Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “circular polarizing filter

A Tough Afternoon, Fashion Shoot in Papuma

Among The Rocks. Fashion, make up and hair do by Bubah Alfian. Model: Tiara.
Among The Rocks. Fashion, make up and hair do by Bubah Alfian. Model: Tiara.

Among The Rocks #4. Fashion, make up and hair do by Bubah Alfian. Model: Tiara. Photo by Kristupa Saragih

It was a sunny day in Papuma, Jember, East Java. Dry season of June 15, 2011 brought a clear blue sky. It was simply great for outdoor shoot.

Finishing a full day fashion photography workshop in Jember as speaker, there was a spare time left before sunset. It was too good to be wasted. Some fellow photographers then organized an easy additional fashion shooting session in Papuma Beach. It’s a half an hour drive away from Jember to Papuma in the south.

The beach is rocky and hard windy. The hard splash could reach as high as 2-3 meters. But the sun was too friendly and too kind for photo shooting.

The Visitor. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Diana. Photo by Kristupa Saragih

The Visitor #2. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Diana. Photo by Kristupa Saragih

A local Jember fashion designer is an award-winning of Jember Fashion Carnival, Bubah Alfian. He supported the workshop previously that day with his wardrobes, make-up and hair-do. We brought him with some models along.

In tropical country, outdoor shooting is a challenge. The light changes pretty quick. Photographer needs to adjust the exposure everytime.

The Lure. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Thalita. Photo by Kristupa Saragih

The Lure. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Thalita. Photo by Kristupa Saragih

Fortunately, Bubah is a keen person with strong motivation to collaborate in photo work. The models were cooperative and easy to direct. They did not complain about anything even tough they had to climb up and down the rocks with everything on.

The lighting situation was tough, with high contrast and changes of exposure. I decided to go strobist with one flash Canon 580 EXII mounted in PocketWizard FlexTT5. It was triggered by PocketWizard MiniTT1 which was mounted on the hot-shoe of my Canon EOS 1D Mk III armed with Canon 17-40mm f/4L lens.

E-TTL compatibility of PocketWizard MiniTT1 and FlexTT5 helped a lot. In open area the exposure was either compensated +1 stop or no compensation. The flash needed to be compensated +2 to +3 stop in open area, and -3 stop in shady area. I put circular polarizing filter on to make sure the color saturation is adjusted and blue sky is darkened.

The Visitor #3. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Diana. Photo by Kristupa Saragih

The Visitor #3. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Diana. Photo by Kristupa Saragih

The shooting that day did not last longer than one hour. At 5 PM the sun hit the horizon which cut the contrast right away down and even lower to dark. We called it a wrap, and directly hit the seafood restaurant a few steps away from the beach for dinner.

We checked the pictures and everyone’s happy.

Among The Rocks #1. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Tiara. Photo by Kristupa Saragih

Among The Rocks #1. Fashion, make-up and hair-do by Bubah Alfian. Model: Tiara. Photo by Kristupa Saragih

Advertisements

The Beauty of Bayon

The Beauty of Bayon. Bayon, the main temple of Angkor Thom, in Angkor complex and its reflection. Photo by: Kristupa Saragih

In Khmer history, it is believed that Angkor Thom was built as the capital city of the kingdom by King Jayavarman VII in the late 12th century. It is also believed that the king built Bayon as the official state temple of Angkor Thom. Bayon was originally built as Buddhist Mahayana temple, but the successors of the king then modified the temple into Hindu and Theravada Buddhist, in accordance with their own religious preferences.

Anyway, the temple lasts till today. It passed hundred of years of history timeline: wars of Khmer kingdoms, wars of Khmer and surrounding kingdoms and later the French colonialism. It is being renovated now, as seen on my latest visit July 2010, and as seen on my previous visit November 2008.

