Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “foto jurnalistik

Biar Foto yang Bicara #FN9: Mahasiswa dan Polisi Salat Berjamaah di Tengah Jalan

Mahasiswa dan polisi salat dzuhur bersama di sela-sela demo kenaikan BBM di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (27/03). Foto oleh Muhammad Abdiwan/Tribun Timur

Mahasiswa dan polisi salat dzuhur bersama di sela-sela demo kenaikan BBM di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (27/03). Foto oleh Muhammad Abdiwan/Tribun Timur

Foto ini dimuat pertama kali di Harian Tribun Timur Makassar online pada Selasa, 27 Maret 2012 jam 20:58 WITA. Lantas, foto tersebut beredar luas di media sosial. Tak mengemuka, foto tersebut tenggelam oleh foto-foto seru bakar-membakar ban, bentrok fisik massa dan aparat keamanaan, dan adegan-adegan agitatif lainnya.

Setelah menelusuri belantara media sosial, baru ketemu nama Muhammad Abdiwan, fotografer pembuat foto itu. Sejauh ini media yang memuat foto lengkap dengan kredit foto barulah Tribun Timur. Sementara foto-foto yang beredar di media sosial maupun berbagai messenger tak mencantumkan kredit foto.

Pewarta foto bertanggung jawab sama dengan wartawan tulis, melaksanakan tugas jurnalistik dan berpegang teguh pada etika dan kode etik jurnalistik. Demikian pula media-media tempat mereka bekerja, sudah sepatutnya berpijak pada kode etik, yang netral alias tak berpihak serta cover both sides of the story.

Salut kepada Muhammad Abdiwan atas pengabdian pada tugas sebagai pewarta foto. Hormat kepada Harian Tribun Timur yang menghormati hak cipta foto dengan mencantumkan kredit foto secara benar dan lengkap.

Advertisements

Publikasikan Foto-Foto Bentrok di PN Jaksel Secara Bijaksana

Satu foto bicara seribu kata. Seribu kata berarti berjuta interpretasi. Demikian besar potensi sebuah foto kepada mata yang memirsanya.

Ketika bentrok terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan hari ini, Rabu (29/9) ada banyak kamera yang merekam. Saat itu sedang terjadi sidang kasus perkelahian berdarah tempat hiburan malam Blowfish. Ada banyak wartawan yang meliput, berarti ada banyak pula kamera yang berada di sana.

Tak perlu menghitung kamera wartawan, saat ini hampir semua ponsel sudah dilengkapi kamera. Banyak pula ponsel pintar yang bisa memudahkan foto-foto langsung diunggah seketika ke jagat maya. Semua kemudahan dan fasilitas ini menuntut kita semakin arif menyikapinya.

Dalam kerja jurnalistik, pewarta foto memang bertugas merekam gambar dalam bentuk foto. Tentu, tak semua orang bisa menjadi pewarta foto yang bekerja resmi untuk media. Pewarta foto sudah dibekali kaidah-kaidah baku pemberitaan. Publikasi di media mereka pun musti melalui saringan para redaktur.

Kemudahan masa kini pulalah yang membuat siapapun yang memegang kamera bisa mempublikasikan foto ke jagat maya. Keadaan ini perlu disikapi secara bijaksana dan digunakan untuk tujuan-tujuan kebaikan. Dalam konteks kerja jurnalistik, paham-pahamnya jelas.

Tapi dalam konteks foto dibuat oleh khayalak awam, tentu perlu sikap bijaksana sebelum mempublikasikan. Ada jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook yang bisa dimanfaatkan dengan mudah. Ada pula fasilitas chat seperti berbagai jenis messenger, seperti Yahoo Messenger dan BlackBerry Messenger yang populer itu.

Korban bentrok di PN Jaksel yang berdarah-darah tentu adalah sebuah fakta. Tapi visualisasi dalam pemberitaan di media massa pasti dilakukan sesuai kaidah-kaidah baku pemberitaan. Demikian pula hendaknya kebijaksanaan senantiasa mengayomi siapapun juga yang memiliki foto tersebut tatkala hendak menyebarluaskan.

Kata kuncinya adalah publikasi alias sebar luas. Jika foto tersebut hanya berada di komputer atau ponsel untuk dilihat sendiri, tak masalah. Tapi, tentu berbeda hal manakala kita berniat hendak menyebarluaskannya.

