Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “CB8

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900
Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Mengunjungi Da Lat, kota wisata di Vietnam Selatan, berkaitan dengan Crossing Bridges 8 Vietnam 2011, saya dan kawan-kawan fotografer 5 negara ASEAN mampir ke Stasiun Kereta Api Da Lat, Senin (14/11). Semula biasa saja, sampai seluruh rombongan tiba di tempat barulah tersadar bahwa bangunan stasiun KA ini mempesona. Terpelihara baik, rapi dan bersih, Stasiun Da Lat masih berfungsi hingga kini.

Membawa kamera besar sudah pasti, apalagi Crossing Bridges adalah ajang pertemuan tahunan fotografer-fotografer Asia Tenggara. Tapi merekam keindahan karya arsitektur Stasiun Da Lat terasa menyenangkan juga dengan kamera sesederhana ponsel BlackBerry 9900.

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Didesain pada tahun 1932, arsitek-arsitek Perancis Moncet dan Reveron memilih gaya art deco dipadu dengan elemen lokal Cao Nguyen, yang ada di rumah-rumah besar dataran tinggi Vietnam Tengah. Secara umum, desain Stasiun Da Lat dibuat mirip dengan stasiun di Normandy. Stasiun ini mulai beroperasi tahun 1938 dan oleh pemerintah kolonial Perancis dibuat untuk melayani jalur Da Lat-Thap Cam.

Tiga puncak atap Stasiun Da Lat didesain untuk melambangkan ketiga puncak Pegunungan Liang Biang di Da Lat. Stasiun ini berhenti beroperasi pada saat Perang Vietnam tahun 1960-an. Pada tahun 1990-an, usaha restorasi Stasiun Da Lat dan jalur kereta api dimulai untuk kepentingan pariwisata. Tahun 2001 Stasiun Da Lat diresmikan sebagai gedung bersejarah yang dilindungi.

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat wajib dikunjungi pecinta arsitektur, penyuka perkeretaapian dan fotografer arsitektur.

Semua foto yang menyertai tulisan ini dibuat dengan kamera ponsel BlackBerry 9900 tanpa editing apapun.

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900


Menyongsong Crossing Bridges 8 Vietnam 2011

20111108-150025.jpg

Forum persahabatan komunitas-komunitas online fotografi Asia Tenggara kembali beracara untuk kali kedelapan. Pada 10-16 November 2011 di Ho Chi Minh City dan sekitarnya, 75 fotografer dari 5 negara Asean akan berkumpul dengan tuan rumah Vietnam. Para peserta datang dari komunitas-komunitas fotografi Fotografer.net (Indonesia), Clubsnap (Singapura), Photo Malaysia (Malaysia), FPFF (Filipina) dan Photo.vn (Vietnam).

Melalui forum Crossing Bridges, komunitas-komunitas fotografi terbesar di negara-negara Asean bertemu dan mengaktualkan diri. Demikian pula Fotografer.net yang menempatkan diri sebagai komunitas terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 398.000 anggota terdaftar.

Fotografer pada hakekatnya adalah makhluk komunal. Pada saat menekan tombol pelepas rana memang sendiri, tapi dalam kehidupan nyata fotografer mutlak berkomunitas. Untuk maju, dibutuhkan komunitas yang sehat.

Itu berarti komunitas fotografi berbeda dengan komunitas lain. Komunitas fotografi sewajarnya bertemu untuk memotret, bukan hanya mengobrol belaka. Dan sebagai warga Asean, fotografer-fotografer Indonesia harus menempatkan diri secara bijaksana di tengah pergaulan internasional.

Berkaitan dengan aktualisasi diri dan persahabatan itulah Crossing Bridges bergandengan tangan secara nyata, takhanya secara maya. Pertemuan tahunan digelar rutin sejak 2004, kali pertama Crossing Bridges diwujudkan. Fotografer.net Indonesia menjadi tuan rumah CB 1 yang bertempat di Yogyakarta dan sekitarnya.

CB 2 digelar tuan rumah Clubsnap Singapura di Hong Kong dan Macau tahun 2005. Tahun 2006 Photo.vn Vietnam bergabung dan langsung menjadi tuan rumah CB 3 di Hanoi dan Sapa. Photo Malaysia bergabung tahun 2007 dan menggelar CB 4 di Tawau dan Semporna.

Clubsnap Singapura kembali menjadi tuan rumah CB 5 di Siem Reap, Kamboja tahun 2008. Pelaksanaan CB 6 tahun 2009 yang tak terlupakan digelar di Sumatra Barat oleh Fotografer.net Indonesia. Dua hari sebelum CB 6 selesai, para fotografer dari 5 negara Asean ikut mengalami musibah gempa bumi. Pada tahun ini juga FPPF Filipina bergabung ke Crossing Bridges.

FPPF lantas menjadi tuan rumah CB 7 tahun lalu di Western Visayas. Saat ini sudah 5 negara Asean bergabung di Crossing Bridges, menanti Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Laos dan Timor Leste untuk bergabung.

Tahun ini kali kedua Photo.vn menjadi tuan rumah Crossing Bridges. Bertolak dari Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam setelah ibukota Hanoi, 75 fotografer dari 5 negara Asean berkeliling sebagian Vietnam Selatan.

Kontingen Indonesia beranggotakan 15 orang ikut serta menyukseskan CB 8. Kita percaya, keberadaan Fotografer.net, sebagai salah satu inisiator Crossing Bridges, bisa bermanfaat untuk kawan-kawan sesama fotografer Asia Tenggara.

Kita ingin berpartisipasi aktif di pergaulan regional untuk menunjukkan eksistensi fotografi Indonesia. Nilai-nilai luhur bangsa dan kekayaan alam budaya Tanah Air mendasari kerendahhatian kita untuk menjalin persahabatan. Hunting foto bisa di mana saja dan dengan siapa saja, tapi persahabatan lebih bernilai untuk kita pupuk bersama.

Prestasi dan hal-hal yang dibuat oleh forum Crossing Bridges mungkin bukan sesuatu yang spektakuler. Tapi semangat, komitmen dan kesinambungan yang telah dijaga tetap berkobar merupakan hal yang luar biasa bagi para anggota yang terlibat di dalamnya. Hal yang luar biasa untuk dipikirkan, diingat dan diceritakan serta dipelajari untuk kelak dikembangkan lagi.

Melalui fotografi, Indonesia membuka mata dunia bahwa negara kita menyimpan talenta-talenta berharga. Insan-insan yang berperasaan halus dan rendah hati sekaligus tahu diri untuk mengambil peran penting di masanya.