Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “Crossing Bridges

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900
Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Kereta Api Da Lat, Vietnam. Tiga atap tinggi di bangunan utama melambangkan ketiga puncak bukit Liang Biang. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Mengunjungi Da Lat, kota wisata di Vietnam Selatan, berkaitan dengan Crossing Bridges 8 Vietnam 2011, saya dan kawan-kawan fotografer 5 negara ASEAN mampir ke Stasiun Kereta Api Da Lat, Senin (14/11). Semula biasa saja, sampai seluruh rombongan tiba di tempat barulah tersadar bahwa bangunan stasiun KA ini mempesona. Terpelihara baik, rapi dan bersih, Stasiun Da Lat masih berfungsi hingga kini.

Membawa kamera besar sudah pasti, apalagi Crossing Bridges adalah ajang pertemuan tahunan fotografer-fotografer Asia Tenggara. Tapi merekam keindahan karya arsitektur Stasiun Da Lat terasa menyenangkan juga dengan kamera sesederhana ponsel BlackBerry 9900.

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Gaya arsitektur art deco berpadu dengan elemen Cao Nguyen di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Didesain pada tahun 1932, arsitek-arsitek Perancis Moncet dan Reveron memilih gaya art deco dipadu dengan elemen lokal Cao Nguyen, yang ada di rumah-rumah besar dataran tinggi Vietnam Tengah. Secara umum, desain Stasiun Da Lat dibuat mirip dengan stasiun di Normandy. Stasiun ini mulai beroperasi tahun 1938 dan oleh pemerintah kolonial Perancis dibuat untuk melayani jalur Da Lat-Thap Cam.

Tiga puncak atap Stasiun Da Lat didesain untuk melambangkan ketiga puncak Pegunungan Liang Biang di Da Lat. Stasiun ini berhenti beroperasi pada saat Perang Vietnam tahun 1960-an. Pada tahun 1990-an, usaha restorasi Stasiun Da Lat dan jalur kereta api dimulai untuk kepentingan pariwisata. Tahun 2001 Stasiun Da Lat diresmikan sebagai gedung bersejarah yang dilindungi.

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Kekhasan gaya arsitektur art deco rancangan arsitek Perancis Moncet dan Reveron di Stasiun Da Lat, Vietnam. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat wajib dikunjungi pecinta arsitektur, penyuka perkeretaapian dan fotografer arsitektur.

Semua foto yang menyertai tulisan ini dibuat dengan kamera ponsel BlackBerry 9900 tanpa editing apapun.

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Salah satu sudut Stasiun Da Lat, Vietnam yang bergaya arsitektur art deco. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900

Stasiun Da Lat terpelihara baik, rapi dan bersih dan difungsikan untuk kepentingan pariwisata. Foto oleh Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9900


Menyongsong Crossing Bridges 8 Vietnam 2011

20111108-150025.jpg

Forum persahabatan komunitas-komunitas online fotografi Asia Tenggara kembali beracara untuk kali kedelapan. Pada 10-16 November 2011 di Ho Chi Minh City dan sekitarnya, 75 fotografer dari 5 negara Asean akan berkumpul dengan tuan rumah Vietnam. Para peserta datang dari komunitas-komunitas fotografi Fotografer.net (Indonesia), Clubsnap (Singapura), Photo Malaysia (Malaysia), FPFF (Filipina) dan Photo.vn (Vietnam).

Melalui forum Crossing Bridges, komunitas-komunitas fotografi terbesar di negara-negara Asean bertemu dan mengaktualkan diri. Demikian pula Fotografer.net yang menempatkan diri sebagai komunitas terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 398.000 anggota terdaftar.

Fotografer pada hakekatnya adalah makhluk komunal. Pada saat menekan tombol pelepas rana memang sendiri, tapi dalam kehidupan nyata fotografer mutlak berkomunitas. Untuk maju, dibutuhkan komunitas yang sehat.

Itu berarti komunitas fotografi berbeda dengan komunitas lain. Komunitas fotografi sewajarnya bertemu untuk memotret, bukan hanya mengobrol belaka. Dan sebagai warga Asean, fotografer-fotografer Indonesia harus menempatkan diri secara bijaksana di tengah pergaulan internasional.

