Free, Open-Mind, Responsible, Creative & Egalitarian

This is Kristupa-ism

Kristupa Saragih Photography, Journal and Thoughts
  • Fotografer.net 11th Anniversary logo
  • Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih
  • KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih
  • KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Latest

Prediksi Tren Fotografi 2014 @FotograferNet #FNprediksi #FN11

Fotografer.net 11th Anniversary logoAda banyak hal yang bakal mewarnai fotografi di tahun 2014. Berikut adalah prediksi pribadi saya berdasarkan pengamatan fotografi selama 2013, berjumpa dengan banyak fotografer berbagai latar belakang dan perbincangan pribadi dengan berbagai pihak di akhir tahun 2013.

Karya

Selama 2013 foto-foto berona retro tone. Sekitar 1-2 tahun lalu, tren retro tone ini lahir dari olah digital (oldig) piranti lunak di komputer. Namun gelora mobile app di smartphone dan tablet menawarkan banyak aplikasi oldig.

Retro tone diperkirakan masih mewarnai banyak foto yang dibuat selama 2014.

Tahun 2014 diperkirakan menjadi tren single light. Aksesoris bisa macam-macam, baik untuk monoblock, strobist, maupun foto dengan available light. Foto-foto tahun ini terkutub jadi 2: low key dan terang normal contrast.

Makin banyak orang suka flare. Di 2014 flare tampil asli ketika pemotretan maupun hasil oldig di mobile application. Jenis cahaya backlight ini diperkirakan bakal salah kaprah diterapkan di 2014, karena banyak yang mengabaikan logika pencahayaan dan fisika optika.

Genre

Genre street photography makin popular di 2014 karena fotografi jadi gaya hidup masyarakat kota & banyak traveler yang serius memotret. Seiring dengan mencorongnya street photography, pemotret human interest (HI) dan portrait juga makin banyak. Sementara pertumbuhan pemotret landscape tak terlalu signifikan namun komunitasnya fanatik.

Tahun 2014 banyak citizen photojournalist. Fenomena ini membuat pewarta foto instrospeksi, baik pada kualitas karya maupun tanggung jawabnya. Fotografer freelance menjamur dengan mengandalkan kebutuhan foto-foto editorital yang semakin beragam dengan honor yang kompetitif.

Pemotret amatir berusia lebih muda di tahun 2014 karena kualitas pendidikan & taraf hidup lebih baik. Pelajar berusia SMP sudah banyak serius motret, didukung kemampuan ekonomi orang tua mereka. Remaja terpapar pada kebebasan berkarya yang ditawarkan fotografi, dan kalangan sekolah serta orang tua bersentimen positif pada kegiatan ekstrakurikuler fotografi.

Teknologi

Pada tahun 2014 pengguna software oldig menjadi lebih terbatas di profesional. Fotografer amatir dan orang awam enjoy memakai mobile application di tablet dan smartphone. Social media dan web fotografi diperkirakan di 2014 mulai memunculkan fitur filter, sebagai bentuk oldig sederhana, yang tersedia untuk dipakai di browser.

Di tahun 2014, harapan menanam OS Android di kamera tetap tak lebih mudah dari memasang SIM card seluler di kamera juga. Coba juga hitung berapa kamera DSLR dan mirrorless yang dilengkapi bluetooth. Fitur wifi terbatas hanya untuk komunikasi antargadget, bukan untuk terhubung ke web. Namun tetap ada kemungkinan, produsen kamera dengan fungsi remote control di mobile application akan meluncurkan jasa cloud, seperti iCloud-nya Apple dan Google Drive.

Kamera

Di tahun 2014 kamera mirrorless semakin merajalela. Data penjualan dunia menunjukkan hal tersebut, demikian pula Indonesia. Pendekar ber-DSLR mengeluhkan berat, terutama berat lensa, dan ukuran. Sementara pemotret pemula enggan dengan kesan rumit DSLR dan perempuan yang hobi motret suka dengan keringkasan mirrorless yang mudah dibenamkan di tas mereka sehari-hari.

Di tahun 2014 jika tak ada inovasi teknologi dari marketleader dunia Canon, agresivitas Sony mengancam. Hal yang sama berlaku untuk Nikon, karena penggemar fanatiknya mulai kritis. Di lapis kedua, ada ancaman daripara jawara mirrorless Olympus, FujiFilm dan Panasonic.

