Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “ponsel

Exploring The Dynamics of Photography

Exploring The Dynamics of Photography, Exposure Magz ed December  2014

Exploring The Dynamics of Photography, Exposure Magz ed December 2014

Tulisan ini dibuat untuk Exposure Magz edisi bulan Desember 2014

Banyak orang yang merasa bisa namun tak bisa merasa. Kesuksesan fotografer dianggap hal mudah dan bisa diperoleh semua orang begitu saja. Memang semua orang bisa membeli kamera, tapi memotret merupakan hal yang berbeda.

Perjalanan memotret saya dimulai sejak masih SMP di Jambi, ketika menjadi redaksi majalah sekolah. Menjadi serius saat sekolah di SMA Kolese De Britto di Yogyakarta dan bergabung di kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Lantas kegiatan di SMA berlanjut dengan mengurus lembaran remaja di Harian Bernas di Yogyakarta.

Masih duduk di bangku SMA pada 1992, Majalah Hai memanggil saya bergabung sebagai koresponden di Yogyakarta. Karena majalah remaja terbesar di Indonesia itu menuntut reporter piawai memotret, maka saya pun serius menggeluti fotografi. Waktu itu, memotret masih memakai kamera pinjaman dan lensa pinjaman.

Saya menyaksikan dinamika fotografi Indonesia pada pertengahan 1990-an berupa fenomena memiring-miringkan foto dan cross-process film slide dengan proses C41. Kedua fenomena itu dipopulerkan oleh Majalah Hai tempat saya bekerja.

Sayang foto-foto cross-process karya saya ini belum sempat didigitalkan. Jaman dahulu, untuk menghemat, foto biasa dicetak contact print dahulu. Dahulu, untuk menghemat biaya dan waktu, lebih mudah memotret di format film 135 ketimbang format 120 untuk medium format.

Situasi waktu itu, kaum senior yang sudah lebih dahulu belajar fotografi  memandang foto hasil cross process sebagai suatu kesalahan. Warna harus akurat, dan skin tone harus sesuai asli. Pertengahan tahun 90-an saya sudah mulai memotret model dan memperoleh uang dari memotret model.

Kontras dengan fotografi masa sekarang, yang malah musti membayar untuk motret model, dahulu langganan saya adalah model agency dan perorangan. Namun, ada kesamaan dengan masa sekarang, para senior pun menganggap hasil olah digital, efek-efek khusus di kamera dan komputer, sebagai bukan hasil karya fotografi dan dianggap tak benar.

Fenomena ini hendaknya menjadi alarm kelak jika saya juga menjadi sosok yang dianggap senior oleh para fotografer yang lebih muda daripada saya. 

Ketika kamera digital di tangan pada 2003, saya pun bereksperimen banyak hal, termasuk memotret infra red (IR). Di era film saya memotret IR dengan Kodak High Speed Infra Red atau dengan Ilford. Dengan kamera digital saya bermodalkan filter gel IR dari Ilford. 

Puas dengan hasil bereksperimen, foto IR digital saya yang diupload ke Fotografer.net (FN) menuai celaan, bahwa foto IR haruslah pakai film. Pantang mundur, saya beranggapan media berfotografi tetap menjadi media. Ide dan isi foto bisa tampil lintas media seiring waktu dan dinamika teknologi. 

Pada 2004, foto IR digital saya menggondol medali emas kategori hitam putih di Salon Foto Indonesia (SFI), foto IR digital pertama yang dapat penghargaan di berbagai lomba saat itu. Penghargaan ini menyusul Honorable Mention di SFI 2003 untuk kategori sama namun masih pakai film. 

Saya makin yakin pada IR dan lanjut bereksperimen pada IR warna. Seperti biasa, celaan mengalir, menyebut bahwa IR “haruslah” hitam putih. Namun lagi-lagi foto IR warna saya memborong Medali Perak dan Honorable Mention di SFI 2005.