From downtown Siem Reap, visitors will pass The South Gate and find Bayon as the first temple in Angkor complex. Best time to visit for photo shooting is both early morning and afternoon. Early morning visit will benefit the less disturbance of other visitors. But afternoon visit will give photographer the beauty of reflection in a small pond in west side of Bayon.

In order to catch the reflection, the use of polarizing filter would enhance the reflection. Or else, to get rid of it. The polarizing filter also helped to darken the sky, as seen in the picture above. As the scene has high contrast condition in the afternoon, a gradual ND (neutral density) filter would lessen the contrast.

Actually, there are a lot of subjects to be explored in about 22,500 sq meters area of Bayon. All you need is a pair of strong feet and a couple bottles of water. And, of course, a strong motivation to shoot and learn about the temple. Give respect to other visitors and photographers by stay away from “the line of fire” when they “fire” their camera.

I wish, on my next visit I will combine the beauty of Bayon and the beauty of model(s).


Original post of the picture above in Fotografer.net: Peace in Bayon


Pakai Kamera Saku Juga Bisa Membuat Foto Bagus

Saya risau sekali jika mendapati rekan-rekan penyuka fotografi yang beranggapan membuat foto bagus harus pakai kamera DSLR, yang besar, bagus dan mahal. Padahal kamera saku pun bisa menghasilkan foto-foto bagus.

Berikut beberapa foto hasil jepretan menggunakan kamera saku Canon PowerShot G10 yang saya buat. Foto-foto dan tulisan ini dibuat tanpa sponsorship sama sekali dari Canon, maupun dealer dan distributornya. Jadi, saya bisa menggaransi kejujuran membedah foto-foto dengan kamera saku ini.

Panorama Bromo | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/160 - ISO 100 - Kompensasi +1 - Focal length 6mm - Modus Pengukuran cahaya: Center Weighted - Filter Circular Polarizing | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Panorama Bromo” di atas dibuat dengan metode seolah-olah saya memakai kamera besar. Metode yang saya pakai adalah kompensasi pencahayaan lebih terang 1 stop, karena pengukuran cahaya normal menghasilkan foto under-exposed. Tak sulit mengetahui over atauunder, lantaran kamera digital sudah dilengkapi LCD. Pendekatan lain adalah penggunaan filtercircular polarizing (CPL), dengan tujuan untuk memekatkan warna biru di langit dan menambah saturasi warna.

Kebakaran di Makassar | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/800 - ISO 400 - Kompensasi 0 - Focal length 16mm - Modus pengukuran cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Kebakaran di Makassar” saya buat dengan pendekatan jurnalistik, alias tanpa rencana dan merupakan spontanitas atas peristiwa yang sedang terjadi dan sedang saya lihat. Foto dibuat dari kursi saya pada penerbangan MZ 708, 12 Juni 2009 jam 08:55 WITA, dari Jogja ke Makassar, pada saat pesawat sedang approach runway Bandara Hasanuddin.

Tidak ada filter yang saya pakai. ISO 400 dipakai untuk menjamin gambar tidak goyang (shake). Sementara bukaan f/8 dipakai untuk memperoleh ruang tajam (depth of field) yang luas. Tak ada kompensasi pencahayaan, karena hasil pemotretan sudah correct exposureFocal length 16 mm merupakan jangkauan lensa tele di Canon G10.

Interior Bandara Hasanuddin | Canon G10 - Bukaan f/5 - Kecepatan 1/60 - ISO 400 - Kompensasi 0 - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Kamera saku cukup handal untuk memotret di dalam ruangan dengan pencahayaan minim. Foto “Interior Bandara Hasanuddin” dibuat pada sore hari jam 17:52 WITA, sembari menunggu keberangkatan MZ 709 dari Makassar ke Jogja. Interior bandara ini memang bagus dan menarik nan fotogenik pula.

