Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “#FN11

Prediksi Tren Fotografi 2014 @FotograferNet #FNprediksi #FN11

Fotografer.net 11th Anniversary logoAda banyak hal yang bakal mewarnai fotografi di tahun 2014. Berikut adalah prediksi pribadi saya berdasarkan pengamatan fotografi selama 2013, berjumpa dengan banyak fotografer berbagai latar belakang dan perbincangan pribadi dengan berbagai pihak di akhir tahun 2013.

Karya

Selama 2013 foto-foto berona retro tone. Sekitar 1-2 tahun lalu, tren retro tone ini lahir dari olah digital (oldig) piranti lunak di komputer. Namun gelora mobile app di smartphone dan tablet menawarkan banyak aplikasi oldig.

Retro tone diperkirakan masih mewarnai banyak foto yang dibuat selama 2014.

Tahun 2014 diperkirakan menjadi tren single light. Aksesoris bisa macam-macam, baik untuk monoblock, strobist, maupun foto dengan available light. Foto-foto tahun ini terkutub jadi 2: low key dan terang normal contrast.

Makin banyak orang suka flare. Di 2014 flare tampil asli ketika pemotretan maupun hasil oldig di mobile application. Jenis cahaya backlight ini diperkirakan bakal salah kaprah diterapkan di 2014, karena banyak yang mengabaikan logika pencahayaan dan fisika optika.

Genre

Genre street photography makin popular di 2014 karena fotografi jadi gaya hidup masyarakat kota & banyak traveler yang serius memotret. Seiring dengan mencorongnya street photography, pemotret human interest (HI) dan portrait juga makin banyak. Sementara pertumbuhan pemotret landscape tak terlalu signifikan namun komunitasnya fanatik.

Tahun 2014 banyak citizen photojournalist. Fenomena ini membuat pewarta foto instrospeksi, baik pada kualitas karya maupun tanggung jawabnya. Fotografer freelance menjamur dengan mengandalkan kebutuhan foto-foto editorital yang semakin beragam dengan honor yang kompetitif.

Pemotret amatir berusia lebih muda di tahun 2014 karena kualitas pendidikan & taraf hidup lebih baik. Pelajar berusia SMP sudah banyak serius motret, didukung kemampuan ekonomi orang tua mereka. Remaja terpapar pada kebebasan berkarya yang ditawarkan fotografi, dan kalangan sekolah serta orang tua bersentimen positif pada kegiatan ekstrakurikuler fotografi.

Teknologi

Pada tahun 2014 pengguna software oldig menjadi lebih terbatas di profesional. Fotografer amatir dan orang awam enjoy memakai mobile application di tablet dan smartphone. Social media dan web fotografi diperkirakan di 2014 mulai memunculkan fitur filter, sebagai bentuk oldig sederhana, yang tersedia untuk dipakai di browser.

Di tahun 2014, harapan menanam OS Android di kamera tetap tak lebih mudah dari memasang SIM card seluler di kamera juga. Coba juga hitung berapa kamera DSLR dan mirrorless yang dilengkapi bluetooth. Fitur wifi terbatas hanya untuk komunikasi antargadget, bukan untuk terhubung ke web. Namun tetap ada kemungkinan, produsen kamera dengan fungsi remote control di mobile application akan meluncurkan jasa cloud, seperti iCloud-nya Apple dan Google Drive.

Kamera

Di tahun 2014 kamera mirrorless semakin merajalela. Data penjualan dunia menunjukkan hal tersebut, demikian pula Indonesia. Pendekar ber-DSLR mengeluhkan berat, terutama berat lensa, dan ukuran. Sementara pemotret pemula enggan dengan kesan rumit DSLR dan perempuan yang hobi motret suka dengan keringkasan mirrorless yang mudah dibenamkan di tas mereka sehari-hari.

Di tahun 2014 jika tak ada inovasi teknologi dari marketleader dunia Canon, agresivitas Sony mengancam. Hal yang sama berlaku untuk Nikon, karena penggemar fanatiknya mulai kritis. Di lapis kedua, ada ancaman daripara jawara mirrorless Olympus, FujiFilm dan Panasonic.