Sejak 2004 orang-orang sudah mulai ber-IR ria. Saya sendiri baru pakai kamera modifikasi IR sejak 2007, buatan Harlim. Selama orang ber-eforia IR kala itu, banyak yang merasa paling dahulu mengerti IR namun tak bisa merasa bahwa ada yang lebih dahulu ber-IR, bahkan memenangi penghargaan prestisius.

Namun eforia IR ini melahirkan fenomena baru, banyak orang mendewakan teknik dan alat ketimbang isi dan ide foto. Bahkan banyak fotografer yang ber-IR ria sebelum paham teknik dasar fotografi. Semua “dihajar” dengan kamera IR namun lemah secara komposisi dan pencahayaan amburadul. 

Apalah artinya berkamera mahal namun ide foto sama dengan foto sepuluh dua puluh tahun yang lalu? Sungguh merendahkan diri sendiri jika isi foto sama dengan isi foto banyak fotografer lain, sehingga lebih cocok menggondol fotokopi ketimbang kamera sebagai fotografer.

Ketika kemudian dinamika fotografi membawa kita ke fenomena kamera ponsel dan kamera mirrorless, saya makin yakin bahwa hal yang tak berubah di fotografi adalah perubahan itu sendiri. 

Sebenarnya ada satu hal lagi yang tak berubah, bahwa banyak peniru dan follower di dunia fotografi. Bahkan banyak peniru dan follower di fotografi yang selalu mengklaim dirinya paling pertama, paling benar, paling hebat dan paling bagus namun tak sadar bahwa mereka paling tak punya harga diri.

 

 

Exposure Magz, December 2014

Exposure Magz, December 2014

Tulisan saya selengkapnya bisa dibaca dengan mengunduh gratis Exposure Magazine edisi Desember 2014 di: http://www.exposure-magz.com/2014/12/06/exposure-77th-edition/


Motret dengan Ponsel: BlackBerry Curve 8900 Javelin

Kecil-kecil cabe rawit. Perumpamaan itu cocok bagi telepon seluler (ponsel) BlackBerry (BB) Curve 8900 yang biasa disebut Javelin. Meski hanya kamera di ponsel, tapi cukup mumpuni pada resolusi 3,2 megapiksel.

Saya sering tergelitik dengan pertanyaan untuk mengkonfirmasi bahwa foto bagus harus dihasilkan kamera besar dan bagus. Kamera profesional, begitu kira-kira sebutannya. Padahal untuk membuat foto bagus tak perlu pakai kamera mahal.

Berikut ini saya bagikan pengalaman memotret dengan kamera pada ponsel BB Javelin. Semua tanpa sedikitpun sentuhan editing komputer. Saya upload ke blog ini pada ukuran asli.

Sudut Pengambilan dan Komposisi

The Beauty of Toba Lake. Pemandangan di Desa Silalahi, Silahisabungan, Dairi, Sumatra Utara. Waktu pemotretan pagi hari, sehingga tak terlalu terkendala dengan pencahayaan. Cukup memilih angle yang tepat sehingga mendapat komposisi fotografi yang apik. Kamera: BlackBerry Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Ide Sederhana

On Their Own. Ide foto cukup sederhana,tapi visualisasi mesti menarik dalam ramuan komposisi fotografi yang sedap dipandang. Foto ini dibuat di bagian keberangkatan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto Interior

My Room in Surabaya. Foto interior menjadi salah satu tantangan memotret dengan kamera ponsel, mengingat cahaya yang minim. Tantangan lainnya adalah rentang beda kontras (dynamic range) yang terbatas. Tapi di foto ini saya berhasil memperoleh ambient light di ruangan dengan baik, sekaligus nuansa kebiruan senja hari di jendela. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Pencahayaan

White Orchid. Dalam memotret, hal paling penting adalah pencahayaan. Di foto ini, bunga anggrek putih saya foto memanfaatkan cahaya dari belakang subyek yang dalam fotografi disebut back light. Agar efektif, back light dipadukan dengan latar belakang berwarna gelap. Kebetulan situasi di sebuah hotel di Yogyakarta ini cukup apik dan tamannya ditata menarik. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Indoor dengan Flash

