Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

This is Kristupa-ism

Kristupa Saragih Photography, Journal and Thoughts
  • Exploring The Dynamics of Photography, Exposure Magz ed December 2014
  • Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014
  • Di lokasi pengungsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara di GBKP Kabanjahe bersama Pdt Nurbeti br Ginting (paling kiri), Ketua Harian Toba Photo Club (TPC) Johnny Siahaan (kedua dari kanan), dan pengurus TPC Eduard Perangin-angin (paling kanan), Mei 2014.
  • Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih
  • Sepasang anak perempuan berkostum unik di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Latest

Exploring The Dynamics of Photography

Exploring The Dynamics of Photography, Exposure Magz ed December  2014

Exploring The Dynamics of Photography, Exposure Magz ed December 2014

Tulisan ini dibuat untuk Exposure Magz edisi bulan Desember 2014

Banyak orang yang merasa bisa namun tak bisa merasa. Kesuksesan fotografer dianggap hal mudah dan bisa diperoleh semua orang begitu saja. Memang semua orang bisa membeli kamera, tapi memotret merupakan hal yang berbeda.

Perjalanan memotret saya dimulai sejak masih SMP di Jambi, ketika menjadi redaksi majalah sekolah. Menjadi serius saat sekolah di SMA Kolese De Britto di Yogyakarta dan bergabung di kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Lantas kegiatan di SMA berlanjut dengan mengurus lembaran remaja di Harian Bernas di Yogyakarta.

Masih duduk di bangku SMA pada 1992, Majalah Hai memanggil saya bergabung sebagai koresponden di Yogyakarta. Karena majalah remaja terbesar di Indonesia itu menuntut reporter piawai memotret, maka saya pun serius menggeluti fotografi. Waktu itu, memotret masih memakai kamera pinjaman dan lensa pinjaman.

Saya menyaksikan dinamika fotografi Indonesia pada pertengahan 1990-an berupa fenomena memiring-miringkan foto dan cross-process film slide dengan proses C41. Kedua fenomena itu dipopulerkan oleh Majalah Hai tempat saya bekerja.

Sayang foto-foto cross-process karya saya ini belum sempat didigitalkan. Jaman dahulu, untuk menghemat, foto biasa dicetak contact print dahulu. Dahulu, untuk menghemat biaya dan waktu, lebih mudah memotret di format film 135 ketimbang format 120 untuk medium format.

Situasi waktu itu, kaum senior yang sudah lebih dahulu belajar fotografi  memandang foto hasil cross process sebagai suatu kesalahan. Warna harus akurat, dan skin tone harus sesuai asli. Pertengahan tahun 90-an saya sudah mulai memotret model dan memperoleh uang dari memotret model.

Kontras dengan fotografi masa sekarang, yang malah musti membayar untuk motret model, dahulu langganan saya adalah model agency dan perorangan. Namun, ada kesamaan dengan masa sekarang, para senior pun menganggap hasil olah digital, efek-efek khusus di kamera dan komputer, sebagai bukan hasil karya fotografi dan dianggap tak benar.

Fenomena ini hendaknya menjadi alarm kelak jika saya juga menjadi sosok yang dianggap senior oleh para fotografer yang lebih muda daripada saya. 

Ketika kamera digital di tangan pada 2003, saya pun bereksperimen banyak hal, termasuk memotret infra red (IR). Di era film saya memotret IR dengan Kodak High Speed Infra Red atau dengan Ilford. Dengan kamera digital saya bermodalkan filter gel IR dari Ilford. 

Puas dengan hasil bereksperimen, foto IR digital saya yang diupload ke Fotografer.net (FN) menuai celaan, bahwa foto IR haruslah pakai film. Pantang mundur, saya beranggapan media berfotografi tetap menjadi media. Ide dan isi foto bisa tampil lintas media seiring waktu dan dinamika teknologi. 

Pada 2004, foto IR digital saya menggondol medali emas kategori hitam putih di Salon Foto Indonesia (SFI), foto IR digital pertama yang dapat penghargaan di berbagai lomba saat itu. Penghargaan ini menyusul Honorable Mention di SFI 2003 untuk kategori sama namun masih pakai film. 

Saya makin yakin pada IR dan lanjut bereksperimen pada IR warna. Seperti biasa, celaan mengalir, menyebut bahwa IR “haruslah” hitam putih. Namun lagi-lagi foto IR warna saya memborong Medali Perak dan Honorable Mention di SFI 2005.

Sejak 2004 orang-orang sudah mulai ber-IR ria. Saya sendiri baru pakai kamera modifikasi IR sejak 2007, buatan Harlim. Selama orang ber-eforia IR kala itu, banyak yang merasa paling dahulu mengerti IR namun tak bisa merasa bahwa ada yang lebih dahulu ber-IR, bahkan memenangi penghargaan prestisius.

Namun eforia IR ini melahirkan fenomena baru, banyak orang mendewakan teknik dan alat ketimbang isi dan ide foto. Bahkan banyak fotografer yang ber-IR ria sebelum paham teknik dasar fotografi. Semua “dihajar” dengan kamera IR namun lemah secara komposisi dan pencahayaan amburadul. 

Apalah artinya berkamera mahal namun ide foto sama dengan foto sepuluh dua puluh tahun yang lalu? Sungguh merendahkan diri sendiri jika isi foto sama dengan isi foto banyak fotografer lain, sehingga lebih cocok menggondol fotokopi ketimbang kamera sebagai fotografer.

Ketika kemudian dinamika fotografi membawa kita ke fenomena kamera ponsel dan kamera mirrorless, saya makin yakin bahwa hal yang tak berubah di fotografi adalah perubahan itu sendiri. 

Sebenarnya ada satu hal lagi yang tak berubah, bahwa banyak peniru dan follower di dunia fotografi. Bahkan banyak peniru dan follower di fotografi yang selalu mengklaim dirinya paling pertama, paling benar, paling hebat dan paling bagus namun tak sadar bahwa mereka paling tak punya harga diri.

 

 

Exposure Magz, December 2014

Exposure Magz, December 2014

Tulisan saya selengkapnya bisa dibaca dengan mengunduh gratis Exposure Magazine edisi Desember 2014 di: http://www.exposure-magz.com/2014/12/06/exposure-77th-edition/

Fotografi untuk Keutuhan NKRI

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Alam permai Indonesia membelai wajah bak sapuan ombak di pantai-pantai Natuna dan Anambas, Kepulauan Riau. Lestari menyejukkan seperti hembusan hawa segar hutan Taman Nasional Kayan Mentarang di Malinau, Kalimantan Utara. Indah memukau mata seperti hamparan dataran tinggi pegunungan-pegunungan Papua.

Ikan-ikan berlari-larian di antara warna-warni terumbu karang taman laut Bunaken, Sulawesi Utara. Alunan sasando membuai telinga sembari berdansa tatkala berada di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Dalam beberapa perjalanan ke sejumlah daerah terdepan Indonesia, yang berbatasan darat maupun laut dengan negara-negara tetangga, ada banyak cerita tentang pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berkaitan dengan fotografi.

Ketika peradaban manusia modern melebihi budaya lisan dan tulis, gaya bertutur secara visual menjadi tatanan budaya baru. Gambar lebih mudah dan lebih cepat terserap daripada tulisan dan kata-kata. Bisa jadi, gambar pun lebih mudah diingat.

Banyak orang tahu bahwa Natuna dan Anambas adalah milik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Alamnya indah, dengan imbuhan “kata orang”, selain kekayaan sumber daya alam hidrokarbon. Keindahan alam Natuna secara mudah terpaparkan oleh gambar tatkala foto-foto tim hunting Fotografer.net (FN) dipublikasikan setelah kunjungan atas undangan Dandim Natuna, Korem 033/WP, Alm Letkol Inf Hendra Heryana. Komandan Korem (Danrem) 033/WP, waktu itu, Brigjen TNI Deni K Irawan pun mendukung peran fotografi di satuan kewilayahan pimpinannya.

