Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “hunting

Kisah dari Air Terjun Semolon, Malinau #KaltaraPhotoCamp

Image

Berada di hamparan hutan tropis Kalimantan, air terjun Semolon sehari-hari sunyi. Sesekali saja ada pengunjung di salah satu tempat wisata andal Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini. Tapi pada akhir pekan 17-18 Mei, air terjun Semolon ramai benar.

Image

Tercatat 60 fotografer dari seluruh kabupaten di Kaltara hadir, bersama dengan sejumlah tamu fotografer asal Balikpapan, Kaltim dan Jakarta. Tampak hadir juga puluhan penari dan pemusik tradisional dari desa wisata Setulang, yang bertetangga dengan Semolon. Terlihat pula hadir belasan Pramuka Saka Wira Kartika yang membaur bersama pemuda-pemuda setempat.

Workshop singkat fotografi oleh Kristupa Saragih dan Dewandra Djelantik membuka rangkaian kegiatan Kaltara Photography Camp. Kedua fotografer profesional ini berasal dari komunitas Fotografer.net (FN), website fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Bagi semua peserta dan pembicara, ini adalah kali pertama mereka semua mengalami workshop fotografi di tengah hutan tropis lebat.

Total ada 200 ransum makanan yang disiapkan untuk seluruh hadirin yang menginap semalam di tenda-tenda yang terhampar di lapangan. Gelaran Kaltara Photography Camp semula optimis hanya pada jumlah sekitar 50 pendukung saja. Namun gema semangat fotografer untuk Persatuan Indonesia ini ternaya sampai ke mana-mana.

Image

Bupati Malinau Yansen Tipa Padang hadir membawa serta jajaran pemkab (pemerintah kabupaten). Kehadirannya menyemangati para peserta dan pendukung. Tak hanya ikut memotret bersama peserta, Bupati hadir hingga larut malam dan berbaur akrab seraya berseling dengan canda tawa.

Image

Inisiatif Dandim 0910 Malinau Letkol Inf Agus Bhakti semula hanya sesederhana mengumpulkan para fotografer Kaltara, yang masih muda-muda, lantas mengumandangkan semangat kebangsaan dan cinta Tanah Air. Namun motivasi sederhana ini justru membakar semangat para fotografer dari kabupaten-kabupaten lain di Kaltara untuk merapatkan barisan dan menyatukan langkah untuk NKRI.

Semangat yang bergelora dari para fotografer ini dikemas dengan acara motret figur-figur khas Dayak, yang diboyong ke Semolon, dan atraksi-atraksi tradisional Dayak. Para fotografer Kaltara paham benar, bahwa tugas dokumentasi untuk pelestarian budaya tradisional dan ajaran para leluhur ada di tangan mereka.

Posisi Kaltara di perbatasan dengan negara asing mengkukuhkan semangat pengibaran Merah Putih melalui fotografi. Jangan sampai alam indah Indonesia dan budaya Nusantara diklaim sebagai milik asing. Foto-foto yang dibuat di Semolon menjadi inspirator para fotografer di seantero Kaltara untuk menyebarluaskan foto-foto yang dibuat di daerah masing-masing sebagai pengumuman kepemilikan atas Tanah Air dan budaya Indonesia.

Sudah cukup kejadian-kejadian tari tradisional Indonesia, motif pakaian dan makanan asli Indonesia diklaim sebagai milik asing. Sudah bulat tekad para peserta Kaltara Photography Camp menyumbangkan diri untuk kedaulatan Indonesia melalui fotografi.

Image

Malam Minggu di air terjun Semolon itu sangat berarti. Para peserta dan panitia Kaltara Photography Camp berdiri melingkari apa unggun dan berpengangan tangan sembari menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Ketika lagu “Syukur” dinyanyikan, salah satu panitia membacakan puisi kebangsaan yang disahut dengan deklamasi kebangsaan oleh Bupati Yansen. Di bawah siraman cahaya bulan purnama, nyala api unggun dan lirik “Syukur” memadu keharuan dan semangat.

Image

Esok paginya, para peserta mandi di mata air panas yang bercampur dengan sumber air segar air terjun Semolon. Usai sarapan ala lapangan, para peserta menanam bibit pohon di seputar lokasi wisata air terjun Semolon bersama Dandim 0910 Malinau, Komandan Yonif (Danyon) 614/RP Letkol Inf Hadi Al Jufri dan direksi PT BDMS Daniel Suharya. Semua hadir di Kaltara Photography Camp karena Bupati, Dandim, Danyon dan direksi serta sejumlah staf PT BDMS memang penggemar fotografi.

Dari lomba foto kecil-kecilan yang digelar, pagi itu hasil lomba diumumkan. Ada masing-masing 3 pemenang dari 3 kategori lomba: landscape, human interest dan model. Para pemenang asal Tarakan ternyata tak mengantongi uang tunai hadiah lomba. Mereka ternyata menggabungkan seluruh uang hadiah untuk menyiapkan kegiatan lanjutan serupa Kaltara Photography Camp di Tarakan. Semoga niat mulia ini terwujud segera.

Image

Begitu besar semangat persahabatan, kebersamaan dan kebangsaan yang timbul sekaligus disatukan di antara suara gemericik air terjun Semolon. Para peserta berangkat ke Semolon dan pulang ke rumah masing-masing atas biaya pribadi. Hanya semangat lah yang memberanikan mereka menumpang pesawat terbang dan speed boat berjam-jam, disambung menumpang truk tentara, untuk berjumpa rekan-rekan fotografer dari kabupaten-kabupaten se-Kaltara.

Nun di ujung utara Kalimantan sana, hutan masih terhampar lebat bersama deburan jeram Sungai Kayan dan Sungai Mentarang. Udara yang segar dan tradisi masyarakat yang masih asli merekatkan persatuan fotografer Kaltara untuk Persatuan Indonesia melalui fotografi. Kebhinekaan kita adalah kekayaan kita.

Meski hidup masih sulit, BBM (bahan bakar minyak) dan sembako (sembilan bahan pokok) saja berasal dari negara tetangga dan berharga mahal, semangat kreativitas senantiasa menyala. Sinyal seluler baru masuk pedalaman pada Desember 2013, itupun dalam kecepatan data internet yang amat minim.

Justru dalam segala keterbatasan itulah semangat perjuangan dan persatuan terjaga.

Dari Malinau, para fotografer Kaltara menyuarakan semangat persahabatan dan cinta lingkungan. Jauh dari pamrih nama tenar dan iming-iming materialisme, mereka bergerak dalam sepi. Namun gema Persatuan Indonesia dari ujung utara Kalimantan ini menggelorakan semangat para fotografer di seluruh Nusantara untuk beraksi serupa.

Biar foto yang bicara.

 

Image

 

Foto-foto oleh: Kristupa Saragih

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Advertisements

Mengenang Gempa Sumbar Setahun Lalu Rabu, 30 September 2009

Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih
Rabu, 30 September 2009
Sebagian peserta rombongan fotografer 5 negara di photo hunting trip Crossing Bridges VI 2009 West Sumatra (CB 6) masih berada di arena balap sapi “pacu jawi” di Kabupaten Tanah Datar. Saya dan Daniel, seorang peserta kontingen Singapura, berada di RS Umum Daerah (RSUD) MA Hanafiah di Batusangkar membawa Liao Mao Lin, peserta kontingen Vietnam. Liao Mao Lin, yang akrab dipanggil Quanman, mengalami musibah tertabrak sapi pacu jawi ketika ia sedang memotret di tepi arena. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama
Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Atraksi balap sapi "pacu jawi" khas Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat yang difoto oleh 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi regional Crossing Bridges VI di Sumatra Barat 2009. Tiga jam sebelum gempa 7,6 melanda dan merubah segalanya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Tak ada yang menyangka hari itu adalah hari yang luar biasa, Rabu, 30 September 2009. Saya bersama rombongan 50 fotografer dari 5 negara ASEAN dalam forum fotografi Crossing Bridges diterima ramah oleh Muspida Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Pak Bupati dan Ketua DPRD bertopi ala koboi menyambut ramah bersama Komandan Korem dan Kepala Polisi Resort Tanah Datar bersama ninik mamak nagari-nagari setempat.

Acara hunting foto dan pacu jawi berlangsung seru sampai Quanman, seorang peserta kontingen Vietnam terluka karena tertabrak sapi yang sedang berlaga. Seluruh rombongan surut kembali ke bis dan membawa rekan yang terluka ke rumah sakit terdekat. Karena perlengkapan tak memadai, lantas rekan tersebut dirujuk ke rumah sakit di Padang.

Saya bersama Madoca, rekan kontingen Vietnam menemani Quanman di dalam ambulans. Peserta-peserta lain berada di bis rombongan di belakang kami. Dari Batusangkar menuju Padang, selepas Padang Panjang jalan berkelok-kelok. Sejurus kemudian keempat ban mobil ambulans terasa seolah kempes bersamaan. Orang-orang berhamburan ke luar rumah hingga terjatuh. Pengendara-pengendara sepeda motor bertumbangan, pohon-pohon kelapa dan tiang-tiang listrik berayun-ayun seperti metronom.

17:18 WIB: Gempa Terjadi di Sumatra Barat!
Ambulans sedang meluncur, menyusuri jalan menuju Padang. Berkelok-kelok di lalu lintas yang rada padat. Lampu sirine dinyalakan agar memperoleh prioritas jalan, dan alarm dibunyikan sesekali. Kota Padang Panjang baru saja dilewati. Tiba-tiba saya merasa seolah-olah ban mobil kempes. Pikir saya, “Kenapa bisa keempat-empat ban kempes dalam waktu bersamaan?” – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama

Few seconds after earthquake happenned, I updated my Facebook status. I thought I must do that before cellular networks down due to heavy traffic or damaged.

Few seconds after earthquake happenned, I updated my Facebook status. I thought I must do that before cellular networks down due to heavy traffic or damaged.

Gempa terjadi di Sumatra Barat, pada hari Rabu, 30 September 2009 jam 17:18 WIB.

Dan semuanya berubah. Orang-orang panik. Jalan tertimbun tanah longsor. Ambulans ambil jalan memutar  untuk menuju Padang. Pemandangan di pinggir jalan sungguh memiriskan hati. Paramedis di ambulans menyuntikkan pain-killer secara teratur ke Quanman.

Masuk Padang, lalu lintas macet. Sirene ambulans tak berarti. Semua memang dalam situasi darurat, dan semua merasa harus didahulukan. Hujan turun menyiram reruntuhan Ranah Minang malam itu.

Hotel Best Western Premier Basko tempat kami menginap masih berdiri utuh, tapi tak bisa dimasuki. Tak aman. Interior ruangan rusak. Listrik padam, gelap gulita dan air menggenang karena hujan deras masuk melalui kaca-kaca yang pecah.

Jaringan komunikasi putus. Telepon seluler tak berfungsi. Kami putus kontak dengan rombongan besar. Malam itu kami mengungsi di rumah milik karyawan hotel. Baju basah karena hujan bercampur keringat.

Roadblock in a junction near Indarung blocked the ambulance from getting a priority to pass through. Photo by: Kristupa Saragih

Roadblock in a junction near Indarung blocked the ambulance from getting a priority to pass through. Photo by: Kristupa Saragih

Tidur di lantai, di kegelapan dan kedinginan, memang tak nyenyak. Bangun subuh keesokan harinya, hanya ada satu hal dalam kepala, mengumpulkan seluruh anggota rombongan dan siapkan evakuasi.

06:18 WIB: Sarapan di Dapur Darurat Basko Hotel
Haus mendera, karena sejak semalam tidak minum. Saya pun minta air mineral ke karyawan hotel. Oleh para karyawan yang baik itu, saya dan Madoca malah diarahkan ke dapur darurat di bagian belakang hotel. Ada beberapa botol kecil air mineral dan dua kerat roti dan kue. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Pagi Hari Kedua

Waiting to be called to evacuate personal belongings inside hotel rooms. Photo by: Kristupa Saragih

Waiting to be called to evacuate personal belongings inside hotel rooms. Photo by: Kristupa Saragih

Kembali ke hotel, berkoordinasi dengan petugas, akhirnya evakuasi barang-barang peserta bisa dilakukan. Rombongan besar merapat tak lama kemudian. Rekan-rekan sesama kontingen Indonesia saja sebagian besar belum pernah mengalami gempa. Kawan-kawan dari negara-negara tetangga belum pernah satu kalipun merasakannya.

Air bersih sulit diperoleh. Makanan langka. Uang tak berarti.

Sepanjang siang kami hanya menyiapkan diri untuk segera pulang, meninggalkan Padang. Begitu barang-barang tersisa bisa diselamatkan, seluruh rombongan masuk bis. Para kru bis untuk bisa mengerti dan masih bersedia mengantar, meski mereka pun adalah para korban gempa bumi.

At 12:23 PM local time. Our CB6 buses passed through a road side cemetery. We witnessed a funeral of earthquake victim. Photo by: Kristupa Saragih

At 12:23 PM local time. Our CB6 buses passed through a road side cemetery. We witnessed a funeral of earthquake victim. Photo by: Kristupa Saragih

Pemandangan sepanjang jalan penuh kepiluan. Rumah-rumah runtuh. Kendaraan bermotor saling berebut jalan. Dalam perjalanan menuju SPBU yang masih beroperasi terlihat keranda-keranda diusung di antara nisan-nisan tempat pemakaman umum.

Jalanan macet. Simpul-simpul anyaman kendaraan terjadi di setiap persimpangan jalan. Semua orang ingin didahulukan dan tak peduli. Semua orang ingin mencari selamat.- Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Siang Hari Kedua

At 01:53 PM local time. People in their anger on queueing their turn in a petrol station in Padang ring-road bypass. Data says it should be more than 30 petrol stations in Padang and nearby surroundings. But we saw only 2 of them in operation, on our way from hotel to airport. We saw couples of petrol stations hit by earthquake. The rest of them was not in operation due to many reasons. This operating petrol station had a long queue, about 1 km in both directions. There were some armed-police guard to make sure the people's anger did not turn into riot. Everyone wanted to be a priority. Photo by: Kristupa Saragih

At 01:53 PM local time. People in their anger on queueing their turn in a petrol station in Padang ring-road bypass. Data says it should be more than 30 petrol stations in Padang and nearby surroundings. But we saw only 2 of them in operation, on our way from hotel to airport. We saw couples of petrol stations hit by earthquake. The rest of them was not in operation due to many reasons. This operating petrol station had a long queue, about 1 km in both directions. There were some armed-police guard to make sure the people's anger did not turn into riot. Everyone wanted to be a priority. Photo by: Kristupa Saragih

Tiba di SPBU antrian menyemut. Semua ingin didahulukan. Klakson-klakson menjerit-jerit memekakkan telinga. Perjalanan dilanjutkan ke Bandara Internasional Minangkabau, tempat tujuan akhir dalam rencana evakuasi rombongan. Perjalanan, yang dalam keadaan normal bisa ditempuh 30 menit, musti memakan waktu 5 jam. Lima jam yang penuh kepiluan, memandang keadaan sepanjang jalan.

Messages from Singapore Embassy in Jakarta to Chan Bin Kan. Singapore government takes care of their citizens, especially in emergency situation such as disaster in Padang and West Sumatra.

Messages from Singapore Embassy in Jakarta to Chan Bin Kan. Singapore government takes care of their citizens, especially in emergency situation such as disaster in Padang and West Sumatra.

Masing-masing pimpinan kontingen negara mengatur anggotanya masing-masing. Sungguh miris melihat tamu-tamu sejawat dari Singapura, Malaysia, Vietnam dan Filipina berada dalam situasi darurat, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Kondisi di bandara pun memprihatinkan, tidur seadanya di lantai dan fasilitas peturasan tak berfungsi.

Sebagai pimpinan seluruh acara saat itu rencana yang ada dalam benak saya adalah mengirim semua orang kembali ke rumah. Pimpinan kontingen Vietnam, Malaysia dan Filipina bergegas mengurus tiket ke kantor Air Asia.

Kontingen Singapura yang terbang dengan Tiger Airways mendapati kenyataan bahwa maskapai tersebut menghentikan operasi karena gempa. Mereka pun bergegas membeli tiket Air Asia tujuan Kuala Lumpur, bersambung dengan penerbangan ke Singapura.

Sebagian anggota rombongan yang enggan menginap di lantai bandara memilih mengungsi ke Bukittinggi dan tinggal di hotel berbintang di sana. Sementara saya dengan sisa anggota rombongan mengatur jadwal piket jaga koper dan tas kamera. Sejumlah rekan lain berburu air minum, di antara orang-orang yang berserak melepas lelah di lantai bandara.

Sekitar pukul 22 WIB, seluruh penumpang GA 165 dipanggil untuk masuk pesawat. Kabin penuh, tak ada kursi kosong. Sebagian besar penumpang adalah anak-anak dan orang tua. Beberapa penumpang adalah pasien, yang diantar dengan kursi roda. – Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Petang Hingga Malam Hari Kedua

Saya beruntung bisa menumpang pesawat Garuda penerbangan terakhir malam itu tujuan Jakarta. Sembari masih merasa was-was jika memang harus memberikan kursi untuk mendahulukan orang sakit, orang tua dan anak-anak untuk mengungsi. Tak percaya rasanya ketika bisa duduk di kursi belakang GA 165 Padang-Jakarta. Dan ketika kaki-kaki burung besi menjejak di Bandara Soekarno-Hatta, hanya ungkapan syukur yang bisa terucap.

