Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

Posts tagged “Surabaya

Suatu Pagi di Pasar Pabean Surabaya

Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya. Foto oleh: Kristupa Saragih
Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya. Foto oleh: Kristupa Saragih

Friendly. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Kota metropolitan Surabaya masih menyimpan harta karun berupa pasar tradisional. Di tengah himpitan kehidupan modern dan kepungan hutan beton pusat perbelanjaan mewah, masih ada Pasar Pabean di daerah kota lama Surabaya. Pasar besar yang masih berdenyut dengan keramaian khas pasar tradisional Indonesia.

Ada banyak pedagang, mulai dari sayur mayur hingga ikan dan daging-dagingan. Mulai dari rempah-rempah hingga buah-buahan. Tersedia pula perkakas rumah tangga dan berbagai jenis pakaian.

Tak ada data resmi perihal tahun resmi pendirian Pasar Pabean. Tapi ada foto tua Pasar Pabean bertarikh 1899. Selangkah dari sana, ada Stasiun Surabaya Kota, yang dikenal dengan nama Stasiun Semut, yang berdiri tahun 1878. Jadi, kira-kira Pasar Pabean sudah berdiri sejak akhir abad 19.

Secara fotografis, Pasar Pabean menyimpan banyak subyek human interest. Aman untuk mondar-mandir membawa kamera, dan para pedagang pun ramah sepanjang fotografer pandai membawa diri. Terdengar kental bahasa Madura di seluruh pasar, pertanda dominasi etnis ini sebagai pedagang pasar.

Berikut beberapa foto yang dibuat pada kunjungan ke Pasar Pabean, Minggu (24/04) bersama beberapa kawan penggemar fotografi di Surabaya.

Contented. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Contented. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Occupied. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Occupied. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Swinging. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Swinging. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Triangular. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Triangular. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Busy. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Busy. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Fellows. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Fellows. Pedagang Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Inside The Market. Suasana Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Inside The Market. Suasana Pasar Pabean Surabaya, Minggu (24/04). Foto oleh: Kristupa Saragih

Advertisements

Memahami Fotografi Arsitektur

Golf Avenue - Citraland Surabaya. Photo by Kristupa Saragih
Golf Avenue - Citraland Surabaya. Photo by Kristupa Saragih

Golf Avenue - Citraland Surabaya. Photo by Kristupa Saragih

Fotografi dan arsitektur, dua hal yang berhubungan erat. Demikianlah fotografi arsitektur mengabadikan subyek-subyek arsitektur dalam bungkus estetika fotografi. Tak hanya menonjolkan subyek arsitektural, tapi juga mengindahkan kaidah-kaidah fotografi.

Hal terpenting dalam fotografi arsitektur, dan cabang-cabang fotografi lainnya, adalah cahaya. Cahaya bisa menampilkan wujud dan bentuk, yang bermuara pada visualisasi dimensi. Cahaya melahirkan bayangan, yang jangan dihilangkan, melainkan dimainkan dengan cantik. Permainan bayangan niscaya tak kalah ampuh untuk juga menampilkan wujud, bentuk dan dimensi.

\ - Fort Rotterdam, Makassar. Photo by Kristupa Saragih

\ - Fort Rotterdam, Makassar. Photo by Kristupa Saragih

Panjang pendek bayangan dan keras lembut cahaya memegang peranan penting dalam pencahayaan fotografi arsitektur. Kerap kali ada kendala beda kontras tinggi, semisal dalam foto interior, yang bisa diatasi dengan pemahaman mumpuni tentang pencahayaan. Demikian pula dengan karakter material bangunan dan interior, yang bisa tampil baik dengan pemahaman pencahayaan yang baik pula.

Tanpa pemahaman baik tentang pencahayaan, fotografi arsitektur hanya berupa foto dokumentasi biasa yang kebetulan bersubyek karya arsitektur.

Selain kaidah-kaidah pencahayaan, fotografi arsitektur patut menempatkan komposisi fotografi pada posisi penting. Elemen-elemen titik, garis, bentuk dan wujud dalam karya arsitektur mudah diramu jadi sajian komposisi yang sedap dipandang. Komposisi berhadapan dengan persepsi, dan persepsi berdiri di atas imajinasi. Demikianlah fotografi arsitektur berdiri kokoh di atas pemahaman estetika visual.