Dari perjalanan fotografi itulah terpapar secara luas keindahan gunung dan pantai Natuna. Dari salah satu perjalanan ke Anambas bisa terpapar pula foto-foto pantai terindah menurut CNN Travel dan menegaskan bahwa pantai-pantai itu milik NKRI. 

Berkaitan dengan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi, sempat terdengar ungkapan “Garuda di dada kami, tapi negara asing di perut kami” terucap oleh penduduk yang tinggal di beranda depan NKRI di Malinau, Kalimanan Utara (Kaltara). Suatu realitas yang tak pada tempatnya untuk ditanggapi secara reaktif buta seperti pepatah “buruk muka, cermin dibelah”.

Prakarsa Dandim Malinau, Korem 091/ASN, Letkol Inf Agus Bhakti bergandengan tangan bersama Bupati Malinau Dr Yansen Tipa Padang membuahkan kunjungan-kunjungan fotografer yang menyebarluaskan keotentikan budaya luhur masyarakat adat Dayak.

Pada suatu akhir pekan, Kodim Malinau menggelar HUT dengan Kaltara Photography Camp yang dihadiri para fotografer dari seluruh penjuru Kaltara: Malinau, Nunukan, Tana Tidung, Bulungan dan Tarakan, dan sejumlah fotografer ibukota. Bermalam di hutan air terjun Semolon, para fotografer mengelilingi api unggun dan Bupati mengumandangkan puisi-puisi persatuan dan kesatuan bangsa melalui fotografi.

Bisa jadi ada banyak kegiatan yang bisa mengumpulkan anak muda. Namun fotografi menjadi kegiatan pengumpulan massa yang populer sekaligus bisa menggemakan isi dan pesan kegiatan meski telah lama usai. Apalagi dinamika kebudayaan modern semakin berpihak pada budaya visual dan digital, maka fotografi semakin terposisikan lebih strategis.

Tulisan di Kompas mengenai cerita di balik foto Proklamasi Kemerdekaan RI mengingatkan khalayak fotografi perihal peran penting, lebih dari sekedar membuat foto bagus.

Tanpa foto maka peristiwa penting hanya sekedar menjadi bahan pembicaraan turun temurun, atau terabadikan berupa tulisan yang butuh daya serap. Bahasa lisan dan bahasa tulisan sama-sama rawan distorsi dan punya resiko language barrier. Tapi, tentu tak pada tempatnya juga jika proklamasi kita kenang dalam bentuk sketsa atau lukisan, meski berupa bahasa visual.

Fotografi sebagai wahana komunikasi visual berbicara dalam bahasa global. Ketika para fotografer memotret Indonesia, termasuk beranda depan Nusantara yang berbatas dengan negara tetangga, publikasi menjadi peran penting selanjutnya.

Patok batas negara hanya berdiri membisu di tempat, namun foto-foto budaya dan alam beranda Nusantara menjadi patok visual yang bisa disebarluaskan ke mana saja dengan berbagai wahana, termasuk internet.

Kejadian saling klaim budaya niscaya jadi nihil manakala salah satu pihak sudah membuktikan terlebih dahulu secara sah dan mempublikasikan secara luas. Analoginya seperti penemuan fakta baru ilmiah yang pembuktiannya disebarluaskan di jurnal-jurnal terkemuka dan relevan.

Sudah menjadi tugas khalayak fotografi Indonesia untuk menjaga Persatuan Indonesia melalui karya-karya foto dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan fotografi. Jika gempuran asing menyerang ruang-ruang dalam rumah, yang jauh dari beranda perbatasan Nusantara, tugas para fotografer Indonesia pula lah untuk mengibarkan Merah Putih melalui fotografi.

Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Dhirabrata, majalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1990, edisi Oktober 2014

Rapatkan Barisan #FNstreethunting Serentak 2 November 2014

Tiada yang menyangka bahwa pembicaraan antara kawan-kawan anggota Fotografer.net (FN) di beberapa kota tentang street hunting lantas mewujudkan #FNstreethunting serentak pertama pada 2011.

Jakarta membahas JaSH (Jakarta Street Hunting) ke-7 pada 2011 bersama kawan-kawan FN di Jogja yang menelurkan JoSS pertama. Sepakat digelar pada hari yang sama, kawan-kawan FN di Batam menangkap pembicaraan antara kedua kota itu di Twitter. Batam Street Hunting pun lahir dan tersepakati untuk digelar pada hari yang sama dengan Jakarta dan Jogja.

Kawan-kawan di kota-kota lain menangkap pembicaraan antara ketiga kota itu. Tahun 2011 kemudian jadi tahun pertama penyelenggaraan #FNstreethunting pertama di 35 kota dan mencatat 1.700 fotografer hadir di berbagai penjuru Indonesia dan dunia.

Jakarta mencatatkan jumlah peserta terbanyak pada #FNstreethunting serentak pertama pada 2011, sebanyak 219 fotografer. Tahun-tahun setelah 2011 mencatat pertambahan jumlah kota dan fotografer. Tahun 2012 mencatat 50 kota ikut #FNstreethunting serentak dan sebanyak 2.500 fotografer turun ke jalan. Kota Palembang terbanyak dihadiri fotografer.

Tahun 2013, tahun ketiga #FNstreethunting diramaikan 3.880 fotografer di 55 kota. Pekanbaru mencatatkan peserta hadir terbanyak, 333  fotografer. Sejak Tahun pertama hingga 2013, tiap kota punya bukti otentik kehadiran fotografer.

Pada 2 November 2014, kembali kita serentak turun ke jalan.

#FNstreethunting bersifat terbuka dan nirbiaya. Semua digelar secara swakarsa dan swadaya. Hal yang terpenting, tiap kota menggelar #FNstreethunting digelar atas inisiatif para anggota FN di tiap kota. Tak ada yang meminta maupun menyuruh, dan tanpa iming-iming dalam bentuk apapun, kecuali iming-iming berupa kebersamaan dalam persahabatan sejati.

Kita percaya, bahwa Persatuan Indonesia kita wujudkan melalui cara fotografi. Jarak bukanlah halangan, karena semangat persahabatan kita. Susah dan senang ditanggung bersama. Tidak ada yang menjadi boss atas yang lain, dan tiada yang menjadi bawahan bagi kawan yang lain. Satu-satunya hal yang membedakan hanya berupa tanggung jawab yang berbeda kadar antara satu kawan dengan kawan yang lain.

Menjadi bagian dari kegiatan serentak nasional mengobarkan lagi api persatuan yang kita gelar minimal setahun sekali.

Fakta bahwa kita adalah komunitas terbesar fotografi Indonesia dan Asia Tenggara tak terbantahkan oleh dalil apapun juga. Ketangguhan motivasi kita tak tergoyahkan akan kebutuhan akan uang, lantaran kita menyokong kegiatan ini secara gotong royong. Kemandirian kita atas dana membuat banyak pihak yang berdecak kagum, meski di seberang sana ada rekan sejawat yang mencibir dengki atau hanya berdiam diri dalam penyesalan.

Hak untuk untuk berkumpul dan berorganisasi dijamin oleh undang-undang. Oleh karena itu, FN mewadahi berbagai komunitas di tiap kota dan membungkusnya dalam satu nama kegiatan per kota. Seluruh kegiatan di tiap kota lantas berkibar dalam satu bendera yang sama, kebhinekaan fotografi untuk Persatuan Indonesia.

#FNstreethunting Serentak 2 November 2014

#FNstreethunting Serentak 2 November 2014

Tahun 2014, kali keempat #FNstreethunting, rasanya sebuah buku foto tak muat merekam segala kenangan yang kita punya. Selama 3 tahun, #FNstreethunting kita bungkus dalam buku fotografi gratis yang bisa diunduh siapapun juga. Oleh karena itu, sebar luaskan pula kenangan kita selama 2 November 2014 dalam bentu video, baik dari kamera ponsel maupun kamera yang lebih besar.