Berkaitan dengan aktualisasi diri dan persahabatan itulah Crossing Bridges bergandengan tangan secara nyata, takhanya secara maya. Pertemuan tahunan digelar rutin sejak 2004, kali pertama Crossing Bridges diwujudkan. Fotografer.net Indonesia menjadi tuan rumah CB 1 yang bertempat di Yogyakarta dan sekitarnya.

CB 2 digelar tuan rumah Clubsnap Singapura di Hong Kong dan Macau tahun 2005. Tahun 2006 Photo.vn Vietnam bergabung dan langsung menjadi tuan rumah CB 3 di Hanoi dan Sapa. Photo Malaysia bergabung tahun 2007 dan menggelar CB 4 di Tawau dan Semporna.

Clubsnap Singapura kembali menjadi tuan rumah CB 5 di Siem Reap, Kamboja tahun 2008. Pelaksanaan CB 6 tahun 2009 yang tak terlupakan digelar di Sumatra Barat oleh Fotografer.net Indonesia. Dua hari sebelum CB 6 selesai, para fotografer dari 5 negara Asean ikut mengalami musibah gempa bumi. Pada tahun ini juga FPPF Filipina bergabung ke Crossing Bridges.

FPPF lantas menjadi tuan rumah CB 7 tahun lalu di Western Visayas. Saat ini sudah 5 negara Asean bergabung di Crossing Bridges, menanti Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Laos dan Timor Leste untuk bergabung.

Tahun ini kali kedua Photo.vn menjadi tuan rumah Crossing Bridges. Bertolak dari Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam setelah ibukota Hanoi, 75 fotografer dari 5 negara Asean berkeliling sebagian Vietnam Selatan.

Kontingen Indonesia beranggotakan 15 orang ikut serta menyukseskan CB 8. Kita percaya, keberadaan Fotografer.net, sebagai salah satu inisiator Crossing Bridges, bisa bermanfaat untuk kawan-kawan sesama fotografer Asia Tenggara.

Kita ingin berpartisipasi aktif di pergaulan regional untuk menunjukkan eksistensi fotografi Indonesia. Nilai-nilai luhur bangsa dan kekayaan alam budaya Tanah Air mendasari kerendahhatian kita untuk menjalin persahabatan. Hunting foto bisa di mana saja dan dengan siapa saja, tapi persahabatan lebih bernilai untuk kita pupuk bersama.

Prestasi dan hal-hal yang dibuat oleh forum Crossing Bridges mungkin bukan sesuatu yang spektakuler. Tapi semangat, komitmen dan kesinambungan yang telah dijaga tetap berkobar merupakan hal yang luar biasa bagi para anggota yang terlibat di dalamnya. Hal yang luar biasa untuk dipikirkan, diingat dan diceritakan serta dipelajari untuk kelak dikembangkan lagi.

Melalui fotografi, Indonesia membuka mata dunia bahwa negara kita menyimpan talenta-talenta berharga. Insan-insan yang berperasaan halus dan rendah hati sekaligus tahu diri untuk mengambil peran penting di masanya.


Crossing Bridges 7 Day 04: Island-hopping to San Carlos City

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700
Tiket MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 dari Toledo City di Pulau Cebu ke San Carlos City di Pulau Negros. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tiket MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 dari Toledo City di Pulau Cebu ke San Carlos City di Pulau Negros. Foto oleh: Kristupa Saragih

Minggu, 21 November 2010
Hari 4 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Hari keempat dibuka dengan bangun pagi, seperti biasa, di penginapan sederhana di Balamban. Jam 6 pagi rombongan diberangkatkan dari hotel ke pelabuhan di Toledo City. Telat bangun, berarti ketinggalan rombongan dan ketinggalan kapal.

Pelabuhan Toledo bersih dan besar. Sedikitnya ada 3 kali pelayaran bolak-balik Toledo dan San Carlos. Toledo berada di Pulau Cebu, Provinsi Cebu, sementara San Carlos berada di Pulau Negros, Provinsi Negros Occidental. Rute ini dilayani kapal feri jenis ro-ro, seperti kapal feri penyeberangan Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk.

