Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “Jawa Timur

Yuyung Abdi dan Tesis Magister tentang Fotografi

Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah klub malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi
Berangat kerja. Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah tempat hiburan malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi

Berangat kerja. Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah tempat hiburan malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi

Banyak tesis magister (S2) tentang fotografi tapi tak semua ditulis oleh fotografer. Ada pula beberapa tesis S2 tentang fotografi tapi tak semuanya ditulis fotografer yang masih aktif memotret. Yuyung Abdi, fotografer senior dan redaktur foto Harian Jawa Pos, memenuhi kedua hal tersebut.

Berangkat dari pengalaman dan pekerjaan sehari-hari, Yuyung Abdi mengobservasi kehidupan seorang pekerja seks komersial (PSK) di Surabaya. Suatu aspek kehidupan yang sering ditulis kulitnya tanpa mengupas lantas didalami isinya. Bahasa fotografi menjadi amat jujur, berbicara apa adanya tentang kebenaran.

Observasi selama 2 bulan untuk total penelitian selama 11 bulan, termasuk 3 bulan pendekatan ke subyek penelitian.

Setelah observasi 2 bulan, kemudian Yuyung menemukan seorang PSK bernama, sebut saja Mawar. Dalam kesehariannya Mawar punya banyak nama, sesuai tempat bekerja, seperti Noni, Ana dan Denok. Tapi apalah artinya nama dalam kehidupan seperti drama yang dijalani Mawar, seorang PSK muda yang baru berusia 20-an tahun.

Atas persetujuan Mawar, lantas Yuyung mulai tugas penelitiannya selama 11 bulan. Kurun waktu yang cukup lama untuk menyita waktu dan tenaga serta biaya. Yuyung mengikuti kehidupan PSK ini sejak Mawar tobat dan masuk pesantren. Orang tua Mawar yang tinggal di sebuah kota di pantai utara Jawa Timur terhitung religius. Lantas diceritakan pula Mawar yang menikah dini, hamil dan bercerai. Kemudian F menikah lagi, hamil untuk kedua kali, dan bekerja sebagai baby-sitter.

Drama memasuki babak baru kala suami pertama datang mengajak rujuk, lantas Mawar menggugurkan kandungan. Bercerai lagi untuk kedua kali, Mawar lantas kembali ke tempat ia pernah hidup, lokalisasi PSK di Dolly, Surabaya.

Datang kembali ke Dolly, lantaran dalam keadaan berjilbab, Mawar dianggap mata-mata oleh para mucikari. Tapi kemudian bisa meyakinkan mereka, lantas bekerja dengan tarif Rp 125 ribu. Karena paras rupawan, Mawar melesat jadi primadona. Mawar pernah melayani 29 pelanggan dalam satu hari. Rekornya dalam sebulan bisa mengantongi uang Rp 25 juta.

Kisahnya belum berakhir, karena Mawar keluar dari Dolly. Ia bergerilya di sejumlah panti pijat, pub dan karaoke. Seorang lelaki 40 tahunan berniat menikahinya. Tapi kisahnya masih berlanjut dan bisa disimak di publikasi tesis S2 Yuyung Abdi.

Tesis setebal 374 halaman berisi 40 foto berhasil lulus dengan nilai A.

Tesis setebal 375 halaman dan berisi 40 foto berhasil dipertahankan Yuyung Abdi di depan para pengujinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Pada sidang ujian tanggal 19 Agustus 2010, Yuyung berhasil lulus dengan nilai A.

Para penguji mengapresiasi tesis Yuyung yang dianggap bermetode baru. Selama ini tesis tentang fotografi melulu menganalisis foto. Sementara Yuyung dianggap memproduksi makna. Konon metode Yuyung ini sepadan dengan teori exegesis, atau disebut pula axegesis. Teori tersebut merupakan cara interpretasi teks, yang oleh Yuyung ditampilkan secara visual sebagai simbolisasi dalam bentuk foto.

Butuh waktu 3 bulan untuk bisa meyakinkan Mawar agar mau difoto, barulah Yuyung menyiapkan perlengkapannya. Tercatat ada 1 bodi pro-DSLR dan 1 bodi advanced-amateur DSLR dipakai, masing-masing sebagai kamera utama dan kamera tersembunyi. Yuyung memodifikasi sendiri wadah untuk kamera tersembunyinya itu.