Kita percaya, bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan untuk khalayak membawa kebaikan untuk orang banyak. Jika satu hari menjelang hari-H ini sudah tercatat lebih dari 70 kota siap bergerak, biar foto yang bicara.

Solusi untuk Mitigasi Bencana Gunung Api

Pada suatu sore yang mendung di pertengahan Mei 2014, saya bersama beberapa kawan fotografer singgah di Kabanjahe, dalam perjalanan memotret melintasi Kabupaten Simalungun, Danau Toba dan Pulau Samosir dan Tanah Karo. Halaman GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Kabanjahe terlihat lengang. Di gereja terbesar di ibukota Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara, itu tenda-tenda pengungsi Gunung Sinabung terlihat lengang. Para pengungsi masih beraktivitas di luar posko pengungsian GBKP Kabanjahe Kota.

Rupanya para pengungsi yang sudah 6 bulan tidur beralas lantai dan tanah itu mengalami dinamika baru dalam hidup mereka. Sudah ada yang mengontrak rumah di luar posko, lantaran tak tahan hidup berdesakan secara tak layak. Ada sekitar 130 keluarga yang tinggal di posko ini dengan fasilitas minim.

MCK mengandalkan toilet gereja, yang didesain untuk kegiatan mingguan bagi ratusan jemaat, jadi dipakai ribuan orang untuk kegiatan sehari-hari. Dapur umum, yang peralatannya sumbangan kawan-kawan Fotografer.net (FN) di Sumatera Utara, krisis bahan pangan.

“Persediaan beras kami saat ini hanya cukup untuk empat hari ke depan,” ungkap Pdt Nurbeti br Ginting, pemimpin GBKP Kabanjahe Kota, ketika dijumpai hari Selasa, 13 Mei. “Perlengkapan mandi dan kebersihan sudah habis, pengungsi tak semua mampu membeli sendiri,” imbuh Ibu Pendeta. Belanja sayur saja sehari menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 juta untuk ribuan pengungsi yang tinggal di posko GBKP Kabanjahe Kota. Namun makan nasi dan sayur belaka selama seminggu bisa membuat tak betah, apalagi 6 bulan.

Di lokasi pengungsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara di GBKP Kabanjahe bersama Pdt Nurbeti br Ginting (paling kiri), Ketua Harian Toba Photo Club (TPC) Johnny Siahaan (kedua dari kanan), dan pengurus TPC Eduard Perangin-angin (paling kanan), Mei 2014.

Di lokasi pengungsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara di GBKP Kabanjahe bersama Pdt Nurbeti br Ginting (paling kiri), Ketua Harian Toba Photo Club (TPC) Johnny Siahaan (kedua dari kanan), dan pengurus TPC Eduard Perangin-angin (paling kanan), Mei 2014.

Tanah Karo terkenal sebagai lumbung pangan Sumatera Utara lantaran ladang sayur mayur serta buah-buahan dan ternak yang melimpah ruah. Namun abu vulkanik Sinabung menyelimuti semuanya dalam kelam dan maut. Tak hanya mematikan sumber pangan, bencana ini membunuh semangat masyarakat Karo yang terbiasa bekerja di ladang.

Saya termenung melihat anak-anak pengungsi yang pulang sekolah sore itu dan bermain di antara tenda. Betapa suram memori masa kecil yang sedang tercetak di kepala mereka saat ini. Enam bulan bukan waktu sebentar untuk mencetak memori tak terlupakan di otak.

Indonesia yang berada di Cincin Api Dunia berhiaskan untaian gunung api aktif. Teruntai indah ratusan gunung api mulai dari pantai barat Sumatera hingga lantai selatan Jawa dan Nusa Tenggara dan berbelok ke Maluku dan Sulawesi Utara.

Gunung api sudah ada sebelum manusia ada. Tugas manusia untuk menyesuaikan diri dengan alam, bukan mengubahnya. Bukan kuasa manusia untuk nengendalikan kekuatan alam.

Sebagai mantan mahasiswa teknik geologi, yang salah satu semesternya mempelajari vulkanologi, saya bersikap bahwa bantuan bagi pengungsi bencana gunung api bersifat sementara. Otoritas yang berwenang di mitigasi bencana seyogyanya membuat prosedur operasi standar permanen dan melatihkannya secara rutin kepada penduduk di kawasan bencana.

Sudah cukup bencana Gunung Sinabung yang berusia 6 bulan menjadi contoh. Indonesia memiliki ratusan gunung api dan banyak gunung berada di populasi padat.

Bodoh sekali, sekaligus hipokrit, membiarkan masalah, tanpa solusi.

Jika Sinabung bisa erupsi dan membuat warga di sekitarnya hidup berbulan-bulan dalam pengungsian, maka demikian pula dengan Gunung Marapi di Sumatera Barat dan gunungapi-gunungapi lain di Sumatera. Demikian pula dengan gunungapi-gunungapi di sepanjang pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Maluku dan Sulawesi Utara.

Jika Gunung Sinabung bisa merusak ribuan rumah dan menghancurkan ratusan ribu hektar sawah, kebun dan ladang serta membunuh jutaan ternak maka demikian pula gunungapi-gunungapi lain di di Tanah Air.

Memang ada berbagai macam tipe gunung api dan beragam pula jenis erupsinya. Mulai dari tipe erupsi lelehan seperti Gunung Merapi di Jawa Tengah, hingga tipe eksplosif seperti Gunung Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Tambora di Nusa Tenggara.

Tapi satu hal yang pasti: erupsi gunung api tak bisa diprediksi manusia dan ilmu pengetahuannya.

Memang ilmu vulkanologi bisa membaca gejala-gejala letusan, namun tak bisa mengetahui jam-J dan hari-H erupsi. Manusia masa kini hanya lebih modern dari nenek moyang kita dalam hal membaca tanda-tanda alam. Dahulu hanya burung-burung berterbangan dan satwa-satwa eksodus turun gunung jadi penanda erupsi. Saat ini manusia bisa membaca gempa vulkanik, perubahan suhu kawah dan komposisi kimia kawah.

Satu hal yang pasti pula: tak ada bencana baru. Semua bencana alam sudah pernah terjadi, hanya berbeda skala, waktu, intensitas, magnitude dan lokasi. Pembuat jumlah korban dan kerugian sebenarnya manusia sendiri. Jika dalam zona bahaya tak ada aktivitas manusia, maka bisa dipastikan tak ada korban.

Dari semua gunung api yang sudah pernah erupsi, ada catatan waktu dan cakupan bencana serta skalanya. Belajar dari data itu saja, korban bisa diminimalisir, bahkan kalau perlu ditekan hingga nihil.

Kita tak perlu membahas erupsi legendaris Gunung Toba yang abu vulkaniknya menutup seluruh planet Bumi dan membuat global cooling bertahun-tahun. Tak perlu pula membahas erupsi Gunung Krakatau dan Gunung Tambora yang membuat “matahari tak terbit” berhari-hari lantaran abu vulkaniknya tersebar di seluruh dunia dalam sekali erupsi.

Cukup dengan memetakan daerah bencana tiap gunung api aktif dan menerapkannya dalam rencana tata ruang daerah, maka tinggal pelaksanaan kepatuhan saja yang perlu diperlihara. Pelaksanaan berarti ketersediaan segala infrastruktur yang berkaitan dengan mitigasi bencana. Sementara kepatuhan mencakup kesediaan penduduk setempat mematuhi tata ruang.

Standar operasi mitigasi bencana ini berkaitan dengan 3 kebutuhan pokok hidup manusia: pangan, sandang dan papan.