Dominasi kamera Negeri Matahari Terbit diperkirakan lebih dari 90 persen, sementara sisanya diperebutkan Negeri Ginseng dan kamera-kamera buatan Eropa. Produsen kamera Negeri Tirai Bambu diperkirakan mulai coba-coba bikin mirrorless. Namun pabrikan rumah tangga di negeri itu belum terlalu punya nyali terjun ke DSLR, karena menganggap resiko merakit smartphone lebih kecil.

Pada tahun 2014 semakin banyak kamera ber-layar sentuh alias touch screen. Konsumen menyukai karena tersihir kebiasaan memakai layar smartphone. Kamera DSLR pertama di dunia berlayar sentuh sudah dirilis Canon tahun 2013.

Di tahun 2014 wifi connectivity di DSLR & mirrorless jadi pengimbang kamera smartphone yang mobile & ringkas. Kamera smartphone tak bisa menyamai DSLR, sementara pasar kamera semakin digerus smartphone berkamera. Pertambahan tingkat internet literacy dan pertumbuhan media sosial menuntut kemudahan berbagi foto. Selain itu, mobile application untuk remote control di kamera menjadi fitur andalan para pemasar kamera di 2014.

Fitur video di kamera mirrorless menjadi salah satu bahan kompetisi di 2014. Konsumen bakal mengkritisi sistem AF di fitur video kamera mirrorless. Hal yang dikritisi meliputi akurasi sistem AF dan kesenyapan motor AF.

Jumlah pemotret berkamera film di 2014 terancam kelangkaan film, chemical & kertas. Harga melambung dan semakin sedikit pelaku kamar gelap konvensional. Fans kamera lomo dan holga hanyut dalam gelora mobile application berefek retro, terutama lantaran bisa seketika di-share ketimbang film konvensional yang butuh waktu.

Sesuai tulisan saya di Kompas, tahun 2014 era kamera saku berakhir. Tergencet entry-level DSLR, mirrorless, smartphone berkamera. Namun smartphone berkamera dapat saingan kamera mirrorless & DSLR dengan fitur wifi transfer. Di akhir 2014 kekuatan kedua blok ini bakal berakhir sama kuat.

Lensa

Di tahun 2014 demand terhadap kualitas lensa dikritisi kesukaan pemotret awam memakai efek retro di mobile application. Ada lensa-lensa yang berkualitas prima, namun sirna khasiatnya jika ketajaman dan warna “dihancurkan” dengan olah digital. Apalagi jika berhadapan dengan efek retro di mobile application, yang mengadaptasi kerendahan teknologi di jaman baheula.

Sementara itu, tahun 2014 semakin banyak bertabur lensa untuk mirrorless. Produsen 3rd party pun diperkirakan bakal memberi banyak opsi lensa. Namun, kualitas optik sedemikian banyak lensa untuk kamera mirrorless akan dikritisi, baik di kualitas optika maupun harga.

Asesoris

Asesoris fotografi akan berevolusi seiring dinamika pemilihan kamera dan subyek foto di 2014. Akan banyak asesoris yang mendukung kamera mirrorless, dengan harga kompetitif, seperti tripod ringkas, filter kreatif, cover kamera yang bisa digonta-ganti, camera body strap dan tas kamera yang modis.

Bisnis

Bisnis traveling photography bagus di 2014. Banyak orang yang suka jalan2 dan belajar motret. Banyak pula traveler berkamera, karena harga terjangkau dan model semakin ringkas. Namun bisnis Indonesia di 2014 terpengaruh pemilu dan pilpres.

Bisnis foto wedding 2014 diperkirakan lebih mobile dan portable mengadapi smartphone dan mirrorless yang mudah dioperasikan. Fenomena ini membuat fotografer wedding lebih kreatif menyediakan jasanya. Tapi evolusi foto wedding semacam ini baru canggih di 2015 ketika semakin banyak konsumen yang memperoleh album foto wedding dalam bentuk digital.

Album digital wedding bakal berisi multimedia foto dan video berbungkus animasi. Selain itu, fitur instant sharing akan dimanfaatkan fotografer wedding di venue saat acara berlangsung. Tamu-tamu bisa membawa pulang cinderamata, berupa foto mempelai dan foto bersama mempelai serta peristiwa-peristiwa dramatis, di smartphone mereka.

