Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “long exposure

Memotret Kembang Api Itu Menyenangkan

Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih
Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih

Old & New 2011 in Manado. Kamera: DSLR, lensa 17-40mm, ISO 400, bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Kamera terpasang pada tripod. Foto oleh Kristupa Saragih

Siapa yang tak suka kembang api? Mengudara dan meletus pancarkan sinar warna-warni. Memotret kembang api jadi suatu kesukaan tersendiri.

Prinsip utama memotret kembang api adalah melukis dengan cahaya.

Alat yang dibutuhkan pun tak muluk. Kamera sudah mutlak, bisa berupa DSLR atau kamera saku prosumer yang punya setting manual kecepatan dan bukaan. Lensa bisa berupa lensa lebar maupun lensa tele tergantung pada situasi lokasi pemotretan. Tripod jadi piranti mutlak pemotretan kembang api lantaran penggunaan kecepatan rana lambat dan untuk mencegah camera shake.

Sebelum memotret, pastikan pilihan lokasi tepat dan terbaik. Jika asing di suatu tempat, tanya orang-orang setempat perihal atraksi kembang api beberapa jam atau sehari sebelum acara dimulai. Pastikan tak ada kabel, tiang atau kabel-kabel yang menghalangi sudut tembak.

Berada beberapa jam di tempat sebelum atraksi kembang api dimulai merupakan suatu keharusan. Tempatkan diri sebelum rekan-rekan fotografer lain mengambil tempat dengan sudut tembak terbaik. Pasang tripod sedini mungkin sebagai penanda tempat memotret dan berjaga di dekatnya sampai waktu atraksi kembang api tiba. Atraksi kembang api pasti menarik minat banyak rekan yang punya keinginan sama.

Secara teknis, pemotretan kembang api memakai ISO tinggi, minimal ISO 400 lantaran kondisi minim cahaya. Modus pemotretan disarankan set pada modus M alias manual untuk mempermudah penyesuaikan kombinasi kecepatan rana dan bukaan. Setelah set ISO barulah tentukan diafragma dan kecepatan rana.

Tak ada rumus atau dogma yang mengharuskan pemakaian kecepatan rana tertentu. Saya biasa set kecepatan rana mulai pada 1 detik dan bukaan f/5.6 di ISO 400. Buat satu dua foto, lantas ubah kecepatan rana sesuai kebutuhan. Jika 1 detik masih under-exposed atau garis kembang api kurang panjang maka ubah kecepatan menjadi 2 detik atau 4 detik, demikian seterusnya pada pecahan tiap 1 stop. Pada contoh foto di atas, saya temukan lintasan kembang api yang paling cocok jika rana dibuka selama 4 detik.

Setelah dapat kecepatan rana yang cocok, barulah diafragma disesuaikan agar memperoleh kombinasi yang tepat. Berangkat dari f/5.6 lantas naik ke f/8, f/11, f/16 atau f/22 sesuai kebutuhan akan exposure yang tepat. Pada contoh foto di atas, saya memutuskan untuk expose foto di f/16 agar cocok dengan kecepatan rana 4 detik. Semakin sempit bukaan diaframa, semakin kecil kemungkinan foto kehilangan detail pada highlight.

Setelah kamera terpasang pada tripod dan teknik di atas diterapkan, maka tinggal eksekusi pemotretan. Hati-hati menekan tombol rana, karena meski terpasang di tripod getaran tangan bisa membuat camera-shake. Set WB alias white balance sesuai suhu warna, yang pada lokasi pemotretan foto di atas, Manado, pakai  WB tungsten sesuai suhu warna lampu-lampu penerangan jalan dan gedung.

Selamat ber-kembang api ria dengan kamera Anda.

Tahun Baru di Manado. Kamera DSLR terpasang pada tripod, dengan bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Foto oleh Kristupa Saragih

Tahun Baru di Manado. Kamera DSLR terpasang pada tripod, dengan bukaan f/16 dan rana dibuka selama 4 detik. Foto oleh Kristupa Saragih


Indah Tak Tertandingi, Kemeriahan Kembang Api Tahun Baru 2011 di Manado

Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih
Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pesta kembang api Malam Tahun Baru 2011 di Manado, Sulawesi Utara. Foto oleh: Kristupa Saragih

Begitu meriah Malam Tahun Baru 2011 di Manado. Masyarakat ibukota Provinsi Sulawesi Utara ini tahu benar merayakan Malam Tahun Baru dan menikmatinya. Lebih dari 2 jam seluruh kota berpesta kembang api sahut-menyahut.

Sepanjang mata memandang, di seluruh penjuru 360 derajat, hanya nyala kembang api yang terlihat di angkasa. Besar dan kecil, tinggi dan rendah, kembang api berbagai warna mengudara di seluruh penjuru kota. Indah dan mengagumkan.

Tahun Baru 2010 lalu, ada pesta kembang api dan meriah, namun tak semeriah Malam Tahun Baru 2011. Berbagai tempat berinisiatif menggelar pesta kembang api. Tapi kembang api termeriah dipusatkan di sekitar Pohon Natal tertinggi di Asia, di kawasan Mega Mas, Boulevard Manado.

Selama masa Natal dan Tahun Baru, pohon Natal tertinggi ini menjadi landmark kota. Setinggi 50 meter, pohon Natal ini dibalut ribuan lampu dan hiasan. Pada saat pesta kembang api, pohon Natal tertinggi di Asia ini tampak makin indah.

Foto dibuat bersama kawan-kawan panitia dan peserta Manado Photo Fest 2010 dari lokasi acara.