Oleh karena itu, standar musti pasti dan tanpa toleransi. Ibarat fire plan di gedung bertingkat, tiap pintu mencantumi diri dengan dengan denah evakuasi. Denah mengandung jalur evakuasi, posisi alat penyelamatan diri dan tempat berkumpul aman alias master point atau assembly point.

Standar operasi mitigasi ini sebaiknya juga meniru safety demo di tiap penerbangan sipil. Ada peragaan alat keselamatan diri dalam keadaan darurat setiap awal penerbangan. Ada pula safety drill untuk awak pesawat, yang jika diterapkan ke mitigasi bencana berupa evacuation drill bagi para pemimpin setempat, seperti ketua RT, pemimpin komunitas dan tokoh-tokoh informal.

Denah dan diagram standar operasi dipasang di berbagai tempat strategis dan di tiap pintu rumah. Evacuation drill digelar secara acak-waktu, sesekali tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Para pemimpin setempat dan otoritas mitigasi bencana memeriksa piranti keselamatan dan alarm secara berkala tanpa batas waktu.

Jadikan standar operasi mitigasi bencana dan evacuation drill sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di daerah rawan bencana. Hal-hal ini perlu dilakukan semata-mata demi keselamatan diri. Jika enggan hidup dalam kesiapsiagaan, ada opsi migrasi.

Kesiapsiagaan terhadap bencana alam juga meliputi ketersediaan pangan, sandang dan papan di tempat pengungsian.

Artinya, setiap kawasan rawan bencana alam wajib memiliki bangunan bebas-bencana penampung pengungsi. Kapasitas bangunan minimal sama dengan jumlah penduduk kawasan rawan bencana berikut kegiatan kesehariannya, minimal untuk MCK dan klinik kesehatan.

Instalasi penampung pengungsi wajib pula dilengkapi lumbung pangan dan air bersih siap minum, yang secara berkala atau acak-waktu terperiksa agar siap pakai sewaktu-waktu. Dengan begitu, dapur umum tinggal dilengkapi dengan daftar petugas yang dirotasi antar-nama penduduk yang memakai instalasi itu.

Lantaran listrik sudah jadi salah satu kebutuhan primer, maka instalasi penampung pengungsi seyogyanya memiliki sel panel surya. Dengan sel surya, maka kebutuhan listrik bisa aman dari resiko jaringan listrik putus, nirbiaya BBM dan pemeliharaan genset, serta ramah lingkungan.

Desain tata ruang membungkus gaya hidup tanggap bencana dan kesiapan infrastruktur darurat bencana dalam kesatuan utuh. Ada daerah yang dijadikan pemukiman dan ada daerah yang nihil pemukiman namun bisa dipakai kegiatan bisnis dan pelayanan.

Kita percaya banyak kearifan lokal yang memuat sikap tanggap bencana. Tata ruang masyarakat di Pulau Simeleue, Aceh, misalnya, yang tinggal di elevasi tinggi agar terhindar dari ancaman tsunami. Demikian pula kearifan lokal di berbagai daerah lain di lintasan “The Ring of Fire”, seperti Simeuleue, yang sudah menanggapi bencana secara disiplin jauh sebelum sekolah ada di daerah mereka.

Kita respek pada peta rawan bencana yang disusun para ahli geologi. Ancaman bencana alam tak hanya gunung api, gempa bumi dan tsunami melainkan juga banjir dan tanah longsor. Semua pasti bisa dipetakan secara geologis. Tinggal kegigihan otoritas setempat menerapkannya dan keikhlasan penduduk mematuhinya.

Memang hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Tuhan pulalah yang menganugerahi manusia, makhluk ciptaanNya yang paling sempurna, dengan akal budi yang melahirkan ilmu geologi dan akal sehat untuk mematuhi saran para ahli dan otoritas daerah tempat tinggal.

Pada bulan Oktober 2014, sudah hampir setahun Sinabung tak kunjung reda memuntahkan isi perutnya. Guguran lava pijar dan luncuran awan panas silih berganti dengan muntahan material piroklastika.

Kalau seandainya ada anak Tanah Karo yang lahir tatkala Sinabung baru erupsi tahun 2013 lalu, maka hingga usia sudah hampir memungkinkan bisa berjalan belum juga anak itu tinggal di tempat yang layak.

Sebagai manusia, bisa jadi para pemegang otoritas telah mengabaikan akal budi dengan pembiaran para pengungsi hidup tanpa perubahan dan tak antisipatif serta sarat nuansa pencitraan belaka. Bisa jadi pula oknum pemegang otoritas abai dengan kenyataan diri sebagai bagian dari alam atau memang jumawa merasa bisa mengatasi alam.

Yang jelas, isi perut bumi tetap bergejolak, detik demi detik, sesuai Teori Tektonika Lempeng. Alam tak peduli dengan siapapun juga pemegang otoritas. Namun, kita sangat peduli dengan orang yang kita pilih jadi pemimpin kita, pemegang otoritas yang bertanggung jawab mengatur mitigasi bencana. Sejatinya, semua kita mulai dari diri sendiri, dengan bertanggung jawab kepada diri sendiri untuk bijaksana menyikapi tanda-tanda alam.

Sebagai manusia bisa jadi para pemegang otoritas telah mengabaikan akal budi dengan pembiaran para pengungsi hidup tanpa perubahan dan tak antisipatif serta sarat nuansa pencitraan belaka.

Prajurit Keraton Yogyakarta di Grebeg Syawal 2014

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Apel prajurit Keraton Yogyakarta di Tepas Keraton sebelum mengawal Grebeg Syawal 2014. Foto: Kristupa Saragih

Memotret prajurit Keraton Yogyakarta sudah berkali-kali saya lakoni sejak awal 2000-an. Sejak masih jaman pakai film slide, digital SLR, hingga sekarang memakai kamera mirrorless. Ada banyak kesempatan memotret apel prajurit Keraton Yogyakarta, karena upacara adat grebeg digelar 3 kali dalam 1 tahun Masehi.

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Ketanggung. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Mantrijero. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Daheng. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Wirobrojo alias Prajurit Lombok Abang. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Nyutro. Foto: Kristupa Saragih

 

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih

Prajurit Patangpuluh. Foto: Kristupa Saragih

Foto: Pawai Malam Takbiran 1435H di Jogja

 

Penjual wedang ronde di Alun-alun Utara Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Penjual wedang ronde di Alun-alun Utara Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Tahun ini jadi kali ketiga saya memotret pawai malam takbiran di Jogja. Pada takbiran tahun 2010, saya memotret di Alun-Alun Utara Yogyakarta, dan di-posting di Foto: Pawai Malam Takbiran 1431H di Jogja. Sementara takbiran tahun 2012, takbiran berpindah ke Alun-Alun Selatan Yogyakarta, yang saya posting di Foto: Pawai Malam Takbiran 1433H di Jogja.

Takbiran 1435H pada 2014 kembali berlokasi di Alun-Alun Utara.

 

Anak-anak menyandang atribut mainan menyerupai senapan di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Anak-anak menyandang atribut mainan menyerupai senapan di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Isu-isu aktual mewarnai atribut para peserta pawai. Karena isu Jalur Gaza antara Palestina dan Isreal sedang mencuat, banyak peserta pawai menyesuaikan atribut-atribut mereka. Ada bendera Palestina yang dikibar-kibarkan di muka barisan. Ada sebarisan anak-anak bertutup muka menyandang senapan mainan. Tentu, mereka semua berpawai sembari menggemakan takbir.

 

Photo 27-07-14 21.30.55_lowres_takbiran_jogja_2014

Atribut kendaraan lapis baja di pawai Malam Takbiran 1435H tahun 2014 berkaitan dengan isu aktual seputar Jalur Gaza di Timur Tengah. Foto: Kristupa Saragih

 

Takbiran tahun ini menjadi kali pertama saya memakai kamera mirrorless untuk memotret rangkaian pawai. Cukup memakai lensa kit 18-55, saya juga melengkapi kamera dengan flash standar ber-GN kecil, namun memadai.

Secara umum, memotret dengan kamera mirrorless jadi lebih menyenangkan karena lebih ringkas dan tak menarik perhatian. Berbeda dengan fotografer-fotografer lain peliput acara yang sama, DSLR menarik perhatian dan kerap mempengaruhi pendekatan ke subyek foto. Subyek foto bergerak tak masalah, lantaran bisa saya atasi dengan modus autofokus continuous. Sementara kondisi pencahayaan redup bisa diatasi dengan mengaktikan lampu AF-assist di bodi kamera.

Usai memotret, sembari santai menyeruput wedang ronde di tepi alun-alun, saya mentransfer foto dari kamera ke ponsel secara nirkabel alias wireless.

 

Barisan anak-anak perempuan menyerukan gema takbir pada Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Barisan anak-anak perempuan menyerukan gema takbir pada Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sederetan anak laki-laki berkostum khas Timur Tengah di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sederetan anak laki-laki berkostum khas Timur Tengah di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sekelompok anak laki-lagi berkostum khas Timur Tengah beratribut mainan mirip senjata di pawai Malam Takbiran 2014 di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sekelompok anak laki-lagi berkostum khas Timur Tengah beratribut mainan mirip senjata di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Sepasang anak perempuan berkostum unik di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Sepasang anak perempuan berkostum unik di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

 

Bendera Palestina dan bendera Indonesia di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Bendera Palestina dan bendera Indonesia di pawai Malam Takbiran 1435H di Yogyakarta. Foto: Kristupa Saragih

Harapan Fotografer Indonesia Pada Presiden & Wakil Presiden Terpilih RI 2014-2019

Memakai titel “fotografer Indonesia” terkesan berat dan jamak. Begitu banyak fotografer profesional dan fotografer amatir yang terwakili dengan titel itu. Namun berangkat dari Fotografer.net (FN), sebagai komunitas fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara beranggotakan lebih dari 450.000 orang, perkenankan tulisan ini berisi harapan-harapan yang terangkum dari berbagai sumber.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan kondisi negeri yang memungkinkan harga kamera lebih terjangkau. Kami sadar, tak mudah mewujudkan hal ini mengingat berbagai aspek terkait. Namun kami paham pula, bahwa dengan semangat baru yang dibawa oleh Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) terpilih Republik Indonesia (RI) maka kondisi ekonomi lebih baik.

Kami mendambakan kondisi ekonomi dengan nilai tukar Rupiah yang lebih kuat agar harga kamera, yang kami beli dengan Rupiah, bisa terjangkau.

Jika memungkinkan, kami berharap iklim penelitian, pengembangan dan pendidikan berbasis iptek dan seni pun maju. Dengan demikian, bukan tak mungkin Indonesia memiliki pabrik kamera dan berbagai piranti pendukung. Kalau memungkinkan, merk kamera pun adalah merk Indonesia, yang lahir dari buah pikiran dan karya tangan ilmuwan-ilmuwan Indonesia.

Kami berharap, karya para fotografer Indonesia terlindungi secara hukum. Memang sudah ada undang-undang pelindung Hak Cipta namun penegakan hukum masih lemah. Seandainya bisa terwujud, maka para fotografer Indonesia pun sudah sepatutnya menghormati Hak Cipta dalam segala aspek kehidupan kreatif.

Dengan penegakan hukum lebih tegas, maka karya-karya foto dihargai lebih layak oleh khalayak. Fotografer bisa hidup layak dan halal, selayaknya profesi-profesi lain di Tanah Air. Banyak talenta kreatif Indonesia yang berdikari membutuhkan situasi kepastian dan perlindungan hukum yang patut. Kita sama-sama mewujudkan para wirausaha muda yang sukses dan kreatif lahir dari fotografi. Para pewarta foto pun bisa menekuni profesinya menjadi mata hati nurani rakyat.

Melalui ketegasan dan kepastian hukum pula, kita bisa sama-sama menelisik kepatuhan para fotografer membayar pajak secara ikhlas dan jujur. Penegakan hukum tentu butuh biaya, dan merupakan tanggung jawab kita semua untuk menanggungnya bersama-sama, secara terbuka dan jujur pula.

Masih mengenai kepastian hukum, khalayak fotografi Indonesia mendambakan sudut-sudut pemotretan yang bebas spanduk liar, papan reklame yang jadi sampah visual, bangunan angkuh di lereng perbukitan, danau dan pantai, serta sawah dan kebun yang bersih dari bangunan-bangunan pengalih fungsi lahan pertanian. Kami yakin alam yang asri bisa dipertahankan tanpa tunduk kepada ketamakan otoritas setempat pada materialisme.

Para fotografer dan peminat fotografi Indonesia mendambakan situasi yang bebas pungli. Banyak tempat memotret yang dikuasai oleh orang, entah siapa dan dari mana, memungut bayaran. Bayaran-bayaran ini berupa pungutan tak jelas, non-standar, dan seringkali tanpa tanda terima.

Kami sadar, bahwa di banyak negara, banyak tempat menarik untuk fotografi tersedia secara gratis. Kami ulangi, gratis. Kalaupun berbayar, otoritas yang mengurus tempat-tempat yang menarik uang, secara fotografi, memberikan fasilitas yang memadai, seperti kebersihan, keamanan dan toilet bersih.

Fotografer Indonesia siap membayar dengan ikhlas, namun kritis terhadap penggunaan uang yang telah kami bayar. Kami tak rela, Tanah Air ini dikotak-kotakkan oleh pecinta uang, yang menyuburkan iklim penadah tangan dan pengutip tanpa bekerja.

Kami berharap, Presiden dan Wapres terpilih 2014-2019 memberikan ruang lebih banyak bagi fotografer untuk aktualisasi diri. Kata cukup mungkin tak akan pernah terwujud, namun kita perjuangkan bersama-sama.

Semakin banyak ruang pamer dan galeri foto memberikan sarana aktualisasi diri bagi fotografer sekaligus ruang apresiasi seni khalayak secara luas. Semakin banyak publikasi fotografi, baik secara online maupun offline, membudayakan kreativitas secara luas ke berbagai aspek kehidupan. Pendidikan Indonesia tak hanya di sekolah dan di keluarga di rumah, publik fotografi pun mendidik secara terbuka berbasis kebebasan yang bertanggung jawab demi kreativitas.

Khalayak fotografi Indonesia kerap kali terpinggirkan karena dianggap remeh. Kalaupun remeh, tentu hidup ini sudah membosankan lantaran tak koran dan majalah hanya tulisan melulu dan acara perkawinan hanya tinggal cerita lisan tanpa foto. Pariwisata dan kebudayaan hanya berbasis budaya tutur dan tulis tanpa budaya gambar, yang merupakan ciri kebudayaan modern.

Tanggung jawab fotografer dan peminat fotografi Indonesia untuk melestarikan budaya Tanah Air dan hidup dengan layak dari itu.

Foto-foto mempromosikan tempat wisata bersamaan dengan kerajinan tangan, tari-tarian, baik tradisional maupun modern, penginapan dan kuliner. Melalui foto pula industri garmen dan busana, baik modern maupun tradisional, bisa terpasarkan efektif. Melalui fotografi pula industri periklanan lebih kompetitif dan disain arsitektur terapresiasi lebih luas. Dengan fotografi pula poster-poster film dan sampul album-album musik tampil menarik.

Kalau kita berbicara tentang fotografi pernikahan saja, sebagai contoh, ada milyaran uang yang terlibat. Anggaplah ada 10 juta pasangan siap nikah, dari lebih dari 200 juta populasi Indonesia, dan anggaplah tiap pasang membayar Rp 1 juta untuk paket foto weding mereka. Berarti tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun, ada ratusan milyar, mungkin trilyun, uang yang berputar karena fotografi. Dan dari ratusan milyar itu, ada jutaan mulut yang bisa makan secara layak dan halal dari bisnis fotografi.