Becak sepeda di Pelabuhan Toledo City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Becak sepeda di Pelabuhan Toledo City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pelabuhan Toledo City yang bersih dan tertib. Penumpang masuk ke kapal secara tertib dan teratur. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pelabuhan Toledo City yang bersih dan tertib. Penumpang masuk ke kapal secara tertib dan teratur. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Arsi, peserta CB7 kontingen Indonesia, merekam suasana Pelabuhan Toledo City dengan kamera video. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Arsi, peserta CB7 kontingen Indonesia, merekam suasana Pelabuhan Toledo City dengan kamera video. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pandangan dari dek kapal MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 menyeberang dari Toledo City ke San Carlos City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pandangan dari dek kapal MV Lite Ferry 10 yang membawa rombongan CB7 menyeberang dari Toledo City ke San Carlos City. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Iseng mengisi waktu luang di atas MV Lite Ferry 10 menyeberang dari Toledo ke San Carlos. Dua kontingen Indonesia, Arsi (kiri) dan Dennis (kanan). Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Bedanya, pelabuhan asal dan pelabuhan tujuan di Toledo dan San Carlos ini amat bersih dan tertib. Kapal feri pun bersih, rapi, tertib dan tak bau. Pendingin udara berfungsi baik. Amat nyaman untuk perjalanan sekitar 1 jam.

Tiba di San Carlos City, disambut panitia setempat dari kantor pariwisata Provinsi Negros Occidental. Dibawa ke dua pasar tradisional, mirip dengan di Indonesia, tapi lagi-lagi pasar di kota kecil ini amat bersih, tak becek dan tak bau. Sebelum makan siang, rombongan sempat berkunjung ke pusat daur-ulang sampah kota San Carlos. Ternyata bisnis ini cukup menguntungkan.

 

Salah satu komoditas pusat daur ulang sampah kota San Carlos yang jadi sumber penghasilan kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Salah satu komoditas pusat daur ulang sampah kota San Carlos yang jadi sumber penghasilan kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

 

Setelah melepas penat sejenak di hotel, rombongan Crossing Bridges 7 (CB7) bergerak menuju semacam kota. Ada sekelompok seniman body painting yang sedang berkarya. Belasan mahasiswa institut seni setempat sedang dilukis body painting dan jadi sasaran tembakan kamera 80 peserta CB7.

Kota San Carlos bukanlah kota besar. Populasi tercatat hanya 33 ribu jiwa saja. Selepas jam 7 malam jalanan sudah sepi. Tapi kota ini tumbuh sebagai kota pelabuhan dan sekarang terkenal karena seniman body painting. Selain itu ada festival tahunan Pintaflores tiap bulan November yang selalu dinanti.

 

Sajian tari-tarian khas Negros di depan gedung pertemuan terbesar di San Carlos City sebelum jamuan makan malam bersama walikota dan sejumlah pejabat kota. Spontan para penari jadi sasaran tembak para peserta CB7. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Sajian tari-tarian khas Negros di depan gedung pertemuan terbesar di San Carlos City sebelum jamuan makan malam bersama walikota dan sejumlah pejabat kota. Spontan para penari jadi sasaran tembak para peserta CB7. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Malam ditutup dengan makan malam bersama walikota di gedung pertemuan terbesar di San Carlos. Puluhan penari menyambut rombongan CB7 sebelum masuk ke gedung. Makan malam diakhiri pertunjukan tari body painting di depan walikota dan sejumlah pejabat kota.

 

Seluruh peserta CB7 bermalam di San Carlos City, di 5 hotel terpisah lantaran tak ada hotel yang cukup besar menampung ke-80 peserta CB7.

 

Pertunjukan tari body painting usai jamuan makan malam di hadapan walikota San Carlos City dan para pejabat kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

Pertunjukan tari body painting usai jamuan makan malam di hadapan walikota San Carlos City dan para pejabat kota. Foto oleh: Kristupa Saragih dengan BlackBerry 9700

 

 


Crossing Bridges 7 Day 01: Great Welcome Dinner by The Governor of Cebu Philippines

Crossing Bridges 7 Day 02: Aloguinsan, Pinamungajan and Toledo

Crossing Bridges 7 Day 03: Baranggai, Tuburan and Tobuelan


Crossing Bridges 7 Day 03: Baranggai, Tuburan and Tobuelan

Sabtu, 20 November 2010
Hari 3 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Hari kedua Crossing Bridges 7 (CB 7) Philippines 2010 dimulai pukul 6 pagi waktu setempat. Sarapan di Knight’s Cafe Hotel di Balamban, 80 fotografer dari 5 negara lantas meluncur menuju dataran tinggi Baranggai. Matahari pagi bersinar hangat dan langit bersih berwarna biru amat memanjakan fotografer.

Masih di dataran tinggi Baranggai, peserta CB 7 dibagi jadi 2 kelompok. Tempat tujuan memotret tak cukup menampung seluruh peserta. Satu kelompok turun ke dasar sungai dan memotret di gua. Sementara kelompok lain naik ke puncak bukit memotret di Monumen Ramon Magsaysay.

Jamuan makan siang di rumah Vice Mayor of Balamban, di rumah yang asri nan nyaman dengan pemandangan dataran tinggi nan indah. Lantas perjalanan dilanjutkan menuju Tuburan.

Tuburan amat indah dengan pantainya. Sambutan tari-tarian begitu meriah. Anak-anak yang bermain di mata air tawar di tepi pantai jadi sasaran tembak para peserta CB 7. Sepanjang jalan di kota Tuburan, anak2 sekolah berbaris sepanjang jalan yang dilalui iring-iringin sekitar 20 mobil CB 7. Rasanya bak tamu negara.

Sunset dinikmati di Tobuelan, masih di Provinsi Cebu. Makan malam dijamu Mayor of Tobuelan di halaman Balaikota yang luas. Atraksi tari-tarian tampil silih berganti. Di akhir acara, seluruh peserta CB7 ikut menari bersama anak-anak penari di Balaikota Tobuelan.

Bermalam kembali di Balamban.

Dataran tinggi Baranggai, Cebu, Philippines. Foto oleh: Kristupa Saragih

Dataran tinggi Baranggai, Cebu, Philippines. Foto oleh: Kristupa Saragih

Posted with WordPress for BlackBerry.


Crossing Bridges 7 Day 02: Aloguinsan, Pinamungajan and Toledo

Jumat, 19 November 2010
Hari 2 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Hari kedua Crossing Bridges 7 (CB 7) dimulai dini hari. Dikawal 2 mobil SWAT Kepolisian Filipina dan 1 ambulans, iring-iringan lebih dari 14 mobil meninggalkan Cebu menuju Aloguinsan, Provinsi Cebu. Langit masih gelap, udara sejuk.

Perhentian di Aloguinsan memanjakan fotografer. Sembari sarapan pagi di tepi laut, kamera merekam kehidupan nelayan yang ramah. Beberapa peserta sempat menumpang perahu demi memotret para nelayan dari dekat. Makan pagi bersama Walikota Aloguinsan dengan suguhan tari-tarian yang fotogenik.

Sebelum makan siang, peserta mengunjungi Pinamungajan. Disambut Walikota Pinamungajan, tak jauh dari Balaikota ada pasar induk setempat. Kebetulan Jumat adalah hari pasaran, hingga tak sulit bagi fotografer menghabiskan kartu memori di sana. Makan siang dijamu oleh Walikota Pinamungajan yang cantik itu dengan suguhan tari-tarian dan penyanyi anak-anak.

Petang hari, rombongan CB7 tiba di Toledo. Disambut Walikota Toledo di Balaikota Toledo yang megah itu, suguhan tari-tarian kembali memeriahkan suara rana kamera yang riuh mengabadikan. Tak lama di Balaikota, karena senja sudah menjelang.

Sore itu ditutup dengan kunjungan ke tambang tembaga Carmen Copper Corporation. Tambang yang masih aktif beroperasi ini berikan kesempatan kepada awam untuk memotret hingga di tepi mine pit. Suatu kesempatan langka, tentu setelah safety induction briefing.