Veteran. Dalam situasi indoor, aktifkan flash untuk mengatasi situasi minim cahaya. Perhatikan, subyek tak bisa terlalu jauh karena kemampuan flash di kamera ponsel tak memadai. Foto ini saya buat dalam sebuah acara fotografi di Surabaya yang berkaitan dengan Hari Pahlawan, November 2009. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Indoor Tanpa Flash

FNPD. Terkadang situasi pencahayaan dalam ruangan sudah dibuat sedemikian rupa agar apik dengan warna-warninya. Dalam hal demikian, matikan fungsi flash agar kamera bisa merekam cahaya ambient. Foto ini dibuat di acara gathering anggota Fotografer.net di sebuah tempat di Surabaya. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Danto

Komposisi

Sibuk Sendiri. Subyek yang menarik ada di sekitar kita. Dalam sebuah acara jalan-jalan akhir pekan bersama teman saya Kusri, kebetulan melewati elemen interior menarik di sebuah pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Flash di-nonaktif-kan untuk merekam cahaya ambient. Garis-garis di latar belakang dimanfaatkan untuk menyusun komposisi diagonal. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Food Photography dengan Side Light dan Back Light

Sarapan Pagi. Memotret makanan jangan sembarangan, karena alih-alih menerbitkan selera nanti malah menghilangkan nafsu makan. Matikan flash di kamera agar bisa merekam cahaya yang ada di tempat (ambient light). Perhatikan arah datang cahaya, agar dimensi lebih muncul manfaatkan cahaya dari samping (side light) dan dari belakang (back light). Susun properti pendukung makanan secara logis tapi dalam susunan yang sedap dipandang agar menerbitkan air liur pemirsa foto. Saya memilih meja sarapan pagi di restoran sebuah hotel di Surabaya yang dekat jendela agar memperoleh siraman sinar matahari pagi. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Rekam Detail

Pempek Lenggang. Memotret makanan tak harus menampilkan porsi makanan secara utuh. Pilih detail yang menarik didukung dengan properti yang logis sehingga menerbitkan selera pemirsa foto. Di sebuah warung makan pempek di Yogyakarta ini cahaya ruangan sebenarnya kurang memadai. Meski tak ada jendela untuk memperoleh sinar matahari, flash tetap saya matikan agar mendapat cahaya ruangan yang lembut. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Eksterior Bangunan

Sunset in Malang. Memotret eksterior ada baiknya memperhatikan waktu pemotretan. Saat petang hari, langit senja yang membias lembayung tentu apik dipadukan dengan lampu-lampu yang sudah dinyalakan. Kebetulan saya memperoleh kamar di posisi yang tepat ketika menginap di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Detail Eksterior

Cozy Pool. Sama seperti foto makanan, foto eksterior pun tak harus merekam keseluruhan bangunan. Detail bisa lebih berbicara banyak dan membuat tampilan foto lebih sederhana agar lebih mudah dinikmati pemirsa foto. Penataan taman dan eksterior di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur kebetulan memang sudah digarap serius. Tinggal merekam suasanya saja dan meramunya dalam komposisi diagonal agar sedap dipandang. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Suasana dari Ketinggian

View to Semeru. Dalam keadaan cahaya berlimpah, tak sulit untuk membuat foto bagus. Apalagi jika langit biru dan dapat subyek yang menarik. Ketika berkunjung ke Malang, Jawa Timur saya mendapati pintu kamar menghadap ke Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Tinggal memilih waktu yang tepat di pagi hari, agar mendapat cahaya samping (side light) yang menampilkan dimensi. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Suasana Dramatis Seperti Aslinya