Dari segala harapan ini, kita berharap semua fotografer bertugas dengan lancar dan layak. Segala sudut Nusantara dijelajahi, termasuk garis depan perbatasan Tanah Air dengan negara-negara tetangga.

Identitas bangsa kita dokumentasikan dan publikasikan secara terus menerus di berbagai media, baik berupa warisan-warisan budaya tradisional nenek moyang maupun kreasi-kreasi modern Nusantara. Bahasa gambar bicara jutaan makna. Fotografi jadi salah satu piranti ketahanan nasional dan fotografer Indonesia wajib mengawal kekayaan Tanah Air kita sekaligus memupuk persahabatan dan persaudaraan untuk Persatuan Indonesia.

Seringkali foto-foto kami lebih berbicara daripada kemampuan kami berbicara dan menulis. Semoga harapan-harapan ini sampai kepada Presiden dan Wapres terpilih RI 2014-2019.

Biar foto yang bicara.


 

Tulisan ini dimuat pertama kali di Fotografer.net: http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194608045

Etika, Norma dan Hukum Publikasi Foto yang Memuat Unsur Sadisme

Kita bebas memotret apapun. Tapi ketika dipublikasikan, wajib tunduk pada etika, norma dan hukum yang berlaku.

Publikasi foto di media sosial dan messenger pun wajib hormati etika, norma dan hukum yang berlaku. Sebelum publikasi foto di media sosial dan messenger, bedakan foto yang Anda buat sendiri dan foto yang hak ciptanya bukan milik Anda.

Seleksi foto-foto milik Anda, yang hak ciptanya Anda miliki, sebelum disebar di media sosial dan messenger. Periksa seksama dan cermati agar foto-foto yang Anda sebar tersebut sesuai etika, norma dan hukum yang berlaku. Etika, norma dan hukum yang dimaksud adalah etika, norma dan hukum negara dan tempat Anda menjadi warga, atau tempat Anda berdomisili ketika penyebaran foto Anda buat.

Foto-foto yang memuat unsur-unsur ketelanjangan, rokok dan narkoba, alkohol, sadisme dan pedofilia tak sesuai dengan hukum, etika dan norma. Ada unsur-unsur yang bisa dipublikasi terbatas, secara tempat dan umur. Ada pula hal-hal yang memang tak pantas dipublikasikan kepada umum.

Karena itulah media massa seperti koran, majalah, tabloid, TV dan media online tak memuat foto-foto yang melanggar etika, norma dan hukum.

Anda tentu tak ingin buka media sosial dan terpapar pada sadisme, yang dipublikasikan oleh akun-akun yang Anda follow. Anda pun, ketika sedang kumpul bersama keluarga dan teman, tak ingin semerta-merta terpapar pada foto mayat perang berdarah-darah atau mayat yang tak lengkap anggota tubuhnya.

Mawas diri dan sadar dirilah. Kritis dan jangan seenak kepala sendiri. Hormati orang lain jika ingin dihormati.

Kita memang bebas memotret, apapun. Namun, bijaksanalah berbagi dan mempublikasikan foto-foto. Bertanggung jawablah terhadap setiap foto yang Anda siarkan. Kebebasan selalu lekat dengan tanggung jawab. Dan hanya orang-orang dewasa dan berakhlak yang sanggup memikul tanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan atas kehendak bebas.

Jika Anda berbagi foto milik orang lain di media sosial dan messenger, maka tunduklah pada Undang-undang Hak Cipta. Foto-foto yang bukan hasil karya tangan Anda berarti tak Anda miliki hak ciptanya.

Foto milik orang lain yang Anda publikasi di media sosial dan messenger milik Anda wajib dicantumi kredit foto, berupa nama fotografer. Pelanggar Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) diancam pengadilan berupa hukuman ratusan juta rupiah dan kurungan penjara 5 tahun, yang berarti tanpa ada kesempatan penangguhan penahanan.

Pelanggar UU Hak Cipta atas foto yang dipublikasi di media internet bahkan menghadapi ancaman hukuman berganda, dengan ancaman hukuman dari UU ITE (Internet dan Transaksi Elektronika). Ancaman hukuman berganda menanti penyebar foto tanpa kredit foto, dan mengandung unsur sadisme dan kekerasan.

Kita bisa membedakan akun media sosial mana yang seperti “koran lampu merah” dengan akun bertanggung jawab, dengan cara memirsa foto-foto yang dipublikasi oleh media-media itu.

Contoh kasus, ada kawan yang tak masalah melihat foto orang buang hajat. Namun, ada kawan lain yang lihat foto jamban bersih saja sudah muntah-muntah.

Anggaplah semua follower dan teman media sosial kita, pukul rata saja, tangguh mental melebihi dokter forensik dan tentara pasukan khusus. Kita masih harus mengkritisi isi foto-foto milik orang lain itu: benar atau rekayasa?

Sebelum menyiarkan foto di media sosial dan messenger, kritisi juga waktu pemotretan: aktual kah atau foto lama yang dibuat bertahun-tahun lalu?

Etika itu sederhana. Bisa penting, bisa juga dianggap remeh. Sesederhana dan seremeh memberi dan menerima sesuatu dengan tangan kanan.

Contoh kasus: ada foto 3 orang berpakaian militer Barat seolah-olah menganiaya 1 orang berwajah Timur Tengah. Foto tersebut “bocor” ke publik dan dimuat di koran. Kemarahan publik tersulut, banyak pengaku-aku relawan di berbagai negara Asia siap berangkat tempur. Padahal foto itu adalah foto bercanda 4 pemuda yang saling berteman, dibuat di garasi rumah salah satu dari mereka.

Gara-gara penyiar foto dan media tak betanggung jawab, perang bisa tersulut. Kebodohan disahkan atas nama entah nama apa dan siapa.

Berangkat tempat demi membela Tanah Air sudah jadi kewajiban setiap Warga Negara Indonesia. Tapi tentu jangan berangkat temput gara-gara foto bercanda yang disebarkan oknum tak bonafide di akun media sosialnya. Berangkat tempur berarti siap pulang nama.

Tak rumit untuk berbagi foto di media sosial dan messenger milik pribadi. Cukup hormati etika foto dengan mencantumi foto dengan kredit nama fotografer dan sumber yang jelas, bukan nama media sosial lain atau mesin pencari.

Contoh kasus: foto erupsi sebuah gunung berapi di Indonesia. Ketika erupsi yang terjadi, seketika dalam hitungan menit lantas tersebar foto di media sosial dan messenger. Padahal foto-foto yang tersebar itu adalah foto-foto erupsi bertahun-tahun lalu. Hal ini menyesatkan dan membohongi, kondisi alam tak sama dari waktu ke waktu. Arah, intensitas dan akibat erupsi tak pernah sama. Apalagi jika kita membawa pembahasan ini ke ranah ilimiah secara geologis.

Saya pernah diwawancara untuk produksi berita salah satu TV swasta soal keaslian foto. Saya bersikeras untuk membahas motivasi di balik penyebaran foto ketimbang keasliannya.

Dalam wawancara lain untuk TV swasta, saya ditanya keaslian foto acungan pistol di publik. Ketimbang membahas keaslian, lagi-lagi saya membahas motivasi pembuatan dan penyebaran foto.

Dari sebuah foto, ada rasa yang tergugah dan ada informasi yang terserap. Orang bisa tercerahkan, bisa juga marah dan menangis karena foto.

Dalam dunia informasi ada istilah: “garbage in, garbage out”. Informasi “sampah” tak akan menghasilkan berlian. Demikian juga foto.

Bijaksanalah menyikapi foto dan ariflah menyiarkan foto di akun media sosial dan messenger milik Anda.

Para penyebar foto sadisme wajib bertanggung jawab pada orang-orang yang lantas berjiwa sadis karena terinspirasi foto-foto yang Anda sebar.