Dominasi kamera Negeri Matahari Terbit diperkirakan lebih dari 90 persen, sementara sisanya diperebutkan Negeri Ginseng dan kamera-kamera buatan Eropa. Produsen kamera Negeri Tirai Bambu diperkirakan mulai coba-coba bikin mirrorless. Namun pabrikan rumah tangga di negeri itu belum terlalu punya nyali terjun ke DSLR, karena menganggap resiko merakit smartphone lebih kecil.

Pada tahun 2014 semakin banyak kamera ber-layar sentuh alias touch screen. Konsumen menyukai karena tersihir kebiasaan memakai layar smartphone. Kamera DSLR pertama di dunia berlayar sentuh sudah dirilis Canon tahun 2013.

Di tahun 2014 wifi connectivity di DSLR & mirrorless jadi pengimbang kamera smartphone yang mobile & ringkas. Kamera smartphone tak bisa menyamai DSLR, sementara pasar kamera semakin digerus smartphone berkamera. Pertambahan tingkat internet literacy dan pertumbuhan media sosial menuntut kemudahan berbagi foto. Selain itu, mobile application untuk remote control di kamera menjadi fitur andalan para pemasar kamera di 2014.

Fitur video di kamera mirrorless menjadi salah satu bahan kompetisi di 2014. Konsumen bakal mengkritisi sistem AF di fitur video kamera mirrorless. Hal yang dikritisi meliputi akurasi sistem AF dan kesenyapan motor AF.

Jumlah pemotret berkamera film di 2014 terancam kelangkaan film, chemical & kertas. Harga melambung dan semakin sedikit pelaku kamar gelap konvensional. Fans kamera lomo dan holga hanyut dalam gelora mobile application berefek retro, terutama lantaran bisa seketika di-share ketimbang film konvensional yang butuh waktu.

Sesuai tulisan saya di Kompas, tahun 2014 era kamera saku berakhir. Tergencet entry-level DSLR, mirrorless, smartphone berkamera. Namun smartphone berkamera dapat saingan kamera mirrorless & DSLR dengan fitur wifi transfer. Di akhir 2014 kekuatan kedua blok ini bakal berakhir sama kuat.

Lensa

Di tahun 2014 demand terhadap kualitas lensa dikritisi kesukaan pemotret awam memakai efek retro di mobile application. Ada lensa-lensa yang berkualitas prima, namun sirna khasiatnya jika ketajaman dan warna “dihancurkan” dengan olah digital. Apalagi jika berhadapan dengan efek retro di mobile application, yang mengadaptasi kerendahan teknologi di jaman baheula.

Sementara itu, tahun 2014 semakin banyak bertabur lensa untuk mirrorless. Produsen 3rd party pun diperkirakan bakal memberi banyak opsi lensa. Namun, kualitas optik sedemikian banyak lensa untuk kamera mirrorless akan dikritisi, baik di kualitas optika maupun harga.

Asesoris

Asesoris fotografi akan berevolusi seiring dinamika pemilihan kamera dan subyek foto di 2014. Akan banyak asesoris yang mendukung kamera mirrorless, dengan harga kompetitif, seperti tripod ringkas, filter kreatif, cover kamera yang bisa digonta-ganti, camera body strap dan tas kamera yang modis.

Bisnis

Bisnis traveling photography bagus di 2014. Banyak orang yang suka jalan2 dan belajar motret. Banyak pula traveler berkamera, karena harga terjangkau dan model semakin ringkas. Namun bisnis Indonesia di 2014 terpengaruh pemilu dan pilpres.

Bisnis foto wedding 2014 diperkirakan lebih mobile dan portable mengadapi smartphone dan mirrorless yang mudah dioperasikan. Fenomena ini membuat fotografer wedding lebih kreatif menyediakan jasanya. Tapi evolusi foto wedding semacam ini baru canggih di 2015 ketika semakin banyak konsumen yang memperoleh album foto wedding dalam bentuk digital.

Album digital wedding bakal berisi multimedia foto dan video berbungkus animasi. Selain itu, fitur instant sharing akan dimanfaatkan fotografer wedding di venue saat acara berlangsung. Tamu-tamu bisa membawa pulang cinderamata, berupa foto mempelai dan foto bersama mempelai serta peristiwa-peristiwa dramatis, di smartphone mereka.

Secara nasional, bisnis stock photo terpengaruh pemilu dan pilpres di tahun 2014, sebagai dampak dinamika perekonomian Indonesia. Sementara secara global, bisnis stock photo semakin kompetitif karena semakin banyak populasi kamera dan semakin banyak media yang membutuhkan foto.

Di tahun 2014 toko kamera bertambah, terutama toko untuk pasar kelas menengah-atas. Konsumen terkutub menjadi 2: price-sensitive dan service-sensitif. Toko-toko kamera tradisional dan konvensional bakal perlahan berevolusi menjadi tempat yang nyaman untuk komunitas yang suka belanja berkelompok, atau sekedar bertemu dan mengobrol. Namuan ada pula fenomena yang mungkin terlihat di 2014 yakni perkembangan 2nd hand market yang semakin gurih.

Komunitas

Fotografi semakin populer di tahun 2014. Semakin banyak orang paham fotografi. Komunitas fotografi bertumbuh, kegiatan fotografi menjamur. Penyuka fotografi butuh wahana aktualisasi diri.

Sementara itu, pemotret amatir butuh eksistensi. Artinya, media sharing dan pamer fotografi semakin dibutuhkan. Di sisi lain, fenomena ini jadi potensi pelanggaran hak cipta. Banyak maling foto beraksi di media berbagi dan pamer foto yang tak bonafide dan tak bisa menegakkan wibawa hak cipta dan hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Arus deras informasi membawaketerbukaan di fotografi. Fotografer jadi kritis dan membuat internet jadi referensi di 2014. Seperti suatu kewarganegaraan digital, demikian para fotografer fanatik pada forum fotografi yang menjadi tempat mereka mengacu dan berlindung.


11 Tahun Fotografer.net #FN11

Sebelas tahun keberadaan Fotografer.net (FN) di khalayak fotografi dunia membuktikan banyak hal. Sebagai forum digital, FN menjadi komunitas terbesar se-Asia Tenggara dengan 483.000 anggota dan 1,9 juta foto. Sebagai forum di dunia nyata, sepanjang 2013 saja FN sukses menggelar 24 kegiatan di 17 kota. Para anggota FN pun membuktikan kesatuan hati untuk Persatuan Indonesia dengan turun ke jalan serentak di 20 Oktober 2013 untuk #FNstreethunting di 55 kota dan dihadiri 3.880 fotografer, yang mengisi daftar hadir.

Dengan banyak suara merdu dan sumbang seputar keberadaan FN, kita tahu ikan lele hidup di air keruh dan suara negatif terdengar lebih lantang. Namun fakta, baik secara online maupun offline, membuktikan bahwa berkarya dalam sepi menguji kesungguhan hati kita untuk berkiprah tanpa pamrih. Tanpa banyak omong basa basi dan jauh dari niat cari-muka, anggota FN membuktikan pepatah “tong kosong berbunyi nyaring” benar adanya.

ImageAngka statistik FN mustahil terabaikan dan tak terbandingkan dengan forum-forum serupa di Tanah Air, di regional Asia Tenggara saja FN teratas. Para anggota FN di berbagai tempat giat menyebar semangat kreativitas dan kesetiakawanan. Kita paham bahwa nilai 3 jempol ke atas dan ke bawah lebih bertanggung jawab dari sekedar tombol suka dan abstain. Kita bersikap, maka kita dihargai sebagai insan dewasa. Anak kecil haus perhatian, remaja haus sanjungan, sementara manusia dewasa memahami dan menerima kenyataan.

Kita sikapi tahun kesebelas komunitas fotografi terbesar se-Asia Tenggara ini dengan filosofi air, yang jadi wahana refleksi. Seringkali interaksi muncul ketika satu individu butuh sesuatu, dan tak acuh ketika individu lain di komunitas kita membutuhkan uluran tangan. Namun secara sosial, komunitas FN berhasil membangun nilai dan etika, bahwa persahabatan lahir dari peristiwa sehari-hari yang sederhana. Banyak sosok terkemuka yang lahir dari FN dan masih ingat tanggung jawab sosialnya untuk membina persahabatan sejati yang pernah dikecap.

Kita belajar pada air yang selalu mencari tempat yang rendah. Mengaku sebagai pemula itu baik, namun kalau terus menerus mengaku pemula maka usia persahabatan tak lama lantaran terbelenggu kerendahdirian dan sikap ogah bertanggung jawab. Rendah diri dan rendah hati berbeda tipis. Anggota FN tahu diri dan paham bahwa kearifan lahir dari hubungan antar-individu yang jujur dan kritis. 

Filosofi air mengajak kita untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Permukaan air yang selalu datar mendasari semangat egaliter di FN. Banyak individu yang tak nyaman, bahkan bersikap berseberangan dengan FN, lantaran ingin dianggap lebih daripada yang lain dengan mengandalkan paham materialistis dan status sosial. Banyak pula individu yang memaksakan kehendak di FN, namun jiwa yang bersih dan itikad baik mengatasi banyak hal. FN berpihak kepada para anggota yang menghormati kerja cerdas dan proses melahirkan ide cemerlang serta semangat pantang menyerah.

Ucapan terimakasih ditujukan kepada seluruh pihak yang sudah membantu kegiatan FN dalam berbagai bentuk dan di berbagai tempat. Para moderator yang sukarela menghangatkan Forum dan menegakkan Aturan FN, termasuk Aturan Kategori Terbatas, layak mendapat tempat terhormat. Para anggota yang menjadi relawan pandega berbagai kegiatan FN patut mendapat penghargaan. 

Filosofi air yang selalu mengikuti bentuk wadahnya membuat kita belajar untuk senantiasa beradaptasi dan menanggapi dinamika secara bijak. FN sadar bahwa keberadaan aplikasi mobile sudah mendesak, namun keterbatasan SDM dan finansial jualah yang membuat kita belajar arif. Pengelola FN juga paham, bahwa sudah waktunya komunitas raksasa ini tinggal landas dan mengepakkan sayap ke tingkat yang lebih penting dan luas lagi.

Tahun kesebelas tak akan sama dengan 10 tahun pertama. Mulai tahun ini membuka diri bagi dukungan yang memungkinkan FN dikelola dengan SDM yang berkualitas lebih tinggi dengan infrastuktur lebih baik. FN juga terbuka bagi dukungan untuk pengembangan komunitas ini sehingga memiliki sarana berinteraksi, berdagang dan berpromosi yang lebih efektif. FN juga terbuka bagi pihak-pihak yang membawa komunitas ini mewujudkan mimpi memiki sarana penyiaran global dan modern.

Dengan tekad FN untuk tetap berpihak kepada jiwa-jiwa muda yang kreatif dan bersemangat menyala-nyala, semoga mimpi kita terwujud. Dari Indonesia kita sebar luaskan keluhuran budaya dan keindahan Tanah Air ke seluruh dunia. Kelak, negara kita dihormati karena prestasi fotografi yang berlandaskan Persatuan Indonesia.

Ketika fotografi semakin instan, kita percaya ide lah yang mendasari karya fotografi kreatif. Ketika publikasi foto semakin gampang, kita percaya hanya karya asli lah inspiratif dan anti-fotokopi. Ketika piranti fotografi semakin mudah dimiliki, kita percaya bahwa dalam sebingkai foto termuat jiwa dan semangat yang tak tergantikan oleh uang. 

Satu musuh terlalu banyak, namun seribu teman terlalu sedikit. Dengan penuh kerendahhatian kita songsong tahun kesebelas FN dengan optimisme yang konkret. Kita cetak para problem-solver, dan kita libas para trouble-maker. Keberadaan para anggota FN di berbagai tempat sejatinya menjadi manfaat dan meningkatkan harkat hidup orang-orang sekitarnya. 

Fotografer bisa berakhir hidup, namun karya foto niscaya abadi.

Selamat berhari jadi kesebelas bagi para anggota FN. Kesuksesan ini milik kita bersama. Berkarya tak gentar.

Biar foto yang bicara.