Secara nasional, bisnis stock photo terpengaruh pemilu dan pilpres di tahun 2014, sebagai dampak dinamika perekonomian Indonesia. Sementara secara global, bisnis stock photo semakin kompetitif karena semakin banyak populasi kamera dan semakin banyak media yang membutuhkan foto.

Di tahun 2014 toko kamera bertambah, terutama toko untuk pasar kelas menengah-atas. Konsumen terkutub menjadi 2: price-sensitive dan service-sensitif. Toko-toko kamera tradisional dan konvensional bakal perlahan berevolusi menjadi tempat yang nyaman untuk komunitas yang suka belanja berkelompok, atau sekedar bertemu dan mengobrol. Namuan ada pula fenomena yang mungkin terlihat di 2014 yakni perkembangan 2nd hand market yang semakin gurih.

Komunitas

Fotografi semakin populer di tahun 2014. Semakin banyak orang paham fotografi. Komunitas fotografi bertumbuh, kegiatan fotografi menjamur. Penyuka fotografi butuh wahana aktualisasi diri.

Sementara itu, pemotret amatir butuh eksistensi. Artinya, media sharing dan pamer fotografi semakin dibutuhkan. Di sisi lain, fenomena ini jadi potensi pelanggaran hak cipta. Banyak maling foto beraksi di media berbagi dan pamer foto yang tak bonafide dan tak bisa menegakkan wibawa hak cipta dan hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Arus deras informasi membawaketerbukaan di fotografi. Fotografer jadi kritis dan membuat internet jadi referensi di 2014. Seperti suatu kewarganegaraan digital, demikian para fotografer fanatik pada forum fotografi yang menjadi tempat mereka mengacu dan berlindung.

Kebhinekaan Kita adalah Kekayaan Kita

Tulisan ini adalah kata pengantar saya untuk e-book #FNstreethunting 2013, yang bisa diunduh gratis di: Fotografer.net


Pada tanggal 20 Oktober 2013 fotografer Indonesia menorehkan sejarah. Sebanyak 3.880 fotografer secara serentak di 55 kota di seantero Nusantara menggelar street photography hunting, #FNstreethunting. Kegiatan akbar ini berangkat dari inisiatif anggota Fotografer.net (FN), secara swadaya dan swakarsa: dari, oleh dan untuk anggota FN.

Tahun 2013 adalah kali ketiga para anggota FN menggelar #FNstreethunting serentak. Pada 2011 berkumpul 2.000 fotografer di 35 kota secara serentak, lantas tahun 2012 meningkat menjadi 2.500 fotografer di 49 kota. Setiap tahun, FN menerbitkan e-book berisi foto-foto dari seluruh kota untuk mengabadikan evolusi budaya dan mengapresiasi karya semua fotografer yang terlibat.

Penghargaan setinggi-tingginya diberikan kepada para inisiator tiap kota, yang secara sukarela menyumbang tenaga dan ide. Kesuksesan ini adalah kebanggan kita semua, prestasi kita bersama.

Atas nama para 3.880 fotografer yang terlibat di #FNstreethunting 2013 di 55 kota, perkenankan kami di FN dan Exposure Magz mempersembahkan buku yang sederhana ini. Sumbangsih kami yang apa adanya untuk khalayak fotografi Indonesia.

Secara karya, foto-foto ini belum apa-apa dibanding karya banyak rekan sejawat lainnya di Indonesia. Namun dengan rendah hati kami menyumbangkan semua yang kami punya untuk negeri ini. Secara fisik, kami sudah hadir dalam kebersamaan yang hangat dan murni. Secara batin, kami sudah terikat dalam persahabatan yang bersih dan kritis.

Kami mengusung rasa persatuan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia melalui fotografi. Dari setiap kota yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, kami beranikan diri mengikat rasa kebersamaan untuk Persatuan Indonesia dengan cara fotografi.

Fotografer sudah turun ke jalan, menjadi saksi sejarah dan mengabadikannya untuk anak cucu. Kami melihat, kami merasa dan kami berpikir lantas menuangkannya spontan dalam karya-karya foto di buku ini. Tanpa beropini, kami sajikan fotografi yang bicara kejujuran.