Sesuatu yang mengandung pornografi bisa jadi memuat batasan umur, untuk membatasi penyiarannya di muka publik. Tapi, bagi foto yang membuat sadisme, menurut Anda, adakah batasan umur?

Foto adalah bahasa komunikasi visual. Kita bicara dengan bahasa gambar. Biar foto yang bicara.


Tulisan ini dibuat berdasarkan twit saya @kristupa pada 10 Juli 2014 bertagar #etikafoto

Tulisan ini sudah dimuat sebagai topik di Forum Diskusi website fotografi terbesar se-Indonesia dan Asia Tenggara Fotografer.net http://www.fotografer.net

Kisah dari Air Terjun Semolon, Malinau #KaltaraPhotoCamp

Image

Berada di hamparan hutan tropis Kalimantan, air terjun Semolon sehari-hari sunyi. Sesekali saja ada pengunjung di salah satu tempat wisata andal Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini. Tapi pada akhir pekan 17-18 Mei, air terjun Semolon ramai benar.

Image

Tercatat 60 fotografer dari seluruh kabupaten di Kaltara hadir, bersama dengan sejumlah tamu fotografer asal Balikpapan, Kaltim dan Jakarta. Tampak hadir juga puluhan penari dan pemusik tradisional dari desa wisata Setulang, yang bertetangga dengan Semolon. Terlihat pula hadir belasan Pramuka Saka Wira Kartika yang membaur bersama pemuda-pemuda setempat.

Workshop singkat fotografi oleh Kristupa Saragih dan Dewandra Djelantik membuka rangkaian kegiatan Kaltara Photography Camp. Kedua fotografer profesional ini berasal dari komunitas Fotografer.net (FN), website fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Bagi semua peserta dan pembicara, ini adalah kali pertama mereka semua mengalami workshop fotografi di tengah hutan tropis lebat.

Total ada 200 ransum makanan yang disiapkan untuk seluruh hadirin yang menginap semalam di tenda-tenda yang terhampar di lapangan. Gelaran Kaltara Photography Camp semula optimis hanya pada jumlah sekitar 50 pendukung saja. Namun gema semangat fotografer untuk Persatuan Indonesia ini ternaya sampai ke mana-mana.

Image

Bupati Malinau Yansen Tipa Padang hadir membawa serta jajaran pemkab (pemerintah kabupaten). Kehadirannya menyemangati para peserta dan pendukung. Tak hanya ikut memotret bersama peserta, Bupati hadir hingga larut malam dan berbaur akrab seraya berseling dengan canda tawa.

Image

Inisiatif Dandim 0910 Malinau Letkol Inf Agus Bhakti semula hanya sesederhana mengumpulkan para fotografer Kaltara, yang masih muda-muda, lantas mengumandangkan semangat kebangsaan dan cinta Tanah Air. Namun motivasi sederhana ini justru membakar semangat para fotografer dari kabupaten-kabupaten lain di Kaltara untuk merapatkan barisan dan menyatukan langkah untuk NKRI.

Semangat yang bergelora dari para fotografer ini dikemas dengan acara motret figur-figur khas Dayak, yang diboyong ke Semolon, dan atraksi-atraksi tradisional Dayak. Para fotografer Kaltara paham benar, bahwa tugas dokumentasi untuk pelestarian budaya tradisional dan ajaran para leluhur ada di tangan mereka.

Posisi Kaltara di perbatasan dengan negara asing mengkukuhkan semangat pengibaran Merah Putih melalui fotografi. Jangan sampai alam indah Indonesia dan budaya Nusantara diklaim sebagai milik asing. Foto-foto yang dibuat di Semolon menjadi inspirator para fotografer di seantero Kaltara untuk menyebarluaskan foto-foto yang dibuat di daerah masing-masing sebagai pengumuman kepemilikan atas Tanah Air dan budaya Indonesia.

Sudah cukup kejadian-kejadian tari tradisional Indonesia, motif pakaian dan makanan asli Indonesia diklaim sebagai milik asing. Sudah bulat tekad para peserta Kaltara Photography Camp menyumbangkan diri untuk kedaulatan Indonesia melalui fotografi.

Image

Malam Minggu di air terjun Semolon itu sangat berarti. Para peserta dan panitia Kaltara Photography Camp berdiri melingkari apa unggun dan berpengangan tangan sembari menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Ketika lagu “Syukur” dinyanyikan, salah satu panitia membacakan puisi kebangsaan yang disahut dengan deklamasi kebangsaan oleh Bupati Yansen. Di bawah siraman cahaya bulan purnama, nyala api unggun dan lirik “Syukur” memadu keharuan dan semangat.

Image

Esok paginya, para peserta mandi di mata air panas yang bercampur dengan sumber air segar air terjun Semolon. Usai sarapan ala lapangan, para peserta menanam bibit pohon di seputar lokasi wisata air terjun Semolon bersama Dandim 0910 Malinau, Komandan Yonif (Danyon) 614/RP Letkol Inf Hadi Al Jufri dan direksi PT BDMS Daniel Suharya. Semua hadir di Kaltara Photography Camp karena Bupati, Dandim, Danyon dan direksi serta sejumlah staf PT BDMS memang penggemar fotografi.

Dari lomba foto kecil-kecilan yang digelar, pagi itu hasil lomba diumumkan. Ada masing-masing 3 pemenang dari 3 kategori lomba: landscape, human interest dan model. Para pemenang asal Tarakan ternyata tak mengantongi uang tunai hadiah lomba. Mereka ternyata menggabungkan seluruh uang hadiah untuk menyiapkan kegiatan lanjutan serupa Kaltara Photography Camp di Tarakan. Semoga niat mulia ini terwujud segera.

Image

Begitu besar semangat persahabatan, kebersamaan dan kebangsaan yang timbul sekaligus disatukan di antara suara gemericik air terjun Semolon. Para peserta berangkat ke Semolon dan pulang ke rumah masing-masing atas biaya pribadi. Hanya semangat lah yang memberanikan mereka menumpang pesawat terbang dan speed boat berjam-jam, disambung menumpang truk tentara, untuk berjumpa rekan-rekan fotografer dari kabupaten-kabupaten se-Kaltara.

Nun di ujung utara Kalimantan sana, hutan masih terhampar lebat bersama deburan jeram Sungai Kayan dan Sungai Mentarang. Udara yang segar dan tradisi masyarakat yang masih asli merekatkan persatuan fotografer Kaltara untuk Persatuan Indonesia melalui fotografi. Kebhinekaan kita adalah kekayaan kita.

Meski hidup masih sulit, BBM (bahan bakar minyak) dan sembako (sembilan bahan pokok) saja berasal dari negara tetangga dan berharga mahal, semangat kreativitas senantiasa menyala. Sinyal seluler baru masuk pedalaman pada Desember 2013, itupun dalam kecepatan data internet yang amat minim.

Justru dalam segala keterbatasan itulah semangat perjuangan dan persatuan terjaga.

Dari Malinau, para fotografer Kaltara menyuarakan semangat persahabatan dan cinta lingkungan. Jauh dari pamrih nama tenar dan iming-iming materialisme, mereka bergerak dalam sepi. Namun gema Persatuan Indonesia dari ujung utara Kalimantan ini menggelorakan semangat para fotografer di seluruh Nusantara untuk beraksi serupa.

Biar foto yang bicara.

 

Image

 

Foto-foto oleh: Kristupa Saragih

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Refleksi #FNpapuaGathering 2014

Gelar acara kumpul bareng alias gathering fotografer di provinsi padat penduduk dan dekat, atau malah di, ibukota tak menjumpai kendala berarti. Peminat banyak, biaya murah dan sponsor mudah mendekat.

Menggelar gathering di ibukota provinsi Papua Jayapura ternyata menjumpai banyak kendala, dari berbagai arah.