Jakarta Sky From 22nd Floor. Langit kerap kali tampil dramatis. Perkaranya adalah merekamnya dalam exposure yang pas agar tak terlalu terang dan terlalu gelap. Dari kamar saya di lantai 22 di Jakarta, langit sebuah petang hari kebetulan memamerkan awan yang bak disapukan kuas cat pelukis. Kamera di ponsel sudah memiliki pengukur cahaya otomatis, dan "preview"-nya bisa dilihat "real time". Saya minimalisir porsi gedung-gedung agar foto tidak terlalu terang (over-exposed) dan menambah porsi langit agar detail awal terekam baik. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Teknik Panning

Panning. Dalam fotografi ada teknik panning, yakni menggunakan slow shutter speed untuk obyek bergerak dan ketika memotret kamera ikut bergerak pula mengikuti gerakan subyek. Berhubung kamera di HP tidak bisa mengatur shutter speed secara manual, maka saya asumsikan cahaya di ruangan cukup minim sehingga kamera sudah mengeset secara otomatis shutter speed-nya. Perkara fokus tinggal diserahkan saja ke kamera, dengan cara menekan tombol memotret. Pada saat menekan tombol, keadaan kamera sudah dalam mengikuti gerakan subyek. Ada jeda waktu yang disebut "shutter lag" yang harus diperhatikan, dan kamera tetap mengayun mengikuti gerakan subyek. Foto ini saya buat ketika sedang menjadi pembicara sebuah workshop fotografi yang digelar sebuah operator seluler di kantornya di Yogyakarta. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Landscape dengan Lensa Lebar

Sunset in Tigapanah. Dalam perjalanan pulang memotret Danau Toba di Tongging kembali ke Medan, Sumatra Utara saya dan rekan-rekan seperjalanan menjumpai langit senja yang cantik. Agar memperoleh exposure yang tepat, minimalkan porsi tanah atau daratan agar foto tidak terlalu terang (over-exposed). Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Landscape dengan Lensa Tele

Sky on Fire. Memotret landscape tak harus pakai lensa lebar. Justru dengan lensa tele kita bisa membuat perspektif lebih sempit dan menambah impresi foto. Perhatikan elemen-elemen pendukung yang bisa mempercantik foto, seperti batang bambu yang saya temukan ketika memotret langit senja di Tiga Panah, dalam perjalanan pulang dari memotret di Tongging kembali ke Medan, Sumatra Utara. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Mendokumentasikan Suasana dengan Sentuhan Artistik

My Shooting Buddy. Subyek foto ada di mana-mana. Bahkan mendokumentasikan sesuatu pun bisa disajikan secara apik. Dalam perjalanan dari Tongging ke Medan, sepulang dari Danau Toba, saya dan rekan-rekan memotret langit senja yang apik di Tigapanah. Rekan-rekan yang sedang memotret saya dokumentasikan dengan tujuan merekam kisah perjalanan saya dalam foto-foto yang apik. Dan, tentu saja, teman-teman seperjalanan jadi senang karena dapat foto ketika sedang bergaya dengan kamera dan lensa mereka. Berbuat baik bagi sesama amat mudah dengan kamera kita dan foto-foto yang kita buat. Kamera: BB Curve 8900 Javelin. Foto oleh: Kristupa Saragih

Seandainya ada waktu dan tempat yang cukup, masih ada banyak foto yang bisa di-share. Foto-foto yang saya sajikan di sini, sekali lagi ditekankan, tanpa sentuhan editing digital sedikit pun. Upload ke dalam ukuran asli.

Foto bagus bukan soal alat, kamera yang canggih atau piranti yang mahal. Memang benar, kamera yang bagus mempermudah fotografer membuat foto bagus. Tapi belum tentu kamera canggih menghasilkan foto ciamik, jika pemotretnya tidak mengerti menggunakannya.

Modal membuat foto bagus cukup sederhana. Ada mata yang jeli melihat subyek menarik. Lantas, ada hati dan rasa yang bisa merekam suasana dan mendekati subyek dengan penuh perhatian. Kemudian semuanya dipadukan di benak yang meramu hal-hal teknis dan non-teknis agar bisa tampil artistik. Mata, hati dan otak.