Pada 28 Oktober 1928 para pemuda sudah bersumpah mempersatukan Indonesia dalam kesatuan bangsa, bahasa dan Tanah Air. Sekarang 85 tahun kemudian, perkenankan kami mengobarkan nyala api persatuan dengan cara fotografer Indonesia, yang berasal dari berbagai daerah, berbagai jenis kamera dan berbagai komunitas. Kebhinekaan kita adalah kekayaan kita.

Fotografer bisa mati, namun karya foto niscaya abadi.

Biar foto yang bicara.

e-Book #FNstreethunting 2013

#FNstreethunting 2013 digelar secara serentak di 55 kota pada 20 Oktober 2013 dan dihadiri 3.880 fotografer anggota Fotografer.net

11 Tahun Fotografer.net #FN11

Sebelas tahun keberadaan Fotografer.net (FN) di khalayak fotografi dunia membuktikan banyak hal. Sebagai forum digital, FN menjadi komunitas terbesar se-Asia Tenggara dengan 483.000 anggota dan 1,9 juta foto. Sebagai forum di dunia nyata, sepanjang 2013 saja FN sukses menggelar 24 kegiatan di 17 kota. Para anggota FN pun membuktikan kesatuan hati untuk Persatuan Indonesia dengan turun ke jalan serentak di 20 Oktober 2013 untuk #FNstreethunting di 55 kota dan dihadiri 3.880 fotografer, yang mengisi daftar hadir.

Dengan banyak suara merdu dan sumbang seputar keberadaan FN, kita tahu ikan lele hidup di air keruh dan suara negatif terdengar lebih lantang. Namun fakta, baik secara online maupun offline, membuktikan bahwa berkarya dalam sepi menguji kesungguhan hati kita untuk berkiprah tanpa pamrih. Tanpa banyak omong basa basi dan jauh dari niat cari-muka, anggota FN membuktikan pepatah “tong kosong berbunyi nyaring” benar adanya.

ImageAngka statistik FN mustahil terabaikan dan tak terbandingkan dengan forum-forum serupa di Tanah Air, di regional Asia Tenggara saja FN teratas. Para anggota FN di berbagai tempat giat menyebar semangat kreativitas dan kesetiakawanan. Kita paham bahwa nilai 3 jempol ke atas dan ke bawah lebih bertanggung jawab dari sekedar tombol suka dan abstain. Kita bersikap, maka kita dihargai sebagai insan dewasa. Anak kecil haus perhatian, remaja haus sanjungan, sementara manusia dewasa memahami dan menerima kenyataan.

Kita sikapi tahun kesebelas komunitas fotografi terbesar se-Asia Tenggara ini dengan filosofi air, yang jadi wahana refleksi. Seringkali interaksi muncul ketika satu individu butuh sesuatu, dan tak acuh ketika individu lain di komunitas kita membutuhkan uluran tangan. Namun secara sosial, komunitas FN berhasil membangun nilai dan etika, bahwa persahabatan lahir dari peristiwa sehari-hari yang sederhana. Banyak sosok terkemuka yang lahir dari FN dan masih ingat tanggung jawab sosialnya untuk membina persahabatan sejati yang pernah dikecap.

Kita belajar pada air yang selalu mencari tempat yang rendah. Mengaku sebagai pemula itu baik, namun kalau terus menerus mengaku pemula maka usia persahabatan tak lama lantaran terbelenggu kerendahdirian dan sikap ogah bertanggung jawab. Rendah diri dan rendah hati berbeda tipis. Anggota FN tahu diri dan paham bahwa kearifan lahir dari hubungan antar-individu yang jujur dan kritis. 

Filosofi air mengajak kita untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Permukaan air yang selalu datar mendasari semangat egaliter di FN. Banyak individu yang tak nyaman, bahkan bersikap berseberangan dengan FN, lantaran ingin dianggap lebih daripada yang lain dengan mengandalkan paham materialistis dan status sosial. Banyak pula individu yang memaksakan kehendak di FN, namun jiwa yang bersih dan itikad baik mengatasi banyak hal. FN berpihak kepada para anggota yang menghormati kerja cerdas dan proses melahirkan ide cemerlang serta semangat pantang menyerah.

Ucapan terimakasih ditujukan kepada seluruh pihak yang sudah membantu kegiatan FN dalam berbagai bentuk dan di berbagai tempat. Para moderator yang sukarela menghangatkan Forum dan menegakkan Aturan FN, termasuk Aturan Kategori Terbatas, layak mendapat tempat terhormat. Para anggota yang menjadi relawan pandega berbagai kegiatan FN patut mendapat penghargaan. 