Ada 3 lensa yang disiapkan: lensa lebar 16-35mm f/2.8, lensa tele 70-210mm f/2.8 dan lensa normal 50mm f/1.2. Semua lensa berbukaan diafragma lebar, termasuk f/1.2, untuk bisa merekam situasi low-light. Dalam dunia intelijen bisa jadi tugas Yuyung ini disebut penyamaran. Wartawan foto senior ini musti menembus pasukan keamanan tempat-tempat hiburan dewasa dan menembakkan kameranya untuk membuat foto-foto bagus.

Dua bodi kamera DSLR dan 3 lensa berbukaan diafragma lebar diset pada aperture priority mode dan ISO 3200 serta tanpa flash untuk merekam available light.

Tak hanya di tempat-tempat “berbahaya”, Yuyung juga merekam kehidupan Mawar di waktu-waktu pribadi. Misalnya ketika Mawar sedang sakauw bahan psikotropika, istirahat di kamar pribadi, dan berbelanja di mal. Di sini Yuyung menemui kendala lain yang non-teknis, bahwa banyak identitas yang musti disamarkan. “Mustinya photo story seperti ini menuntut foto yang menampilkan interaksi Mawar dengan orang lain,” ungkap Yuyung yang dihubungi per telepon.

Untuk merekam available light pula Yuyung memakai lensa-lensa berbukaan diafragma lebar. Semua foto dibuat tanpa flash, untuk alasan keamanan dan agar foto-foto tampil dengan situasi pencahayaan apa adanya. Bahkan banyak sekali foto yang dibuat dengan ISO tinggi, mencapai ISO 3200. Semua foto dibuat dengan modus pemotretan (shooting mode) aperture priority.

Yuyung Abdi (2009). Foto oleh: Kristupa Saragih

Yuyung Abdi (2009). Foto oleh: Kristupa Saragih

Yuyung Abdi memahami benar tugasnya sebagai pewarta foto dan sebagai peneliti untuk menyusun tesis S2. Bekerja sebagai pewarta foto Harian Jawa Pos sejak 1995, Yuyung sudah memenangi banyak lomba foto dan berbicara di banyak seminar dan workshop fotografi. Sudah tiga buku diterbitkan Yuyung: Lensa Manusia (2004), Sex For Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 kota di Indonesia (2007) dan Surabaya Cantik (2010).

Pewarta foto senior berusia 41 tahun ini mengajar fotografi di sejumlah perguruan tinggi: Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra, Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unair dan beberapa perguruan tinggi lain di Surabaya. Padahal Yuyung secara formal bergelar Sarjana Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Unair.

Tesis S2 di Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi FISIP Unair berjudul “Kehidupan Pekerja Seks Surabaya dalam Photo Story” berhasil memberinya gelar Magister Media Komunikasi, disingkat MMedkom. “Saya ingin menginspirasi orang agar menggunakan foto untuk banyak hal,” ungkap Yuyung mengenai motivasi tesisnya. “Orang kira fotografi itu nggak ada ilmunya, padahal banyak sekali,” imbuhnya.

Riwayat Yuyung Abdi bisa disimak di website pribadi YuyungAbdi.com. Sementara karya-karya fotonya bisa disimak di galeri foto Yuyung Abdi di Fotografer.net.

Advertisements

Motret dengan Ponsel: BlackBerry Curve 8900 Javelin

Kecil-kecil cabe rawit. Perumpamaan itu cocok bagi telepon seluler (ponsel) BlackBerry (BB) Curve 8900 yang biasa disebut Javelin. Meski hanya kamera di ponsel, tapi cukup mumpuni pada resolusi 3,2 megapiksel.

Saya sering tergelitik dengan pertanyaan untuk mengkonfirmasi bahwa foto bagus harus dihasilkan kamera besar dan bagus. Kamera profesional, begitu kira-kira sebutannya. Padahal untuk membuat foto bagus tak perlu pakai kamera mahal.

Berikut ini saya bagikan pengalaman memotret dengan kamera pada ponsel BB Javelin. Semua tanpa sedikitpun sentuhan editing komputer. Saya upload ke blog ini pada ukuran asli.

Sudut Pengambilan dan Komposisi

The Beauty of Toba Lake. Pemandangan di Desa Silalahi, Silahisabungan, Dairi, Sumatra Utara. Waktu pemotretan pagi hari, sehingga tak terlalu terkendala dengan pencahayaan. Cukup memilih angle yang tepat sehingga mendapat komposisi fotografi yang apik. Kamera: BlackBerry Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Ide Sederhana

On Their Own. Ide foto cukup sederhana,tapi visualisasi mesti menarik dalam ramuan komposisi fotografi yang sedap dipandang. Foto ini dibuat di bagian keberangkatan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto Interior

My Room in Surabaya. Foto interior menjadi salah satu tantangan memotret dengan kamera ponsel, mengingat cahaya yang minim. Tantangan lainnya adalah rentang beda kontras (dynamic range) yang terbatas. Tapi di foto ini saya berhasil memperoleh ambient light di ruangan dengan baik, sekaligus nuansa kebiruan senja hari di jendela. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pencahayaan

White Orchid. Dalam memotret, hal paling penting adalah pencahayaan. Di foto ini, bunga anggrek putih saya foto memanfaatkan cahaya dari belakang subyek yang dalam fotografi disebut back light. Agar efektif, back light dipadukan dengan latar belakang berwarna gelap. Kebetulan situasi di sebuah hotel di Yogyakarta ini cukup apik dan tamannya ditata menarik. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Indoor dengan Flash

Veteran. Dalam situasi indoor, aktifkan flash untuk mengatasi situasi minim cahaya. Perhatikan, subyek tak bisa terlalu jauh karena kemampuan flash di kamera ponsel tak memadai. Foto ini saya buat dalam sebuah acara fotografi di Surabaya yang berkaitan dengan Hari Pahlawan, November 2009. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Indoor Tanpa Flash

FNPD. Terkadang situasi pencahayaan dalam ruangan sudah dibuat sedemikian rupa agar apik dengan warna-warninya. Dalam hal demikian, matikan fungsi flash agar kamera bisa merekam cahaya ambient. Foto ini dibuat di acara gathering anggota Fotografer.net di sebuah tempat di Surabaya. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Danto

Komposisi

Sibuk Sendiri. Subyek yang menarik ada di sekitar kita. Dalam sebuah acara jalan-jalan akhir pekan bersama teman saya Kusri, kebetulan melewati elemen interior menarik di sebuah pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Flash di-nonaktif-kan untuk merekam cahaya ambient. Garis-garis di latar belakang dimanfaatkan untuk menyusun komposisi diagonal. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Food Photography dengan Side Light dan Back Light

Sarapan Pagi. Memotret makanan jangan sembarangan, karena alih-alih menerbitkan selera nanti malah menghilangkan nafsu makan. Matikan flash di kamera agar bisa merekam cahaya yang ada di tempat (ambient light). Perhatikan arah datang cahaya, agar dimensi lebih muncul manfaatkan cahaya dari samping (side light) dan dari belakang (back light). Susun properti pendukung makanan secara logis tapi dalam susunan yang sedap dipandang agar menerbitkan air liur pemirsa foto. Saya memilih meja sarapan pagi di restoran sebuah hotel di Surabaya yang dekat jendela agar memperoleh siraman sinar matahari pagi. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Rekam Detail

Pempek Lenggang. Memotret makanan tak harus menampilkan porsi makanan secara utuh. Pilih detail yang menarik didukung dengan properti yang logis sehingga menerbitkan selera pemirsa foto. Di sebuah warung makan pempek di Yogyakarta ini cahaya ruangan sebenarnya kurang memadai. Meski tak ada jendela untuk memperoleh sinar matahari, flash tetap saya matikan agar mendapat cahaya ruangan yang lembut. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Eksterior Bangunan

Sunset in Malang. Memotret eksterior ada baiknya memperhatikan waktu pemotretan. Saat petang hari, langit senja yang membias lembayung tentu apik dipadukan dengan lampu-lampu yang sudah dinyalakan. Kebetulan saya memperoleh kamar di posisi yang tepat ketika menginap di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Detail Eksterior

Cozy Pool. Sama seperti foto makanan, foto eksterior pun tak harus merekam keseluruhan bangunan. Detail bisa lebih berbicara banyak dan membuat tampilan foto lebih sederhana agar lebih mudah dinikmati pemirsa foto. Penataan taman dan eksterior di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur kebetulan memang sudah digarap serius. Tinggal merekam suasanya saja dan meramunya dalam komposisi diagonal agar sedap dipandang. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Suasana dari Ketinggian