Rangkaian acara hari pertama CB7 ditutup dengan makan malam di Balamban. Terasa meriah lantaran ada kejutan berupa atraksi kembang api seusai makan malam. Briefing malam dilakukan di Balaikota Balamban setelah suguhan tari-tarian.

Nelayan di Aloguinsan, Cebu, Philippines. Foto oleh: Kristupa Saragih

Nelayan di Aloguinsan, Cebu, Philippines. Foto oleh: Kristupa Saragih

Hari pertama diakhiri dengan bermalam di Balamban. Karena keterbatasan kapasitas hotel, 80 peserta CB7 menginap di 2 hotel terpisah. Hari pertama yang cukup panjang dan melelahkan. Tapi terasa bak tamu negara lantaran sambutan-sambutan meriah dengan atraksi tari-tarian di tiap kota yang dikunjungi.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Crossing Bridges 7 Day 01: Great Welcome Dinner by The Governor of Cebu Philippines

Kamis, 18 November 2010
Hari 1 Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Cebu cerah menyambut 80 peserta Crossing Bridges 7 (CB 7) yang berasal dari 5 negara: Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam dan Filipina. Hari pertama ditandai dengan konferensi pers di Kantor Gubernur Provinsi Cebu di pusat kota Cebu. Tuan rumah FPPF (Federation of Philippines Photography Foundation) menyiapkan segala sesuatu dengan rapi.

Malam hari, seluruh peserta CB 7 dijamu makan malam oleh Gubernur Provinsi Cebu di Kantor Gubernur. Hadir pada jamuan makan malam tersebut Provincial Board Member Agnes Magpale, yang juga adalah pejabat otoritas pariwisata Cebu. Seluruh peserta dimanjakan dengan pertunjukan tari-tarian tanpa henti sejak acara dimulai pukul 19 hingga usai pukul 21 waktu setempat.

Agnes Magpale mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta CB 7 di Provinsi Cebu. Sementara para pemimpin kontingen negara berulang kali menyebutkan hal persahabatan melalui fotografi dalam sambutan mereka masing-masing.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Menyongsong Crossing Bridges 7 Philippines 2010

Besok, 18 November 2010 Crossing Bridges digelar. Ajang pertemuan tahunan forum persahabatan komunitas fotografi Asia Tenggara ini digelar untuk kali ketujuh di Western Visayas, Filipina. FPPF (Federation Philippines Photography Foundation) bertindak sebagai tuan rumah Crossing Bridges 7 (CB 7) ini.

Tengah malam ini, forum-forum fotografi di Asia Tenggara memberangkatkan delegasinya ke Cebu, Filipina. Delegasi Fotografer.net (Indonesia) beranggotakan 16 orang, berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta tengah malam ini.

Pada saat yang hampir bersamaan, kontingen Clubsnap berangkat dari Bandara Changi di Singapura. Kontingen Photo.vn berangkat dari Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, sementara kontingen PhotoMalaysia.com berangkat dari Kuala Lumpur International Airport.

Dengan jumlah total peserta mencapai hampir 80 orang, maka CB 7 ini adalah yang tergemuk sejak pelaksanaan Crossing Bridges pertama tahun 2004. CB 1 digelar tahun 2004 di Jogja oleh tuan rumah Fotografer.net.

CB 2 di Hong Kong dan Macau digelar oleh Clubsnap dan CB 3 digelar tuan rumah Photo.vn di Hanoi dan Sapa, Vietnam. Sementara CB 4 digelar PhotoMalaysia.com di Tawau dan Semporna, Malaysia dan CB 5 digelar oleh Clubsnap di Siem Reap, Kamboja.

CB 6 tahun 2009 mencatat sejarah. Digelar oleh tuan rumah Fotografer.net di Sumatra Barat, bencana gempa bumi menandai pelaksanaan CB hingga tak terlupakan. Tahun 2010, CB 7 digelar FPPF di Cebu, Iloilo dan Bacolod di Filipina.

Crossing Bridges merupakan forum penting bagi fotografi secara regional. Dari segi jumlah, anggota kelima forum dari 5 negara ASEAN ini berjumlah lebih dari 600.000 orang. Kegiatan tahunan untuk saling tatap muka pun digelar secara konsisten selama 7 tahun berturut-turut tanpa putus.

Keberadaan Indonesia menempati posisi penting di Crossing Bridges lantaran jumlah anggota Fotografer.net yang 325.000 orang merupakan jumlah terbesar di Asia Tenggara. Secara strategis, Crossing Bridges berarti bagi eksistensi Indonesia di pergaulan dunia fotografi regional.

Melalui fotografi, Indonesia membuka mata dunia bahwa ada negara kita menyimpan talenta-talenta berharga. Insan-insan yang berperasaan halus dan rendah hati sekaligus tahu diri untuk mengambil peran penting di masanya.

Nilai-nilai luhur bangsa kita, warisan nenek moyang, jadi modal kita untuk secara bijaksana menempatkan diri di posisi-posisi strategis. Melalui fotografi kita menempatkan martabat bangsa pada tempat yang selayaknya. Melalui fotografi pula kita menjalin persahabatan antarnegara.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, 17 November 2010 23:30 WIB

Posted with WordPress for BlackBerry.


Mengenang Gempa Sumbar Setahun Lalu Rabu, 30 September 2009

Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih
Rabu, 30 September 2009
Sebagian peserta rombongan fotografer 5 negara di photo hunting trip Crossing Bridges VI 2009 West Sumatra (CB 6) masih berada di arena balap sapi “pacu jawi” di Kabupaten Tanah Datar. Saya dan Daniel, seorang peserta kontingen Singapura, berada di RS Umum Daerah (RSUD) MA Hanafiah di Batusangkar membawa Liao Mao Lin, peserta kontingen Vietnam. Liao Mao Lin, yang akrab dipanggil Quanman, mengalami musibah tertabrak sapi pacu jawi ketika ia sedang memotret di tepi arena. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama
Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tak ada yang menyangka hari itu adalah hari yang luar biasa, Rabu, 30 September 2009. Saya bersama rombongan 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi Crossing Bridges diterima ramah oleh Muspida Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Pak Bupati dan Ketua DPRD bertopi ala koboi menyambut ramah bersama Komandan Korem dan Kepala Polisi Resort Tanah Datar bersama ninik mamak nagari-nagari setempat.

Acara hunting foto dan pacu jawi berlangsung seru sampai Quanman, seorang peserta kontingen Vietnam terluka karena tertabrak sapi yang sedang berlaga. Seluruh rombongan surut kembali ke bis dan membawa rekan yang terluka ke rumah sakit terdekat. Karena perlengkapan tak memadai, lantas rekan tersebut dirujuk ke rumah sakit di Padang.

Saya bersama Madoca, rekan kontingen Vietnam menemani Quanman di dalam ambulans. Peserta-peserta lain berada di bis rombongan di belakang kami. Dari Batusangkar menuju Padang, selepas Padang Panjang jalan berkelok-kelok. Sejurus kemudian keempat ban mobil ambulans terasa seolah kempes bersamaan. Orang-orang berhamburan ke luar rumah hingga terjatuh. Pengendara-pengendara sepeda motor bertumbangan, pohon-pohon kelapa dan tiang-tiang listrik berayun-ayun seperti metronom.

17:18 WIB: Gempa Terjadi di Sumatra Barat!
Ambulans sedang meluncur, menyusuri jalan menuju Padang. Berkelok-kelok di lalu lintas yang rada padat. Lampu sirine dinyalakan agar memperoleh prioritas jalan, dan alarm dibunyikan sesekali. Kota Padang Panjang baru saja dilewati. Tiba-tiba saya merasa seolah-olah ban mobil kempes. Pikir saya, “Kenapa bisa keempat-empat ban kempes dalam waktu bersamaan?” – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama

Few seconds after earthquake happenned, I updated my Facebook status. I thought I must do that before cellular networks down due to heavy traffic or damaged.

Few seconds after earthquake happenned, I updated my Facebook status. I thought I must do that before cellular networks down due to heavy traffic or damaged.

Gempa terjadi di Sumatra Barat, pada hari Rabu, 30 September 2009 jam 17:18 WIB.