Focal length 6mm menandakan lensa diset selebar-lebarnya. Kondisi pencahayaan kontras tinggi, karena jendela yang berukuran amat besar, sementara kondisi dalam ruangan sudah temaram yang ditandai dengan lampu-lampu yang telah dinyalakan. Karena itulah ISO 400 dipakai agar kamera tidak goyang meskipun handheld tanpa tripod.

Ternyata rentang beda kontras (dynamic range) kamera saku ini cukup lebar dan toleran. Terbukti, bagian terang (highlight) masih terekam baik. Sementara bagian gelap (shadow) pun masih menyisakan detail.

Red & Blue Splashes | Canon G10 - Bukaan f/4.5 - Kecepatan 1/1000 - ISO 800 - Kompensasi +1 stop - Focal length 30mm - Modus pengukuran cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Red & Blue Splashes” merupakan hasil penjajalan kamera saku ini dengan lampu studio dan kecepatan rana tinggi (high shutter speed). Lampu studio yang dipakai merupakan jenis continuous dengan suhu warna (color temperature) daylight 5000-5500 Kelvin. Sementara kecepatan rana tinggi dipakai untuk membekukan gerak, alias teknik freezing.

Sebenarnya kamera saku kecil ini dilengkapi hot shoe untuk menghubungkannya dengan lampu kilat (flash). Tapi dengan pertimbangan agar mendekati fitur yang ada di kamera-kamera saku lain secara umum, saya set Canon G10 tanpa flash pada pencahayaan dari lampu continuous.

ISO 800 merupakai ISO tinggi yang dipakai dengan tujuan memperoleh kecepatan rana setinggi-tingginya. Lantaran untuk memperoleh efek freezing, kecepatan rana musti di atas 1/500 detik. Konsekuensi ISO tinggi adalah butiran (grain) yang kasar, tapi ternyata masih relatif halus terlihat di foto ini.

Kokoh | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/200 - Kompensasi 0.7 stop - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Kembali ke luar ruangan, kamera saku bersifat ringkas hingga mudah dibawa ke mana-mana. Jika kebetulan melintasi eksterior gedung yang menarik, tinggal ambil, bidik dan jepret. Misalnya saja ketika saya melewati sebuah bangunan apartemen di Surabaya ini, pada foto “Kokoh” ini.

Reflection on Star | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/15 - ISO 200 - Kompensasi Pencahayaan -0.7 stop - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Sifat unggulan kamera saku adalah kemudahan pengoperasian. Dari sifat ini bisa ditarik manfaat, yakni fotografer bisa berkonsentrasi pada ide foto dan subyek foto, tanpa perlu dipusingkan dengan hal-hal teknis. Toh, namanya juga kamera saku, alias pocket camera, alias compact camera, alias point and shoot camera.

Foto “Reflection on Star” diperoleh ketika sedang melintas di tempat parkir sebuah gedung. Kebetulan ada refleksi menarik di kap mesin sebuah mobil. Cukup dengan ide sederhana, tapi dikemas dalam komposisi yang apik, maka jadilah foto yang unik.

Masih banyak foto-foto kreatif dan unik yang bisa dibuat dengan kamera saku. Tak harus terpaku dengan kamera besar alias kamera DSLR. Foto bagus tak tergantung pada alat yang bagus, melainkan ide yang muncul di benak fotografer, mata yang jeli membidik dan kreativitas yang berbatas imajinasi.

Mengagung-agungkan alat sama dengan sifat materialistis yang hanya memandang dan menghormati segala sesuatu yang bersifat kebendaan dan kasat mata. Memang, kamera yang bagus membantu untuk mempermudah membuat foto bagus. Tapi, sekali lagi, foto bagus tak harus dibuat dengan kamera yang mahal dan bagus.

Memotret tak sulit. Cukup dengan memahami teori dasar fotografi, maka modal awal dan utama sudah di tangan. Kunci selanjutnya, untuk membuat foto bagus, adalah banyak berlatih. Sarana untuk mempermudah belajar foto adalah bergaul aktif di komunitas fotografi yang sehat dan bonafid.