Filosofi air yang selalu mengikuti bentuk wadahnya membuat kita belajar untuk senantiasa beradaptasi dan menanggapi dinamika secara bijak. FN sadar bahwa keberadaan aplikasi mobile sudah mendesak, namun keterbatasan SDM dan finansial jualah yang membuat kita belajar arif. Pengelola FN juga paham, bahwa sudah waktunya komunitas raksasa ini tinggal landas dan mengepakkan sayap ke tingkat yang lebih penting dan luas lagi.

Tahun kesebelas tak akan sama dengan 10 tahun pertama. Mulai tahun ini membuka diri bagi dukungan yang memungkinkan FN dikelola dengan SDM yang berkualitas lebih tinggi dengan infrastuktur lebih baik. FN juga terbuka bagi dukungan untuk pengembangan komunitas ini sehingga memiliki sarana berinteraksi, berdagang dan berpromosi yang lebih efektif. FN juga terbuka bagi pihak-pihak yang membawa komunitas ini mewujudkan mimpi memiki sarana penyiaran global dan modern.

Dengan tekad FN untuk tetap berpihak kepada jiwa-jiwa muda yang kreatif dan bersemangat menyala-nyala, semoga mimpi kita terwujud. Dari Indonesia kita sebar luaskan keluhuran budaya dan keindahan Tanah Air ke seluruh dunia. Kelak, negara kita dihormati karena prestasi fotografi yang berlandaskan Persatuan Indonesia.

Ketika fotografi semakin instan, kita percaya ide lah yang mendasari karya fotografi kreatif. Ketika publikasi foto semakin gampang, kita percaya hanya karya asli lah inspiratif dan anti-fotokopi. Ketika piranti fotografi semakin mudah dimiliki, kita percaya bahwa dalam sebingkai foto termuat jiwa dan semangat yang tak tergantikan oleh uang. 

Satu musuh terlalu banyak, namun seribu teman terlalu sedikit. Dengan penuh kerendahhatian kita songsong tahun kesebelas FN dengan optimisme yang konkret. Kita cetak para problem-solver, dan kita libas para trouble-maker. Keberadaan para anggota FN di berbagai tempat sejatinya menjadi manfaat dan meningkatkan harkat hidup orang-orang sekitarnya. 

Fotografer bisa berakhir hidup, namun karya foto niscaya abadi.

Selamat berhari jadi kesebelas bagi para anggota FN. Kesuksesan ini milik kita bersama. Berkarya tak gentar.

Biar foto yang bicara.

Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 untuk Seluruh Anggota FotograferNet dan Hadiah HUT ke-10 #FNX

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ibu Mari Elka Pangestu atas penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 Subsektor Foto. Disampaikan di Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 pada hari Minggu, 25 November 2012, penghargaan diberikan kepada 17 subsektor Wiramuda Kreatif 2012, termasuk fotografi.

Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Wiwin Yulius

Penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Wiwin Yulius

Tertulis di piagam, bahwa penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas sumbangsih memajukan ekonomi kreatif Indonesia.

Kita bersyukur dan berterimakasih, bahwa pemerintah memperhatikan Fotografer.net (FN) setelah 10 tahun, terhitung sejak diluncurkan pada 30 Desember 2002. Selama 10 tahun, FN bergerak secara mandiri, atas dukungan para anggota dan rekan-rekan sejawat yang peduli.

Para anggota FN melestarikan budaya Nusantara dan mempromosikan Indonesia di luar negeri atas insiatif sendiri dan berdikari. Para pedagang di Bursa FN maju atas kerja keras tak kenal lelah secara mandiri. Demikian pula para fotografer profesional anggota FN, tak kenal lelah berkarya karena budaya saling dukung antaranggota FN.

Penghargaan ini diterima mendekati peringatan satu dekade FN memajukan fotografi Indonesia. Kita yakin, waktu lah yang membuktikan komitmen dan kecintaan pada fotografi. Bahwa persahabatan lebih dari sekedar uang, kita sikapi sebagai pemicu kreativitas atas dasar kebebasan yang bertanggung jawab.