View to Semeru. Dalam keadaan cahaya berlimpah, tak sulit untuk membuat foto bagus. Apalagi jika langit biru dan dapat subyek yang menarik. Ketika berkunjung ke Malang, Jawa Timur saya mendapati pintu kamar menghadap ke Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Tinggal memilih waktu yang tepat di pagi hari, agar mendapat cahaya samping (side light) yang menampilkan dimensi. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Suasana Dramatis Seperti Aslinya

Jakarta Sky From 22nd Floor. Langit kerap kali tampil dramatis. Perkaranya adalah merekamnya dalam exposure yang pas agar tak terlalu terang dan terlalu gelap. Dari kamar saya di lantai 22 di Jakarta, langit sebuah petang hari kebetulan memamerkan awan yang bak disapukan kuas cat pelukis. Kamera di ponsel sudah memiliki pengukur cahaya otomatis, dan "preview"-nya bisa dilihat "real time". Saya minimalisir porsi gedung-gedung agar foto tidak terlalu terang (over-exposed) dan menambah porsi langit agar detail awal terekam baik. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Teknik Panning

Panning. Dalam fotografi ada teknik panning, yakni menggunakan slow shutter speed untuk obyek bergerak dan ketika memotret kamera ikut bergerak pula mengikuti gerakan subyek. Berhubung kamera di HP tidak bisa mengatur shutter speed secara manual, maka saya asumsikan cahaya di ruangan cukup minim sehingga kamera sudah mengeset secara otomatis shutter speed-nya. Perkara fokus tinggal diserahkan saja ke kamera, dengan cara menekan tombol memotret. Pada saat menekan tombol, keadaan kamera sudah dalam mengikuti gerakan subyek. Ada jeda waktu yang disebut "shutter lag" yang harus diperhatikan, dan kamera tetap mengayun mengikuti gerakan subyek. Foto ini saya buat ketika sedang menjadi pembicara sebuah workshop fotografi yang digelar sebuah operator seluler di kantornya di Yogyakarta. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Landscape dengan Lensa Lebar

Sunset in Tigapanah. Dalam perjalanan pulang memotret Danau Toba di Tongging kembali ke Medan, Sumatra Utara saya dan rekan-rekan seperjalanan menjumpai langit senja yang cantik. Agar memperoleh exposure yang tepat, minimalkan porsi tanah atau daratan agar foto tidak terlalu terang (over-exposed). Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Landscape dengan Lensa Tele

Sky on Fire. Memotret landscape tak harus pakai lensa lebar. Justru dengan lensa tele kita bisa membuat perspektif lebih sempit dan menambah impresi foto. Perhatikan elemen-elemen pendukung yang bisa mempercantik foto, seperti batang bambu yang saya temukan ketika memotret langit senja di Tiga Panah, dalam perjalanan pulang dari memotret di Tongging kembali ke Medan, Sumatra Utara. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Mendokumentasikan Suasana dengan Sentuhan Artistik

My Shooting Buddy. Subyek foto ada di mana-mana. Bahkan mendokumentasikan sesuatu pun bisa disajikan secara apik. Dalam perjalanan dari Tongging ke Medan, sepulang dari Danau Toba, saya dan rekan-rekan memotret langit senja yang apik di Tigapanah. Rekan-rekan yang sedang memotret saya dokumentasikan dengan tujuan merekam kisah perjalanan saya dalam foto-foto yang apik. Dan, tentu saja, teman-teman seperjalanan jadi senang karena dapat foto ketika sedang bergaya dengan kamera dan lensa mereka. Berbuat baik bagi sesama amat mudah dengan kamera kita dan foto-foto yang kita buat. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Seandainya ada waktu dan tempat yang cukup, masih ada banyak foto yang bisa di-share. Foto-foto yang saya sajikan di sini, sekali lagi ditekankan, tanpa sentuhan editing digital sedikit pun. Upload ke dalam ukuran asli.

Foto bagus bukan soal alat, kamera yang canggih atau piranti yang mahal. Memang benar, kamera yang bagus mempermudah fotografer membuat foto bagus. Tapi belum tentu kamera canggih menghasilkan foto ciamik, jika pemotretnya tidak mengerti menggunakannya.

Modal membuat foto bagus cukup sederhana. Ada mata yang jeli melihat subyek menarik. Lantas, ada hati dan rasa yang bisa merekam suasana dan mendekati subyek dengan penuh perhatian. Kemudian semuanya dipadukan di benak yang meramu hal-hal teknis dan non-teknis agar bisa tampil artistik. Mata, hati dan otak.