At 12:54 PM local time. A lady and her kid, in front of ruins of their home. Looks like their car survived. Not sure what happen with her husband. Photo by: Kristupa Saragih

At 12:54 PM local time. A lady and her kid, in front of ruins of their home. Looks like their car survived. Not sure what happen with her husband. Photo by: Kristupa Saragih


Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Hari Pertama

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Pagi Hari Kedua

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Siang Hari Kedua

Selamat dari Gempa Sumbar 2009 – Petang Hingga Malam Hari Kedua


Menyongsong Canon PhotoMarathon 2010 Jakarta

Canon PhotoMarathon Indonesia

Canon PhotoMarathon Indonesia

Bukan lari maraton sambil memotret, tapi Canon PhotoMarathon 2010 adalah semacam ajang hunting foto bersama dengan rute tertentu. Garis start dan finish ditentukan, demikian pula waktu tempuh yang kudu dipatuhi. Rute tempuh berada dalam jarak tempuh nyaman untuk berjalan kaki di seputar lokasi.

Foto-foto hasil hunting langsung dinilai juri. Sementara juri menilai, para peserta PhotoMarathon bisa ikut sesi foto model tematis atau bersantai menikmati pertunjukan musik di tempat yang sama. Para pemenang diumumkan di akhir acara, pada hari yang sama.

Santai, casual dan menyenangkan. Demikian suasana yang terjadi di Canon PhotoMarathon 2009 di Jakarta. Berlokasi di Taman Fatahillah, tak sulit menjumpai subyek-subyek fotogenik di warisan budaya bersejarah ini.

Ada 1.028 peserta yang berpartisipasi di Canon PhotoMarathon 2009, demikian data resmi dari sumber di Datascrip, distributor Canon di Indonesia. Tak hanya peserta seputar Jabotabek, saya menjumpai banyak peserta dari Bandung dan Surabaya. Bahkan ada peserta dari Manado, Sulawesi Utara yang hadir hanya untuk Canon PhotoMarathon 2009.

Kemeriahan yang lebih menarik diperkirakan bakal terjadi di Canon PhotoMarathon 2010 pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010 di Central Park, Jakarta. Sintra Wong, Canon Division PT Datascrip, menyebutkan bahwa tempat akan disiapkan untuk mampu menampung 2.000 peserta. Sebuah jumlah yang cukup realistis jika melihat jumlah peserta tahun lalu dan populasi peminat fotografi di Indonesia.

Pada hari yang sama dengan acara di Jakarta, Canon PhotoMarathon 2010 juga digelar Canon Asia di Penang, Malaysia dan Chiang Mai, Thailand. Selengkapnya, Canon Asia menggelar Canon PhotoMarathon 2010 di 12 kota, di 6 negara. Selain Indonesia, PhotoMarathon digelar pula di Malaysia (Penang), 4 kota di Thailand (Khonkean, Phuket, Chiang Mai dan Bangkok), 2 kota di Vietnam (Hanoi dan Ho Chi Minh City), 3 kota di India (Delhi, Mumbai dan Bangalore), dan Singapura.

Canon PhotoMarathon digelar oleh Canon Asia sejak 2007 di 5 negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina. Para pemenang hadiah utama PhotoMarathon 2008 dikirim ikut Photo Clinic di Kyushu, Jepang. Tahun 2008 PhotoMarathon masih digelar di kelima negara yang sama, berhadiah Photo Clinic di South Island, Selandia Baru. Baru pada tahun 2009 India dan Indonesia masuk, tapi Filipina absen. Para pemenang hadiah utama 2009 dikirim ikut Photo Clinic di Jepang bagian tengah.

Para pemenang hadiah utama PhotoMarathon 2010 akan dikirim mengikuti PhotoClinic selama 8 hari di Turki. Sudah pasti Indonesia akan mengirimkan 2 pemenangnya untuk hunting foto di Turki bersama tutor Triston Yeo, fotografer profesional Singapura. Tentu, untuk memperoleh kesempatan itu, peserta harus hadir di Central Park, Jakarta.

Sebagai negara dengan populasi kamera digital yang besar di Asia, Indonesia layak diperhitungkan. Pertambahan populasi kamera digital di Indonesia diperkirakan terus berlipat ganda, meski belum ada data dan rilis resmi mengenai hal ini. Jika melihat jumlah anggota yang terdaftar di Fotografer.net sebanyak 320 ribu dan pertambahan anggota baru rata-rata 189 orang per hari, Indonesia layak diperhitungkan. Apalagi Fotografer.net adalah komunitas online fotografi terbesar di Asia Tenggara.

Kita buktikan Indonesia berjaya tak hanya dalam jumlah populasi, tapi juga berwibawa karena karya-karya fotografi berkualitas wahid.