Kita percaya, bahwa banyak wiramuda kreatif yang kelak lahir dari komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara ini. Kita bawa prestasi untuk mengokohkan identitas sebagai sosok yang layak diteladani dan disegani, sekaligus rendah hati. Kita sepakat untuk mengingatkan yang kuat agar peka terhadap yang lemah, dan membantu yang lemah agar maju dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Penghargaan bisa jadi hanya selembar kertas. Tapi sebutir prestasi sejatinya memotivasi individu-individu di sekitar kita untuk terus berkarya tanpa pamrih. Biar foto yang bicara.

Bersama para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Foto oleh Wiwin Yulius

Bersama para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Foto oleh Wiwin Yulius

Para moderator dan anggota FN yang hadir di acara berfoto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu

Para moderator dan anggota FN yang hadir di acara berfoto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu

Tanya jawab bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Anif Putramijaya

Tanya jawab bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan para penerima penghargaan Wiramuda Kreatif 2012. Foto oleh Anif Putramijaya

Ketika Media Cetak Berguguran, Exposure Tetap Tegar

image

Majalah berita ternama Newsweek di AS pada hari Kamis (18/10) mengumumkan penghentian edisi cetak per 31 Desember 2012. Alasan penghentian berupa penurunan iklan dan pelanggan memotivasi majalah itu untuk total terbit digital. Keputusan Newsweek jadi bahan perbincangan, karena media tradisional semakin ditinggalkan.

Media-media di Indonesia bisa jadi tak kuatir, lantaran para pelanggannya masih doyan pegang koran dan majalah dalam bentuk fisik. Media-media di AS seperti Time dan The Economist juga masih bertahan terbit edisi cetak, meski Far Eastern Economic Review sudah berhenti cetak. Tak dipungkiri bahwa Time dan The Economist sudah merintis terbit digital, terima iklan digital dan pelanggan berbayar digital.

Majalah fotografi regional Exposure http://www.exposure-magz.com tak kuatir dengan tren ini lantaran sejak pertama terbit sudah digital. Diluncurkan perdana 8 Agustus 2008, Exposure terbit dalam format PDF yang bisa diunduh gratis. Belakangan Exposure terbit pula dalam edisi web untuk berita harian, yang juga gratis.

Terbit dwibahasa, majalah yang diterbitkan oleh FotograferNet ini dipimpin Chief Editor Farid Wahdiono. Oplah per bulan sebanyak rata-rata 7.000 unduhan. Namun, tak ada batasan untuk penggandaan unduhan secara swakarsa. Pembaca Exposure diasumsikan 4-5 kali lebih banyak dari jumlah unduhan.

Menanggapi terbitan dalam format digital, Exposure pun menerbitkan iklan dalam bentuk audio-video. Artikel-artikel isi majalah sudah tentu bisa disertai ilustrasi visual bergerak disertai suara. Kepeloporan Exposure dalam media digital tak mudah. Pengiklan tradisional tak gampang beralih ke digital. Namun ketika jaman berubah, Exposure sudah berada di depan karena berpengalaman dan terpercaya. Harga iklan pun tentu sudah tak sama lagi dengan kala pertama Exposure terbit lebih dari 4 tahun yang lalu.

Mengunjungi Photokina 2012 di Köln, Jerman

image

Gerbang selatan Koelnmesse tempat penyelenggaraan Photokina di Koln, Jerman

Berkunjung ke Photokina jadi keinginan banyak fotografer dan kewajiban bagi para pebisnis fotografi. Sebagai trade fair fotografi terbesar dunia yang digelar dua tahun sekali, banyak pihak yang mengumumkan hal-hal baru dan strategis di Photokina. Pebisnis fotografi dan fotografer profesional tentu selalu ingin sedini mungkin memperoleh informasi dan membaca tren.

Photokina selalu digelar di Köln, kota sejarah di bagian barat Jerman. Tahun 2012 Photokina digelar di Koelnmesse, gedung eksibisi di tepi Sungai Rhein. Biasa digelar bulan September, tahun ini Photokina digelar 18-23 September 2012.

Begitu banyak produsen yang pamer produk dan ribuan pengunjung saban hari membuat hampir seluruh lahan Koelnmesse ludes dipakai. Besar 1 hall kira-kira seluas lapangan sepakbola dan beberapa hal terdiri atas 2 lantai berluas sama. Ada 11 hall di Koelnmesse, dan ruang antar-hall yang juga luas-luas.