Karya arsitektur mudah dijumpai dan merupakan hal menyenangkan untuk mengabadikannya dalam karya foto. Lagipula, fotografi arsitektur tak hanya bersubyek bangunan, melainkan juga pemukiman, kawasan dan kota. Akan lebih bermakna dan bernas jika fotografi arsitektur memvisualisasikan keberadaan karya arsitektur dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Dual View - Fort Rotterdam, Makassar. Photo by Kristupa Saragih

Dual View - Fort Rotterdam, Makassar. Photo by Kristupa Saragih

 

Colourful Windows - Singapore. Photo by Kristupa Saragih

Colourful Windows - Singapore. Photo by Kristupa Saragih

Tengkera Mosque - Malacca. Photo by Kristupa Saragih

Tengkera Mosque - Malacca. Photo by Kristupa Saragih

View From Ban Po Thar - Penang. Photo by Kristupa Saragih

View From Ban Po Thar - Penang. Photo by Kristupa Saragih


Buku Fotografi Agung Krisprimandoyo: Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo
Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Amazing Places: They Inspired Me and Will Inspire You karya D Agung Krisprimandoyo

Seorang kawan D Agung Krisprimandoyo bertandang ke kantor dan memberikan buku fotografi karyanya, Selasa (22/02). Berdisain grafis sampul menarik, buku itu berjudul “Amazing Places, They Inspired Me and Will Inspire You”. Isinya ternyata lebih menarik ketimbang sampul dan judulnya.

Berisi 75 karya foto yang dibuat di seluruh dunia, Agung Pimo, demikian panggilan akrabnya, hendak berbagi tempat-tempat yang menginspirasinya. Sebagian besar dibuat Agung Pimo dalam perjalanan dinas ke berbagai tempat. Dan semua foto dibuat dengan kamera DSLR kelas amatir dan lensa biasa, bukan kamera dan lensa-lensa mahal, bahkan beberapa foto dibuat dengan kamera saku.

“Istri dan anak-anak saya bertanya, mengapa tidak membeli beberapa postcard saja yang lebih mudah dan murah sebagai oleh-oleh dibandingkan bersusah payah membawa kamera, lensa dan tripod hanya untuk mengabadikan suatu tempat dan bahan untuk bercerita mengenai suatu perjalanan,” tulis Agung Pimo pada kata pengantar buku ini. Satu foto berbicara seribu kata, a picture speaks thousand words. Dan bahasa gambar yang dibuat secara personal mengekspresikan kesan pribadi fotografer ketimbang kartu pos yang dibuat orang lain.

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Malaca, Malaysia karya D Agung Krisprimandoyo

Diterbitkan oleh Fotografer.net, buku ini memuat foto-foto dari dataran tinggi Tengger di Bromo hingga Grand Canyon di Arizona, AS. Mulai dari Pura Taman Ayun di Bali hingga Temple of Heaven di Beijing, Cina. Ada pula foto rumah art deco Villa Isola di Bandung dan kanal-kanal di Venesia, Italia.

Foto-foto dikelompokkan menjadi 11: Mountains, The Coast, Flowers, Famous Places, Skylines, Places of Worship, Temple, Traffic & Transport, Architecture, Heritage, dan Theme Park. Seluruh foto berupa foto-foto tempat, baik dalam bentuk foto pemandangan, perkotaan maupun arsitektur. Sesuai judulnya, buku ini minim pemaparan tentang foto-foto manusia.

Seluruh foto disertai data teknis sederhana, berupa jenis kamera, kecepatan rana dan bukaan diafragma. Secara teknis, terlihat benar bahwa Agung Pimo paham benar teknik fotografi, meskipun bersenjatakan kamera sederhana. Lagipula, dalam perjalanan dinas, tentu akan terasa repot dan berlebihan untuk membawa banyak kamera dan lensa-lensa mahal. Agung Pimo, yang bermukim di Surabaya ini, melihat dan berkarya secara sederhana dan apa adanya. Fotografi merupakan sesuatu yang menyenangkan, bukan sebaliknya.

