras tinggi, karena jendela yang berukuran amat besar, sementara kondisi dalam ruangan sudah temaram yang ditandai dengan lampu-lampu yang telah dinyalakan. Karena itulah ISO 400 dipakai agar kamera tidak goyang meskipun handheld tanpa tripod.

Ternyata rentang beda kontras (dynamic range) kamera saku ini cukup lebar dan toleran. Terbukti, bagian terang (highlight) masih terekam baik. Sementara bagian gelap (shadow) pun masih menyisakan detail.

Red & Blue Splashes | Canon G10 - Bukaan f/4.5 - Kecepatan 1/1000 - ISO 800 - Kompensasi +1 stop - Focal length 30mm - Modus pengukuran cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Red & Blue Splashes” merupakan hasil penjajalan kamera saku ini dengan lampu studio dan kecepatan rana tinggi (high shutter speed). Lampu studio yang dipakai merupakan jenis continuous dengan suhu warna (color temperature) daylight 5000-5500 Kelvin. Sementara kecepatan rana tinggi dipakai untuk membekukan gerak, alias teknik freezing.

Sebenarnya kamera saku kecil ini dilengkapi hot shoe untuk menghubungkannya dengan lampu kilat (flash). Tapi dengan pertimbangan agar mendekati fitur yang ada di kamera-kamera saku lain secara umum, saya set Canon G10 tanpa flash pada pencahayaan dari lampu continuous.

ISO 800 merupakai ISO tinggi yang dipakai dengan tujuan memperoleh kecepatan rana setinggi-tingginya. Lantaran untuk memperoleh efek freezing, kecepatan rana musti di atas 1/500 detik. Konsekuensi ISO tinggi adalah butiran (grain) yang kasar, tapi ternyata masih relatif halus terlihat di foto ini.

Kokoh | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/200 - Kompensasi 0.7 stop - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Kembali ke luar ruangan, kamera saku bersifat ringkas hingga mudah dibawa ke mana-mana. Jika kebetulan melintasi eksterior gedung yang menarik, tinggal ambil, bidik dan jepret. Misalnya saja ketika saya melewati sebuah bangunan apartemen di Surabaya ini, pada foto “Kokoh” ini.

Reflection on Star | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/15 - ISO 200 - Kompensasi Pencahayaan -0.7 stop - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Sifat unggulan kamera saku adalah kemudahan pengoperasian. Dari sifat ini bisa ditarik manfaat, yakni fotografer bisa berkonsentrasi pada ide foto dan subyek foto, tanpa perlu dipusingkan dengan hal-hal teknis. Toh, namanya juga kamera saku, alias pocket camera, alias compact camera, alias point and shoot camera.

Foto “Reflection on Star” diperoleh ketika sedang melintas di tempat parkir sebuah gedung. Kebetulan ada refleksi menarik di kap mesin sebuah mobil. Cukup dengan ide sederhana, tapi dikemas dalam komposisi yang apik, maka jadilah foto yang unik.

Masih banyak foto-foto kreatif dan unik yang bisa dibuat dengan kamera saku. Tak harus terpaku dengan kamera besar alias kamera DSLR. Foto bagus tak tergantung pada alat yang bagus, melainkan ide yang muncul di benak fotografer, mata yang jeli membidik dan kreativitas yang berbatas imajinasi.

Mengagung-agungkan alat sama dengan sifat materialistis yang hanya memandang dan menghormati segala sesuatu yang bersifat kebendaan dan kasat mata. Memang, kamera yang bagus membantu untuk mempermudah membuat foto bagus. Tapi, sekali lagi, foto bagus tak harus dibuat dengan kamera yang mahal dan bagus.

Memotret tak sulit. Cukup dengan memahami teori dasar fotografi, maka modal awal dan utama sudah di tangan. Kunci selanjutnya, untuk membuat foto bagus, adalah banyak berlatih. Sarana untuk mempermudah belajar foto adalah bergaul aktif di komunitas fotografi yang sehat dan bonafid.