Dan semuanya berubah. Orang-orang panik. Jalan tertimbun tanah longsor. Ambulans ambil jalan memutar  untuk menuju Padang. Pemandangan di pinggir jalan sungguh memiriskan hati. Paramedis di ambulans menyuntikkan pain-killer secara teratur ke Quanman.

Masuk Padang, lalu lintas macet. Sirene ambulans tak berarti. Semua memang dalam situasi darurat, dan semua merasa harus didahulukan. Hujan turun menyiram reruntuhan Ranah Minang malam itu.

Hotel Best Western Premier Basko tempat kami menginap masih berdiri utuh, tapi tak bisa dimasuki. Tak aman. Interior ruangan rusak. Listrik padam, gelap gulita dan air menggenang karena hujan deras masuk melalui kaca-kaca yang pecah.

Jaringan komunikasi putus. Telepon seluler tak berfungsi. Kami putus kontak dengan rombongan besar. Malam itu kami mengungsi di rumah milik karyawan hotel. Baju basah karena hujan bercampur keringat.

Roadblock in a junction near Indarung blocked the ambulance from getting a priority to pass through. Photo by: Kristupa Saragih

Roadblock in a junction near Indarung blocked the ambulance from getting a priority to pass through. Photo by: Kristupa Saragih

Tidur di lantai, di kegelapan dan kedinginan, memang tak nyenyak. Bangun subuh keesokan harinya, hanya ada satu hal dalam kepala, mengumpulkan seluruh anggota rombongan dan siapkan evakuasi.

06:18 WIB: Sarapan di Dapur Darurat Basko Hotel
Haus mendera, karena sejak semalam tidak minum. Saya pun minta air mineral ke karyawan hotel. Oleh para karyawan yang baik itu, saya dan Madoca malah diarahkan ke dapur darurat di bagian belakang hotel. Ada beberapa botol kecil air mineral dan dua kerat roti dan kue. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Pagi Hari Kedua

Waiting to be called to evacuate personal belongings inside hotel rooms. Photo by: Kristupa Saragih

Waiting to be called to evacuate personal belongings inside hotel rooms. Photo by: Kristupa Saragih

Kembali ke hotel, berkoordinasi dengan petugas, akhirnya evakuasi barang-barang peserta bisa dilakukan. Rombongan besar merapat tak lama kemudian. Rekan-rekan sesama kontingen Indonesia saja sebagian besar belum pernah mengalami gempa. Kawan-kawan dari negara-negara tetangga belum pernah satu kalipun merasakannya.

Air bersih sulit diperoleh. Makanan langka. Uang tak berarti.

Sepanjang siang kami hanya menyiapkan diri untuk segera pulang, meninggalkan Padang. Begitu barang-barang tersisa bisa diselamatkan, seluruh rombongan masuk bis. Para kru bis untuk bisa mengerti dan masih bersedia mengantar, meski mereka pun adalah para korban gempa bumi.

At 12:23 PM local time. Our CB6 buses passed through a road side cemetery. We witnessed a funeral of earthquake victim. Photo by: Kristupa Saragih

At 12:23 PM local time. Our CB6 buses passed through a road side cemetery. We witnessed a funeral of earthquake victim. Photo by: Kristupa Saragih

Pemandangan sepanjang jalan penuh kepiluan. Rumah-rumah runtuh. Kendaraan bermotor saling berebut jalan. Dalam perjalanan menuju SPBU yang masih beroperasi terlihat keranda-keranda diusung di antara nisan-nisan tempat pemakaman umum.