Buku ini direkomendasikan untuk dibaca sebagai motivator fotografer pemula. Selain itu, traveling photographer juga bisa menggali berbagai ide dan inspirasi dari foto-foto berbagai tempat di seluruh penjuru dunia di buku ini. Para business traveler bisa menjadikan buku ini acuan untuk memotret di sela-sela waktu beraktivitas bisnis.

Bekerja sebagai eksekutif di sebuah grup raksasa di bidang properti tak membuat Agung Pimo kehabisan waktu dan energi. Dalam beberapa tahun terakhir ini Agung Pimo juga menempuh studi Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya. Dan buku Amazing Places ini semula dibuat alumni SMA Kolese De Britto dan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Parahyangan ini sebagai cenderamata pengukuhan gelar S3.

Kamera dan lensa ibarat mata ketiga seorang fotografer. Mata ketiga yang melengkapi mata hati fotografer sebagai seorang manusia. Dan menjadi wakil bagi jutaan pasang mata para pemirsa foto yang tak bisa berkunjung ke suatu momen secara langsung.

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo

Temple of Heaven, Beijing, China karya D Agung Krisprimandoyo


Yuyung Abdi dan Tesis Magister tentang Fotografi

Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah klub malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi
Berangat kerja. Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah tempat hiburan malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi

Berangat kerja. Dalam siklus hidupnya, Mawar menjalani hidup dengan bekerja di sebuah tempat hiburan malam di Surabaya. Demi mengamankan identitasnya, Mawar terlihat dari belakang dengan pakaian dan tata rambut kesehariannya ketika bertugas. Terlihat Mawar pada suatu sore ketika melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya. Foto oleh: Yuyung Abdi

Banyak tesis magister (S2) tentang fotografi tapi tak semua ditulis oleh fotografer. Ada pula beberapa tesis S2 tentang fotografi tapi tak semuanya ditulis fotografer yang masih aktif memotret. Yuyung Abdi, fotografer senior dan redaktur foto Harian Jawa Pos, memenuhi kedua hal tersebut.

Berangkat dari pengalaman dan pekerjaan sehari-hari, Yuyung Abdi mengobservasi kehidupan seorang pekerja seks komersial (PSK) di Surabaya. Suatu aspek kehidupan yang sering ditulis kulitnya tanpa mengupas lantas didalami isinya. Bahasa fotografi menjadi amat jujur, berbicara apa adanya tentang kebenaran.

Observasi selama 2 bulan untuk total penelitian selama 11 bulan, termasuk 3 bulan pendekatan ke subyek penelitian.

Setelah observasi 2 bulan, kemudian Yuyung menemukan seorang PSK bernama, sebut saja Mawar. Dalam kesehariannya Mawar punya banyak nama, sesuai tempat bekerja, seperti Noni, Ana dan Denok. Tapi apalah artinya nama dalam kehidupan seperti drama yang dijalani Mawar, seorang PSK muda yang baru berusia 20-an tahun.

Atas persetujuan Mawar, lantas Yuyung mulai tugas penelitiannya selama 11 bulan. Kurun waktu yang cukup lama untuk menyita waktu dan tenaga serta biaya. Yuyung mengikuti kehidupan PSK ini sejak Mawar tobat dan masuk pesantren. Orang tua Mawar yang tinggal di sebuah kota di pantai utara Jawa Timur terhitung religius. Lantas diceritakan pula Mawar yang menikah dini, hamil dan bercerai. Kemudian F menikah lagi, hamil untuk kedua kali, dan bekerja sebagai baby-sitter.

Drama memasuki babak baru kala suami pertama datang mengajak rujuk, lantas Mawar menggugurkan kandungan. Bercerai lagi untuk kedua kali, Mawar lantas kembali ke tempat ia pernah hidup, lokalisasi PSK di Dolly, Surabaya.