Pebisnis fotografi biasanya mengunjungi tempat-tempat yang relevan dengan bisnisnya saja. Pengunjung fotografer amatir kebanyakan mengunjungi tempat-tempat yang akrab dengan mereka saja. Pecinta berat fotografi butuh sepasang kaki yang kuat untuk menjelajahi seluruh areal pameran Photokina.

Udara di Köln saat awal musim gugur berkisar 7-17 Celcius. Memang terasa hangat di dalam Koelnmesse karena sistem sirkulasi udara yang baik. Namun urusan makan siang bisa jadi menguji kesabaran atas antrian panjang lantaran penjual terbatas dan pengunjung berjibun.

Photokina menjadi tempat yang cocok untuk bertemu dengan kolega-kolega lama. Cocok juga untuk bertemu kenalan-kenalan baru karena pelaku bisnis dari seluruh dunia hadir di Photokina.

Foto: Pawai Malam Takbiran Idul Fitri 1433H di Jogja

Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Anak-anak berarak membawa obor di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Banyak hal yang bisa dipotret dari rangkaian acara Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari malam takbiran hingga shalat Ied esok paginya. Tentu, sebagai fotografer, harus menempatkan kekhidmatan acara agama lebih tinggi daripada kepentingan memperoleh foto bagus.

Tahun 2010 saya sempat mengabadikan pawai malam takbiran di Alun-alun Utara Yogyakarta. Tahun ini, dapat kabar mengenai festival malam takbiran di Alun-alun Selatan, langsung saja memutuskan untuk motret di sana.

Memotret arak-arakan malam takbiran mengasah naluri foto jurnalistik. Tantangannya adalah situasi pencahayaan yang redup alias low-light dan ruang gerak terbatas di tengah himpitan keramaian penonton.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya bergerak dengan perlengkapan ringkas: 1 bodi DSLR dan 1 lensa lebar, 1 flash dan sepasang wireless TTL radio transceiver. Lensa lebar dipilih karena situasi ruang gerak sempit, dan lensa tele mensyaratkan minimum focusing distance. Flash dibutuhkankan untuk mencahayai subyek foto, sementara ambient light direkam dengan penggunaan ISO tinggi 1600.

Pada saat memotret, dengan lensa 17-40mm, bukaan diafragma saya kunci di bukaan terlebar f/4. Dengan bukaan itu dan ISO 1600, di lokasi pemotretan, kecepatan rana pemotretan berkisar dari 1/8 hingga 1/60 detik. Situasi pencahayaan di tiap titik berbeda dan atribut lampu dan obor pun bervariasi dari kelompok peserta satu ke kelompok lain.

Teknik pemakaian flash untuk merekam ambient light ini disebut slow-sync flash. “Slow-sync” adalah kependekan dari “slow synchro”, untuk melambangkan kecepatan sinkron flash di bawah 1/60 detik.

Menanti giliran tampil di tempat atraksi malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Menanti giliran tampil di tempat atraksi malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Pawai obor jadi atribut utama festival malam takbiran anak-anak Kecamatan Keraton di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Pawai obor jadi atribut utama festival malam takbiran anak-anak Kecamatan Keraton di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi menarik yang sepertinya melambangkan belenggu penjajahan, karena Lebaran 2012 berdekatan dengan HUT ke-67 Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Atraksi menarik yang sepertinya melambangkan belenggu penjajahan, karena Lebaran 2012 berdekatan dengan HUT ke-67 Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Boneka berbentuk burung garuda berwarna merah putih karena malam takbiran berdekatan dengan HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Boneka berbentuk burung garuda berwarna merah putih karena malam takbiran berdekatan dengan HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang bawa meriam bambu dan ikut arak-arakan, bunyinya mengagetkan dan memekakkan telinga. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang bawa meriam bambu dan ikut arak-arakan, bunyinya mengagetkan dan memekakkan telinga. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang mengarak bendera merah-putih-biru, melambangkan penjajahan kolonial, lantaran malam takbiran masih dibalut suasana HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Ada yang mengarak bendera merah-putih-biru, melambangkan penjajahan kolonial, lantaran malam takbiran masih dibalut suasana HUT ke-67 Hari Kemerdekaan RI. Foto oleh Kristupa Saragih

Bendera Merah-Putih berukuran besar ikut diarak di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Bendera Merah-Putih berukuran besar ikut diarak di malam takbiran di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Arakan-arakan anak-anak pembawa obor di festival malam takbiran di Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Arakan-arakan anak-anak pembawa obor di festival malam takbiran di Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Foto oleh Kristupa Saragih

Menikmati Senja Teluk Ambon di Atas KMP Siwalima 01

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 bersiap membawa rombongan FN Hunting Series 2012 memotret matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Pada suatu pekan di pertengahan bulan Mei 2012, cuaca di Ambon, ibukota Provinsi Maluku amat bersahabat. Fotografer.net (FN), komunitas fotografi terbesar di Asia Tenggara, menggelar FN Hunting Series 2012 di salah satu tempat indah Indonesia ini.