Motivasi “Majukan Papua Melalui Fotografi” lahir dari kegelisahan sejumlah fotografer untuk berbuat nyata bagi tanah Papua melalui kamera mereka. Namun mantra ini tak menarik bagi sejumlah perusahaan, yang mayoritas berbasis di Jakarta.

Berbagai alasan lahir dari perusahaan-perusahaan yang diincar panitia Fotografer.net (FN) Papua Gathering atau #FNpapuaGathering untuk mensponsori kegiatan. Mulai dari “no interest” bagi bisnis mereka, biaya mahal namun “small return”, tak ada dealer alias cabang di Papua, hingga cibiran untuk perkiraan jumlah peserta yang kecil.

Saya secara pribadi mendekati sejumlah kenalan yang menempati posisi “decision making” di perusahaan-perusahaan nasional di Jakarta. Tapi hanya senyuman dan penolakan halus yang menerpa mata dan telinga saya. Bagi mereka, keamanan Papua bukan pertimbangan, lantaran percaya rekomendasi saya. Namun alasan bisa lahir dalam 1001 bentuk dan varian.

Dalam hati saya berulang kali membatin, haruskah fotografer tanah Papua berhutang budi pada kebaikan pihak asing yang berminat mensponsori? Apakah bisnis murni bagi sebuah perusahaan di tingkat tertentu mengalahkan rasa kebangsaan, meski mereka memajang Merah Putih di berbagai kesempatan?

Bersemangat Merah Putih, segenap panitia #FNpapuaGathering bertekad menggelar kegiatan pada tanggal 1 Mei. Bertepatan dengan hari peringatan penggabungan Irian Barat ke NKRI pada tahun 1963 oleh UNTEA, badan dunia PBB, kami ingin menunjukkan kedaulatan fotografer Indonesia atas Tanah Air kami sendiri.

Para panitia yakin, tak ada NKRI tanpa Papua. Motivasi ini tak berlebihan, karena setiap WNI wajib ikut serta membela dan mempertahankan keutuhan NKRI. Komunitas fotografi Indonesia, dengan payung website fotografi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara Fotografer.net berada di garis terdepan mewujudkan dan menjaga nyala semangat itu.

Kocek pribadi panitia pun dipertaruhkan, seraya tetap bergerilya mencari dukungan agar fotografer Papua punya momentum menunjukkan kebersatuan dan persahabatan. Hingga kurang dari sebulan sebelum pelaksanaan, kami paham bahwa #FNpapuaGathering, secara biaya, adalah sebuah “mission impossible”.

Pendekatan pribadi ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua membuahkan hasil, sejurus dengan pendekatan ke sejumlah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) di Papua. Namun kabar ini baru diterima sekitar seminggu sebelum acara digelar. Pemprov Papua dan Pemkab Lanny Jaya memberikan dukungan dana tunai.

Napas sudah ngos-ngosan dan hampir habis lantaran dompet sudah terkuras membiayai pemesanan tiket pesawat panitia, memesan makanan, membayar produksi publikasi dan memesan penginapan. Bantuan pemerintah baru cair setelah acara kelar.

Perusahaan telekomunikasi seluler akhirnya bersedia mendukung, setelah pendekatan pribadi. Perusahaan ini menyediakan 3 baliho untuk dipakai publikasi #FNpapuaGathering di Jayapura. Dalam hati kami berharap, seandainya juga ada titik-titik baliho di kota-kota lain di Papua.

Masalah dana teratasi di menit terakhir, namun kendala lain justru datang dari beberapa individu di Papua sendiri.

Ada figur yang ogah turun tangan saat bekerja, tapi paling lekas di posisi paling depan ketika tiba saatnya makan-makan dan acara santai. Ada pula figur yang merasa “senior” tapi tidak bisa merasakan junior-juniornya bermandi keringat dan berkorban waktu menyiapkan acara.

Bibit perpecahan bisa terjadi di mana-mana. Namun kita paham bahwa kebhinekaan Indonesia lah sebenarnya kekayaan bangsa dan Tanah Air kita. Warisan budaya luhur nenek moyang adalah pemersatu kita.

Tanah Papua yang begitu luas terdiri atas beragam suku dan bahasa daerah. Apalagi jika kita berbicara kebhinekaan Indonesia. Keberagaman itulah pemersatu kita, tapi bukan berarti penyeragaman lantaran setiap individu adalah pribadi unik.

Melalui cara dan kecintaan pada fotografi, #FNpapuaGathering terwujud. Tak hanya gathering sehari, namun berimbuh workshop dan lomba foto yang total berdurasi 3 hari.

Peserta datang dari berbagai penjuru Papua, mulai dari Merauke, Biak hingga Kaimana di Papua Barat. Semua peserta menanggung sendiri biaya transportasi atas semangat bersatu dan persahabatan dalam balutan fotografi. Ada peserta yang harus menumpang kapal perintis belasan jam bersambung dengan 2 penerbangan perintis berjam-jam untuk mencapai Jayapura.

Ruang kelas workshop tersedia bagus dan rapi. Sejuk dan nyaman namun berbiaya murah untuk kelas hotel berbintang. Lomba foto berhadiah yang tunai jutaan rupiah digelar di tepi Danau Sentani. Model-model berdandan etnik khas Papua dihadirkan dengan berbagai setting khas aktivitas tradisional.

Orang bilang burung khas Papua Cendrawasih adalah burung surga. Panitia #FNpapuaGathering menjadikannya logo berkelir merah putih. Biar orang tahu bahwa salah satu surga fotografi Indonesia adalah Papua.

Rangkaian #FNpapuaGathering selama 3 hari dipungkasi dengan makan malam bersama. Belasan komunitas fotografi dari seluruh penjuru Papua hadir. Tiap komunitas maju ke panggung memperkenalkan diri. Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang.

Kehadiran Asisten Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua, yang mewakili Gubernur Papua, membesarkan hati para panitia dan peserta. Apalagi sambutan beliau menyatakan, bahwa tema “Majukan Papua Melalui Fotografi” sejalan dengan arah pembangunan menjadikan Papua sejahtera dan berdikari.

Secara pribadi saya cemburu dengan kawan-kawan Papua yang didukung pemprov dan pemkab. Saya teringat dengan FN Goes to Natuna tahun 2013 yang didukung Pemkab Natuna di Provinsi Kepulauan Riau. Saya juga teringat dengan Kaltara Photography Camp yang digelar bulan Mei 2014 ini atas dukungan Pemkab Malinau di Provinsi Kalimantan Utara.

Indonesia bukan hanya Jawa, dan Jawa tidak hanya Jakarta. Di tempat yang mudah, semua merasa hebat. FN mencamkan benar dalam setiap kegiatan keliling Indonesia, bahwa untuk sukses tak harus di Jakarta. Dengan demikian kita menjaga semangat fotografi yang menghargai karya dan ide, bukan memuja nama individu, gelar, jabatan dan harta.

Seandainya para pemimpin daerah di Indonesia meneladani Gubernur Papua Lukas Enembe dan Pemprov Papua, betapa maju fotografi Indonesia dan bersatu fotografernya. Asisten Sekda Papua sepakat bahwa fotografi adalah alat pemasar pariwisata yang efektif, mudah dan murah jika berpadu dengan internet. Saya respek, karena pemprov dan pemkab Papua melaksanakan secara riil, bukan hanya omdo alias omong doang.

Andai-andai tak akan ada habisnya.

Dari #FNpapuaGathering 2014 ada banyak bahan refleksi dan instrospeksi. Namun, yang jelas, setiap peserta pulang dengan senyum tersungging. Terbersit harapan di hati panitia bahwa tahun depan acara serupa terulang lebih meriah. Agar lebih banyak senyum tersungging di Papua, memajukan Papua melalui fotografi.

Biar foto yang bicara.

20140524-084737-31657268.jpg

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50,483 other followers

%d bloggers like this: