Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “Fotografer.net

Fotografi untuk Keutuhan NKRI

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Alam permai Indonesia membelai wajah bak sapuan ombak di pantai-pantai Natuna dan Anambas, Kepulauan Riau. Lestari menyejukkan seperti hembusan hawa segar hutan Taman Nasional Kayan Mentarang di Malinau, Kalimantan Utara. Indah memukau mata seperti hamparan dataran tinggi pegunungan-pegunungan Papua.

Ikan-ikan berlari-larian di antara warna-warni terumbu karang taman laut Bunaken, Sulawesi Utara. Alunan sasando membuai telinga sembari berdansa tatkala berada di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Dalam beberapa perjalanan ke sejumlah daerah terdepan Indonesia, yang berbatasan darat maupun laut dengan negara-negara tetangga, ada banyak cerita tentang pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berkaitan dengan fotografi.

Ketika peradaban manusia modern melebihi budaya lisan dan tulis, gaya bertutur secara visual menjadi tatanan budaya baru. Gambar lebih mudah dan lebih cepat terserap daripada tulisan dan kata-kata. Bisa jadi, gambar pun lebih mudah diingat.

Banyak orang tahu bahwa Natuna dan Anambas adalah milik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Alamnya indah, dengan imbuhan “kata orang”, selain kekayaan sumber daya alam hidrokarbon. Keindahan alam Natuna secara mudah terpaparkan oleh gambar tatkala foto-foto tim hunting Fotografer.net (FN) dipublikasikan setelah kunjungan atas undangan Dandim Natuna, Korem 033/WP, Alm Letkol Inf Hendra Heryana. Komandan Korem (Danrem) 033/WP, waktu itu, Brigjen TNI Deni K Irawan pun mendukung peran fotografi di satuan kewilayahan pimpinannya.

Dari perjalanan fotografi itulah terpapar secara luas keindahan gunung dan pantai Natuna. Dari salah satu perjalanan ke Anambas bisa terpapar pula foto-foto pantai terindah menurut CNN Travel dan menegaskan bahwa pantai-pantai itu milik NKRI. 

Berkaitan dengan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi, sempat terdengar ungkapan “Garuda di dada kami, tapi negara asing di perut kami” terucap oleh penduduk yang tinggal di beranda depan NKRI di Malinau, Kalimanan Utara (Kaltara). Suatu realitas yang tak pada tempatnya untuk ditanggapi secara reaktif buta seperti pepatah “buruk muka, cermin dibelah”.

Prakarsa Dandim Malinau, Korem 091/ASN, Letkol Inf Agus Bhakti bergandengan tangan bersama Bupati Malinau Dr Yansen Tipa Padang membuahkan kunjungan-kunjungan fotografer yang menyebarluaskan keotentikan budaya luhur masyarakat adat Dayak.

Pada suatu akhir pekan, Kodim Malinau menggelar HUT dengan Kaltara Photography Camp yang dihadiri para fotografer dari seluruh penjuru Kaltara: Malinau, Nunukan, Tana Tidung, Bulungan dan Tarakan, dan sejumlah fotografer ibukota. Bermalam di hutan air terjun Semolon, para fotografer mengelilingi api unggun dan Bupati mengumandangkan puisi-puisi persatuan dan kesatuan bangsa melalui fotografi.

Bisa jadi ada banyak kegiatan yang bisa mengumpulkan anak muda. Namun fotografi menjadi kegiatan pengumpulan massa yang populer sekaligus bisa menggemakan isi dan pesan kegiatan meski telah lama usai. Apalagi dinamika kebudayaan modern semakin berpihak pada budaya visual dan digital, maka fotografi semakin terposisikan lebih strategis.

Tulisan di Kompas mengenai cerita di balik foto Proklamasi Kemerdekaan RI mengingatkan khalayak fotografi perihal peran penting, lebih dari sekedar membuat foto bagus.

Tanpa foto maka peristiwa penting hanya sekedar menjadi bahan pembicaraan turun temurun, atau terabadikan berupa tulisan yang butuh daya serap. Bahasa lisan dan bahasa tulisan sama-sama rawan distorsi dan punya resiko language barrier. Tapi, tentu tak pada tempatnya juga jika proklamasi kita kenang dalam bentuk sketsa atau lukisan, meski berupa bahasa visual.

Fotografi sebagai wahana komunikasi visual berbicara dalam bahasa global. Ketika para fotografer memotret Indonesia, termasuk beranda depan Nusantara yang berbatas dengan negara tetangga, publikasi menjadi peran penting selanjutnya.

Patok batas negara hanya berdiri membisu di tempat, namun foto-foto budaya dan alam beranda Nusantara menjadi patok visual yang bisa disebarluaskan ke mana saja dengan berbagai wahana, termasuk internet.

Kejadian saling klaim budaya niscaya jadi nihil manakala salah satu pihak sudah membuktikan terlebih dahulu secara sah dan mempublikasikan secara luas. Analoginya seperti penemuan fakta baru ilmiah yang pembuktiannya disebarluaskan di jurnal-jurnal terkemuka dan relevan.

Sudah menjadi tugas khalayak fotografi Indonesia untuk menjaga Persatuan Indonesia melalui karya-karya foto dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan fotografi. Jika gempuran asing menyerang ruang-ruang dalam rumah, yang jauh dari beranda perbatasan Nusantara, tugas para fotografer Indonesia pula lah untuk mengibarkan Merah Putih melalui fotografi.

Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014


Rapatkan Barisan #FNstreethunting Serentak 2 November 2014

Tiada yang menyangka bahwa pembicaraan antara kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) di beberapa kota tentang street hunting lantas mewujudkan #FNstreethunting serentak pertama pada 2011.

Jakarta membahas JaSH (Jakarta Street Hunting) ke-7 pada 2011 bersama kawan-kawan FN di Jogja yang menelurkan JoSS pertama. Sepakat digelar pada hari yang sama, kawan-kawan FN di Batam menangkap pembicaraan antara kedua kota itu di Twitter. Batam Street Hunting pun lahir dan tersepakati untuk digelar pada hari yang sama dengan Jakarta dan Jogja.