Datang kembali ke Dolly, lantaran dalam keadaan berjilbab, Mawar dianggap mata-mata oleh para mucikari. Tapi kemudian bisa meyakinkan mereka, lantas bekerja dengan tarif Rp 125 ribu. Karena paras rupawan, Mawar melesat jadi primadona. Mawar pernah melayani 29 pelanggan dalam satu hari. Rekornya dalam sebulan bisa mengantongi uang Rp 25 juta.

Kisahnya belum berakhir, karena Mawar keluar dari Dolly. Ia bergerilya di sejumlah panti pijat, pub dan karaoke. Seorang lelaki 40 tahunan berniat menikahinya. Tapi kisahnya masih berlanjut dan bisa disimak di publikasi tesis S2 Yuyung Abdi.

Tesis setebal 374 halaman berisi 40 foto berhasil lulus dengan nilai A.

Tesis setebal 375 halaman dan berisi 40 foto berhasil dipertahankan Yuyung Abdi di depan para pengujinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Pada sidang ujian tanggal 19 Agustus 2010, Yuyung berhasil lulus dengan nilai A.

Para penguji mengapresiasi tesis Yuyung yang dianggap bermetode baru. Selama ini tesis tentang fotografi melulu menganalisis foto. Sementara Yuyung dianggap memproduksi makna. Konon metode Yuyung ini sepadan dengan teori exegesis, atau disebut pula axegesis. Teori tersebut merupakan cara interpretasi teks, yang oleh Yuyung ditampilkan secara visual sebagai simbolisasi dalam bentuk foto.

Butuh waktu 3 bulan untuk bisa meyakinkan Mawar agar mau difoto, barulah Yuyung menyiapkan perlengkapannya. Tercatat ada 1 bodi pro-DSLR dan 1 bodi advanced-amateur DSLR dipakai, masing-masing sebagai kamera utama dan kamera tersembunyi. Yuyung memodifikasi sendiri wadah untuk kamera tersembunyinya itu.

Ada 3 lensa yang disiapkan: lensa lebar 16-35mm f/2.8, lensa tele 70-210mm f/2.8 dan lensa normal 50mm f/1.2. Semua lensa berbukaan diafragma lebar, termasuk f/1.2, untuk bisa merekam situasi low-light. Dalam dunia intelijen bisa jadi tugas Yuyung ini disebut penyamaran. Wartawan foto senior ini musti menembus pasukan keamanan tempat-tempat hiburan dewasa dan menembakkan kameranya untuk membuat foto-foto bagus.

Dua bodi kamera DSLR dan 3 lensa berbukaan diafragma lebar diset pada aperture priority mode dan ISO 3200 serta tanpa flash untuk merekam available light.

Tak hanya di tempat-tempat “berbahaya”, Yuyung juga merekam kehidupan Mawar di waktu-waktu pribadi. Misalnya ketika Mawar sedang sakauw bahan psikotropika, istirahat di kamar pribadi, dan berbelanja di mal. Di sini Yuyung menemui kendala lain yang non-teknis, bahwa banyak identitas yang musti disamarkan. “Mustinya photo story seperti ini menuntut foto yang menampilkan interaksi Mawar dengan orang lain,” ungkap Yuyung yang dihubungi per telepon.

Untuk merekam available light pula Yuyung memakai lensa-lensa berbukaan diafragma lebar. Semua foto dibuat tanpa flash, untuk alasan keamanan dan agar foto-foto tampil dengan situasi pencahayaan apa adanya. Bahkan banyak sekali foto yang dibuat dengan ISO tinggi, mencapai ISO 3200. Semua foto dibuat dengan modus pemotretan (shooting mode) aperture priority.

Yuyung Abdi (2009). Foto oleh: Kristupa Saragih

Yuyung Abdi (2009). Foto oleh: Kristupa Saragih

Yuyung Abdi memahami benar tugasnya sebagai pewarta foto dan sebagai peneliti untuk menyusun tesis S2. Bekerja sebagai pewarta foto Harian Jawa Pos sejak 1995, Yuyung sudah memenangi banyak lomba foto dan berbicara di banyak seminar dan workshop fotografi. Sudah tiga buku diterbitkan Yuyung: Lensa Manusia (2004), Sex For Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 kota di Indonesia (2007) dan Surabaya Cantik (2010).

Pewarta foto senior berusia 41 tahun ini mengajar fotografi di sejumlah perguruan tinggi: Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra, Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unair dan beberapa perguruan tinggi lain di Surabaya. Padahal Yuyung secara formal bergelar Sarjana Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Unair.

Tesis S2 di Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi FISIP Unair berjudul “Kehidupan Pekerja Seks Surabaya dalam Photo Story” berhasil memberinya gelar Magister Media Komunikasi, disingkat MMedkom. “Saya ingin menginspirasi orang agar menggunakan foto untuk banyak hal,” ungkap Yuyung mengenai motivasi tesisnya. “Orang kira fotografi itu nggak ada ilmunya, padahal banyak sekali,” imbuhnya.

Riwayat Yuyung Abdi bisa disimak di website pribadi YuyungAbdi.com. Sementara karya-karya fotonya bisa disimak di galeri foto Yuyung Abdi di Fotografer.net.


Pakai Kamera Saku Juga Bisa Membuat Foto Bagus

Saya risau sekali jika mendapati rekan-rekan penyuka fotografi yang beranggapan membuat foto bagus harus pakai kamera DSLR, yang besar, bagus dan mahal. Padahal kamera saku pun bisa menghasilkan foto-foto bagus.

Berikut beberapa foto hasil jepretan menggunakan kamera saku Canon PowerShot G10 yang saya buat. Foto-foto dan tulisan ini dibuat tanpa sponsorship sama sekali dari Canon, maupun dealer dan distributornya. Jadi, saya bisa menggaransi kejujuran membedah foto-foto dengan kamera saku ini.

Panorama Bromo | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/160 - ISO 100 - Kompensasi +1 - Focal length 6mm - Modus Pengukuran cahaya: Center Weighted - Filter Circular Polarizing | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Panorama Bromo” di atas dibuat dengan metode seolah-olah saya memakai kamera besar. Metode yang saya pakai adalah kompensasi pencahayaan lebih terang 1 stop, karena pengukuran cahaya normal menghasilkan foto under-exposed. Tak sulit mengetahui over atauunder, lantaran kamera digital sudah dilengkapi LCD. Pendekatan lain adalah penggunaan filtercircular polarizing (CPL), dengan tujuan untuk memekatkan warna biru di langit dan menambah saturasi warna.

Kebakaran di Makassar | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/800 - ISO 400 - Kompensasi 0 - Focal length 16mm - Modus pengukuran cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Kebakaran di Makassar” saya buat dengan pendekatan jurnalistik, alias tanpa rencana dan merupakan spontanitas atas peristiwa yang sedang terjadi dan sedang saya lihat. Foto dibuat dari kursi saya pada penerbangan MZ 708, 12 Juni 2009 jam 08:55 WITA, dari Jogja ke Makassar, pada saat pesawat sedang approach runway Bandara Hasanuddin.

Tidak ada filter yang saya pakai. ISO 400 dipakai untuk menjamin gambar tidak goyang (shake). Sementara bukaan f/8 dipakai untuk memperoleh ruang tajam (depth of field) yang luas. Tak ada kompensasi pencahayaan, karena hasil pemotretan sudah correct exposureFocal length 16 mm merupakan jangkauan lensa tele di Canon G10.

Interior Bandara Hasanuddin | Canon G10 - Bukaan f/5 - Kecepatan 1/60 - ISO 400 - Kompensasi 0 - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Kamera saku cukup handal untuk memotret di dalam ruangan dengan pencahayaan minim. Foto “Interior Bandara Hasanuddin” dibuat pada sore hari jam 17:52 WITA, sembari menunggu keberangkatan MZ 709 dari Makassar ke Jogja. Interior bandara ini memang bagus dan menarik nan fotogenik pula.

Focal length 6mm menandakan lensa diset selebar-lebarnya. Kondisi pencahayaan kontras tinggi, karena jendela yang berukuran amat besar, sementara kondisi dalam ruangan sudah temaram yang ditandai dengan lampu-lampu yang telah dinyalakan. Karena itulah ISO 400 dipakai agar kamera tidak goyang meskipun handheld tanpa tripod.

Ternyata rentang beda kontras (dynamic range) kamera saku ini cukup lebar dan toleran. Terbukti, bagian terang (highlight) masih terekam baik. Sementara bagian gelap (shadow) pun masih menyisakan detail.

Red & Blue Splashes | Canon G10 - Bukaan f/4.5 - Kecepatan 1/1000 - ISO 800 - Kompensasi +1 stop - Focal length 30mm - Modus pengukuran cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Foto “Red & Blue Splashes” merupakan hasil penjajalan kamera saku ini dengan lampu studio dan kecepatan rana tinggi (high shutter speed). Lampu studio yang dipakai merupakan jenis continuous dengan suhu warna (color temperature) daylight 5000-5500 Kelvin. Sementara kecepatan rana tinggi dipakai untuk membekukan gerak, alias teknik freezing.

Sebenarnya kamera saku kecil ini dilengkapi hot shoe untuk menghubungkannya dengan lampu kilat (flash). Tapi dengan pertimbangan agar mendekati fitur yang ada di kamera-kamera saku lain secara umum, saya set Canon G10 tanpa flash pada pencahayaan dari lampu continuous.

ISO 800 merupakai ISO tinggi yang dipakai dengan tujuan memperoleh kecepatan rana setinggi-tingginya. Lantaran untuk memperoleh efek freezing, kecepatan rana musti di atas 1/500 detik. Konsekuensi ISO tinggi adalah butiran (grain) yang kasar, tapi ternyata masih relatif halus terlihat di foto ini.

Kokoh | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/200 - Kompensasi 0.7 stop - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Kembali ke luar ruangan, kamera saku bersifat ringkas hingga mudah dibawa ke mana-mana. Jika kebetulan melintasi eksterior gedung yang menarik, tinggal ambil, bidik dan jepret. Misalnya saja ketika saya melewati sebuah bangunan apartemen di Surabaya ini, pada foto “Kokoh” ini.

Reflection on Star | Canon G10 - Bukaan f/8 - Kecepatan 1/15 - ISO 200 - Kompensasi Pencahayaan -0.7 stop - Focal Length 6 mm - Modus Pengukuran Cahaya: Center Weighted | Foto oleh: Kristupa Saragih

Sifat unggulan kamera saku adalah kemudahan pengoperasian. Dari sifat ini bisa ditarik manfaat, yakni fotografer bisa berkonsentrasi pada ide foto dan subyek foto, tanpa perlu dipusingkan dengan hal-hal teknis. Toh, namanya juga kamera saku, alias pocket camera, alias compact camera, alias point and shoot camera.

Foto “Reflection on Star” diperoleh ketika sedang melintas di tempat parkir sebuah gedung. Kebetulan ada refleksi menarik di kap mesin sebuah mobil. Cukup dengan ide sederhana, tapi dikemas dalam komposisi yang apik, maka jadilah foto yang unik.

Masih banyak foto-foto kreatif dan unik yang bisa dibuat dengan kamera saku. Tak harus terpaku dengan kamera besar alias kamera DSLR. Foto bagus tak tergantung pada alat yang bagus, melainkan ide yang muncul di benak fotografer, mata yang jeli membidik dan kreativitas yang berbatas imajinasi.

Mengagung-agungkan alat sama dengan sifat materialistis yang hanya memandang dan menghormati segala sesuatu yang bersifat kebendaan dan kasat mata. Memang, kamera yang bagus membantu untuk mempermudah membuat foto bagus. Tapi, sekali lagi, foto bagus tak harus dibuat dengan kamera yang mahal dan bagus.

Memotret tak sulit. Cukup dengan memahami teori dasar fotografi, maka modal awal dan utama sudah di tangan. Kunci selanjutnya, untuk membuat foto bagus, adalah banyak berlatih. Sarana untuk mempermudah belajar foto adalah bergaul aktif di komunitas fotografi yang sehat dan bonafid.