Hendaknya kita selalu arif untuk menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Pewarta foto bekerja sesuai dengan tugasnya. Demikian pula kita, sesuai dengan tugas masing-masing. Ada kalanya seorang awam menempatkan dirinya sebagai citizen journalist, tentu dengan mengemban tanggung jawab dan pemahaman kaidah-kaidah jurnalistik.

Tanpa pemahaman kaidah yang benar, foto bisa menjadi senjata mematikan. Mematikan rasa, mematikan suasana, dan mungkin mematikan kesadaran. Seseorang berprofesi dokter bisa jadi tahan melihat darah, tapi bisa jadi seseorang kehilangan nafsu makan, bahkan muntah-muntah, melihat tetesan darah yang belum tentu juga darah manusia.

Kita tempatkan foto sebagai wahana untuk membuat kehidupan manusia lebih baik. Sebagai wahana pemberitaan, fotografi memberikan sejuta makna melalui sebuah foto. Agar kita, manusia, bisa melihat tanpa harus hadir secara fisik di tempat kejadian. Muaranya, agar kita bisa memetik pelajaran dan menyikapinya sesuai tugas kita masing-masing.


76 Foto Perampokan Bank di Medan

Foto 1. Terlihat 12 foto pertama peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Sebanyak 10 foto pertama dibuat dengan format horisontal, baru setelah itu berturut-turut 2 foto format vertikal. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 1. Terlihat 12 foto pertama peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Sebanyak 10 foto pertama dibuat dengan format horisontal, baru setelah itu berturut-turut 2 foto format vertikal. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Atas dorongan niat baik dan demi kebenaran, maka sudilah kita sama-sama menyimak foto-foto lengkap perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Rabu (18/8). Ada banyak interpretasi yang muncul atas foto-foto tersebut dan fotografer pembuatnya. Maka atas bantuan Taufan Wijaya, pewarta foto Harian Tribun Medan berhasil diperoleh foto-foto lengkap peristiwa tersebut.

Demi menjaga keselamatan jiwa fotografer, maka kita sebut saja inisial X sebagai pengganti nama fotografernya. Selepas kejadian X berinisiatif memberikan foto-foto yang dibuatnya tersebut kepada media.

Foto 2. Terlihat fotografer sudah mencoba alternatif sudut tembak, ke kiri dan kanan bank. Ada 3 foto yang over-exposed. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 2. Terlihat fotografer sudah mencoba alternatif sudut tembak, ke kiri dan kanan bank. Ada 3 foto yang over-exposed. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Hal tersebut ditunjukkan X dengan menghampiri tempat kumpul wartawan Medan di sebuah warung kopi di tengah kota, tak lama setelah kejadian usai. Siang itu kebetulan hanya ada 1 wartawan sebuah media cetak yang ada di sana. Konon, foto-foto tersebut diserahkan dalam bentuk cakram padat. X berpesan agar foto tersebut disebarluaskan demi kepentingan kebaikan, dan ia tak minta imbalan.

“Sayangnya kawan kami itu hanya memakai foto tersebut untuk medianya. Kami, wartawan media-media lain harus mencari dan mengontak fotografernya sendiri untuk mendapatkan foto-foto itu,” papar Taufan, yang dihubungi via telepon, Senin (23/8). Jadi, pada hari kejadian, hanya media tersebutlah yang mempublikasikan foto-foto perampokan.

Foto 3. Semua foto dibuat dalam format horisontal. Terlihat kawanan perampok berangsur-angsur keluar dari bank. Di beberapa foto terakhir terlihat fotografer mengalihkan sudut tembak ke kawanan perampok yang bersiap-siap melarikan diri dengan sepeda motor. Dimensi motor terlihat lebih besar, diperkirakan fotografer menggunakan lensa zoom. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 3. Semua foto dibuat dalam format horisontal. Terlihat kawanan perampok berangsur-angsur keluar dari bank. Di beberapa foto terakhir terlihat fotografer mengalihkan sudut tembak ke kawanan perampok yang bersiap-siap melarikan diri dengan sepeda motor. Dimensi motor terlihat lebih besar, diperkirakan fotografer menggunakan lensa zoom. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Fotografer itu berhasil dikontak, dan wartawan mendapatkan foto-foto lengkap. Barulah pada Kamis (19/9) malam media-media lain mempublikasikan foto-foto perampokan. Terhitung ada 76 foto yang diperoleh. Sebanyak 5 file foto sudah dinamai ulang, sementara sisanya masih bernama file asli.

Dari 76 foto, mayoritas dibuat dengan format horisontal dan hanya 3 yang dibuat dalam format vertikal. Diperkirakan, dalam posisi bersembunyi, akan menarik perhatian jika fotografer menggerakkan kameranya. Selain itu, alih-alih memikirkan format foto, perhatian fotografer tentu dipusatkan pada momen-momen yang sedang berlangsung dan merekamnya secara correct exposure dan fokus akurat.

Foto 4. Masih memperlihatkan kawanan perampok yang berangsur-angsur keluar dari bank dan melarikan diri. Semua foto dalam format horisontal. Terlihat 2 sudut yang konsisten, sisi kanan tempat kawanan perampok bersiap-siap melarikan diri dan sisi muka bank. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 4. Masih memperlihatkan kawanan perampok yang berangsur-angsur keluar dari bank dan melarikan diri. Semua foto dalam format horisontal. Terlihat 2 sudut yang konsisten, sisi kanan tempat kawanan perampok bersiap-siap melarikan diri dan sisi muka bank. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Sayang fotografer tersebut belum bisa saya kontak langsung untuk mengkonfirmasi banyak hal. Apalagi file-file foto yang diserahkan ternyata sudah di-resize. Lebih parah lagi, EXIF data lenyap dalam proses resize. Alhasil, tanggal dan jam foto sudah tak ada. Mustahil pula mengetahui tipe kamera secara akurat dan lensa yang dipakai. Meski sebenarnya dari nama file sudah bisa diketahui merk kameranya.

Dalam situasi darurat dan keselamatan dipertaruhkan, perlu konfirmasi fotografer perihal motivasi me-resize foto dan waktu yang dihabiskan untuk itu. Data-data EXIF lain, seperti focal length, ISO, kecepatan rana dan diafragma, juga bisa berbicara banyak. Masih banyak hal yang perlu konfirmasi dari sumber pertama, fotografer yang membuat foto-foto tersebut.

Foto 5. Akhir dari rangkaian 76 foto peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, Rabu (18/8). Semua foto dalam format horisontal. Sisa-sisa kawanan perampok melarikan diri hingga tuntas. Terlihat pula pada saat melarikan diri dengan sepeda motor beberapa perampok masih memegang senjata. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Foto 5. Akhir dari rangkaian 76 foto peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, Rabu (18/8). Semua foto dalam format horisontal. Sisa-sisa kawanan perampok melarikan diri hingga tuntas. Terlihat pula pada saat melarikan diri dengan sepeda motor beberapa perampok masih memegang senjata. Nama fotografer dirahasiakan demi keamanan.

Meski demikian, foto-foto tersebut sudah berhasil menyampaikan pesan kepada publik perihal ketegangan yang terjadi. Meski tak bisa bersuara, foto-foto itu sudah berbicara banyak. Bahwa 16 perampok tersebut semua memakai helm berkaca gelap, informasi jenis kendaraan para perampok mencakup warna, tipe dan nomor polisinya berhasil terekam baik oleh foto-foto itu. Dalam foto terlihat jelas pula jenis dan tipe senjata para perampok.

Tanpa kehadiran foto-foto ini, publik tentu hanya memirsa foto gedung bank yang ramai kerumunan orang dan dibatasi garis kuning polisi. Polisi juga terbantu dalam proses identifikasi dengan kehadiran foto-foto ini. Kita pun belajar, bahwa kamera adalah alat ampuh untuk berbagai keperluan. Kita tak pernah tahu peristiwa yang akan terjadi, apalagi tempat dan waktu kejadian. Siapapun yang sedang membawa kamera, jika berada di tempat dan saat yang tepat, bisa menjadi mata dunia dan memberitakan peristiwa.

Saya tetap bersikukuh untuk bisa mengkonfirmasi banyak hal langsung kepada X, fotografer yang membuat semua foto peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga di Jl Aksara, Medan. Demi kebenaran.


Diskusi di Fotografer.net: Foto-foto Perampokan di Medan: LUAR BIASA