Kawan-kawan di kota-kota lain menangkap pembicaraan antara ketiga kota itu. Tahun 2011 kemudian jadi tahun pertama penyelenggaraan #FNstreethunting pertama di 35 kota dan mencatat 1.700 fotografer hadir di berbagai penjuru Indonesia dan dunia.

Jakarta mencatatkan jumlah peserta terbanyak pada #FNstreethunting serentak pertama pada 2011, sebanyak 219 fotografer. Tahun-tahun setelah 2011 mencatat pertambahan jumlah kota dan fotografer. Tahun 2012 mencatat 50 kota ikut #FNstreethunting serentak dan sebanyak 2.500 fotografer turun ke jalan. Kota Palembang terbanyak dihadiri fotografer.

Tahun 2013, tahun ketiga #FNstreethunting diramaikan 3.880 fotografer di 55 kota. Pekanbaru mencatatkan peserta hadir terbanyak, 333  fotografer. Sejak Tahun pertama hingga 2013, tiap kota punya bukti otentik kehadiran fotografer.

Pada 2 November 2014, kembali kita serentak turun ke jalan.

#FNstreethunting bersifat terbuka dan nirbiaya. Semua digelar secara swakarsa dan swadaya. Hal yang terpenting, tiap kota menggelar #FNstreethunting digelar atas inisiatif para anggota FN di tiap kota. Tak ada yang meminta maupun menyuruh, dan tanpa iming-iming dalam bentuk apapun, kecuali iming-iming berupa kebersamaan dalam persahabatan sejati.

Kita percaya, bahwa Persatuan Indonesia kita wujudkan melalui cara fotografi. Jarak bukanlah halangan, karena semangat persahabatan kita. Susah dan senang ditanggung bersama. Tidak ada yang menjadi boss atas yang lain, dan tiada yang menjadi bawahan bagi kawan yang lain. Satu-satunya hal yang membedakan hanya berupa tanggung jawab yang berbeda kadar antara satu kawan dengan kawan yang lain.

Menjadi bagian dari kegiatan serentak nasional mengobarkan lagi api persatuan yang kita gelar minimal setahun sekali.

Fakta bahwa kita adalah komunitas terbesar fotografi Indonesia dan Asia Tenggara tak terbantahkan oleh dalil apapun juga. Ketangguhan motivasi kita tak tergoyahkan akan kebutuhan akan uang, lantaran kita menyokong kegiatan ini secara gotong royong. Kemandirian kita atas dana membuat banyak pihak yang berdecak kagum, meski di seberang sana ada rekan sejawat yang mencibir dengki atau hanya berdiam diri dalam penyesalan.

Hak untuk untuk berkumpul dan berorganisasi dijamin oleh undang-undang. Oleh karena itu, FN mewadahi berbagai komunitas di tiap kota dan membungkusnya dalam satu nama kegiatan per kota. Seluruh kegiatan di tiap kota lantas berkibar dalam satu bendera yang sama, kebhinekaan fotografi untuk Persatuan Indonesia.

#FNstreethunting Serentak 2 November 2014

#FNstreethunting Serentak 2 November 2014

Tahun 2014, kali keempat #FNstreethunting, rasanya sebuah buku foto tak muat merekam segala kenangan yang kita punya. Selama 3 tahun, #FNstreethunting kita bungkus dalam buku fotografi gratis yang bisa diunduh siapapun juga. Oleh karena itu, sebar luaskan pula kenangan kita selama 2 November 2014 dalam bentu video, baik dari kamera ponsel maupun kamera yang lebih besar.

Kita percaya, bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan untuk khalayak membawa kebaikan untuk orang banyak. Jika satu hari menjelang hari-H ini sudah tercatat lebih dari 70 kota siap bergerak, biar foto yang bicara.


Harapan Fotografer Indonesia Pada Presiden & Wakil Presiden Terpilih RI 2014-2019

Memakai titel “fotografer Indonesia” terkesan berat dan jamak. Begitu banyak fotografer profesional dan fotografer amatir yang terwakili dengan titel itu. Namun berangkat dari Fotografer.net (FN), sebagai komunitas fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara beranggotakan lebih dari 450.000 orang, perkenankan tulisan ini berisi harapan-harapan yang terangkum dari berbagai sumber.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan kondisi negeri yang memungkinkan harga kamera lebih terjangkau. Kami sadar, tak mudah mewujudkan hal ini mengingat berbagai aspek terkait. Namun kami paham pula, bahwa dengan semangat baru yang dibawa oleh Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) terpilih Republik Indonesia (RI) maka kondisi ekonomi lebih baik.

Kami mendambakan kondisi ekonomi dengan nilai tukar Rupiah yang lebih kuat agar harga kamera, yang kami beli dengan Rupiah, bisa terjangkau.

Jika memungkinkan, kami berharap iklim penelitian, pengembangan dan pendidikan berbasis iptek dan seni pun maju. Dengan demikian, bukan tak mungkin Indonesia memiliki pabrik kamera dan berbagai piranti pendukung. Kalau memungkinkan, merk kamera pun adalah merk Indonesia, yang lahir dari buah pikiran dan karya tangan ilmuwan-ilmuwan Indonesia.

Kami berharap, karya para fotografer Indonesia terlindungi secara hukum. Memang sudah ada undang-undang pelindung Hak Cipta namun penegakan hukum masih lemah. Seandainya bisa terwujud, maka para fotografer Indonesia pun sudah sepatutnya menghormati Hak Cipta dalam segala aspek kehidupan kreatif.

Dengan penegakan hukum lebih tegas, maka karya-karya foto dihargai lebih layak oleh khalayak. Fotografer bisa hidup layak dan halal, selayaknya profesi-profesi lain di Tanah Air. Banyak talenta kreatif Indonesia yang berdikari membutuhkan situasi kepastian dan perlindungan hukum yang patut. Kita sama-sama mewujudkan para wirausaha muda yang sukses dan kreatif lahir dari fotografi. Para pewarta foto pun bisa menekuni profesinya menjadi mata hati nurani rakyat.

Melalui ketegasan dan kepastian hukum pula, kita bisa sama-sama menelisik kepatuhan para fotografer membayar pajak secara ikhlas dan jujur. Penegakan hukum tentu butuh biaya, dan merupakan tanggung jawab kita semua untuk menanggungnya bersama-sama, secara terbuka dan jujur pula.

Masih mengenai kepastian hukum, khalayak fotografi Indonesia mendambakan sudut-sudut pemotretan yang bebas spanduk liar, papan reklame yang jadi sampah visual, bangunan angkuh di lereng perbukitan, danau dan pantai, serta sawah dan kebun yang bersih dari bangunan-bangunan pengalih fungsi lahan pertanian. Kami yakin alam yang asri bisa dipertahankan tanpa tunduk kepada ketamakan otoritas setempat pada materialisme.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan situasi yang bebas pungli. Banyak tempat memotret yang dikuasai oleh orang, entah siapa dan dari mana, memungut bayaran. Bayaran-bayaran ini berupa pungutan tak jelas, non-standar, dan seringkali tanpa tanda terima.

Kami sadar, bahwa di banyak negara, banyak tempat menarik untuk fotografi tersedia secara gratis. Kami ulangi, gratis. Kalaupun berbayar, otoritas yang mengurus tempat-tempat yang menarik uang, secara fotografi, memberikan fasilitas yang memadai, seperti kebersihan, keamanan dan toilet bersih.

Fotografer Indonesia siap membayar dengan ikhlas, namun kritis terhadap penggunaan uang yang telah kami bayar. Kami tak rela, Tanah Air ini dikotak-kotakkan oleh pecinta uang, yang menyuburkan iklim penadah tangan dan pengutip tanpa bekerja.

Kami berharap, Presiden dan Wapres terpilih 2014-2019 memberikan ruang lebih banyak bagi fotografer untuk aktualisasi diri. Kata cukup mungkin tak akan pernah terwujud, namun kita perjuangkan bersama-sama.

Semakin banyak ruang pamer dan galeri foto memberikan sarana aktualisasi diri bagi fotografer sekaligus ruang apresiasi seni khalayak secara luas. Semakin banyak publikasi fotografi, baik secara online maupun offline, membudayakan kreativitas secara luas ke berbagai aspek kehidupan. Pendidikan Indonesia tak hanya di sekolah dan di keluarga di rumah, publik fotografi pun mendidik secara terbuka berbasis kebebasan yang bertanggung jawab demi kreativitas.

Khalayak fotografi Indonesia kerap kali terpinggirkan karena dianggap remeh. Kalaupun remeh, tentu hidup ini sudah membosankan lantaran tak koran dan majalah hanya tulisan melulu dan acara perkawinan hanya tinggal cerita lisan tanpa foto. Pariwisata dan kebudayaan hanya berbasis budaya tutur dan tulis tanpa budaya gambar, yang merupakan ciri kebudayaan modern.

Tanggung jawab fotografer dan peminat fotografi Indonesia untuk melestarikan budaya Tanah Air dan hidup dengan layak dari itu.

Foto-foto mempromosikan tempat wisata bersamaan dengan kerajinan tangan, tari-tarian, baik tradisional maupun modern, penginapan dan kuliner. Melalui foto pula industri garmen dan busana, baik modern maupun tradisional, bisa terpasarkan efektif. Melalui fotografi pula industri periklanan lebih kompetitif dan disain arsitektur terapresiasi lebih luas. Dengan fotografi pula poster-poster film dan sampul album-album musik tampil menarik.

Kalau kita berbicara tentang fotografi pernikahan saja, sebagai contoh, ada milyaran uang yang terlibat. Anggaplah ada 10 juta pasangan siap nikah, dari lebih dari 200 juta populasi Indonesia, dan anggaplah tiap pasang membayar Rp 1 juta untuk paket foto weding mereka. Berarti tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun, ada ratusan milyar, mungkin trilyun, uang yang berputar karena fotografi. Dan dari ratusan milyar itu, ada jutaan mulut yang bisa makan secara layak dan halal dari bisnis fotografi.

Dari segala harapan ini, kita berharap semua fotografer bertugas dengan lancar dan layak. Segala sudut Nusantara dijelajahi, termasuk garis depan perbatasan Tanah Air dengan negara-negara tetangga.

Identitas bangsa kita dokumentasikan dan publikasikan secara terus menerus di berbagai media, baik berupa warisan-warisan budaya tradisional nenek moyang maupun kreasi-kreasi modern Nusantara. Bahasa gambar bicara jutaan makna. Fotografi jadi salah satu piranti ketahanan nasional dan fotografer Indonesia wajib mengawal kekayaan Tanah Air kita sekaligus memupuk persahabatan dan persaudaraan untuk Persatuan Indonesia.

Seringkali foto-foto kami lebih berbicara daripada kemampuan kami berbicara dan menulis. Semoga harapan-harapan ini sampai kepada Presiden dan Wapres terpilih RI 2014-2019.

Biar foto yang bicara.


 

Tulisan ini dimuat pertama kali di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194608045


Kisah dari Air Terjun Semolon, Malinau #KaltaraPhotoCamp

Image

Berada di hamparan hutan tropis Kalimantan, air terjun Semolon sehari-hari sunyi. Sesekali saja ada pengunjung di salah satu tempat wisata andal Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini. Tapi pada akhir pekan 17-18 Mei, air terjun Semolon ramai benar.

Image

Tercatat 60 fotografer dari seluruh kabupaten di Kaltara hadir, bersama dengan sejumlah tamu fotografer asal Balikpapan, Kaltim dan Jakarta. Tampak hadir juga puluhan penari dan pemusik tradisional dari desa wisata Setulang, yang bertetangga dengan Semolon. Terlihat pula hadir belasan Pramuka Saka Wira Kartika yang membaur bersama pemuda-pemuda setempat.

Workshop singkat fotografi oleh Kristupa Saragih dan Dewandra Djelantik membuka rangkaian kegiatan Kaltara Photography Camp. Kedua fotografer profesional ini berasal dari komunitas Fotografer.net (FN), website fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Bagi semua peserta dan pembicara, ini adalah kali pertama mereka semua mengalami workshop fotografi di tengah hutan tropis lebat.

Total ada 200 ransum makanan yang disiapkan untuk seluruh hadirin yang menginap semalam di tenda-tenda yang terhampar di lapangan. Gelaran Kaltara Photography Camp semula optimis hanya pada jumlah sekitar 50 pendukung saja. Namun gema semangat fotografer untuk Persatuan Indonesia ini ternaya sampai ke mana-mana.

Image

Bupati Malinau Yansen Tipa Padang hadir membawa serta jajaran pemkab (pemerintah kabupaten). Kehadirannya menyemangati para peserta dan pendukung. Tak hanya ikut memotret bersama peserta, Bupati hadir hingga larut malam dan berbaur akrab seraya berseling dengan canda tawa.

Image

Inisiatif Dandim 0910 Malinau Letkol Inf Agus Bhakti semula hanya sesederhana mengumpulkan para fotografer Kaltara, yang masih muda-muda, lantas mengumandangkan semangat kebangsaan dan cinta Tanah Air. Namun motivasi sederhana ini justru membakar semangat para fotografer dari kabupaten-kabupaten lain di Kaltara untuk merapatkan barisan dan menyatukan langkah untuk NKRI.

Semangat yang bergelora dari para fotografer ini dikemas dengan acara motret figur-figur khas Dayak, yang diboyong ke Semolon, dan atraksi-atraksi tradisional Dayak. Para fotografer Kaltara paham benar, bahwa tugas dokumentasi untuk pelestarian budaya tradisional dan ajaran para leluhur ada di tangan mereka.

Posisi Kaltara di perbatasan dengan negara asing mengkukuhkan semangat pengibaran Merah Putih melalui fotografi. Jangan sampai alam indah Indonesia dan budaya Nusantara diklaim sebagai milik asing. Foto-foto yang dibuat di Semolon menjadi inspirator para fotografer di seantero Kaltara untuk menyebarluaskan foto-foto yang dibuat di daerah masing-masing sebagai pengumuman kepemilikan atas Tanah Air dan budaya Indonesia.

Sudah cukup kejadian-kejadian tari tradisional Indonesia, motif pakaian dan makanan asli Indonesia diklaim sebagai milik asing. Sudah bulat tekad para peserta Kaltara Photography Camp menyumbangkan diri untuk kedaulatan Indonesia melalui fotografi.

Image

Malam Minggu di air terjun Semolon itu sangat berarti. Para peserta dan panitia Kaltara Photography Camp berdiri melingkari apa unggun dan berpengangan tangan sembari menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Ketika lagu “Syukur” dinyanyikan, salah satu panitia membacakan puisi kebangsaan yang disahut dengan deklamasi kebangsaan oleh Bupati Yansen. Di bawah siraman cahaya bulan purnama, nyala api unggun dan lirik “Syukur” memadu keharuan dan semangat.

Image

Esok paginya, para peserta mandi di mata air panas yang bercampur dengan sumber air segar air terjun Semolon. Usai sarapan ala lapangan, para peserta menanam bibit pohon di seputar lokasi wisata air terjun Semolon bersama Dandim 0910 Malinau, Komandan Yonif (Danyon) 614/RP Letkol Inf Hadi Al Jufri dan direksi PT BDMS Daniel Suharya. Semua hadir di Kaltara Photography Camp karena Bupati, Dandim, Danyon dan direksi serta sejumlah staf PT BDMS memang penggemar fotografi.

Dari lomba foto kecil-kecilan yang digelar, pagi itu hasil lomba diumumkan. Ada masing-masing 3 pemenang dari 3 kategori lomba: landscape, human interest dan model. Para pemenang asal Tarakan ternyata tak mengantongi uang tunai hadiah lomba. Mereka ternyata menggabungkan seluruh uang hadiah untuk menyiapkan kegiatan lanjutan serupa Kaltara Photography Camp di Tarakan. Semoga niat mulia ini terwujud segera.

Image

Begitu besar semangat persahabatan, kebersamaan dan kebangsaan yang timbul sekaligus disatukan di antara suara gemericik air terjun Semolon. Para peserta berangkat ke Semolon dan pulang ke rumah masing-masing atas biaya pribadi. Hanya semangat lah yang memberanikan mereka menumpang pesawat terbang dan speed boat berjam-jam, disambung menumpang truk tentara, untuk berjumpa rekan-rekan fotografer dari kabupaten-kabupaten se-Kaltara.

Nun di ujung utara Kalimantan sana, hutan masih terhampar lebat bersama deburan jeram Sungai Kayan dan Sungai Mentarang. Udara yang segar dan tradisi masyarakat yang masih asli merekatkan persatuan fotografer Kaltara untuk Persatuan Indonesia melalui fotografi. Kebhinekaan kita adalah kekayaan kita.

Meski hidup masih sulit, BBM (bahan bakar minyak) dan sembako (sembilan bahan pokok) saja berasal dari negara tetangga dan berharga mahal, semangat kreativitas senantiasa menyala. Sinyal seluler baru masuk pedalaman pada Desember 2013, itupun dalam kecepatan data internet yang amat minim.

Justru dalam segala keterbatasan itulah semangat perjuangan dan persatuan terjaga.

Dari Malinau, para fotografer Kaltara menyuarakan semangat persahabatan dan cinta lingkungan. Jauh dari pamrih nama tenar dan iming-iming materialisme, mereka bergerak dalam sepi. Namun gema Persatuan Indonesia dari ujung utara Kalimantan ini menggelorakan semangat para fotografer di seluruh Nusantara untuk beraksi serupa.

Biar foto yang bicara.

 

Image

 

Foto-foto oleh: Kristupa Saragih

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang


Prediksi Tren Fotografi 2014 @FotograferNet #FNprediksi #FN11

Fotografer.net 11th Anniversary logoAda banyak hal yang bakal mewarnai fotografi di tahun 2014. Berikut adalah prediksi pribadi saya berdasarkan pengamatan fotografi selama 2013, berjumpa dengan banyak fotografer berbagai latar belakang dan perbincangan pribadi dengan berbagai pihak di akhir tahun 2013.

Karya

Selama 2013 foto-foto berona retro tone. Sekitar 1-2 tahun lalu, tren retro tone ini lahir dari olah digital (oldig) piranti lunak di komputer. Namun gelora mobile app di smartphone dan tablet menawarkan banyak aplikasi oldig.

Retro tone diperkirakan masih mewarnai banyak foto yang dibuat selama 2014.

Tahun 2014 diperkirakan menjadi tren single light. Aksesoris bisa macam-macam, baik untuk monoblock, strobist, maupun foto dengan available light. Foto-foto tahun ini terkutub jadi 2: low key dan terang normal contrast.

Makin banyak orang suka flare. Di 2014 flare tampil asli ketika pemotretan maupun hasil oldig di mobile application. Jenis cahaya backlight ini diperkirakan bakal salah kaprah diterapkan di 2014, karena banyak yang mengabaikan logika pencahayaan dan fisika optika.

Genre

Genre street photography makin popular di 2014 karena fotografi jadi gaya hidup masyarakat kota & banyak traveler yang serius memotret. Seiring dengan mencorongnya street photography, pemotret human interest (HI) dan portrait juga makin banyak. Sementara pertumbuhan pemotret landscape tak terlalu signifikan namun komunitasnya fanatik.

Tahun 2014 banyak citizen photojournalist. Fenomena ini membuat pewarta foto instrospeksi, baik pada kualitas karya maupun tanggung jawabnya. Fotografer freelance menjamur dengan mengandalkan kebutuhan foto-foto editorital yang semakin beragam dengan honor yang kompetitif.

Pemotret amatir berusia lebih muda di tahun 2014 karena kualitas pendidikan & taraf hidup lebih baik. Pelajar berusia SMP sudah banyak serius motret, didukung kemampuan ekonomi orang tua mereka. Remaja terpapar pada kebebasan berkarya yang ditawarkan fotografi, dan kalangan sekolah serta orang tua bersentimen positif pada kegiatan ekstrakurikuler fotografi.

Teknologi

Pada tahun 2014 pengguna software oldig menjadi lebih terbatas di profesional. Fotografer amatir dan orang awam enjoy memakai mobile application di tablet dan smartphone. Social media dan web fotografi diperkirakan di 2014 mulai memunculkan fitur filter, sebagai bentuk oldig sederhana, yang tersedia untuk dipakai di browser.

Di tahun 2014, harapan menanam OS Android di kamera tetap tak lebih mudah dari memasang SIM card seluler di kamera juga. Coba juga hitung berapa kamera DSLR dan mirrorless yang dilengkapi bluetooth. Fitur wifi terbatas hanya untuk komunikasi antargadget, bukan untuk terhubung ke web. Namun tetap ada kemungkinan, produsen kamera dengan fungsi remote control di mobile application akan meluncurkan jasa cloud, seperti iCloud-nya Apple dan Google Drive.

Kamera

Di tahun 2014 kamera mirrorless semakin merajalela. Data penjualan dunia menunjukkan hal tersebut, demikian pula Indonesia. Pendekar ber-DSLR mengeluhkan berat, terutama berat lensa, dan ukuran. Sementara pemotret pemula enggan dengan kesan rumit DSLR dan perempuan yang hobi motret suka dengan keringkasan mirrorless yang mudah dibenamkan di tas mereka sehari-hari.

Di tahun 2014 jika tak ada inovasi teknologi dari marketleader dunia Canon, agresivitas Sony mengancam. Hal yang sama berlaku untuk Nikon, karena penggemar fanatiknya mulai kritis. Di lapis kedua, ada ancaman daripara jawara mirrorless Olympus, FujiFilm dan Panasonic.

Dominasi kamera Negeri Matahari Terbit diperkirakan lebih dari 90 persen, sementara sisanya diperebutkan Negeri Ginseng dan kamera-kamera buatan Eropa. Produsen kamera Negeri Tirai Bambu diperkirakan mulai coba-coba bikin mirrorless. Namun pabrikan rumah tangga di negeri itu belum terlalu punya nyali terjun ke DSLR, karena menganggap resiko merakit smartphone lebih kecil.

Pada tahun 2014 semakin banyak kamera ber-layar sentuh alias touch screen. Konsumen menyukai karena tersihir kebiasaan memakai layar smartphone. Kamera DSLR pertama di dunia berlayar sentuh sudah dirilis Canon tahun 2013.

Di tahun 2014 wifi connectivity di DSLR & mirrorless jadi pengimbang kamera smartphone yang mobile & ringkas. Kamera smartphone tak bisa menyamai DSLR, sementara pasar kamera semakin digerus smartphone berkamera. Pertambahan tingkat internet literacy dan pertumbuhan media sosial menuntut kemudahan berbagi foto. Selain itu, mobile application untuk remote control di kamera menjadi fitur andalan para pemasar kamera di 2014.

Fitur video di kamera mirrorless menjadi salah satu bahan kompetisi di 2014. Konsumen bakal mengkritisi sistem AF di fitur video kamera mirrorless. Hal yang dikritisi meliputi akurasi sistem AF dan kesenyapan motor AF.

Jumlah pemotret berkamera film di 2014 terancam kelangkaan film, chemical & kertas. Harga melambung dan semakin sedikit pelaku kamar gelap konvensional. Fans kamera lomo dan holga hanyut dalam gelora mobile application berefek retro, terutama lantaran bisa seketika di-share ketimbang film konvensional yang butuh waktu.

Sesuai tulisan saya di Kompas, tahun 2014 era kamera saku berakhir. Tergencet entry-level DSLR, mirrorless, smartphone berkamera. Namun smartphone berkamera dapat saingan kamera mirrorless & DSLR dengan fitur wifi transfer. Di akhir 2014 kekuatan kedua blok ini bakal berakhir sama kuat.

Lensa

Di tahun 2014 demand terhadap kualitas lensa dikritisi kesukaan pemotret awam memakai efek retro di mobile application. Ada lensa-lensa yang berkualitas prima, namun sirna khasiatnya jika ketajaman dan warna “dihancurkan” dengan olah digital. Apalagi jika berhadapan dengan efek retro di mobile application, yang mengadaptasi kerendahan teknologi di jaman baheula.

Sementara itu, tahun 2014 semakin banyak bertabur lensa untuk mirrorless. Produsen 3rd party pun diperkirakan bakal memberi banyak opsi lensa. Namun, kualitas optik sedemikian banyak lensa untuk kamera mirrorless akan dikritisi, baik di kualitas optika maupun harga.

Asesoris

Asesoris fotografi akan berevolusi seiring dinamika pemilihan kamera dan subyek foto di 2014. Akan banyak asesoris yang mendukung kamera mirrorless, dengan harga kompetitif, seperti tripod ringkas, filter kreatif, cover kamera yang bisa digonta-ganti, camera body strap dan tas kamera yang modis.

Bisnis

Bisnis traveling photography bagus di 2014. Banyak orang yang suka jalan2 dan belajar motret. Banyak pula traveler berkamera, karena harga terjangkau dan model semakin ringkas. Namun bisnis Indonesia di 2014 terpengaruh pemilu dan pilpres.

Bisnis foto wedding 2014 diperkirakan lebih mobile dan portable mengadapi smartphone dan mirrorless yang mudah dioperasikan. Fenomena ini membuat fotografer wedding lebih kreatif menyediakan jasanya. Tapi evolusi foto wedding semacam ini baru canggih di 2015 ketika semakin banyak konsumen yang memperoleh album foto wedding dalam bentuk digital.

Album digital wedding bakal berisi multimedia foto dan video berbungkus animasi. Selain itu, fitur instant sharing akan dimanfaatkan fotografer wedding di venue saat acara berlangsung. Tamu-tamu bisa membawa pulang cinderamata, berupa foto mempelai dan foto bersama mempelai serta peristiwa-peristiwa dramatis, di smartphone mereka.

Secara nasional, bisnis stock photo terpengaruh pemilu dan pilpres di tahun 2014, sebagai dampak dinamika perekonomian Indonesia. Sementara secara global, bisnis stock photo semakin kompetitif karena semakin banyak populasi kamera dan semakin banyak media yang membutuhkan foto.

Di tahun 2014 toko kamera bertambah, terutama toko untuk pasar kelas menengah-atas. Konsumen terkutub menjadi 2: price-sensitive dan service-sensitif. Toko-toko kamera tradisional dan konvensional bakal perlahan berevolusi menjadi tempat yang nyaman untuk komunitas yang suka belanja berkelompok, atau sekedar bertemu dan mengobrol. Namuan ada pula fenomena yang mungkin terlihat di 2014 yakni perkembangan 2nd hand market yang semakin gurih.

Komunitas

Fotografi semakin populer di tahun 2014. Semakin banyak orang paham fotografi. Komunitas fotografi bertumbuh, kegiatan fotografi menjamur. Penyuka fotografi butuh wahana aktualisasi diri.

Sementara itu, pemotret amatir butuh eksistensi. Artinya, media sharing dan pamer fotografi semakin dibutuhkan. Di sisi lain, fenomena ini jadi potensi pelanggaran hak cipta. Banyak maling foto beraksi di media berbagi dan pamer foto yang tak bonafide dan tak bisa menegakkan wibawa hak cipta dan hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Arus deras informasi membawaketerbukaan di fotografi. Fotografer jadi kritis dan membuat internet jadi referensi di 2014. Seperti suatu kewarganegaraan digital, demikian para fotografer fanatik pada forum fotografi yang menjadi tempat mereka mengacu dan berlindung.


Kebhinekaan Kita adalah Kekayaan Kita

Tulisan ini adalah kata pengantar saya untuk e-book #FNstreethunting 2013, yang bisa diunduh gratis di: Fotografer.net


Pada tanggal 20 Oktober 2013 fotografer Indonesia menorehkan sejarah. Sebanyak 3.880 fotografer secara serentak di 55 kota di seantero Nusantara menggelar street photography hunting, #FNstreethunting. Kegiatan akbar ini berangkat dari inisiatif anggota Fotografer.net (FN), secara swadaya dan swakarsa: dari, oleh dan untuk anggota FN.

Tahun 2013 adalah kali ketiga para anggota FN menggelar #FNstreethunting serentak. Pada 2011 berkumpul 2.000 fotografer di 35 kota secara serentak, lantas tahun 2012 meningkat menjadi 2.500 fotografer di 49 kota. Setiap tahun, FN menerbitkan e-book berisi foto-foto dari seluruh kota untuk mengabadikan evolusi budaya dan mengapresiasi karya semua fotografer yang terlibat.

Penghargaan setinggi-tingginya diberikan kepada para inisiator tiap kota, yang secara sukarela menyumbang tenaga dan ide. Kesuksesan ini adalah kebanggan kita semua, prestasi kita bersama.

Atas nama para 3.880 fotografer yang terlibat di #FNstreethunting 2013 di 55 kota, perkenankan kami di FN dan Exposure Magz mempersembahkan buku yang sederhana ini. Sumbangsih kami yang apa adanya untuk khalayak fotografi Indonesia.

Secara karya, foto-foto ini belum apa-apa dibanding karya banyak rekan sejawat lainnya di Indonesia. Namun dengan rendah hati kami menyumbangkan semua yang kami punya untuk negeri ini. Secara fisik, kami sudah hadir dalam kebersamaan yang hangat dan murni. Secara batin, kami sudah terikat dalam persahabatan yang bersih dan kritis.

Kami mengusung rasa persatuan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia melalui fotografi. Dari setiap kota yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, kami beranikan diri mengikat rasa kebersamaan untuk Persatuan Indonesia dengan cara fotografi.

Fotografer sudah turun ke jalan, menjadi saksi sejarah dan mengabadikannya untuk anak cucu. Kami melihat, kami merasa dan kami berpikir lantas menuangkannya spontan dalam karya-karya foto di buku ini. Tanpa beropini, kami sajikan fotografi yang bicara kejujuran.

Pada 28 Oktober 1928 para pemuda sudah bersumpah mempersatukan Indonesia dalam kesatuan bangsa, bahasa dan Tanah Air. Sekarang 85 tahun kemudian, perkenankan kami mengobarkan nyala api persatuan dengan cara fotografer Indonesia, yang berasal dari berbagai daerah, berbagai jenis kamera dan berbagai komunitas. Kebhinekaan kita adalah kekayaan kita.

Fotografer bisa mati, namun karya foto niscaya abadi.

Biar foto yang bicara.

e-Book #FNstreethunting 2013

#FNstreethunting 2013 digelar secara serentak di 55 kota pada 20 Oktober 2013 dan dihadiri 3.880 fotografer anggota Fotografer.net


11 Tahun Fotografer.net #FN11

Sebelas tahun keberadaan Fotografer.net (FN) di khalayak fotografi dunia membuktikan banyak hal. Sebagai forum digital, FN menjadi komunitas terbesar se-Asia Tenggara dengan 483.000 anggota dan 1,9 juta foto. Sebagai forum di dunia nyata, sepanjang 2013 saja FN sukses menggelar 24 kegiatan di 17 kota. Para anggota FN pun membuktikan kesatuan hati untuk Persatuan Indonesia dengan turun ke jalan serentak di 20 Oktober 2013 untuk #FNstreethunting di 55 kota dan dihadiri 3.880 fotografer, yang mengisi daftar hadir.

Dengan banyak suara merdu dan sumbang seputar keberadaan FN, kita tahu ikan lele hidup di air keruh dan suara negatif terdengar lebih lantang. Namun fakta, baik secara online maupun offline, membuktikan bahwa berkarya dalam sepi menguji kesungguhan hati kita untuk berkiprah tanpa pamrih. Tanpa banyak omong basa basi dan jauh dari niat cari-muka, anggota FN membuktikan pepatah “tong kosong berbunyi nyaring” benar adanya.

ImageAngka statistik FN mustahil terabaikan dan tak terbandingkan dengan forum-forum serupa di Tanah Air, di regional Asia Tenggara saja FN teratas. Para anggota FN di berbagai tempat giat menyebar semangat kreativitas dan kesetiakawanan. Kita paham bahwa nilai 3 jempol ke atas dan ke bawah lebih bertanggung jawab dari sekedar tombol suka dan abstain. Kita bersikap, maka kita dihargai sebagai insan dewasa. Anak kecil haus perhatian, remaja haus sanjungan, sementara manusia dewasa memahami dan menerima kenyataan.

Kita sikapi tahun kesebelas komunitas fotografi terbesar se-Asia Tenggara ini dengan filosofi air, yang jadi wahana refleksi. Seringkali interaksi muncul ketika satu individu butuh sesuatu, dan tak acuh ketika individu lain di komunitas kita membutuhkan uluran tangan. Namun secara sosial, komunitas FN berhasil membangun nilai dan etika, bahwa persahabatan lahir dari peristiwa sehari-hari yang sederhana. Banyak sosok terkemuka yang lahir dari FN dan masih ingat tanggung jawab sosialnya untuk membina persahabatan sejati yang pernah dikecap.

Kita belajar pada air yang selalu mencari tempat yang rendah. Mengaku sebagai pemula itu baik, namun kalau terus menerus mengaku pemula maka usia persahabatan tak lama lantaran terbelenggu kerendahdirian dan sikap ogah bertanggung jawab. Rendah diri dan rendah hati berbeda tipis. Anggota FN tahu diri dan paham bahwa kearifan lahir dari hubungan antar-individu yang jujur dan kritis. 

Filosofi air mengajak kita untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Permukaan air yang selalu datar mendasari semangat egaliter di FN. Banyak individu yang tak nyaman, bahkan bersikap berseberangan dengan FN, lantaran ingin dianggap lebih daripada yang lain dengan mengandalkan paham materialistis dan status sosial. Banyak pula individu yang memaksakan kehendak di FN, namun jiwa yang bersih dan itikad baik mengatasi banyak hal. FN berpihak kepada para anggota yang menghormati kerja cerdas dan proses melahirkan ide cemerlang serta semangat pantang menyerah.

Ucapan terimakasih ditujukan kepada seluruh pihak yang sudah membantu kegiatan FN dalam berbagai bentuk dan di berbagai tempat. Para moderator yang sukarela menghangatkan Forum dan menegakkan Aturan FN, termasuk Aturan Kategori Terbatas, layak mendapat tempat terhormat. Para anggota yang menjadi relawan pandega berbagai kegiatan FN patut mendapat penghargaan. 

Filosofi air yang selalu mengikuti bentuk wadahnya membuat kita belajar untuk senantiasa beradaptasi dan menanggapi dinamika secara bijak. FN sadar bahwa keberadaan aplikasi mobile sudah mendesak, namun keterbatasan SDM dan finansial jualah yang membuat kita belajar arif. Pengelola FN juga paham, bahwa sudah waktunya komunitas raksasa ini tinggal landas dan mengepakkan sayap ke tingkat yang lebih penting dan luas lagi.

Tahun kesebelas tak akan sama dengan 10 tahun pertama. Mulai tahun ini membuka diri bagi dukungan yang memungkinkan FN dikelola dengan SDM yang berkualitas lebih tinggi dengan infrastuktur lebih baik. FN juga terbuka bagi dukungan untuk pengembangan komunitas ini sehingga memiliki sarana berinteraksi, berdagang dan berpromosi yang lebih efektif. FN juga terbuka bagi pihak-pihak yang membawa komunitas ini mewujudkan mimpi memiki sarana penyiaran global dan modern.

Dengan tekad FN untuk tetap berpihak kepada jiwa-jiwa muda yang kreatif dan bersemangat menyala-nyala, semoga mimpi kita terwujud. Dari Indonesia kita sebar luaskan keluhuran budaya dan keindahan Tanah Air ke seluruh dunia. Kelak, negara kita dihormati karena prestasi fotografi yang berlandaskan Persatuan Indonesia.

Ketika fotografi semakin instan, kita percaya ide lah yang mendasari karya fotografi kreatif. Ketika publikasi foto semakin gampang, kita percaya hanya karya asli lah inspiratif dan anti-fotokopi. Ketika piranti fotografi semakin mudah dimiliki, kita percaya bahwa dalam sebingkai foto termuat jiwa dan semangat yang tak tergantikan oleh uang. 

Satu musuh terlalu banyak, namun seribu teman terlalu sedikit. Dengan penuh kerendahhatian kita songsong tahun kesebelas FN dengan optimisme yang konkret. Kita cetak para problem-solver, dan kita libas para trouble-maker. Keberadaan para anggota FN di berbagai tempat sejatinya menjadi manfaat dan meningkatkan harkat hidup orang-orang sekitarnya. 

Fotografer bisa berakhir hidup, namun karya foto niscaya abadi.

Selamat berhari jadi kesebelas bagi para anggota FN. Kesuksesan ini milik kita bersama. Berkarya tak gentar.

Biar foto yang bicara.


Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 untuk Seluruh Anggota FotograferNet dan Hadiah HUT ke-10 #FNX

Para moderator dan anggota FN yang hadir di acara berfoto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ibu Mari Elka Pangestu atas penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 Subsektor Foto. Disampaikan di Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 pada hari Minggu, 25 November 2012, penghargaan diberikan kepada 17 subsektor Wiramuda Kreatif 2012, termasuk fotografi.

Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Wiwin Yulius

Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Wiwin Yulius

Tertulis di piagam, bahwa penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas sumbangsih memajukan ekonomi kreatif Indonesia.

Kita bersyukur dan berterimakasih, bahwa pemerintah memperhatikan Fotografer.net (FN) setelah 10 tahun, terhitung sejak diluncurkan pada 30 Desember 2002. Selama 10 tahun, FN bergerak secara mandiri, atas dukungan para anggota dan rekan-rekan sejawat yang peduli.

Para anggota FN melestarikan budaya Nusantara dan mempromosikan Indonesia di luar negeri atas insiatif sendiri dan berdikari. Para pedagang di Bursa FN maju atas kerja keras tak kenal lelah secara mandiri. Demikian pula para fotografer profesional anggota FN, tak kenal lelah berkarya karena budaya saling dukung antaranggota FN.

Penghargaan ini diterima mendekati peringatan satu dekade FN memajukan fotografi Indonesia. Kita yakin, waktu lah yang membuktikan komitmen dan kecintaan pada fotografi. Bahwa persahabatan lebih dari sekedar uang, kita sikapi sebagai pemicu kreativitas atas dasar kebebasan yang bertanggung jawab.

Kita percaya, bahwa banyak wiramuda kreatif yang kelak lahir dari komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara ini. Kita bawa prestasi untuk mengokohkan identitas sebagai sosok yang layak diteladani dan disegani, sekaligus rendah hati. Kita sepakat untuk mengingatkan yang kuat agar peka terhadap yang lemah, dan membantu yang lemah agar maju dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Penghargaan bisa jadi hanya selembar kertas. Tapi sebutir prestasi sejatinya memotivasi individu-individu di sekitar kita untuk terus berkarya tanpa pamrih. Biar foto yang bicara.

Bersama para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Foto oleh Wiwin Yulius

Bersama para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Foto oleh Wiwin Yulius

Para moderator dan anggota FN yang hadir di acara berfoto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu

Para moderator dan anggota FN yang hadir di acara berfoto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu

Tanya jawab bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Anif Putramijaya

Tanya jawab bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Anif Putramijaya


Menikmati Senja Teluk Ambon di Atas KMP Siwalima 01

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih
KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu pekan di pertengahan bulan Mei 2012, cuaca di Ambon, ibukota Provinsi Maluku amat bersahabat. Fotografer.net (FN), komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara, menggelar FN Hunting Series 2012 di salah satu tempat indah Indonesia ini.

Dalam suasana persabatan, kawan-kawan anggota FN di Ambon berkumpul di Kedai Kopi Sibu-sibu, yang kondang di Ambon. Di tengah obrolan akrab, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Benny Gaspersz datang bergabung menikmati kopi sambil mengobrol santai dengan rombongan FN Hunting Series. Terbit tawaran untuk menghabiskan senja nan indah dengan memotret matahari terbenam dengan KMP Siwalima 01.

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Tanpa ragu, seluruh rombongan mengiyakan tawaran dan bersiap berangkat. Teluk Ambon yang indah jadi tujuan. Semua wajah berseri-seri menyiapkan kamera dan lensa serta baterai dan memori agar tak satu momen pun terlewat.

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Sebagai provinsi kepulauan, sudah selayaknya Maluku punya kapal untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata. Memotret matahari terbenam di Teluk Ambon dari daratan Pulau Ambon sudah biasa. Tapi merekam laut dan alam indah Ambon dari atas kapal jadi hal yang luar biasa.

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto di posting ini dibuat dengan Samsung Galaxy Note, semua tanpa penyuntingan.


Menyeberang Poka-Galala dengan Feri KMP Teluk Ambon

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyeberangi Teluk Ambon antara Poka dan Galala, Ambon, Maluku bisa jadi biasa dan singkat. Feri ada di mana-mana, bahkan di Provinsi Maluku yang terdiri atas ribuan pulau. Tapi 15 menit di atas feri KMP Teluk Ambon bisa jadi amat menarik dengan ponsel berkamera di tangan.

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Tiba di Bandar Udara Pattimura, Ambon pada hari Minggu (13/5), mobil berbelok kanan masuk pelabuhan Poka. Masuk perut KMP Teluk Ambon, kapal feri yang masih baru ini langsung angkat sauh.

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Feri jenis ro-ro buatan tahun 2010 ini berbobot mati 300 ton, mampu mengangkut 6 truk, 9 mobil kecil dan 80 penumpang pada saat bersamaan. Berkecepatan maksimal 9 knot, KMP Teluk Ambon dijalankan oleh 16 ABK.

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Tiket mobil kecil Rp 20 ribu saja sekali menyeberang, penumpang gratis. Dengan tiket seharga itu, perjalanan melintasi Teluk Ambon bisa dihemat 20-30 menit daripada lewat darat. Lama akses dari kota Ambon ke kampus Universitas Pattimura dan Bandar Udara Pattimura pun jadi lebih singkat.

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto dibuat dengan Samsung Galaxy Note.