Jalanan macet. Simpul-simpul anyaman kendaraan terjadi di setiap persimpangan jalan. Semua orang ingin didahulukan dan tak peduli. Semua orang ingin mencari selamat.- Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Siang Hari Kedua

At 01:53 PM local time. People in their anger on queueing their turn in a petrol station in Padang ring-road bypass. Data says it should be more than 30 petrol stations in Padang and nearby surroundings. But we saw only 2 of them in operation, on our way from hotel to airport. We saw couples of petrol stations hit by earthquake. The rest of them was not in operation due to many reasons. This operating petrol station had a long queue, about 1 km in both directions. There were some armed-police guard to make sure the people's anger did not turn into riot. Everyone wanted to be a priority. Photo by: Kristupa Saragih

At 01:53 PM local time. People in their anger on queueing their turn in a petrol station in Padang ring-road bypass. Data says it should be more than 30 petrol stations in Padang and nearby surroundings. But we saw only 2 of them in operation, on our way from hotel to airport. We saw couples of petrol stations hit by earthquake. The rest of them was not in operation due to many reasons. This operating petrol station had a long queue, about 1 km in both directions. There were some armed-police guard to make sure the people's anger did not turn into riot. Everyone wanted to be a priority. Photo by: Kristupa Saragih

Tiba di SPBU antrian menyemut. Semua ingin didahulukan. Klakson-klakson menjerit-jerit memekakkan telinga. Perjalanan dilanjutkan ke Bandara Internasional Minangkabau, tempat tujuan akhir dalam rencana evakuasi rombongan. Perjalanan, yang dalam keadaan normal bisa ditempuh 30 menit, musti memakan waktu 5 jam. Lima jam yang penuh kepiluan, memandang keadaan sepanjang jalan.

Messages from Singapore Embassy in Jakarta to Chan Bin Kan. Singapore government takes care of their citizens, especially in emergency situation such as disaster in Padang and West Sumatra.

Messages from Singapore Embassy in Jakarta to Chan Bin Kan. Singapore government takes care of their citizens, especially in emergency situation such as disaster in Padang and West Sumatra.

Masing-masing pimpinan kontingen negara mengatur anggotanya masing-masing. Sungguh miris melihat tamu-tamu sejawat dari Singapura, Malaysia, Vietnam dan Filipina berada dalam situasi darurat, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Kondisi di bandara pun memprihatinkan, tidur seadanya di lantai dan fasilitas peturasan tak berfungsi.

Sebagai pimpinan seluruh acara saat itu rencana yang ada dalam benak saya adalah mengirim semua orang kembali ke rumah. Pimpinan kontingen Vietnam, Malaysia dan Filipina bergegas mengurus tiket ke kantor Air Asia.

Kontingen Singapura yang terbang dengan Tiger Airways mendapati kenyataan bahwa maskapai tersebut menghentikan operasi karena gempa. Mereka pun bergegas membeli tiket Air Asia tujuan Kuala Lumpur, bersambung dengan penerbangan ke Singapura.

Sebagian anggota rombongan yang enggan menginap di lantai bandara memilih mengungsi ke Bukittinggi dan tinggal di hotel berbintang di sana. Sementara saya dengan sisa anggota rombongan mengatur jadwal piket jaga koper dan tas kamera. Sejumlah rekan lain berburu air minum, di antara orang-orang yang berserak melepas lelah di lantai bandara.

Sekitar pukul 22 WIB, seluruh penumpang GA 165 dipanggil untuk masuk pesawat. Kabin penuh, tak ada kursi kosong. Sebagian besar penumpang adalah anak-anak dan orang tua. Beberapa penumpang adalah pasien, yang diantar dengan kursi roda. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Petang Hingga Malam Hari Kedua

Saya beruntung bisa menumpang pesawat Garuda penerbangan terakhir malam itu tujuan Jakarta. Sembari masih merasa was-was jika memang harus memberikan kursi untuk mendahulukan orang sakit, orang tua dan anak-anak untuk mengungsi. Tak percaya rasanya ketika bisa duduk di kursi belakang GA 165 Padang-Jakarta. Dan ketika kaki-kaki burung besi menjejak di Bandara Soekarno-Hatta, hanya ungkapan syukur yang bisa terucap.

At 12:54 PM local time. A lady and her kid, in front of ruins of their home. Looks like their car survived. Not sure what happen with her husband. Photo by: Kristupa Saragih

At 12:54 PM local time. A lady and her kid, in front of ruins of their home. Looks like their car survived. Not sure what happen with her husband. Photo by: Kristupa Saragih


Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Pagi Hari Kedua

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Siang Hari Kedua

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Petang Hingga Malam Hari Kedua