Dalam suasana persabatan, kawan-kawan anggota FN di Ambon berkumpul di Kedai Kopi Sibu-sibu, yang kondang di Ambon. Di tengah obrolan akrab, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Benny Gaspersz datang bergabung menikmati kopi sambil mengobrol santai dengan rombongan FN Hunting Series. Terbit tawaran untuk menghabiskan senja nan indah dengan memotret matahari terbenam dengan KMP Siwalima 01.

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di buritan KMP Siwalima 01 saat baru saja angkat sauh mengarungi Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Tanpa ragu, seluruh rombongan mengiyakan tawaran dan bersiap berangkat. Teluk Ambon yang indah jadi tujuan. Semua wajah berseri-seri menyiapkan kamera dan lensa serta baterai dan memori agar tak satu momen pun terlewat.

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana di anjungan KMP Siwalima 01 di atas Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012. Foto oleh Kristupa Saragih

Sebagai provinsi kepulauan, sudah selayaknya Maluku punya kapal untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata. Memotret matahari terbenam di Teluk Ambon dari daratan Pulau Ambon sudah biasa. Tapi merekam laut dan alam indah Ambon dari atas kapal jadi hal yang luar biasa.

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku asyik memotret suasana senja di Teluk Ambon, Maluku di atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Siwalima 01 milik Pemprov Maluku di perairan Teluk Ambon, Maluku membawa rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Rombongan FN Hunting Series 2012 dan kawan-kawan anggota FN Maluku mengabadikan keindahan matahari terbenam di Teluk Ambon, Maluku dari atas KMP Siwalima 01. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto di posting ini dibuat dengan Samsung Galaxy Note, semua tanpa penyuntingan.

Menyeberang Poka-Galala dengan Feri KMP Teluk Ambon

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon angkat sauh dari Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Menyeberangi Teluk Ambon antara Poka dan Galala, Ambon, Maluku bisa jadi biasa dan singkat. Feri ada di mana-mana, bahkan di Provinsi Maluku yang terdiri atas ribuan pulau. Tapi 15 menit di atas feri KMP Teluk Ambon bisa jadi amat menarik dengan ponsel berkamera di tangan.

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Angkutan umum pun mengandalkan kapal feri ro-ro KMP Teluk Ambon. Foto oleh kristupa Saragih

Tiba di Bandar Udara Pattimura, Ambon pada hari Minggu (13/5), mobil berbelok kanan masuk pelabuhan Poka. Masuk perut KMP Teluk Ambon, kapal feri yang masih baru ini langsung angkat sauh.

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana perut KMP Teluk Ambon. Foto oleh Kristupa Saragih

Feri jenis ro-ro buatan tahun 2010 ini berbobot mati 300 ton, mampu mengangkut 6 truk, 9 mobil kecil dan 80 penumpang pada saat bersamaan. Berkecepatan maksimal 9 knot, KMP Teluk Ambon dijalankan oleh 16 ABK.

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

KMP Teluk Ambon merapat di Galala, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Tiket mobil kecil Rp 20 ribu saja sekali menyeberang, penumpang gratis. Dengan tiket seharga itu, perjalanan melintasi Teluk Ambon bisa dihemat 20-30 menit daripada lewat darat. Lama akses dari kota Ambon ke kampus Universitas Pattimura dan Bandar Udara Pattimura pun jadi lebih singkat.

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Suasana dalam KMP Teluk Ambon selepas Galala menuju Poka, Ambon, Maluku. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Ponsel berkamera jadi sahabat terbaik, sambil menyeberang dengan KMP Teluk Ambon sambil hunting foto. Foto oleh Kristupa Saragih

Foto-foto dibuat dengan Samsung Galaxy Note.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29,980 other followers

%d bloggers like this: